Garam campur Candu

Garam campur Candu?

oleh

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Opium en Zout Regie. Dari namanya kita tahu apa yang diurus. Agak aneh bukan, ada suatu instansi yang mengurusi candu dan garam. Yah, apa hubungan antara candu dan garam? Kalau racun dan madu, masih bisa lah dikait-kaitkan dengan judul lagu yang populer di tahun 80-an, dan karena sifatnya yang berlawanan. Ternyata antara candu dan garam, keterkaitannya adalah terletak pada “sama-sama di monopoli oleh pemerintah” pada waktu itu.

Sebagai warisan dari pemerintah penjajahan Belanda, candu – madat – narkotika, bahasa sekarangnya – pemerintah [entah sampai kapan ya] memonopoli perdagangannya, agar terkontrol. Dari situ, pemerintah mengetahui betul siapa pemakainya dan berapa jumlah peredarannya, bahkan ‘mengambil keuntungan’ dari kesengsaraan pemakai candu tersebut. Kalau sekarang, ada Badan Narkotika Nasional, yang fungsinya bukanlah menyediakan dan mengedarkan candu secara terkendali, tetapi untuk memerangi pemakaian candu alias narkotika atau NAZA. Rupanya pertimbangan pemerintah dahulu, ada sebagian masyarakat yang membutuhkan [terutama kaum China yang baru datang dari negeri leluhurnya], karena itu sudah menjadi budaya dan kebiasaan mereka selagi di sana. Masih ingatkan, ada Perang Candu di tanah China waktu itu?

Di Indonesia, pabrik atau gudang candu, dulu letaknya ada di Jalan Salemba, yang kalau tidak salah sekarang jadi kamar mayatnya RSCM atau di Komplek Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sedangkan pabrik pembungkus candu – yang dinamakan cepuk, yang terbuat dari alumunium – pabriknya ada di Jalan Percetakan Negara. Di situ ada komplek besar, termasuk perumahan dari Zout & Opium Regie, yang kemudian diwarisi menjadi komplek PN GARAM. [konon sekarang ini sudah berubah entah menjadi apa, tak pernah lewat situ lagi sih].

Konon, menurut cerita pimpinan O&Z Regie pada saat revolusi kemerdekaan, berjasa menyediakan dana bagi pembelian senjata untuk perjuangan republik, dengan menyelundupkan dan menjual persediaan candu ke Singapura. Dan konon karena jasanya itu, beliau kemudian pernah menjadi Duta Besar di Amerika Serikat.

Garam, karena memenuhi hajat hidup orang banyak, walau hanya 10 gram per hari [kecuali yang sudah terkena penyakit tekanan darah tinggi], merupakan komoditi yang tidak ada penggantinya. Bisa kita bayangkan, tanpa kehadiran garam, kehidupan akan menjadi hambar. Makanan tak ada rasanya. Dan yang paling penting, kegiatan tubuh kita akan sangat terganggu. Karena salah satu fungsi logam atau ion natrium ini dalam tubuh adalah sebagai elektrolit, yang menghantarkan berbagai perintah dari otak melalui jaringan syaraf. Menurunnya kandungan natrium dalam tubuh, maka lemaslah badan kita. Bukankah kalau kita banyak mengeluarkan cairan tubuh, maka disarankan untuk meminum campuran garam dan glukosa, seperti halnya kalau diare. Juga minuman yang populer, Pocari Sweat isinya adalah ion natrium.

Adalah menjadi tanggung jawab pemerintah, melalui kelembagaan O&Z Regie, dan kemudian Zout Regie untuk menyediakan garam di seluruh pelosok tanah air. Dimana ada penduduk, di situ harus tersedia garam. Yah hampir sama dengan tugas PERTAMINA, sampai pada akhir November 2005 yang lalu, untuk menyediakan BBM.

Pemerintah memiliki beberapa pegaraman untuk membuat garam, yaitu dua di sekitar Kalianget [Gersik Putih dan Sumenep-Nembakor], di Pamekasan [Capak dan Mangunan], di Sampang [Marengan] dan di Gresik [Gresik Manyar]. Total luasnya secara keseluruhan sekitar 5.000 ha. Kecuali pegaraman Gresik Manyar [yang terkecil – hanya 500-an ha saja] yang terletak di pulau Jawa, yang lainnya terletak di pantai selatan Pulau Madura.

Kewajiban untuk menyalurkan garam keseluruh pelosok nusantara, mengharuskan instansi ini memiliki sarana pengangkutan dan gudang-gudang yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. Hampir di setiap setasiun atau pelabuhan, kita akan menemukan gudang garam dengan ciri dan warna yang khas, sebagai titik penyimpanan terdepan stok garam. Karena kemudian tidak berfungsi lagi, gudang-gudang itu kemudian di jual.

Jawatan Kereta Api bertanggungjawab mengangkut dari pelabuhan sampai ke setasiun di pedalaman, sedangkan dari Kalianget dan Marengan [Sampang], armada tongkang dan kapal PN Garam mengangkutnya ke pelabuhan-pelabuhan tertentu di tanah air. Kapal-kapal milik KPM pun, ikut diwajibkan mengangkut garam ini ke pelabuhan-pelabuhan kecil lainnya, terutama untuk wilayah Indonesia Timur. Karena itu PN Garam memiliki Kantor Perwakilan di Medan, Padang, Palembang, Pontianak, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Balikpapan.

Semula pada abad ke XIX atau tahun 1800-an, garam diangkut dalam keadaan curah dibungkus dengan karung yang terbuat dari daun sejenis palma. Karung yang disebut ‘purun’ ini, dibuat di daerah Kalimantan, dan didatangkan khusus untuk membungkus garam. Tidak pernah garam dibungkus dengan karung goni. Setelah zamannya karung polypropylene, mulailah dia menggeser penggunaan kantong purun tersebut.

Pengangkutan dengan kantong purun, dan pergantian moda angkutan yang beberapa kali, serta cuaca tropis yang lembab, menyebabkan kesusutan [hilangnya garam dalam pengangkutan] sangatlah tinggi. Konon hampir 30-50%, kalau sampau di Muara Tewe atau Purukcahu di pedalaman Kalimantan sana. Tentulah sangat sayang, sudah susah bikinnya, hilang percuma dalam perjalanan. Untuk mengatasi hal itu, pihak pemerintah mengadakan sayembara internasional, tidak tanggung-tanggung, guna mencari solusi menekan tingkat kesusutan yang diakibatkan oleh pengangkutan dan cuaca tropis.

Pemenangnya adalah seorang profesor dari Austria, yang mengusulkan bentuk briket yang kita kenal sekarang ini. Dengan membuatnya dalam bentuk briket, maka luas permukaan garam yang bersinggungan dengan udara tropis yang lembab, akan sangat jauh berkurang. Dan karena bentuknya yang kokoh, maka kemungkinan tercecernya pun akan berkurang pula. Suatu penyelesaian masalah yang sangat smart. Bentuk garam briket, yang memiliki tonjolan di atas, dan cekungan di dasarnya, yang ternyata saling mengunci [interlocking] bukanlah tanpa suatu maksud. Dengan adanya bentuk yang saling mengunci tersebut, maka satu kantong purun yang berisi garam briket, akan tetap pada posisinya selama pengangkutan.

Prosesnya pun sederhana. Garam, dibersihkan dengan cara memusingnya dalam suatu centrifuge [keteran dalam istilah penduduk setempat], yang berfungsi mengurangi kadar air dan zat-zat lain yang menempel, yang bersifat higroskopis, yaitu MgCl2 dan MgSO4. Zat inilah yang membuat kristal garam seperti berair, pada hal NaCl sendiri tidaklah bersifat higroskopis, artinya tidak menarik air, walaupun sangat mudah larut dalam air. Setelah itu, dipress seperti dalam mesin pembuat pavingblock, lalu kemudian dipanaskan dalam sebuah oven besar, guna mengurangi kadar air dan menjadikan briket garam bertambah kokoh. Siap untuk melakukan perjalanan jauh mengarungi nusantara. Pabrik Briket Garam, dibangun di Krampon [Sampang] dan Kalianget. Dan sisa-sisa kejayaannya [atau keterpurukannya ?] mungkin masih bisa disaksikan saat ini. Mungkin, karena saya sendiri tidak pernah menyaksikan beroperasinya pabrik briket ini, kecuali pada saat dilakukan suatu trial run di tahun 1975-an di Kalianget untuk menjajagi pengoperasian kembali dalam rangka iodisasi garam.

Yakinlah tidak ada garam yang dicampur candu, seperti susu dicampur melamin. Ketika pengurusannya garam dan candu manjadi satu saja tidak ada yang tercampur, apalagi sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: