BINTANG PELAJAR

BINTANG PELAJAR

oleh Saifuddien Sjaaf Maskoen

Dikala masyarakat belum begitu menyadari

pentingnya arti sebuah pendidikan bagi anak-anak

yang akan menjadi generasi penerus bangsa,

pelajar yang tergabung dalam

PELAJAR ISLAM INDONESIA [PII]

menyelenggarakan acara untuk

mengapresiasi keberhasilan seseorang dalam

mencapai nilai tertinggi pada sebuah ujian Negara,

dengan menggelar acara

PENOBATAN BINTANG PELAJAR.

Bermula pada tahun 1957, sekelompok anak muda yang tergabung dalam Pelajar Islam Indonesia [PII] Cabang Gresik, sesuai dengan anjuran dari Pengurus Besar PII dan Yayasan Bintang Pelajar yang didirikannya, menyelenggara-kan kegiatan penobatan Bintang Pelajar untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang lulus dengan nilai tertinggi dalam ujian negara yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan [P & K] maupun Departemen Agama.

Terlepas dari kontroversi yang sekarang muncul, dimana dikatakan bahwa merangking seseorang murid, sebagaimana yang dilakukan dalam setiap rapor anak-anak SD sampai SMA tidaklah mendidik bagi si anak itu sendiri. Anak yang memperolah rangking tinggi, dikhawatirkan akan menjadi sombong dan yang tergolong rangking papan bawah dikhawatirkan akan patah semangat. Ada pula yang berargumen, bahwa seseorang anak tidaklah dapat dinilai hanya dari angka-angka prestasi akademisnya saja, karena dalam kehidupan dibutuhkan juga kecerdasan yang lain.

Tanpa menafikan berbagai pendapat tadi, ketikan ini hanyalah sekedar mengungkap apa yang pernah dilakukan oleh sekelompok anak muda tersebut, sebagai bagian dari upaya untuk memajukan pendidikan dan gairah belajar di lingkungan pelajar di kota Gresik. Karena yang dulu pernah dinobatkan sebagai Bintang Pelajar itu, kini sebagian sudah mulai pensiun dan sebagian lagi akan menjelang memasuki status purna bhakti. Entahlah, mungkin juga ada sebagian yang sudah dipanggil menghadap kehadlirat Allah swt, karena tanpa terasa kegiatan penobatan itu sudah dimulai sejak 49 tahun silam. Bulan Agustus tahun 2007 nanti, kita sudah bisa menyelenggarakan peringatan setengah abad dimulainya penyelenggaraan penobatan Bintang Pelajar di Gresik.

î

Acara penobatan Bintang Pelajar ini mendapat dukungan sepenuhnya dari masyarakat dan para tetua kota Gresik, baik dari kalangan swasta maupun yang ada di pemerintahan. Begitu juga tentunya dari para pendidik, para guru madrasah, sekolah negeri, sekolah swasta. Hal ini terbukti oleh dukungan moril dan materiel dalam penyeleng-garaannya. Saat itu, PII adalah satu-satunya organisasi pelajar yang ada, IPNU, IPPNU, IPM saat itu belum lahir dan bahkan IPI atau IPPI yang sudah lahir belumlah memiliki cabang di Gresik.

Kalau menuruti istilah yang digunakan saat ini, PII bertindak sebagai event organizer atau EO, guna menghimpun segala upaya, daya dan dana yang berada di masyarakat. Modal yang mereka miliki adalah semangat memberikan tenaga dan waktu serta bekerja sama dengan semua pihak. Mereka membentuk kepanitiaan dan kemudian bekerja tanpa pamrih dalam menyusun perencanaan, mengendalikan kegiatan persaiapan, sampai kepada penyelenggaraannya. Yang senior membina yang yunior, dan bila perlu turun langsung membantu adik-adiknya dengan memberikan arahan dan bimbingan. Kegiatan penyelenggaraan ini, dirasakan juga sebagai kawah candradimuka bagi menyiapkan anak-anak muda dalam mempelajari dan menerapkan manajemen. Hal ini semua baru dirasakan kemudian ketika kelak sudah terjun di masyarakat, dimana mereka tidak canggung lagi untuk melakukan sesuatu tugas.

Acara intinya, adalah penyerahan piagam disertai sebuah piala dan pemberian mahkota kepada mereka yang memperoleh nilai tertinggi dalam ujian negara, dalam beberapa kategori sesuai dengan jenis pendidikan yang ada pada saat itu, antara lain

· Sekolah Dasar [SD];

· Madrasah Ibtidaiyah [MI];

· SMP bagian A;

· SMP bagian B;

· SMEP [Sekolah Menengah Ekonomi Pertama];

· PGAP 4 tahun;

· PGAL 6 tahun.

Dibedakannya antara Sekolah Dasar dengan Madrasah Ibtidaiyah, bukanlah seperti mengkategorikan kelas dalam pertandingan tinju – yang satu kelas bulu dan satunya kelas layang – tetapi memang jumlah dan jenis mata pelajaran yang diujikan berbeda. Tetapi kemudian, ketika mata pelajaran yang diujikan dan soalnya menjadi sama, maka kelompok Madrasah Ibtidaiyah dihapuskan. Sedangkan Madrasah Tsanawiyah memang tidak ada di Gresik waktu itu.

Walau lingkup penjaringan angkanya sampai meliputi wilayah Kabupaten Gresik, tetapi yang meraih penghargaan hanyalah anak-anak Gresik [lebih khas dari Kecamatan Gresik], pernah satu dua kali dari Kecamatan Kebomas, untuk tingkat SD yaitu putri dari seorang pegawai Semen Gresik [putri dari pak Gunarwo ?] dan putri dari seorang insinyur di Galangan Kapal Gresik [yang di dekat Kalitangi]. Pernah satu atau dua kali, ada angka yang sama – tetapi hanya untuk Sekolah Dasar – sehingga panitia mengadakan tes tambahan untuk memilih satu saja yang dinobatkan, sedangkan yang lainnya tetap diappresiasi.

Kecuali untuk kategori PGAP 4 tahun dan PGAL 6 tahun – yang pasti diraih oleh jenis kelamin perempuan – karena sekolah yang ada hanyalah PGA Puteri – yang kemudian menjadi PGAL Darul Islam – dan Muallimat NU, untuk kategori lainnya didominasi oleh lelaki walau untuk tingkat SD pernah diraih oleh seanak siswi.

î

Selama hampir satu windu, penyelenggaraan penobatan Bintang Pelajar ini dilaksanakan oleh teman-teman PII sendiri dengan dukungan seluruh masyarakat yang ada. Karena penyelenggaraannya pada bulan Agustus, sesuai dengan tahun ajaran baru, maka teman-teman PII memasukkan agenda penyelenggaraan ini sebagai bagian dari agenda panitia peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tingkat kabupaten. Walau begitu penyelenggaraan dilakukan secara otonom, tanpa ada campur tangan panitia induk. Biasanya panitya induk memberikan stempel dan menandatangani surat-surat yang akan disebarkan ke masyarakat dengan predikat “mengetahui”. Dan ternyata itu dalam hal-hal tertentu sangat ampuh.

Ini merupakan taktik dari kakak-kakak kita yang lebih dahulu, guna memperoleh dukungan dari petinggi kota dan menghindari ‘gangguan’ pihak lain yang kurang senang dengan PII di waktu itu. ‘Gangguan’ itu semakin membesar dan memuncak menjelang tahun 1963-1964. ‘Mereka’ dengan menggunakan nama Front Pemuda [dimana PII sendiri ya sebagai anggota pasif], berupaya mengambil alih penyelenggaraan penobatan Bintang Pelajar dari tangan PII sebagai Event Organizer-nya. Melawan Front Pemuda [yang didukung oleh Front Nasional] pada masa itu, ibarat membenturkan kepala ke kereta api [alias bunuh diri].

Ketika serangan sudah tidak tertahankan lagi, maka diterapkan suatu strategi yang sangat cantik sekali, yaitu “menyelenggarakan penobatan bintang pelajar semeriah mungkin, sehingga siapapun yang akan menyelenggarakan-nya dikemudian hari tidak akan dapat menyamainya”. Ya, semacam strategi khusnul khatimah dan agar menimbulkan kenangan indah dan perkasa pada masyarakat. Bukan saja sebagai penobatan bintang pelajar yang paling meriah, bahkan bisa dikatakan suatu event atau festival yang paling meriah yang pernah terselenggarakan. Sayang belum ada kamera video [kamera cinema sudah ada, tapi tak terfikir untuk mendokumentasikan sampai tingkat itu]. Terima kasih kepada Cak Yi, Cak Ibis, Cak Jang II dan Cak Chotib yang berperan mendukung strategi tersebut.

Dan strategi itu berhasil dengan baik, mereka yang ‘merebut’ penyelenggaraan penobatan hanya bisa menyelenggarakannya satu atau dua kali saja dengan tidak disertai kemeriahan dan antusiasme sambutan masyarakat sebagaimana lazimnya. Dan bahkan kemudian terhenti dengan sendirinya, karena Front Pemuda dan Front Nasional ikut hancur seiring dengan pemberontakan G30S-PKI. Dan penyelenggaraan penobatan Bintang Pelajar kembali ke tangan anak-anak PII lagi.

Jadi kalau dipilah, ada masa penyelenggaraan sebelum G30S-PKI dan penyelenggaraan sesudah di zaman orde baru. Tetapi kemudian penyelenggaraan ini berhenti, seiring dengan dikeluarkannya peraturan bahwa semua organisasi harus mencantumkan asas Pancasila dalam Anggaran Dasar-nya, dan tentu saja tidak diterima oleh kalangan PII. Sehingga PII dan Bintang Pelajar yang diselenggarakannya hanyalah tinggal sebuah kenangan manis, di kalangan aktivisnya dan masyarakat yang pernah merasakan kegembiraan dan kebanggaan dengan penyelenggaraan penobatan Bintang Pelajar, dan tentunya mereka yang pernah dinobatkan sebagai Bintang Pelajar.

î

Beberapa angkatan aktivis terlibat aktif dalam penyelengga-raan penobatan ini. Pada generasi pertama adalah generasi, Cak Nuri, Mas Nurhasyim, Cak Jajuk, cak Machmudin, cak Yin Marindra, cak San Combut, dan lain-lain. Kalau generasi Pak Joni, cak Ibis, cak Afghon, cak Jang I, cak Jang II, dan seangkatannya adalah generasi yang aktif dimasa Pemilu 1955. Kemudian disusul generasi Hilmy Marwi, Mufti, Nashief, Amir, Bestari, Asad, Ambari, Nurwahid, Thahir Wasad, Affandi Djamhari, A. Gani Afandi Arifin, Aun haji Wasil, mbak Istiqomah, mbak Iffah yang masih bersinggungan dan tercampur dengan generasi saya, Fudin Bakri, Fudin Wasad, Rusli, Umar Wahjudin, Husni Thamrin, Munawir, Anang, Asnar, Edy haji Wasil, mat Tembel, mbak Ada Ilyas, mbak Fat, Sumarchanah, Masudah, Ruqayah dan lain lainnya. Dan kemudian angkiatan berikutnya seperti Burhanudin Ikhsan, Agus Djumhana, Machfud, Ituk, Lipa, Sunarsih dan banyak lagi untuk disebut satu persatu [seandainya masih ada arsipnya, akan sangatlah baik bila dicantumkan, mungkin nanti teman-teman yang lain dapat menambahkannya].

î

Dalam penyelenggaraannya, panitya merencanakan suatu kegiatan yang terbagi dalam dua sessie. Sessie pertama dilakukan pada sore hari hingga menjelang maghrib, berupa kirab bintang, dimana para bintang pelajar ditempatkan dalam suatu mobil bak terbuka [pick-up] yang dihias, dan para bintang duduk dengan menggunakan selempang pertanda kategori bintangnya. Sedangkan sessie kedua, adalah malam penobatannya yang dimeriahkan dengan berbagai atraksi kesenian atau band.

Pada sessie pertama, saat itu mereka belum mengenakan mahkota. Kirab bintang ini, diiringi oleh sejumlah sepeda berhias dari masing-masing sekolah yang ada. Agar lebih menarik para peserta, sepeda hias ini juga dilombakan dan dipilih pemenangnya. Satu regu terdiri atas beberapa sepeda, yang berjalan beriringan seperti gerak jalan indah. Hampir semua sekolah dasar menyertakan rombongan sepeda berhias, bahkan ada yang lebih dari satu regu. Biasa, yang ikut sepeda hias hanya seorang anak, tetapi seluruh keluarga jadi repot. Dan kesibukan seperti itu, sudah mulai terlihat beberapa hari sebelumnya.

Disamping regu sepeda hias yang dilombakan, sejumlah murid sekolah [biasanya sekolah menengah pertama] turut serta mengiringi arak-arakan tersebut tanpa membentuk regu-regu sepeda hias. Sehingga panjang iring-iringan ini cukup menghentikan arus lalu lintas. Tetapi tidak ada yang mengeluh, seluruh lapisan masyarakat menyambut dengan antusias arak-arakan ini. Bahkan, ini merupakan arak-arakan yang lebih semarak dibanding yang diselenggarakan oleh Panitya 17 Agustus.

Pada tahun 1962 atau 1963, ketika sedang mulai muncul model sepeda yang berwarna-warni cerah – entah merk apa lupa -[dahulu sepeda hanyalah berwarna hitam dan model lelaki atau perempuan saja], maka rombongan sepeda hias ini bertambah meriah. Boleh percaya boleh tidak, banyak anak-anak yang meminta dibelikan sepeda baru untuk mengikuti regu sepeda hias, karena regunya akan menggunakan sepeda dengan model dan warna yang sama. Sampai begitu dampaknya pada anak-anak, dan orang tuapun menuruti keinginan anaknya tersebut. Kalau tidak salah, salah satunya adalah Hanim binti Basjuni Ibrahim, yang sekarang jadi nyonya dokter Amin. Dan masih banyak lagi anak yang sebaya, yang seperti Hanim tersebut.

Pada tahun-tahun itu, pawai juga mengundang peserta dari luar kota, yaitu dari Ikatan Motor Indonesia [IMI], cabang Surabaya guna turut serta dalam arak-arakan tersebut. Dan tentu saja para remaja pemilik sepeda motor dari Gresik sendiri turut serta meramaikan. Beberapa jam sebelum pawai dimulai, mereka yang bersepeda motor ini sudah berkeliling kota seperti kalau sekarang lagi kampanye pemilu. Pada saat itu, sepeda motor Jepang belum begitu banyak, ‘yang lagi in’ adalah Zundapp [warna biru model perempuan], DKW [warna biru abu-abu model perempuan, dan warna merah-cream model lelaki], dan merk-merk lainnya yang lebih besar cc-nya seperti Puch, dan lain lain.

Karena kecepatan sepeda motor tentu lebih tinggi dibanding kecepatan jalannya sepeda, apalagi sepeda hias anak-anak SD dan perempuan lagi, maka panitya mensiasatinya dengan menggunakan dua route yang berbeda. Route untuk sepeda motor lebih panjang, dan menjangkau wilayah sekitar Gresik, sedang route untuk sepeda hanya seputar Gresik. Kedua arak-arakan ini, diperhitungkan akan bertemu di suatu titik rendevous, yang diperhitungkan dengan melakukan perhitungan dan uji-coba. Dan ternyata sukses. Kalau tidak salah titik rendevous-nya adalah di perempatan Gedung Nasional.

Route yang akan dilewati sepeda, dilewati lebih dahulu oleh sepeda motor. Ini juga bermaksud untuk menarik perhatian masyarakat yang kebanyakan kan tinggal di gang-gang atau kampung, agar ketika mendengar raungan bunyi knalpot sepeda motor, mereka akan segara keluar ke jalan-jalan. Dan begitulah, mereka tumpah ruah ke jalan. Walau arak-arakan mulai jam 15:30 misalnya, sepeda motor ini sudah berputar-putar lebih dahulu. Dan ternyata kemudian jalanan sepi sejenak, ternyata mereka – para pengendara sepeda motor, terutama anak-anak yang muda – ternyata memanfaatkan waktu tersebut untuk membuka peredam suara pada knalpot mereka. Ya jadilah kota menjadi hingar bingar. Dan akibatnya, beberapa hari sesudahnya, ketika kami ke Kantor Polisi, ada beberapa polisi yang mengantakan kami sebagai penyelenggara pawai borjuis dan sebagainya. Yah, mereka yang agak kemerah-merahan [bukan mukanya, tetapi pikirannya] lha.

Yah tentu saja mereka akan mengatakan pawai borjuis, bagaimana tidak. Selain puluhan sepeda motor yang meraung-raung, juga lebih likuran mobil berbagai merk turut serta berpartisipasi dalam pawai, dengan diisi oleh anak-anak kecil dari pemilik mobil sendiri. Semua pihak bergembira, baik yang menonton pawai maupun yang ikut mengiringi pawai dengan berbagai macam kendaraan. Saat-saat itu mobil buatan Jepang belumlah mendominasi pasar otomotif, sehingga banyak merk Eropa dan Amerika yang muncul, Mecedes Benz, Opel dengan berbagai modelnya seperti Kapitan, Olympia, dan Fiat yang masih jamannya 1800, 2100, serta Chevrolet dengan berbagai modelnya mulai jaman Bel Air sampai Impala dan lain-lain.

î

Kreatifitas anak muda, memang banyak. Apa yang dilihatnya bisa saja mengilhami suatu kegiatan. Suatu tahun, kalau tak salah tahun 1973 atau 1974, ketika melihat ‘kereta kencana’ terparkir di sudut garasi keluarga bapak Amat Nasiman Asnar, kami – termasuk pewaris pemilik ‘kereta kencana’ yaitu umar Asnar dan Dulkalim – melontarkan gagasan untuk menampilkan ‘kereta kencana’ tersebut dalam pawai. Rencana itu dipersiapkan dengan rapih oleh teman-teman. Memeriksa kondisi kereta adalah bagian yang paling penting, mengingat semenjak kami kecil, belum pernah melihat kereta ini berjalan di jalan raya. Tetapi tidaklah pas, bila ‘kereta kencana’ yang mirip dengan kereta cowboy itu, dengan empat roda dan bagian kabin kereta yang tertutp bahan terbuat dari kayu difinish dengan politur, dengan dua deretan tempat duduk yang saling berhadapan, dan dua buah pintu dibagian tengah kabin, serta tempat duduk untuk sais dan pengawal di bagian depan, serta pengawal tambahan dibagian belakang, kemudian ditarik oleh kuda dokar.

Sangatlah pantas, apabila ‘kereta kencana’ ini ditarik oleh seekor kuda yang tinggi besar dan terawat mulus, dan disaisi oleh seorang yang tegap, dan bahkan bila mungkin mengendalikan kudanya dengan cara berdiri. Terbayangkan kereta kuda yang mengangkut perempuan [nyonyae lakon] dan hantaran pos dalam film-film wild-west alias cowboy, yang kemudian akan dilarikan cepat bila ditengah jalan disergap atau diserang oleh gerombolan ‘bajingan’. Tentulah akan kurang pas, bila yang menarik kereta ini adalah kuda-kuda dokar yang setiap hari menjalani trayek Gresik-Giri. Tidaklah mudah untuk mencari kuda dan sais yang memenuhi kriteria seperti itu.

Salah seorang dari kami, ada yang ingat bahwa pak Riduwan, yang dulu dikenal sebagai Samson Indonesia, dan sering mengadakan pertunjukan unjuk kekuatan, seperti ditarik kuda, dilindas mobil dan sebagainya, saat itu memelihara seekor kuda tunggang yang gagah dan sering dinaiki beliau. Utusan yang melakukan lobi dan pendekatan kepada pak Riduwan, pulang dengan muka yang bergembira sebagai tanda bahwa pak Riduwan dengan senang hati akan memenuhi keinginan kami, untuk meminjamkan kudanya guna menarik kereta dan beliau sendiri yang akan menjadi saisnya.

Sebelum hari pelaksanaan, kereta ini didorong ke pool bis Moedah yang tidak jauh dari garasinya selama ini. Mendorong keretanya dilakukan malam hari, agar tidak diketahui oleh banyak anak-anak, sehingga akan menjadi suatu kejutan pada hari H nanti. Pada hari pelaksanaannya, pak Riduwan mengemudikan kereta tersebut dengan mengenakan celana hitam sebatas lutut sambil bertelanjang dada, dan rambutnya yang panjang terurai sampai ke bahu diterpa angin. Sangat gagah. Sedang keretanya ditumpangi beberapa anak SD yang berpakaian daerah nusantara.

Banyak sesepuh warga kota yang menemukan nostalgia mereka, melihat kembali kereta tersebut di jalanan kota. Karena sudah sekian puluh tahun mereka tidak pernah menyaksikannya lagi, dan saat itu menyaksikan dalam suatu arak-arakan yang sangat meriah.

Para Bintang Pelajar nya, ditempatkan dalam mobil pick-up bak terbuka [dan kalau perlu dibuka hanya untuk keperluan tersebut saja]. Mencari mobil pick-up pada masa itu, gampang-gampang susah. Karena jarang orang yang punya mobil pick-up. Toko-toko bangunan belum jamannya punya mobil pick-up untuk menghantar pasir dan bahan bangunan, mereka masih menggunakan gerobak. Hanyalah pabrik Semen Gresik, yang diharapkan sebagai pemasok mobil bak terbuka. Dan pernah juga pak haji Ridwan [Toko Persatuan] memiliki pick-up yang bagus sekali.

Karena datangnya mobil pick-up biasanya hanya beberapa menit sebelum acara dimulai [karena masih dipakai dinas], maka tidaklah banyak hiasan yang bisa diberikan pada mobil tersebut. Bahkan sekedar hanya diberi tempat duduk berupa kursi kayu sahaja. Karena instruksinya harus duduk anggun, tidak melambaikan tangan dan mengumbar senyum, apalagi bersorak sorai seperti artis kalau pawai, maka cukup melelahkan juga. Paling-paling hanya senyum sedikit kalau ada yang kenal, dan sedikit mencureng kalau pas kena sinar matahari sore.

Tidak pernah dilakukan survei, mengapa masyarakat begitu antusias untuk melihat arak-arakan pawai penobatan Bintang Pelajar ini. Karena ada berbagai motivasi yang mungkin menggerakkan mereka pergi ke tepi jalan terdekat [beda dengan yang rumahnya memang di pinggir jalan], misalnya memang mau melihat bintangnya, mau melihat anak atau tetangganya yang ikut bersepeda hias, ingin melihat teman sekolahnya atau keluarganya ikut pawai, ingin melihat kakak sesekolahnya dulu yang menjadi bintang, atau ingin melihat yang melihat dan sebagainya. Bagi panitya penyelenggara, yang penting sambutannya meriah apapun motif yang menggerakkan mereka.

î

Keberhasilan suatu event, apalagi untuk menarik partisipasi masyarakat pada berbagai lapisan, tidaklah terlepas dari berbagai upaya promosi yang dilakukan. Berbagai media dan cara dilakukan untuk menyampaikan pesan akan diselenggarakannya penobatan Bintang Pelajar ini. Poster, plakat, surat edaran dan spandook adalah yang bersifat konvensional. Begitu juga mobile-unit, yaitu mobil yang diperlengkapi dengan seperangkat pengeras suara, yang berkeliling dijalanan kota.

Garling, yang merupakan kawasan paling strategis untuk tujuan penyampaian pesan kepada massa, dimana beberapa properti yang ada disana seperti toko Sepatu Bata dan Hotel Bahagia adalah masih dalam affiliasi dengan anak-anak PII, tentulah tidak dibiarkan begitu saja. Saat itu, bangunan Toko Analisa belumlah ada, masih berupa tanah kosong berbentuk kuadran lingkaran yang dipagari dengan baduk disisi jalan dan dibatasi oleh dinding tinggi dari Hotel Bahagia dan toko yang menjual perabotan perahu. Kawasan ini kemudian diolah menjadi suatu pusat penyampaian pesan kepada masyarakat, dan kebetulan letaknya tidak jauh dari markas panpel yang ada di Jalan Yai Ageng Arem-Arem.

Di saat itu pemancar radio amatir belumlah ada, sehingga penyampaian iklan dan pesan layanan masyarakat tentang adanya suatu event yang akan digelar belumlah dapat dilakukan. Maka dibuatlah fixed-unit, yang dioperasikan dari Lobby Hotel Bahagia, dengan menggunakan pengeras suara [sound system] warisan dari KAPU [Komite Aksi Pemilihan Umum] MASJUMI, yang pengeras suaranya merupakan hasil rakitan lokal, yaitu yang masih menggunakan plat seng sebagai corongnya, tetapi amplifier-nya bermerk PHILIPS. Karena tanpa sewa dan listrik gratis dari pemilik Hotel, maka hampir setiap sore menjelang waktu penyelenggaraan, antara Ashar sampai Maghrib, unit ini mengumandangkan berbagai informasi dan himbauan tentang penyelenggaraan penobatan Bintang Pelajar tersebut.

Sedangkan mobile-unit digunakan untuk menyampaikan pesan dengan cara berkeliling kota menggunakan pengeras suara. Mobil yang sering dipakai, biasanya berjenis pick-up atau station wagon. Mobil pick-up biasanya dipinjam dari para simpatisan atau aktivis senior PII [kan tidak boleh ada istilah eks-aktivis]. Mobil pick-up dengan bak tertutup, antara lain dari Semen Gresik, atau Landrover canvas top dari Semen Gresik dan Petro Kimia, atau mobil station Comer [Hillman] milik Haji Bakri Samad atau Austin Mini Cooper milik Haji Amat Nasiman yang dikemudikan puteranya sendiri yaitu Fudin dan Nana, adalah yang sering digunakan. Tentu saja semuanya gratis, tiss. Hanya pengeras suara yang harus disewa, mengingat diperlukan amplifier yang menggunakan catu daya dari aki alias 12 volt.

Tidak ada pelatihan khusus bagi siapa yang akan berbicara di depan mikrofon baik pada mobile unit maupun pada fixed unit tersebut, ya sekeluarnya saja. Karena pada masa masa itu, yang sering menggunakan mobile unit adalah Dinas Penerangan atau dari pihak pemerintahan, dengan narrator pak Soengkono, maka tidak ayal lagi gaya beliaulah yang banyak mempengaruhi narrator kita.

Seperti halnya seorang penyiar radio [barangkali ya], untuk berbicara sebagai narrator baik pada mobile unit maupun fixed unit tersebut diperlukan kekayaan perbendaharaan kata serta kalimat, penguasaan materi dan kemampuan improvisasi, serta kemampuan pengolahan intonasi suara agar yang mendengarkan tidak jenuh. Dan tentu saja disampaikan dengan bergairah dan menggugah emosi [positif] massa. Untuk itu diperlukan beberapa orang, karena bernarasi secara terus-menerus selama beberapa menit saja sudah kering kerongkongan ini, sehingga bisa bergantian. Apalagi pada saat itu belum musim ‘aqua’, baik yang gelas maupun botolan. Dan pada setiap kesempatan, selalu muncul bakat-bakat terpendam untuk maksud-maksud seperti itu.

î

Untuk memasang spandook melintang dijalan, memerlukan tiang listrik dan tiang telepon yang letaknya betul-betul tegak lurus dengan jalan. Dan ini tidaklah begitu banyak dijumpai, terutama disepanjang jalan antara Aloon-Aloon melalui Bedilan, Garling, Niaga, sampai perempatan wak Truno. Saat itu, hanya daerah itu yang dianggap strategis sebagai tempat pemasangan spandook, karena jalan-jalan lain tidaklah dilalui anak dan orang seramai lintasan tersebut.

Peluang seseorang untuk membaca pesan pada spandook merupakan kriteria yang paling penting, dalam memasang spandook, mengingat ada jalan yang searah, atau berada di perempatan dimana yang mengendarai kendaraan [sepedapun] akan disibukkan untuk memperhatikan lalu lintas sehingga tidak sempat membaca, dan berbagai hal sehingga suatu tempat tidak dipilih untuk memasang spandook. Ada yang lokasinya bagus, tetapi tidak ada tiangnya, seperti di depan toko ASIA dan toko IA, sehingga jarang ada spanduk yang dipasang disana, karena tidak memiliki kemampuan untuk memasangnya. Bagi anak-anak PII ini kesempatan, karena memiliki akses untuk memasangkan tali di teralisnya toko IA. Sehingga spanduk itu sangat eye-catching [walaupun istilah seperti itu dahulu belum dikenal]. Kalau spanduk yang dipasang di Garling, karena terlalu seringnya sehingga orang kurang memperhatikan, sudah bosan. Sehingga untuk yang akan dipasang di Garling, harus dibuat yang berbeda dari spanduk yang dipasang oleh organisasi lainnya. Entah ilmu semacam itu dahulu dapatnya dari mana, ya common sense saja, atau pakai ‘logika ayam’ [entah mengapa disebut begitu].

Membuat spanduk jaman itu, tidaklah seperti diakhir abad XX-an,apalagi awal abad XXI sekarang ini yang tinggal pesan adan akan dikerjakan dengan menggunakan teknik sablon. Sehingga mau buat 100 buah spanduk pun akan dapat selesai dengan cepat dan sama pula hasilnya. Di jaman itu, tidak ada orang atau organisasi yang membuat spanduk dengan menggunakan bahan kain. Sampai tahun 60-an kain tetoron itu belum musim, dan kalaupun ada ya buat baju lah, siapa yang mau memakai untuk spanduk. Spanduk merupakan karya seni, seperti mobil Jaguar jaman dulu, yang secara keseluruhan dikerjakan dengan tangan alias hand-made. [ya biar pakai mesin juga kan dijalankan pakai tangan mesinnya, kan tidak ada yang menekan tombol atau menggunakan alatnya pakai kaki].

Bahan yang lazim digunakan sebagai spanduk, adalah wareng atau ada juga yang menyebutnya sebagai bagor. Bahan ini memiliki lebar tertentu [mungkin 60-an cm] dan panjang yang memadai [sampai beberapa meter], merupakan produk ‘pertenunan’ dari suatu lembaran serat tanaman dengan lebar sekitar beberapa milimeter [sekitar 4 – 5 mm, jadi bukan tenunan benang]. Wareng memiliki warna aslinya, yang kuning muda atau cream. Sangat cocok untuk ditulisi dan digunakan sebagai spanduk. Karena sesungguhnya bahan ini dibuat [entah dimana] dan dijual di Gresik untuk tujuan melapisi kain layar perahu atau untuk layar itu sendiri. Salah satu penjualnya adalah pak Masjhuri [bapaknya Mufidati], saya biasa memanggilnya pak Wi. Sampai tokonya dinamai Toko BAGOR. Di daerah lain, bagor atau wareng digunakan untuk pengganti karung goni, tentu sebelum adanya karung plastik. Yah, bentuk anyamannya persis seperti karung plastik yang sekarang banyak dipakai sebagai karungnya beras dan garam. Bagor atau wareng sekarang susah didapat, dan hanya dipakai sebagai produk seni untuk pelapis barang barang souvenir.

Setiap spanduk akan berbeda satu sama lain, karena memang dibuat seperti dilukis. Dan hanya orang-orang tertentu yang biasa melakukannya. Kalau yang lain ikut-ikutan, bukannya membantu tetapi malah ngerepoti. Di lingkungan kita pada masa itu, yang piawai dan rajin ‘melukis’ di spanduk [kata lain membuat spanduk] adalah Azhar [As’ad], Husni Thamrin dan Munawir Kampung Rambu. Tugas mereka sangat memakan waktu, dan untuk membantu mempercepat penyelesaian, terutama untuk huruf-huruf yang besar, mereka membuat ‘pinggirannya’ dan yang ‘ngeblegi’ atau yang mengisi bagian tengahnya, bisa siapa saja. Tapi kalau sudah huruf yang kecil-kecil [walau ukurannya besar juga sih] biasanya langsung sekali jadi oleh pakarnya. Kalau kita ikut cawe-cawe malah tambah nggawe rusuh bae. Karena kalau salah, men-delete-nya harus pakai minyak tanah.

Untuk membuat spanduk ini, juga diperlukan besali [tempat kerja] yang panjang, apalagi cat pada masa itu karena pengencernya masih memakai terpentijn atau biasa disebut sebagai minyak cat, keringnya juga memakan waktu. Kalau sekarang dengan pelarut dan pengencer thinner atau tiner, keringnya cepat, dan dengan begitu cepat bisa digulung. Sambil menunggu kering agar bisa digulung, kalau besalinya di Pekelingan, biasanya ditinggal andok di warungnya wak Madjid. Kalau catnya terlalu tebal, ada risiko pada saat digulung, kadang-kadang bisa retak-retak tulisan catnya.

Spanduk biasanya dibuat terlebih dahulu, dan begitu jadi langsung dipasang pada malam harinya. Diperlukan keterampilan khusus dan keberanian untuk memasangnya. Selain mengerti dan ahli tali temali, juga keberanian memanjat tiang listrik / telepon. Kalau ada yang pintar mbelancir, maka pekerjaan akan lebih dimudahkan, karena tidak harus bawa-bawa tangga. Kalau yang pandai dan berani memanjat tidak faham tali-temali, maka akan terlihat talinya akan ruwet tetapi tak kuat. Yang paling cocok untuk maksud seperti ini, adalah simpul yang disebut ‘tali timba atau tali layar dan diikuti dengan tali mati’. Kalau dahulu ikut kepanduan pasti tahu simpul semacam itu. Dijamin kuat tidak akan longgar dan turun kebawah. Makin kena angin, ikatannya akan semakin kuat. Kalau yang memanjat itu yang sudah ‘profesional’ biasanya cukup seorang diri, karena kedua ujung tali spanduk yang akan diikatkan di tiang nantinya, sementara diikatkan di kakinya, sehingga ketika sampai di atas, dia tinggal mengambil yang di kaki, lalu diikatkan di tiang.

Ada berbagai alasan kenapa spandooknya langsung dipasang, antara lain berebut tempat pemasangan, tak repot menyimpan, dan yang terpenting sudah mengibarkan pengumuman dahulu, sehingga masyarakat sudah mulai mengetahui akan rencana kegiatan kita. Baru kemudian dibuat poster atau plakat yang lebih rinci menjelaskan rencana kegiatan kita, dan juga ajakan untuk berpartisipasi.

î

Membuat plakat juga tak kalah serunya dan repotnya. Ada organisasi yang membuat plakatnya sama semua dengan menggunakan teknik semprot, karena rupanya mereka memiliki tenaga yang memahami teknik pembuatan masternya dan juga teknik reproduksi dengan menyemprot-nya. Terus terang dilingkunan anak-anak PII tidak mempunyai kemampuan seperti itu. Maka memilih teknik yang tradisional atau konvensional, yaitu membuat satu persatu plakat dan tentunya tidak ada yang sama.

Ada yang bertugas membuat teksnya [yang kalau pakai istilah periklanan di jaman modern ini bisa disebut sebagai copywriter]. Ada yang bertugas ‘menuliskan’ dalam plakat. Sengaja dalam kata menulis saya berikan tanda kutip, karena sebenarnya menulis dengan menggunakan kuas, tak lain adalah sama dengan melukis. Sangat berbeda perilaku jari-jari dan tangan kita. Sehingga pekerjaan membuat plakat – yang jumlahnya harus banyak, jauh lebih banyak dari spanduk – akan sangat memakan waktu, terutama karena ketersediaan sumberdaya insani yang memiliki keterampilan untuk membuat plakat. Hal ini bisa disiasati dengan membuat plakat secara hybrida, yaitu dengan menyertakan pamflet [yang dibuat secara stensilan] yang ditempelkan pada bagian plakat. Sehingga ada bagian yang dilukis – untuk tujuan eye-catching – sedangkan informasi yang rincinya dituangkan dalam pamflet yang ditempel di plakat. Waktu itu sih tidak ada istilah hybrida, ya plakat model seperti itu begitu saja.

Plakat dibuat di atas kertas berukuran plano atau A1, sekitar 70 cm x 100 cm, dari berbagai macam warna kertas dan jenis kertas yang dijual di Gresik, tentu saja agar menarik. Dan proses penulisannya masih tetap menggunakan cat minyak dengan berbagai warna. Semua yang berminat boleh mencoba membuat plakat, dan kemudian akan ditempelkan. Tetapi dimana ditempelkannya, itu yang menarik, apalagi kalau tidak ikut dalam proses penempelannya yang biasanya dilakukan secara beramai-ramai pada malam hari. Bisa-bisa ketika akan berangkat sekolah keesokan harinya menjadi terkejut, karena plakat yang kita buat, akan tertempel didinding rumah kita sendiri.

Ketika saya mulai kuliah di Bandung [tahun 1964], dan banyak memperhatikan poster atau plakat yang dibuat oleh mahasiswa jurusan Seni Rupa ITB, ternyata membuat plakat menjadi sesuatu yang menarik dan mudah membuatnya, banyaklah caranya. Misalnya dengan menerapkan model aplikasi [menempel kertas berwarna atau potongan bekas majalah yang kaya akan warna] sebagai bagian dari plakat yang memberikan citra dan aksentuasi tersendiri. Juga penggunaan suatu alat [waktu itu belum tahu namanya dan dapat dibeli dimana] yang sangat memudahkan menulis [betul-betul menjadi menulis bukan lagi melukis dengan kuas] huruf-huruf dalam plakat, sehingga proses pembuatannya menjadi sangat cepat. Istilah manajemennya meningkatkan produktifitas.

Maka ketika pulang, menceritakan hal itu kepada teman-teman yang sering membuat plakat, misalnya Amak Qusairi cak War Jangkar [yang biasa membuat plakat untuk HMI Gresik]. Kami mencoba membuatnya dengan menggunakan tube bekas pasta gigi, yang diberi sumbat rotan yang sudah dipukul-pukul terlebih dahulu, dan diisi tinta. Tentu saja hasilnya tidak sebagus yang ‘ditiru’. Dan kemudian, ujungnya [tip-nya] diganti dengan yang lebih lembut, seperti gombal. Hasilnya lebih baik. Karena yang mau ditiru itu, adalah yang kemudian dikenal sebagai supidol. Begitulah, perkembangan teknologi akan memudahkan pekerjaan manusia. Tetapi, kadang-kadang dengan biaya yang relatif tinggi pula pada satu sisi, tetapi secara keseluruhan [kalau tenaga manusianya dihargai secara wajar], maka akan sangat menjadi lebih murah. Dalam mengevaluasi suatu hasil teknologi, seringkali kita temukan biayanya kadang-kadang malah menjadi lebih mahal. Itu tak terlepas dari penilaian kita terhadap nilai kerja manusianya. Kalau manusianya dihargai secara wajar, pasti hasilnya akan lain.

Dan saat ini, dengan menggunakan berbagai peralatan ‘modern’, pembuatan pamflet sudah menjadi sangat mudah, cepat, dan sangat menarik. Hanya faktor biaya yang menjadi pertimbangan kita. Teknik reproduksi [bukan pengembangbiakan binatang atau tanaman] pamflet dan hasil cetakan pada berbagai medium [tidak saja kertas] telah menjadikan plakat suatu produk yang sangat menarik dan terjangkau. Lihat itu iklan-iklan barang yang tertempel dimana-mana. Kalau saja di abad XXI ini, PII Gresik masih menyelenggarakan Penobatan Bintang Pelajar, tentu plakatnya sudah akan sangat canggih mengikuti perkembangan zaman. Disitulah sebenarnya indahnya perkembangan teknologi. Dan kehebatan, keindahan, kecanggihan, kemudahan itu hanya bisa kita rasakan bila kita melakukan refleksi dengan mengenang kembali bagaimana kita melakukannya dahulu, dan bagaimana kita melakukannya saat ini, dan mencermati perubahannya. Itu adalah bagian dari dzikir kepada Allah.

î

Di kala arak-arakan sudah melewati jalan-jalan di kota, dan matahari sudah mulai bersiap kembali ke peraduannya, mulai terlihat hilir-mudik anak-anak dan remaja yang sedang bersiap untuk menuju gedung dimana akan diselenggarakan Penobatan Bintang Pelajar, yang merupakan sessie kedua. Kalau sessie pertama penyeleng-garaannya di jalan-jalan kota, sessie kedua dilaksanakan di dalam gedung, dan hanya yang memiliki undangan yang bisa masuk. Undangan dapat diperoleh dengan menyumbang biaya penyelenggaraan.

Satu-satunya gedung besar yang bisa memuat banyak penonton saat itu, tidak lain hanyalah gedung bioskop Hartati di Bedilan. Gedung ini digunakan untuk penyelenggaraan penobatan selama beberapa tahun, hingga ada gedung baru yang memiliki fungsi sama, yaitu Gedung Nasional Indonesia [GNI] yang terletak diperempatan Pilang [ujung selatan Jalan Pahlawan].

Acara Penobatan Bintang Pelajar, merupakan puncak acara resmi dari serangkaian acara yang ada, dimana dilakukan dengan memasangkan selempang nama kategorinya, serta pemasangan mahkota oleh petinggi kota, memberikan piagam [yang tulisan tangan] serta sebuah piala. Sayang piagamku dan pialaku, yang saya terima pada tahun 1958 dan 1961 sudah entah dimana sekarang. Pada acara itu, setiap bintang – yang mengenakan pakaian putih-putih atau seragam sekolahnya – dipanggil satu persatu dan kemudian didudukkan di kursi yang diatur berderet. Kursinyapun hanya sederhana saja, hanya kursi kayu sewa, karena sulit untuk mendapatkan pinjaman kursi yang nyaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan.

Sedangkan mahkota yang dikenakan, adalah mahkota yang dipinjam dari seorang perias penganten yang memiliki koleksi cukup banyak. Entah terbuat dari bahan apa, yang jelas mahkota tersebut gemerlapan bertaburan butiran yang memantulkan cahaya. Perias penganten yang selalu dengan senang hati meminjamkan mahkota tersebut adalah ibu Haji Djanijah [orang tuanya Ridwan] di Teratee, yang rumahnya disebelah barat jalan, di dekat akhir tanjakan. Barangkali, kalau tak ada mahkota pinjaman, berupa mahkota yang biasanya dikenakan mempelai puteri, mungkin panitia harus membuatnya dari kertas. Seperti yang biasa dikenakan anak-anak balita yang sedang merayakan ulang tahunnya di KFC atau Hoka Hoka Bento.

Tentu saja, sebagaimana acara resmi lainnya, acara malam penobatan bintang pelajar ini didahului dengan berbagai pidato sambutan. Selain petinggi kota, juga panitia penyelenggara. Yah, sesuatu yang biasa dan lumrah. Setelah dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, maka dilakukanlah pidato sesuai dengan urutan yang dibacakan oleh pembawa acara [waktu itu belum ada istilah MC alias Master of Ceremony]. Apa yang terjadi di belakang layar, tidaklah diketahui oleh para hadlirin, asalkan acara tetap berjalan tanpa gangguan, walau terjadi ‘kericuhan’ di belakang layar.

Ceritanya terjadi pada tahun 1961, ketika saya pertama kali aktif di PII dan diserahi sebagai Ketua Panitya Penobatan Bintang Pelajar, bersama beberapa teman yang lain seperti Oemar Wahjudin, Saifudin Bakri, Saifudin Wasad dan lain lainnya. Kami tahu ini sebagai suatu latihan langsung, alias learning by doing atau belajar beranang dengan menceburkan dalam sungai, karena dalam pelaksanaannya sepenuhnya masih diarahkan dan dibimbing oleh para senior, khususnya Hilmy Marwi dan Nashif.

Saya sebagai Ketua Panitya, yang juga kebetulan sebagai salah satu Bintang Pelajar yang akan dinobatkan, harus memberikan sambutan. Itu merupakan penampilan pertama di depan publik untuk berpidato memberi sambutan, yang walau sudah berlatih beberapa kali dan sudah semenjak di kelas 2 SD sudah diajarkan kiatnya oleh Cak Wahib, ternyata kemudian ‘gagal take-off’ karena keburu nggeliyeng mau pingsan. Maka sambutannya langsung disatukan dengan sambutan Ketua Umum PII Cabang Gresik, yaitu Hilmy Marwi.

Kiat yang diajarkan cak Wahib, antara lain berupa doa dalam bahasa Arab yang bersyair [sudah lupa – karena tak pernah dipakai] yang artinya kira-kira “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Besar dan aku kecil di hadapan-Mu, tetapi jadikanlah aku besar dalam pandangan mereka.” Serta latihan menghadapi bantal-bantal yang dijejer seakan bantal itu adalah hadirin. Ha ha. Alhamdulillah, di usia yang semakin lanjut, untuk berbicara di depan umum sudah tidak merupakan beban lagi.

î

Menyanyikan Indonesia Raya dalam memluai suatu kegiatan, pada masa masa itu adalah merupakan suatu kebanggaan bagi seluruh hadirin, tetapi sekarang sepertinya acara-acara seperti itu sudah tidak lagi didahului dengan menyanyikan lagu kebangsaan. Mungkin saat itu masih ‘cengkaruk di goreng awu’, karena sebelumnya kan menyanyikan lagu Indonesia raya merupakan suatu yang terlarang. Sekarang hanya kalau ada Presiden saja suatu acara pakai menyanyikan lagu kebangsaan atau upacara bendera. Ketika ada cara baru, yaitu hadirin hanya diminta untuk berdiri saja dan kemudian diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara instrumental, maka teman-teman Panitya ingin melakukan seperti itu, apalagi di Gresik belum pernah ada.

Mencari piringan hitam yang berisi lagu Kebangsaan, ternyata tidak ada yang punya, atau memang tidak pernah ada piringan hitam yang berisi lagu kebangsaan. Casette recorder [kaset] pada masa itu belum beredar, yang ada hanya tape recorder dengan pita yang digulung, dan besar alatnya segede koper. Salah satu sumber lagu Indonesia Raya secara instrumental, adalah siaran Suara Indonesia dari RRI Jakarta, yang disiarkan sekitar jam 09:30 pagi. Dan sebagaimana biasanya, gagasan seperti itu biasanya muncul di akhir-akhir menjelang pelaksanaannya. Maka kesempatan merekamnya, hanyalah dapat dilakukan pagi hari menjelang acara penobatan di malam harinya. Untunglah cuaca baik, penerimaan radio juga baik, sehingga rekamannya cukup baik untuk ditampilkan. Seingatku yang merekam adalah Asnar. Yang sekaligus pemilik tape recorder merk Grundig buatan Jerman.

î

Untuk acara hiburannya, biasanya panitya menyediakan suatu daya tarik tertentu, misalnya mendatangkan band yang sudah agak terkenal atau punya potensi menjadi terkenal di kala itu, tentu saja band yang berasal dari Surabaya, atau bahkan bila kepepet band dari Gresik pun jadilah. Beberapa band yang cukup ngetop waktu itu, pernah manggung di acara Penobatan Bintang Pelajar, antara lain Rindang Banua [yang terkenal dengan lagu Paris Barantai-nya], Gembel [yang anggota groupnya anak-anak SMA VI Jalan Pemuda Surabaya], Bob Tutupolie [saat itu sih belum ke New York], Gombloh [sebelum benar-benar ngetop, masih sedang mulai nanjak].

Acara malam penobatan Bintang Pelajar itu seakan punya daya tarik tersembunyi, yang kadang-kadang tidak bisa dimengerti. Beberapa golongan, yang boleh dikata jarang atau hampir tidak pernah menonton acara-acara seperti itu, misalnya para seripah [syarifah – sebutan bagi gadis atau wanita etnis Arab] itu juga banyak yang ikut menonton. Mungkin karena Bintang Pelajar dan PII yang mengadakan, jadi dianggap halalan thayyiban.

Disamping itu, panitya banyak dibantu oleh sekolah-sekolah yang ‘berebut’ untuk bisa menampilkan acara kesenian dari murid-muridnya. Jadi panitya hanya sebagai koordinator saja. Dan itu gratis, tis. Artinya semua biaya produksi ditanggung penyaji. Mungkin ini sebagai imbal balas atas dinobatkannya muridnya, yang tentu mengangkat citra sekolah. Tetapi tidak saja sekolah yang memiliki murid sebagai Bintang pelajar, sekolah lainpun juga memberikan sumbangan acara. Maka panitya juga akan memberikan penghargaan kepada mereka yang terbaik, jadinya seperti dilombakan juga.

Mereka berusaha sekuat tenaga untuk tampil dalam pentas pada acara malam penobatan kakak atau adik atau teman sekolahnya. Mereka telah berlatih selama berhari-hari, serta menyiapkan berbagai properti yang akan digunakan dalam penampilan yang akan ditonton oleh masyarakat luas. Dan tibalah kini saat yang ditunggu untuk tampil. Kala itu, kesempatan untuk menampilkan berbagai atraksi dari kemampuan anak-anak sekolah, boleh dikata hanyalah pada acara perpisahan dalam lingkungan sekolah mereka dan hampir tidak ada acara unjuk kemampuan pada kesempatan yang lain.

Berbagai acara dipersiapkan oleh masing-masing kelompok dari berbagai sekolah, dan yang banyak memang adalah tarian dari berbagai daerah. Untuk suatu tarian yang hanya akan memakan waktu beberapa menit, membutuhkan latihan dan persiapan yang melelahkan. Kita umumnya jarang memperhatikan apa yang terjadi di balik panggung suatu pementasan, yang dilihat hanyalah apa yang tampil di panggung. Kalau memperhatikan saja kurang, apalagi memberi penghargaan kepada mereka yang dibalik panggung. Yang juga cukup menentukan, adalah mencari piringan hitam sebagai lagu pengiring, karena jarang yang punya. Hanya beberapa orang yang memiliki koleksi piringan hitam, dan dari yang beberapa itu belum tentu memiliki lagu yang diperlukan. Misalnya, pada masa-masa itu sangatlah populer tarian Serampang 12, Mak Inang, tari Lilin dan tarian Melayu lainnya. Dimana lagu pengiringnya [lupa judulnya] memiliki syair “seringgit si dua kupang, ……”, Babendi-bendi dan lain lain menjadi rebutan untuk dipinjam .

Di masa-masa permulaan [tahun 1958] ada juga pentas dari aktifis PII waktu itu, yang masih saya ingat sampai sekarang, saat dimana saya juga dinobatkan sebagai Bintang Pelajar kategori Madrasah. Entah dari siapa idenya, dan siapa produsernya. Acaranya berupa penampilan bayangan beberapa orang sedang meniup terompet atau alat tiup lainnya yang diiringi dengan lagu barat instrumental, [entah tulisannya bagaimana yang benar] berjudul Ceriping – Cherry Pink – barangkali ya. Sayang saya tidak bisa menuliskan note lagunya, agar anda tahu apa yang saya maksud, walau saya bisa rengeng-rengeng menirukan suara terompet / alat musik tiup itu.

Satu lagi, acara banyolan atau parodi [ya kalau sekarang seperti model episode atau potongan cerita dalam Extra Vaganza di TRANS-TV yang dibintangi Aming dkk]. Waktu itu bintangnya adalah cak Yin [Marindra, adiknya cak Afghon], dan dua orang lainnya yang kemudian kuketahui adalah cak Machmudin Amat Angkat dan cak San Combut. Mereka memerankan kejadian yang sering terjadi di seberang jalan depan pintu rumahku di Garling. Bagi yang tinggal di Gresik, jalan Garling adalah jalan searah, dan semua kendaraan dari arah utara tidak diperbolehkan melewati penggalan jalan yang mungkin hanya 50-an meter ini.

Banyak orang mencoba menghindari larangan verboden tersebut dengan cara menuntun sepeda atau becak. Karena kalau mengikuti aturan, maka mereka harus menambah perjalanan antara 150-200an meter, karena mesti berkendaraan memutar lewat Kebungson dan kembali lewat Lojie [bagi yang mau ke Aloon-Aloon], tetapi bagi yang mau Pelabuhan dan Bandaran pun, yang sebenarnya sama saja, tetap saja enggan karena jalan Kebungson itu sepi dan singup. Tentu hal tersebut akan memakan waktu dan tenaga. Kalau yang tidak boleh itu mobil atau sepeda motor [yang jumlahnya dikala itu belum banyak] mungkin orang akan patuh, tetapi kalau sepeda dan becak – yang bondo napas – memutar sejauh itu akan sangat terasa, apalagi kalau becak yang sarat muatan. Ada juga yang antara nuntun dan naik – istilahnya ser-seran [yang naik hanya satu kaki di pedal saja]. Tetapi ada juga yang nekat, karena tokh tidak ada polisi yang jaga.

Disinilah episode itu diambil. Karena polisi sering kali ngumpet alias bersembunyi di ceruk antara tokonya Yok Yan [dulu Liem Hok Kiet] dengan Gardu PLN yang ada sirenenya [suling], sambil mengintip dari cela-cela tiang listrik. Saya dan keluarga sering melihat adegan polisi nyanggong itu, dan melihat mereka yang akan terjebak. Waktu itu belum ada istilah tilang [singkatan dari bukti pelanggaran yang berupa surat untuk diproses lebih lanjut] atau prit jigo [menyogok polisi dengan sejumlah uang]. Polisi hanya memberi peringatan kepada para pelanggar dengan mengambil pentil sepeda atau becaknya [bukan hanya pentil karetnya saja lho]. Entah pentil itu dibuang, atau dimasukkan saku. Saya lebih cenderung dimasukkan saku sang polisi, karena tak pernah menemukan pentil sitaan.

Kalau dalam kenyataan sesungguhnya, para pelanggar pasrah atas teguran dan penyitaan pentil sepeda atau becaknya, dalam adegan itu terjadi negosiasi dan rayuan dari si pengemudi becak dalam bentuk yang lucu dan membuat tertawa semua penonton. Diantaranya ada kosa kata yang diulang-ulang dengan logat dan dialek tertentu, yaitu “kok disek tha” [nanti dulu lah].

î

Mendekor panggung dari suatu gedung untuk keperluan acara seperti ini, kadang-kadang juga cukup menyulitkan. Karena tentu diperlukan bahan yang banyak mengingat lebar dan tinggi panggung, apalagi kalau tidak ada tembok yang bagus sebagai latar belakang. Istilah sekarang, adalah back-drop. Satu-satunya yang punya layar besar sebagai back-drop adalah foto studio, tetapi tentu dipakai kerja bukan. Pernah suatu kali, back dropnya adalah rangkaian sewek atau jarik batik berlembar lembar dan bermacam-macam motif. Atau pinjam bahan kain yang masih pis-pisan [gebokan] – istilah untuk satu gulung kain apapun yang belum dipotong – dari pengusaha konpeksi atau kopyah. Biasanya boleh-boleh saja [karena yang dipinjami adalah simpatisan atau aktivis senior atau keluarganya], asalkan tidak dipotong dan hanya boleh pakai pines atau dom-bundel [jarum pentul].

Tata suara atau sound system yang digunakan pada acara-acara semacam itu, masihlah sangat sederhana sekali. Asal suaranya lebih keras dan terdengar sampai di belakang, dan tidak sering mendengung karena adanya feed-back, itu sudah baik. Begitu juga tata cahaya di panggung, belumlah secanggih saat sekarang, dimana lampu-lampu berwarna bermain hidup-dan-mati sendiri-sendiri atau bersama-sama sehinggu menimbulkan effek cahaya di panggung untuk mendramatisir situasi.

î

Walaupun dalam suasana kesederhanaan seperti itu, anggaran biaya atau begrooting untuk penyelenggaraan relatif besar juga [untuk ukuran sebuah organisasi pelajar]. Dana diperoleh dari ‘penjualan’ [yang dikalangan tertentu sekarang diistilahkan sebagai infaq] undangan, serta meminta sumbangan kepada pihak-pihak tertentu, siapa lagi kalau bukan keluarga anggota PII serta, masyarakat pedagang [yang diistilahkan jamaah tajir], dan pemilik toko sepanjang jalan Niaga.

Banyak sekali pengalaman dan trik dalam mengumpulkan sumbangan yang diistilahkan dengan ‘mengedarkan les’ ini. Siapa yag didahulukan dari deretan nama yang akan disasar, siapa yang akan menghadap ke orang-orang tertentu, dan bahkan kalau perlu harus menyediakan fulpen atau ball-poin sendiri guna dipakai mengisi les dan tandatangan. Tentu ada maksudnya. Syarat-syarat yang biasa diterapkan untuk memilih seorang presenter atau pramuniaga, biasanya juga diterapkan dalam memilih seseorang untuk mengedarkan les ini. Berpenampilan sopan, bisa berbicara banyak [untuk menjelaskan tentang programnya dan tentunya pandai ‘merayu’], berwibawa dan disegani [karena hubungan kekerabatan orang tuanya] dan sebagainya.

Biasanya, yang akan mendatangi ke kediaman seorang donatur, terdiri atas dua atau tiga orang, dan komposisinya bisa bertukar-tukar sesuai dengan medan [siapa yang akan dimintai sumbangan] yang akan dihadapi. Ada yang agak senior, dan ada pula yang junior [sebagai pelatihan atau magang]. Pada masa masa itu, yang diandalkan adalah mbak Istiqomah Sahlan, yang didampingi oleh beberapa junior.

Karena secara psikologis, seseorang dalam memberikan sumbangan selalu akan melihat berapa sumbangan yang telah diberikan oleh orang sebelumnya, maka hal inipun harus dikenali dan dimanfaatkan. Ada yang tidak mau melebihi dari yang telah diberikan oleh seseorang yang dikenalnya, tetapi ada pula yang tidak mau kalah dengan seseorang yang dikenalnya. Yah itu sah-sah saja, dan pola pikir secara psikologis semacam itulah yang ‘dimanfaatkan’, guna memperoleh hasil semaksimal mungkin. Atas dasar itu, sistem combe, juga diterapkan dalam mengedarkan les ini. Yaitu dengan sepengetahuan orang yang bersangkutan [dan tentunya panitya lain – kalau tidak si pengedar les bisa didakwa melakukan korupsi] untuk menuliskan sejumlah sumbangan yang lebih besar dari yang sesungguhnya diberikan. Misalnya dia menyumbang Rp 500,- tetapi ditulisnya Rp 5.000,-.

Ada lagi cara lain, untuk menanggulangi ‘kecelakaan’ yang mungkin saja terjadi. Yaitu keadaan, dimana calon penyumbang yang diharapkan memberikan sumbangan besar dan kemudian didahulukan, ternyata memberinya tidak sebesar yang diharapkan. Tentunya ini akan mempengaruhi penyumbang berikutnya yang ada di dalam daftar yang sama, artinya bisa ‘ngerusak pasaran’. Untuk mengatasi hal seperti inilah, diperlukan penggunaan ball-poin atau fulpen yang kepunyaan panitya untuk menuliskan besarnya sumbangan tadi. Adalah tidak lazim untuk menuliskannya dengan menyebutkan di dalam huruf seperti halnya dalam kwitansi. Bagi yang perpengalaman mengum-pulkan dana, hal ini juga banyak dilakukan oleh pihak-pihak lain, apalagi kalau bukan melakukan mark-up, dengan menambahkan satu digit angka tertentu. Tetapi ini tidak mudah, dan tidak selalu bisa dilakukan, selain harus tetap memperhatikan asas kewajaran. Sebenarnya, dengan cara seperti ini si penyumbang diuntungkan, citranya menjadi naik. Tetapi cara seperti ini, selalu diupayakan untuk tidak dilakukan, kecuali bila sangat terpaksa. Lebih baik mengganti daftar dalam lesnya, jika masih sedikit isinya.

î

Boleh dikata, hampir pada setiap penyelenggaraan penobatan Bintang Pelajar, panitya memperoleh surplus yang kemudian dimanfaatkan untuk digunakan dalam membiayai kegiatan organisasi. Kalau kita review, surplusnya kegiatan penobatan Bintang Pelajar ini, bukan saja karena dukungan masyarakat yang memberikan donasi, tetapi terutama adalah karena berhasilnya ditekan biaya pengeluaran. Hampir dikata, semua yang aktif malah banyak mengeluarkan biaya dari kantongnya sendiri untuk melaksanakan tugas kepanityaan. Artinya tidak ada uang lelah, tidak ada konsumsi dan sebagainya. Ganti transport paling-paling hanya kalau mengurus ijin ke kantor polisi Kembang Kuning, tetapi kadang-kadang disambi juga agar tidak perlu transpor. Baik dalam masa penyelenggaraan maupun persiapan yang berhari-hari. Tetapi semua menjalankannya dengan senang hati dan ikhlas.

î

Sayang sekali tidak banyak nama yang kuingat, siapa saja yang pernah dinobatkan sebagai Bintang Pelajar ini. Sebagian adalah anak-anak PII tetapi banyak yang bukan anak PII. Karena saya sendiri hanya beberapa tahun saja sempat menyaksikan dan ikut menyelenggarakan acara penobatan Bintang Pelajar ini. Beberapa yang masih teringat, antara lain Tajab [Madrasah 57], Bambang Suryanto [SD 58], Hilmy Marwi [SMEP 58 ?], Nashif [SMEP 59 ?], Istiqomah [PGAL], Wahyudi [SMP ?]. Mungkin nanti dari teman-teman lain, dapat melengkapi daftar nama para bintang ini.

î

Keberhasilan penyelenggaraan Penobatan Bintang Pelajar ini, tidaklah lepas dari dukungan semua sekolah khususnya para Kepala Sekolahnya. Untuk itu, pada tahun 1973 atau 1974 ketika akan diselenggarakan lagi secara besar-besaran, pihak panitya mengundang para Kepala Sekolah guna membahas kelanjutan Bintang Pelajar ini. Tidak tanggung-tanggung, tempatnya di Ruang Sidang Pleno DPRD Tk. II Kabupaten Gresik, yang terletak di gedung Genteng Guci, yang dulunya dipakai markas tentara. Tentu ini juga bisa terlaksana karena ada dukungan dari pihak legislatif dan eksekutif, dan pihak MUSPIDA yang pada waktu itu sangat kompak membantu.

Dan para Kepala Sekolah pun sangat senang, karena melihat sebagian yang menjadi panitya adalah anak-anak didiknya, yang saat itu sudah hampir menyelesaikan atau malah sudah menyelesaikan pendidikan tingginya. Ada Amin, Ipul, Nana, Alim, Fudin, serta generasi yang lebih mudanya, Burhanuddin, Jumhana, Mulya, Tama, Nudin, Bambang pak Ismu dan lain lain.

Wa Allahu a’lam.

2 Tanggapan to “BINTANG PELAJAR”

  1. hikmah anita Says:

    Nice blog Pak… Terharu saya dengan semangat para pemuda Gresik jaman tersebut … Mungkin banyak hal juga masih bisa dilakukan saat memasuki kembali kota Gresik saat pensiun…untuk kemajuan kota Gresik.

  2. Andy Buchory Says:

    Terima kasih pak Syaaf atas tulisannya, selama ini saya berusaha mencari tahu cerita tentang “Bintang Pelajar PII” tapi semuanya bungkam atau mungkin tidak begitu memahaminya, dari tulisan bapak ini saya mulai dapat gambaran cerita dari Ratusan Foto Bintang Pelajar yang saya punya. Kiranya bapak tidak berkeberatan jika tulisan bapak saya jadikan sumber tulisan saya… terima kasih sekali lagi pak Syaaf..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: