teka KALI nang TELAGA

teka KALI nang TELAGA *]

Bagian Kesatu

oleh

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Dzul Qo’dah 1426 H

Perjalanan hidup seorang anak manusia

sudah direncanakan Allah swt dengan sebaik-baiknya

demi kebaikan makhluk-Nya,

jauh sebelum anak manusia itu sendiri

dilahirkan ke bumi yang fana ini.

Kewajiban kita adalah untuk beribadah kepada-Nya.

Hanya bentuk ibadah itu apa saja

dan bagaimana pula anak manusia itu

akan melakukannya.

Sebagaimana yang saya tuliskan dalam “van Brug naar Ijzerman Park”, saya agak lama menyelesaikan berbagai tugas akhirku, yaitu yang dalam bentuk Penelitian Karya Utama [dan diikuti dengan Colloquioum] dan Rancangan Pabrik, sebagai salah satu persyaratan sebelum ujian akhir dapat diikuti. Siapapun tentu ingin agar karyanya itu mempunyai arti, setidaknya bagi dirinya sendiri, dan berkeinginan untuk melakukan yang sebaik-baiknya. Orang sering menyebut, dengan idealisme yang kadang-kadang kurang berpijak di bumi.

Mungkin semacam itulah yang kualami pada saat itu. Sampai suatu saat kemudian timbul pikiran untuk mengubah topik atau obyek dari kedua tugas tersebut. Walau dengan suatu risiko, yang mungkin bisa fatal. AlhamduliLlah, setelah ganti judul dan obyek, kedua tugas tersebut dapat terselesaikan walau tidak secepat yang diharapkan, setidaknya tidak timbul stagnasi tanpa akhir.

Di tengah-tengah masa itu, banyak juga hal yang dapat kupetik manfaatnya di kemudian hari, yang mungkin tidak akan pernah dialami oleh sebagian kecil, apalagi semua mahasiswa pada umumnya. Mungkin suatu pengalaman dan pengayaan yang sangat langka, yang kemudian akan membekas dan memberi manfaat jauh di belakang hari kemudian.

Salah seorang dosenku [Windarti Afiat Dipl. Ing], bersuamikan seorang pegawai tinggi Departemen Perindustrian [Ir. Afiat]. Entah bagaimana asal usulnya, beliau memintaku untuk menghitungkan kebutuhan air bagi suatu kolam renang, dan sistem sirkulasinya. Dalam beberapa pertemuan dengan beliau, tentu banyak hal yang sempat dibicarakan selain mengenai kolam renang itu sendiri. Sampailah pada suatu saat, disampaikan bahwa pegaraman yang ada di Pulau Madura akan dibenahi, terutama dari sisi manajemen dan juga dari sisi teknik pembuatan garamnya, serta sulitnya untuk mencari seseorang yang mau bertugas di sana. Beliau adalah seorang yang berasal dari Pamekasan, yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam proses tersebut.

Mendengar saya berasal dari Gresik, jauh sebelum saya menyelesaikan kuliahku, beliau kemudian menawarkan apakah kiranya nanti setelah lulus mau bekerja di PN Garam. Saya terlebih dahulu memberitahu orangtuaku tentang adanya tawaran tersebut. Dan ternyata orang tuaku memberikan lampu hijau, setelah sebelumnya melakukan aanwijzing ke Kalianget. Dan lampu hijau itu kemudian saya teruskan kepada beliau. Beberapa waktu kemudian, saya diminta untuk menemui Ir Sutopo [?] selaku Sekretaris Team Penyehatan Managerial PN GARAM yang dibentuk di Direktorat Jendral Industri Kimia, Departemen Perindustrian untuk membenahi PN Garam tersebut.

Saya menemuinya di Jalan Kebon Sirih, dan disana juga kemudian diwawancarai oleh Ir. Hartarto yang waktu itu masih sebagai Direktur pada salah satu direktorat di sana. Beliau adalah Ketua Team-nya. Karena saya saat itu belum lulus, masih mengerjakan berbagai tugas, disepakati saya akan melapor bila telah lulus nanti. Rupanya mereka menunggu terlalu lama, karena beberapa hari sebelum saya menjalani ujian akhir, datanglah sepucuk surat yang menanyakan status kelulusan saya. Atau mungkin juga mereka mengira saya sudah lulus, dan kemudian tidak jadi mau ke Kalianget, karena ada tawaran-tawaran lain.

Setelah saya berlibur sebentar setelah kelulusan, saya kembali lagi ke Bandung untuk menyelesaikan tugas mengetik hasil penelitian yang baru ditulis tangan pada saat Colloquioum. Di saat itu, dosen waliku Pak Darno, mengata-kan agar saya tinggal saja di kampus untuk menjadi dosen. Mungkin salahku juga, karena saya tidak meminta saran kepada beliau saat mendapat penawaran dari pak Afiat. Sehingga saya tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh para dosenku, terutama dosen waliku. Dan setelah kusampaikan bahwa saya sudah berjanji dengan pak Hartarto tentang penempatan di PN Garam, beliau bisa memahaminya dan berpesan agar janji itu dipenuhi.

Saya juga memenuhi untuk menemui Pak Sutopo ke Kebon Sirih melaporkan bahwa saya telah lulus dan siap ke Kalianget. Langsung hari itu juga disiapkan surat pengantar yang ditandatangani oleh Pak Hartarto sendiri, untuk nantinya disampaikan ke Direksi PN GARAM.

Hari Jumat sebelum wisuda, saya melaksanakan shalat Jumat di Aula Barat, karena masjid Salman masih dalam pembinaan, dan belum bisa digunakan untuk shalat Jumat. Yang khotbah adalah ustadz Rusjad Nurdin, yang menekankan bahwa bekerja itu adalah salah satu bentuk ibadah, dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Rupanya khotbah kali itu, sengaja sebagai suatu pesan bagi para sarjana baru yang akan segera meninggalkan kampus Ganeca guna memulai dharma bhkatinya sebagai bagian dari ibadah kepada Sang Pencipta Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Setiap orang yang sekolah atau kuliah, pasti di ujungnya akan mencari kerja sebagai salah satu bagian dari dharma bhaktinya. Dan saat seperti itu akan sampai juga kepadaku. Walau prosesnya bisa dibilang tidak lazim. Setelah selesai wisuda pada hari Sabtu, dan ayah ibuku serta adik-adikku sore harinya langsung ke Jakarta sebelum kembali ke Gresik, saya membereskan segala sesuatu untuk persiapan pulang. Mungkin seminggu setelah wisuda, saya meninggalkan Bandung. Sampai di Gresik hari Senin pagi, dan Selasa paginya melapor ke Kantor Perwakilan PN GARAM yang ada di jalan Bubutan Surabaya. Dahulu, sewaktu masih di STM, kalau kereta apinya tidak telat, sering juga jalan lewat depan kantor ini.

Ternyata, hari itu juga diminta untuk berangkat ke Kalianget, karena kebetulan seluruh Direksi ada di sana, dan hari Rabu sorenya akan kembali ke Surabaya, sedang Direktur Teknik-nya akan bertugas ke luar negeri selama beberapa minggu. Jadi pulanglah kembali ke Gresik, pamit ke ibu yang sedang ngajar di sekolah, tanpa pamit ke bapak yang sedang pergi ke Surabaya, dan kembali lagi ke Bubutan. Sesampainya kembali di Bubutan, telah siap seseorang [pak Sigit] yang akan mengantar ke Kalianget dengan menumpang kendaraan umum. Pertama ke Ujung, lalu naik tongkang, [yang sebenarnya adalah pengangkut tank sewaktu pendaratan di pantai – disebut juga LCM, landing cruise machine]. Perjalanan dilanjutkan dengan naik Colt jurusan Kamal-Kalianget. Sampai di Kalianget sekitar jam 20-21 malam, langsung menginap di Mess.

Pagi itu, saya diperkenalkan dengan Direksi PN Garam, Direktur Utamanya adalah Kolonel Soewondo, Direktur Finec adalah Drs. M. Thayeb dan Direktur Teknik-Produksi Ir. John Anwar. Merekapun baru beberapa minggu atau bulan memangku jabatan tersebut. Dirutnya mantan Dan Rem di Malang, Dir Finec-nya adalah seorang asli Sumenep, yang dulunya memang bekerja di pegaraman, lalu di pindah-pindahkan, terakhir di Perusahaan Kertas Leces; sedang Dir Protek-nya adalah seorang lulusan Gajah Mada yang semenjak lulus langsung bekerja di PN GARAM.

î

Waktu itu masih ada pilihan untuk naik kapal tambang yang dioperasikan oleh PN Kereta Api, atau naik LCM yang dioperasikan oleh pihak swasta – mungkin koperasinya Angkatan Laut. Kapal tambang yang dioperasikan PN Kereta Api, ada dua jenis. Yang satu hanya untuk memuat penumpang dan barang, dan yang lainnya [walau hanya satu buah] dapat memuat kendaraan dan juga gerbong kereta apai [ada rel di deknya]. Mungkin dulunya, gerbong kereta api bisa melakukan perjalanan tanpa harus membongkar muatannya, antara Jawa dan Madura.

Tahun 1973, ketika saya memulai kerja di Madura, saya masih melihat kereta api dari Kamal menjalani trayek sampai Sampang [atau Pamekasan, saya tak ingat betul]. Kalau di Sumenep hanya tinggal bekas setasiunnya saja yang ada. Dahulunya, jalan kereta api ini menghubungkan Kalianget, Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, dan Kamal. Di Torjun – beberapa kilometer sebelah barat Sampang – ada simpangan ke Krampon – yaitu lokasi salah satu pabrik Briket Garam milik PN Garam.

Nasib perkereta-apian di Madura, tidaklah jauh berbeda nasibnya dengan rel kereta api di sekitar Gresik, sebagian-demi sebagian dicopot karena memang sudah tidak memenuhi kriteria pengoperasian secara hukum ekonomi yang sehat. Kita bisa memahami, pada masa sebelum kemerdekaan, disaat pegaraman masih berfungsi dengan baik dan memegang peran yang sangat vital, maka rel kereta api ini adalah merupakan tulang punggung distribusi garam, terutama untuk ke Pulau Jawa dimana hampir separoh penduduk Indonesia bermukim.

Dengan menurunnya komoditi yang harus diangkut, yaitu garam bagi konsumsi 50 juta penduduk jawa di tahun 1950-an, karena sudah diproduksinya garam di beberapa pantai utara selepas dicabutnya monopoli garam oleh pemerintah, maka perkeretaapian di Madura, juga ikut mati. Ditambah lagi dengan persaingan dengan Colt dan Fuso di awal 1970-an.

Konon semenjak dicabutnya Undang Undang Monopoli Garam, oleh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang di tahun 1957, yang kemudian dikuatkan oleh DPR menjadi Undang-Undang, kinerja PN Garam mengalami penurunan yang sangat drastis. Selain menghadapi ‘saingan’ dengan masuknya ke pasar garam produksi masyarakat yang dikenal sebagai garam rakyat, juga permasalahan mental pegawai. Dari yang bekerja berdasarkan anggaran yang longgar dan mengabaikan prinsip ekonomi yang sehat dan rasional, menjadi sebuah lembaga yang ditentukan oleh keadaan pasar.

Apakah nasib seperti PN Garam ini [sejak 1957] akan juga menimpa saudaranya PERTAMINA di masa mendatang, seiring dengan paraturan-peraturan baru dibidang peminyakan saat ini, setelah zaman reformasi? Semoga, jangan sampai nasib PN GARAM ini menimpa PERTAMINA. Sumbernya, juga adalah Undang-Undang Republik Indonesia. Semoga PERTAMINA bisa belajar dari PN GARAM dan PJKA, karena nasibnya koq hampir-hampir mengarah pada hal yang sama, jika perubahan status tidak diwaspadai dengan baik.

Setelah dicabutnya UU Monopoli Garam tersebut, masyarakat diperbolehkan untuk membuat, dan memper
dagangkan garam secara bebas dan legal. Keberadaan pegaraman rakyat yang memproduksi garam di dekat konsumen terbesar [penduduk pulau Jawa] merupakan tikaman yang berat bagi PN Garam. Sehingga di tahun 1973 itu, garam ex PN Garam sebagian besar adalah untuk memenuhi kebutuhan pengasinan ikan di Sumatera [Bagan Siapiapi dan Belawan]. Semenjak 1957 itu, pelahan tetapi pasti, PN Garam terus menurun kinerjanya. Sebenarnya penyebab utamanya adalah cultural shock, yang diderita oleh para pegawainya.

Saat itu, mulai dilakukan start bagi upaya penyehatannya. Sarana produksi dalam keadaan yang kurang terpelihara, banyak ditumbuhi rumput dan banyak pula ring-dijk [galengan pada sisi terluar areal] yang rusak, kapal-kapal pengangkut yang tidak bisa menjalani docking rutin dan sebagainya. Pemasaran yang digebrak duluan, guna menghasilkan cash bagi pembiayaan kegiatan lainnya.

Upaya perbaikan sarana produksi dimulai dengan suatu program technical assistence dari pihak Belanda [proyek JTA-9a] guna memodernisasikan pegaraman ini. Kegiatan yang sangat diharapkan bagi perbaikan produksi ini, ternyata berlarut-larut karena kurang feasible secara ekonomis, yang selalu dijadikan acuan bagi pemberian suatu pinjaman dari luar. Walau diupayakan dengan pendekatan social feasibility pun, ternyata belum berhasil juga.

Secara internal juga Direksi melakukan pembenahan prosedur dan tata cara, antara lain dalam bentuk penulisan petunjuk kerja untuk berbagai kegiatan. Diantaranya, yang paling utama adalah tentang pembuatan garam dan kegiatan administratif pendukungnya. Saya dilibatkan dalam penulisan tersebut, dan disitulah, dalam pembahasan berbagai hal baik yang teknis maupun yang non teknis, saya mulai mengetahui banyak tentang PN GARAM. Itu semua, ibarat kursus singkat yang langsung diberikan oleh pakar-pakarnya, dan juga dapat diketahui alasan [why] itu semua dilakukan. Tentu berdasarkan pengalaman praktek mereka. Dan saya, berusaha memahami dan mencoba mengkaitkan dengan landasan teori berdasarkan keilmuan kimia, fisika dan lainnya.

Salah satu aparat yang ditingkatkan perannya, adalah masalah pengawasan. Dan untuk pengawasan produksi, diperbantukan seseorang mantan Kepala Pegaraman, yang kemudian aktif sebagai PNS di Ditjen Industri Kimia. Saat itu, secara resmi beliau [Pak M. Mochtar] sudah pensiun dari PNS tetapi masih ‘diperpanjang’ dalam bentuk penugasan di PN GARAM. Kemudian, kami tinggal bersama dalam satu Mess [tambahan, yang berupa satu rumah besar] bersama pak Soekarsono, dan Solchan [ketika keluarganya belum diboyong ke Kalianget]. Dari pak Mochtar ini banyak saya ketahui tentang liku-liku di pegaraman.

Baru beberapa minggu bekerja, ada Team dari Institut Pertanian Bogor yang akan menjalankan penelitian tentang tanaman liar yang hidup subur di areal pegaraman dan mengganggu kelancaran produksi garam. Saya ditugaskan untuk mendampingi team tersebut, dan dengan begitu saya langsung terjun ke lapangan. Betul betul terjun karena menjalani tepi pegaraman dan juga melintasi tengah-tengah lapangan yang penuh berbagai tanaman – pada hal seharusnya tidak boleh ada satupun tanaman disana.

Memang ada perbedaan pendapat antara pimpinan puncak dan pimpinan daerah alias kepala pegaraman tentang penanganan selama musim hujan. Di saat musim hujan, pimpinan puncak mengehndaki semua areal dalam keadaan kering bebas dari genangan air tawar. Pimpinan daerah menghendaki areal tetap tergenang. Masing-masing punya alasan. Masing-masing punya motif sendiri atas pendapatnya. Dan sampai sekarangpun saya masih tidak tahu mana yang benar. Konon, dengan areal tetap ditenggelamkan, tidak akan ada tanaman sejenis rumput yang akan tumbuh. Mungkin ini benar. Tetapi motif itu ditunjang agenda tersembunyi dimana mereka dapat menebar nener untuk ditunai pada saat menjelang musim kemarau. Lumayan, dalam waktu 4 bulan, nener sudah berubah jadi bandeng, walau tentu tak akan jadi bandeng kawak. Tapi sudah punya nilai ekonomis, atau mengurangi kekurangan gizi.

Hal itu membuat saya mulai mengenal peta masing-masing pegaraman, dan kemudian seakan peta itu menancap di kepala. Hal ini perlu dalam pembahasan dan pembicaraan dengan para petugas lapangan, karena masing-masing pegaraman dibagi dalam beberapa afdeling, dan setiap afdeling dibagi lagi alam beberapa vak, lalu dalam beberapa petak. Kalau di peta kelurahan, ya semacam RW dan RT-nya lah.

Dalam beberapa bulan pertama di Kalianget, saya tinggal di Mess. Selain beberapa pegawai yang baru dipindahkan, atau yang bertugas ke Kalianget, para tamupun bisa menginap di Mess ini [bila masih ada tempat]. Pada suatu saat, ada seorang China totok, pembeli garam tetapi saya lupa namanya, orangnya jangkung karena hanya bertemu tidak lebih dari 2 kali saja. Dia mengatakan, walau saya tipe orang yang bisa ditempatkan di kantor maupun di lapangan, tetapi saya kurang cocok kerja di PN GARAM. Yah, omongannya tidak saya pikiri, tetapi ketika mengetik ini koq teringat kembali.

Pernah juga suatu malam, makan bersama dengan seorang pegawai senior yang baru datang dari Surabaya. Dalam percakapan dan melihat tampangnya, dalam hati terbersit pikiran orang ini kayaknya orang PKI atau semacamnya, tetapi koq masih ada. Nggak tahunya, pagi-pagi sebelum subuh di Mess suasananya jadi ramai. Ternyata, pada dinihari itu, dilakukan penangkapan massal sekitar 20-an orang yang diduga terlibat G-30-S/PKI dari berbagai kelas [teri, belanak, dan kakap]. Ada orang yang bertugas di kapal dan lain-lain. Dan termasuk si senior tadi. Baru saja teringat namanya, Hartono. Yah sekalinya ketemu di waktu makan malam itu. ‘The First and Last Supper’ with him. Walau kartu absensi Amano-nya, selalu terpampang sebelumnya, tetapi tidak pernah muncul ke Kalianget.

Rupanya hal itu sudah dikoordinasikan dengan baik, seakan-akan semua dikumpulkan di Kalianget, lalu tinggal dikemas untuk dibawa ke Surabaya dalam satu bus militer yang tiba malam itu juga, lalu balik sebelum subuh. Banyak yang ditangkapi malam itu adalah orang-orang anak buah kapal [ABK] yang kapalnya ‘kebetulan’ lagi sandar semua di dermaga Kalianget.

Tak berapa lama setelah saya di Kalianget, kemudian ada beberapa tenaga muda yang baru direkrut, antara lain Sukamto, Kasim dan Solchan yang kesemuanya berlatar belakang pendidikan ekonomi. Begitu juga tenaga-tenaga teknik lulusan D-3 atau akademi, dan bidang-bidang lainnya. Mulailah ada suasana baru, dimana banyak anak muda dalam jajaran pegawai PN GARAM setelah sekian lama tidak ada pegawai baru. Disusul kemudian dengan tenaga-tenaga teknik lulusan STM, baik sipil, mesin dan juga kimia. Ada diantara mereka yang dekat denganku karena hubungan pekerjaan, dan ada pula karena hubungan pergaulan.

Ternyata di Kalianget, banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia. Tentu saja orang Jawa, dan justru orang-orang dari Sala atau Jogja. Bahkan di Kalianget ada sekolah yang berafiliasi dengan Taman Siswa dan Taman Dewasa, yang pusatnya di Jogja. Di hari pertamaku di Kalianget, ketika berada di ruang tamu Direksi, saya sempat terperangah ketika diperkenalkan dengan seseorang dari divisi perkapalan, yang dengan menyebut namanya kita tahu dari mana dia berasal, yaitu Hutabarat. Bukan dengan maksud apa-apa, hanya dalam benakku terbersit, kalau di Bandung atau Jakarta kita ketemu orang Tapanuli itu biasa, tetapi ini di Kalianget. Dan rupanya pak August Hutabarat inipun menangkap bahasa tubuhku tadi, dan berapa tahun kemudian kita sempat memperbincangkan moment pandangan pertama tersebut. Dan kami berdua tertawa terbahak-bahak.

Orang-orang dari berbagai daerah di Sumatera juga banyak kita temui, umumnya mereka masuk ke PN GARAM di daerahnya masing-masing yaitu di berbagai kantor cabang yang ada. Dan seiring dengan jenjang karirnya, kemudian mereka sampai juga di kantor pusatnya. Bukankah begitu perjalanan karir seorang pegawai? Bahkan ternyata ada pula seorang Siregar, yang sudah sama sekali tidak memiliki aksen maupun wajah Tapanuli, sudah seperti orang Madura, karena dia bukanlah pemukim generasi pertama, mungkin sudah kedua atau bahkan ketiga. Saya lupa nama depannya, hanya yang teringat dia sangat piawai dalam membetulkan pesawat radio atau televisi [yang saat itu masih menjadi barang langka di Kalianget].

Televisi baru mulai banyak ditemukan di Kalianget ketika ada allowance dari perusahaan untuk mencicil pesawat tersebut di tahun 1975-an, walaupun harus dengan antena yang sangat tinggi [tiga batang pipa ledeng]. Dengan antena seperti itu bisa menangkap dua stasiun relai, yaitu Surabaya dan Denpassar. Walau gambarnya banyak bintik-bintiknya, ya lumayanlah. Yang sedih, kalau ada acara siaran langsung siang hari [saat itu lagi top-topnya pertandingan tinju Mohammad Ali alias Classius Clay], karena listrik di rumah-rumah hanya menyala malam hari saja. Yang listriknya menyala 24 jam, hanyalah rumah Direksi, Kepala Biro dan Kepala Unit saja. Yang jadi tempat berkumpulnya anak-anak muda kalau ada siaran seperti itu, adalah rumahnya Pak Muljono [pindahan dari Pabrik Kertas Aceh].

Kesertaanku dalam team pendamping para experts dari Belanda [Akzo bv] dan Perancis [Salines du Midi at de salines del Est] dalam rangka perencanaan pegaraman baru, kembali membawaku menjelajahi berbagai sudut pegaraman, tetapi hanya terbatas pada pegaraman-pegaraman di Gersik Putih, Sumenep dan Nembakor. Karena tidak adanya peta yang up-to-date tentang pegaraman, terutama ketinggian tanahnya, maka mereka terpaksa melakukan pengukuran kembali dengan terlebih dahulu melatih beberapa anak muda yang baru direkrut. Seandainya saat itu sudah ada perangkat GPS seperti sekarang ini, atau alat ukur yang lebih canggih, maka pekerjaan itu akan dapat dilakukan secara lebih cepat.

Mereka terbagi dalam dua kelompok, wet part dan dry part, yaitu bagian pembuatan garam dan penanganan pasca panen. Orang-orang Perancis pada wet part yang wilayah kerjanya luas tersebar meliputi areal seluas 3000-an hektar, dan orang-orang Belanda pada dry part yang wilayahnya berada disekitar Kalianget saja. Ada selorohan di antara kita tentang definisi pembagian tugas tersebut, yaitu ‘the wet part, all part of the body shall get wet except their throat, and the dry part, all part of the body still dry except their throat’. Dan tentu saja leadernya adalah dari pihak Belanda, yang mengkoordinasikan kerja mereka, termasuk seorang Jerman dari MAN [Mr. Mengele] yang mengassess keseluruhan sistem pembangkitan listrik di PN GARAM.

Yang dari Belanda, kebanyakan tua-tua. Ada satu yang masih muda bernama Baker, dan yang tua ada Mulder dan beberapa orang lagi. Salah satunya, konon orangtuanya dahulu di tahun 1904 menikah di Kalianget, dan dia menyatakan bahwa tak terbayangkan bahwa orang tuanya dahulu bisa sampai ke Kalianget ketika masih bujang dan dara. Ketika dia datang kembali, dia membawa copy dari akte nikah orang tuanya.

Lain lagi cerita dengan si Mulder, ketika berhenti di Krampon, dalam perjalanan antara Kalianget ke Surabaya, dia melihat suatu pohon dan menanyakan buah apa itu namanya. Kujawab dengan nama pohon itu dalam versi bahasa Indoensia yang baik dan benar. Eh, malah dia menyatakan “No”. Dalam hatiku, bertanya tetapi ketika dijawab disalahkan. Akhirnya saya bilang nama daerahnya, yaitu “pace”, dan dia tersenyum bahagia “Betul”. Ternyata dia dulu masa mudanya [sampai usia 18-an] tinggal di Surabaya, dan dirumahnya di daerah Darmo ada pohon pace alias mengkudu tadi. Ketika Jepang masuk, keluarga mereka diinternir ke Palembang. Saudara perempuannya meninggal disana. Pada kesempatan berikutnya dia ke Palembang, dan berhasil menemukan makam saudaranya tadi.

Orang Perancis, anggota team yang banyak tinggal di Kalianget adalah Cesari dan Cuvet. Yang namanya Cesari jauh lebih muda dari Cuvet, tetapi dialah expert tentang pegaramannya. Sedangkan Cuvet adalah ahli pemetaan dan pengukuran pegaraman. Sudah banyak pegaraman yang mereka desain di bagian dunia lain, dan di negaranya sendiri. Keduanya perokok, dan sangat sayang dengan rokoknya. Ketika pertama ke Kalianget minta diantar mencari toko rokok, saya tanya mau rokok cap apa? “anykind of cigarette, except a British made”. Pada hal yang banyak kan rokok buatan BAT. Jadi akhirnya belilah rokok entah cap apa, buatan Atom Coy, yang pabriknya ada di Malang. Jadi dia memilih rokok, bukanlah dicium baunya, tetapi dilihat siapa pembuatnya.

Cesari orangnya penuh humor, dan keluar masuk air dengan tenang saja. Ada satu pelajaran penting darinya ketika harus menyeberangi genangan air yang cukup dalam [lebih sebatas pinggang], yaitu tentang bagaimana menyelamat-kan isi kantong kita, terutama rokoknya bila ada. Dia rupanya sudah siap dengan kantong plastik. Bukannya dia sekedar membungkus isi kantongnya dalam kantong plastik, tetapi juga meniupnya dan membiarkan menggelembung selama penyeberangan. Jadi seandainya terlepas, maka isi kantong tadi tidaklah akan tenggelam, melainkan akan tetap mengambang dan mudah ditangkap kembali. Smart idea. Kita terfikirnya baru sampai agar jangan basah saja bukan?

Di saat bersamaan mereka juga merencanakan sebuah pegaraman di Irak, dekat Baghdad. Dan ketika bertemu dia lagi di tahun 80-an, dia bercerita bahwa pegaraman yang di Irak itu sudah jadi, dan ketika mau panen perdana [penennya dilakukan setahun sekali dan start-up-nya butuh waktu bertahun-tahun] terpaksa dibatalkan karena pegaramannya menjadi sasaran pengeboman dalam pertempuran dengan Iran. Entahlah, apa memang maunya Sadam Hussein bikin pegaraman untuk memproduksi garam buat konsumsi rakyatnya / diekspor, atau membuat lapangan terbang ‘terselubung’. Karena kristal garam yang tebal, mampu menahan beban pesawat yang mendarat dan tinggal landas. Karena kalau penguapannya 10 mm per hari, maka dalam satu tahun tebal lapisan garamnya sudah hampir 50 cm atau setengah meter dan betul-betul datar lagi.

Kegiatan dalam tim pendamping itu pula yang membuatku sering diajak serta ke Surabaya dan bahkan bolak balik ke Jakarta, berurusan dengan Direktorat Jenderal Industri Kimia, khususnya Direktorat Aneka Industri dan juga ke BAPPENAS. Sehingga, walau kedudukanku di suatu kecamatan di ujung paling timur pulau Madura, tetapi cukup banyak mengenal pejabat yang di Kebonsirih ini. Karena komunikasi lewat saluran komersial [telepon interlokal] SLJJ masih belum sampai ke Kalianget, maka sarana yang digunakan adalah radio komunikasi untuk kapal yang menggunakan gelombang SSB [single side band]. Apakah itu permintaan penyiapan data atau panggilan supaya segera berangkat. Dan kemudian ada plesetan, bahwa SSB itu adalah singkatan dari “Supaya Segera Berangkat”.

Pesan itu disampaikan secara lisan lewat radio, dan dituliskan dalam suatu buku oleh si operator radio. Kalau masih terbatas kalimat bahasa Indonesia masih oke-oke saja, tetapi kalau sudah menyangkut istilah teknis dalam bahasa Inggris, maka yang tertulis adalah bunyinya, jadi kita kemudian harus ‘meraba-raba’ apa maksudnya. Banyak hal yang lucu-lucu berkenaan dengan penulisan berita SSB ini, maklum operator radionya tidak paham bahasa dan istilah dalam bahasa Inggris. Biasanya berita “SSB” itu sampainya menjelang tengah malam, dan pagi-pagi sudah harus ada di Surabaya. Jadi seringlah kami melakukan isra’ alias perjalanan di waktu malam.

î

Hampir seperlima abad setelah dicabutnya monopoli garam, masalah gondok endemik dan kretinism kembali mencuat, sesudah ditemukan kembali adanya masyarakat di beberapa daerah mulai dijangkiti penyakit gondok dan ditemukan anak-anak yang terhambat pertumbuhannya menjadi kretin, dan sudah diketahui jelas penyebabnya adalah kekurangan asupan yodium. Tidak beredarnya lagi garam beryodium sejak awal 60-an – yang dulu merupakan tanggungjawab PN Garam dimasa monopoli – dituding sebagai penyebab munculnya kembali penyakit gondok, bahkan sampai pada tahap kretinism tersebut.

Sebagaimana diketahui, beberapa daerah pegunungan di Indonesia, terutama di daerah Merapi – Merbabu dan terus ke gunung-gunung di sebelah baratnya – serta didukung pula oleh pola makan penduduknya, ditengarai sangat kekurangan zat yodium dalam asupan makanannya, karena air tanahnya tidak mengandung yodium. Antara yodium dan garam dapur, sesungguhnya tidak ada kaitan apa-apa. Garam dapur, karena sifatnya yang dikonsumsi oleh siapapun dalam jumlah yang relatif sama – tidak pandang kaya atau miskin – akan sangat ideal bila difungsikan sebagai pembawa [carrier] yodium tersebut. Dahulu, larutan Kalium Yodida [KJ] ditambahkan dengan cara meneteskan dalam garam briket yang akan dikirimkan.

Hasrat pemerintah untuk kembali mendistribusikan garam beryodium ini mendapat dukungan sepenuhnya dari badan internsional seperti UNICEF. Rupanya UNICEF sudah lebih dahulu mensponsori penambahan yodium pada garam itu di Thailand dan Burma [sekarang Myanmar], maka oleh Pemerintah Indonesia yang ditangani oleh Kantor Menteri Negara, dikirimlah utusan untuk melakukan studi banding ke kedua negara tersebut. Rombongan terdiri dari Program Officer dari UNICEF, seorang dari Balai Gizi Departemen Kesehatan yaitu Drs. Hermana, Ir. Sjafri Saarin dari Ditjen Industri Kimia, dan saya.

Kedua negara tetangga tersebut saling bertolak belakang dari sisi kemakmuran dan keramaian. Tetapi sama-sama punya perhatian yang tinggi terhadap kesejahteraan rakyat nya. Yodisasi mereka lakukan, karena di daerah pedalaman di bagian utara negara mereka, banyak sekali penduduk yang menderita gondok. Kami mengunjungi suatu desa yang hanya beberapa kilometer dari Chiang Mai [yang beberapa waktu yang lalu dipakai sebagai arena SEAGAMES], dan disana mendapati penduduk tinggal dalam kesederhanaan sebuah desa. Di sana tersedia semacam PUSKESMAS yang dikelola oleh seorang bidan, yang dilengkapi dengan sepeda motor bebek untuk berkeliling ke desa-desa sekitar, dan sebuah kulkas bertenaga minyak tanah untuk menyimpan obat dan vaksin tertentu.

Hampir seluruh penduduk gondoken, [tapi tidak nggondokan]. Bapaknya gondoken, ibunya gondoken, anaknya yang sudah bisa berjalan gondoken, bahkan anak yang masih digendongpun gondoken. Neneknya pun gondoken. Sebagian sudah sangat menurun IQ-nya, walau belum sampai bisa dikatakan kretin. [Konon, kalau kretin itu sudah seperti entung – maaf – , karena hanya bisa tergolek tanpa bisa berjalan dan berbicara. Dan yang seperti ini justru ada di daerah pedalaman Jawa Tengah].

Daerah pegaraman di Thailand, terkonsentrasi di wilayah sebelah selatan kota Bangkok. Dan sebelum diperdagangkan, dalam karung-karung PP, terlebih dahulu di yodisasi di gudang pelabuhan, baru diangkut ke daerah tujuan. Mereka menggunakan belt conveyor dan penetes larutan KJO3 alias Kalium Yodat sebagai zat yang mengandung yodium. Disini tidak ada pengaturan perdagangan, alias menganut sistem perdagangan bebas.

Sesuai dengan sikap negara kerajaan ini, kota Bangkok sangat ramai dengan berbagai kegiatan, termasuk kegiatan mendukung operasi militer dalam Perang Vietnam. Apalagi saat itu, baru saja terjadi serangan balik dari pihak Viet-Cong yang dilakukan pada tahun baru Tet, yang konon bunyi suara tembakan bercampur dengan bunyi mercon tahun baru. Saat itu, di kantor perwakilan UNICEF dan kantor badan-badan PBB lainnya, penuh dengan ‘pengungsi’ yang terdiri dari para petugas PBB dari daerah Kamboja, Laos yang terkena imbas dari berbaliknya keadaan tersebut.

Kalau di Bangkok sih aman-aman saja, tetapi ketika melakukan kunjungan ke Chiang Mai, memang di salah satu lapangan terbang dimana pesawat harus stop-over banyak sekali helikopter tempur milik Amerika Serikat. Karena memang letaknya hanya beberapa kilometer dari perbatasan, dan bahkan pada perjalanan pulangnya mengalami pengalihan route karena salah satu lapangan terbangnya baru mendapat gangguan dari Viet-Cong.

Perkara makanan tidaklah begitu susah sekali, karena di kantor perwakilan UNICEF kanteennya dikelola oleh muslimin dari bagian selatan negeri Siam ini, dan bahkan bisa berbahsa Melayu. Kalau malam, kita cari rumah makan yang ada kaligrafi bismillah, syahadat atau gambar Ka’bah. Itu adalah tanda bahwa rumah makan tersebut dikelola oleh muslim dari selatan. Murah, meriah dan rasanya sesuai lidah kita.

Sangat berbeda dengan Ranggon [sekarang jadi Yanggon], ibu kota Burma [sekarang jadi Myanmar], yang agak berbau sosialis. Terlihat sisa-sisa masa kolonial, dengan berbagai bangunan tua yang megah dan jalan-jalan yang lebar. Mungkin terlihat lebar karena sedikitnya kendaraan yang lalu lalang. Aliran politik negara ini mirip dengan Indonesia dibawah Bung Karno, yaitu menganut asas BERDIKARI alias ‘berdiri di atas kaki sendiri’ [apa memang bisa berdiri di atas kaki orang lain, ngamuk dong yang keinjak kakinya], yang di implementasikan antara lain dalam bentuk tidak mau menerima bantuan asing, kecuali melalui PBB. Di saat itu sedang ada demo mahasiswa, tetapi entah mereka menuntut apa, saya tidak tahu.

Ketika sudah sampai di Ranggon, kami semua sangat terkejut, karena sebelumnya tidak diberitahu oleh perwakilan PBB yang di Bangkok, bahwa untuk masuk ke Ranggon akan diperlukan pengisisan laporan dan dilakukan pencatatan semua harta milik kita yang dianggap berharga. Bahkan cincin kawinpun didaftar, apalagi cincin berlian. Dan nanti ketika akan meninggalkan akan dicocokkan ulang. Sampai uang receh pun didaftar. Karena, mereka sangat ketat mengawasi valuta asing, dan saat itu antara kurs resmi dan kurs gelap, bisa berlipat hampir sepuluh kalinya.

Karena tidak punya macam-macam, seluruh ‘harta’-ku terdaftar dengan baik. Lain lagi dengan teman seperjalanan
ku. Ada yang kelupaan mencatatkan dolarnya sebanyak 5 dolar, dan ada yang kelupaan mencatatkan radio kecil satu band. Ternyata ‘lupa membawa harga’. Bahkan, salah satu teman, sarung mandar yang dipakainya di lego juga di pasar gelap, ya laku juga. Barang itu dibawa jalan-jalan ke pasar gelap yang betul-betul gelap. Selain gelap kurang pencahayaan, juga gelap transaksinya – artinya bisa dapat nilai tukar yang sepuluh kali kurs resmi tadi. Barang dan uang itu, ditukarkan dengan jade [atau batu giok], salah satu hasil tambang terkenal dari Myanmar, sampai saat ini. Tetapi kemudian, membawa persoalan waktu mau pulangnya, takut kalau diperiksa di lapangan terbang.

Sore hari kami menyempatkan jalan-jalan di sekitar hotel yang memang terletak di pusat kota. Di tepi jalan – ndasar di trotoar, banyak orang jual rokok eceran – seperti di kita dulu pada awal 50-an, dan sekarangpun oleh pedagang asongan di perempatan lampu merah atau lampu bangjo, kata orang Jawa Tengah. Dari situ, bisa terlihat situasi ekonomi negara ini. Tetapi banyak ditemui orang di jalan yang mengisap cerutu, tentu saja suatu hal yang kontradiktif. Selidiki punya selidik, ternyata bukanlah cerutu yang mereka isap, walau bentuknya persis cerutu. Artinya, daunnya bukan daun tembakau yang mahal, melainkan suatu daun tertentu dari tanaman lokal dan bukan tembakau. Bagaimana rasanya tidak tahulah.

Tokonya besar-besar, tetapi lemarinya banyak yang kosong melompong. Baik itu toko pribadi [yang jumlahnya sedikit], begitu juga toko milik negara. Sangat berbeda dengan Bangkok, yang barang dagangannya sampai ditumpuk di trotoirnya. Dan yang paling mengagetkan, diantara jualan di kaki lima, yang banyak justru adalah jualan kondom. Apalagi sekarang ya [barangkali], dengan adanya kampanye penggunaan kondom untuk mencegah HIV-AIDS. Kata orang UNICEF, itu kondom gratis bantuan untuk program Keluarga Berencana, yang kemudian dijual di pasar bebas.

Penduduk muslimnya kelihatannya cukup ada, kebanyakan mereka kelihatannya dari etnis Bangladesh yang memang berbatasan negaranya, dan mungkin sudah disana sejak jaman penjajahan Inggris dulu. Dan di Ranggon-pun kami mencoba mencari makanan muslim. Oleh resepsionis di hotel, ditunjukkan arah jalan dimana banyak moslem restaurant. Kami jalani sepanjang jalan itu, memang banyak kantor-kantor organisasi yang berlandaskan Islam, tetapi tak ada restoran muslimnya. Khawatir salah jalan, kami balik bertanya lagi, dan ternyata benar memang jalan itu yang dimaksud.

Rupanya beda persepsi pada kata-kata moslem restaurant tadi. Ternyata yang dimaksud olehnya, adalah orang-orang muslim yang berjualan makanan di meja-meja di sepanjang jalan itu. Memang ada sih, semacam nasi kebuli [warnanya, lho – entah rasanya] yang diletakkan di baskom besar dan sedang diaduk-aduk disertai kepulan yang membubung menandakan adanya kehangatan. Tetapi jadi tidak tega dihati untuk membeli dan mencicipinya, karena mengaduknya pakai telapak tangan, belum lagi yang jualan singletan thok, [dan maaf] wis ireng gilap sisan. Yah, kira-kira samalah dengan tambi yang di Gresik.

Program Coordinator UNICEF yang di Ranggon, ternyata orang Inggris yang beristerikan orang Minang, dan baru saja memiliki bayi yang diberinama Michael Muhammad. Kami diundang makan malam di rumahnya, dengan mengundang pejabat Burma – katanya setingkat Dirjen lah. Ternyata, datangnya pakai sarung [ya pakaian nasional mereka] dan menggunakan sandal jepit. Yah memang pakaian mereka semacam itu. Bahkan di kantor-kantorpun begitu. Kita saja yang jauh meninggalkan budaya asal. Coba kalau Gus Dur bertahan lama memerintah, mungkin kita sudah bisa ke kantor pakai sarung, kan enak isis. Dan ketika melihat foto pernikahan mereka, menjadi surprise karena ada fotonya Neng Ul [kakaknya Anang] dan Mas Nur. Ternyata sang istri tadi temannya mas Nur / ning Ul.

Di Burma, produksi garam, pengangkutan dan perdagangannya dikelola oleh sebuah perusahaan negara, seperti halnya di Indonesia, dan masih dalam aturan seperti monopoli. Ketika kami tiba di kantornya, kami dipersilahkan duduk di kursi tunggu. Kami semua saling mempersilahkan duduk, bukan karena lebih menghormati yang lain, tetapi berharap untuk tidak kebagian duduk sehingga bisa tetap berdiri saja. Karena kursinya banyak kotoran burung gereja, atau bahkan burung gagak [ndaklah, kan gedean] yang memang banyak terdapat di kota itu. Dan ketika sudah memasuki ruang perkantorannya, yang berupa los besar seperti kantor di PN GARAM juga, kami kira pegawainya belum datang. Semua meja, dipenuhi oleh tumpukan kertas sehingga tak terlihat wajah pegawainya, karena mengarsipnya ya di meja itu, bukan di lemari. Dan tanpa map atau ordner. Mana kertas yang dipakai, sejenis kertas stensil yang di akhir abad 20 sudah susah dicari di Indonesia, walau saat itu masih banyak juga.

Tetapi, seakan kita memasuki dunia lain ketika diajak berkeliling melihat fasilitas laboratoriumnya. Masya Allah, di ITB saja, di lab yang pernah saya ikut mengkelola, saya belum melihat peralatan seperti itu. Rupanya falsafah mereka [istilahnya saya], tidak apa makan di pincuk daun asal makanannya steak – dari pada makan di piring dengan sendok garpu dan pisau, tetapi yang dimakan gatot.

î

Karena produksi garam mengandalkan sinar matahari sebagai sumber energi untuk penguapan, dengan sendirinya sangatlah tergantung pada cuaca. Dan ini menimbulkan suatu dilemma yang sangat sulit dikelola. Di saat kemarau panjang, – artinya cuaca sangat kondusif bagi produksi garam – produksi akan sangat melimpah. Harga garam, terutama yang diproduksi oleh masyarakat harganya di lapangan akan sangat jatuh. Kalau musimnya tidak bagus, Indonesia akan kekurangan garam, sehingga harus mengimpor, seperti yang pernah dilakukan waktu itu – dari India dan Australia.

Untungnya daerah sekitar pegaraman adalah areal pertanian tembakau, sehingga memiliki harapan yang sama akan musim. Sama-sama mengharapkan hari-hari tanpa hujan sepanjang panjangnya. Coba seandainya masyarakat di daerah itu berbeda kepentingannya, akan terjadi perbenturan doa dan harapan. Yang satu minta hujan, dan yang lain mengharapkan tidak hujan. Jadi walau kemarau sepanjang apapun, boleh dikata tidak ada masyarakat yang melakukan istighosah [waktu saya bekerja di Madura istilah itu belum muncul kepermukaan walau disana mayoritas adalah NU] atau shalat istisqa’ untuk minta hujan kepada Allah swt. Karena, ternyata pulau Madura yang dibilang kering itu, memiliki banyak aliran-aliran ‘sungai’ bawah tanah, dan kadang-kadang kedalamannya hanya beberapa meter saja dari permukaan tanah. SubhanaLlah.

Di tempat tempat tertentu, air itu muncul ke permukaan sebagai suatu sumber [spring], bahkan di dasar laut – yang hanya kelihatan bila air surut, atau berupa sumur-sumur yang selalu memberikan air walau kemarau sepanjang apapun. Di Kalianget, ada aliran seperti itu yang hanya 2,5 – 3 meter saja dari permukaan. Dan di pompa dengan pompa berkapasitas 60 m3 per jam selama beberapa jam per hari, masih tidak habis-habis. Bahkan memompanya di setidaknya tiga tempat, yaitu di Sumur Kojur [desa Kalimook], di Sumur Baru [di dekat Lisoen] dan di Sumur Pabrik [dalam komplek pabrik Briket], dan di Pelabuhan [untuk mensuplai kebutuhan air tawar bagi kapal-kapal yang akan berlayar].

Apapun sifat musim kemarau yang melanda Madura dan pantai utara Jawa, [apakah basah atau kering], para politisi selalu berteriak, hanya teriakannya yang berbeda. Kalau produksi bagus, dan harga jatuh, mereka meminta pemerintah membeli garam para petani. Karena, harga di tambak memang sangat anjlok, sedangkan para petani tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan garamnya sampai beberapa musim. Penyimpanan garam hanya ekonomis dilakukan dalam keadaan curah, karena kalau sudah dalam karung, terlalu mahal di karungnya. Maka tengkulak yang memiliki modalpun, akan memanfaatkan situasi tersebut.

Di saat musim basah, dimana Indonesia kekurangan garam, mereka berteriak pula. Kali ini teriakannya, mengapa Indonesia yang banyak memiliki lautan harus sampai kekurangan garam. Mereka tidak tahu kondisi lainnya yang justru paling menentukan, yaitu adanya suatu waktu yang panjang [setidaknya 5-6 bulan] tanpa hujan walau hanya 10 mm pun [alias gerimis besar]. Dan kondisi semacam itu tidaklah banyak ditemui di pantai-pantai republik ini. Kalaupun ada, misalnya Palu dan di propinsi Nusa Tenggara Timur, tanahnya yang tidak sesuai. Selain dibutuhkan tanah yang datar dengan sedikit kelandaian, juga tanahnya harus kedap air, tidak boleh porous. Dan ini, memang hanya ditemui di pantai selatan Madura, dan pantai utara Jawa serta sedikit di Sulawesi Selatan. Pantai utara Madura saja tidak cocok untuk membuat garam. Kalau ada tanah pantai yang masih bisa dipakai budi daya yang lain, umumnya tidak akan digunakan untuk membuat garam. Kalau air lautnya memang sama saja. Madura bukannya dipilih karena air lautnya lebih asin dari daerah lain di tanah air ini.

Berbagai desakan seperti itu, membuat seakan pemerintah menjadi serba salah. Selain melakukan pembinaan terhadap para petugas Kantor Perindustrian Kabupaten yang memiliki areal pegaraman, juga melakukan operasi pasar yang dikenal sebagai opkoop atau pembelian garam rakyat di sentra-sentra produksi garam di Madura dan Jawa, guna membentuk cadangan nasional garam. Pemerintah juga melakukan kegiatan dalam rangka mencari areal-areal baru yang memiliki potensi dikembangkan sebagai areal pegaraman, misalnya dengan melakukan peninjauan ke Aceh [Lhok Semauwe, khususnya desa Mata Glumpang Dua], ke Sulawesi Selatan [sekitar Biringkanayya, Makassar dan Nassara, Jeneponto ] serta Sulawesi Tengah [sekitar Palu, daerah Talisse].

Tanpa terasa waktupun terus berjalan, dan proyek modernisasi pegaraman di Madura Timur sendiri tak kunjung dimulai. Seperti biasanya, setelah waktu tertentu jabatan direksi mengalami pergantian. Ir. John Anwar yang semula Dir Protek, diangkat menjadi Direktur Utama disertai dua orang dari Direktorat Jendral Industri Kimia, Drs. Munir Kimin dan Ir. Sjafri Saarin.

Karena masalah opkoop inilah, kemudian Ir. John Anwar mengundurkan diri dari jabatan Dirut. Tetapi, beliau bersikap ‘mikul nduwur, mendem jeruh’, walau beliau adalah seorang anak tunggal, dari keluarga campuran ayah Minangkabau dan ibu Jawa. [seperti Zainuddin dalam Tenggelamnya Kapal van der Wijk karya HAMKA, hanya dia antara Minang dan Makasssar/Bugis. Di Minang danggap orang Jawa, di Jawa dianggap orang Minang], tetapi rupanya memahami betul falsafah semacam itu. Menghindari show-down dengan atasan tak langsung di Direktorat Aneka Industri. Bahkan pak Anwar ini, kalau sedang naik mobil di Jakarta dan tahu di depan ada mobil orang yang lebih senior, maka si sopir tidak diperbolehkan menyalipnya, walau jalannya pelan.

Dan dia kemudian digantikan oleh Kolonel Soedijat, yang juga dari Kodam VIII Brawijaya. Memang saat-saat itu, hampir semua perusahaan negara dan juga pimpinan daerah diduduki sekaligus dijabat oleh orang-orang bersenjata, baik tentara maupun polisi. Bupati, biasanya untuk setingkat Letnan Kolonel, dian biasanya yang habis jadi Dandim alias Komandan Komando Distrik Militer. Itu adalah salah satu bentuk nyata dari apa yang dikatakan dwi-fungsi ABRI. Kalau di perusahaan negara, tergantung besarnya, biasanya sekitar Letnan Kolonel dan Kolonel. Dan biasanya, setelah masuk satu, maka akan banyak yang mengikuti. Misalnya saja, di tahun 1973 itu, di PN Garam selain ada satu Kolonel [Dirutnya], ada dua Letnan Kolonel [Soekarso dan Nurhadi], ada Mayor [Slamet, dan seorang lagi dan dari Angkatan Laut ir. J.A. Radjagoekgoek], ada Kapten [Soeseno], dan beberapa Letnan / Pembantu Letnan, bahkan sampai Sersan Mayor dan Sersan.

Setelah ditinggalkan pak Anwar, maka jadilah saya sebagai tumpuan hal-hal teknis mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan produksi garam, terutama jika berhubungan dengan pihak Departemen. Kalau untuk produksi garam, sepenuhnya masih dipegang oleh orang-orang lama, yang sudah minimal 20-an tahun, bahkan ada yang suda 30-an tahun berkutat dalam produksi garam, misalnya Pak Soentoro, pak Yabuyamin, pak Marsuki [memang begitu, bukan Mardjuki atau Marzuki], pak M. Djamaloedin, pak Soebagio dan pak Moehab. Pak Moehab ini yang paling muda diantara mereka, tetapi meninggal lebih dahulu. Itulah ajal.

Menghadapi bapak-bapak yang tahu globalnya, tetapi punya kuasa merupakan suatu hal yang sulit. Ternyata dalam situasi krisis garam tersebut, bapak-bapak itu sudah terlanjur menyampaikan suatu perkiraan produksi kepada Menteri – dan konon sudah pula sampai ke istana – guna mendukung program opkoop dan stok nasional garam dalam menghadapi musim-musim mendatang. Mereka meminta agar dibuatkan uraian secara teknis guna mendukung perkiraan produksi yang sudah dibuat hanya dengan grab from the air saja. Bahkan diskusi [yang cenderung menjadi berdebat] sampai kepada hal-hal yang dasar, seperti tentang siklus musim, dan bahkan sampai kepada pengertian siklus itu sendiri apa.

Orang yang mengenalku, pasti bisa memperkirakan bagaimana sikapku menghadapi mereka. Apalagi saya punya data yang lengkap tentang curah hujan di pegaraman dan wilayah penghasil garam, bahkan jauh berpuluh tahun kebelakang yang dikompilasi dari data Badan Meteorologi dan Geofisika, yang dipersiapkan atas perintah Pak Anwar. Para Kasubdit dan Direktur ku terdiam, jangankan membelaku, memberi komentarpun tidak. Dan diakhir pembahasan kukatakan “Kalau kita mengikuti pola musim yang dipaksakan seperti itu, malaikat pembawa hujan bisa marah nanti”. Saya baru tahu beberapa tahun kemudian, bahwa sesungguhnya mereka ternyata meng-apreciate sikapku.

Ganti pimpinan, ganti pula gayanya. Saya kira ini lazim dimanapun kita berada, karena gaya kepemimpinan seseorang boleh dibilang, merupakan gawan bayi, walaupun bisa dipelajari untuk menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan situasi yang dihadapi, dan pengalaman yang terekspose pada dirinya juga akan mempengaruhi gayanya kemudian. Saya boleh dibilang, dalam bekerja tidak pernah hitung-hitungan, apakah itu lembur atau cuti. Dan boleh dibilang, tidak pernah ambil cuti kecuali waktu menikah saja dan saat saat hari raya Iedul Fitri.

Di saat hari raya, saya mau mengambil cuti beberapa hari sesudah hari raya. Oleh atasan langsungku, Direktur Produksi & Teknik, karena ini bertentangan dengan instruksi Dirut maka akhirnya diambil jalan tengah dengan menugaskanku untuk melakukan kunjungan ke pegaraman Gresik Manyar. Tetapi kemudian hal ini dipermasalahkan oleh sang Direktur Utama, dan sang Direktur tidak melakukan pembelaan yang seharusnya dilakukan. Malah saya diminta untuk menerima peringatan yang diberikan sang Dirut. Mulailah saya tahu dengan tipe kepemimpinan yang bagaimana saya bekerja sekarang.

Ditambah lagi, kemudian dengan upaya pencabutan pelaksanaan dana hari tua yang dibentuk dengan mengumpulkan lebih dari 20% gaji dimana sebagian besar komponen memang ditanggung perusahaan, dan sebagian kecil dipotongkan dari gaji karyawan, sudah dimulai beberapa tahun. Disinilah saya mulai bersinggungan dengan masalah kepersonaliaan, mungkin karena kebetulan saya yang paling ngotot agar kebijakan dana hari tua itu dipertahankan, maka kemudian saya ditunjuk sebagai salah satu wakil karyawan untuk membahasnya dengan pihak manajemen. Tentu saja gaya seperti ini sangat tidak nyaman bagi saya. Dan baru kuketahui beberapa tahun kemudian, di pertengahan dekade 1990-an bahwa orang dengan golongan A seperti saya ini, memiliki kecenderungan untuk patuh pada aturan dan akan sangat tidak senang jika ada yang mempermainkan peraturan. Berbeda dengan orang yang memiliki golongan darah B, yang cenderung untuk mencari peluang dari peraturan yang ada.

î

Tanpa diduga sebelumnya, jika selama ini hidupku hanya berkutat di sekeliling masalah garam saja, kemudian saya diajak serta untuk ikut dalam suatu Konvensi Kejuruan Kimia yang diselenggarakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia [PII]. Inilah untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kampus ITB, bertemu lagi dengan beberapa dosen dan teman seperkuliahan dulu. Pada hari kedua, saya dan pak Sjafri Saarin datang agak terlalu pagi, sehingga acara belum dimulai. Kami datang paling awal dan duduk berdampingan, kalau tidak salah pada baris ke dua dalam salah satu ruangan diselenggarakannya konvensi, yaitu di Hotel Indonesia.

Kemudian datang peserta-peserta yang lain, diantaranya adalah para dosenku dari ITB yang duduk pada baris yang sama tetapi dipisahkan oleh pak Sjafri. Ketika pak Sjafri pergi ke toilet, saya bergeser posisi menghampiri pak Soedarno. Saat itulah terjadi dialog, yang pada intinya bila saya disana tidak berkembang lagi, diajak untuk balik ke ITB sebagai dosen sambil bisa belajar kembali. Dan ketika pak Sjafri kembali, sayapun beringsut balik. Seperti tidak terjadi suatu apapun. Dalam konvensi ini pula, saya berjumpa kembali dengan seniorku, Ir Ahmad Ganis yang semenjak lulus bekerja di Sucofindo. Seperti biasa kami saling bertukar kartu nama.

Apa yang disampaikan pak Darno tadi, membuatku memikirkan sesuatu yang selama ini tidak pernah terfikir. Yaitu untuk pindah kerja. Apalagi dengan situasi di Kalianget yang sudah berubah, tetapi sayangnya ke arah yang kurang kondusif. Karena saat itu saya sudah punya satu “kapal” dengan dua “sekoci”, tentunya harus dipikirkan lebih matang. Perbincanganpun dimulai. Dan saran serta pendapat dari berbagai pihakpun mulai dikumpulkan. Selain dengan keluarga dan orang-orang tua, juga dengan sejawat lain. Diantaranya meminta pandangan ke Ahmad Ganis, melalui telepon ketika saya sedang bertugas ke Surabaya.

Dan diluar dugaan, malah olehnya disampaikan bahwa bila memang saya mau pindah pekerjaan, ya sudah ke Sucofindo saja, dengan tempat kedudukan di Jakarta. Saya sampaikan bahwa mungkin kalau ke Jakarta saya masih agak enggan, karena semenjak semula sudah merasa kurang cocok dengan Jakarta. Dan dari pembicaraan telepon lagi beberapa waktu kemudian, ternyata bisa tempat kedudukannya di Surabaya. Dan pada suatu tanggal saya diminta untuk bertemu dengan Pak Soeparwadi [dosen saya dulu di TK-ITB] dan Nabiel Makarim [teman di TA-ITB, yang kemudian meneruskan pendidikan ke Australia setelah habis masa-masa demo angkatan 66] yang ‘bergabung’ juga dengan Sucofindo dalam menangani waste-treatment, dan saat itu ada kerja sama dengan Fakultas TK-ITS dalam penanganan berbagai limbah pabrik di Jawa Timur. Nabiel ini sendir statusnya sebagai pegawai pada Kantor Menteri Lingkungan Hidup. [dan dialah yang kemudian menjadi Menteri Lingkungan Hidup pada jaman pemerintahan Megawati Soekarnoputri, yang sedang ribut tentang masalah di Buyat].

Sebelum akhir tahun 1988, saya menemui Ahmad Ganis di kantornya di Slipi, lalu mengisi beberapa form dan pulang kembali ke Kalianget. Saya akan mulai aktif di Sucofindo pada 2 Januari 1989 di kantornya di Surabaya, yang di Tegalsari [karena ada kantor juga di Jembatan Merah]. Saat itu belum lagi ada kontak dengan pihak TK-ITB.

Sayapun kemudian menyampaikan surat pengunduran diri, yang saya sampaikan by hand kepada Kepala Biro Umum, karena semua Direksinya ada di Surabaya]. Sesuai dengan peraturan yang ada, saya masih bisa menempati rumah dinasku sampai 31 Maret 1989, yaitu 3 bulan setelah pengunduran diri tersebut. Surat persetujuan dari Direksi atas pengunduran diri tersebut, baru saya terima pada Januari 1989, ketika saya menemui mereka di Surabaya dan anehnya pada surat tersebut pakai tembusan ke Direktorat dan Direktorat Jenderal di Jakarta. Itulah tahap awal dari perjalanan dharma baktiku, yang kumulai di Kalianget.

Nikmat yang dikaruniakan Allah swt kepada kita, dalam berbagai bentuknya, tentu saja membawa suatu kewajiban bagi kita untuk melakukan sesuatu atas nikmat itu. Kesadaran seperti itu, baru terlintas setelah sekian tahun merasakan berbagai nikmat dalam segala bentuk dan wujudnya. Ketika itu sedang dalam perjalanan di hutan belantara rimba raya Kalimantan, tepatnya sedang menyusuri bakal jalan antara Sintang – Putussibau. Kalau ada judul sinetron “Sengsara Membawa Nikmat”, maka sesungguhnya kehidupan ini adalah “Nikmat Membawa Tanggungjawab”.

Wa Allahu a’lam


*] dari Kalianget ke Telaga Kahuripan

7 Tanggapan to “teka KALI nang TELAGA”

  1. hendra Says:

    pak,mau klw Dir financenya tggl di mana?ap di kompleks RRI?

    • ongkeksuling Says:

      Kalau rumah dinas beliau di Jalan Indragiri, Surabaya. Ada beberap arumah dinas PN Garam disana.
      Bila sedang di Kalianget, beliau tinggal di Mess, dan bila sore sering ke keluarganya yang di Sumenep. Tetapi rasanya bukan di RRI, baik lokasi RRI lama, apalagi di RRI yang baru.
      Apakah anda mengenal beliau, atau malah masih ada hubungan kekerabatan dengan beliau?

      Salam, dan semoga menjadi saling mengenal diantara kita.

  2. hendra Says:

    maaf,apakah nama Dir financenya hanya M.Thayeb sj tnpa gelar yang lainnya,selain titel Drs?dan anda tahu rmh bliau?mgkin msh ingat di daerah mana?

    • ongkeksuling Says:

      Maaf ya, memang betul ada gelaran lain yang disandang beliau sebagai bangsawan Sumenep, yaitu R – Raden. Saya tidak tahu persis di mana kediamannya, seingatku sehabis pemakaman beliau, rumahnya ada di sisi barat jalan poros depan masjid TRunojoyo[daerah Bangselok atau Karangduwek]. – Halim Perdanakusuma

  3. hendra Says:

    Sy berterima ksih Atas informasi yg bpk berikan,
    klw org blg”Kepaten obor”itulah sy.klw keluarga dr ibu sy(cirebon) sy mengenal smua tp kluarga dr ayah sy,sy hanya tahu nama mereka dan yg sy kenal fisik hanya adik ayah sy(tante uting)itu pun saat sy SD kls 6,dan dr info yg bpk berikan,Insya Allah akn sy telusuri alamat tersebut.
    Maaf pak,apakah RP.M.Thayyeb msh kerabat dr mantan gubernur jawa timur.Bpk RP.Mohammad Noer (alm)maaf klw pnyebutan nama bpk gubernur tdk lengkap….itu krn kurang pahamnya sy….beribu ribu terimakasih sy ucapkan atas info dr bpk dan semoga bs tetap saling bersilahturahmi….wassalam

    • ongkeksuling Says:

      Kalau pak Thayib setahu saya hanya menuliskan R saja, jadi bukan RP, RB atau mungkin yang lainnya lagi.

      Mas Hendra, saya sendiri tidak begitu banyak tahu, karena saya adalah pendatang di Kalianget, hanya beristerikan putri asal Kalianget, yang keluarganya berasal dari Sumenep.

      Nanti akan saya tanyakan kepada pihak yang lebih mengerti, tetapi saya sendiri sekarang berada di Jakarta. Mungkin nanti kita lanjutkan lewat japri saja ya.

      Semoga obornya menyala kembali.

      Terima kasih. Salam

  4. hendra Says:

    Assalamualaikum wr wb

    sy hanya dpt mengucapkan terimakasih yg sebesar2nya atas pertolongan bpk.

    Salam
    Rb.Hendra agus afandi Mk..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: