GURU-GURUKU

GURU-GURUKU

oleh

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Dzul Hijjah 1426 H

Sosok seorang guru

pastilah akan selalu dikenang oleh para muridnya.

Dari merekalah kita diperkenalkan kepada berbagai hal, tentang berbagai ilmu, keterampilan dan perilaku

yang sangat kita perlukan

dalam menjalani hidup di kemudian hari.

Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari bisa menjadi mahir, tidaklah terlepas dari peran seorang guru. Baik guru di taman kanak kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah. Peran mereka sangatlah besar dalam mengembangkan potensi yang ada pada diri kita. Jika dia baik, biasanya kebaikannya akan dilupakan begitu saja; sebaliknya bila ada kekhilafan atau kesalahan, itulah yang kemudian dikenang dan dibicarakan.

Menjadi guru pada masa lalu lebih didasarkan pada keinginan untuk mengabdikan dan mengamalkan apa yang dimilikinya [berupa ilmu dan pengetahuan] kepada generasi yang akan datang. Semangat untuk mengembangkan orang lain itulah yang mendorong mereka untuk berperan sebagai seorang guru. Sepertinya tidaklah begitu banyak persyaratan atau ketentuan. Setidaknya itu berlaku bagi guru-guru dari kalangan swasta, yang tidak kalah perannya dalam upaya mencerdaskan bangsa ini. Tentunya berbeda dengan keadaan saat ini. Apalagi dengan dikeluarkannya undang-undang beberapa waktu yang lalu, tentang guru dan dosen.

Ada guru secara formal yaitu mereka yang mengajar di dlam kelas, tetapi tidak sedikit jumlahnya pula guru yang tidak formal [sengaja dipilih kata ‘tidak formal’, karena kalau menggunakan informal atau non-formal itu punya arti tersendiri dalam undang-undang sistem pendidikan nasional kita]. Guru yang tidak formal ini berada di tengah masyarakat, seringkali tidak terdeteksi dan tidak teridentifikasi, bahwa sesungguhnya mereka pun berperan sebagai guru. Bukankah kita bisa belajar pada siapa saja, dan mereka itulah guru kita yang sesungguhnya.

Dari sekian banyak guruku, ada beberapa orang secara khusus masih mengingatkanku kepada mereka, beberapa diantaranya adalah :

î

Sekolah Brug

Pak Sabin

Rupanya aku masih terlalu kecil pada saat itu, belum sampai umur yang seharusnya untuk mulai belajar di sekolah. Aku hanya ingat-ingat sedikit, tetapi sosoknya masih aku ingat. Beliau adalah tipe guru hasil didikan Belanda, dan mempertahankan nasionalitinya antara lain melalui cara berpakaian. Beliau menggunakan picih, menutupi rambutnya yang sudah mulai banyak memutih. Entah usia pensiun waktu itu berapa, koq sudah banyak yang putih ya.

Bu Sis

Beliau mengajarnya dengan menggunakan kain dan kebaya tetapi tanpa kudung [kan bukan orang Gresik asli] dengan rambut disanggul besar, sebagaimana hampir semua guru wanita pada waktu itu. Baru guru-guru generasi berikutnya yang menggunakan rok&blus, tetapi roknya panjang-panjang, antara mata kaki dan lutut.

Bu Sis ini adalah isteri dari Pak Siswomihardjo, dan ibu dari teman-temanku. Mungkin karena hubungan baik antara keluarga kami dengan keluarganya yang bertetangga, saya bisa diterima di sekolah tersebut walau usianya belum cukup.

î

Madrasah Ibtidaiyah Nahdhatul Ulama

Sukodono

Cak Waji

Saya tidak tahu sampai sekarang nama lengkapnya siapa. Beliau adalah merupakan sosok yang sudah lebih dewasa dibanding guruku yang lain pada saat itu. Setahuku beliau tinggal di Kauman, rumahnya mengadap samping masjid Jamik pada sisi sebelah selatannya. Beliau mengajarkan mengenal huruf Arab dan membaca al-Quran ketika saya sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Nahdhatul Ulama di Sukodono. Beliau selalu menggunakan kopyah.

î

Cak Hamdan

Penulisan namanya mungkin Hamdan dan mungkin pula Chamdan, saya tidak ingat pasti. Selain mengajarkan mengenal huruf latin [ya tulisan seperti ini], beliau juga aktif dalam kepanduan Ansor. Ketika mengurus pendaftaran dan memperoleh Kartu Anggota Kepanduan Ansor, saya berurusan dengan beliau di rumahnya, di Jalan Keroman, menghadap ke barat. Orangnya berkulit putih dan berperawakan kecil.

î

Cak Asan atau Cak Kasan

Sepertinya nama lengkapnya adalah Hasan Basri, tinggalnya di Bedilan, entah di gang 2 atau 3. Orangnya tinggi semampai, mungkin seukuran Nashif. Beliau dulu mengajarkan hal-hal yang berkenaan dengan kebahasaan Arab dan agama. Beliau mengajarkan pepatah dalam bahasa Arab, menulis bagus dalam huruf Arab [khat] dan lain lain.

Beberapa pepatah atau mahfudhat yang diajarkannya, masih kuingat sampai sekarang, setidaknya bunyi dan artinya, antara lain [yang merupakan 4 yang pertama adalah]

  • Al amalu naafi’un, semua perbuatan itu harus bermanfaat
  • Al wa’du dainun, janji itu adalah hutang
  • At thamaa’u syaqaaun, serakah itu mencelakakan
  • Man Jadda wajad, siapa yang berusaha akan menemu-kannya

Pada waktu kelas 1, dikala itu ada pelajaran Ceritera, dimana sang guru bercerita dan kita semua para murid mendengarkannya dengan baik. Beliaulah yang membawakan cerita yang diambil dari sebuah buku tebal bertuliskan arab dan tentunya berbahasa arab, bukan tulisan arab dan berbahasa jawa atau indonesia [alias Pegon]. Ceritanya mengenai Sindibad. Ya, yang kebanyakan orang menerimanya dari sumber barat, berdasarkan terjemahan dari buku bahasa arab tersebut. Dalam bahasa inggris, judulnya akan menjadi Sindbad the Sailor.

Betapa asyiknya mendengarkan cerita sehabis pelajaran olah raga yang diselenggarakan di lapangan Telogopojok, pada hal sekolahnya di Sukodono. Jadi pelajaran ‘olahraga’-nya ya jalan kaki itu. Tidaklah, sebagaimana standar pelajaran olah raga pada waktu itu, di lapangan yang diajarkan ialah kasti.

Guruku ini, memiliki wadanan yang begitu melekat pada dirinya, karena banyaknya nama Hasan, yaitu Asan Bedoyo [bagi yang tidak tahu, bedoyo adalah belungko atau kerai – sejenis timun tetapi sangat lain teksturnya – yang direbus].

î

Cak Mat [Jebres]

Seingatku beliau dulu mengajar olah raga, karena saya ingat ketika memerlukan seragam celana pendek untuk olah raga berurusannya dengan beliau. Nama sesungguhnya siapa, saya tidak mengetahuinya dengan pasti. Yang pasti tinggalnya di Kampung Rogo. Entah mengapa beliau mendapat wadanan Jebres. Mungkin tetangganya atau yang sebaya dengannya bisa memberikan penjelasan.

î

Madrasah Ibtidaiyah Nahdhatul Ulama

Teratee

Cak Wahib

Kalau yang satu ini, saya tahu persis namanya. A. Wahib bin Tamim, atau biasa dituliskan A. Wahib Tamim. Nenekku menyebut orang tuanya adalah Yai Tamim. Dan bahkan saya juga mengenal ibunya, yang kami murid ngajinya menyebut Wak Ning. Saya juga belajar mengaji di rumahnya Cak Wahib, setelah saya tidak belajar mengaji di Kaliboto.

Saya banyak diajar oleh beliau ketika masih di Kelas 2 dan 3, yang sepertinya pada saat itu sudah menerapkan sistem mengajar dengan guru kelas. Karena sepertinya saya hanya berhadapan dengan cak Wahib selama itu. Ya pelajaran menggambar, pelajaran bahasa Indonesia, pelajaran bahasa Arab dan sebagainya. Dan memang sepertinya beliau ini seorang yang multi talenta. Kalau bercerita, sangat mengasyikkan pendengarnya.

Saya pernah membawa komik ke sekolah, yang ceritanya mengenai seekor kera cerdik. Yang oleh ulah si kera ini, akhirnya semua binatang di kebun binatang itu memperoleh kebebasannya. Dan ketika beliau mengetahui komik tersebut, bukannya memarahi saya, tetapi justru menceritakan kepada seluruh murid bahwa cerita itu adalah merupakan suatu upaya memperoleh kemerdekaan sebagaimana yang dilakukan oleh bangsa kita Indonesia dari penjajahan Belanda dan Jepang. Sepertinya hal itu biasa saja, tetapi hal itu memberikan kesan mendalam pada diri saya, sehingga mendorong saya untuk melihat sesuatu yang tersirat dari apapun, dan tidak hanya melihat yang tersurat.

Satu hal lagi yang tak akan pernah kulupakan tentang kiat dari beliau, dan justru itu kemudian menjadi kebiasaan hingga usiaku sekarang yang hampir hampir sewidak [malah kalau menurut kalender qomariah, sudah lebih sewidak]. Bahwa belajar itu bisa dari mana saja, antara lain termasuk dari bungkus kacang. Pada tahun-tahun itu, selain penggunaan daun [apapun jenisnya, seperti daun pisang yang berlaku sampai sekarang, daun jati yang segar maupun yang kering sangat lazim digunakan] penggunaan kertas koran bekas dari luar negeri sangatlah marak. Mungkin ada importirnya. Beliau menceritakan, bahwa beliau bisa berbahasa Inggris [waktu itu masih jarang sekali lho], antara lain adalah dengan membaca bungkus kacang yang berupa koran bekas, yang isinya juga banyak memuat serial cartoon yang bermacam-macam. Dan ini menjadikan kebiasaanku untuk membaca semua tulisan yang ada dibungkus apapun. Walaupun itu bungkus gorengan, yang bila kertasnya terkena minyak goreng akan menjadi semi transparan.

Dan kebiasaan seperti itu, ternyata banyak memberikan solusi atas persoalan yang sedang kita hadapi. Salah satu contoh, suatu pagi di tahun 1985-an, ketika itu saya sedang belajar mengoperasikan dan membuat program untuk mencetak laporan dengan menggunakan line-printer yang terbatas hanya sekitar 80 character per line, pada hal yang mau dicetak per barisnya lebih dari 80 cpl. Dan ketika membeli roti dari tukang roti yang ider keliling kampung, ternyata bungkusnya adalah bentuk laporan yang setiap barisnya lebih dari 80 cpl. Betapa gembiranya, paling tidak ada contoh model yang lazim digunakan oleh sebuah perusuhaan besar. Dan dengan nalar sederhana, barangkali ada model-model lain dlam kumpulan kertas bungkus itu, maka penjual rotinya segera kukejar, dan dia kebingungan dikira apa pengembaliannya kurang atau apa. Seluruh kertas bekas print-out yang ada saya beli, dan banyak hal yang bisa kudapat dari kumpulan kertas bekas tersebut.

Acara mengaji di rumahnya, dimulai sesudah shalat Ashar, yang mana pada saat itu Cak Wahib masih mengajar di Muallimat NU di Sukodono. Prosedurnya, diawal akan dimulai pelajaran, seluruh murid ngelalar, yaitu dengan membaca ayat-ayat dari beberapa surat secara bersama-sama. Hal ini tentu akan memperlancar mereka yang sudah diajar, dan memulai mendengarkan bagi murid yang belum sampai kesitu. Kemudian, dilakukan mengajar mengaji bagi anak-anak yang kecil oleh mereka yang sudah lebih besar dan sudah diberi kewenangan untuk mengajar [semacam asistennya begitu].

Saya termasuk tergolong yang sudah agak lebih besar, dan ikut mengajar anak-anak yang kecil. Masing-masing murid membawa sendir mashaf mereka. Ada yang juz-amma saja, ada yang al Quran 30 juz. Guru [asisten] dan murid berhadapan langsung. Asisten, akan mengikuti bacaan murid dengan menggunakan mashaf yang disodorkan oleh murid, jadi membacanya terbalik. Dan ini ternyata memberikan kemampuan pada diri saya, untuk terbiasa membaca secara terbalik, tidak saja huruf arab tetapi juga huruf latin. [Hati-hati meletakkan dokumen di meja anda, saya bisa membaca dari arah berlawanan lho]. Saya tidak tahu apakah hal itu merupakan sesuatu yang biasa pada semua orang, atau harus dibiasakan dulu baru bisa.

Kadang-kadang Cak Tar [Muchtar] adiknya Cak Wahib, juga ikut mengajar.

î

Cak Ron

Mungkin ada yang bertanya tanya, dari tadi koq guru yang diceritakan disebut dengan panggilan cak. Memang begitulah kebiasaan yang berlaku di kalangan madrasah saat itu, menyebut nama gurunya dengan cak dan namanya [bila sebagai orang ketiga], tetapi bila berhadapan [sebagai orang kedua] menyapanya dengan ustadz atau pak tanpa menyebut namanya.

Cak Ron, nama lengkapnya Ghufron, orangnya tinggi tetapi tidak kurus, dan berkaca mata yang agak tebal. Rumahnya di Semarangan, dan kemudian menjadi Pak Lurah Teratee. Beliau mengajar olah raga, menyanyi, menggambar, pekerjaan tangan [pra-karya], bahasa Indonesia, serta yang lainnya seperti ilmu hayat. Dari beliau inilah saya menjadi suka membaca, mengarang, karena apresiasinya akan hasil karanganku pada pelajaran bahasa Indonesia. Pada saat itu, ada buku pegangan, dan tugas mengarang diberikan berdasarkan empat buah gambar yang sekuensial. Dari empat gambar itu, kita menuliskan sebuah karangan. Saya sering “curi start” dengan lerlebih dahulu mengangan-angankan apakah yang akan saya tulis, seandainya deretan gambar itu nanti menjadi acuan menulis karangan.

Menggambar dan pekerjaan tangan memang merupakan hal yang sulit bagiku ketika sekolah dulu. Tetapi kalau menggambarnya pakai penggaris, seperti yang kemudian dipelajari dalam menggambar teknik, sih OK saja. Bahkan ketika di ITB jadi asisten dosen pelajaran menggambar teknik. Memang pengembangan motorik halusku agak payah.

î

Cak Asan

Cak Asan ini nama lengkapnya Chasan Basri, rumahnya di dekat sekolah. Kalau mengajar selalu pakai kopyah. Beliau mengajar berbagai pelajaran agama [fiqih, tarikh, membaca al-Quran dan tafsir] dan bahasa arab di kelas 5 dan 6. Kecuali membaca al-Quran, hampir semua pelajaran dari beliau nilaiku merah, terutama fiqih dan tafsir. Hal ini terkait dengan metode asesmennya yang dilakukan secara bil-lisaan, yaitu dengan mendudukkan 3 orang murid di hadapan meja guru, dengan bentuk pertanyaan seperti “rukun wudhu yang ke 4”. Dan ketika saya sedang menghitung urutannya dengan membayangkan apa yang saya lakukan ketika berwudhu, maka beliau sudah mengetuk palu untuk memindahkan pertanyaan ke murid berikutnya. Ini bukan pembelaan.

Begitu juga untuk pelajaran insya’ [salah satu cabang pelajaran bahasa Arab, pertanyaan ulangannya hanya satu atau dua, misalnya tuliskan fi’il madhi dan fi’il mudhari’ untuk kata jalasa. Nilaiku biasanya adalah doubel sin, yang ditulisnya dengan س س yang artinya ‘salah semua’, disingkat dalam huruf arab dua buah ‘sin’. Tetapi untungnya kalau menuliskan kata ganti orang yang empat belas itu, ya masih hafal.

Dan yang tak terlupakan dari beliau, adalah ketika pelajaran fiqih, yang menjelaskan tentang batalnya wudhu, diantaranya ada klausul “tertidur sambil duduk yang sampai menyebabkan satu sisi pantat terangkat dari tempat duduknya” dan beliau menjelaskan secara visual dengan menggambarkan di papan tulis dengan betuk huruf “W” dimana yang satu besar dan yang satu kecil sehingga dasarnya tidak sama. Yang tentu saja membuat tawa para murid meledak.

Cak Asan ini juga adalah ‘guru spiritual’ bagi murid yang akan mengikuti pertandingan kasti. Sekolah kami selalu menjadi juara kasti antar sekolah tingkat SD di kota Gresik, khususnya pada saat perayaan 17 Agustusan. Saingan terberat adalah SDN Bedilan alias Sekolah Brug. Salah satu faktor yang sangat menentukan, adalah usia murid dari dua sekolah ini tergolong ‘kawak’, alias sudah besar-besar, bahkan ada yang sudah mencapai 17-an tahun. Yah siapa yang nggak keder, murid sekolah yang normal [seperti Kebangsaan, Muhammadiyah] kan paling gedenya usia 13an tahun. Walau beda 4 tahun, kan ibarat anak SMA lawan anak SD, ya menangan lah.

Walau begitu para pemain, masih dibekali doa untuk memenangkan pertandingan, dan juga suatu tulisan yang ditempelkan di bagian dalam saku belakang seragam celananya. Konon, hal itu akan membuat lawan tidak mengetahui keberadaan si pemain sehingga tidak bisa dikenai bila dilemparkan bola ke arahnya. Saya yang bukan pemain tidak boleh mengetahui hal itu. Saya mengetahuinya, ketika teman-temanku mencoba menghafalkan dengan melafalkannya tanpa bersuara, dan saya melihat kebibirnya. Tahulah saya, karena pada usia-usia itu setiap malam Jumat adalah merupakan kewajiban untuk membaca surat Yaa Sin, bahkan dengan cepat setengah hafal, bahwa lafal yang diajarkan adalah salah satu ayat dalam surat Yaa Sin tersebut. Mau tahu? Tidak cukup cepek seperti pak Ogah lho. Konon ayat yang dihafalkan itu, adalah ayat yang dibaca oleh Rasulullah saw ketika menyelinap keluar dari kepungan kaum Quraisy ketika akan berangkat hijrah ke Yastrib [yang kemudian dinamakan Madina]

î

Cak Bolah

Cak Bolah, nama lengkapnya Chasbullah, tinggalnya di Kampung Jagalan, Karangpoh. Penampilannya rapih, dengan selalu memakai kopyah dan berkacamata. Mirip dengan M. Natsir yang tokoh MASJUMI. Belau juga menjabat sebagai Kepala Sekolah, hingga beberapa tahun kemudian.

Beliau mengajar ilmu-ilmu eksakta dan sosial, mulai dari berhitung, ilmu bumi, untuk kelas 5 dan 6. Karena buku acuan pada jaman itu masih sulit, maka beliau mengajarkan dengan terlebih dahulu menuliskan di papan tulis dan kemudian menceritakannya untuk memberikan penjelasan, khususnya untuk ilmu bumi.

Ketika kelas 4, pelajaran ilmu buminya meliputi Pulau Jawa, kelas 5 meliputi wilayah Indonesia, dan kelas 6 meliputi wilayah dunia. Saya sangat menyukai pelajaran ini, walau cara mengajarnya sangat tradisional, sehingga saya sangat memahaminya dengan baik.

Beliau menyiapkan para muridnya dengan baik guna menghadapi ujian akhir yang diselenggarakan oleh pemerintah cq Departemen P & K [Pendidikan dan Kebudayaan]. Entah namanya waktu itu apa. Karena nama departemen yang mengurusi pendidikan ini sering berganti. Beliau tidak segan meluangkan waktu untuk memberikan pelajaran tambahan selama bulan puasa [yang waktu itu libur penuh] di malam hari sesudah shalat tarawih. Walau hasilnya memang tidak bisa 100% lulus. Dan ini bukan salah pendidiknya, tetapi karena beragamnya kapasitas dari muridnya. Tetapi dibandingkan dengan madrasah lainnya, hasil yang dicapai sekolah kami sudah sangat baik.

î

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Saya tidak ingat siapa kepala sekolahku ketika saya masuk SMP, yang teringat hanyalah wakil kepala sekolahnya yaitu pak Bachri. Kalau tidak salah namanya pak Piet, entah siapa dia. Kemudian kepala sekolahnya dijabat oleh guru baru, pak Hadi Soewardi, yang juga mengajar bahasa Indonesia. Dan kemudian digantikan lagi oleh pak Soemo. Kemudian ketika terbentuk SMP Negeri II, pak Bachri menjadi kepala sekolah disana, dan pak Soeseno kemudian menjadi wakil kepala sekolah.

Kebanyakan guru masih membujang, kalau ada yang sudah berkeluarga biasanya tinggal di Perumahan Rakyat, yang sekarang berada di perempatan Petro Kimia.

î

Pak Hamdani

Beliau seingatku yang mengajar mata pelajaran ilmu ukur, mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 3 dan aljabar ketika kelas 3. Beliau juga menjadi wali kelasku ketika saya berada di kelas 2-C dan 3-B. Cara mengajarnya yang enak, membuat kita mudah mengerti tentang apa yang diajarkannya.

Karena saat itu masih menggunakan papan tulis dari kayu yang berwarna hitam dan kapur tulis, untuk mengajar ilmu ukur diperlengkapi dengan segitiga kayu yang besar dan juga jangka besar yang bisa diletakkan kapur di salah satu ujungnya. Saya tidak tahu, apa yang digunakan guru sekarang ketika papan tulisnya sudah menggunakan white-board. [Payah saya ini, mengurusi sebuah sekolah tetapi tidak tahu apa yang digunakan guru sekarang untuk mengajar matematika, guna membuat lingkaran serta garis-garis sejajar atau sudut menyiku.

Ketika kelas 2, jumlah paralel kelasnya ada 3 buah, yaitu 2a-2b dan 2c. Dimana antara kelas yang satu dengan kelas yang lain memiliki pintu penghubung yang selalu dalam keadaan terkunci. Ada bagian pintu yang terdiri atas kaca bening, sehingga kalau kita berdiri masih bisa melihat papan tulis di kelas sebelah. Pada hari tertentu, ada jam pelajaran yang sering digunakan untuk ulangan ilmu ukur atau aljabar. Dimana 3 jam pelajaran pertama, sebelum istirahat, itu berurutan mulai dari kelas 2-a, lalu 2-b dan terakhir 2-c lalu istirahat. Teman yang duduk di deretan paling depan sebelah kiri, [Suwanti, putri dari pak Bisri – Wedono] bisa memanfaatkan posisinya untuk melihat soal yang ada di kelas 2-b. Yah dengan berbagai cara berpura-pura melakukan apa, sambil berdiri membaca perlahan soalnya, dan saya [yang duduk di deretan kedua] menuliskan soal kemudian mengerjakannya dengan cepat. Lalu mendistribusikan sesama murid yang berdekatan saja, dan yang terlibat dalam usaha ini. Nakal ya.

Beliau selalu mengenakan baju putih tangan pendek. Kemana-mana dengan menggunakan sepeda. Terutama bila siang hari mengajar di PGA atau sekolah lainnya.

î

Pak Supari

Tinggalnya di Surabaya, dan setiap hari pulang pergi ke Gresik, kadang kadang dengan mengendarai sepeda motor, mungkin merk Jawa atau TWN, karena warnanya merah. Walau tampangnya agak serem, karena agak kehitaman dengan rambut berombak, tetapi murah senyum dan sering membuat kita tertawa. Sangat mengesankan dalam mengajar ilmu alam, terutama ketika mengajarkan hukum Archimides yang disertai dengan berbagai contoh soalnya.

Saat itu bukanlah suatu masalah atau melanggar, bila seorang guru merokok di dalam kelas. Beliau merokok, dengan tembakau yang memiliki keharuman sangat khas, seperti bau roti marie. Sehingga muridnya senang bila beliau memberi soal di papan tulis, kemudian sambil menunggu kita mengerjakan soal, beliau merokok dengan keharuman roti marie. [Orang Gresik memang agak aneh, menyebut biskuit itu juga dengan roti. Ini komentar orang bukan Gresik lho. Tetapi benar juga mereka].

î

Bu Pran

Ibu ini, suami isteri mengajar di SMP Negeri, tetapi suaminya [Pak Kapiarso] saat itu sedang bertugas di tempat lain. Beliau tinggi semampai dan bisa dibilang termasuk kerempeng. Mengajar menyanyi dan pra-karya. Walau tidak merupakan guru favorit anak-anak, juga tidak merupakan guru yang tidak disenangi. Ya biasa-biasa saja. Kalau tidak salah namanya Lilik Prawaningsih [atau ini plesetannya yang teringat].

î

Pak Hadi

Pak Hadi yang memiliki nama lengkap Hadi Soewardi, yang kepala sekolah ini, mengajar bahasa Indonesia. Beliau tinggalnya di daerah Kenjeran, Surabaya, dan setiap harinya pulang balik dengan mengendarai sepeda kumbang. Entah mereknya, apa. Juga menggunakan topi polka, seperti topinya meneer Belanda jaman dulu. Motornya menggunakan tuter yang seperti terompet dengan bola karet di belakangnya, sehingga masih bisa dibunyikan walau dalam keadaan mesin mati. Rambutnya sudah mulai beruban, dan memang agak berperawakan galak.

Entah karena apa, beberapa murid sempat di skors selama satu minggu. Begitu juga seseanak yang membunyikan tuternya tidak luput dari hukuman. Memang pada masa pimpinannya, penegakan disiplin dengan memberikan hukuman itu berjalan cukup menghawatirkan. Suatu pagi sesudah hujan sebelumnya, keadaan lapangan sekolah sebagian tergenang air. Beberapa murid sudah datang pagi-pagi, dan ada yang sedang mulai berdatangan. Ketika itu sebagai murid kelas 3, mengganggu anak lain sepertinya sah saja [apa bagian dari bullying, yah], walau seharusnya tidak boleh dilakukan. Disekeliling dinding sekolah, sebatas sampai cucuran genting, terdiri atas hamparan batu kericak [keri ning telacak – lebih besar dari kerikil, keri ning sikil] bulat. Anak-anak yang datang belakangan, diganggu dengan cara melempari batu, tetapi bukan ke anaknya, melainkan ke genangan airnya.

Tanpa diduga dan disadari, hal itu terlihat oleh pak Hadi yang baru datang dengan sepeda kumbangnya. Dan yang tertangkap tangan, adalah Anang dan Umar Kasan [yang masih bersepupuan]. Untung tidak diskors, tetapi ‘hanya’ ditugasi untuk memungut batu-batu yang ada di lapangan.

î

Pak Seno

Nama lengkapnya Soeseno, tinggalnya di Jalan Rokan no. 3

[pada waktu itu]. Secara langsung beliau tidak pernah mengajar saya dan teman-teman. Entah beliau dulu mengajar apa. Salah satu kebiasaan beliau, sebagai wakil kepala sekolah adalah berkeliling setelah waktu istirahat usai guna memastikan bahwa semua murid sudah kembali masuk ke dalam kelas.

Rupanya, setelah mendapat pelajaran ilmu alam, mengenai pembentukan amalgam yaitu yang dinyatakan bahwa emas akan larut dalam air raksa, Umar Kasan menanyakan ke kakaknya Agus Abdul Manan, yang sedang belajar di SMA. Kata Ajuk [panggilannya] itu tidak benar pernyataannya. Bukannya larut, tetapi menjadi putih, dan bisa kembali ke bentuk semula, apabila diberi amoniak. Dan kencing kita itu mengandung amoniak. Jadi bila cincin terkena air raksa, maka setelah dikencingi akan kembali seperti semula. Dan dia memberikan cincinnya kepada adiknya untuk dicoba.

Sekolah kita memiliki kamar kecil yang letaknya di belakang deretan kelas, dengan septic-tank yang berada di belakangnya lagi. Keesokan harinya, pada saat istirahat kita meminta air raksa kepada guru ilmu alam [pak Harsojo] untuk melakukan percobaan tersebut. Maka beramai-ramailah kita – Umar Kasan, saya, Junus, Joni Hasim dan beberapa orang lagi – untuk melakukan percobaan yang berharga tersebut. Mulailah cincin emas tersebut di tetesi dengan air raksa, dan memang betul warnanya berubah menjadi putih. Maka mulailah water canon yang sejak tadi sudah disiapkan, melakukan ‘penembakan’ ke arah sasaran. Ditengah seru-serunya ‘tembakan’, dari arah timur terlihat pak Seno berjalan dengan gontai menuju ke arah kita. Kita tidak bisa berbuat lain selain terus memborbardir cincin yang ternyata tidak mau kembali keujudnya semula. Ketika pak Seno menyeru kita untuk masuk kelas, serempak kita menunjuk kepada cincin sambil berkata “Emas pak, Emas pak”.

Setelah mengetahui duduk persoalannya, Pak Seno tidaklah memarahi kita dan menyuruh kita segera membereskan dan masuk kelas. Karena beliau juga mengenal Ajuk, yang juga bekas muridnya. Dan rupanya beliau menghargai semangat rasa keingintahuan kita semua, dengan melakukan percobaan yang ‘konyol’ itu. Untunglah Umar Kasan anak dan cucu dari pedagang emas, dan patahan cincin itu kemudian dicuci dan dibungkus dengan kertas. Katanya sih, cincin yang sudah menjadi amalgam tersebut bisa diolah lagi.

Konon sewaktu Didik bin Anang menjadi murid SMP Negeri I, setelah pak Seno mengetahui bahwa Didik adalah anaknya Anang [yang dulu juga adalah muridnya], beliau berkata “Seharusnya kamu ini memanggil ‘embah’ kepada saya, karena bapakmu dulu sudah memanggil ‘pak’, masak sekarang anaknya juga memanggil ‘pak’”.

î

Pak Bachri

Memang begitu menuliskannya. Jadi bukan Bakri atau Bahri. Orangnya putih cakap, dengan kumisnya yang khas. Dan selau senyum bila ketemu siapapun, dengan senyum yang simpatik. Jadi agak bertolak belakang dengan pak Seno, yang agak bertampang garang walaupun ramah. Saya sendiri tak pernah diajar oleh beliau. Tetapi saling mengenal. Justru lebih saling mengenal, setelah lulus dari SMP dan beliau menjadi Kepala Sekolah SMP Negeri II yang baru didirikan. Mengurusi Bintang Pelajar adalah salah satu yang membuatnya berhubungan.

î

SEKOLAH TEKNIK MENENGAH NEGERI

Pak Djunaedi

Beliau adalah semacam Ketua Bagian Kimia pada STM Negeri di jalan Patuha 26, Surabaya, yang lebih beken dengan sebutan STM Sawahan. Beliau berasal dari tanah Pasundan, mungkin Tasikmalaya atau Garut. Beliau selalu datang mengajar dengan menggunakan baju putih tangan pendek dan sepatu sandal [sandilet] dengan berkaos kaki putih, bukan sepatu model tertutup bertali atau pantofel. Datang dengan berjalan kaki, dengan membawa tas hitam.

Suatu ciri khas beliau adalah dalam mengucapkan kata ‘per’ yang berarti pegas – diucapkan dengan ‘e’ seperti mengucapkan kata ‘pe’ pada sepeda, dan kata ‘masuk’ dengan mengucapkan sebagai ‘asup’. Kalau yang akan dikatakan ‘dimasukkan’, maka yang diucapkana adalah diasupkan. Baru tahu kemudian setelah kuliah di ITB, ternyata itu adalah pengaruh dari bahas Sunda. Tetapi beliau tidak menukar bunyi antara huruf “p” dan “f”, sebagaimana yang sering kita temui.

Sebelum beliau mengajar di STM, beliau pernah bekerja di Stanvac, sebuah perusahaan minyak Inggris yang lambangnya adalah ‘kuda jingkrak terbang’, seperti lambang SUMEKAR, lambangnya kota Sumenep. Mana yang duluan. Beliau menceritakan, bahwa dalam menghadapi orang atau buruh di Stanvac itu, beliau melihat perilaku orang sebagai-mana perilaku atau sifat unsur dalam sistem periodik. Ada yang asam, ada yang basa adapula yang amphoter. Diantara sesama yang asam, ada yang kuat ada yang sedang dan ada pula yang lemah. Jadi rupanya beliau mengelompokkan sifat orang, sebagaimana dalam sistem periodik.

Hal itu kuingat betul, dan saya juga mengikutinya. Dan ternyata memang begitu, bukankah Allah swt menciptakan makhlukNya dalam suatu keteraturan dan juga menggunakan dasar atau acuan yang sama, sehingga tercipta suatu kesamaan dan analogi yang berlaku pada semua tatanan, baik makhluk yang bernyawa maupun makhluk yang tak bernyawa. Kesamaan dan anlogi antara hukum-hukum fisika, antara perambatan panas, cahaya dan listrik. Antara aliran air dan aliran listrik serta aliran kendaraan di jalan. Dan juga dengan perilaku manusia hidup ini.

Beliau dipindahkan ke STM Bandung ketika saya naik ke kelas 3, dan kemudian kami [saya dan Muhammad Audah – kakak kelasku di STM, yang kemudian menjadi seangkatan di ITB – sempat menemuinya di Hotel Riau, di Jalan Riau [sekarang Jalan RE Martadinata]. Rupanya beliau disewakan suatu kamar di hotel tersebut.

î

Pak Awin Jogaiswara

Beliau menggantikan kedudukan pak Djunaedi, sebagai Kepala Bagian Kimia. Beliau mengajar Kimia Anorganik dan pelajaran lainnya. Penampilannya biasa-biasa saja. Orangnya serius, tetapi kalau bicara seperti selalu tersenyum dikulum. Berkaca mata, dan ‘agus’ alias agak gundul sedikit [rambutnya jarang dan sedikit]. Beliau relatif lebih tua dari guru yang lain, yaitu pak Markatab.

î

Pak Markatab

Beliau sudah mengajar saya semenjak di kelas 1, dan mengajar Kimia Organik dan Kimia Anorganik, yang merupakan pelajaran yang paling harus dihafalkan. Terutama reaksi-reaksinya. Reaksi reduksi-oksidasi [reaksi redoks] yang melibatkan elektron, adalah reaksi-reaksi yang paling sulit difahami oleh teman-teman, tetapi karena sepenuhnya menggunakan logika tidak ada yang harus dihafalkan, jadi tidaklah begitu memberatkanku.

Dalam mengajar, banyak melibatkan kegiatan menuliskan berbagai persamaan reaksi dan rumus bangun dari zat kimia organik, dan ini sangat membuatku mengantuk. Sehingga sering fulpenku terlihat tidak memiliki tekanan pada kertas, bahkan sering juga sempat terjatuh. Saya mengira semua hal itu tidak diketahuinya, karena beliau tenang-tenang saja.

Kemudian, setelah saya meninggalkan bangku STM, bagian Kimia dipisahkan dari STM Negeri di Sawahan ini, dan pindah ke Pawiyatan. Kemudian pindah lagi ke daerah Karangmenjangan dalam bentuk STM Pembangunan. Pada masa persiapan STM Pembangunan tersebut, dosenku Dr. Ir. Prastowo Nambar sempat bertemu dengan pak Markatab, dan rupanya saling menceritakan tentang saya dan Amak. Hal ini kuketahui, karena mas Pras menyampaikan salam dari pak Markatab kepada kami berdua. Tetapi tidak tahu apa yang dibicarakannya.

Setelah saya lulus, dan bekerja di PN GARAM, suatu ketika ditugasi untuk merekrut tenaga lulusan STM Kimia, ya kemana lagi kalau tidak ke STM Pembangunan. Dan saya mengetahui dari seorang yang sudah direkrut terlebih dahulu, bahwa pak Markatab menjadi Direktur STM tersebut. Maka saya mencoba menemui di kantornya. Beliau sedang menerima tamu, dan saya dipersilahkan menunggu oleh pegawainya setelah memberitahu tentang keberadaan saya. Ternyata diluar dugaanku, ucapan beliau ketika menyalami-ku adalah

Eh, le kowe sing neng kelas turuan, yo iso dadi uwong”,

dan sayapun hanya menyahuti dengan malu-malu

“Jadi bapak tahu kalau saya sering tertidur di dalam kelas dahulu?”.

Guru ngono mesti ngerti murite, nanging ora perlu ngomong tho”.

î

STM Sawahan, terdiri atas beberapa bagian, selain bagian KIMIA dimana saya belajar. Yang lainnya, adalah Bangunan Gedung, Bangunan Air, Listrik dan Mesin. Kepala Sekolah nya adalah Ir. Lie Tjwan Kwan, seorang insinyur sipil yang agak ‘nyentrik’. Beliau punya kendaraan dinas, sejenis Ford atau Chevrolet tahun 1948 warna hitam tetapi jarang dipakai ke sekolah, mungkin hanya disimpan saja. Pada jaman itu, mobil dinas belumlah ditandai dengan plat merah, melainkan segitiga merah dalam lingkaran merah dengan dasar warna putih. Tentu segitiga sama sisi dengan alas di bawah, tetapi yang terpasang di mobil dinasnya Ir. Lie adalah terbalik. Beliau datang ke sekolah dengan menggunakan sepeda motor Ducati.

Tentu saja beliau tidak mengajar di kelas-kelas bagian Kimia. Beliau selalu menyempatkan untuk membagi rapor ke seluruh muridnya, dari tangannya sendiri dan dengan terlebih dahulu memeriksa angka-angka yang diperoleh oleh si murid. Nasehat dan dorongan selalu diberikan kepada setiap murid. Ketika membagi rapor dan juga katanya kalau sedang mengajar, rokoknya [jenis ting wee] tak pernah lepas dari bibirnya. Jadi ya bisa dibayangkan, bagaimana murid yang diajarnya.

Suatu ketika, karena peristiwa yang tak jelas ujung pangkalnya, membuat Ir Lie geleng-geleng kepala. Ketika membagi rapot, melihat nilai mata pelajaran Mekanika di rapor murid berangka 3. Beliau memberikan komentar dan mendorong si murid agar belajar dengan baik. Ketika kemudian membagi rapor murid yang kedua, menemukan hal yang sama, dan begitu berlanjut sampai ketiga. Kemudian beliau berdiam diri, dan berhenti membagikan rapor, melihat seluruh rapor yang ada. Beliau tambah bergeleng-geleng, dan kemudian bertanya “Mengapa ini, satu kelas dapat angka 3 semua?” Setelah diberikan penjelasan oleh murid-murid kemungkinan penyebabnya, maka beliau justru tersenyum saja. Mungkin memahami perilaku sang guru yang mengajar mata pelajaran tersebut.

Ir. Lie ini juga mengajar di ITS, dan beliau termasuk insinyur yang merencanakan dan menghitung struktur dari Tugu Pahlawan yang ada di Surabaya, bersama pak Ir. Soendjasmono.

Wakil Kepala Sekolah, adalah seorang Ambon yang sangat pendiam. Namanya J.C. Pessuwarisa. Dia mengajar pada bagian Mesin. Di waktu-waktu tertentu dia berjalan berkeliling di teras sekolah. Semua murid yang senakal dan seaktif apapun, akan menjadi terdiam bila melihat beliau dari kejauhan. Apalagi kalau beliau sudah memenggil dengan kata-katanya yang khas “ Hei, sini kamu”.

Ada lagi yang namanya Pak Sanggar, beliau bukanlah seorang guru tetap, melainkan seorang guru honorer. Entah apa yang menyebabkan beliau jadi guru honorer, begitu juga beliau di ITS menjadi dosen luar biasa. Mungkin sebagai bagian dari dharma bhakti beliau. Saat itu kedudukannya adalah sebagai salah seorang Direktur Perusahaan Perkebunan Negara yang kantornya dekat Jembatan Merah. Kalau beliau mengajar, satu-satunya yang menggunakan dasi dan membawa mobil sedan, merk Zephyr Six buatan Inggris.

Kita di SMP kan diajarkan bahwa berat jenis suatu zat [dulu singkatannya bd – dari berat djenis] adalah tanpa satuan. Misalnya, berat jenis air raksa adalah 13,6. Ketika kami mengerjakan soal yang diberikan oleh beliau, dan beliau berjalan berkeliling sambil melihat pekerjaan di kertas kami, beliau langsung saja menegur dengan “Apa kambing, sapi atau apa?”. Tentu saja kami dibuat bingung olehnya. Ternyata kemudian, bahwa berat jenis itu punya satuan, yaitu gram/cm3 dan itu harus dituliskan. Benar juga sih, hanya kita belum tahu kalau sekarang harus dilakukan seperti itu. Dulu di SMP kan OK-OK saja tanpa satuan, karena diajarkannya begitu. Dan ternyata kemudian, terutama dalam perhitungan teknik, satuan itu akan sangat menentukan sekali, karena banyaknya satuan yang digunakan, ada yang berbasis cgs, mks, dan satuan berbasis Inggris yang lebih aneh-aneh lagi.

î

Begitulah sebagian dari guru-guruku di dalam kelas yang telah berjasa membuatku memahami pengetahuan, memiliki ketrampilan, dan berperilaku yang seharusnya. Walau mungkin mereka bukanlah guru ideal sebagaimana berbagai kriteria yang sering dinyatakan para ahli, apalagi dengan sertifikat sebagaimana yang diatur sekarang ini, tetapi mereka jelas adalah guru yang berjasa.

Sebesar apapun terima kasih yang kuucapkan, tidaklah akan dapat menyamai jasamu padaku. Terima kasih, kepada semua guruku. Dan maafkanlah kami, Guru.

Wa Allahu a’lam.

î

A good teacher . . .

is kind

is generous

listens to you

encourages you

has faith in you

keeps confidences

likes teaching children

likes teaching their subject

takes time to explain things

helps you when you’re stuck

tells you how you are doing

allows you to have your say

doesn’t give up on you

cares for your opinion

makes you feel clever

treats people equally

stands up for you

makes allowances

tells the truth

is forgiving.

Descriptions by Year 8 pupils

3 Tanggapan to “GURU-GURUKU”

  1. luthfie ludino Says:

    Dear pak sjaf,cerito e ngelengno aku nok gresik,jadi kepingin mule…
    terus nek cak wasik iku nek gak salah wong dulurku teko mbah wedok ,aku sering nang omae,waktu aku kawin nok jakarta , beliaunya tak undang dan aku jadikan saksi sekaligus sebagai penceramah ,iku tahun 97 bulan desember… luthfie

  2. luthfie ludino Says:

    oh sori pak.aku salah wong,sing tak maksud dulurku iku arane cak wasik,nek cak waji iku bapak e sang konco sma 1 gresik,aku sering nang oma iku , nek riyoyo ketupatan bengine pasti mampir nang omae, lak rame seru pak ,unjung – unjung

  3. arief Says:

    salam kenal. ketemu pak pras tahun berapa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: