THE SPECIAL EVENTS

THE SPECIAL EVENTS

oleh Saifuddien Sjaaf Maskoen

Dzul Hijjah 1426 H

Setiap daerah atau komunitas

memiliki hal-hal khusus yang tidak dipunyai oleh daerah lain. Terutama yang berkaitan dengan

kegiatan budaya atau keagamaan.

Beberapa hal yang pernah ada dan

mungkin masih berlangsung.

Sebagai sebuah pemukiman yang sudah sangat tua, Gresik banyak menyimpan berbagai hal yang memiliki sifat khusus, yang mana mungkin bisa ditemui di daerah lain dalam bentuk dan nama yang berlainan pula, atau setidaknya dengan nuansa yang berlainan. Beberapa hal khusus itu, mungkin masih terus berlangsung hingga kini, tetapi mungkin juga sudah tidak ada lagi seiring dengan perkembangan pemikiran dari masyarakatnya.

Menghormati makam orang-orang yang dianggap berjasa dalam sesuatu hal, merupakan suatu bentuk penghormatan yang mungkin berakar kuat pada segolongan masyarakat. Tetapi ada pula yang berpendapat, bahwa hal itu tidaklah perlu dilakukan. Yah ini merupakan suatu perbedaan pendapat yang tak kunjung berakhir hingga saat ini. Kita tidak perlu terlibat dalam mempersoalkannya, marilah kita saling menghormati pendapat yang ada. Dan ini dituliskan bukan dengan maksud apa-apa, dan tidak ada kaitannya dengan pendapat apapun. Hanya sekedar menunjukkan keberadaannya.

Di Gresik, sebagai suatu daerah yang diyakini merupakan pintu gerbang masuknya agama Islam, yang jelas melalui jalur perhubungan laut, ditemukan banyaknya makam-makam yang masih terpelihara dengan baik. Umumnya, adalah makam mereka yang dianggap berjasa dalam pengembangan agama Islam yang sekarang menjadi agama terbesar pemeluknya di negeri ini. Dan konon, setidaknya petilasan yang ada menunjukkan ditemukannya suatu makam yang sudah tua usianya, di daerah sekitar dan di kotanya sekarang.

î

Salah satu bentuk penghormatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat adalah dengan menyelenggarakan khol, pada saat ulang tahun kewafatannya ditempat dimana dimakamkan. Dalam khol ini, dilakukan pembacaan tahlil dan juga ada yang disertai dengan pembacaan riwayat hidup dari yang dikholi. Setidaknya khol ini diselenggarakan di beberapa makam yang ada, dan juga mengalami pasang surut kemeriahannya. Banyak sedikitnya yang turut menghadliri acara khol, ditentukan oleh berbagai hal.

Kita mengenal khol yang diselenggarakan untuk menghormati beberapa tokoh, misalnya

  • Nyai Gede Pinatih, di Keboengson, yang dipercaya sebagai ibu asuh Sunan Giri;
  • Maulana Malik Ibrahim, di Gapoero, yang dipercaya sebagai yang tertua diantara mereka para tokoh tersebut, bahkan seluruh tanah Jawa;
  • Yai Ageng Arem-Arem, di Sidopekso [Debekso, tetapi sumber tertulis lainnya menyebutkan sebagai Sedopekso], yang dipercaya sebagai nakhoda kapal yang menemukan bayi Raden Pakoe di tengah laut, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri;
  • Raden Santri atau Raden Pendito Wunut, di Bedilan, yang dipercaya sebagai teman ngajinya Raden Pakoe ke Sunan Ampel;
  • Raden Pakoe, alias Ainul Jaqin atau Sunan Giri di Giri;
  • Seorang tokoh yang dimakamkan di masjid Jamik Gresik, pada sisi barat-utara;
  • Dan di beberapa makam lainnya yang berada

Yang menarik dari khol ini, adalah berkatnya yang diberikan kepada yang hadir, yaitu haritsah atau dalam istilah Gresiknya disebut ‘bubur dempul’. Makanan ini terbuat dari campuran bijih gandum dengan daging kambing, dan bumbu-bumbu dan minyak samin, yang diaduk terus dalam api kecil hingga keseluruhan dagingnya hancur lumat menjadi suatu adonan yang kental berwarna kelabu pekat. Bagi yang tidak biasa memakannya, bisa muntah sebelum menyentuhnya. Ada yang bilang seperti muntahan kucing, dan macam-macam persepsi yang negatif. Tetapi bagi yang suka akan makanan berbumbu bernuansa timur tengah, haritsah ini merupakan sesuatu yang sangat [bahkan sangat] istimewa.

Istimewa karena langka, dan istimewa karena rasa yang sangat khas. Orang Arab sendiri [Arab Indonesia dan Arjo alias Arab Jowo] sangat rindu akan makanan ini, tetapi sudah sulit memperolehnya. Untuk mengurangi rasa nek, orang Gresik punya cara sendiri. Semestinya, bubur dempul ini dimakan dalam keadaan hangat, dengan meletakkan minyak samin padat di atasnya, yang kemudian akan meleleh perlahan-lahan. Tambah neg en magteg. Maka orang Gresik menyantapnya dalam keadaan dingin, dibubuhi bubuk gula halus. Sehingga rasa neg en magteg tadi agak berkurang. Setelah makan bubur dempul, bawaan badan akan terasa hangat, mungkin karena kandungan daging kambing atau kandungan bumbu-bumbu yang menyertainya.

Selain pada waktu khol, dulu makanan ini ditawarkan pada acara bazaar atau pasar jajan yang diselenggarakan oleh madrasah-madrasah guna mengumpulkan dana bagi operasional sekolah. Dan biasanya, akan habis duluan. Dijualnya dengan ditimbang. Walau harganya ekstra mahal, bukan saja karena surcharge untuk amalnya, tetapi juga memang bahan bakunya sudah mahal. Pada jaman ‘normal’ dulu, masih banyak yang jual bijih gandum, sehingga relatif mudah untuk membuat bubur dempul ini. Tetapi setelah kemudian impor gandum ‘dimonopoli oleh Bogasari’, maka sulitlah mencari bijih gandum di pasar bebas. Tetapi orang tak kehabisan akal, mereka mengumpulkan bijih gandum sweeping, dan kemudian dijual kepada yang membutuhkan.

Acara khol ini biasanya diselenggarakan tanpa adanya suatu pengumuman. Masyarakat tertentu sudah tahu dan hafal, kapan akan khol, dan dimana. Dan juga hafal pula, mana yang brokohannya[1] banyak, dan mana yang agak kurang banyak. Ha ha. J

î

Event lain yang dulu juga ramai dilakukan adalah yang disebut Rebo Kasan, yang konon berasal dari gabungan kata Rebo [nama hari] dengan kata Pungkasan [yang berarti terakhir]., sehingga diucapkan menjadi Rebo Kasan. Dan kemudian ada selorohan Kemis Kusen. Rebo Kasan ini dinisbahkan dengan hari Rabu terakhir dari kehidupan Rasulullah saw. Entah bagaimana ceritanya, saya tak begitu faham. Atau mungkin juga ada kaitannya dengan Hasan dan Husein, putera kembar sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. Karena di daerah pesisir seperti Gresik ini, bisa ditelusuri adanya pengaruh ‘Syiah’ atau kuatnya pengaruh ‘ahlil bait’. Misalnya, di bagian akhir dari khotbah Jumat pada masa awal 50-an dimana khulafaur-rasyidin yang tiga pertama diberi sebutan radhi Allahu anhum, tetapi untuk Ali bin Abi Thalib dengan sebutan karrama Allahu anhu.

Pada hari Rabu itu, orang-orang terutama remaja pergi ke Suci, tempat sumber air yang berada pada jalan tembus antara Manyar dan Sumber. Disana ya tidak ada apa-apa, kalau tidak salah mereka [yang laki-laki] mandi-mandi di suatu telaga. Suci ini merupakan sumber air bawah tanah, yang disalurkan sebagai air PAM ke kota Gresik sampai dengan tahun 70-an, sebelum mendapat suplai dari PDAM Surabaya. Tentunya, ketika penduduk Gresik belkum banyak, air itu mencukupi, walau tidak semua rumah dapat dipasok oleh air PAM tersebut, hanyalah rumah-rumah dipinggir jalan saja, dan di daerah tertentu saja yang memperoleh pasokan.

Dengan semakin tuanya instalasi, dan semakin banyaknya penduduk, lama-lama tidak mencukupi. Rupanya pemerintah daerah kurang memberi perhatian akan sumber air bawah tanah ini. Memang air ini banyak mengandung kapur, dan itu terlihat pada pipa-pipa instalasi, terutama pada kran yang dipenuhi dengan kerak kapur. Jika kita selalu memasak air dalam suatu wadah tertentu, selang beberapa waktu [bulan] kemudian, maka akan timbul lapisan kerak yang cukup tebal untuk dicongkel dengan menggunakan pisau. Kerak itu akan sangat memboroskan enerji, karena sifatnya yang tidak menghantarkan panas.

Di daerah Suci ini, khususnya Pongangan, adalah daerah produsen mangga, lebih khas lagi poh ganden, walau ada juga jenis-jenis yang lain. Anak-anak yang bersepeda ke Suci dalam rangka Rebo Kasan, biasanya pulangnya membawa oleh-oleh berupa mangga yang belum masak betul, dan ditempatkan diantara spaak [jari-jari] sepedanya.

î

Saya lupa-lupa ingat, apakah meminum ‘banyu tulis’ di tempat-tempat anak-anak belajar mengaji itu dilakukan bersamaan dengan Rebo Kasan atau pada waktu ‘berahatan’.

Yaitu saat dimana sang guru mengaji menuliskan entah lafal apa, yang kemudian dimasukkan kedalam air dalam suatu tempat [kemaron atau baskom] dan kemudian airnya dibagikan ke pada para murid, dengan harapan agar mudah perjalanan belajarnya. Ini hanya ada pada beberapa tempat mengaji tertentu. Di tempat saya mengaji di Kauman – Kaliboto dan di cak Wahib, tidak ada kegiatan meminum banyu tulis ini. Tetapi di tempat ngajinya adik-adikku di Ning Biah [Kampung Rogo] itu ada.

î

Menziarahi makam leluhur, khususnya orang tua lazim dilakukan oleh sebagian masyarakat pada hari Jumat pagi, khususnya apabila hari Jumat Wage. Pada hari itu, kuburan Pojok menjadi agak istimewa, karena banyak yang menziarahi makam orang tuanya. Ketika kecil dulu, saya sering ikut wak Kan ke kuburan Pojok, ke makam mbah Janah [ibu dari bapakku]. Di saat itu, banyak anak-anak tanggung dan orang dewasa yang menyediakan jasa untuk mbabati rumput dan alang-alang yang tumbuh liar di daerah pekuburan. Memang akan menjadi terlihat, mana kuburan yang sering didatangi anak cucunya, dan kuburan yang jarang diziarahi.

Dimana ada banyak kerumunan orang, disitu akan banyak yang berjualan. Begitu juga di kuburan waktu hari Jumat. Yang dijual sangatlah khas, yaitu kinco [atau kawista], doro [dalam bahasa Madura disebut bu’kol] yang warna kulitnya ada yang hijau, kuning dan merah, serta juwet yang warna kulitnya biru keunguan. Kesemuanya termasuk tanaman langka. Hanya doro yang biasanya dapat dimakan langsung. Rasanya seperti apel tetapi kecil sebesar sawo kecik saja.

Kalau kinco, yang enak adalah dihaluskan dicampur gula pasir, kemudian dijemur dahulu sehingga warnanya menjadi coklat tua karena teroksidasi oleh udara. Rasanya akan menjadi manis [lha wong ditambahi gulo] dan dengan aroma yang sangat khas, yang tak ada dibuah lain. Kalau juwet, seringkali agak sepet kalau kurang masak atau masih agak keras. Agar lembek, maka perlu diletakkan diantara kedua telapak tangan kita sambil membuat gerakan melingkar, sambil menyanyikan sebuah ‘mantera’ dalam bahasa Jawa yang dilafalkan berulang-ulang

“Mbuk-mbuk kelucing, susu gembuk dicakar kucing”

Selang berapa lama, juwetnya akan menjadi layu dan lebih manis. Atau kalau tak mau repot membaca mantera dan ngunyer-ngunyer juwet, dicampur saja dengan garam dan dikocok-kocok.

Pada bulan Puasa, orang-orang libur tidak pergi ke kuburan. Dan sebagai gantinya, sebelum liburan panjang itu, pada hari-hari sebelum masuk bulan Ramadhan, adalah saat paling ramai di kuburan, dimana para penziarah tidak saja membersikan rumput sambil berdoa, tetapi juga mengapur batu nisan di setiap kuburan [kecuali yang terbuat dari bahan lain], dan karena itu disebut Padusan. Kalau dilihat dari kosa katanya, tentunya ada kaitannya dengan adus atau mandi. Lalusiapa yang mandi. Orang baru kembali menziarahi kuburan pada hari Jumat sesudah Idul Fitri. Di Gresik, hampir tidak ada orang yang pergi ke kuburan pada saat Idul Fitri, seperti yang berlaku di beberapa daerah lain.

î

Tradisi yang ini konon sudah tidak dilakukan lagi, kalau tidak salah sesudah pecahnya pemberontakan G30S-PKI. Entah bagaimana kaitannya, kurang jelas benang merahnya. Tetapi begitulah kenyataannya. Selain dibongkarnya satu ‘kuburan’ yang ada di pinggir jalan Keroman [pinggir dalam persepsi orang Gresik, bisa berarti di tepi, tetapi lebih sering diartikan sebagai ‘di’ saja, misalnya gelase nok pinggir mejo]. Dulu ada ‘kuburan’ atau sesuatu yang diperlakukan sebagai kuburan, yang terletak di sisi utara jalan kira-kira didepan rumahnya wak Inggi Ikhsan [pak Lurah Keroman], katanya itu dulu potongan paha yang kintir ke pantai, lalu dikuburkan disitu. Dan ada juga yang memelihara atau menziarahi. Juga kebiasaan atau tradisi wayang bumi ikut diakhiri.

Wayang bumi ini diadakan setahun sekali, saya kurang tahu pasti kapan waktunya. Tetapi pada sore sampai pagi hari, di daerah Kroman dan Lumpur itu ramai, khususnya di Bale Kulon dan Bale Wetan, ada juga yang menyebutnya sebagai Bale Cilik dan Bale Gede. Sedang yang ditepi jalan, yang banyak ya jualan makanan dan mainan anak-anak. Pusat perayaan adalah di masing-masing bale tadi.

Bale itu adalah tempat para nelayan menambatkan perahu dan menurunkan ikan hasil tangkapan, kalau pakai istilah jaman orde baru, namanya TPI alias Tempat Pendaratan Ikan. Bale itu, berupa bangunan beratap, yang didirikan di tepai pesisir pantai, dengan tiang-tiang yang berupa tonggak, dan dibawahnya digenangi air, terutama pada saat air pasang. Lantainya dari papan atau bilah-biah bambu. Bentuk bangunannya hampir menyerupai konstruksi joglo, ada empat tiang di tengah. Salah satunya ada arca atau patung, yang ditempatkan disitu. Entah patungnya siapa, mungkin tokoh pewayangan atau siapa. Saya sudah lama sekali tidak pernah pergi ke bale itu, karena dulu kesananya ya waktu ada wayang bumi.

Di kedua bale itu, dilakukan pentas wayang kulit semalam suntuk dengan suatu lakon tertentu. Saya tidak tahu pasti, karena tidak pernah nonton. Hanya mendengar cerita saja dari nenekku – yang memang pernah tinggal di daerah Kroman – bahwa bila tiba saatnya adegan tertentu [entah tokoh siapa yang mati] maka akan terjadi hujan gerimis, sebagai tanda ikut berduka.

Acara ini mirip dengan sedekah bumi yang dilakukan oleh banyak komunitas yang mata pencahariannya berkaitan langsung dengan alam, misalnya petani dan nelayan. Acara itu merupakan ‘syukuran’ masyarakat nelayan atas hasil yang melimpah dari bumi [jadi ya memang agak nyerempet-nyerempet aqidah agama]. Mungkin dibubarkannya acara wayang bumi, pada saat itu, karena banyak side effect yang sudah tercium, misalnya lalu mabuk-mabukan [katanya sih].

Syukurlah, akhir akhir ini kalau di daerah lain hal ini malah dibesar-besarkan dengan dalih melestarikan budaya setempat, malah yang sudah tidak pernah diadakan lagi, jadi diada-ada-kan. Tetapi di Gresik, berhasil ditiadakan pada saat yang tepat, dengan memanfaatkan moment pembasmian PKI pada waktu itu. Nggak apalah nggak ada wayang bumi, toh mereka masih bisa mendapatkan tangkapan ikan.

î

Lain dengan yang satu ini, justru makin semarak akhir-akhir ini. Terutama dengan semakin ramainya istighosah dan semaan al Quran yang berkembang beberapa tahun terakhir ini. Yaitu acara menanti lailatur qadar pada malam tanggal 25 bulan Ramadhan, yang lebih populer dengan sebutan ‘maleman selawe’. Kegiatan ini berlangsung semalam suntuk, di kawasan pesarean Sunan Giri, di Giri, Kebomas, beberapa kilometer dari Gresik.

Walau permulaan puasanya berbeda, puncak keramaian [maaf, kalau kurang tepat istilahnya, karena bukan keramaian walau suasananya jadi ramai] tidak akan berlangsung dua malam, karena jamaah yang datang pada maleman selawe ini umumnya yang mengikuti awal puasa dengan rukyatul hilal. Masyarakat datang dari berbagai daerah, untuk berdzikir dan berdoa di lingkungan makam dan masjid Sunan Giri, di bukit Giri. Tetapi suasana ramainya, sudah mulai terasa semenjak dari Kawisanyar, dimana orang berjalan kaki sudah memenuhi jalan sampai di braak [tempat terminal dokar di kaki tangga menuju kompleks makam]. Bahkan sudah sampai perempatan Kebomas.

Di masjid dan sekeliling makam, bermacam-macam yang dilakukan orang, ada yang i’tikaf, dzikir, shalat, dan tidak jarang pula yang tidur kelelahan. Karena umumnya mereka sudah berada di sana sebelum maghrib, dan akan terus berada disana sampai subuh berikutnya. Keyakinan akan sesuatu memang mampu menggerakkan dan memotivasi orang untuk melakukan sesuatu, dan itulah yang terjadi pada maleman selawe ini. Dan sampai sekarangpun masih terus ramai, setiap maleman selawe ini.

Saya pernah sekali pergi ke Giri pada saat maleman selawe, karena kebetulan ada undangan pertemuan dari teman-teman PII disana. Dan kemudian melihat suasana di sana. Kalau tidak salah naik sepeda dengan Nashif, berangkat sehabis shalat tarawih.

î

Yang terakhir, hanya terjadi di daerah sekitar masjid Jamik Gresik, entah kapan mulainya tetapi tradisi ini masih berlangsung terus hingga sekarang. Apalagi kalau bukan Riyoyo Kupat, atau Hari Raya Ketupat. Kalau orang orang di Jakarta, atau daerah lain membuat ketupat untuk saat pas hari rayanya, di Gresik waktunya adalah tujuh hari sesudahnya.

Konon, pada jaman dulu, warga Pekauman, khususnya yang di Kaliboto dan Bekakaan, sesudah hari raya Idul Fitri, mereka melanjutkan lagi dengan puasa Syawwal yang enam hari itu. Sehingga mereka baru betul-betul berbuka, adalah pada tanggal 8 Syawwal setelah masuk maghrib, karena besoknya sudah tidak berpuasa lagi. Jadi sebelum maghrib tanggal 8 Syawwal itu, hampir tidak ada orang yang datang berkunjung untuk silaturrahim merayakan lebaran sambil bermaaf-maafan di daerah ini.

Pada sing harinya, dulu ada istilah kupat liwat, yaitu ketupat serta lauk pauknya yang dibagikan di perempatan kampung, entah sekarang. Selain itu ketupat ini juga diantarkan ke kerabat, atau disuguhkan pada saat tamu berkunjung ke rumah-rumah di Kaliboto dan Bekakaan. Karena berkunjung yang biasanya berlangsung selama beberapa hari itu, dipadatkan hanya dalam semalam maka gang-gang terutama di tiga kampung itu jadi penuh sesak dengan orang.

Entahlah sekarang, apakah semua warga Kaliboto dan Bekakaan masih melanjutkan tradisi para leluhur mereka dengan melanjutkan puasa Syawwal selama enam hari yang sangat dianjurkan. Semoga.

î

Ada lagi kejadian yang cukup istimewa, tetapi semoga tidak terjadi lagi di masa mendatang. Yaitu peristiwa berjangkitnya wabah cacar di tahun 1950-an. Entah bermula dari mana asalnya, di Gresik beberapa orang [banyak sekali] yang terkena wabah ini. Menghadapi wabah yang sudah berjangkit di mana-mana, semua pihak ikut turun tangan bahu membahu untuk mengatasinya. Karena banyaknya penderita yang harus diisolasai, dan rupanya fasilitas yang ada di rumah sakit sudah tidak memadai lagi, dan dikhawatirkan juga menjalar ke yang lain, maka tempat isolasinya ditempatkan di pinggiran kota. Katanya di Ngipik, yang saat itu disebut Lapangan I [nanti di cerita saya yang lain, ini memang Lapangan Terbang Darurat], yang sekarang menjadi lokasi Petro Kimia.

Dua orang sepupu saya, cak Ud dan cak Nul yang tinggal di Kaliboto juga terkena serangan wabah ini. Tetapi ‘disembunyikan’ karena takut dibawa ke tempat isolasi di Ngipik. Sebenarnya hal ini tidaklah kondusif, tetapi begitulah yang kita temui. Antara perasaan kasih sayang dan perasaan tidak tega [yang bisa berakibat fatal], tentu bercampur aduk dalam pikiran keluarga terutama kedua orang tuanya dalam mengadapi situasi seperti itu, dimana dihadapkan antara dua pilihan, dirawat sendiri seadanya [dengan risiko tidak memperoleh penanganan yang seharusnya, walau tetap dekat dengan anak] atau diserahkan ke petugas kesehatan [dengan risiko berpisah dengan buah hati tersayang, apalagi bukannya di rawat di rumah sakit melainkan di barak-barak yang konon dulu adalah tempatnya romusha].

Di kala seperti itu, para ulama dan tokoh informal pun tidak tinggal diam. Suatu upaya spiritual dilakukan secara bersama atau kolektif, yaitu dengan memohon kepada Allah swt yang Maha Kuasa, yang Maha Kasih dan Maha Sayang, dengan melakukan dzikir yang dilakukan secara berkeliling di malam hari disepanjang jalan-jalan kampung tempat tinggal. Mereka secara beramai-ramai melafalkan kalimat kalimat yang saya tidak mengetahuinya secara lengkap. Penggalan awal kalimat itu adalah

Li khamsatun utfi biha, ….. lil khatimah [atau fathimah]

dan ada beberapa baris lagi.

Saya pernah melihat kalimat itu secara lengkap di Banjarmasin, pada sebuah rumah makan yang terkenal “Kagenangan” namanya yang ditempel di dinding sebagai ‘penolak akan bahaya kebakaran’. Dalam baris-baris kalimatnya ada kata-kata yang mengacu pada putra sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. dari putri Rasulullah, Fathimah. [2]

Ternyata, melafalkan hal tersebut juga dilakukan di daerah komunitas santri di Cirebon [menurut cerita bapak Haji Mughni yang asal Cirebon] dan juga dilakukan pada saat wabah cacar dan tho’un [sama dengan di Gresik dulu].

Saya berfikir, jika nanti betul-betul terjadi pandemi flu burung [sebagaimana yang dikhawatirkan oleh para ahli] dan disaat itu ummat manusia sudah tidak berdaya [karena kelangkaan vaksin dan lain-lain], maka cara spiritual tentu akan dipilih oleh ummat. Adakah kiranya mereka yang masih hafal akan lafal-lafal likhamsatun itu?

î

Dikatakan special juga bukan, tetapi bisa juga. Khitan bagi anak lelaki adalah sesuatu yang disunnatkan, dan dijalankan oleh hampir setiap muslim. Hanya bilakah seorang anak lelaki dikhitan, itu yang sedikit atau sangat spesial. Di Gresik, khususnya bagi yang disebut ‘wong Gresik asli’ [entah kemurniannya berapa % apa 99,99%], sudah menjadi kelaziman untuk mengkhitan anaknya [atau kadang-kadang yang berkemauan adalah kakeknya] ketika masih bayi, pada usia antara 2 minggu sampai 3 minggu. Bagi wong monco [non keturunan Gresik], kadang hal ini dianggap luar biasa.

Beberapa calak [ahli khitan] pada waktu itu, yang sudah terbiasa mengkhitan anak bayi adalah Haji Thajib [dari Praban – Surabaya], atau calak Djeblok dari Giri. Itu sebelum Ambari bin Darum menjalankan praktek khitan. Mereka, bukanlah tenaga medis berpendidikan kedokteran modern, tetapi menguasai teknik mengkhitan [dan yang penting, mendapat kepercayaan masyarakat untuk melakukannya] secara turun temurun. Sang calak akan datang ke rumah dimana si bayi dikhitan, pada waktu yang telah ditentukan, tentu dengan membuat perjanjian [aafsprak atau appointment kalau bahasa sekarangnya] sebelumnya, dengan mendatangi rumah sang calak. Untuk calak Djeblok yang dari Giri, konon bisa ditemui dengan cara menunggunya di terminal dokar yang ada di dekat perempatan wak Truno. Kalau tidak ketemu hari ini, ya besoknya ditunggu lagi. Karena biasanya dia akan ada di sana di waktu pagi, ketika baru datang dari Giri, sebelum menuju ke rumah yang akan dikhitan. Praktis kan?

Memang pada waktu itu bekum ada calak yang berasal dari Gresik, pada hal pasarnya [maksudnya market nya] kan captive alias tersedia, apalagi ada kekhususan untuk mengkhitan bayi. Mungkin itulah yang mendorong Ambari bin Darum [anak Kampung Rambu] untuk mempelajarinya. Kita [yang teman sepergaulannya] tidak tahu dimana dia mempelajarinya, konon pada waktu penyelenggaraan Penyunatan Umum yang diselenggarakan oleh Bagian Penolong Anak Yatim dan Miskin, dari Perguruan Darul Islam. Dia membantu dan memperhatikan, bagaimana prosedur dan tata kerja pelaksanaan mengkhitan. Dan ditambah juga dengan hasil pengamatannya ketika aktif di Poliklinik HMI di Gresik. Bahkan konon, banyak orang yang lebih memilih disuntik oleh Ambari dari pada disuntik oleh para Dokter Muda dan Dokter yang masih muda yang praktek disana. Suntikannya tidak sakit.

Suatu ketika kami sekitar tahun 60-an akhir [saya, Nashif dan Fudin] mendapat surprise ketika diberi kartu namanya Ambari yang disana tertera “Spesialis Khitan”. Dan kami menjadi tertawa, karena kami kira ini guyonan gaya barunya Ambari, karena memang anaknya/orangnya suka guyon [mau dibilang anak wis gede, mau dibilang orang belum menikah]. Ternyata di saat itu, memang dia sudah banyak praktek melakukan pengkhitanan, tetapi masih di daerah Manyar, Gumeno, sampai ke Bungah.

Ketika isteri saya melahirkan anak lelaki di Kalianget, Madura, tentu saja membutuhkan calak untuk mengkhitan bayi. Lalu mencarilah referensi, dan ternyata saat itu Ambari sudah memperoleh kepercayaan dari masyarakat Gresik. Sesuatu yang cukup mengagumkan, karena biasanya orang Gresik itu suka menganggap remeh warganya sendiri, dan lebih menghargai orang dari luar untuk melakukan sesuatu, pada hal belum tentu sepiawai yang asal Gresik. Diantaranya, yang sudah menggunakan jasa Ambari adalah Riza bin Saiful Imam bin Choesnani, yang saat itu dilahirkan di Pare, Kediri. Ya, kalau begitu diputuskan bahwa Ambari yang akan dibawa ke Kalianget, guna mengkhitan Antos.

Ternyata di Kalianget juga bukan merupakan suatu kebiasaan untuk mengkhitan anak lelaki saat masih bayi. Bahkan ada seorang ibu [teman neneknya Antos] yang memberikan komentar “Nisera ko, gik kenek la esunat. Upahnya gi abid”, yang maksudnya “Kasihan masih kecil sudah disunat, pada hal ‘upah’-nya masih lama”. Dan memang hingga paragraaf ini diketik, memang belum memperoleh ‘upah’-nya. Dan begitu juga ketika anakku yang ketiga lahir di Jakarta, Nino, juga dikhitan oleh Ambari. Yang saat itu juga mengkhitan salah seorang cucu warga Gresik lainnya.

Ketika Ambari wafat, dan profesinya digantikan oleh isterinya [walau juga bisa nyunat], kita-kita bergurau, siapa nanti yang akan dipanggil bila kita yang diluar Gresik ini akan mengkhitankan cucunya. Ternyata jaman terus berkembang, dan ketika Didik bin Anang bin H. Djalali punya anak bayi lelaki, ternyata sudah ada dokter yang mau mengkhitan bayi bahkan dengan teknik laser. Tentu saja kakek dan neneknya harus nunggui. Kata Lipa sih, sunatan dengan laser masih baikan sunatannya Ambari yang dengan pisau cukur alias musa. Jadi tak usah khawatir lagi, dimanapun kita berada masih bisa meneruskan tradisi sunat kecil.

î

Penyunatan Umum yang dilakukan oleh Perguruan Darul Islam di Gresik sudah dilakukan semenjak masih jaman penjajahan Belanda, dan konon pernah terhenti selama beberapa tahun ketika penjajahan Jepang dan revolusi kemerdekaan. Tetapi sesudah itu terus ditradisikan, bahkan hingga kini. Mungkin kepanitiaannya sudah berestafet sampai ke generasi ketiga.

Diselenggarakan setiap tahun dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, dengan tujuan untuk membantu kaum dhuafa dalam melaksanakan khitanan bagi putranya. Usia yang dikhitan, biasanya ya usia sekolah SD, tetapi pernah ada juga yang sudah besar sekali – orangnya – [mungkin muallaf atau ketidaktahuan keluarga].

Pada awal-awal tahun 50-an, ketika saya masih sering melihat, pelaksanaannya dilakukan secara massal, persis seperti model Baswedan ahli catur dari Bangil yang melakukan pertandingan catur dengan lawan banyak. Anak anak yang akan dikhitan dijejer di ruangan kelas yang sudah dibuka dinding penyekatnya, sampai 10 atau 15 jejeran. Ada stafnya calak yang mempersiapkan ‘titit’ yang mau disunat, yaitu membersihkan dengan air kembang dan sebagainya. Lalu datang sang calak dengan penjepit dan pisau cukur sebagai pemotong, lalu kres selesailah. Tugas berikutnya dilakukan oleh sang asisten yang menangani proses pasca pemotongan. Potongan ‘titit’nya diletakkan diatas gundukan pasir dalam cowek tembikar, termasuk tetesan darahnya. Bayangkan kalau yang dikhitan sampai 120-an anak, ……

Anak-anak yang dikhitan, mendapatkan satu stel pakaian mulai dari sandal, sarung, ikat pinggang, baju dan kopyah. Dan tentu tidak ketinggalan, “petat”, yaitu penyangga terbuat dari rotan yang berfungsi agar titit yang masih baru dikhitan dan dibungkus perban tidak bersinggunagn dengan sarung.

Ketika kantor tempat kami bekerja ADHI KARYA mengadakan ulang tahun, dan menyelenggarakan kegiatan sosial, kami mengusulkan dilaksanakan khitanan massal bagi para dhuafa, dan alhamdulillah sampai sekarang masih terus berlangsung. Tentu saja praktek pelaksanaan pengkhitanannya tidak seperti di Gresik, melainkan oleh dokter dan dilakukan sambil tiduran [bukan dokternya yang tiduran tetapi anak yang dikhitan]. Animonya dari masyarakat sekitar juga cukup besar, dan bahkan suatu ketika ada anak orang berada yang ikut bukan karena untuk mencari kesempatan gratisan, tetapi agar anaknya mau dan tidak takut [karena rame-rame kan]. Tentu saja ini sangat baik, sehingga tidak menimbulkan bahwa yang dikhitan dalam khitanan massal adalah selalu dari kalangan dhuafa.

Wa Allahu a’lam.

Komentar

Dari Yazid Fathoni

Masih tentang event-event yang tidak terlalu special, saking banyaknya kegiatan ini sampai-sampai ada orang yang bisa mengandalkan makan sehari-hari dari “berkat” ini, dan orang ini tahu persis schedule-nya ( dimana, kapan, jam berapa ) dan juga dia pasti akan diberitahu orang-orang karena kebanyakan orang sudah mengenal type orang ini.

Ada fenomena menarik, bahwa anak-anak Kyai yang sering makan “berkat”  ( karena bapaknya sering dapat undangan kenduri dll  ) dia akan mempunyai kecerdasan diatas rata-rata dibanding yang bukan anaknya Kyai, khususnya dalam mengabsorbsi ilmu agama, meski anak tersebut boleh dibilang sangat nakal dan nggak pernah belajar agama ( sebab anak Kyai biasanya nakal ).

Anak anaknya  ini kita nggak tahu belajarnya dimana, kepada siapa, eh tiba-tiba sudah besar jadi Kyai juga dan terkadang sangat kharismatik. Saya berkeyakinan bahwa ini ada korelasi dengan makan berkat tadi. Bukankah “berkat” ini jenis makanan yang jelas berkatagori  “Halalan and Thoyyibah” ?

Catatan :

Kalau menghadiri slametan walau tak diundang, dulu itu ada yang namanya cak War [dan julukannya “re’ung” yang artinya ‘kurang bek’]. Dia ini selalu hadir dimana ada slematan, slametan apapun. Jadi kalau ada orang yang datang pada suatu acara tetapi sebenarnya dia tidak diundang, dikatakan “koyok cak War re’ung”.

Kalau anak kyai yang kecilnya nakal dan kemudian setelah besar menjadi kyai dan punya ilmu juga, mungkin bisa dihipotesakan lain. Selain memakan berkat yang mengandung “berkah”, juga bisa dikarenakan bapaknya banyak memberikan ilmu secara ikhlas kepada orang lain, [yang mungkin tidak sempat diurus oleh bapaknya yang sibuk memberikan pengajian di sana-sini – termasuk memberikan ilmu sang bapak ke anaknya sendiri], maka Allah membalasnya dengan memberikan ilmu kepada anaknya dengan apa yang disebut sebagai ilmu laduni.


[1] Brokohan adalah sebutan jajan yang disajikan atau diberikan untuk dibawah pulang. Mungkin ada kaitannya dengan kata berkat, berkah, barokah yang kemudian bermutasi menjadi barokahan dan jadilah brokohan.

[2] Baru-baru ini ada buku yang ditulis oleh seorang Kiyai NU [yang menggugat], bahwa Likhomsatun itu mengandung kata-kata yang mendekati syirk karena meminta bukan kepada Allah swt..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: