PERPEKAN BANDENG

PERPEKAN

Pasar Bandeng

oleh Saifuddien Sjaaf Maskoen


Setiap komunitas memiliki

kekhasan masing-masing dalam

menyambut Iedul Fitri.

Pasar Bandeng,

adalah salah satu kegiatan

menyambut Iedul Fitri di Gresik.

Gresik, yang dalam peta zaman penjajahan dituliskan sebagai Grissee, dan ada pula yang menuliskannya dengan Gersik, yang mendekati pengucapan sehari-harinya, yaitu ngGersik. Entah dari kosa kata apa terbentuknya nama kota ini, kalau dibilang dari kata “kersik” yang berarti pasir, kayaknya kurang pas, karena hampir tidak ditemukan pasir di sepanjang pantainya. Berbeda dengan suatu desa di dekat Kalianget [Madura], yang bernama Gersik Putih, karena memang keseluruhan desa tersebut berupa pasir putih. Yang jelas, kota ini sudah sangat tua sekali dan sudah menjadi bahan percaturan tingkat global sekitar lima atau enam abad silam, melalui berbagai kegiatan yang dilakukan di kota bandar ini.

Menurut berbagai sumber, ajaran agama Islam atau setidaknya pemeluk agama Islam telah menginjakkan kakinya di tanah Jawa melalui bumi Gresik [atau sekitarnya], dengan adanya situs peninggalan berupa Kubur Panjang yang terletak di desa Leran – antara Pojok dan Manyar – yang dulunya masih bisa terlihat dari tepi jalan, tetapi sekarang tertutup bangunan pabrik. Dengan telah tuanya kehidupan beragama itu, tentulah banyak tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh komunitas muslim di Gresik, diantaranya ada yang sudah hilang secara perlahan dan ada pula yang masih terus berlangsung.

Salah satu yang masih terus berlangsung, diantaranya adalah perpekan – yang kemudian lebih dikenal dengan nama Pasar Bandeng. Konon, menurut orang-orang tua, perpekan itu adalah suatu kegiatan pasar [jual beli] yang dilakukan secara khusus menjelang ied guna melengkapi berbagai kebutuhan dalam menyambut ied itu sendiri. Perpekan, berasal dari kosa kata pepek, yang berarti lengkap. Dan perpekan, diselenggarakan untuk memenuhi hajat warga dalam memenuhi kebutuhannya di hari raya yang segera datang. Penyelenggaraannya dilakukan semalam sebelum malam takbiran, tentunya selepas shalat tarawih terakhir dan akan berlangsung sampai menjelang atau setelah shalat shubuh terakhir di bulan Ramadhan.

Setelah kemerdekaan, persisnya tahun-tahun awal setelah penyerahan kedaulatan pada Desember 1949, dan para pejuang dan tokoh pemuda masyarakat asal dari kota Gresik – yang tergabung dalam pasukan Hisbullah dan Sabilillah atau kelasykaran yang lain, yang sempat mengungsi ke berbagai daerah pedalaman seperti Bungah, Dukun, bahkan sampai Lamongan – telah kembali ke kota asalnya, penyelenggaraan perpekan ini diorganisir sebagai suatu kegiatan swadaya masyarakat yang melibatkan seluruh komponen masyarakat – tanpa memandang keturunan atau agama mereka – dalam suatu kepanitiaan yang mendapat dukungan petinggi kota.

Beberapa nama panitia yang masih teringat, antara lain Haji Jalali, Haji Ramli, Abdullah Latief, Choesnani, A. Toyib, H. Chasnan, Maskoen Asj’arie, H. Afandi Sidik, Asdirun Wiryokoesoemo, Ong Tjai Ik, Salim Bak, Yok Liem [yang punya toko Liem – pasti namanya Liem ….- , dan ada lagi keturunan China asal Pecinan yang lupa namanya tetapi teringat wajahnya [mungkin Tjoa namanya]. Juga AR Wachid, Cjoesnani. [Maaf kalau ada yang terlupa, atau belum disebut dan mohon beri masukan kalau ada yang mengetahui]. Sebenarnya, ada foto dokumentasi panitia, nanti aku cari dulu ya.

Kantor Panitia, yang juga dipakai sebagai pusat kegiatan pelelangan bandeng adalah rumah Haji Oemar Sechan [ayahnya H. Jalali dan H. Ramli] di jalan Pasar no. 88. Pak Asdirun ini, adalah Camat Gresik yang berasal dari Cermee, yang kemudian dipromosikan menjadi Wedana di Sidoarjo. Di saat bertugas di Sidoarjo inilah, dia memprakarsai pasar bandeng di Sidoarjo. Dan karena tidak mau menyaingi yang di Gresik, maka diselenggarakannya pada perayaan maulid nabi Muhammad saw. Konon tidak bisa bertahan, karena tidak didukung oleh suatu akar budaya tertentu.

Kalau dalam kegiatan mudik di era 2000-an ini, sering disebut pasar tumpah di wilayah Cirebon, kegiatan perpekan ini memang sengaja ditumpahkan ke jalan. Semenjak pagi, jalan utama – yaitu ruas jalan antara perempatan Wak Truno atau Bioskop Kencana di ujung barat sampai perempatan Garling di ujung timur – ditutup untuk seluruh arus lalulintas. Karena jumlah kendaraan masih belum seberapa banyak, dampak penutupan ini tidaklah begitu terasa. Untuk pengunjung dari luar kota, yang jumlahnya cukup banyak atau bahkan bisa menjadi mayoritas penentu tingkat keramaiannya – disediakan parkir yang tidak tanggung-tanggung luasnya, yaitu Aloon-Aloon. Sehingga susana keramaian akan terasa di seluruh bagian utama kota, mulai dari Aloon-Aloon, Kauman, Bedilan, Loji, Kebungson, Pekelingan, Karangpoh, Kemuteran, Sukodono, Teratee yang merupakan kampung-kampung disekitarnya, bahkan sampai ke Keroman, Lumpur, Karangturi, Karangbolet.

Jalan Pasar [yang kemudian menjadi Jalan Niaga, dan menjadi Jl. H. Samanhudi] belumlah selebar sekarang ini. Juga Pasar Gresik, belumlah bertingkat. Pada waktu itu, antara komplek pasar di sisi timur dengan jalan dibatasi oleh pagar tinggi yang terbuat dari kawat harmonika. Pelebaran jalan yang dilakukan di tahun 70-an telah merubah wajah jalan utama ini, dan menghilangkan beberapa facade gedung yang sangat spesifik, seperti wajah Toko Hongkong, yang berada di deretan toko Asia, dan toko Afrika.

Segmentasi penjual dilakukan dengan baik, dimana antara perempatan Wak Truno sampai perempatan Teratee-Kalitutup, dikhususkan untuk penjual bandeng, dimana telah disediakan meja-meja khusus oleh panitia yang ditata di tengah jalan, yang sekaligus berfungsi sebagai median. Sisi jalan di tepi pasar bagian barat, yang biasanya berfungsi sebagai stanplat [istilah lama untuk halte atau terminal] taksi / oplet jurusan Jembatan Merah atau daerah manyar, Sembayat, Cermee terpaksa diungsikan ke KarangTuri dan Kroman. Begitu juga sisi jalan di tepi pasar bagian timur, yang biasanya berfungsi sebagai brak – terminalnya dokar jurusan Giri juga ikut ngungsi.

Sedangkan penjual lainnya [non-bandeng], dipersilahkan menempati ruas jalan antara Kalitutup sampai Garling. Mulai dari penjual peniti, pakaian, sandal, mainan, makanan dan minuman. Dan mereka telah ngecupi [booking] lokasi penjualan mereka beberapa hari sebelumnya, dengan memberikan cat di jalan dan nama mereka. Mereka bisa memilih lokasi di tengah jalan, atau di sisi jalan. Hampir tidak pernah terdengar adanya pertengkaran karena berebut lahan berjualan tersebut.

Penjual non-bandeng ini, umumnya adalah penjual keliling yang meramaikan berbagai kegiatan, dari kota yang satu ke kota yang lain. Mereka umumnya mulai berdatangan setelah tanggal 25 Ramadhan, dimana waktu itu mereka berjualan di Giri. Malam 25, atau lebih enak didengar dengan sebutan maleman selawe, banyak orang yang berziarah ke makam Sunan Giri guna mencari Lailatur Qadar dengan beri’tikaf di masjid Sunan Giri. Tidak saja masyarakat Giri dan sekitarnya, juga banyak yang dari luar kota, biasanya dari wilayah timur yang banyak berbahasa Madura.

Maleman selawe, juga merupakan tenggat waktu dari kegiatan produksi berbagai barang oleh para pengrajin di Gresik, baik yang berupa pakaian konpeksi, maupun kopyah – yang merupakan produk primadona waktu itu. Menjelang closing-date tersebut, semua pengrajin dan pegawainya sudah harus pasrahan, dan kemudian besali ditutup. Sehingga rumah menjadi bebas dari tumpukan bahan baku, tumpukan produk setengah jadi, dan produk akhir; dan juga mesin jahit; sehingga rumah jadi lega waktu riyoyo nanti.

Kesibukan di Pagi hari.

Bila matahari mulai naik, maka mobil-mobil pengangkut keranjang yang berisi bandeng mulai berdatangan dan biasanya berkumpul di sekitar perempatan Wak Truno. Mereka datang dari sentra-sentra produksi di wilayah Manyar, Mengare, Pangkah, Duduk, Sememi dan sebagainya. Umumnya mereka adalah pemilik tambak itu sendiri, tetapi ada pula yang bukan petambak tetapi memang pedagang perantara atau pedagang ikan yang memang sehari-harinya berjualan ikan. Sebagian penduduk Gresik, biasanya yang lelaki muda sudah mulai mencari informasi tentang ukuran bandeng yang tersedia serta prakiraan harga. Serta mencari tahu, bagaimana proyeksi ukuran bandeng tahun ini, apakah besar-besar atau biasa saja.

Info tentang adanya bandeng besar, segera menyebar ke seluruh penduduk dari mulut ke telinga [dari mulut ke mulut], dan selalu ter up-date setiap waktu, berapa ukuran bandeng terbesar tahun ini Secara resmi, ukuran-ukuran bandeng terbesar baru diketahui di podium pelelangan, yang akan diselenggaraan ba’da shalat tarawih.

Harga bandeng per kilonya akan berfluktuasi selayaknya harga saham di bursa efek. Kalau kendaraan pengangkut agak kurang lancar datangnya, harga bergeser naik, tetapi kalau banyak yang datang belum tentu harga turun. Ukuran berat per ekor bandeng yang baru datang, akan menentukan harga per kilo nya. Kalau yang datang kecil-kecil, mungkin harga tak bergeser atau bahkan cenderung naik. Sebagian penduduk Gresik, untuk safe-nya atau karena kebutuhan untuk antaran sudah mulai membeli bandeng dengan ukuran tertentu. Yang paling banyak diminati, karena tidak terlalu tinggi harga perkilonya, tetapi bandengnya sudah cukup besar adalah dengan berat sekitar 3 kilogram per ekor. [kalau di Jakarta abad 21, barangkali sudah disebut extra-super, karena di Carrefour bandeng sekilo-isi-tiga sudah disebut bandeng-super].

Harga bandeng saat perpekan ini, tak ubahnya harga intan berlian. Setiap range ukuran, memiliki harga yang berbeda. Dan tidak ada aturan khusus mengenai harga tersebut, kecuali makin besar ukuran per ekor makin tinggi harga satuannya. Kalau harga bandeng ukuran ¼ kilo per ekor, misalnya Rp A per kilo, maka harga bandeng ukuran 1 kilo per ekor, bisa Rp 4 A per kilo, dan ukuran 2 kilo per ekor Rp 10 A per kilo atau Rp 20A per ekor, dan seterusnya. Bisa diistilahkan eksponensial, proposionalpun tidak. Dan justru inilah yang membuat perpekan bandeng ini bisa terus berlangsung hingga kini. Betul-betul hukum pasar modern. Karena secara psikologis, penjual masih memiliki harapan menjual di sore atau malam hari, dan calon pembeli takut kehabisan bandeng besar, maka tarik ulur harga ini berlangsung terus.

Para ibu dan anak gadisnya, biasanya tidak ikut belanja bandeng melainkan memfokuskan diri untuk melengkapi persediaan bumbu-bumbu dapur hingga kebutuhan riyoyo-kupat. Terutama untuk persediaan bumbu membuat otak-otak keesokan harinya. Dan bumbu untuk sesudah riyoyo guna membuat kotokan bandeng, dan mangut bandeng, antara lain bawang godong, bawang merah, bawang putih, lombok abang, kelapa, kemiri, kluwek dan godong gedang klutuk. [Otak-otak bumbu mangut, endas butak dikerubung semut].

Petugas RR [entah kepanjangannya apa, yang kemudian menjadi Pekerjaan Umum, yang juga membawahi Brandweer, kebersihan, ledeng, – yang kantornya depan Taman Makam Pahlawan] mulai sibuk mengangkuti meja-meja bagi para penjual bandeng dan menatanya di tengah jalan di depan pasar. Meja-meja itu nantinya akan dipakai untuk berjualan bandeng. Yang pasti panen besar di pagi hari ini, adalah Basiran dan Yuk Hun yang merupakan stocker dan supplier es batu di Gresik, yang mendatangkan es batunya dari Surabaya.

Bagi keluarga yang sudah memperoleh bandeng besar, maka mulailah saatnya tandang gawe untuk memotong [menjadi tiga atau maksimum empat potong saja] dan membersihkan bandeng agar siap direbus hanya dengan tambahan garam saja. Tetapi, tanpa dibuang sisiknya. Jangan menyuruh yang tidak biasa melakukan, karena bisa-bisa justru sisiknya yang dibuang duluan. Dalam membersihkan jeroan alias wedel-nya, haruslah ekstra hati-hati, khususnya untuk membuang empedu. Kalau sampai empedunya pecah, maka pahitlah bagian yang terkena dan menyebar ke mana-mana. Acara merebus ini akan berlangsung cukup lama, agar garamnya merasuk sampai ke tulang-tulangnya, dan siap dimakan seusai shalat ied kelak. Sedangkan wedel-nya akan menjalani special treatment, sebelum nantinya digoreng dengan terlebih dahulu dibungkus daun, seperti menggoreng telur dan wedel-nya belut. Dan menjadi rebutan yang muda-muda.

Bagi yang berencana akan membuat otak-otak sendiri [walaupun bandengnya belum dibeli] mulailah merajang aneka bumbu serta membuat santan, dan memasak bumbunya sebelum dihaluskan. Waktu itu para keluarga membuat sendiri otak-otak sebagai salah satu primadona hidangan lebaran. Kalau sekarang, lebih baik pesan wak Mail alias ibu Muzanah di Kroman, tidak ribet dan pasti enak.

Dhuhur sampai Maghrib

Pedagang sudah mulai menempati posisinya, baik pedagang bandeng maupun pedagang lainnya. Anak-anak sudah mulai membelanjakan uangnya untuk membeli berbagai mainan. Setiap tahun, selalu ada mainan baru. Pedang-pedangan, mobil-mobilan, pistol-pistolan, aneka topeng yang selalu mengikuti trend mode, bagi anak laki-laki. Waktu itu, juga sudah dipengaruhi oleh tokoh-tokoh dalam film, seperti Superman, Rocketman, Robinhood. Dan konon itupun berlangsung hingga kini. Sedangkan bagi anak-anak perempuan, mainannya meja kursi, lemari, timbangan, alat masak serta perhiasan gelang, kalung [mainan tapi] dan sebagainya. Low quality but imaginaitve, lah.

Anak-anak juga mengumpulkan berbagai makanan yang biasanya tidak dijual setiap hari atau selama bulan puasa. Paling tidak untuk memenuhi selera yang tertahan. Karena, pada waktu itu juga banyak yang menjual makanan tradisional, seperti icak-icak, jemunek, karak, ketan ireng dan lain-lain, dengan mengharapkan pembeli dari luar kota. Tentu saja aneka es, martabak, dan tahu petis, serta brondong jagung – yang umumnya berasal dari luar kota – sering menjadi sasaran anak-anak.

Masa ini adalah masa persiapan bagi penjual untuk mempersiapkan jualannya. Warung-warung yang memang kesehariannya berjualan – baik minuman atau makanan, biasanya menyiapkan jumlah makanan dan minuman yang lebih banyak, karena akan buka hingga waktu sahur. Dan ada pula yang menambahkan menu khusus. Antara Asar dan Maghrib, yang berjalan-jalan umumnya anak-anak beserta orang tuanya atau muda-muda dan mudi-mudi lokal sambil menunggu bedug maghrib.

Maghrib sampai Isya

Pengunjung dari luar kota mulai berdatangan, karena umumnya mereka tidak ingin terlalu larut malam kembali ke tempatnya. Mereka datang, memang ada yang sengaja ingin membeli ikan bandeng, tetapi tidak jarang pula yang sekedar untuk melihat suatu festival yang memang ramai sekali. Biasanya pengunjung dari Surabaya, datang secara berombongan yang merupakan satu keluarga atau sesama teman. Berbagai etnis, terutama kalangan China banyak memanfaatkan perpekan ini, untuk menemukan bandeng sedang dan besar, karena memang mereka memiliki tradisi berkaitan dengan ikan bandeng ini, selain tradisi menikmati makanan yang lezat. Keramaian yang bersifat festival seperti ini, hampir tidak ada di tempat lainn waktu itu, kecuali di Pasar Genteng, Surabaya, ketika maulud. Mereka, kaum pendatang dari luar kota ini adalah penentu ramai tidaknya pengunjung pasar bandeng.

Tidak jarang mereka yang datang, adalah teman sekolah, atau teman kerja dan para relasi dari penduduk Gresik [teman kuliah belum mulai, karena anak Gresik yang kuliah juga masih sangat terbatas]. Umumnya mereka selain menyaksikan pasar bandeng, juga bersilaturrahim dengan teman-temannya. Dan biasanya sudah janjian dulu, kalau tidak maka bisa-bisa tidak disediakan suguhan oleh tuan rumahnya. Biasanya, anak-anak muda berkumpul untuk mempersiapkan membuat bandeng bakar – bandeng keropok – yang akan dimakan menjelang malam atau waktu sahur nanti, atau menjamu tamu-tamu temannya. Karena mudah dan meriah. Bisa ditangani oleh anak-anak lelaki saja. Paling-paling untuk membersihkan jerohannya, minta tolong ibu atau kakak perempuannya.

Jamaah shalat tarawih yang sudah mulai menurun semenjak malam likuran, bertambah menurun drastis saat pasar bandeng berlangsung. Berbagai hal sebagai penyebabnya. Bagi anak-anak, tentunya sangat sulit untuk melewatkan keramaian yang ada, begitu juga bagi remaja. Bagi yang punya toko atau warung, kalau tidak mungkin melakukan giliran jaga, ya kadang kala mengalihkan terawihnya menjadi di akhir malam. Yah gemerlapnya dunia selalu lebih menarik dari segala apa yang ada.

Ba’da Tarawih sampai Shubuh.

Secara berangsur kepadatan jalanan mulai bertambah, dan umumnya sudah harus berdesak-desakan mulai dari perempatan Garling [Bata] sampai di ujung barat. Kalau tidak tahan berdesakan, banyak tersedia emergency exit – yaitu jalanan kampung yang berada disepanjang jalan tersebut. Bisa keluar di Sidopekso [Debekso], Makamlondo, Pasar Sore, Karangpoh, Kemuteran dan lain-lain. Biasanya, anak-anak, baik yang kecil maupun yang agak gedean, sepertinya sedang melakukan soft opening – layaknya hotel atau mall diakhir abad 20-an – alias sudah mulai mengenakan pakaian barunya, walaupun belum yang di-primadonakan.

Bagaimana jalanan tidak akan penuh, kalau semua orang tumpah ruah di satu pusat kegiatan. Kalaupun tidak ikut berjalan-jalan, biasanya duduk di ujung kampung atau di toko kepunyaan kenalan, sekedar menyaksikan orang yang lalu lalang. Dan tentunya sambil mengamati beragamnya tingkah laku dan pakaian orang. Dan tentunya, pada susasana yang seperti itu, banyak juga copet yang beraksi. Dan kalau sampai ketahuan, habislah riwayatnya.

Tamu-tamu undangan panitia – para pejabat atau orang-orang terpandang – mulai berdatangan, sebelum dimulainya acara lelang bandeng. Bandeng yang berukuran sangat besar diserahkan oleh petani atau pemiliknya kepada panitia untuk dijual pada acara lelang bandeng. Juru lelang yang handal, seingatku adalah Haji Chasnan. Tergantung musim dan iklim, bandeng terbesar setiap tahunnya berkisar antara 8 – 10 kilogram. Bayangkan, bayi manusia yang baru lahir beratnya sekitar 3 – 4 kilogram saja. Panjangnya bisa lebih dari 90 cm dan lebar hampir 20-an cm.

Untuk mengurangi kepadatan karena terkonsentrasinya kegiatan, pada beberapa tahun kemudian tempat pelelangan dipindahkan ke Jalan Pemuda [Lojie Gede], di halaman kantor Kawedanan, karena di sana ada lapangan hijau yang cukup luas dan letaknya juga strategis. Untuk menambah acara, dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat pernah juga diadakan pameran tentang peternakan ikan yang diselenggarakan di satu-satunya Lapangan Tenis yang ada di kota.

Puncak arus pengunjung, biasanya sekitar jam 22:00 – 23:00 malam. Pembeli bandeng dari luar kota, akan membawa pulang bandeng dengan ukuran sedang-sedang saja sampai beberapa ekor. Tidak pakai dibungkus, tetapi hanya diikat pada bagian pangkal ekor dan dijinjing. Karena itu, jika ada anak yang kakinya lecet pada waktu memakai sepatu atau sandal baru di hari raya, lalu sandal / sepatunya ditenteng sering dikatakan nenteng bandeng.

Toko-toko juga ramai oleh pengunjung guna memenuhi kebutuhan yang belum tersedia bagi menyambut hari raya nanti. Pembelinya, bisa beragam. Mulai dari yang baru terima upah setelah pasrahan, atau penduduk luar kota yang mau pulang kampung. Dan toko-toko itupun ikut buka sampai dinihari.

Hampir semua keluarga Gresik asli yang memang mau membeli bandeng, akan keluar dari rumah setelah peak-hour berlalu, sekitar jam 01:00-02:00 dinihari atau setelah shalat subuh nanti. Pada saat ini, para penjual sudah tidak lagi jual mahal. Dari pada membawa pulang bandeng, tanpa punya kepastian akan diapakan, maka harga mulai beranjak turun ke arah normal, tetapi biasanya masih sedikit di atas harga normal. Wajarlah, rego riyoyo.

Kalau hari raya berbeda.

Walau penetapan tanggal berlangsungnya pasar bandeng sudah melibatkan banyak pihak, pernah juga sebagian masyarakat sudah melaksanakan takbiran ketika pasar bandeng berlangsung. Tentu saja, untuk kejadian yang seperti ini akan merepotkan banyak pihak. Bagi yang akan mengantar zakat fitrah, mungkin harus memutar guna menghindari keramaian. Dan konon, akhir-akhir ini pelaksanaan pasar bandeng sudah digeser menjadi dua malam sebelum lebaran, atau tanggal 28 Ramadhan. Jadi kalaupun puasanya hanya 29 dan 30 hari, ya masih tidak ada yang takbiran waktu perpekan.

Ketika lebaran tiba.

Sepulang shalat ied, setelah bersalaman saling meminta maaf sesama keluarga dan sebelum saling berkunjung ke famili yang lebih tua, acara makan pagi bersama dilakukan dengan lauk pauk yang sederhana tetapi istimewa. Biasanya “hanyalah” nasi putih dengan lauk bandeng godog asin, otak-otak dan kerupuk. Ada juga yang menambahkan sambel kecap campur petis dan cabe rawit. Begitu pula siang hari, dan malamnya. Bagian yang paling diperebutkan, adalah bagian perut bandeng yang selain durinya relatif besar dan sedikit, juga penuh dengan lemak yang sangat menggiurkan. Jika memakan bandeng besar, tak usah khawatir dengan duri-durinya, karena durinya juga menjadi besar-besar dan mudah dipisahkan. Kalau masih takut dengan duri, makan saja otak-otak.

Mungkin baru keesokan harinya, bisa diperoleh sparing partner untuk bandeng godog asin. Yang paling cocok adalah sayur lodeh blungko [kerai] atau kangkung. Sementara itu main-stock berupa bandeng godog asin masih terus dipanasi dan tambah merasuk asinnya. Dan mutasi mulai berjalan, bandeng yang putih bersih tadi mulai diberi bumbu lain, sehingga menjadi kotokan bandeng yang berwarna pink ke coklatan. Dan keesokan harinya lagi, bisa berubah menjadi mangut bandeng, yang hitam kelam karena dominasi kluwek.

Bagi perantau yang mau pulang ke perantauan, membawa bekal bandeng godog asin adalah merupakan suatu idaman, guna pengobat rindu bagi kerabat yang tidak mudik atau yang mudik sekalipun.

Tips buat perantau yang mudik.

Jika keluarga anda tinggal di area dilangsungkannya festival perpekan ini, dan kebetulan akan mudik lebaran, carilah informasi yang akurat tentang waktunya pasar bandeng dan areal yang akan dibebaskan dari lalu lintas. Karena waktu itu komunikasi masih sulit, dan juga tanggal kepulangan ditentukan oleh hari terakhir kuliah / ujian, maka ketibaan mudiknya pas dilangsungkannya pasar bandeng dan malam hari lagi. Dari Stasiun Semut masih tak ada masalah, tetapi sesampainya di Jembatan Merah tarif kendaraan ke Gresik sudah menggunakan tarif istimewa. Celakanya, berhentinyapun hanya sampai di aloon-aloon, dan sepanjang jalan Raden Santri becak masih belum diijinkan jalan. Maka ditentenglah koper dan tas sampai ke Suling. Malah akhir-akhir ini, satu hari sebelum perpekanpun jalan-jalan sudah ditutup. Tetapi kalau rumah keluarga anda diluar wilayah festival, yah aman-aman saja lah.

Masa depan pasar bandeng.

Insya Allah, pasar bandeng akan dapat terus berlangsung, selama orang Gresik dan keturunannya – bahkan juga yang sudah merantau – masih tetap menyukai bandeng besar sebagai santapan lebaran. Dan kiranya, kekhasan ini perlu dijaga bersama. Kesudian orang Gresik untuk memberi insentif berupa harga lebih bagi bandeng berukuran besar, sebenarnya tidaklah sebesar risiko yang dihadapi pemelihara ikan bandeng. Untuk memperoleh bandeng berukuran besar, membutuhkan waktu bertahun-tahun dan apapun bisa terjadi pada waktu itu, baik berupa banjir atau penyakit. Dan mungkin, dari sisi perhitungan ekonomis memelihara bandeng sampai besar kuranglah menguntungkan. Sehingga diperlukan penghargaan lain bagi petambak selain tambahan harga. Umumnya petambak yang memelihara ikan bandengnya sampai besar, sudah mencapai jenjang tertentu dalam hierarkhi Maslow karena umumnya sudah makmur dan terpandang.

Wa Allahu a’lam.

î

3 Tanggapan to “PERPEKAN BANDENG”

  1. syamsudin Says:

    Waduh, baca pasar bandeng, dadine ngiler tenan
    rumah ibuku pas di jalan H Samanhudi (Toko Manfaat), apalgi saat ini lagi meguru ning negara sodara tua, sampe malam takbiran, lewatlah pasar bandeng-ku

  2. amadasmile Says:

    sy dulu punya teman yg bernama dyah suryandari tinggal di jl .H. samanhudi no 29 gresik…mungkin ada yg bs kasih informasi dimana keberadaannya sekarang…trims wassalam

    • ongkeksuling Says:

      Terima kasih telah mengunjungi ongkeksuling. Sayang sekali saya sudah sejak tahun 1964. Kalau melihat namanya, sepertinya Dyah Suryandari ini kelahiran tahun 1970 atau bahkan 1980an, karena orang Gresik jaman dahulu jarang sekali memberikan nama dengan kosa kata Bahasa Jawa seperti itu, atau mungkin dari keluarga pendatang.
      Kalaujalan Samanhudi no 29, itu adanya di sisi selatan jalan, dan masih di sekitar tempat tinggal saya dahulu.
      Bila anda dapat memberikan info tambahan, misalnya nama oarangtuanya, tahun kelahiran saudari Dyah Suryandari, atau sekolahnya dimana, mungkin saya bisa membantu dengan menanyakannya kepada kerabat dan sahabat saya yang masih tinggal di Gresik.
      Saya tunggu ya kabar selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: