PENANTANG TERAKHIR

Seperti biasanya, saya sering melakukan kegiatan di depan komputer sambil mendengarkan acara televisi [he he, biasanya kalau televisi kan menonton ya]. Karena memang utamanya mendengarkan, karena matanya lebih tertuju ke keyboard atau layar monitor, kalau ke layar televisi maka tentu gerakan tarian jari-jemaritangannya akan terhenti. Baru kalau ada yang menarik, maka ditoleh televisinya. Cara menonton televisi yang sambil lalu, karena yang ditonton umumnya acara berita dan olah raga. Kalau berita kan wajahnya itu-itu saja, sampai misalnya ketemu orangnya di dunia nyata insya Allah akan mampu mengenalinya, kecuali yang wajahnya sengaja ditutupi layaknya ninja [misalnya Neneng isteri Nazaruddin]. Kalau acara olah raga, kan biasanya setelah tepuk tangan – sebagai indikasi ada sesuatu yang menarik – maka akan ada tayangan ulang. Atau kalau keadaannya sudah kritis [misalnya skore akan gim], barulah dilihat sebentar. Kesemua itu memungkinkan, karena layar monitor komputer dan layar televisi membuat sudut 90 derajat. Mau meniru? Sila coba.

Dan tentu anda sudah menduga, saya tadi mendengarkan acara di televisi yang dilangsungkan setiap malam Ahad antara jam 19:05 – 20:00, yang kali ini menampilkan par apelaut senior, yang kesemuanya bersebutan Kapten [walau kapten, itu adalah jabatan yang paling tinggi di kapal atau pesawat terbang sipil] dengan empat strip di pundaknya. Beda dengan kapten di ketentaraan yang di pundaknya hanya ada tiga strip saja. Dan sudah tua-tua lagi, apalagi ditambah lelaki semua. Cukup didengarkan salah-benarnya saja.

Dan ketika awal acara, entah sedang apa, saya tidak melihat saat diperkenalkannya semua peserta tersebut, juga ketika tahap menjawab pertanyaan bersama, mungkin sedang asyik menatap layar monitor, karena sedang asyik “membaca” suatu kutipan artikel dari koran daerah yang tidak saya mengerti bahasanya, yang diterbitkan lebih dari tiga perempat [¾] abad silam, yang terdiri dari empat bagian yang dimuat empat hari berturut-turut dan bahkan bagian yang pertama merupakan head-line. [insya Allah nanti akan saya sampaikan juga ceritanya].

Tetapi ketika Helmi Yahya menyebut suatu nama, ketika nama tersebut dipilih untuk disingkirkan bila jawaban yang di center-stage ternyata benar, otakku segera bereaksi untuk menggerakkan otot-otot leher guna menoleh ke layar televisi. Dan setelah mata dan image memory system yang ada di benakku memastikan sosok wajah yang ada di layar, secara reflek pula otot-ototku berteriak memanggil isteriku yang sedang beres-beres barang yang baru dibongkar dari kapal, sehingga rumah betul-betul seperti kapal pecah, tidak muat menampungnya.

Tentulah nama yang disebut Helmy Yahya itu memiliki sifat istimewa dalam sistem memori di otakku, sehingga menimbulkan tindak ikutan yang saya sebutkan tadi. Tetapi, tentu anda bertanya, walau dari kota kelahiranku memang banyak pelaut – bahkan dari sejak zaman dahulu kala –  tetapi adakah seorang pelaut yang bersebutan Kapten yang saya kenal? Memang ada, dan bahkan banyak. Itu yang mungkin di luar dugaan anda. Yang dari Gresik ada, yang bernama Cap. Masduqon – yang saya sendiri baru mengenal beliau dalam berbagai pertemuan keluarga asal Gresik di Jakarta ini, walau sepertinya beliau sudah tidak berlayar lagi sejak beberapa tahun silam. Tetapi bukan Cak Dukon yang menyebabkan aku bereaksi

Nama itu tidak lain adalah August Hutabarat, salah seorang dari beberapa orang yang kukenal, yang semula adalah perwira-perwira di kapal, ada yang sebelumnya KKM [Kepala Kamar Mesin], Mualim, dan juga Nakhoda, yang kesemuanya adalah lulusan dari Akademi Ilmu Pelayaran di Ancol. Saya mulai mengenal mereka, tepat empat puluh tahun silam. Ya, betul, tepat, karena di bulan Maret juga mulainya. Ada pak Soeroso, Pak Djamal Terminal [karena ada juga yang disebut sebagai Pak Djamal Penguasa], Pak Jafii, Pak Wijono, Pak Sulijo, Pak Chamid, Mas Hamid, dan Pak August Hutabarat, yang kesemuanya – empat pukuh tahun silam – sudah berada di darat kecuali yang Mas Hamid masih berfungsi sebagai Nakhoda Kapal kelas Adi. Dan yang satu ini, August Hutabarat, memang memiliki keistimewaan dalam perkenalannya, dengan saya.

Perkenalanku dengannya, termasuk tergolong yang pertama-tama di Kalianget, yaitu pagi hari pertamaku di Kalianget setelah malam sebelumnya baru tiba dari Gresik. Saat itu saya dihadapkan dengan Direksi PN GARAM, dan kebetulan dia ada di sana. Ketika berkenalan, aku tersenyum – yang merupakan representasi dari apa yang sedang aku fikirkan. Rupanya dia menangkap senyumanku tersebut. Dan kami termasuk yang cukup dekat baik karena hubungan kerja dalam tim maupun dalam keseharian, karena sifatnya yang periang dan sangat bersahabat.

Berapa tahun berlalu setelah saya keluar dari PN Garam, kami sempat bertemu lagi di Kalianget ketika saya bersama Pinayungan mengunjungi Pondok Pesantren Al-Amin atas anjuran kyainya Pondok Modern Gontor, sebagai bagian dari kegiatan CSR [waktu itu namanya belum begitu] PT ADHI KARYA. Dan disitulah, Pak Hutabarat menyampaikan apa yang rupanya selama itu disimpannya.

Ketika itu kami bersama teman-teman lama, seperti Pak Muljono, Mas Purbiantoro, Sukamto , “Sjaaf, kamu masih ingat pertama kali kita berkenalan, diperkenalkan oleh Pak Wondo, di ruangan Direksi?” tanyanya, dan saya jawab “Ya, mengapa Pak?” jawabku balik.

“Kamu ketika berjabatan tangan, koq tersenyum agak aneh”, yang langsung saja saya tanggapi dengan tertawa lebar. “Masih ingat ya, dan rupanya selama ini disimpan terus teka-teki tersebut ya”. Dan kami semua tertawa lebar, seperti halnya dahulu ketika masih bersama-sama.

“Terus terang, saat itu aku terperangah. Betapa tidak, jauh-jauh sampai di ujungnya pulau Madura, orang yang kukenal pertama-tama koq Hutabarat, dan bukannya yang lain“. Dan tertawa kami semua pun meledak berderai-derai. “Kalau di Jakarta, Bandung, atau bahkan di Surabaya berkenalan dengan orang Batak, mungkin sudah biasa” tambahku pula. “Jadi selama ini, belasan tahun hal itu jadi pertanyaan di Pak Hutabarat? Saya pikir Pak Hutabarat tidak memperhatikan. Ternyata jadi pertanyaan yang dipendam selama bertahun-tahun.”

Gerakan ekspresi dari tubuh kita – yang juga disebut sebagai “bahasa tubuh” memang mempunyai kekuatan yang melebihi kata-kata yang kita ucapkan. Dan bahasa tubuh itu sepertinya akan keluar begitu saja, tanpa banyak dipengaruhi oleh pemikiran kit. Dan bila kita mengelolanya, kemudian ada yang bilang sebagai jaim, alias “jaga image”, terutama bila kurang baik mengelolanya, sehingga kaku.

Walau hanya sebentar kami sempat melepas rindu dengan Pak Hutabarat, yang sudah hampir dua puluh lebih tahun tidak pernah berjumpa lagi dengannya, di saat itu.

Memang ternyata banyak putra Batak yang berkarya di PN Garam, yang umumya memulai karirnya di cabang perniagaan Medan, dan lalu ada beberapa yang dipindahkan sampai ke Kalianget, sebagai pusat operasinya. Bahkan ada yang sudah beranak pinak di Kalianget, dan sudah “kehilangan ciri khasnya” kecuali nama marga yang disandangnya, Siregar.

Rupanya, walau dia masih bertugas di Kalianget, keluarganya sudah lebih dahulu hijrah ke Jakarta. Karena sewaktu kami masih tinggal di Setiabudi antara 1982-1985, kami sempat beberapa kali berjumpa dengan keluarganya yang juga tinggal di Setiabudi, dan isterinya yang asisten apoteker bekerja juga di Apotik Setiabudi yang ada di dekat rumah kediaman ibu Marlya Hardi. Tetapi setelah kepindahan kami ke Attahiriyah, tidak sempat lagi bertatap muka dengan mereka.

Semalam, kami sempat pangling, karena baru kali ini melihatnya mengenakan pakaian kebesarannya, putih-putih dengan tanda pangkat di pundaknya. Jauh lebih gagah dibanding dahulu, yang lebih banyak mengenakan celana pendek bermotif a’la Hawai ketika di luar kerja, tetapi gaya jalannya masih tetap seperti dahulu. Baik ketika menuju podium, dan juga ketika meninggalkan podium Penantang Terakhir.

Malam itu, kami berdua menatapnya di layar televisi, di usianya yang pasti sudah lewat 70an tahun. Teringat masa lalu yang berlangsung sepanjang beberapa tahun di era 1970-an. Subhanallah, begitulah cara kerja sistem ingatan di otak kita, yang masih penuh misteri dan baru sebagian yang bisa diungkap para cendekia ahli.

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen.
Jakarta, 16 Maret 2013

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: