PEROLAHRAGAAN

PEROLAHRAGAAN

oleh Saifuddien Sjaaf Maskoen

Dalam akal yang sehat, terdapat badan yang sehat.

atau

Dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat.

Olah raga adalah suatu kegiatan manusia yang ada sejak dahulu kala, katakanlah sejak mulai dicatat dalam sejarah. Pola hidup manusia yang semula banyak bergerak dlam memenuhi kebutuhannya, sedikit demisedikit semakin berkurang gerakannya karena adanya berbagai kemudahan yang diciptakan manusia. Sehingga muncul berbagai kegiatan yang sengaja dilakukan bagi orang-orang yang kurang melakukan pergerakan bagian-bagian badannya dalam menjalani kehidupannya.

Berbagai olah raga telah ada semenjak dahulu, dan kemudian berkembang dengan berbagai aturan permainan-nya, dan juga perkembangan pengelolaannya, yang semakin hari semakin dikaitkan dengan kepentingan bisnis. Siapa menunggangi siapa makin kabur jadinya. Berbagai penyelenggaraan kegiatan turnamen olah raga menjadi terkendala jika tidak ada penyandang dananya. Seringkali, perusahaan yang tidak mempunyai kaitan benang merah dengan olah raga merupakan penyandang dana dari suatu kegiatan olah raga atau klub olah raga, bahkan perusahaan yang ‘berlawanan’ dengan olah raga termasuk yang paling getol menjadi sponsor.

Di awal kemerdekaan, lebih tepatnya di awal setelah revolusi, kota Gresik memiliki beberapa sarana olah raga yang milik pemerintah atau instansi pemerintah, atau setidaknya dikelola oleh instansi pemerintah, yang letaknya sangat strategis. Beberapa diantaranya adalah lapangan tennis, lapangan badminton, lapangan bola dan juga lapangan bola voli, sarana loncat tinggi dan loncat jauh, serta lapangan basket [tapi yang satu ini milik swasta – asing lagi]. Tetapi apa yang terjadi, satu-demi satu berguguran beralih fungsi menjadi sarana lain yang tidak memiliki kaitan dengan oleh raga. Ada juga sarana-sarana olah raga, dalam skala kecil yang dikelola oleh penduduk setempat.

Pada awalnya, di Lojie Besar, ada lapangan tennis dan disampingnya juga ada lapangan badminton yang berlantai keras [beton], yang letaknya berdampingan di sebelah timur lapangannya Kantor Kawedanan. Yang terlebih dahulu dikonversi, adalah lapangan badmintonnya. Yang jelas, sebelum 1954, lapangan badminton ini dipakai untuk meletakkan berbagai mainan anak-anak, yang terdiri atas dua buah ayunan, satu papan jungkat-jungkit [berukuran besar] dan jungkat-jungkin untuk sepasang anak balita, dari besi. Yang kemudian rusak lebih dahulu, tentu saja jungkat-jungkit untuk balita, karena yang menggunakan bukan saja balita tetapi juga baluta dan sebagainya.

Keberadaan permainan ini sangat menarik perhatian, banyak sekali anak-anak yang memanfaatkannya. Terutama di sore dan malam hari [walau tanpa ada penerangannya]. Begitu juga siang hari, ketika sekolah usai, terutama murid-murid ‘Sekolah Brug’. Karena hingga saat itu permainan seperti itu tidak tersedia sama sekali. Boleh dikata sebagai hadiah bagi anak-anak di alam kemerdekaan, karena mereka betul-betul merdeka dalam menggunakan berbagai sarana tersebut. Maka tak mengherankan, bila kemudian satu demi satu peralatan tersebut menjadi rusak dan tidak berfungsi, karena yang seharusnya merawat juga memiliki kemerdekaan untuk membiarkannya.

Lapangan badminton yang berada di antara Kantor Kecamatan dan Kantor Telepon, tidaklah menggunakan lantai keras, tetapi berlantai tanah yang sudah mengeras. Disitu dulu ada pohon beringin yang cukup rindang juga, sehingga hanya ada satu lapangan badminton saja, sedang bagian halaman lainnya digunakan untuk keperluan pemanasan. Lapangan ini tetap ada hingga akhir tahun 1950-an atau awal 1960-an, ketika kemudian dikonversi menjadi rumah dinas bagi Kepala Sekolah SMP Negeri I, yang kalau tidak salah penghuni pertamanya adalah Pak Soemo. Saya lupa-lupa ingat, apakah pohonnya dibiarkan atau kemudian ditebang juga.

Lapangan tennis, masih bertahan hingga agak lama. Setidaknya sampai akhit tahun 1970-an mungkin masih ada, sebelum dikonversi menjadi bagian dari Kantor Resort Kepolisian Negara Republik Indonesia, setelah kantar resortnya dipindahkan dari Jalan Diponegoro, diujung pertigaan dengan Jalan Kartini, yang lebih dikenal dengan sebutan Kantor Polisi Kembang Kuning. Secara fisik, lapangan tennis ini berlantai beton, dengan pagar dari kawat harmonika setinggi 3-4 meter, dilengkapi dengan fasilitas ruang tunggu yang berupa bangunan beratap genting, tanpa dinding yang juga ternaungi oleh pohon beringin yang rindang.

Mungkin dahulunya para meneer dan nyonya Belanda serta sinyo dan noni nya bermain tennis disini. Pada masa-masa itu, permainan tennis merupakan permainan yang tergolong dan dimainkan kalangan elite saja. Bahkan hingga saat sebelum menjamurnya lapangan golf, permainan tennis hanyalah dimainkan oleh kalangan pegawai perusahaan dan pejabat pemerintahan serta orang-orang busines yang dekat dengan mereka. Di awal tahun 50-an, bapakku juga ikut main tennis disitu bersama teman-teman seangkatannya, antara lain cak Mang Wachid, Rasijadji, A. Thajib serta beberApa orang lagi yang tidak kukenal. Yang saya sebut tadi, saya ketahui karena kalau pulang kan lewat depan rumah.

Dari kalangan pribumi, yang bermain tennis secara lebih serius adalah cak Imin [Nasimin Asnar], cak Ok [Joesoef, toko Semarang]. Dan dari kalangan etnis China ada dua bersaudara anak Kho Ping Hoo, yaitu Jonhy Kho dan Harry Kho, serta Johny Oei [yang tinggal di Lojie], serta suami isteri pemilik dan pengelola pabrik kulit di Belandongan [anak dan mantunya yok Han?]. Dan tentunya beberap orang lain yang tak terperhatikan olehku.

Pak Sudarmanto [Kepala Aniem] juga bermain tennis, juga anaknya Sudarmoro. Begitu juga anak cak Imin, Budiman. Budiman ini kemudian lebih serius lagi bermain tennis, dan dulu pernah sebagai pemain nasional remaja. Termasuk makhluk langka, asal Gresik sampai ke jenjang nasional, di bidang olah raga lagi. Ketika saya di SMP, teman-teman sebayaku banyak yang bermanin tennis, antara lain Achijat, Bambang Suryanto, Anang, Asnar, dan arek-arek Lojie yang lainnya.

Lapangan tennis ini membujur ke arah timur-barat, sehingga kalau sore hari agak silau oleh sinar matahari yang hampir tenggelam. Di sepanjang pagar, ditanami bunga yang menjalar berdaun lebar dan berbunga berangkai kecil berwarna merah, yang saya menyebutnya sebagai bunga klemot. Ternyata kerimbunan daunnya, dimanfaatkan oleh burung peking untuk membuat sarangnya. Kalau mau menangkap burung-burung kecil ini, tidak diperlukan alat, cukup dengan tangan kosong saja. Karena kalau matahari sudah bercahaya mereka sudah pergi, jadi harus dilakukan sebelum matahari terbit. Yang paling cocok adalah seusai shalat subuh berjamaah di masjid di kala bulan puasa, lalu ramai-ramai menangkap burung peking.

Permainan tennis, tidak terlepas dari keberadaan ball-jongen, alias yang membantu mengambilkan bola, yang biasanya juga karena sehari-harinya di lapangan tennis ya jadi bisa bermain tennis. Saat itu ada dua orang ball-jongen, yaitu Darmadji dan Ali. Darmadji ini adalah teman sekolahku di MINU Sukodono dulu, dia anaknya penggergaji kayu di Liem Hok Kiet. Sedang Ali adalah anak Bandaran.

î

Walau permainan ini cukup digemari oleh bagian masyarakat tertentu, lapangan bola voli yang ada hanyalah sekedar bagian tepi aloon-aloon, tepatnya di depan Kantor Telepon, dengan tiang yang tidak permanen dan garis batas berupa galian tanah. Disitulah pertandingan bola voli tingkat 17 Agustusan digelar. Konon, bola voli sendiri belumlah begitu lama dikenal, katanya seiring dengan kedatangan tentara Inggris saat usainya Perang Dunia ke II. Agak banyaknya anak muda yang bermain voli, tidak terlepas dari adanya pelajaran bermain voli di sekolah, terutama sejak SMP.

Di luar kalangan sekolah, yang cukup menonjol adalah klub yang ada di Bejarangan, yaitu klub GIAT. Pemainnya yang menonjol adalah cak Mat Gerejo yang pegawai Kantor Pos. Ada juga klub Barabbas, anak-anak kidul Aloon-Aloon, tetapi ini jamannya agak berbeda dengan jaman kejayaan klub GIAT. Pertandingan bola voli 17 Agustusan cukup ramai ditonton juga.

î

Atletik, yang konon merupakan ibunya olah raga, adalah yang paling menyedihkan baik fasilitas atau penggemarnya. Sarana lompat jauh dan lompat tinggi yang ada di pojok Aloon-Aloon sebelah Utara-Timur bisa dibilang hanyalah sekedar penyediaan sarana untuk dipakai oleh sekolah-sekolah yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan olah raga bagi muridnya di Aloon-Aloon. Dulu, beberapa sekolah menggunakan Aloon-Aloon untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di bidang pendidikan jasmani, dan kastilah yang menjadi primadona. Disamping, kadang-kadang diperkenalkan atletik, seperti lari cepat.

Untuk SMP, diperkenalkan cabang-cabang atletik lainnya, seperti lempar lembing, lempar cakram, tolak peluru. Ada juga dulu olah raga permainan yang sudah punah, yaitu bola keranjang [korfen] dan rounders [semacam soft-ball] yang khusus hanya untuk puteri saja. Mengapa kedua jenis olah raga ini kemudian ditinggalkan entahlah.

Dulu yang terlihat aktif berlatih atletik, barang kali karena rumahnya dekat Aloon-Aloon, adalah cak Zimam [anaknya haji Ghazali, Pekauman gang I]. Setelah dia pindah ke luar kota [Jakarta?] tak terlihat lagi ada yang menggantikannya. Tetapi sebagai orang Gresik mungkin anda terkejut, bahwa pada jaman dulu [ketika PON baru mulai diadakan] adalah seorang putra Gresik yang turut berlaga di ajang PON dalam cabang atletik, persisnya lari cepat. Tidak lain, beliau adalah cak Djang Dji [alias cak Zainuddin Masduki]. [tolong dikonformasi ya].

î

Korfen, atau disebut juga bola keranjang, karena memang permainannya bertujuan untuk memasukkan bola ke dalam ‘keranjang’. Keranjangnya berbentuk silinder, terbuat dari anyaman rotan, dan diletakkan di suatu tiang pada ketinggian tertentu. Masing-masing pihak berupaya untuk memasukkan bola ke dalam keranjang sebanyak-banyaknya. Yang paling banyak tentulah yang akan disebut menang. Lapangannya dibagi menjadi tiga sektor. Setiap sektor mempunyai fungsi khusus, dan tidak boleh pemain dari satu sektor menyelonong ke sektor lainnya. Masing-masing sektor yang di ujung – dimana terdapat keranjang – berfungsi untuk memasukkan bola dan lawannya menahan serangan, satu sektor yang ditengah berfungsi sebagai perantara – hanya merebut dan meneruskan bola saja. Entah jumlah pemainnya berapa, saya lupa. Mungkin fleksibel tergantung jumlah tersedianya murid. Bisa dimainkan lelaki saja, bisa perempuan saja, dan bisa juga mixed alias campuran.

Rounders, hanya dikhususkan untuk anak-anak perempuan saja. Mengapa? Tak tahulah, waktu itu anak lelaki tidak diajar main rounders. Tetapi permainan ini juga senasib dengan korfen. Menghilang. Karena dulunya hanya untuk anak perempuan, ya tidak bisa cerita banyak. Yang jelas, lapangannya segi-lima beraturan, dan bermainnya seperti kasti tetapi pemukulnya [slag] lebih panjang dan tidak pakai sembegan. Ya mirip soft-ball yang sekarang barang kali.

î

Kasti, adalah permainan olah raga bagi anak-anak sekolah dasar. Tidak dimainkan lagi bagi anak-anak sekolah menengah. Hampir semua anak sekolah dasar diajarkan bermain kasti pada saat pelajaran olah raga atau pendidikan jasmani. Dan pertandingan kasti pada saat perayaan 17 Agustusan, merupakan pertandingan yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat [anak sekolah], dan penontonnya bisa sampai mengelilingi seluruh lapangan kasti. Di Aloon-Aloon, pertandingan ini digelar, dengan menjadikannya dua lapangan kasti.

Bola kasti yang digunakan, adalah bola kecil seukuran bola tennis, tetapi sangat keras. Kalau tidak salah dalamnya berisi sabut kelapa, dan bagian luarnya terbuat dari karet yang keras, biasanya berwarna merah. Untuk anak-anak latihan atau bermain, bisa menggunakan bekas bola tennis, yang disebut “bal predi”, diambil dari kata ‘ready’ yang selalu diucapkan oleh seorang pemain tennis yang mau memulai pukulan serve-nya. Kalau anak-anak kecil bermain kasti-kastian, bisa juga yang dipakai adalah bola yang terbuat dari kertas koran diuntel-untel lalu dikareti, dan sebagai pemukulnya adalah kelompen kayu punya bapak atau ibunya.

Kasti ini dipertandingkan untuk siswa putera dan puteri. Dan tidak ada pengelompokan umur. Yang penting murid Sekolah Dasar. Pada saat itu, era tahun 1950-an, murid sekolah dasar usianya sangat beragam, memiliki rentang yang sangat berbeda. Untuk sekolah-sekolah tertentu, maaf agak sulit menyebutnya, yang tergolong kurang elite [maaf lagi], umumnya muridnya besar-besar. Bukan besar karena badannya bongsor, besar karena usianya yang sudah melebihi batas. Hal ini dikarenakan banyak yang mulai masuk sekolahnya terlambat. Atau sering tidak naik kelas [jaman itu, bisa sampai 20% murid tidak naik kelas]. Dan kalau tidak naik kelasnya beberapa kali, apalagi masuknya sudah terlambat, bisa-bisa di kelas 6 sudah berusia 17 tahun.

Jadi bisa terjadi agak ‘janggal’, apalagi karena tidak dikenal sistem seeded [barangkali], kalau misalnya bertemu pada pertandingan awal SD Kebangsaan melawan MINU Teratee, apalagi SD TNH melawan SD Bedilan. Ya seperti pertandingan kasti antara murid SD lawan murid SMP/SMA saja. Skorenya bisa beda banyak sekali. Juaranya, selalu diperebutkan oleh SD Bedilan dan MINU Teratee, selama bertahun-tahun. Apakah kasti masih merupakan olah raga permainan yang populer di kalangan anak SD? Karena saya sekolah di MINU Teratee, jadi ya tidak pernah ikut bermain kasti dalam pelajaran olah raga. Sama yang tiga kelas dibawah saya saja, saya kalah besar, apalagi dengan teman sekelas. Itulah alasannya.

î

Pingpong atau tenis meja, lebih banyak dimainkan oleh kalangan yang sangat terbatas. Karena tidak banyak komunitas yang memiliki meja untuk bermain pingpong ini. Jika di satu komunitas atau kampung ada yang memiliki meja pingpong [biasanya ya golongan yang berduit dan rumahnya gede], maka anak-anak disekitar situ belajar dan bemain pingpong. Permainan pingpong, pada awal tahun 1950-an dapat digolongkan sebagai permainannya etnis China.

Dari kalangan China, yang terkenal jagoan waktu itu adalah anak-anaknya Toko TAN, ada beberapa orang dan juga anak-anaknya China Sarang Burung. Yang rumah mereka berdekatan. Dari kalangan non-China, pada waktu tahun 60-an itu ada Azhar [Asad] dan adiknya Ghufron, rumahnya depan SMP Negeri II, yang cukup piawai bermain pingpong.

Harga bola pingpomng cukupan lah, untuk menghemat pemakaian bola, bola yang pesok, cara mengembungkannya kembali adalah dengan ngekum [merendam] dalam air panas. Yang jual bola pingpong juga toko tertentu, yaitu Toko Hok yang kemudian menjadi Toko Slamet, setelah berganti nama pasca G30S-PKI.

î

Begitu juga bola basket, yang kala itu memang full chinesse. Tidak ada pribumi yang memainkannya. Dan disekolahpun tidak diajarkan pelajarannya, ya karena tidak ada lapangannya. Lapangan milik mereka dulu ada di samping Kantor Polisi, di jalan Bhayangkara, yang kemudian menjadi Gedung BATIK.

Ketika saya di SMP, kami yang suka nongkrong di Lojie, mencoba bermain basket dengan menggunakan bola voli yang saat itu dibagikan ke sekolah-sekolah, yaitu yang merk Challenge yang lebih berat dan lebih kaku dibanding merk Voit yang terkenal. Kami menggunakan bola Challenge [dari mana kalau bukan dari Pak Sis – yang Inspektur Pendidikan Jasmani, ayahnya Bambang Surjanto] yang sesungguhnya untuk voli guna bermain basket, sekaligus menipiskan dan melunakkan bolanya.

Ketika lahan itu dibeli oleh Koperasi BATIK Gresik, maka musnahlah satu-satunya lapangan basket yang ada di kota Gresik.

î

Yah, begitulah nasib sarana olah raga di Gresik, yang hilang satu persatu untuk kepentingan lain tanpa ada gantinya. Mungkin nanti bila Gresik punya Bupati yang suka olah raga, barangkali akan dibangunkan suatu arena olah raga yang representatif. Tetapi itu barangkali impian belaka, paling-paling akan berkilah, kan sudah ada di Petro Kimia Gresik, buat apa lagi.

Bahkan Aloon-Aloon pun ikut tergusur. Kapan persisnya, dan dijaman Bupati siapa, tidaklah saya ketahui. Karena secara resmi, saya sendiri sudah tidak menjadi warga Gresik pada tahun 1979 ketika pindah ke Bandung untuk kali yang kedua.

Aloon-Aloon ini, dahulunya menjadi pusat olah raga bagi kota. Dikala sore hari, banyak sekali yang berolah raga di sana, khususnya olah raga sepak bola. Entah siapa yang mengatur, masing-masing klub punya jatah waktu berlatih di sore hari. Walau begitu, anak-anak berbagai usiapun masih bebas untuk sekedar bermain sepak bola, yaitu pada sisi-sisi lapangan yang kosong, atau ya pada bagian lapangan sepak bolanya. Selain Aloon-Aloon, lapangan Telogopojok dan Telogodendo juga dipakai untuk latihan sepak bola untuk klub tertentu. Namanya saja sudah menggunakan kata awalan Telogo, yang namanya tanpa telogo saja bisa terendam air dikala hujan, apalagi yang pakai nama telogo.

Klub sepakbola, waktu itu sangat banyak sekali dan sangat hidup sekali. Kebanyakan, hampir setiap kampung atau kelurahan memiliki klubnya sendiri, atau bergabung dengan kelurahan lain. Klub yang sifatnya tidak ‘kedaerahan’ adalah klub sepak bola Hizbul Wathan, atau dikenal sebagai HW. Bahkan klub ini sudah menerapkan inklusifisme dan menghargai pluralitas, yang terlihat dari adanya pemain beretnis China [Tjing], dari kalangan pejabat [Pak Asdirun, yang Camat], dan lain-lainnya.

Pak Asdirun adalah pemain di sayap kanan, dan konon hanya menendang dengan kaki kanan saja. Sehingga kalau mendapatkan bola, yang pas ditendang dengan kaki kiri, beliau akan menyesuaikan diri agar bisa menendang dengan kaki kanannya. Sedangkan Tjing, memiliki kebiasaan khusus, yang selalu menaikkan celananya dengan memasukkan kedua ibu jari tangannya ke karet usus-usus-nya lebih dahulu, sebelum menendang bola. Posisinya adalah gelandang. Ada juga kipernya, Darsono yang gemuk. Komisi teknis dan manajer klub ini antara lain Cak Asad Gaffar [Toko INDRA] dan Cak Yi [Azhari].

Klub-klub yang cukup punya nama dan memiliki pendukung fanatik dari masyarakatnya, antara lain

· SIDOLIG, dari kelurahan Bedilan. Entah diambil dari nama apa SIDOLIG ini, kostumnya hitam-hitam dan kalau tidak salah benderanya juga dasar hitam dengan gambar tengkorak [?]. Di Bandung juga ada klub SIDOLIG tetapi tentu tak ada kaitannya dengan SIDOLIG yang ada di Bedilan ini. Beberapa pemainnya saat itu, antara lain cak Tohar, cak Dullah, Ghofur, cak Mahfud [wadanane ngiler, mantunya Haji Cholil], dan kipernya Saleh dan Osman. Ini termasuk klub yang ‘paling ditakuti’.

· PORT, singkatan dari Persatuan Olah Raga TARUNA, yang domisilinya di Telogo Bendung. Salah satu yang terkenal adalah kipernya, Arsad, yang sering maju kedepan bila keadaan kepepet, dan tidak segan ‘memakan’ penyerang lawan. Kostum celana pendeknya ada bordiran bergambal jempol. Yang terkenal dari PORT ini, adalah hakim garisnya [tukang kebut, anak-anak menamakan] yaitu pak Djamin – bapaknya Susanto alias Anton.

· SAMUDRA, yang dari namanya sudah menunjukkan domisilinya, yaitu Pulopancikan. Kadang timbul dan kadang tenggelam;

· GAPURO, juga jelas berasal dari wilayah kelurahan Gapuro, walau ada beberapa orang diluar Gapuro yang ikut bergabung. Ini merupakan multi etnic club, ada Chinanya, ada Arabnya, dan ada juga pribuminya. Anang masuk ke klub ini, karena pertemanannya dengan dengan Go Kian Song, yang juga merupakan spil dari kesebelasan Gapuro.

· JAYA, adalah klubnya anak-anak Pekauman, dengan pemain-pemain tangguh dari cak Baci [Basri bersaudara]. Ini adalah kelurahan yang paling dekat dengan Aloon-Aloon, dan setiap saat melihat Aloon-Aloon. Juga merupakan klub papan atas di Gresik pada waktu itu.

· TERATAI, yang dari namanya jelas merupakan klubnya orang Teratee. Pernah unggul sebentar, dan kemudian hilang lagi. Pada waktu itu ada pemain yang dari luar kelurahan Teratee, bahkan dari luar kota. Tetapi diaku sebagai orang Teratee, atau bagaimana.

· MELIWIS PUTIH, ini klubnya orang Kemuteran [dan mungkin Sukodono juga]. Latihannya di Telogopojok. Tidak begitu menonjol;

· GAJAH ULING, ini klubnya orang Pekelingan. Mungkin sponsornya adalah pemilik Gajah Mungkur sehingga memakai awalan Gajah sebagai nama;.

· Ada juga klub-klub lain yang termasuk papan bawah, yang tidak begitu menonjol dalam penampilan, sehingga biasanya kalau kejuaraan 17 Agustus sudah akan kalah dibabak-babak awal.

Memang waktu itu tidak ada sistem kompetisi sebagai sarana untuk bertanding dan mengasah keterampilan. Salah satu ajang pertandingan hanyalah perayaan 17 Agustus guna menentukan klub mana yang terkuat pada kala itu. Seringnya yang diterapkan adalah sistem gugur, tetapi pernah pula dengan mengelompokkan dalam tiga grup, dan kemudian juara grup akan bertanding segi tiga untuk menentukan juara I, II dan III nya.

Di luar acara 17 Agustus, banyak juga pertandingan yang digelar, baik antar sesama klub asal Gresik, maupun dengan mengundang klub lain dari luar kota. Ada yang merupakan pertandingan persahabatan biasa, dan dipertontonkan secara gratisan, tetapi ada pula yang dibayarkan kepada masyarakat. Untuk pertandingan yang dibayarkan, pada mulanya dilakukan dengan menutup seluruh perimeter Aloon-Aloon dengan gedek dengan hanya membuat pintu masuk dibeberapa tempat. Penonton ditarik karcis, dengan harga yang relatif terjangkau. Setelah itu ada pula yang tidak menggunakan gedek, tetapi dengan menutup semua akses ke Aloon-Aloon dengan mencegat orang pada semua akses masuk baik berupa gang maupun jalan. Lalu beberapa waktu kemudian, pertandingan-pertandingan juga diselenggarakan di Telogiodendo.

Pada waktu itu, banyak klub terkenal dari Surabaya dan kota-kota sekitar yang sering bertandang ke Gresik. Beberapa diantaranya yang teringat antara lain KKo [menulisnya memang dua K besar, dan o kecil, klubnya Korps Komando Angkatan Laut – sekarang Marinir], Ps HW Jombang, PSAD, PGSN [Perusahaan Garam dan Soda Negeri] serta klub-klub yang lain. Salah satu kiper favoritnya anak-anak masa itu adalah Moheng, yang ternyata memang kipernya Persebaya dan PSSI pula. Pernah juga ada kesebelasan asing yang bertanding di Gresik, memang orang bule semua yang main, yaitu dari kapal. Entah kapal Angkatan Laut Asing atau kapal dagang asing yang sedang berlabuh di pelabuhan Tanjung Perak.

Pertandingan dengan klub luar kota, sangat menggairahkan penduduk, dan hampir penontonnya penuh berlapis-lapis mengelilingi lapangan Aloon-Aloon. Biasanya, ketika pertandingan menjelang akhir, para penonton sering mengiringi setiap tendangan dengan suatu teriakan secara bersama-sama, sehingga suasana sangat riuh, dan membuat pemain menjadi asal tendang.

Wasit, saat itu belum dikenal. Bukan dalam artian pertandingan dilakukan tanpa wasit, tetapi sebutan yang digunakan adalah “repi”, suatu pengucapan dari kata ‘referee’. Repi, kadangkala juga tidak jeli atau menguntung salah satu pihak. Tetapi kadang juga diduga ada keberpihakan pada salah satu pihak yang beranding, mungkin dengan alasan emosional atau alasan apa. Tetapi masalah suap, sepertinya belum pernah mengemuka. Masyarakat langsung mengungkapkan perasaan atas ketidak adilan yang terjadi [entah murni, atau ada provokatornya] dengan meneriakkan kata-kata “Repine engko” secara beramai-ramai dan berulang-ulang. Mungkin “engko” ini bahasa Jawa, atau bisa juga adalah dialek khas Gresik, untuk menyatakan keberpihakan yang memberikan keuntungan kepada salah satu pihak.

Salah satu wasit yang sudah memakai baju hitam-hitam adalah pak Shodik, seorang bintara atau perwira pertawa Angkatan Darat, sedang yang lainnya adalah cak Fud [Ngiler] dari SIDOLIG, sedangkan tukang kebut alias hakim garis yang saya kenal adalah Husen Barekat, yang juga aktifis PII Gresik.

Dalam pertandingan dengan kesebelasan tamu, bila ternyata kemenangan diperoleh oleh kesebelasan tuan rumah, maka ada teriakan khas dari penonton [terutama anak-anak] untuk meluapkan rasa kegembiraannya, yaitu dengan meneriakkan “Budale dengki, molene dengkol”, yang artinya kira-kira “berangkatnya gagah, pulangnya pincang” karena kakinya sakit. Entahlah kata dengki ini berasal dari mana, dan apa memang punya arti semacam itu, atau hanya sekedar mencari kesamaan bunyi suku kata dengan kata dengkol. Sama-sama deng-nya.

î

Penonton sepak bola pada waktu itu, kesemuanya adalah lelaki tidak ada perempuan yang menonton sepak bola. Baru mulai kira-kira generasi para keponakanlah sudah mulai ada perempuan yang ikut nonton pertandingan sepak bola. “Persise kapan arek wedok mulai melu nontok tembungan”, merekalah yang lebih tahu. Bagi orang diluar Gresik, terutama Jawa Tengah, mengistilahkan sepak bola dengan tembungan adalah sangat janggal, karena tembungan adalah ucapan. Sedangkan di Gresik, lebih mengenal tembung dalam artian bola, dibanding tembung dengan arti ucapan.

Pernah di awal 1970-an , Yuli [M.D. Sugiarto bin Haji Djalali] sepulang kuliah bilang bahwa terlambat pulang karena ada voli tarung, antara ITB dan salah satu perguruan tinggi lain. Teman serumah, walau asal dari Surabaya – dan Ampel lagi, terperanjat dan menanyakan mengapa terjadi perkelahian. Dengan tenang kita jelaskan, bahwa tarung itu artinya pertandingan, bukan perkelahian.

Walau dengan olok-olok seperti itu, tidaklah dikenal budaya tawuran antar penonton sesaat setelah usainya pertandingan, apalagi merusak properti di sekitar lapangan pertandingan. Mungkin karena yang menonton homogeen, dari satu pihak saja, tidak ada supporter dari kota lain. Entah kemudian dari mana datangnya perilaku seperti itu, sampai-sampai ada pameo bagi Persegres yaitu “kalah menang tawuran”. Memang dalam beberapa pertandingan, misalnya kasti antar SD, pernah juga terjadi keributan antara SD yang satu dengan SD yang lain, tetapi ya hanya berakhir sampai disitu saja. Kalau tidak salah antara SD Bedilan dengan SD mana, tetapi tidak diladeni oleh SD yang lain, habis kalah besar.

î

Dengan selesainya pembangunan Pabrik Semen Gresik di tahun 1957, dan juga sarana lainnya, disana kemudian tersedia juga lapangan tennis. Dan juga mereka membentuk klub-klub olah raga yang cukup tangguh. Begitu pula dengan PETRO KIMIA, di kemudian hari. Sehingga nama Gresik sempat muncul ke permukaan dunia olah raga pada tingkat nasional. Tetapi kalau kita lihat nama-nama pemainnya, misalnya pemain PERSEGRES, PETRO KIMIA GRESIK, atau apapun, baik sepak bola maupun bola voli, sepertinya nama-namanya tidak khas nama Gresik; jadi Gresik hanya tersangkut karena domisili klub di Gresik, sedang yang main wong manca kabbeh. Onok siji tha loro bae, wis kakehan be’e.

Wa Allahu a’lam.

î

Catatan dari Yazid Fathoni

Kasti

Mungkin dulu kasti adalah olah raga yang paling menakutkan betapa tidak wong bolanya keras sekali, saya paling takut kena “sembeg” yaitu istilah kena lempar bagian “geger” sakitnya minta ampun  sampek mulet-mulet nggak bisa nafas, yang takut kena sembeg ya jogo “brok” terus.

Dulu sekolah yang sering memenangkan lomba dicurigai pake “dukun” bisanya pake bawa kembang entah itu benar atau tidak, sekarang olah raga kasti sudah tidak ada, beli bolanya saja sudah tidak dijual di toko manapun

Bola Volley

Dalam rangka mempertingati HUT Kepolisian, setiap tanggal 1 Juli  Kepolisian pasti mengadakan lomba bola volley se kabupatan Gresik, setiap group dapat dipastikan “ngebon” dari Surabaya, jadi pemain asli Gresik jadi jangkep-jangkepan saja, dulu group dari Yedilan bernama “YOB” ( Young of Bedilan) selalu ngebon pemain dari Al-Irsyad Surabaya cukup bisa mengimbangi Petrokimia dan Semen Gresik yang ngebon pemain nasional.

Satu Tanggapan to “PEROLAHRAGAAN”

  1. fatah yasin Says:

    ass…P.syaaf ketemu lagi : masalah olahraga di Gresik sejak dulu memang rame. Apakah bpk masih ingat sing langganan juara lari marathon (lari jauh) dari Lumpur namanya Mustofa sekitar tahun 1950-1955, sing ngelatih wong cino Yok Suwi, sing dodolan meracang nang Lumpur…karo undukan manuk nang tambak. itu adalah pamanku. siang juara loro cino anake toko limo sebelah kulone toko pantes.
    Barangkali bapak punya cerita lain. matur suwun
    wass…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: