PHOTOGRAPHY

PHOTOGRAPHY

Oleh Saifuddien Sjaaf Maskoen

Syawwal/ Dzul Hijjah 1426 H

Kemajuan teknologi telah merubah berbagai hal.

Yang sangat terasa adalah dalam bentuk

pengurangan peran manusia

yang digantikan oleh berbagai produk teknologi.

Tetapi masih ada bagian-bagian tertentu

yang masih tetap memerlukan partisipasi

atau bahkan sangat ditentukan oleh

peran manusia.

Fotografi adalah salah satunya.

Setidaknya lebih setengah abad silam, mungkin hanya beberapa orang saja di kota Gresik yang mampu memiliki dan mengoperasikan kamera untuk memotret. Apalagi bila sampai mengembangkan film hasil jepretan lensanya, atau bahkan sampai mencetaknya menjadi foto yang dapat dinikmati oleh keluarga dan orang banyak. Dan kelihatannya dalam hal potret memotret ini, keturunan etnis China berada pada garis depan.

Di awal tahun 50-an, setahuku hanyalah tetangga depanku yang membuka foto studio, dan mungkin merupakan salah satu foto studio tertua di kotaku. Tidak lain adalah JIN MING. Dia merupakan market leader yang tanpa pesaing, hingga beberapa tahun kemudian, ketika dua anak muda bersaudara [A Ying dan saudaranya] membuka foto studio STAR, yang tidak jauh dari keberadaan JIN MING. Saya tidak jelas mengenai sejak kapan foto studio SIN HWA yang berada di Jalan Niaga dekat pertigaan Kemuteran mulai beroperasi.

Kalau dilihat dari sisi penamaan studionya, bisa saja SIN HWA ini seumur dengan JIN MING, atau first follower dari JIN MING. Pada saat saya menjalin transaksi dengan studio SIN HWA di akhir awal 60-an, – untuk membeli film meteran [film ukuran 35mm tanpa merk] – sepertinya yang mengelola sudah generasi kedua, karena ada seseorang yang tua yang berada disana.

JIN MING menempati lantai dua dari bangunan di Jalan Garling, diapit oleh Liem Hok Kiet dan tukang pateri [wak Saman]. Sedang lantai bawahnya, digunakan untuk penjualan rotan mentah. Sehingga kurang eye-catching lah dari sisi pemasaran. Dan kalau orang tidak mengetahui sebelumnya, tidaklah akan mengira bahwa di lantai atas bangunan itu ada foto studio tertua di kota ini.

Sangat berbeda dengan foto studio STAR yang terletak di pojokan jalan Raden Santri dan jalan Pemuda, yang ditata dengan etalase dan lampu yang terang benderang di bagian depan. Sehingga banyak anak-anak muda dan dewasa, yang sekedar mampir dan melihat-lihat foto yang dipajang di etalase studio ini. Sehingga foto studio itu selalu ramai dengan pengunjung, walau tidak semuanya kemudian berfoto atau mengafdruk foto disitu. Terutama bakda maghrib sampai sesudah Isya.

Teras yang relatif agak tinggi, dikelilingi dengan tembok sedada [persisnya sih sepantat – sedada ini hanya meniru istilah yang dipakai di pembangunan jembatan], dan ada dua gang, yang satu di sisi Jalan Pemuda, yang satu menghadap ke rumahnya Ning Sah [ibu Maria]. Di tembok sedada yang menghadap ke Bedilan ini, anak-anak suka sekali meletakkan kedua telapak tanggannya, dan turun berayun tanpa melalui undakan yang ada. Kebiasaan ini, dimanfaat-kan oleh anak yang ‘jahil’ dengan meludahi kedua tepi tembok sedada tersebut. Dan saya kira anda tahu sendiri apa yang terjadi sesudahnya. Tetapi, mau marah sama siapa?

Sering juga, yang mau potret hanya satu orang, tetapi yang mengantar banyak. Seperti orang mau naik haji. Tetapi juga kadang-kadang, yang datang banyak dan yang berfoto juga banyak, walau dipotretnya hanya sekali, karena sedang melakukan foto bersama untuk kenang-kenangan. Untuk foto kenang-kenangan seperti itu, biasanya tulisan nama kelompok dan tanggal berfotonya, dituliskan dengan kapur diatas sabak [batu tulis] dan di letakkan di bagian bawah. Mungkin teknologi menambahkan tulisan [apa lagi logo] seperti yang banyak dilakukan sekarang, belum muncul. Tentulah bisnis fotografi ini tidaklah ramai sepanjang tahun, ada masa-masa sibuk dan ada pula masa-masa sepi. Tetapi sepertinya ada saja orang yang potret dan mencetak [afdruk] atau memperbesar [vergroot].

Film yang digunakan pada masa itu, adalah film standard dengan lebar 6 cm, dan bisa dipakai untuk memotret dengan ukuran klise 4 cm x 6 cm, 6 cm x 6 cm atau 6 cm x 9 cm. Saat ini, film jenis seperti itu disebut medium format. Ada pula yang ukuran lebih besar, seperti filmnya foto Rontgen. Film jenis ini tidak memakai casette penyimpan yang kedap cahaya, sehingga diperlukan lapisan kertas khusus yang kedap cahaya, yang ditempatkan pada bagian belakang seluloidnya. Pada kertas tersebut tercetak angka-angka yang terlihat dari lubang counter kamera, untuk menunjukkan posisi yang benar saat menggulung film bagi pemotretan berikutnya. Tentu saja hal ini sangat penting, agar klise yang dihasilkan nanti tidak saling tumpang tindih, atau bagian kosong yang terlalu lebar.

Untuk pemotretan di luar studio, misalnya untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa penting tertentu, pemilik Toko LIEM [kalau tidak salah Tong Hwa] adalah salah satu diantara fotografernya, dan kemudian ada A Ying dari foto studio STAR menjelang akhir 50-an. Kamera yang digunakan, biasanya kamera dengan format 6 x 9, dan karena berada di luar studio maka diperlukan lampu kilat atau blitz. Lampu kilat saat itu, belumlah menggunakan lampu elektronik yang dapat menyala berkali-kali, namun menggunakan bola lampu magnesium yang hanya sekali pakai. Nyala lampu jenis ini, sangatlah terang, sehingga pada awal-awal diperkenalkan lampu elektronik, masih banyak yang enggan menggunakannya, karena kalah terang.

Si pemotret, haruslah sangat sigap agar tidak kehilangan adegan-adegan yang penting. Dia perlu untuk memutar film [yang butuh waktu dan ketelitian], mengganti bola lampu kilat yang habis dipakai [dan masih panas] harus diganti dengan yang baru. Maka, biasanya si pemotret membawa dua set kamera yang dilengkapi dengan lampu kilat, dan ada asistennya untuk memutar film serta mengganti bola lampu. Bola lampu kilat yang habis dipakai ini, seringkali menjadi rebutan anak-anak yang berada disekitarnya, tanpa tahu sebelumnya bahwa itu cukup atau bahkan sangat panas. Walaupun sesaat, suhu lampu dapat mencapai ratusan derajat Celcius.

Rol film yang sudah dipakai memotret, jika sudah habis, harus diputar lagi sampai seluruh filmnya [persisnya kertas pelindungnya] tergulung, baru kotak kamera bisa dibuka. Rol dikeluarkan, dan diikat rapat. Lalu diganti dengan rol yang baru. Ini cukup memakan waktu dan memerlukan keterampilan.

Pemilik toko Liem, gampangnya ya dipanggil yook Liem, ini punya beberapa anak, dua diantaranya lelaki yang kalau tak salah bernama Tan dan Tjwan. Salah seorangnya, ketika bermain di brug terpeleset dan akan tenggelam. Saat itu didekatnya, ada tetangga seberang jalan bernama Am, seorang pandu HW, [kakaknya Indra, anak Cak As’ad Gaffar] yang kebetulan sedang berpakaian pandu. Jiwa pandu dan ditambah lagi juga tetangga yang dikenalnya, membuat Am berusaha untuk menolongnya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Yang ditolong kemudian selamat, tetapi yang menolong hilang dan tidak dapat ditemukan jasadnya, tentunya hingga kini. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun.

Mengabadikan peristiwa masih merupakan suatu hal yang mahal dan langka saat itu. Hanya segolongan tertentu saja yang mampu melakukannya. Kamera yang sangat sederhana, yaitu kamera box, tanpa disertai pengatur jarak, bahkan konon juga tanpa pengatur kecepatan pengambilan gambar. Bahkan mungkin juga tanpa pengatur diafragma. Jadi, kondisi pemotretan haruslah benar-benar sesuai dengan kondisi yang diset oleh pabriknya dan masih bisa ditolerir. Kalau cuaca sudah mulai gelap, maka pemotretan akan gagal. Kalau jaraknya kurang sesuai, maka pemotretnya yang akan maju mundur mencari jarak yang tepat. Dan karena kecepatannya tetap [fixed shutter speed, misalnya barangkali 1/30 detik atau bahkan mungkin lebih rendah] maka yang dipotret tidak boleh bergerak, dan yang memotret tidak boleh goyang. Yang terakhir ini sih tetap berlaku, walau memang ada kamera canggih yang mampu mengoreksi gerakan pemotret, tapi kan ya tidak menghi-langkan dampaknya.

Kecepatan film atau kesensitifitasan film terhadap cahaya waktu itu masih rendah, tentu terkait dengan jenis emulsi yang dipergunakan pada masa itu. Apalagi, tentu selama Perang Dunia II, karena seluruh sumberdaya dikerahkan untuk peperangan, maka penelitian-penelitian di bidang seperti fotografi ini akan dinomer-duakan. Di saat itu, ukuran kecepatan film yang populer adalah DIN [standard Jerman], bagi film AGFA yang dinyatakan dalam suatu angka dan derajat, misalnya DIN 21o, sedangkan yang buatan Amerika yaitu ASA, misalnya ASA 100. Makin tinggi sebutan angkanya, makin cepat. Dan yang sekarang ini, walau resminya sudah menggunakan ISO 100, tetapi sudah kadung populer ASA, jadi banyak yang tetap menyebut ASA. Untung angkanya sama. Hal itu, yang menyebabkan pada waktu memotret membutuhkan kecepatan yang agak lambat [walau masih sepersekian puluh detik] dan yang dipotret tidak boleh goyang.

Untuk penggunaan lampu kilat, biasanya diset pada 1/60 detik, karena terangnya nyala lampunya adalah selama itu. Atau bahkan diset pada B, yang berarti “bulb”, dimana shutter kamera akan terus tetap terbuka selama tombolnya masih dipencet. Sehingga sampai sekarang, beberapa kamera masih memberikan tanda B pada pengatur kecepatannya, walau sekarang tujuannya untuk melakukan pemotretan di malam hari yang gelap dengan cahaya seadanya, yang waktu pembukaannya lebih lama dari yang maksimal yang tertera dalam pada kamera.

Kamera yang menggunakan format film yang besar [6×6 atau 6×9], dengan panjang fokus lensa tertentu, akan membutuhkan jarak yang lebih panjang antara kedudukan film terhadap lensa, guna memperoleh bayangan yang sesuai. Masih ingat kan, rumusan pelajaran lensa cembung, dimana ukuran bayangan akan ditentukan oleh perbandingan antara jarak benda dan jarak bayangan terhadap lensa. Karena itu, ukuran kamera pada waktu sangat besar-besar seperti yang merk Rolleiflex [yaitu seperti kamera medium format saat ini, yang mereknya antara lain Mamiya, Hasselblad]. Kurang praktis untuk dibawa-bawa tamasya. Kamera ‘modern’ pada waktu itu, sudah mulai menerapkan berbagai pengaturan diafragma, kecepatan, jarak, bahkan sudah memfasilitasi kemungkinan penggunaan filter guna memperoleh foto yang lebih baik.

Untuk mengatasi kendala teknis seperti itu, pabrikan kamera menciptakan kamera yang menghubungkan kotak film dan lensanya dengan lipatan-lipatan tekstil seperti accordion [yang kadang-kadang masih digunakan oleh orkes Melayu sampai sekarang]. Jika dalam posisi tertutup [tidak sedang dipakai] badan kamera tidaklah begitu tebal, paling hanya sampai 3 cm, tetapi bila dibuka bisa mencapai 10 cm. Dari pada membawa kotak 8 cm x 11 cm x 12 cm, kan masih lebih enak membawa 8 cm x 11 cm x 3 cm untuk format 6×9.

Untuk memenuhi keinginan masyarakat memiliki ‘foto outdoor’ dengan biaya yang relatif murah, para pemilik studio waktu itu, menggunakan backdrop besar yang bergambar, antara lain gambar pemandangan gunung, pemandangan laut, taman atau teras gedung / rumah besar, atau gazebo. Seingatku JIN MING tidak memiliki backdrop yang bermacam-macam seperti itu, hanya menggunakan semacam gorden saja sebagai backdrop-nya. Dan mungkin itu yang menyebabkan ditinggalkan oleh pelanggannya. Begitu juga SIN HWA yang terbatas jenis backdrop-nya. Hukum pasar benar-benar berlaku disini, siapa yang bisa merebut pasar – dengan investasi baru – dia yang akan bisa bertahan dan menguasai pasar.

Setiap ada jenis backdrop baru, akan menarik para photo-maniac [yang gemar berpotret untuk koleksi] untuk berfoto menggunakan backdrop tersebut. Backdrop yang berlubang, juga merupakan suatu kreasi yang sangat menarik, tidak saja menarik anak-anak dan remaja, bahkan orang tua sekalipun. Yang terkenal, adalah backdrop mobil sedan dan kemudian kapal terbang. Dengan menggunakan backdrop berlubang ini, yang dipotret seakan-akan sedang mengemudikan mobil atau pesawat, dengan beberapa penumpang di belakangnya. Siapa yang tidak tertarik. Biasanya backdrop baru, akan diluncurkan di bulan puasa, sehingga berita dari mulut ke mulut sudah akan sampai pada saat lebaran, dimana baju baru sudah dipakai dan uang hasil angpaw akan lebih ringan dibelanjakan.

Backdrop yang jumlahnya banyak itu, digantung dan digulung pada sisi belakang studio, yang akan dibelakangi oleh mereka yang akan difoto. Seperti layarnya ketoprak [bukan ketoprak Jakarta], dan diturunkan pada saat mau dipakai saja sesuai pilihan. Dan kalau sudah selesai, digulung lagi.

Anak-anak gedean, yang sudah mulai nyorek atau dinyoreki, [umumnya lelakilah yang akan nyorek] adalah salah satu pelanggan tukang tukang foto ini. Karena pada saat itu, antara yang nyorek dan yang dinyoreki ini jarang dan sulit ketemu, maka tukar menukar foto dan surat sangat populer pada waktu itu. Beberapa teman kelas 6 ku dulu, sudah ada beberapa orang yang usianya lebih dari 18 tahunan, jadi ya sudah akil baligh dan mulai nyorek.

Para anak buah perahu encik, juga merupakan prime customer dari berbagai studio ini, karena mungkin di daerah asalnya foto masih merupakan hal yang langka dan istimewa. [Di Gresik saja yang dekat Surabaya, masih langka]. Dan juga sebagai tinggalan di rumah, obat pelepas rindu keluarga yang ditinggal berlayar [asal jangan laa yarjiun ya]. Gayanya termasuk berani atau sedikit norak. Misalnya, dengan sendeku [atau songgo uwang] dan memperlihatkan arloji yang melingkar di tangannya [mungkin baru beli arloji baru].

Backdrop dengan warna polos, tetap diperlukan untuk membuat pas foto. Berbeda dengan saat sekarang, dimana untuk membuat pas foto resmi, bisa dengan backdrop warna merah atau biru tua. Mengapa ya. Koq tidak warna hijau, kuning. Pertimbangan efek optik ya, jangan di-verpolitiseer seperti kuningisasi kursi-kursi dan laburan kapur di pohon asem sepanjang jalan pada saat menjelang reformasi di negeri ini.

Walaupun film yang digunakan masih BW alias black and white, backdrop yang digunakan penuh dengan warna warni. Sepertinya paradoksal ya. Tetapi sesungguhnya tidak, karena film BW pun, masih akan dapat membedakan antara warna yang satu dengan warna yang lain, berupa gradasi warna antara pure-black dan pure-white. Dan inipun diperlukan guna memberikan kesan alami, bilamana dibandingkan dengan foto yang diambil di luar studio. Teknik penggunaan backdrop sebagai tipuan ini, masih berlanjut hingga abad XXI ini. Coba lihat bila acara wisuda sarjana usai, apakah yang D1, D2 sampai S1, S2 dan S3, maka banyak foto studio mini dadakan yang menggelar berbagai backdrop bernuansa perpusatakaan, walau mungkin perpusatakaannya sendiri bukanlah bagian dari gaya hidup yang dipotret.

Kehalusan emulsi pada film, dan juga emulsi pada kertas serta mutu lensa alat pencetak foto,walau tingkat vergroot atau pembesaran yang digunakan pada waktu mencetak foto belumlah besar, paling 1:1 atau 1:2,5, akan sangat mempengaruhi hasil cetakan foto nantinya. Hasil cetakan foto belumlah mulus seperti cetakan foto berwarna saat ini. Masih banyak ditemukan bercak-bercak di sana-sini. Jika anda sekarang mencetak foto ukuran 10R dari film 35mm, yaitu film yang mulai banyak dipakai beberapa tahun yang lalu – sebelum era digital – itu membutuhkan tingkat pembesaran sekitar 1:6. Tetapi hasilnya bisa dibilang mulus kan.

Cetakan foto pada masa itu, untungnya konsumen tidaklah mengetahui, masih banyak cacatnya. Setidaknya ada bintik-bintik putih kecil yang kadang cukup mengganggu, terutama bila bintik itu berada di wajah atau lebih-lebih lagi pada bulatan hitamnya mata. Nanti dikira bilo atau bitor. Maka para pengelola foto studio akan melakukan proses pasca cetak yang disebut tosir [entah bahasa apa, Belanda kali karena diawali dengan kata to- tetapi koq tak ada akhiran –en nya, mungkin lengkapnya toseeren]. Karena itu, sangatlah lazim waktu yang diperlukan oleh sebuah foto studio untuk menyelesaikan order afdruk apalagi yang di vergroot, adalah beberapa hari, umumnya 3-4 hari. Kalau mau lebih cepat bisa saja, tapi tarifnya akan lain. Tarif kilat. Karena dia harus menggeser urutan antrian yang akan ditosir. Buktinya, afdruk foto di pinggir jalan yang menggunakan lampu Petromax atau Stormking [ini sebenar
nya merk lho, tetapi sudah jadi sebutan barang seperti Odol, Klaxon, Delco, Bosch dll] dapat melakukannya dengan cepat.

Di suatu saat tukang foto membutuhkan ruangan yang gelap-lap, untuk mem-fixing film yang sudah dipakai, dan untuk mencetak fotonya sendiri, yang dilakukan di ruang gelap, dimana hanya boleh ada cahaya remang-remang berwarna merah atau kuning [tergantung apa yang sedang dilakukan]. Di saat lain, dia membutuhkan cahaya yang terang – walau hanya pada suatu bidang tertentu -[untuk mengurangi kelelahan pada mata], yaitu ketika mentoser foto-foto hasil cetakan. Bahkan film yang sudah dicuci [tak pakai sabun] juga kadang-kadang ditosir juga, guna mengurangi cacat dan mengurangi tosiran pada fotonya nanti.

Saya tidak melihat bagaimana JIN MING melakukan kegiatan toseren ini. Tetapi di STAR, saya selalu menyaksikannya. Disini kita juga melihat teknik yang sederhana tetapi very smart. Dengan kuas kecil, seperti kuas untuk melukis, setiap foto diperiksa dan diberi sapuan pewarna dimana perlu. Ada cermin empat persegi panjang kecil, yang diberi pemberat dibawah dan mempunyai engsel untuk mengatur sudutnya. Kita tahu, untuk pekerjaan seperti ini butuh tingkat lumen atau lux [ukuran kuatnya cahaya per satuan luas] yang tinggi. Kalau menggunakan lampu meja, selain akan membutuhkan biaya juga panasnya tak tertahankan. Cermin itu tadi, digunakan untuk memantulkan cahaya yang ada ke permukaan foto yang sedang ditosir. Kita memperoleh tambahan lumen secara gratis dan nyaman lagi, melalui cahaya yang dipantulkan cermini tadi. Memanfaatkan sunnatu Allah secara cerdik guna menyelesaikan masalah kita.

Dikala itu kita bisa memilih mencetak dalam nuansa hitam atau nuansa coklat – yang kemudian disebut sephia. Tetapi juga bisa membuat foto kita berwarna. Walaupun tidak seperti warna aslinya. Setidaknya, sudah ada aksen-aksen warna tertentu dalam foto itu, sehingga lebih meriah. Warnanyapun masih warna dasar, dan itu dilakukan keseluruhannya dengan tangan, jadi betul-betul suatu art-work. Dan tentu saja ada biaya ekstra yang tidak sedikit. Tetapi ada saja orang yang meminatinya. Keren kan, dikala orang lain fotonya masih BW, foto dia sudah berwarna.

Salah seorang fotografer lainnya, yang pribumi dan sekaligus adalah wartawan, adalah cak A. Tajib yang membuka usaha toko bahan bangunan sesuai dengan namanya, di depan asrama polisi, belakang SD Brug. Dia memiliki mobilitas yang agak tinggi, karena sudah menggunakan sepeda kumbang, kalau tidak salah merk Ducati [yah satu pabrik dengan Ducati yang memproduksi motor balap untuk MotoGP]. Dan cak Anang Naratin, orang tuanya Agus & Hilman Asnar, juga memiliki hobbi memotret, dan juga memiliki fasilitas untuk cuci cetak foto di rumahnya.

î

Kamera yang digunakan di studio ukurannya sangat besar, dan jenisnya berlainan dengan kamera yang digunakan di luar studio. Pada bagian depan, yang terlihat adalah lensa dengan mekanisme shutter, dan diafragma. Mungkin tanpa pengatur kecepatan lama pencahayaan, karena yang akan diatur adalah terangnya cahaya dalam studio. Kamera ini juga tidak disertai pengatur jarak, sehingga kamera yang dipasang di tripod beroda ini akan maju dan mundur guna memperoleh bayangan yang tajam.

Bagian belakang, ada layar proyeksi – yang kalau tak salah ingat, tanpa dilengkapi lensa pembalik – sehingga bayangannya akan terbalik. Yang atas ada dibawah dan yang kiri ada di kanan. Untuk melihat gambar di layar proyeksi diperlukan kegelapan dan karena itu dibagian belakang ada kain hitam untuk menutupi wajah dan kepala si pemotret.

Di layar proyeksi ini, terdapat garis kotak-kotak sesuai ukuran film yang akan digunakan. Apakah 4×6, 6×6, 6×9 atau bahkan yang lebih besar. Setelah posisi dan komposisinya seperti yang diinginkan, barulah si pemotret mengambil film yang sudah terpasang dalam suatu ’casette’, dan menempatkannya menggantikan layar proyeksi. Lalu, cahaya ditingkatkan terangnya dengan menyalakan banyak lampu-lampu yang sudah terlebih dahulu diatur posisinya.

Sistem penutup [shutter] nya ada di depan, dengan menggunakan mekanisme seperti kabel-rem sepeda jengki. Dengan menekan semacam tombol di ujung kabelnya, maka shutter akan bekerja. Kalau yang dipotret anak-anak kecil, di pemotret sebelum menekan shutter, seringkali membunyikan bel [seperti penjual es] guna menarik perhatian si kecil.

Di studio bergantung banyak sekali lampu, ada yang di atas, samping kiri, samping kanan, juga belakang kiri dan belakang kanan. Penggunaan banyak lampu ini, agar pencahayaannya dapat merata, dan juga untuk menghilangkan bayangan dari obyek yang dipotret. Masing-masing diletakkan dalam satu kotak, dengan warna dasar putih, terdiri atas beberapa lampu pijar yang berkaca susu. Penggunaan banyak lampu dalam satu kotak, juga bermanfaat guna membentuk cahaya yang bersifat diffuse, karena berasal dari banyak sumber cahaya. Lampu dari jenis flood-type kadang kalau digunakan untuk memberi effek tertentu.

Lampu-lampu yang banyak, walau dalam satu kotak, tidaklah selalu akan menyala semuanya. Bisa diatur, hanya sebagian-sebagian saja. Sesuai kebutuhan pencahayaan. Kalau obyek yang akan dipotret lebar, karena merupakan foto bersama, tentu akan beda dengan kalau hanya pas foto satu orang saja. Juga pada waktu persiapan, tidaklah semua lampu dinyalakan, tetapi hanya sebagian saja, sekedar bisa terlihat pada layar proyeksi. Baru pada saat memotret, yang hanya sebentar, lampu dinyalakan secara penuh. Hemat enerji dan agar suasana studio tidak panas. Walaupun begitu, seringkali juru fotonya itu pakai singlet saja. [entah karena ongkep, atau memang sudah gayanya].

Lampu-lampu yang di atas, yang terpasang dalam boks yang memanjang hampir separoh lebar studio yang mungkin berukuran 6m x 6m, umumnya terpasang secara permanen. Tentu saja agar tidak merepotkan dalam penataannya. Sedangkan yang untuk di belakang atau di samping, bisa digeser-geser karena sudah dilengkapi dengan roda-roda.

Saat dilakukan persiapan, pencahayaan atau jumlah lampu yang dinyalakan barulah sekedarnya saja, tetapi sudah dilakukan penempatan posisi lampu-lampu sesuai efek yang diinginkan terutama untuk menghilangkan bayangan yang tidak dikehendaki. Digunakannya banyak sumber cahaya, walau belum banyak menggunakan diffuser, sudah akan sangat baik sekali dalam mengurangi bayangan. Tidak seperti kalau kita potret di bawah terik matahari.

Kalau untuk pemotretan di studio pada jaman sekarang, sudah digunakan lampu khusus yang memiliki daya tinggi dan memiliki berbagai fungsi pengaturan daya output-nya, sedang diffuser-nya berupa payung yang mudah diatur arah pantulannya. Karena itu, tidak lagi membutuhkan tempat yang luas, dan bisa dibawa kesana-kemari. Kita bisa menyaksikan studio mini seperti ini yang di set-up untuk pemotretan pengantin dan keluarganya sebelum dilakukan prosesi ke pelaminan tempat pengantin dan orang tuanya akan menerima ucapan selamat dari para tamu, bila ada resepsi pengantin.

î

Di akhir tahun 50-an ada dua pemuda Gresik yang memiliki hobbi memotret, terutama untuk memotret diluar guna mengabadikan berbagai peristiwa. Mereka adalah cak Wahib dan cak Buchori. Cak Wahib ini guru saya di Teratee, sekaligus guru ngaji saya di rumahnya di Bedilan, samping Langgar Serang. Sedangkan cak Buchori ini tinggalnya di Metoko, Kemuteran. Sesudah itu semakin banyak anak-anak muda yang menggemari fotografi.

Walaupun tingkat perkembangan teknologi belum begitu maju, tetapi kita perlu mengacungkan jempol atas foto yang dibuat pada waktu itu. Setidaknya memiliki ketahanan yang lebih baik, dibanding foto berwarna [memang cetak berwarna] pada awal-awalnya – yaitu pada awal sampai pertengahan 70-an.

Temanku yang memiliki kamera, yang masih menggunakan film format besar ini antara lain Saifudin bin Haji Bakri Samad, dan Bestari bin Haji Fr. Alwi Isa. Yang punyanya Fudin, model accordeon entah merk apa lupa, sedangkan punya Bestari adalah Rolleiflex, DLR [double lenses reflex camera ]– saudara tuanya SLR [single lense reflex camera] seperti kamera generasi sekarang. Kalau punya Amat Umar Asnar bin Haji Amat Nasiman, merk Agfa sudah pakai film kecil.

Kamera saat itu, pada umumnya menggunakan jendela intip, untuk ngekernya. Dan belum dilengkapi sarana untuk mengukur jarak. Sehingga pandai-pandailah untuk memperkirakan jarak antara pemotret dan obyeknya, kalau tidak kaburlah potretnya. Pada perkembangan berikutnya, sudah ada kamera berjendela intip jendela yang memiliki fasilitas untuk menentukan jarak [range finder], yaitu bersatunya dua gambar yang diperoleh dari dua sisi yang ada di kamera. Mempermudah sedikitlah. Tetapi paralaks antara yang terlihat dan yang terekam di fim masih tetap ada.

Dengan kamera DLR seperti yang diterapkan di Rolleiflex, sesuai namanya kamera ini memiliki dua lensa yang identik. Yang satu untuk membentuk bayangan di film, dan yang satu [bagian atas] untuk membentuk bayangan di lembaran kaca proyeksi yang tidak transparant betul [buram, seperti kertas kalkir]. Di kaca ini, kita bisa melihat ‘duplikat’ bayangan yang akan muncul di film nantinya. Kalau jaraknya belum pas, ya baur; kalau cahayanya terlalu banyak ya terlalu terang. Sudah sangat memudahkan, tetapi karena lensanya dua, dan sistem mekaniknya mampu menggerakkan dua lensa dan diafragma sekaligus, maka harganya ya jadi lebih tinggi.

Walau tujuannya untuk menampilkan gambar yang sama, antara di kaca penglihat dan di film, karena letaknya yang satu di atas dan yang satu di bawahnya, tentu ada perbedaan gambar sedikit atau paralax. Untuk jarak jauh akan sedikit bedanya, sebaliknya untuk jarak yang dekat, hal ini bisa fatal. Saya pernah memotret sambil duduk berselonjor kaki, memotret seseorang di depan saya, dengan menggunakan teknik low-angle. Setelah film di afdruk, ada gambar aneh di pojok kanan bawah, ternyata adalah ibu jari kaki kananku. Yah, kalau pakai istilah komputer akhir-akhir ini, belum WYSIWYG [what you see is what you get]. Karena yang kulihat tanpa ada jempolku, yang jadi gedean karena jaraknya dekat. Waktu itu, sekitar awal 60-an juga ada model DLR buatan China, tetapi layar penglihatnya tidak secanggih yang di Rolleiflex. Jadi masih perlu mengira-ngira.

Barangkali juga untuk keperluan perang, guna mendapatkan informasi yang lebih rinci dan kemudahan membawa diperlukan digunakan adanya berbagai peralatan yang lebih kecil [miniaturization], begitu juga di bidang fotografi. Hal ini tidak lepas dari kemajuan yang dicapai baik dalam sisi emulsi pelapis film, optika lensanya, dan juga fine mechanics yang menggerakkan bagian-bagian kamera.

Peningkatan kehalusan butiran emulsi yang mampu menghasilkan rasio pembesaran yang lebih tinggi, memungkinkan digunakannya ukuran film yang lebih kecil guna menghasil-kan cetakan foto dengan ukuran yang sama. Sekaligus, penggunaan lensa multi element, dibanding single element yang mampu meningkatkan mutu bayangan pada film, dan memungkinkan diperolehnya lensa dengan diameter yang lebih besar sehingga memungkinkan penggunaan cahaya seadanya dalam pemotretan dalam ruangan [available light photography]. Dan mekanisme dalam kamera mampu melakukan pemberian cahaya yang hanya dalam selang sepersekian ribu detik saja, [1/1000 detik] antara lain dengan diterapkannya shutter atau penutup yang menggunakan dua layar [double plane shutter].

Muncullah kemudian kamera, Leica yang menggunakan film standar 135, dengan lebar seukuran dengan film bioskop, dengan ukuran sekitar 25mm x 35 mm. Sehingga film dengan ukuran tersebut, pada saat itu dikenal sebagai film Leica, walaupun Leica adalah merk kamera bukan pembuat film. Generasi yang pertama masih menggunakan lensa tetap dan lubang pembidik biasa atau sudah dengan penentu jarak. Dan mulai masuklah kamera-kemare buatan Jepang, seperti Canon, Pentax, Fuji, Ricoh, Olympus dan Nikon. Kalau filmnya sendiri yang merk Agfa, atau Kodak tentunya, atau Fuji, Sakura , Konica yang buatan Jepang.

Dengan semakin canggihnya teknik mekanik dalam industri peralatan foto, maka yang asalnya memerlukan dua lensa, menjadi bisa satu lensa saja, seperti yang kita lihat pada kamera SLR maupun kamera medium format, seperti Mamiya dan Hasselblad atau yang lainnya. Kemudian, terjadilah bentuk yang bisa disebut hybrida, atau kawin silang antara kamera DLR dengan kamera model Leica, dan muncullah jenis kamera yang kemudian terkenal dengan sebutan SLR ini [single lense reflex], apapun merk dan modelnya, sudah sangat mendekati WYSIWYG, dengan film format 135.

Hebatnya lagi, kamera ini dengan mudah dapat diganti-ganti lensanya, dengan panjang titik api yang berbeda, sehingga dapat menyesuaikan dengan penggunaannya. Lensa normalnya adalah dengan panjang titik api 50mm, dan ada yang disebut wide-angle dengan 35mm, bahkan 28mm dan sampai 18mm yang dikenal sebagai lensa mata ikan. Dengan lensa mata ikan ini, sudut penglihatannya sangat lebar, dan gambar yang diperoleh sudah tidak lagi sesuai format film yang persegi, tetapi cenderung lingkaran. Makin kecil panjang titik api, akan makin lebar sudut pandangnya. Sehingga dengan jarak sama antara pemotret dan yang dipotret, akan dapat diperoleh pandangan yeng lebih lebar dengan lensa 28mm dibanding 50mm.

Sebaliknya, untuk memotret yang jauh diperlukan lensa dengan jarak titik api yang lebih jauh, katakan 70mm, 120mm, sampai yang 300mm, 500mm atau bahkan lebih jauh lagi. Lensa seperti ini disebut lensa tele. Seperti yang sering kita saksikan di pinggir lapangan sepakbola ketika ada pertandingan internasional, seperti perebutan Piala Dunia. Dengan kemajuan teknologi, manusia betul betul dimanjakan. Bahkan ada yang jarak titik apinya bisa diubah-ubah, misalnya antara 28mm sampai dengan 70mm, atau antara 100mm sampai dengan 300mm. Masing-masing jenis lensa memiliki kegunaan sendiri-sendiri. Mereka menyebutnya zoom.

Hampir semua lensa yang disebut diatas, akan menghasilkan bayangan pada film dengan ukuran yang lebih kecil dari benda aslinya. Tetapi ada pula lensa yang dibuat, guna menghasilkan bayangan di film yang lebih besar dari benda aslinya, biasanya disebut lensa macro. Jadi lensa kameranya berfungsi sebagai ‘mikroskop’, tetapi dengan pembesaran yang tidak seberapa, katakanlah hanya 2 sampai 4 kali atau ya lebih-lebih sedikit. Lensa ini digunakan untuk memotret semut, atau benda-banda kecil lainnya. Misalnya mau jual liontin bermata berlian, kan risiko kalau dibawa-bawa liontinnya. Maka bisa difoto dengan lensa makro, dicetak, dan dibawakan ke tukang melijo atau mekelaar-nya. Sehingga tak perlu terjadi peristiwa yang menimpa wak Dewi di tahun 50-an.

Dulu akhir 50-an, Haji Djalali memiliki kamera kecil, dengan film yang sebesar kuku ibu jari tangan. Tetapi sangat sulit cari film-nya, kecuali dipotongkan oleh SIN HWA. Dan memang bukan untuk memotret secara serius, tetapi lebih ke arah penggunaan untuk spionage barangkali.

Persisnya kapan JIN MING tutup, tidaklah teringat dengan jelas. Tetapi bukanya foto studio SATELIT, oleh kakaknya cik Leh atau suaminya cik Leh, yang menempati bekas toko meracangnya Jingkang [yang kakinya masih kecil walau sudah nenek-nenek dan selalu pakai celana serta blus hitam] di sebelah mebelnya A Hong [bukan A Hong yang naksir Zainab dalam sinetron ‘si Doel Anak Sekolahan’], yang tak lain adalah ibunya cik Leh.

Jingkang ini dulunya membuka toko meracang di ujung jalan Garling, di pojok utara timur, di perempatan Bata, depan Hotel Bahagia. Rumahnya sendiri berada antara Bata dan gudangnya Haji Affandi Sidik. Entah pada tahun berapa, rumahnya ini konon dibeli oleh Koperasi Batik Gresik, tetapi dengan perjanjian rumah tersebut baru akan diserahkan bila Jingkang meninggal dunia. Mungkin, dengan perhitungan manusia pada umumnya, ya tak lama lagi lah, karena saat itu Jingkang sudah tua. Ee ternyata, Allah swt menentukan lain. Umur Jingkang ini cukup panjang. Nggak tahu sampai berapa lama pengurus koperasi harus menunggu ‘sertirum’ alias serah terima rumah itu.

Pada saat foto studio SATELIT dibuka, memang pihak Rusia dan Amerika baru saja meluncurkan satelit tak berawak ke ruang angkasa [1957]. Rusia menamakannya Sputnik. Konon saat itu, menurut pendengaranku sendiri dari seseorang [yang saya tak tahu pasti, lelaki itu kakaknya atau suaminya cik Leh] foto studio itu mau diberi nama SPUTNIK tetapi takut dikira pro Rusia, jadi SATELIT sajalah biar netral.

Ada lagi China yang berkaki kecil, yang kemudian anaknya juga membuka foto studio ASIA, di dekat pertigaan Kemuteran, ya dekat-dekat SIN HWA. SIN HWA ini yang kemudian berganti nama menjadi foto studio SINAR. Mengapa memakai nama ASIA kurang jelas, karena tempatnya agak jauh dari rumah saya, dan tidak kenal sama sekali. Pada hal di sebelah baratnya sudah ada Toko ASIA, punyanya Haji Chasan TT [?] – yang meninggal di pesawat udara dalam perjalanan pulang dari tanah suci Mekkah dan kemudian di makamkan di Bangkok. Dalam rombongannya ada beberapa orang Gresik juga, yang merupakan tahun ke dua ada perjalanan haji lewat udara. Dalam tahun yang pertama, yang berangkat adalah Haji Noorsjamsi – yang biasa saya panggil Aa’ [orang tuanya cak Agut / Soefyan Tsauri, yang pernah jadi Ketua LIPI]. Sedangkan dalam rombongannya Haji Chasan TT [?] antara lain Haji Basuni, Haji Wan Budeng, Haji Toha, Haji Bakri dan masih beberapa orang lagi.

î

Saya tertarik pada fotografi semenjak masih kecil, dengan banyak memperhatikan bagaimana mereka bekerja untuk menghasilkan foto. Berbahagialah kami, karena Bapak saya juga punya kesenangan memotret, dan menyimpan foto dengan baik, setidaknya waktu kami masih kecil. Saya tidak ingat merk apa, tetapi jenisnya camera box yang sederhana, sehingga kami punya banyak foto-foto kenangan di masa kecil. Baik ketika masih ngungsi di Lamongan, ketika baru kembali ke Gresik, dan salama masa-masa kecil kami tinggal di Garling. Beliau juga masih menyimpan foto-foto lamanya, dan sempat kami melihat-lihatnya. Diantaranya, adalah foto bapak saya memegang ular, foto didepon Djogi ketika rombongan arek-arek Kemuteran mau pic-nic ke Jawa Tengah, foto bersama pandu Syubbanul Muslimin di pabrik Karet, Pekelingan dan lan-lain.

Saya mulai belajar memotret, dengan kamera kepunyaan teman-temanku, seperti Fudin, Asnar dan Bestari ketika masih sekolah di STM Kimia, Jalan Patuha, Sawahan. Dan karena kamera mereka berbeda beda merknya, saya jadi terbiasa untuk menggunakan berbagai jenis kamera. Begitu juga ketika menjadi mahasiswa.

Sewaktu sekolah di STM, saya kost di Jalan Kranggan 158, di daerah yang berbatasan dengan Pasar Tembok dan Tembok Gang Kuburan. Di rumah itu, ada keluarganya yang sering datang, yang bernama cak Ichwan, orang Surabaya asli, yang juga hobbi dan sering memotret. Saya sering bertanya pada dia tentang hal-hal memotret. Di rumah, yang pada waktu saya kecil berjualan buku, banyak juga membaca buku-buku tentang pemotretan dan kamera. Sehingga sewaktu mahasiswa, sudah bisalah memotret dengan memahami teknik pengaturan cahaya, kecepatan, diafragma dan juga sedikit komposisi. Tentunya masih yang dasar-dasar saja. Walau selalu dengan kamera pinjaman. Sejak semula, saya menyenangi gaya candid, artinya orang yang difoto tidak menyadari kalau sedang difoto, sehingga hasilnya lebih alamiah. Tetapi cara ini, kurang disukai oleh yang difoto, karena tidak sempat bergaya.

Walaupun saya mahasiswa Teknologi Kimia, yang juga diajari bagaimana proses pencitraan cahaya pada film, dan bagaimana pula proses mencuci film, serta juga bagaimana proses pencetakan fotonya, tetapi saya tidak pernah mempraktekkan berbagai jenis proses tersebut. Menang teori, kalah praktek. Saya sendiri kalau difoto, sering tidak menyadari kalau mulut saya dalam posisi mangap alias ngowo, sehingga teman-teman – seperti Nana – sering mengingatkan agar saya mingkem.

Pada awal 70-an, sebelum saya lulus, kebetulan bagian Teknik Kimia baru membeli kamera, kalau tak salah Asahi Pentax II. Yang bertanggung jawab memegang kamera itu adalah Mas Bowo [dosen di tempatku, yang masih muda biasa disebut mas, dan baru yang tua-tua disebut pak]. Dia adalah kakak iparnya cak Icang, dan kebetulan saya jadi asistennya, baik di Lab Unit Operations maupun dalam mata pelajaran yang diajarkan olehnya. Jadi saya sering juga memakai kamera tersebut.

Pernah, suatu ketika mas Bowo memotret dengan menggunakan blitz, tetapi hasilnya hanya setengah frame saja. Dan itu terjadi pada sebagian besar satu rol itu, kesemuanya yang menggunakan blits. Separuh hasilnya bagus – pas seperti yang diharapkan, tetapi separuhnya lagi hitam kelam seperti belum exposed. Ternyata, untuk kamera yang menerapkan double-plane shutter, seperti Asahi Pentax II, kecepatan pemotretan dan lama nyala lampu blitz, haruslah sinkron atau sama. Yaitu harus menggunakan kecepatan yang diberi tanda “X”. Yah itu pada tahun-tahun itu, kemajuan bidang elektronika belum banyak dimanfaatkan dalam fotografi.

Lampu blitz yang tidak lagi menggunakan bola lampu magnesium sekali pakai, sudah mulai banyak digunakan. Pada generasi yang pertama, ada yang tanpa di back-up oleh baterei, tetapi sepenuhnya mengandalkan kapasitor yang ada dalam blitz itu sendiri. Sehingga, sebelum digunakan, blitz itu di charge dulu ke saluran listrik rumah. Setelah kapasitornya penuh, blitz akan bisa digunakan sampai sekian kali penyalaan. Tetapi jarak antara pengisian dan penggunaan tidak boleh terlalu lama.

Lampu blitz yang modernpun, masih menggunakan kapasitor, tetapi kapasitornya hanya untuk sekali nyala. Dan sesudah itu diisi kembali oleh baterei [baik yang berupa batu baterei atau aki kering, yang biasa disimpan dalam tas kecil oleh pemotretnya]. Seperti halnya semua lampu, memiliki daya tertentu. Daya dari lampu blitz, ukurannya disebut Guide Number, yaitu suatu angka petunjuk guna menentukan kombinasi antara jarak dan pembukaan diafragmanya, pada penggunaan film ASA/ISO 100. Misalnya Guide Numbernya 24, jika jarak pemotretan 3 meter, maka bukaan diafragma yang sesuai adalah 8, kalau jaraknya 2 meter ya diafragmanya 12 – tetapi karena tidak ada 12, yang ada 11 ya disetel saja pada diafragma 11.

Biasanya Guide Number itu disebutkan dalam buku petunjuk, tetapi pada setiap blitz biasanya dilengkapi dengan tabel penunjukan seperti itu, lengkap dengan untuk kecepatan film berapa. Kalau filmnya lebih sensitif, yang ditunjukkan dengan ASA/ISO yang lebih tinggi, maka untuk jarak yang sama bukaanya akan lebih kecil. Jadi kalau pakai blitz, memang sebaiknya menggunakan film dengan kecepatan yang lebih tinggi, misalnya ASA/ISO 200 atau 400, agar bukaan diafragmanya tidaklah terlalu besar. Mengapa?

Itulah gunanya deretan angka-angka yang ada pada fixed-ring yang biasa kita temukan dalam setiap lensa kamera. Pada waktu mengatur jarak, kita mengesetnya pada suatu garis, dimana di kiri dan kanan garis-garis itu ada banyak garis-garis kecil yang ditandai oleh suatu angka yang sama dengan angkanya pengaturan diafragma. Ini adalah petunjuk mengenai ketajaman gambar yang akan kita peroleh nanti, sebagai pengaruh dari penggunaan diafragma.

Kira-kira jarak obyek yang dipotret adalah sekitar 2,75 meter, dan bila diafragma kita set pada 8, maka obyek yang terletak pada jarak antara 3 meter sampai 4 meter, akan masih terlihat tajam. Kalau diafragma kita set pada 22, maka obyek yang terletak pada jarak antara 2 meter sampai 5 meter, akan masih terlihat tajam. Dalam istilah fotigrafi, itu disebuit depth of field atau gampangnya batas ketajaman gambar. Setiap lensa memiliki ukuran depth of field nya sendiri sendiri.

Tentu saja pemilihan diafragma ini tidak boleh seenaknya, harus mempertimbangkan kecepatan pemotretannya. Artinya, seorang pemotret harus selalu mempertimbangkan dan mengkompromikan beberapa faktor, terutama jarak titik api lensa yang digunakan, kecepatan film yang digunakan, kuatnya cahaya yang ada, jarak, pembukaan diameter dan lamanya penyinaran serta komposisi gambarnya dan mau dicetak dengan pembesaran berapa. Kesemuanya itu harus dilakukannya dalam waktu yang singkat. Dan itu semua, akan jelas konsekwensi apa yang akan kita dapatkan nantinya. Karena kesemuanya berjalan sesuai dengan sunnatu Allah.

Berbagai hal tersebut bisa dilihat sebagai kendala, tetapi bisa juga dilihat sebagai kesempatan. Bahkan kita harus berfikiran bagaimana agar suatu kendala bisa diubah menjadi suatu peluang. Misalnya, kita akan memotret suatu acara akad nikah [yang tentunya tak dapat diulang-ulang lagi], dengan kamera yang tidak dilengkapi dengan fasilitas auto-focus, maka kita bisa terlebih dahulu memperkirakan pada jarak antara berapa dan berapa kita akan memotretnya nanti. Usahakan agar jarak minimum dan maksimum tersebut berada dalam suatu depth of field pembukaan satu macam diafragma. Dan lakukan konfirmasi dengan blitz yang akan dipakai. Kalau sudah dicapai kompromi yang terbaik, maka ketika peristiwanya berlangsung, ya tinggal mengarahkan dan mengkomposisikan, lalu jepret. Kalau masih pakai putar-putar lensa untuk mencari agar gambarnya fokus, akadnya sudah selesai. Kecuali kalau sudah pakai kamera dengan lensa auto-focus, Tentunya, untuk memotret foto bersama, ya tak perlu dilakukan kompromi seperti itu.

Karena kesempatan memotret suatu peristiwa, seringkali tidak akan terulang lagi. Maka para pemotret akan memanfaatkan moment tersebut, yang tak ternilai harganya dengan memberikan pengorbanan dalam bentuk penggunaan film. Adalah sangat biasa, para pemotret memotret beberapa kali untuk satu peristiwa yang sama, mungkin dengan kecepatan yang diubah, diafragma yang diubah, atau posisi pencahayaan yang diubah, dan berbagai hal yang diubah. Begitu juga posisi yang dipotretnya pun berubah juga. Nanti, setelah dicuci baru dipilih mana yang baik.

Konon, untuk menghasilkan satu foto yang dimuat di majalah National Geographic, sang fotografer mungkin menghabiskan satu rol atau lebih film. Dan karena itu, di kemudian kamera-kamera tertentu memiliki fasilitas sekali pencet, akan memotret beberapa kali dengan kecepatan misalnya 4 frame per detik, dan hebatnya lagi juga dengan diafragma yang berbeda-beda. Mengurangi pikiran dan kerjaan si pemotret.

Komposisi gambar dalam foto, masih bisa diatur-atur lagi ketika mengafdruknya, yaitu dengan cara potong-sana potong-sini, tetapi hanya pada bagian tepi-tepinya saja. Cara ini disebut cropping. Karena merupakan pekerjaan tambahan bagi si pengafdruk atau yang mencetak, maka tentu ada biaya tambahannya. Ini sangat lazim dilakukan, karena pemotret lebih mementingkan kecepatan memperoleh gambar, dengan melebihkan ruang di kiri-kanan dan atas-bawah, baru kemudian mengatur komposisi saat mencetaknya. Kiat memanfaatkan waktu. Mana yang bisa dilakukan kemudian, ya ditunda dulu. Karena ada hal yang tidak dapat ditunda. Ambeg parama arta, katanya Bung Karno dulu.

Pada saat itu, film berwarna [baik untuk negative maupun positive film] sudah mulai tersedia tetapi pemrosesannya masih dilakukan di luar negeri. Lalu kemudian, hanya untuk slide saja yang masih harus dilakukan di Australia, khususnya untuk slide yang merk KODAK. Mencetak foto dari slide [positive film] justru hasilnya lebih bagus, tetapi biayanya lebih mahal.

Kemajuan teknologi pemotretan dan pencucian serta pencetakan maupun pembesaran mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini sangat terasa setelah maraknya digunakan film berwarna dan pencetakan foto berwarna. Pencucian dan pencetakan dengan Automated Lab, mematikan pekerjaan seni. Entry barrier untuk membuat foto studio hanyalah persoalan modal belaka. Maka bermunculanlah studio-studio yang mengerjakan pencucian film dan pencetakan foto dengan janji bisa ditunggu dalam hitungan menit saja. Sangat berbeda dengan jaman film dan foto hitam putih yang harus menunggu berhari-hari.

Maka di satu sisi bermunculan studio yang melakukan prosesing film berwarna, dan disatu sisi berguguranlah studio foto hitam putih yang mengandalkan keterampilan dan seni. Studi foto yang yang di kota, ASIA, SINAR dan SATELIT sepertinya berguguran satu persatu. Orang jadi lebih senang foto berwarna. Bagaimana tidak, warna yang ditampilkannya sangat indah, bahkan ada produsen yang menggunakan motto, “lebih indah dari warna aslinya”. Sebenarnya mereka tidak berbohong, karena teknologi yang ada memungkinkan kita untuk memberikan nuansa lain dari hasil cetakan foto, dengan menguatkan satu komponen warna dan meredam komponen warna yang lain.

Jika anda kebetulan pergi ke studio pencetakan foto berwarna, yang bukan merupakan mesin pencetak apa adanya, yaitu yang tidak otomatis sehingga bisa mengutak atik komponen warnanya, anda akan bisa memperoleh suatu foto yang sangat berlainan sekali nuansanya dengan keadaan aslinya. Biasanya, alat ini sekaligus berfungsi sebagai alat pembesar hingga ukuran 17R. Dan ada studio yang dengan senang hati dapat melibatkan kita untuk menentukan hasil seperti apa yang kita inginkan, juga bagian mana yang harus dihilangkan [cropping] untuk memberikan hasil yang kita inginkan. Dan peralatan tersebut seperti mengerti keinginan kita, agar kita bisa mengulangnya lagi kelak, maka kondisi pencahayaan yang digunakan waktu mencetak, akan tertulis pada bagian belakang foto, dengan C,Y,M dengan diikuti tanda + atau – disertai angka.

Semenjak beberapa tahun yang lalu, mencari studio yang memproses film dan foto BW semakin langka. Hanya studio tertentu, yang banyak dikunjungi fotografer profesional saja yang masih mengerjakan foto hitam putih. Karena sebenar-nya, foto hitam putih dengan gradasi hitam pekat ke putih terang, memiliki daya tarik tersendiri bagi penggemarnya.

Keluarga STAR konon membuka studio baru di Jalan Panglima Sudirman, dan menjadi tempat pemrosesan foto yang ramai juga. Perkembangan terakhir, pencetakan foto digital, tentu saja telah mengubah peta persaingan dalam dunia fotografi. Tidak lagi diperlukan film, bisa dilihat di komputer, bahkan bisa memotret menggunakan telpon seluler. Hanya dalam waktu 50 tahun saja, dunia seakan terbalik. Dari hanya beberapa orang saja yang bisa dan mampu memotret, kini menjadi hanya beberapa orang saja yang tidak bisa memotret.

Masih banyak yang ada dibenak yang mau dituangkan, tetapi sekian dulu ya. Insya Allah nanti akan disambung. Karena dunia photography ini memang sangat menarik.

Wa Allahu a’lam.

î

Catatan :

Pengetikan ini sengaja dihentikan, dan baru dilanjutkan di hari-hari kemudian. Sebenarnya masih banyak yang mau diceritakan, karena merupakan hobbiku, dan juga hobbi anak-anakku. Mungkin pada kesempatan lain, pembahasan kemajuan dan perkembangan teknik dan teknologi fotografi akan kita ulas.

Cerita tentang foto, tapi belum ada satu foto pun yang ditayangkan ya. Sabar. Nanti akan dicarikan.

3 Tanggapan to “PHOTOGRAPHY”

  1. Kris Adji AW Says:

    Assalamu;alaikum Pak Syaaf yang wong ngGersik, apa bapak masih banyak menyimpan foto2 Gresik Tempo Doeloe (ngGersik Jaman bengen), kami yang peduli Cagar Budaya Gresik sangat membutuhkan bantuan bapak, nedo nrimo

  2. fatah yasin Says:

    Assalamu’alaikum P.Syaaf kulo fatah yasin asli lumpur kulo rantos cerito lintune damel masukan saking pengalamane bapak masalah gresik. ngapunten sak derenge. kapan maleh lek mboten sak mangkin, pun kulo tenggo…. wassalam.

  3. Andy Buchory Says:

    Assalamualaikum pak Syaaf, saya anak kedua dari kaji Buchory Metoko Kroman, ingin rasanya saya bertemu dengan bapak, untuk menggali kenangan2 masa lalu…. biar cerita ini ada yang melanjutkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: