VAN BRUG NAAR IJZERMAN PARK

VAN BRUG NAAR IJZERMAN PARK

oleh Saifuddien Sjaaf Maskoen

Syawwal 1426 H

Manusia merencanakan Allah menentukan.

Man proposes, God disposes.

Begitulah kehidupan ini akan berlangsung.

Apa-apa yang kita inginkan

belum tentu akan menjadi kenyataan,

tetapi suatu kenyataan pasti datang

tanpa kita duga sebelumnya.

Begitulah sesungguhnya kehidupan ini berlangsung. Karena sesungguhnya, sebagaimana yang kita dibiasakan untuk menjawab setiap ajakan yang disampaikan oleh para muadzin ketika masuk waktu shalat, yaitu “tiada daya (untuk memperoleh manfaat) dan kemampuan (untuk menolak kesulitan), kecuali bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung”. Tetapi seringkali jawaban itu akan secara otomatis meluncur dari mulut kita, tanpa kita sadari apa arti dan maknanya dalam kenyataan kehidupan kita.

Salah satu nikmat yang kita rasakan, tetapi tanpa kita sadari, dari suatu kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para leluhur kita sejak berabad silam, adalah kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi kaum bumi putera atau rakyat jelata. Boleh dikata, walau sebelumnya sudah ada yang mampu mengenyam pendidikan bahkan sampai tinggi, hanyalah beberapa orang tertentu saja. Baru setelah penyerahan kedaulatan di akhir tahun 1949, dan para pejuang kembali ke kampung halamannya masing-masing, maka kegiatan belajar dan mengajar barulah dimulai lagi.

Saya termasuk yang beruntung, bisa memulai memperoleh pendidikan pada usia dini, bahkan sebelum waktunya yang normal. Mungkin saya mulai dimasukkan ke sekolah sebelum telapak tanganku bisa menyentuh telinga di seberang kepala. Begitulah ukuran yang digunakan pada waktu itu, karena tidak semua orang tua mengingat kapan anaknya lahir, dan juga tidak ada surat apapun yang menyatakan kelahiran anak tersebut. Karena ketika masuk SMP, umumnya teman-temanku dilahirkan pada tahun 1945, sedangkan saya sendiri dilahirkan 9 bulan lewat 3 hari sesudah proklamasi kemerdekaan, atau di tahun 1946. Artinya dari distribusi umur siswa, umur saya berada pada posisi di bawah rata-rata.

Saya mulai mengikuti kegiatan belajar di sekolah yang kemudian dikenal sebagai SD Bedilan, yang lebih populer dengan nama “sekolah brug”, karena letaknya di dekat pelabuhan alias brug. Kelasku sendiri yang berada di bangunan ‘paviliun’nya, bukan pada gedung utamanya. Paviliun ini terletak disudut utara barat halaman sekolah, -di pertemuan jalan Pelabuhan dengan jalan Bhayangkara- digunakan secara dibagi / disekat dengan kantor douane alias bea cukai. Entah berapa lama saya bersekolah disini, saya tak tahu. Yang jelas waktu itu, belum menggunakan buku. Yang dibawa ke sekolah adalah sabak [batu tulis] dengan alat tulisnya berupa grip. Gripnya ada dua jenis, ada yang keras berwarna abu-abu tua dan ada yang lembut berwarna putih.

Di bingkai sabaknya yang terbuat dari kayu, ada tulisan yang dibuat dengan ‘membakar dengan besi panas’ bertuliskan Dept O&E [mungkin Diknasnya pada zaman Belanda], “O”nya mungkin onderwijs, entah “E”nya apa. Sabak itu terbuat dari irisan batu jenis tertentu, sehingga kalau jatuh akan pecah. Tetapi ini merupakan suatu cara yang sangat hemat, karena tidak akan banyak hutan yang harus digunduli untuk dijadikan pulp. Di sekolah ini, saya sekelas bersama tetanggaku Chajatim, yang juga ada kakaknya bernama Chanipah.

Kemudian entah apa sebabnya, mungkin diadakan reorganisasi, sehingga saya dialihkan ke sekolah yang ada di dekat setasiun. Konon, sekolah yang ini dulunya adalah HIS yang derajatnya pada zaman Belanda lebih tinggi dari Sekolah Brug. Saya tidak begitu lama sekolah disini, karena kemudian saya dipindah ke Madrasah Ibtidaiyah NU Sikodono.

Saya disana ditempatkan di kelas A, atau pada zaman itu sering disebut sebagai Vrobel atau Frobel [saya tak tahu pasti tulisannya, hanya dengar-dengar saja], kelas sebelum masuk ke kelas 1. Mungkin semacam TK-nya begitu, karena pada zaman itu belum ada Taman Kanak-Kanak. Taman Kanak-Kanak baru ada di Gresik, beberapa tahun kemudian, yaitu Taman Kanak-Kanak Kusuma Bangsa yang menempati ‘garasinya’ Kantor Kawedanan. Lalu kemudian TK Batik, yang merupakan bagian dari kegiatan community development dari Koperasi Batik Gresik, yang merupakan anggota dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia [GKBI] yang merupakan salah satu [atau malah satu-satunya] koperasi yang pernah jaya di Indonesia ini.

Sewaktu di kelas 2 ini, kalau tidak salah cak Agut ada di kelas 4, dan cak Djadjuk ada di kelas 6. Yang sekelas dengan saya, dan ikut juga pindah ke Teratee adalah cak Ud [Masud, sepupuku yang tinggal di Kaliboto].

Di MINU Sukodono ini, saya hanya sampai kelas 2 saja, bahkan mungkin sebelum berakhirnya tahun ajaran, karena ketika di MINU Teratee juga mengalami kelas 2 juga. Kepindahan ini, sepengetahuanku karena alasan guru-gurunya yang lebih mumpuni dan dewasa dari pada di MINU Sukodono, maupun di sekolah lain seperti SD Muhammadiyah. Setidaknya, itulah penilaian kedua orang tuaku, walaupun masih sama-sama dibawah Maarif NU Gresik.

Saya di MINU Teratee, yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Rakyat NU atau Sekolah Dasar NU Teratee, sampai kelas 6. Rupanya perubahan sebutan sekolah itu sudah menjadi kebiasaan sejak jaman dulu. Di tahun 1958, ketika saya di kelas 6, sudah ada ujian nasional seperti UAN atau UN saat ini. Untuk murid SD dan murid Madrasah, soalnya dibedakan, dan ada pelajaran tambahan yang diujikan bagi murid madrasah. Bahkan menggambarpun merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan. Tetapi dulu koq tidak ada yang ribut seperti sekarang ya.

Untuk menghadapi ujian nasional tersebut, saya setiap harinya disuruh ibuku untuk belajar menulis yang lebih baik. Karena tulisanku, masuk dalam kategori ‘cakar ayam’, jangankan orang lain, saya sendiripun sulit untuk membacanya lagi. Dengan alasan, walau jawabannya betul, tetapi kalau tidak bisa terbaca, tidak akan diberi nilai. Jadi begitu jugalah, dengan kemampuan menggambar yang juga akan merupakan mata pelajaran yang diujikan secara nasional.

Jangan-jangan sewaktu kecilnya aku tidak pakai merangkak dahulu sebelum belajar berjalan, yang konon baru kuketahui dari anak sulungku, bahwa bisa berakibat tulisannya akan jelek karena perkembangan koordinasi saraf motorik halusnya tak optimal. Atau juga karena semenjak kelas 2, jari-jariku sudah biasa bermain di papan ketik mesin tik. Dari mesin tik merk Underwood yang belum menggunakan standar QWERTY, lalu ke mesin ketik Adler yang sudah QWERTY. Mesin ketik Underwood ini, kemudian menemaniku untuk membuat dan menyusun laporan tugas-tugas praktikum sewaktu mahasiswa, tetapi tidak memenuhi syarat untuk pengetikan tugas akhir.

Pada saat itu, persentase kelulusan ujian nasional belumlah tinggi, jika dibandingkan dengan kelulusan UAN atau UN beberapa tahun terakhir ini, persentasenya masih dibawahnya. Tetapi mungkin passing gradenya masih tinggi, apa 6 atau 5,5 tidak tahulah kita. Diantara banyak madrasah di Gresik, memang MINU Teratee tergolong tinggi persentasenya, walau yang lulus hanya 10 orang sahaja dari murid sekelas yang sekitar hampir 40an. Dan waktu itu, masih belum menjadi suatu kehiruk pikukan mengenai persentase kelulusan dan juga angkak yang diperoleh, yang kemudian mendapat istilah sebagai NEM atau DANEM.

Kepala Sekolahku, cak Bola [Chasbullah], mengumumkan-nya di dalam kelas, dengan mengurutkannya sesuai daftar absensi yang sudah di-sort secara ascending. Karena tempat dudukku pada deretan paling depan, dan di sebelah tengah, saya tahu dengan pasti bahwa yang mau dibagikan tinggal selembar sedang namaku belum dipanggil olehnya. Dan dibelakang namaku masih ada Urip yang tergolong anak pandai, above average lah. Sempat membuat ketar-ketir. Saya berusaha mencoba melihat dari balik kertasnya, tetapi kertasnya cukup tebal sehingga tiada bayang-bayang tulisan namanya. Alhamdulillah, kemudian lembaran terakhir itu ternyata untukku.

Pada masa itu, sempat saya curi dengar tentang pembicaraan orang tuaku untuk mengirimku ke Gontor setamat saya dari madrasah. Setidaknya yang kutahu kemudian setelah aku besar, bahwa cak nDin [Sjamsuddin Noor], cak Ibis [Bisri Iljas] adalah alumni dari Pondok Moderen tersebut. Mungkin sosok merekalah yang meng-inspirasikan gagasan tersebut. Dan juga ada beberapa yang lain, seperti Ambary [yang kemudian menjadi bogem dan mengkhitan kedua anak-lelakiku – di tempat kelahirannya masing-masing, Kalianget dan Jakarta]. Tetapi rupanya memang Allah berkehendak lain.

Entah untuk urusan apa, mungkin dalam rangka menjajagi suatu kegiatan baru setelah bapakku tidak lagi menjadi anggota suatu badan di pemerintahan Kabupaten Gresik pasca Pemilu 1955, bapakku bepergian ke Pontianak [Kalimantan Barat]. Rupanya beliau stranded di sana, karena sangat sulit untuk memperoleh tiket penerbangan balik ke Jakarta. Begitu yang kudengar kemudian, karena komunikasi sangatlah sulit pada waktu itu. Sehingga saya mengikuti arus saja untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SLTP. Teman-temanku dari MINU Teratee banyak yang ke SMEP, dan saya bersama Tawi, Hadi dan Ghofur masuk ke SMP Negeri [belum ada istilah SMPN I, wong baru satu-satunya].

Selama di SMP ya biasa saja. Berbeda dengan sistem pendidikan sekarang, saat itu ketika kenaikan ke kelas 3 SMP sudah akan mulai dijuruskan. Pembagiannya adalah Bagian A untuk non-eksakta, dan Bagian B untuk yang eksakta. Tentu saja dasar penentuannya nanti, adalah nilai pelajaran ilmu eksakta dan ketersediaan daya tampung di kelasnya. Pada masa-masa itu, jumlah murid yang tidak naik kelas masihlah banyak, tidak seperti sekarang ini. Dari murid kelas 2 yang tiga kelas, yaitu 2a, 2b dan 2c, nantinya akan menjadi kelas 3A dan 3B. Sedangkan kelas 1nya ada 4 kelas, 1a, 1b, 1c dan 1d.

Kalau menjelang ujian akhir SD saya harus banyak belajar menulis agar bisa terbaca, oleh orang lain; saya mendapatkan suatu surprise ketika suatu siang diberitahu oleh pak Hamdani [wali kelas ku di 2c] agar menemuinya kalau mau pulang nanti. Ternyata saya diberi tugas untuk mengisikan nilai untuk rapor murid di kelasku, dimana ada rapor saya sendiri. Entah karena tulisanku sudah terbaca, tetapi saya tidak yakin kalau itu menjadi konsideran beliau. Mungkin hanya karena saya Ketua Kelas dan ibuku seorang guru. Hanya berasaskan kepercayaan belaka. Karena terlihat nyata, walau tulisanku sudah terbaca, namun masih jauh jelek dibanding tulisan beliau yang ada di kolom sebelum dan sesudahnya.

Dan yang paling menyedihkan, adalah ada nilai merah yang kudapat pada waktu itu, dan justru untuk mata pelajaran Aljabar dengan nilai 4. Dan saya harus menuliskannya sendiri dalam rapor. Dan ternyata lagi, karena harus ganti tinta, maka saya lupa menuliskannya. Mungkin karena secara psikologis tidak tega. Walau angka merah di rapor sudah sering nampak, bahkan sejak SD dulu. Kalau di SD untuk berbagai mata pelajaran tentang Agama dan Bahasa Arab, dan di SMP untuk mata pejaran Ilmu Hayat. Kalau menggambar dan pekerjaan tangan, hampir muncul sepanjang masa, dengan warna merah.

Memang saya punya kelemahan pada waktu itu, dalam soal-soal yang disebut persamaan tersamar. Dan waktu ulangan umum kwartal itu, ada soal persamaan tersamarnya. Untunglah sesudah itu saya jadi memahami dengan baik ‘persamaan tersamar’, dan malah merasa piawai dalam membuat model-model matematika dari berbagai hal, yang sebenarnya adalah setipe dan merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari persamaan tersamar.

Alhamdulillah, kemudian saya bisa naik kelas ke Bagian B, yang walau tidak tersurat, memiliki derajat yang lebih tinggi dari Bagian A. Karena dari Bagian B, bisa masuk ke SMA Bagian A, B, maupun C. Sedang kalau dari Bagian A, tidak bisa masuk ke Bagian B, walau masih bisa masuk ke Bagian C dengan persaingan yang ketat.

Di kelas 3B ini, saya sekelas dengan Asnar, Achijat, Anang, Bambang, Fudin, Agus, Junus, Umar Kasan, Giok Lie, Wanti, Yayuk, mbak Utin, Hwa Nio, dan lain-lainnya. Saat di kelas inilah, saya pernah dikeluarkan dari kelas oleh seorang guru, pak Pratomo yang mengajar Ilmu Hayat. Dia adalah guru baru, dan menceritakan sesuatu yang terjadi di daerah asalnya Jombang. Karena Wage, teman sebangkuku berasal dari Jombang, kutanya padanya “Jombang endi?”, dengan maksud apa sebelah utara, selatan atau barat. Tetapi itu terdengar oleh pak Pratomo dengan pengertian seakan saya tidak tahu Jombang, dan dianggap ngeledek dia. Karena dia beralasan “Masa tidak tahu Jombang itu dimana?”.

Pengumuman kelulusan kali ini, walau tidak 100%, tidaklah begitu menegangkan. Karena sore hari menjelang pengumuman, sudah mendapat bocoran dari pak Bisri, orang tuanya Wanti, yang menjadi Wedana Gresik. Rupanya karena dia berkepentingan untuk tahu angka anaknya, dia juga dapat informasi yang lain dari guru-guru SMP, termasuk tentang nilaiku. Walau begitu, keesokan harinya, ketika melihat pengumuman yang lulus, yang hanya diumumkan nomer ujiannya saja, sempat degdegan juga. Siapa tahu salah menulis nomer.

Semenjak dahulu, sistem pendaftaran ke jenjang sekolah yang lebih tinggi akan selalu berubah-ubah. Waktu itu, 1961, pendaftarannya di pool, dan kita tidak perlu bahkan tidak boleh memilih sekolah mana yang diinginkan. Saat itu, ada 3 SMA Bagian B, yaitu SMA II, III dan V, sedangkan SMA I untuk Bagian A dan SMA IV dan VI untuk Bagian C. Ternyata setelah diumumkan penerimaannya, saya diterima di SMA III Gentengkali, berbeda dengan kebanyakan teman-temanku yang di SMA II, kecuali Anang yang di SMA V.

Anang ini, oleh orang tuanya rencananya akan disekolahkan SMA di Singapura, dan untuk membekalinya semenjak di kelas 2 SMP dikursuskan les privat bahasa Inggris, dengan guru yang bernama pak Umar [lulusan Gontor]. Sebagai sparring partner-nya, saya dan mas Noerhasjim [kakak iparnya Anang– suaminya ning Ul]. Buku yang dipakai sebagai pegangan, buku dari Hongkong, ada tulisan Chinanya, tetapi tidak dibaca. Bapak saya memang bersahabat dengan bapaknya Anang, dan saya satu angkatan dengan Anang. Ngaak tahunya, kemudian yang les itu menjadi hubungan ipar-ipar. Mas Noer sudah jadi kakak iparnya Anang, dan kemudian sayapun jadi kakak iparnya Anang pula. Allah menentukan lain. Haji Djalali dipanggil oleh Nya, dan Anang meneruskan di SMA V sampai akhir.

Saya sendiri tidaklah lama di SMA III. Ternyata, bapakku sudah berkonsultasi dengan guru dan wali-kelasku pak Hamdani, bahwa saya sebaiknya masuk ke STM dengan berbagai pertimbangan, antara lain saya adalah anak lelaki satu-satunya pada waktu itu [Toni, si bungsu belum lahir], guna menghadapi keadaan terburuk. Sebelum penerimaan SMA diumumkan, saya mendaftarkan ke STM di Jalan Patuha 26, Sawahan. Karena tidak tahu jalan, diantar oleh Junus dan Ilik [Umar Kasan] sambil jalan-jalan di Surabaya. Formulir sudah diambilkan oleh bapakku, dan sudah saya isi dengan lengkap, termasuk jurusan yang akan dipilih.

Di STM Negeri Sawahan, begitu biasa disebut, ada beberapa jurusan yaitu Bangunan Gedung, Mesin, Bangunan Air, Listrik dan Kimia. Saya memilih jurusan Bangunan Gedung, mungkin terinspirasi oleh keberhasilan seseorang yang tak kukenal sebelumnya, yaitu Moh. Soeyoethi yang kemudian kukenal sebagai cak Mamak, yang baru saja menyelesaikan studinya di Gajah Mada dan menjadi insinyur sipil di saat saya kelas 3 SMP. Mungkin dia, adalah sarjana teknik tertama dari Gresik, karena kalau kedokteran sudah ada yaitu dari keluarga Haji Anwar Oesman [Toko Jajan] dan juga ada dari Kemasan [dokter Oesman Asnar]. Jangan konfuse dengan dua nama Oesman yang saling tak terkait. Sehingga di tahun 1961 itu, banyak juga lulusan SMA yang masuk ke ITS jurusan Sipil, diantaranya Agus Abdul Manan, Achmad Bestari, Mustofa Kamil, Chambali, dan lain lain lagi.

Karena saya kurang serius atas hiden-agenda orang tuaku, ya saya lakukan formalitas pendaftaran. Dan di depan loket, ternyata ada formulir lagi yang harus diisi. Di situlah kedua temanku berkomentar “Kalau bangunan gedung itu kurang aneh, orang Manangkuli [nama kampung di Kebomas] saja bisa bangun rumah tanpa sekolah. Ambil Kimia saja, aneh”. Dan kemudian bagian Kimia yang tertulis dalam pilihan. Dan ternyata itu kemudian berlanjut, menentukan arah perjalananku.

Saya diterima dan masuk di SMA III, Gentengkali, yang menyatu dengan kantor [kalau sekarang disebut] Kanwil Depdiknas Jawa Timur. Seorang diri dalam satu angkatan. Tetapi kemudian bertemu dengan Rusli, Kampung Rambu yang sudah di kelas 2. Guru yang masih kuingat disana adalah pak Dicky yang mengajar Kimia, yang lainnya tak ada yang ingat lagi. Hanya sebentar di SMA III, yang mulai masuk 1 Agustus 1961. Pengumuman penerimaan STM dilakukan sekitar pertengahan Agustus, dan ada beberapa teman sekelasku yang menunggu dengan antusias pengumuman tersebut. Tetapi kemudian, ternyata mereka tidak diterima, dan bahkan menyampaikan bahwa saya diterima di STM. Yang diterima biasa saja, yang tidak diterima cukup bersedih.

Ternyata bapakku telah melihat pengumuman, dan lebih jauh lagi bahkan sudah melakukan her-registrasi alias pendaftaran ulang untuk mengkonfirmasi bahwa akan masuk. Dan lebih jauh lagi, sudah mencarikan tempat untuk indekost ku di daerah Tembok. Di daerah Tembok ini, tinggal guru ibuku ketika di madrasah dulu, yang ibuku menyebutnya Ustadz Sahli. Ustadz Sahli inilah yang membantu mencari kost di rumah keluarga pak Hasan [yang beristerikan ibu Maftuchah] yang merupakan kerabat dekat para pendiri NU yang ada di Kawatan / Bubutan. Dan ternyata, ustadz Sahli ini bertetangga dengan pak Djunaedi, yang kepala jurusan Kimia di STM Sawahan.

Disini terjadi perbenturan maunya orang tua dengan maunya anak. Saya agak enggan dan menolak masuk STM karena satu hal, yaitu lulusannya nanti akan dikenakan wajib militer dengan dimasukkan ke Angkatan Laut. Maklum kan waktu itu, masih dalam suasana perang untuk merebut Irian Barat. Dan bapakku meyakinkan dengan santainya, bahwa peraturan di Indonesia itu mudah berubah, nanti saat kamu lulus sudah tidak ada lagi peraturan itu. Dengan agak bersedih, saya patuhi harapan orang tua. Dan diantarlah saya ke tempat kos-kosan di suatu sore hari. Dan ternyata pendapat bapakku benar, ketika lulus kemudian sudah tidak ada lagi peraturan itu. Apa mungkin karena Angkatan Laut sudah mendirikan STMC-AL, Sekolah Teknik Menengah Chusus Angkatan Laut di tahun 1962 untuk memenuhi kebutuhan instansi tersebut.

Keesokan harinya, mulai masuk ke sekolah STM yang jaraknya tak jauh dari tempat kosku. Suasana perkenalan pagi itu, cukup ramai. Kebanyakan teman-temanku berasal dari daerah industri di Ngagel, Sidoarjo, Krian, Sepanjang, bahkan sampai Mojokerto. Dan yang ditanyakan, adalah berapa angka untuk mata pelajaran Ilmu Ukur, Ilmu Alam dan Aljabar. Karena itulah faktor yang menentukan diterima tidaknya sesorang di STM, dan di jurusan yang dipilihnya. Mereka umumnya memilih jurusan Kimia, karena keterbatasan nilai yang diperolehnya. Jurusan Kimia, termasuk yang paling tidak populer diantara semua jurusan yang ada, sehingga persyaratannya relatif tidak terlalu berat. Dan muncullah banyak provokasi untuk pindah jurusan, karena nilai yang kupunyai memungkinkan untuk di jurusan apa saja yang kumau. Dan kebimbanganpun mulai bergejolak, karena sebenarnya kan mau masuk Bangunan Gedung, tetapi karena hanya bercanda mau yang aneh, maka dipilih jurusan Kimia.

Sore itu saya pulang lagi ke Gresik, menyampaikan kemauan untuk pindah jurusan, dan juga sebagai suatu alasan untuk menutupi ketakutan dikenakan wajib militer. Tetapi langkah orang tua selalu lebih jauh dari langkah anaknya. Bapakku cepat-cepat menghubungi ustadz Sahli dan malah bertemu dengan pak Djunaedi. Sehingga, lalu saya dipanggil oleh pak Djunaedi dan diberi wejangan untuk memantapkan tetap di jurusan Kimia. Walhasil, perjalanan dalam rimba belantara atom dan molekul kimiapun dimulailah. Saya tetap bersekolah di STM dan di jurusan Kimia pula, walau dengan berbagai rasa yang berkecamuk di benak dan di dada. Kalau sesuatu sudah menjadi tentu, kewajiban kita untuk menjalaninya sebaik-baiknya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, bahkan satu detik ke depanpun.

Untunglah saya sebelumnya pernah dileskan bahasa Inggris dengan baik, sehingga masih bisa memanfaatkannya kelak ketika di perguruan tinggi, karena pelajaran Bahasa Inggris di STM sudah minim, tidak terarah pula. Tetapi yang paling menyedihkan adalah pelajaran Praktek Bengkel, dimana pelajarannya 4 jam per minggu. Tugasnya sih sederhana, hanya saya nya yang parah. Dalam setahun pelajaran, belum dapat meratakan satu bidang benda praktek, dengan cara mengikirnya. Terbukti lagi bahwa kemampuan motorik halusku memang betul-betul payah. Tetapi saya mampu memanfaatkan keberadaan dalam bengkel itu untuk melihat dan mengetahui cara kerja peralatan-peralatan tersebut. Walau kalah praktek, asal jangan kalah teori.

Tanpa terasa waktu berjalan terus dan ketika saya naik kelas tiga, pak Djunaedi dipindahkan ke STM Bandung. Waktu itu, ada sekitar 4 sampai 5 lulusan STM Kimia angkatan di atasku yang diterima di ITS Jurusan Kimia Teknik. Dan tibalah kemudian saat-saat ujian. Di Indonesia, saat itu hanya ada dua STM Jurusan Kimia, yang satunya lagi konon ada di Jogjakarta.

Hampir semua mata pelajaran ikut diujikan, tentunya kecuali praktikum dan olah raga. Tetapi menggambar teknik juga diujikan, hanya dibawa pulang. Mata pelajaran Teknologi Kimia adalah yang paling banyak bahan ajarnya, dan merupakan mata pelajaran yang paling pentinglah. Menjelang waktu ujian berlangsung, ketika hendak bangun pagi, saya bermimpi di ajak jalan-jalan oleh seseorang pergi ke pabrik gula dan ke pengilangan minyak. Dan terfikir, siapa tahu nanti soalnya menyangkut hal itu. Maka saya buka lagi pelajaran tentang proses pengolahan gula dan destilasi minyak bumi. Alhamdulillah, dari tiga soal, dua soal betul-betul mengenai proses sulfitasi untuk menghasilkan gula SHS, dan produk utama serta sampingan refinery.

Walau begitu, ternyata ada satu mata pelajaran yang diharus diuji ulang, atau diher. Yaitu mata pelajaran Pompa, dimana seluruh murid [kecuali yang tidak diher sama sekali] harus mengikuti her mata ujian Pompa ini. Kalau tidak diher sama sekali, itu ada dua kemungkinan, lulus langsung dengan mulus atau sudah tidak ada kemungkinan lulus sama sekali. Jadi kalau diher satu mata pelajaran, maka optimis akan lulus, karena yang diher sampai 4 mata pelajaran saja masih memiliki peluang untuk lulus. [membesarkan hati sendiri boleh kan]. Tibalah saat her, ternyata soalnya hanya satu, dan hanya satu kalimat. “Gambarkan dan uraikan cara kerja pompa yang biasa dipakai di rumah tangga”.

Dengan hanya satu soal saja, bisa menguntungkan atau malah bikin runyem. Dan pengertian di pakai di rumah tangga itu pun bisa bermakna banyak. Saya langsung teringat pada pompa [per definisi begitu] yang dipakai untuk mengisi botol dari kaleng minyak tanah, atau mengisi kaleng minyak tanah dari drum. Saya nggak tahu, apa sekarang masih ada yang menggunakan ‘pompa’ yang mengandalkan kelereng ini. Dan alhamdulillah, akhirnya saya lulus dari STM tanpa ada kewajiban untuk mengikuti wajib militer di Angkatan Laut.

Teman-temanku kebanyakan langsung berusaha untuk mencari kerja, sesuai dengan tujuan semula mereka masuk ke STM, dan sesuai pula dengan tujuan pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan kejuruan ini. Tetapi ada pula yang seperti saya, ingin melanjutkan lagi. Tetapi jumlahnya tidaklah banyak. Beberapa sasaran untuk melanjutkan, antara lain Sekolah Dokter Gula [pernah dengar?], dan Akademi Kulit di Jogjakarta. Anak-anak yang berasal dari daerah penghasil gula di sekitar Sidoarjo dan Mojokerto, banyak yang menyasar Sekolah Dokter Gula tersebut, karena nantinya bisa bekerja di pabrik gula sebagai kader pimpinan pabrik.

Saya sendiri tentu ingin masuk ITS dan tentu jurusan Teknik Kimia. Dan kemudian juga mendaftar ke ITB, yang pendaftarannya dilakukan di Gentengkali 33, bekas sekolahku dulu. Walau ada beberapa pilihan yang bisa dipilih untuk lulusan STM Kimia, saya memilih jurusan Kimia Teknik, begitu namanya waktu itu. Ketika orang tuaku mengetahui kalau mendaftar ke ITB, beliau mengomentari “buat apa ndaftar kalau nantinya tidak akan dimasuki”.

Ujian saringan masukpun berlangsung. Untuk tes masuk ITS, dilakukan di salah satu tempat perkuliahan ITS yang di Undaan Kulon. Enak, baunya harum, karena dekat pabrik roti. Dan ternyata disitu satu lokasi, walau beda ruangan dengan Yayuk pak Dahlan. Jadi masih ada teman ngobrol, ketika rehat antar tes. Tak ada teman STM ku yang tes di lokasi ini.

Tes untuk masuk ke ITB baru akan dilakukan beberapa waktu kemudian. Di sela-sela waktu itu, para pengurus Perguruan Darul Islam mengadakan kunjungan ke Pondok Modern Gontor, dan saya, Fudin Bakri dan Bestari ikut serta mengikuti bapak-bapaknya yang semuanya juga ikut. Yah begitulah pada waktu itu, tidak segawat sekarang kalau mau saatnya tes SPMB. Jaman itu belum ada bimbel alias bimbingan belajar. Walau, untuk tes masuk ke ITB, ternyata sudah beredar contoh contoh soal tulisan tangan [belum ada foto kopi jaman itu]. Tetapi rupanya hanya di kalangan anak-anak SMA saja. Mereka mendapatkan dari kakak-kakak kelasnya dulu, atau dari saudara dan keluarganya yang ada di Bandung sana.

Asnar bersama teman-teman PII Gresik yang lain, membawa contoh contoh soal, yang banyak tak kufahami. Karena peristilahannya berbeda. Saya tidak tahu apa itu Hukum Newton Kesatu, atau juga yang Kedua, tetapi kalau F=m*a saya tahu dan bisa mengaplikasikannya untuk menyelesaikan soal-soal. Tetapi tidak tahu kalau itu namanya Hukum Newton. Begitu juga ketika saya mengikuti tes yang tempatnya di SMA IV Karangmenjangan, dimana banyak anak-anak dari Malang, mereka banyak membahas hal-hal yang sampai ke telinga saya, tetapi saya tak dong apa yang mereka bahas. Gawat bukan? Yah pasrah sajalah. Memang ilmunya yang diberikan oleh para guru hanya sampai situ, mau apa lagi.

Menantikan saat pengumuman penerimaan, juga tidak segawat jamannya saya menantikan pengumuman bagi anak-anakku untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Jaman memang selalu berubah. ITS mengeluarkan pengumuman dengan menempelnya di salah satu gedung yang digunakannya, yaitu di Jalan Kaliasin, dekat Kaliasin Gang Pompa. Saya pergi melihat pengumuman dengan anak kosbass ku, Munir Fahimi, diiringi perasaan yang sangat optimis akan diterima. Tentu saja perasaan ini berdasar, karena tahun ajaran sebelumnya ada 5 murid STM Kimia yang diterima di ITS. Kalaupun tahun 1964 ini hanya satu yang diterima, itu saya.

Memang manusia sering lupa akan ajaran-ajaran yang telah diterimanya, antara lain untuk tidak berlaku sombong atau membanggakan diri. Ternyata nomer tes ku tidak muncul di papan pengumuman. Di lihat lagi, ya tetap saja tidak terlihat nomer yang dicari. Mulailah lemas sekujur tubuh. Untungnya tidak pergi sendirian melihatnya. Sesampainya di tempat kos, langsung saja semua kekuatan hilang, dan tergeletaklah badan dengan lunglainya alias pingsan. Seakan tidak bisa menerima kenyataan yang digariskan oleh Allah swt.

Untunglah pak Hasan orang yang alim dan sabar. Banyak petuah yang disampaikan untuk menguatkan hatiku. Menjelang sore baru saya pulang ke Gresik, setelah yakin bahwa tubuhku akan mampu sampai dengan selamat dalam perjalanan. Amat Umar Asnar diterima di ITS pada pengumuman pertama itu. Kalau Fudin belum. Hari demi hari berlalu, dan pengumuman gelombang ke II pun tiba, tetapi hasilnya tetap saja nihil. ITB pun sudah mulai memanggil para calon mahasiswa yang diterima. Agus Asnar diterima di jurusan Sipil dan Umar Kasan di jurusan Elektro, tetapi kemudian dia mengambil Fakultas Kedokteran Unair.

Sampai masa perpeloncoanpun tiba. Ketika semua temanku ikut perpeloncoan di PT Negeri atau di PT Swasta yang ada di Surabaya, saya sendiri masih berlalu lalang di Gresik, antara lain dengan Nashif dan teman-teman lain mengurusi pelaksanaan Bintang Pelajar yang diselenggarakan teman-teman PII. Suatu ketika ada salah seorang tua yang menanyakan mengapa saya tidak ikut perpeloncoan seperti yang lain, dan ketika kujawab bahwa saya tidak diterima, beliau tidak percaya. Tambah sedih dihati, tetapi apa mau dikata.

Sekali lagi, langkah orang tuaku lebih panjang dari langkahku. Secara diam-diam rupanya beliau sudah mencarikan alternatif bagiku agar tidak luntang lantung alias menganggur. Tahun ajaran baru sudah berlangsung beberapa minggu yang lalu. Kalau tidak salah hari Rabu atau Kamis pagi, yang pasti sudah pertengahan Oktober 1964, bapakku menyampaikan bahwa bila sampai hari Minggu nanti belum ada panggilan dari perguruan tinggi manapun [karena ndaftarnya hanya dua, dan tak pakai serep], hari Seninnya akan diantar ke Balungbendo untuk bekerja di Ratatex [Rahman Tamin Textile] dimana cak Nuri [anaknya Haji Arifin] yang lulusan Akademi Tekstil di Bandung bekerja disana. Bukan untuk mendaftar atau melamar kerja. Tetapi untuk memulai kerja.

Subhanallah, orang bisa bilang ini suatu kebetulan, tetapi sesungguhnya yang kita sebut kebetulan itu adalah bagian dari skenario Allah swt. Hari Jumat pagi berikutnya setelah ‘ultimatum kerja tersebut’, bapakku akan mandi untuk berangkat ke kantor. Karena ada orang di kamar mandi, beliau menunggu di pintu samping belakang rumah, dimana di dekatnya ada keranjang sampah. Beliau melihat ada amplop surat yang bersih berada di samping kaleng sampah. Dan beliau memungutnya, ternyata surat tanpa alamat pengirim, hanya dari cap pos tertulis Bandung. Oleh bapakku, dikira surat dari teman PII Bandung, karena PII baru saja menyelenggarakan Muktamar di Malang.

Setelah amplop dibuka, rasa gembira dan ragu bercampur aduk menjadi satu. Isinya panggilan gelombang ke III untuk masuk ke ITB, tetapi suratnya tanpa stempel dan kertasnya hanya ukuran A-6, alias sebesar kertas kwarto [A-4] di potong jadi empat, bahkan lebih kecil lagi, berwarna hijau. Betapa girangnya, dan saya berteriak “Jadi sekolah lagi”. Tetapi, apa iya? Jangan-jangan ada orang iseng. Masak panggilan dari suatu perguruan tinggi negeri seperti itu bentuknya? Di tengah kegalauan itu, ibuku menimpali “mungkin ini arti mimpiku semalam, mendengar suara adzan dari jauh. Ayo kita usahakan, siapa tahu ini memang jalannya”.

Tentu saja biaya yang diperlukan untuk sekolah [he he, kuliah – biar gayaan dikit] di Bandung akan jauh lebih besar dibanding kuliah di Surabaya. Dan itulah mengapa kuliah di Bandung bukan merupakan suatu pilihan, sehingga waktu mendaftar saja sudah dianggap mubadzir.

Keesokan harinya kami menunggu cak Mat Gerejo, pengantar pos yang menjalani route ke kediaman kami, untuk mencari tahu. Sepertinya dia sudah tahu, dan langsung cerita bahwa kemarin itu tidak seperti biasanya. Dari jalan Pemuda, biasanya lewat Garling, terus kemudian ke Jalan Niaga. Karena ada surat ke Bedilan, dan tidak ada surat ke jalan Niaga, ditambah lagi dia agak lupa kalau ada surat ke saya di Garling [mungkin karena ukurannya], maka dia dari Kantor Pos langsung lurus ke Bedilan Gang VII, dan baru ingat kalau ada surat ke Garling. Karena rupanya dia tahu ada pintu samping di situ, dari pada balik lagi, dimasukkanlah surat itu ke pintu samping.

Saat surat itu ditemukan oleh bapakku, mungkin memang masih baru. Untungnya, belum keduluan waktunya buang sampah. Bayangkan seandainya saat itu kamar mandi kosong, dan bapakku langsung mandi tidak menunggu di pintu samping dan surat itu sudah terbuang, dan baru diberi tahu kalau ada surat yang terbuang, keesokan harinya. Apa mau diobrak-abrik tumpukan sampah disamping Suling, atau kalau sudah diangkut oleh truknya RR ke TPA, apa ya mau diobrak-abrik TPA yang ada di Kramat? Itulah jalan hidup ini. “Tiada daya (untuk memperoleh manfaat) dan kemampuan (untuk menolak kesulitan), kecuali bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung”. Laa khaula wa laa quwwata, illa bi Llahi l‘aliyyi l’adziem.

Bapakku merencanakan berangkat secepatnya, dan dipilihlah hari Minggu pagi dengan kereta dari Setasiun Semut. Memang hanya itulah moda transportasi yang ada saat itu. Kereta api malam belum ada untuk untuk jurusan Surabaya-Bandung, bus malam pun belum ada pula. Bus siang jarak jauh seperti itu juga tidak ada.

Jumat malam, entah tahu dari mana, – katanya sih dari radio – [apa iya] Nashif dan Fudin sudah mengetahui tentang berita yang menggembirakan bagiku itu. Lalu Sabtu malamnya, pada acara pelatihan anggota PII yang selalu diadakan setiap Sabtu malam, saya menyerahkan jabatan Ketua Umum PII Cabang Gresik, kepada salah seorang anggota pengurus lainnya, yaitu Amat Umar Asnar – walaupun jabatannya adalah Sekretaris I, pada hal ada Ketua I, Ketua II, dan ada pula Sekretaris Umum atau Bendahara Umum. Tanpa melalui rapat khusus.

Setelah tiba, kami mengecek ke Rektorat di Jalan Tamansari 64, mengenai kebenaran dan keabsahan panggilan tersebut, dan ternyata benar. Panggilan itu merupakan panggilan Gelombang ke III, karena mungkin dari panggilan Gelombang I dan Gelombang II, masih ada tempat yang tersisa. Perlu dipertanyakan. Karena sesungguhnya, bagian yang kupilih Kimia Teknik, merupakan bagian yang menjadi banyak pilihan calon mahasiswa, walau bukan yang paling top.

Ternyata pada Gelombang III ini, ada beberapa mahasiswa yang masuk di Kimia Teknik. Saya dapat nomer pokok 120945, artinya adalah mahasiswa ITB angkatan ke 12 [1964] dengan urutan ke 945. Rupanya pada tahun itu, yang Gelombang II banyak juga diisi oleh pindahan dari bagian Kimia [atau yang lebih dikenal dengan Kimia ‘murni’] dari angkatan tahun sebelumnya [mungkin salah pilih dulunya]. Kemudian ketika ada penggantian nomor pokok, ganti menjadi 5264039 [fakultas ke-5 jurusan ke-2, yaitu Kimia Teknik, masuk tahun 1964, dan urutan ke 39 di jurusan dan tahun tersebut].

Sudah tidak ada lagi spandook “Selamat Datang Putera-Puteri terbaik bangsa Indonesia” di depan pintu kampus Ganeca 10, karena saat itu sudah pertengahan Oktober. Bahkan ujian mid-semester sudah mulai dilaksanakan. Bayangkan, baru masuk – masih nunak nunuk – tahu-tahu sudah menjalani mid-test. Alhamdulillah, dari 20 SKS yang diambil, hanya FI-101 – Mekanika yang 2 SKS tidak lulus.

Bapakku rupanya sudah menyiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat. Untuk dua minggu pertama saya tinggal di Asrama B, tetapi bapak sudah mencarikan tempat berupa kamar di Jalan Dago Atas tetapi tanpa makan, dan makannya bergabung dengan anak-anak asal Ampel [Jamaah] yang orang tuanya merupakan sahabatnya Haji Iskandar [Telogobendung], dimana dulu anaknya – Thamrin – juga tinggal bersama mereka sewaktu sekolah di Bandung.

Ternyata, di ITB sudah ada anak-anak asal Gresik, tetapi ya baru tahu ketika sudah disana, dan orangnya sebenarnya tidak asing lagi. Yaitu, cak Umar Marzuki di Farmasi, cak Gaguk [Imam Buchori Tas’an] di Seni Rupa, cak Jajuk di Teknik Perminyakan, cak Agut di Kimia, dan yang baru masuk Agus Asnar di Sipil. Itulah anak SLTA jaman itu.

Dan sebelum bertemu di tempat kuliah, saya bertemu dengan anak ex STM Kimia Surabaya [1963] – yang sebenarnya sudah di terima di ITS – tetapi ikut tes lagi ke ITB dan masuk tahun 1964, yaitu Muhammad Audah – asal Nyamplungan -, yang di kemudian hari bersama tinggal dalam satu rumah, bahkan satu kamar, bahkan tempat tidurnya saya di atas, dia di bawah [pakai tempat tidur susun untuk menghemat ruangan] sampai lulus nanti. Dan ternyata kemudian, bahwa Amak [panggilan Muhammad Audah] ini adalah masih keluarga dari Abdullah Masyhabi, yang juga kemudian berteman dengan bapakku dalam bidang pendidikan di Gresik.

î

Selain tugas kuliah dan laboratorium, sebelum lulus harus juga menyelesaikan suatu penelitian yang disebut Karya Utama, Rancangan Pabrik, Kerja Praktek, dan Colloquoium yaitu presentasi hasil Karya Utama dalam forum dosen dan mahasiswa. Baru kemudian boleh ikut Ujian Akhir secara tertulis. Tugas-tugas kuliah dan laboratoriumku dapat kulalui dengan lancar, boleh dibilang hampir tepat waktu. Hanya dua atau tiga mata kuliah saja yang sempat harus mengulang, lainnya alhamduliLlah dapat diselesaikan dengan baik.

Karya Utama yang terdiri atas penelitian kepustakaan, percobaan di laboratorium dan penulisan hasil penelitian, dan juga Rancangan Pabrik, yang terdiri atas studi kepustakaan, perancangan pabrik sampai ke pemilihan alat dan sebagainya, sempat berlangsung lama dan sampai-sampai ganti judul dan ganti pembimbing. Tetapi dibalik itu semua, tentu ada agenda atau skenario Allah swt yang tidak kita ketahui.

Ujian akhir memang merupakan saat yang menegangkan. Betapa tidak, selama beberapa kali persiapan ujian akhir yang dilakukan oleh para seniorku, saya sering melibatkan diri. Sehingga saya mengenal bentuk-bentuk soal yang dipertanyakan. Ada seniorku yang sampai harus mengulang 7 kali, dan bahkan ada yang rupanya ‘para dosennya yang kalah’ sehingga diberi saja tugas tambahan untuk menulis suatu artikel, sebagai pra syarat kelulusannya. Umumnya mereka yang sudah tidak fresh lagi, akan banyak menemui kesulitan dalam menjawab berbagai soal tersebut. Namanya ujian komprehensif, pertanyaannya bukan saja meliputi apa saja yang ada antara langit dan bumi [bainas samaa’ wal ardh] bahkan bainas samaa was sumur, karena kalau permukaan bumi saja masih kurang jauh.

Saya punya kelemahan khususnya dalam mengerjakan soal-soal diferensiasi dan integrasi, karena enggan menghafal aturannya. Tetapi saya tahu dan menguasai, bagaimana menyusun rangkaian elektroniknya untuk diferensiasi dan integrasi dalam sebuah analog komputer, yang memang juga diajarkan. Dan hal ini kutanya pastikan pada dosen pembimbingku, apakah dibolehkan dan dibenarkan bila ada pertanyaan seperti itu, kemudian dijawab dengan menggunakan menyusun rangkaian elektroniknya. Setelah mendapat kepastian, sangat senang, karena soal semacam itu paling tidak ada dua atau tiga buah, kan lumayan bisa nambah poin tanpa belajar lagi. Dan ternyata benar ada, dan kujawab seperti yang kujanjikan. Ternyata dalam sidang pembahasan, ada yang mempermasalahkan, untung sudah siap backing-nya.

Ujian Akhir yang dilakukan tertulis pada hari Jumat, diperiksa di hari Sabtu, dan baru diumumkan bila selesai. Ujiannya memang menegangkan. Tetapi lebih menegangkan lagi adalah menunggu pengumumannya. Sore itu, saya naik oplet ke Aloon-aloon. Disana jalan-jalan dan membeli majalah Intisari. Pulangnya ke Bangbayang, sengaja jalan kaki biar lelah, lalu bisa tidur. Kalau tidak bisa tidur sudah siap Intisari untuk dibaca. Dan ternyata memang tidak bisa tidur, pada hal biasanya lap-lep saja tidur. Intisari sudah habispun, baru mulai kelelahan. Hati makin mau tidur bukannya mata jadi kelap-kelip, tetapi mata makin kelap-kelop.

Karena mengetahui bahwa pengumumannya paling cepat sesudah waktu makan siang, kemarin berjanji akan mulai datang ke kampus siangan saja. Tetapi suasana di rumah tambah membuat resah, jadi ya ke kampus pagi. Ee, ternyata yang lainpun juga begitu. Jadi pagi-pagi sudah ramai juga. Ruang sidangnya adalah ruang rapat di Laboratorium Unit Operation, dimana sehari-harinya biasa kami gunakan sebagai asisten untuk mendengarkan presentasi para mahasiswa yang akan dan telah selesai melakukan praktikum. Di ruangan itulah nanti hasil sidang akan disampaikan, biasanya tidak secara bersama-sama, melainkan per group tergantung hasil yang akan diumumkan.

Selain kami bertiga yang kebetulan sama-sama jadi asisten di laboratorium itu – yaitu saya, Iman Djumaedi dan Inawati Wijaya – banyak mahasiswa lain yang menunggu hasil, dan juga mahasiswa lain [para penggembira atau teman-teman dekat yang siap menghibur bila hasilnya tidak seperti yang diharapkan]. Walau hampir setiap pengumuman seperti itu saya selalu hadir, tetapi ketika pengumuman itu akan berkaitan dengan diri sendiri rasanya jadi lain. Walau menurut feeling, insya Allah akan baik-baik saja, tetapi perasaan was-was kadang-kadang muncul juga.

Umumnya pengumuman dilakukan antara waktu Ashr dan Maghrib, bahkan pernah juga bersamaan dengan adzan Isya. Akhirnya saat yang ditunggu tibalah, sesudah Ashr menjelang Maghrib. Alhamdulillah, setelah menjalani masa penantian yang lama, ditutup dengan hanya sekali ujian saja. Begitu juga dengan Iim, panggilan untuk Iman Djumaedi. Saya langsung ke Kantor Pos untuk mengabarkan hasil ujian tersebut melalui telegram, satu-satunya yang diharapkan bisa cepat memberi khabar. Karena mau interlokal, di rumah tidak ada telepon. Saya pulang untuk berbagi kegembiraan pada hari Senin sore, dan tiba di Gresik pada hari Selasa pagi. Tahu nggak, ternyata telegram tersebut yang menerima akhirnya saya sendiri, pada hari Selasa itu.

Dari normalnya menurut kurikulum lama studi adalah 11 semester, dengan 18-20 SKS setiap semesternya, saya akhirnya dapat menyelesaikannya dalam waktu yang melebihi seharusnya. Pada masa itu sangat jarang yang pas waktu. Banyak hal yang menyebabkan overstay tersebut.

Kegembiraan tidak boleh berlangsung lama, masih ada tugas yang belum selesai. Karena pada pelaksanaan Colloquoium tersebut, skipsi yang seharusnya sudah diketik dan dijilid rapi, untukku dapat dispensasi boleh hanya tulisan tangan yang dikopi dan dijilid sementara. Jadi setelah lulus, baru kemudian, skripsinya diketik dan baru selesai 1 hari menjelang wisuda. Setelah ‘diancam’ akan dicegat di pintu masuk Aula Barat bila belum menyerahkan hasil penelitian Karya Utama tersebut.

Tibalah saat yang dinantikan, bapak dan ibu ku beserta dua orang adikku [Natul dan Toni] datang untuk menyertaiku dalam acara Wisuda yang dilangsungkan di Aula Barat.

Kalau tidak kita renungkan, sepertinya tidak ada suatu pelajaranpun yang dapat kita peroleh dari perjalanan hidup yang sudah kita lalui ini. Di sana ternyata banyak cabang-cabang jalan yang akan menentukan cabang-cabang jalan berikutnya. Cabang jalan yang sebelumnya akan berkait dengan cabang jalan yang sesudahnya. Sampai akhirnya menuju terminal yang terakhir. Apa yang kita harapkan, bisa saja tidak terjadi. Dan justru banyak yang tidak kita sangka akan terjadi, justru itu yang terjadi.

Yek Kadir dodol manisan,

Sudah takdir dalam tulisan.

Benarkah begitu? Kita masih punya hak untuk melakukan ikhtiyar, yang arti sesungguhnya adalah pilihan atau menu, bukan upaya seperti pemahaman kita selama ini. Dan bisa saja, takdir yang tersurat, sehingga disebut suratan takdir itu adalah serangkaian opsi atau pilihan yang dihadapkan kepada kita dalam mengarungi hidup di dunia yang fana ini. Yang mana semua opsi itu akan menentukan kehidupan kita sesudahnya, bahkan kehidupan yang baqa di akhirat kelak.

Dan kalau kita melihat balik apa yang terjadi, maka kita akan bisa berandai-andai, dengan banyak if-then. Dan konon kita dilarang untuk membahas if-then yang telah lewat, tetapi harus memikirkan if-then yang akan datang.

Kita berkewajiban untuk berusaha semaksimal mungkin, dan sesudah itu semua kita lakukan, kita serahkan kembali kepada Allah Yang Maha Kuasa. Fa idza azamta, fa tawakkal ‘ala Allah.

Wa Allahu a’lam

î

Catatan :

Brug adalah tempat dimana sekolah pertama saya berada, dan Ijzerman Park [sekarang Taman Ganeca] adalah tempat dimana aku mengakhiri sekolah secara formal, sesuai dengan ketentuan Undang Undang no. 20 tahun 2003 pasal 14, walau tak sampai jenjang yang tertinggi.

Satu Tanggapan to “VAN BRUG NAAR IJZERMAN PARK”

  1. Bambang Soenarto Says:

    Saya itb teknik sipil angkatan 1963 (masuk), juga lulusan sma 3 gentengkali, dan saya dulu punya teman namanya Sri Poerwaningsih yang masuk stm kimia tahun 1961 (tadinya teman smp 3 Praban). Apakah dia ada dalam daftar alumni stm kimia? Alamatnya di mana. Cerita anda mengesankan sekali, sebab mirip-mirip nasibnya dengan saya. Di itb 12 tahun baru selesai (1975). Barangkali anda kenal dengan nama sisthawati, titik nurtini, mas rayanto, waktu sekolah sma 3. Juga Djoko Ashiadi. Saya belum tahu kabar terakhir mereka, sebab alumni sma 3 tahun 1963 sulit komunikasinya. Mohon saya diberitahu. Terima kasih. Wassalamu’ alaikum wr wb. Saya tinggal di Jl Dago Barat 13 Bandung. Terima kasih dan salam perkenalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: