PERKAMPUNGAN

Pengantar.

Tulisan PERKAMPUNGAN ini saya tulis pada Syawwal 1426 H, untuk menceritakan keadaan jalan dan kampung yang ada, dari apa yang ada dalam ingatanku saja, tanpa bertanya dengan sana sini. Dan kemudian saya e-mailkan ke keluargaku.

Karena tulisan aslinya cukup panjang, maka saya mutilasi menjadi 6 [enam] bagian, biar tidak bosan membacanya. Sekarang, menjelang Dzulhijjah 1429 H, akan saya punggah satu-persatu, sehingga akan khatam dalam seminggu.

Tulisan ini dapat diibaratkan, jelajah desa milang kori, dan untuk memudahkan memahami tulisan ini, cobalah membayangkan bahwa anda menelusurinya dan membayangkan dalam imajinasi anda [bila anda pernah ke wilayah ini].

Hampir pada setiap awal bagian, seakan-akan saya berdiri di perempatan atau pertigaan, kemudian berjalan menelusuri cabang jalan mengikuti arah mata angin, ke utara, timur, selatan dan barat. Lalu pindah ke petrempatan atau pertigaan yang lainnya lagi.

Tulisan disini, membayangkan kota Gresik di sekitar tahun 1950-1960 an, dan sebatas pada wilayah “kota lama”. Mohon maaf kalau tempat yang anda tinggali saat ini, tidak termasuk yang diceritakan. Karena, saat tahun-tahun itu, masih termasuk GRESIK alias “GRESIK coret”. Tentunya sudah berbeda sekali dengan keadaannya saat ini.

Tambahan komentar dan pelurusan yang bengkok atau pengilapan yang buram, sangatlah diharapkan dari pengunjung Ongkek Suling.

Salam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

7 November 2008

3 Tanggapan to “PERKAMPUNGAN”

  1. Mohammad Muchlish Says:

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Saya baca tulisan bapak seperti melihat film lawa yang diputer lagi
    isinya nyaris pas semua ;
    Saya asal gresik umur jauh lebih mudah dari bapak
    Nama-nama yang bapak sebut sangat saya kenal:
    MINU Sukodono (sekolah saya), Hasan Basri/Kasan Bedoyo ( Guru saya),KH Rois ( Kakek Saya), Moh Suyuthi/Cak Mamak (sepupu ayah saya), Kemuteran/Kp. Rambu (tempat lahir).

    Kalau bisa diceritakan lebih detil tentang Kakek (KH Rois) tentu sangat senang?

    Terimakasih

    • ongkeksuling Says:

      Wa’alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh.

      Senang sekali saya, ada yang memeberikan komentar, dan terkait erat dengan nama-nama yang saya hormati.
      Waktu semasa hidup Almarhum Kiyai Rais, saya masih sangat kecil. Saya juga tidak ingat kapan saat wafatnya kakeknda Alm. Kiyai Rais dan juga Kiyai Khalil atau Kiyai Marlikhan. Yang saya ingat, adalah saat wafatnya Kiyai Abdul Karim. Mereka adalah tokoh-tokoh Kiyai tua pada masa itu.
      Jadi saya tidak tahu banyak, tentang mereka secara langsung. Yang saya masih ingat, pembagian jadwal waktu khotbah di masjid jamik, didasarkan pada pasaran pada hari itu. jadi jadwalnya tetap, kalau Pon siapa, kalau Wage siapa.
      Dan saat itu, ada yang menyampaikan khotbahnya hanya dalam bahasa Arab saja, tetapi ada juga yang disertai dengan bahasa Jawa dan /atau bahasa Indonesia.
      Yang saya ingat, saya pernah diajak oleh bapakku unjung-unjung waktu idul fithri ke kediaman Kiyai Rais, jadi saya kira-kira tahu [walau tidak persis kediaman beliau], dan yang saya ingat di dindingnya ada kuadrant [rubu’] yang digunakan oleh para ahli falak untuk mengamati perbintangan.

      Kalau boleh tahu, karena anda lahir di Kampung Rambu, siapakah nama orang tua anda? Karena saya dulu sering main ke kampung Rambu di tahun 1961-1964. Yang saya kenal dengan baik disana, antara lain Cak Nashif [yang sekarang bertetangga dengan saya], Cak Ambari, Cak Hilmi Marwi, Cak Oesman [adiknya cak Ansor – cap bandeng], cak Nawir [bukan yang adiknya Cak Nashif]. dan Suryanuddin Lubis [teman sekelas di SMP].
      Sedang di tahun 1952-1954 saya menghabiskan masa kecil saya [siang hari] di Kemuteran Gang VII, dirumah uwak saya Bapak Marlikhan, karena menunggu dijemput pulang ke Garling/Suling.
      kalau teman dari Metoko, ada teman sekelas, namanya Syamsul … [lupa lanjutannya], yang masih sekeluarga dengan cak Bukhori temannya Cak Wahib Tamim.
      Insya Allah silatuurahim ini dapat kita lanjutkan lewat dunia maya.
      Nanti kita lanjutkan lagi ya. Insya Allah

  2. Asep Rusadi Says:

    Assalamu’alaikum Pak Ongkeksuling,

    Saya senang dengan tulisan bapak Ini. Ibu saya berasal dari Gresik. Kebetulan nama kakek saya Bapak sebut di artikel Ijzerman Park..bapak Haji Anwar Oesman dan toko Jajan nya.

    Saya ingin belajar mengenai riwayat kota gresik, termasuk keluarga kami, barangkali Bapak ada banyak pengetahuan, termasuk juga bagaimana sampai sekarang nama kakek Buyut kami, Oesman Kadar, bisa menjadi nama jalan besar sampai sekarang di Gresik. Mohon ditularkan ilmu nya pak. Sebelumnya saya Ucapkan terima kasih.

    Wassalamualaikum Wr. Wb,

    Asep Rusadi
    rusadi2003@yahoo.com

    (Saya selalu kangen makan nasi Krawu, sego romo, jubung dll)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: