Lapangan Terbang di Gresik

Kapan mau dibangun? Ha ha, bukan kapan mau dibangun, tetapi telah dibangun, sayangnya kemudian beralih fungsi. Jadi kalian, para keponakan dan cucu atau cicit nanti tak usah membayangkan akan naik pesawat terbang dari sekitar Gresik, karena sepertinya sudah tidak mungkin lagi lha.

Telah dibangun dan beralih fungsi? Ya, begitulah kenyataan yang kita temui. Konon, pada waktu zaman pendudukan Jepang, lapangan terbang itu dibuat. Dan ini tercatat dengan baik, dalam berbagai dokumentasi yang ada. Dari suatu website Australia, bisa kita temui daftar banyak lapangan terbang kecil [sak kecil-kecilnya lapangan terbang ya lebih luas dari aloon-aloon] diantaranya di daerah leluhur kita Gresik. Pada waktu abah kecil, teman-teman Abah Cacak [yang pada umumnya sudah jauh lebih tua dari Abah, misalnya masih SD tetapi sudah akil baligh dan lebih 17 tahun umurnya] kalau mencari jangkrik juga ke bekas lapangan terbang itu. Mereka menyebutnya Lapangan Satu. Entah mengapa begitu, mungkin juga ada Lapangan Dua atau yang lainnya.

Mau tahu, dimana kira-kira Lapangan Satu itu berada?. Lapangan Satu membentang mulai dari Perumahan Rakyat [kuadran utara-barat pada perlimaan PETRO KIMIA] ke arah barat bersinggungan dengan tepi selatan Kuburan Pojok dan mungkin terus ke barat sampai perbatasan Pongangan [tempatnya poh ganden] dan Suci sana. Daerah itu, kemudian dijadikan areal pembangunan Proyek Petro Kimia Gresik. Mungkin juga kantor dan pabrik dimana Abah Toni dan Oom Boim bekerja – yaitu Kelola Mina Laut – berada di Lapangan Satu tersebut. Katanya sih. Karena Abah Cacak tidak pernah mencari jangkrik ke sana. Hanya melihat adanya lapangan kosong yang luas, jika dulu diajak nang kuburane mbah Janah [ibunya Bapak Koen].

 

Lapangan Satu pada waktu itu, memang sudah merupakan suatu lapangan yang rata dan luas, serta sudah ditaburi batu kerikit atau sekarang disebut split. Disitulah keluarga jangkrik tinggal, baik yang jelabang [berwarna kulit merah – abang] atau yang jeliteng [berwarna kulit hitam – iteng]. Konon, yang jeliteng itu species yang lebih kuat dan menangan kalau diadu. Tanya sama Oom Yayat, yang mungkin pernah ngadu jangkrik di waktu kecilnya, setidaknya dalam acara di Radio Republik Indonesia [RRI] Studio Surabaya waktu masih sekolah di Taman Kanak-Kanak. Disana merupakan daerah yang bertuan.

Pada awal tahun 1950-an, di kota kita pernah berjangkit wabah cacar. Betul-betul cacar, bukan cacar air yang kemarin berjangkit di rumah Umi Lipa, dan papanya Nadia, sewaktu wafatnya Abah Anang. Saat itu, Abah Cacak masih kecil. Belum Sekolah. Diantara keluarga kita, ada yang terkena wabah cacar tersebut, yaitu Cak Ud dan Cak Nul [abangnya Abah Soleh], anaknya Wak Ajak dan Mak Yah. Aparat pemerintah waktu itu, guna mencegah menjalarnya wabah penyakit lebih hebat, mengambil kebijakan untuk mengisolasi mereka yang sudah terserang ke dalam barak-barak yang khusus disediakan untuk itu. Barak-barak itu tempatnya ya di Lapangan Satu itu. Tetapi banyak keluarga Gresik yang enggan untuk menyerahkan anaknya atau keluarganya dikirim ke sana, karena itu menyembunyikan keluarga yang sakit dengan segala risikonya. Termasuk yang disembunyikan adalah Cak Ud dan Cak Nul. Konon Mak nDuk [ibunya ibu Muzayanah – neneknya para Abah dan Umi] yang telaten ngeramut kedua cucunya. Dan sebagaimana kita tahu, berkat rahmat dan kasih sayang Allah swt akhirnya kedua sepupu Abah dan Umi tersebut sembuh, walau harus menerima bekas-bekas yang ditinggalkan oleh penyakit cacar tersebut, yaitu [maaf] adanya burik di wajah dan mungkin sekujur tubuhnya.

Menghadapi wabah seperti itu – yang konon tak ada obatnya, selain pencegahan penularan dengan cara mengisolasi si penderita – masyarakat hanya bisa berupaya dengan memohon kepada Allah yang Maha Kuasa dengan melakukan doa bersama secara berkeliling di lorong-lorong kampung, membaca shalawat yang diawali dengan kata “li khamsatun utfi biha …..”. [Mohon Abah Rozy dapat menuliskan secara lengkap shalawat itu]. Siapa tahu nanti kita memerlukannya dalam menghadapi pandemi avian flu, yang tak kalah hebatnya dengan penyakit cacar dan kolera alias tha’un yang pernah melanda wilayah kita. Allah yakhfad.

Mengapa orang Gresik enggan menyerahkan anggota keluarganya untuk di isolasi ke barak-barak yang ada di Lapangan Satu tersebut? Hal ini tidak terlepas, dari trauma yang pernah disaksikan oleh segenap warga Gresik yang hidup di masa pendudukan Jepang. Tidak lain, karena banyaknya mayat-mayat yang bergelimpangan di wilayah tersebut, bahkan juga di jalan-jalan kota Gresik, yang meninggal bukan karena penyakit. Mereka meninggal karena kelaparan atau kekurangan gizi. Mereka itulah para pekerja yang membuat lapangan terbang [yang mungkin belum pernah didarati satu pesawat kecilpun]. Mereka itulah yang disebut romusha. Tentu saja para tetua kita takut kalau anggota keluarganya mengalami nasib seperti yang dialami oleh para romusha tersebut. Mungkin Abah Rozy dapat bercerita lebih banyak tentang situasi saat zaman Jepang, setidaknya yang pernah didengarnya dari yang lebih tua. [Kalau masih ada ya].

Tentu kita akan bertanya, dari mana didatangkannya romusha tersebut. Apakah terdiri dari orang-orang sekitar Gresik yang dipekerjakan sebagai romusha? Untunglah Abah Cacak menemukan suatu dokumen di website yang memberikan data tentang romusha yang ada di Gresik. Dari data itu, kita bisa tahu siapakah mereka itu, dan berapa banyak romusha itu dan kapan mereka datang [tepatnya, dikirim] ke kota kita.

Sesungguhnya, pembangunan Lapangan Satu itu bukan dikerjakan oleh pihak militer, tetapi dilakukan oleh kontraktor Jepang yang mungkin juga kita kenal pada masa-masa sekarang [coba tanya sama Suyat] tentu kenal nama perusahaan tersebut. Kontraktornya Lapangan Satu itu adalah Kobayashi Gumi [Kobayashi Construction Group]. Lapangan Satu ini, dibangun ketika Perang Dunia ke II sudah mendekati akhir. Pengiriman tenaga romusha pertama ke Gresik yang ada dalam catatan itu, adalah pada tanggal 22 April 1944, dimana hanya dikirim sebanyak 1.007 orang asal Karesidenan Kediri dari 1.200 orang tenaga kasar yang diminta, serta 102 orang tukang kayu asal daerah yang sama dari 200 orang yang diminta.

Daftar berikut ini, kiranya akan lebih memperjelas peta situasi romusha yang dikirim ke Gresik, dan kemudian tidak diketahui bagaimana nasib mereka selanjutnya [penyajian diubah menjadi sesuai tanggal kedatangan para romusha tersebut]

 

Tanggal Asal Daerah

Diminta

Diterima

Catatan
   

 
22-04-1944 Kediri

1.000

1.007

 
22-04-1944 Kediri

200

102

Carpenter
27-04-1944 Bojonegoro

-.-

227

 
15-05-1944 Madura

1.000

978

 
22-05-1944 Kediri

1.000

797

 
24-05-1944 Kediri

100

75

Carpenter
25-05-1944 Besuki

500

414

 
26-05-1944 Bojonegoro

-.-

466

 
28-05-1944 Semarang

1.000

1.000

 
31-05-1944 Semarang

1.000

1.000

 
31-05-1944 Malang

1.000

556

 
02-06-1944 Surakarta

25

13

 
15-06-1944 Bojonegoro

1.000

298

 
16-06-1944 Bojonegoro

500

126

 
20-06-1944 Madura

2.000

450

 
20-06-1944 Besuki

1.000

273

 
22-06-1944 Madura

-.-

400

 
23-06-1944 Madura

-.-

78

 
24-06-1944 Madura

-.-

301

 
25-06-1944 Madura

-.-

428

 
29-06-1944 Besuki

-.-

286

 
   

 
  Jumlah

11.325

9.275

 

 

Kita tidak tahu persis, berapa banyak penduduk Gresik pada saat itu. Karena batas kota ya masih sampai di situ saja. Paling selatan ya prapatan Gedung Nasional, paling barat ya Jalan Karangturi [Usman Sadar], sedang utara dan timur ya segoro.

Dalam waktu hanya dua bulan saja [entah apakah sesudah Juni 1944 masih terus ada pengiriman tenaga romusha ke Gresik, dokumen tersebut tidak memberitahukan], Gresik kedatangan hampir 10.000 orang. Entah mereka itu dibujuki apa, atau dipaksa dengan cara bagaimana sehingga mau dikirim ke tempat yang jauh dari tanah kelahirannya. Dan bagaimana nasib mereka sesudah Jepang kalah, kita tidak tahu. Yang jelas sebagian [atau bahkan sebagian besar dari mereka] telah gugur sebagai akibat dari kejamnya kelaparan dan kelelahan, dan entah apakah mendapatkan pelayanan yang selayaknya sebagai hamba Allah. Karena masyarakat Gresik sendiri mengalami kesulitan dalam menangani jenazah yang begitu banyak. Untuk pakaian yang hidup saja tidak ada kain, bagaimana mau menyediakan kain untuk mengkafani mereka yang meninggal.

Coba bayangkan, seandainya kamu duduk di pertigaan ANIEM [sebelah rumah Garling dulu]. Karena pada saat itu jumlah truk sangat terbatas, kira-kira para tenaga kerja ‘paksa’ [janjinya sih ya sebagai buruh proyek dan digaji cukup] itu diangkut ke Gresik dengan kereta api, atau lewat perahu bagi yang dari Madura. Entahlah, mungkin yang dinaikkan kereta api, akan diturunkan di halte Gapuro, tetapi juga ya bisa diturunkan di Stasiun Gresik [depan sekolah Asmaaiyah Darul Islam]. Kemudian mereka pasti disuruh jalan kaki [mungkin juga berbaris] menuju ke Lapangan Satu. Waktu datang mungkin masih kekar, tetapi juga mungkin sudah setengah loyo, mengingat bahan makanan waku itu susah. Jangan harap makan beras [e keliru sego, jaran kepang laan mangan pari], bisa makan ketela atau singkong pun sudah bagus. Tanyakan pada abah dan umi, apa itu iles-iles, yang juga dimakan pada masa itu.

Janganlah membayangkan membangun lapangan terbang pada waktu itu dilakukan dengan alat-alat besar, seperti proyek-proyek sekarang. Alat mereka mungkin hanya cangkul, palu, gancu dan besi pemberat untuk menumbuk / memadatkan tanah dan hamparan split. Dan bayangkan orang sebanyak itu, disebar ke seleuruh areal, untuk mencangkul guna meratakan tanah [berfungsi sebagai dozer, excavator dan grader], memecah batu [berfungsi sebagai stone crusher], mengangkut tanah dengan pengkik [berfungsi sebagai loader dan dump-truck], memadatkan tanah dengan besi bertangkai [berfungsi sebagai vibrator roller dan compactor].

Pekerjaan yang membutuhkan banyak kalori tersebut, ternyata hanya mendapat asupan beberapa ratus atau bahkan beberapa puluh kalori saja, dengan tingkat gizi yang sangat rendah pula. Bandingkan dengan tukang-tukang dan pekerja-pekerja kasar saat ini, makannya seperti kuli Perak. Jadi tentu saja persediaan daging dan lemak [masih punya tha] dalam tubuh mereka akan dikonversi menjadi tenaga. Dan dengan sendirinya badannya akan semakin kurus kering. Dan mungkin juga kalau kerjanya loyo – karena sudah tak berimbang lagi antara input dan output kalorinya – pakai ditambahi bentakan dan imbuhan tempeleng oleh mandornya [yang tentara Jepang] atau juga bangsa kita sendiri yang ikut-ikutan. Yah tentunya akan lebih mempercepat menuju kematian.

Agar apa yang terjadi di Lapangan Satu itu tidak diketahui oleh masyarakat banyak, maka kuburan Pojok ditutup. Tidak boleh untuk menguburkan orang yang meninggal. Karena itu, anak sulungnya Bapak Koen, kakak perempuan para Abah dan para Umi, tidak dikuburkan di Pojok, melainkan dikubur di Sumur Songo [kalau mau dikromo inggilkan, jadinya “siti lebet sedasa kurang setunggal” – tapi nama tempat kan tidak boleh dikromo inggilkan]. Rupanya kebijakan proteksi atas suatu kejadian itu sudah biasa sejak dulu ya.

Kalau dari data itu, sepertinya tidak ada tenaga kerja dalam propinsi dimana Gresik berada. Syukurlah. Tetapi, mereka yang dari provinsi lain itu ya saudara kita sebangsa dan seiman, sesama muslim tentunya.

Ini Abah cacak lampirkan data mengenai pengiriman romusha tersebut, dan coba perhatikan catatan kaki pada setiap tabel, dimana disebutkan berapa jumlah romusha yang diminta dan dipekerjakan dalam karesidenan yang sama [disitu disebut province] – kalau istilah bis-bisannya sekarang Antar Kota Dalam Propinsi. Masya Allah. Cukup besar sekali. Apalagi kalau yang tercatat ini merupakan fenomena gunung-es.

Semoga Allah swt mengampuni mereka, termasuk warga Gresik yang tidak mampu menunaikan fardhu kifayah dalam mengurus jenazah [barangkali ada]. Dan semoga kejadian seperti itu tidak terulang lagi di waktu-waktu mendatang, baik pada bangsa kita maupun pada bangsa-bangsa di dunia ini.

 

Wa Allahu a’lam.

 

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Jakarta, 27 November 2006

 

Catatan :

Tulisan ini semula dibuat untuk konsumsi keluarga sendiri, dengan berbagai sebutan yang khas.

Pada mulanya, semua keponakan memanggil saya dengan Cacak, sebagaimana bapak dan ibu mereka memanggil saya.

Di Gresik, memanggil Cacak untuk teman orang tua kita, bahkan guru kita adalah sesuatu yang lazim dan biasa [setidaknya pada sekitar 1950-an dan beberapa puluh tahun kemudian. Perkecualian, adalah bila temannya orang tua kit aitu, sudah naik haji, dipanggilnya dengan Wak.

Permasalahan mulai timbul, ketika beberapa keponakan sudah mulai punya anak, dan ikut-ikutan memanggil Cacak juga. Maka kemudian dilakukan reformasi, dengan menyebut semua yang sekelas dengan Abah dan Umik, dan karena sebelumnya dipanggil Cacak, ya berlanjut jadi Abah Cacak. Yang lain, dengan namanya.

 

Salam

 

 

Sumber data :

 

Yoko Hayashi, Agencies and Clients: Labour Recruitment in Java, 1870s-1950
IIAS/IISG, Clara Working Paper, No. 14, Amsterdam, 2002

 

Ini kutipan sedikit :

 

Javanese agency reports state that the military administration was responsible for mobilising most of the labourers wwithin a province. The labourers sent outside the province (some 30,000 between April and June 1944) were committed to major construction projects such as the Bayah coal mine and Sakti-Bayah railway in Banten, the airfields in Banten and Grissee, and the shipyards in Surabaya and Juwana. Each agency from every province in Java dealt with labour recruitment in that region. It was probably difficult to persuade people to go to distant places, and much more difficult to convince them to go overseas, because word of the romusha fate had gradually spread among Javanese villagers. In September 1943 the head of Janglapa village in Bogor Province impressed 15 villagers to go to Cikotok in Banten for railway Construction. ……………

 

 

Surakarta

  Client [destination]

Requested number

Transported number

Remarks
6/4/1944 Bajah Mine / Sumitomo [Banten]

308

From request in March
3/5/1944 Shikojo [Airport?] [Serang]

1,000

284

 
3/5/1944 Cilacap Shipbuilding Yard

30

22

 
2/6/1944 Kobayashi Gumi, Kobayashi Construction Group [Gresik]

25

13

 
13/6/1944 Harima Zosenjo, Harima Shipbuilding Yard

300

137

 
   

 
Tota  

1,355

764

 

Within the province [from April to June 1944].

Reported number 29,290 / transported numer 10,665

 

 

Kedu Province

  Client [destination]

Requested number

Transported number

Remarks
7/4/1944 Bajah Mine/Sumitomo [Banten]

1,000

839

 
8/4/1944 Bajah Mine/Sumitomo [Banten]

1,000

970

 
1/5/1944 Seibu Doboku-kyoku The Western Office of Construction, Banten

1,000

883

 
31/5/1944 Bajah Mine / Sumitomo [Banten]

1,500

854

 
1/6/1944 Surabaya Ken Butai

1,000

1,097

 
   

 
Total  

5,500

4,643

 

 

 

Semarang Province

  Client [destination]

Requested number

Transported number

Remarks
5/4/1944 Jakarta

100

100

Carpenter
12/4/1944 Surabaya

1,000

285

 
15/4/1944 Jakarta

300

200

Carpenter
15/4/1944 Jakarta

50

50

Welder
17/4/1944 Bajah [Banten]

1,000

245

 
19/4/1944 Serang [Banten]

1,000

569

Construction
24/5/1944 Seketi [Banten]

250

250

 
28/5/1944 Grissee

1,000

1,000

 
29/5/1944 Jakarta

1,000

1,000

 
30/5/1944 Juana [Pati]

500

500

 
31/5/1944 Grissee

1,000

1,000

 
30/5/1944 Seketi [Banten]

800

800

 
2/6/1944 Jakarta

204

204

 
5/6/1944 Jakarta

750

750

 
6/6/1944 Bajah [Banten]

613

613

 
   

 
Total  

9,647

7,566

 

Within the province [from April to June 1944].

Reported number 4,199 / transported numer 3,921

 

 

East Java

Besuki Province

  Client [destination]

Requested number

Transported number

Remarks
15/4/1944 Surabaya

300

310

 
25/4/1944 Gresik [Surabaya]

500

414

 
20/6/1944 Gresik [Surabaya]

1,000

273

 
29/6/1944 Gresik [Surabaya]

 

286

 
   

 
Total  

1,800

1,283

 

 

 

Bojonegoro Province

  Client [destination]

Requested number

Transported number

Remarks
6/4/1944 Surabaya

480

96

 
24/4/1944 Bajah Mine / Sumitomo [Banten]

1,000

351

 
27/4/1944 Gresik [Surabaya]

 

227

 
6/5/1944 Banten

700

231

 
26/5/1944 Gresik [Surabaya]

 

446

 
26/5/1944 Bajah [Banten]

1,000

68

 
30/5/1944 Bajah [Banten]

70

 
31/5/1944 Bajah [Banten]

199

 
4/6/1944 Bajah [Banten]

69

 
15/6/1944 Gresik [Surabaya]

1,000

298

 
16/6/1944 Gresik [Surabaya]

500

126

 
18/6/1944 Cepu [Pati] / public oil factory

500

 
   

 
Total  

5,180

2,201

 

Within the province [from April to June 1944].

Reported number 4,060 / transported numer 2,689

 

 

Kediri Province

  Client [destination]

Requested number

Transported number

Remarks
15/4/1944 Surabaya

300

257

Carpenter
16/4/1944 Serang [Banten]

1,000

973

 
22/4/1944 Gresik [Surabaya]

1,000

1,007

 
22/4/1944 Gresik [Surabaya]

200

102

Carpenter
22/5/1944 Gresik [Surabaya]

1,000

797

 
24/5/1944 Gresik [Surabaya]

100

75

Carpenter
26/5/1944 Serang [Banten]

50

32

Carpenter
23/5/1944 Surabaya / the Navy

100

98

Probationary Carpenter
   

 
Total  

3,750

3,341

 

 

 

Madura Province

  Client [destination]

Requested number

Transported number

Remarks
5/4/1944 Construction [Serang/Banten]

1,000

954

 
10/4/1944 Tanjung Priok Kaiji Sokyoku The head office of Maritime Affairs [Jakarta]

1,000

674

 
25/4/1944 Kaigun Onyubu

The Transportation Office of the Navy ? [Surabaya]

300

303

 
15/5/1944

17/5/1944

Obayashi Gumi, Obayashi Construction Group [Gresik/Surabaya]

1,000

978

 
27/6/1944 Osamu 15854 Corps

500

492

 
20/6/1944 Obayashi Gumi, Obayashi Construction Group [Gresik/Surabaya]

2,000

450

 
22/6/1944 Ibid.

 

400

 
23/6/1944 Ibid.

 

78

 
24/6/1944 Ibid.

 

301

 
25/6/1944 Ibid.

 

428

 
   

 
Total  

5,800

5,058

 

Within the province [from April to June 1944].

Reported number 5,800 / transported numer 5,058

 

 

Malang Province

  Client [destination]

Requested number

Transported number

Remarks
31/5/1944 Obayashi Gumi, Obayashi Construction Group [Gresik/Surabaya]

1,000

556

 
   

1,000

556

 
Total  

 

 

 

Within the province [from April to June 1944].

Reported number 18,543 / transported numer 13,189

 

Sources:

The reports from Romu Kyokai, Inv. Nr. 005722-005797, K.A. de Weerd Collection [1942-1946], [NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie(/Amsterdam].

List of works, factories, and estates with the names of Japanese who administered them. March 1946 NEFIS (Netherlands Forces Intelligence Service) Archief, bijlage 3, doc nr. 2398 [het Ministerie van Buitenlandse Zaken / The Hague].

 

———————————————————————————————————————————–

 

Dan data lapangan terbang selama Perang Dunia II, yang diambil dari situs http://home.st.net.au/~dunn/airfields.htm berikut ini:

 

 

JAVA

 

Andir Banjoewangi Crissee
(or Grissee)
Djokjakarta
Kalibanteng Kalidjati Kemajoran Madioen
Malang Pasirian Perak Soerakarta
Tjillitan Wonosari Wonsari  

 

 

 

Ada suatu air strip, di dekat nama desa yang sangat kita kenal, yaitu

  • Soekodono,
  • Karangturi;
  • Telogopodjok; [walau mungkin penempatannya agak bergeser]
  • Ngipik,
  • Loempoer;
  • Tepen;
  • Soemoersong[o]

Ternyata peta itu adalah suatu peta dengan klasifikasi “RESTRICTED” dan TOWN PLAN.of GRISSEE, kota kelahiran kita

[maaf, peta dan foto belum bisa diunggah – belum tahu caranya. lupa]

 

Tetapi, kita bisa menyaksikan pula foto udara semacam ini, yang dibuat pada tanggal 22 Mei 1946, kita menyaksikan adanya “benda putih” yang menyerupai air-strip tersebut.

 

Memang perlu dikaji, apakah “benda putih” itu memanag nyata ada, atau suatu penambahan pada klise [negative atau positif] hasil pemotretan.

 

Terlihat jalan-jalan yang diperlukan untuk konstruksi, yang sepertinya menghubungkan areal konstruksi dengan sumber batu [quarry] yaitu SOETJI.

 

 

Dan rencana serta foto udara ini, ternyata punya hubungan dengan keberadaan air-strip di Gresik selama Perang Dunia ke II, dari sumber-sumber Australia dan sumber Jepang, sebagaimana yang sudah saya kutipkan dalam tulisan Lapangan Terbang di Gresik. [saya lampirkan di bagian akhir, untuk mengenakkan membacanya]

Tetapi, dari foto udara tersebut, kita tidak melihat bangunan-bangunan bekas barak para romusha yang jumlahnya ribuan. Pada hal foto ini diambil dalam waktu belum setahun dari penyerahan Jepang ke Sekutu.

Yang menarik juga untuk disimak dan dikaji lebih lanjut, di daerah Telogopojok, Tepen, atau sekitarnya kita juga mengenal “kampong Meduran”, yang tentu berasal dari kosa kata Meduro. Apakah mungkin pemukiman tersebut, adalah bermula dari para romusha asal Madura [yang dengan kemampuan mereka bertahan hidup] yang kemudian tinggal [atau ditempatkan}disana? Koq kampong Meduran tidak di dekat Brug atau Belandongan [yang lebih dekat dengan Socah].

Mungkin bisa jadi bahan pembicaraan atau obrolan kita diwaktu mendatang.

Catatan :

Peta dan foto udara ini baru diperoleh beberapa tahun setelah penulisan artikel diatas, dari sumber KITLV.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: