PLESETAN LAGU

TEMBANG KENANGAN

oleh Saifuddien Sjaaf Maskoen

Menjiplak lagu, menterjemahkan lagu,

sering kita temui di mana-mana.

Tetapi memplesetkan lagu, itu suatu fenomena apa?

Kreatifitas atau apa? Positif atau negatif.

Tergantung dari sisi mana memandangnya.

Anak-anak pada usianya pasti menyukai lagu, dan suka menyanyikannya kapan saja dan dimana saja. Tetapi menyanyikan lagu yang diplesetkan, dengan hanya menggunakan lagunya tetapi mengganti liriknya, itu suatu pertanda apa. Biasanya tidak diketahui siapa yang mulai. Tahu-tahu sudah tersebar dan dinyanyikan di mana-mana, oleh anak-anak dari berbagai kampung. Terutama pada waktu pulang sekolah, atau ketika dia sedang berjalan tidak seorang diri.

Aku sendiri tidak ingat sejak kapan plesetan ini dinyanyikan, karena hanya kudengar dari orang-orang yang lebih tua dari ku, pada kesempatan-kesempatan tertentu. Mungkin, pada saat disosialisasikannya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, setelah penyerahan kedaulatan, atau semasa revolusi fisik, atau bahkan setelah Soempah Pemoeda

Indonesia, tanahku dewe

China Londo dak melu duwe

Wong Arab serbane gede

Wak Usen dodol sate

Pada tahun 1955, Indonesia untuk pertama kalinya akan menyelenggarakan pemilihan umum untuk memilih wakil-wakil rakyat di Parlemen [Dewan Perwakilan Rakyat] dan Konstituante, yang waktunya berbeda, tidak sekaligus. Rupanya sudah menjadi kebiasaan sejak dulu, untuk mensosialisasikan kegiatan atau pesta demokrasi seperti itu dibuatkan lagu. Dan sosialisasinya, selain melalui radio – yang waktu itu masih hanya RRI alias Radio republik Indonesia, dengan jumlah studio dan pemacar yang terbatas, maka juga diajarkan kepada murid-murid sekolah lewat guru pelajaran menyanyi. Maka tak urung, lagu tersebut menjadi ajang plesetan.

Pemilihan Coto

Setali sak mangkok

Male wak, male wak

Mboten ngangge iwak

Iwake kotot kotot

Dicakot mencolot

Mencolot nang egot

Dijuput wak Sapot

Katoke melorot

K…..le mecotot

Tahu kan kira-kira huruf pengisi titik-titik tersebut? Kalau ditilik dengan adanya kata “wak Sapot”, maka inisiator-nya ini tak mungkin jauh dari anak-anak Karangpoh dan Teratee. Karena konon, wak Sapot ini bukanlah tokoh fiktif yang diciptakan untuk memenuhi pembentukan kata bersajak berakhiran ..ot, tetapi orangnya memang ada. Dan bahkan terjadi ada anak yang dikejar-kejar oleh wak Sapot tersebut, ketika sedang menyanyikannya saat pulang sekolah karena tidak menyadari bahwa wak Sapot ada disampingnya [karena mungkin juga dia tidak tahu siapa sesungguhnya wak Sapot itu].

Tetapi kemudian ketika Pemilihan Umum lama tidak dilakukan lagi [walau katanya mestinya lima tahun sekali], dan baru diadakan lagi pada jamannya Orde Baru [yaitu di tahun 1972], lagu Pemilihan Umum versi 1955 itu sudah tidak digunakan lagi. Maklum 17 tahun sudah berlalu. Dan muncul lagi Pemilihan Umum yang baru lagi. Mungkin “KPU”-nya lupa kalau sudah ada, atau pura-pura lupa, sehingga bisa bikin sayembara lagu baru. Atau memang sifat, ganti menteri ganti buku, juga berlaku untuk lagu Pemilihan Umum?

Siapa yang tak kenal dengan Titik Puspa, penyanyi legendaris di Indonesia ini. Dia mulai terkenal dengan lagu-lagunya di awal tahun 60-an, pada jamannya Bing Slamet masih hidup. Kalautidak salah, salah satu lagunya yang menjadi top-hit tangga lagu-lagu di RRI waktu itu adalah yang bait-bait awal syairnya dimulai dengan

Tiada keriangan teramat manis,

Tiada bencana teramat kejam,

Kecuali kasih diantara remaja

………..

Dan banyak lagi lagu-lagunya yang kemudian selalu menjadi top-hit, diantaranya yang kata-kata awalnya

Budi bahasamu,…

dan kemudian diplesetkan menjadi

Budi dak katokan

Kantal kantil, ambune pesing

…..

Jenis lagu-lagu yang semarak di Indonesia, memang berganta-ganti. Pernah jamannya Orkes Gumarang, yang piawai membawa lagu-lagu Minang menjadi top, dengan salah satu penyanyinya Oslan Husein yang terkenal membawakan lagu Lompong Sagu, dan ada yang syair lagu Nangko iyo si nandi-nandi, yang kemudian diplesetkan menjadi

Idul Fitri dak nandi-nandi

Ayo lungo nang Suroboyo

Tutuk kono nang Wonokromo

Tuku karcis rego sak rippis

……

Tentu saja karena masa kepopulerannya berimpitan dengan saat Idul Fitri, disaat banyak anak-anak Gresik yang berwisata ke Dirinten [Kebon Binatang di Wonokromo] yang dicapai dengan menggunakan trem-listrik dari Jembatan Merah.

Selain lagu Minang, lagu Banjar pun sempat naik panggung di belantika musik nasional, yang dibawakan oleh Orkes Rindang Banua. Salah satu lagunya adalah Paris Barantai, dengan syair

Kota Baru gunungnya bamega,

Bamega ombak menapuh di sela

karang..oh sela karang

yang menjadi

Toko Baru dempete Nya Putri

Dodolan buku, potlot lan mangsi

Jare wak Kaji seringgit siji, seringit siji

Kalau tidak salah Toko Baru itu tokonya Ba Kapal, yang letaknya di sebelah barat Pasar Gresik, sedangkan Nya Putri adalah penjual jamu herbal dengan racikan China yang tokonya di seberang Pasar Gresik.

Lagu… yang dinyanyikan oleh …. dengan syair aslinya

Kelap kelip lampu di kapal,

Anak kapal main sekoci,

…..

Yang dinanti belum kembali

juga tidak luput dari upaya plesetan, yang kemudian menjadi

Otok-otok swarane tekek

China tuwo arane singkek

Tuku ayam keliru bebek, aduh

Tuku epoh kecemek [pokek, taek]

Kata-kata yang dikuring, dipilih salah satu, tergantung siapa yang menyanyikannya.

Lagu wajib pun tak luput dari ‘perkosaan’ ini. Kalau bapak-bapaknya dulu Indonesia Raya yang diplesetkan, anak turunannya menjadikan lagu wajib Garuda Pancasila sebagai sasarannya. Dan ini, sempat membuat seseorang anak berurusan dengan polisi yang kurang memahami budaya Gresik dalam memplesetkan lagu, yang kebetulan mendengar plesetan tersebut sedang dinyanyikan.

Garuda Panca silit

Aku dak duwe duwit

Tukokno sandal gapit

Regane telung ringgit

Dan lebih dari itu, shalawat yang biasa dilafalkan pada saat peringatan maulid nabi, yang dilakukan dengan berdiri tak luput dari plesetan. Bahkan mungkin yang paling klasik diantara yang lainnya. Saya mengenal plesetan ini dari nenekku sendiri, jadi mungkin umur plesetan ini sudah cukup tua. Ketika saya sudah merantau dan tinggal di Setiabudi gang VI, Jakarta, pada suatu disaat bulan Mulud, dimana banyak dilaksanakan peringatan maulid nabi, bercerita ke anak-anakku yang yang masih berusia sekitar antara 5 dan 7 tahunan tentang plesetan ini sambil menyanyikannya diwaktu sore.

Man Tadi numpak sepeda,

Sangune rokok sejinah,

Totok omah tibo ngelumah,

Ditulungi uwong saomah.

Ee, nggak tahunya selepas maghrib, tetangga depan rumah – keluarga pak haji, asli Betawi, yang baru meninggal beberapa hari yang lalu – mengundang saya untuk menghadiri tahlilan di rumahnya, dengan mengundang jamaah masjid al-Abrar yang diujung gang dan tetangga kiri kanan. Tidak tahunya, selepas membaca al-Qura’an 30 juz dengan cara masing-masing orang membaca satu juz, dilanjutkan tahlil dan membaca maulid. Ternyata apa yang saya ceritakan tentang plesetan shalawat itu, juga ikut dilafalkan secara bersama-sama beramai-ramai sambil berdiri dengan diancruti minyak wangi. Tak urung lagi, sayapun ikut melafalkannya sambil menahan tawa karena takut terpingkal, sebab dalam kepala saya yang muncul adalah versi Man Tadi numpak sepeda.

Bahkan lagunya para qari’ atau qariah pada waktu musabaqah, juga menjadi sasaran para pemleset ini. Pernah anda mendengar kalimat bahasa Jawa yang dilagukan seperti layaknya melafalkan ayat-ayat al Qur’an, lengkap dengan tajwid dan maat-nya, inilah beberapa diantaranya

مانك قنطول دبالـنك واتـو مـبــورا

رعـدكـم تصبـبـر سـعــيـرا

Manuk kunthul dibalang watu maburo

dan

Ro’dikum tashbibir syairaa

[yang sebenarnya adalah singkatan dari borok dikum dientas njebibir rasane lara]

Ketika menjelang 1965, dimana shalawat Badar banyak diagaungkan, juga tidak luput dari plesetan ini. Bukan plesetan. Tetapi deskripsi oleh anak-anak HMI Surabaya guna merangkul warga NU dan onderbouwnya, guna bersama-sama menghadapi kelompok komunis. Dengan menggunakan lagu yang sama, ditambahi syair seperti ini

Shalatullah, salamullah,

Ala Thaha Rasulillah;

Simbol jagad diubengi tampar,

lintang songo pating kumebyar.

Bapakku NO ibuku Muslimat,

Cacakku Ansor, mbakyuku Fatayat

Aku dewe melbu HMI;

Kanggo ngabdi nang revolusi

Walaupun ada PMII, sebagai organisasi onderbour NU untuk mahasiswa. Karena pada jaman itu, tuduhan kontra-revolusi merupakan vonis yang paling berat, dan bisa berujung dalam bui.

Siapa lagi yang tak menjadi korban. Koes Bersaudara, tepatnya setelah jamannya Koes Plus pada lagunya yang berjudul “Oh kasihku” dan berlirik

Oh kasihku

Mengapa menangis tersedu

Kutelah berjanji padamu

…..

berubah menjadi

Oh wak Kaji,

Duwe anak loro lanang wedok,

Sing wedok ngising dak cewok.

Sing lanang mancing oleh kodok,

Lagu daerah dari Irian Barat [sekarang Irian Jaya atau Papua] yang banyak dipopulerkan dalam rangka mengikat persaudaraan sesama rumpun bangsa, seperti lagu Apuse yang banyak dinyanyikan anak-anak SD dimana saja tanpa tahu artinya, sekali ini menjadi iklan obat-obatan, yaitu

APC tunggale Naspro
Pil CIBA obat disentri
Pil Kina, malaria pasti jodoh

Ternyata plesetannya lebih teringat dibanding lagu aslinya.

Mungkin ada juga yang masih ingat, karena pernah juga dimuat di Harian Kompas beberapa tahun setelah peristiwanya berlangsung dalam rangka memperingati pergerakan mahasiswa menumbangkan Orde Lama. Kejadiannya bukan di Gresik, tetapi di Bandung sehingga ada yang mengingat dan menceritakannya di Kompas. Cerita lahirnya atau bahasa fiqihnya “asbabun nuzul”-nya plesetan lagu Abu Nawas yang dinyanyikan oleh Yanti Bersaudara adalah sebagai berikut. Yah, versi sayalah.

Pada saat sedang ramai-ramainya demo, ada kegiatan yang dilakukan oleh mahasiwa [banyak wi-nya tapinya] jurusan Biologi ITB, untuk meneliti tanaman-tanaman disekitar hutan Cisarua, Lembang. Field trip ini akan dilakukan dengan menggunakan base-camp tempat latihannya RPKAD. Dewan Mahasiswa ITB, atau KAMI-ITB menyertakan beberapa orang untuk mendampingi dan berpartisipasi kegiatan tersebut, sekaligus bersilaturrahim dengan personil RPKAD yang merupakan partner perjuangan mahasiswa waktu itu. Juga disertai oleh organisasi pecinta alam WANADRI.

Dari WANADRI yang ikut ada Iwan Abdurrahman [Iwan ‘Ompong’ pencipta lagu Flamboyan, mahasiswa Fakultas Pertanian UNPAD], dan Adri mahasiswa Planologi-ITB [yang masih dekat dengan Sarwo Edi Wibowo]. Dan guyonan di jalan [karena dari jalan besar ke campnya jalan kaki], katanya WANADRI itu diambil dari kedua nama orang tersebut iWAN & ADRI.

Mahasiswa ITB yang ikut, yang masih kuingat adalah Salim bin Kuddeh [anak Fisika, asal Pamekasan], Nabiel Makarim [anak Tambang, asal Sala, yang kemudian menjadi Menteri KLH], anak Geologi asal Surabaya, dan anak Elektro asal Bandung [yang sayang lupa namanya – walau terbayang wajahnya]. Malam hari cuaca dingin sekali, dan kami tidur di amben bambu di baraknya RPKAD yang hanya berdinding sesek, jadi angin malam menembus ke sumsung tulang.

Pada beberapa hari sebelumnya, Bung Karno sempat memberikan petuah dengan kalimat “Jangan bertindak liar, Tunggu komando saya” yang malam itu – untuk menghilangkan dingin – kita berteriak-teriak menirukannya dengan memplesetkan menjadi “Jangan bertindak komando, Tunggu liar saya”.

Dan bernyanyi dengan berteriak dalam keadaan dingin sekali, paling tidak bisa sejenak mengusir rasa kedinginan tersebut, toh tak ada yang terganggu karena letaknya yang sangat terpencil. Sebelum naik gunung ini, perkembangan politik di Jakarta, yang menunut penurunan harga menyebabkan Bung Karno mengeluarkan sayembara, siapa yang dapat menurunkan harga dalam tiga bulan akan diangkat menjadi menteri. Dan adalah Hasibuan SH yang mengajukan diri.

Di malam itu, dan di siang harinya, entah siapa provokatornya, mulailah memplesetkan sedikit demi sedikit lagu Abu Nawas yang aslinya dinyanyikan oleh Yanti Bersaudara, sehingga pada saat turun gunung, karya plesetan itu sudah lengkap.

Pagi hari keesokannya, kita kembali appel di depan patung Ganesha, di Kampus Ganesha 10, dan siap untuk aksi turun ke jalan lagi. Di saat itulah, syair plesetan dituliskan di kertas manila atau kertas gambar ukuran A2 atau A1 dan diikatkan ke sapu bekas yang diambil di Aula Barat. Tidak ingat siapa yang menuliskannya.

Pada jaman sekarang, tersebut kissah,

Hasibuan namanya, menghadap raja,

Tiga bulan lamanya, turunkan harga,

Kalau tidak berhasil potong kepala

Hasibuan, kasihan.

Tulisan yang terpampang itu kemudian di arak dari depan dan kebelakang untuk memandu demonstran menyanyikan lagu tersebut.

Saya tidak tahu, apakah memplesetkan lagu semaunya sendiri itu juga terjadi pada komunitas yang lain? Kayaknya bersifat global ya, setidaknya nasional lha. Kan itu lagu Abu Nawas diplesetkan juga kan?

Wa Allahu a’lam.

Catatan :

Plesetan tentang Oh Kasihku, Paris Barantai, Apuse, dan shalawat diingatkan oleh adik saya Yazid Fathoni, yang sudah bermukim kembali di Gresik.

Ada yang masih terlupa, plesetan lagu Pepaya yang pakai kata-kata KKo [nama sebelum jadi Marinir] belum muncul dalam ingatan.

Mungkin

KKo, kelambine ijo;

Bayarane satus loro;

…….

…….

6 Tanggapan to “PLESETAN LAGU”

  1. yani santoso Says:

    walau usiaku dng bapak sasngat jauh dan pak yazid kakak kelasku di smp 2 tapi isi lagu lagu plesetan ini sebagian juga masih pernah aku dengar..tulisan macem ini perlu disosialisasikan lewat edisi cetak…

    • ongkeksuling Says:

      Terima kasih banyak telah mengunjungi ongkeksuling.
      Apakah sekarang masih tinggal di Gresik atau sudah merantau ke kota atau malah negara lain?
      Semoga Allah swt merahmati dan memberkahi kita semua. Amien

  2. yani santoso Says:

    saya masih tinggal di gresik dan dengan kawan kawan dari segala usia termasuk pak dhe noot mulai mengumpulkan yang terserak di gresik dari sisi sejarah budaya.Terus saya menemukan dokumen klo di gresik pernah terjadi gempa bumi di sekitar tahun 1953an .Apakah benar pak ?

  3. fatah yasin Says:

    ass…p.syaaf :
    surak-surak horee
    bedil-bedil jadul
    kari siji tombo ace
    ace ace timbul

    ini bagian petikan lagu arak-arakan kemantenan lumpur

  4. Hendy Parwono Says:

    Bapak saya tanya, barangkali ada yg tau lagu plesetan Bei Mir bist du schon yang jadi Bakmi tujuh sen ?

  5. Hendy Parwono Says:

    Plesetan lagu Rindu Bayangan dari bapak saya :

    Minggu blayangan
    Senen golek utangan
    Slasa penagihan
    Rebo pengadilan
    Kemis tutupan
    Jumat kuburan

    Maaf sisanya bapak lupa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: