RAMADHAN 25

Waktu terus berjalan, dan hari ini memasuki hari ke 25 yang agak sulit untuk ditetapkan sebagai H-6 atau H-5, tergantung kapan Hari H-nya. Mengapa? Tidak lain, tidak bukan, karena di wilayah tanah air Indonesia, kemungkinan besar akan berbeda mengingat adanya perbedaan cara penetapannya oleh masyarakat, organisasi keagamaan dan pemerintah.

Jalanan antar kota, terutama dari Jakarta dan sekitarnya serta pusat-pusat urban lainnya menuju daerah asal pekerja migran [mengambil istilah yang digunakan di RRC untuk pekerja dari daerah] akan menjadi bertambah ramai, dan tidak tertutup kemungkinan untuk timbul kemacetan-kemacetan yang disebabkan oleh beban jalan yang tak tertanggungkan, akibat banyaknya kendaran dan adanya penyempitan di beberapa tempat karena berbagai sebab. [Sudah terjadi malam tadi di Cikopo, Toll Jakarta-Cikampek]

Upaya yang dilakukan pemerintah, sepertinya sudah maksimal untuk memuluskan jalan-jalan yang akan dilalui pemudik, tetapi seperti biasanya, yang akan ditonjolkan dalam pemberitaan adalah kelemahan atau kekurangannya. Mungkin ini suatu bentuk tidak dapat mensyukuri nikmat yang telah diperoleh, sehingga keadaan negeri ini tetap  terpuruk. Sebagaimana firman Allah swt dalam surah Ibrahim 14:7 “Lain syakartum la aziidannakum, wa lain kafartum inna adzaabii la syadied”

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Barangkali kita perlu untuk merenungkan kembali, bagaimana keadaan kita 20-25 tahun silam, dibandingkan dengan saat ini. Tentu sudah banyak perubahan yang dapat kita saksikan, dan hal itu patutlah kita syukuri. Walaupun bisa saja seseorang akan mengatakan bahwa seharusnya kita bisa mencapai lebih jauh lagi, dengan berbagai bumbu apabila ……………..

Kembali ke masalah penyebutan H-x tadi. Kita hanya menemukan hal seperti itu ketika hari raya saja, dan hanya bila terjadi perbedaan 1 Syawal sesuai keyakinan masing-masing pihak. Bagaimanakah halnya dengan negara-negara yang menggunakan kalender Hijriyah [Qomariah] sebagai kalender utamanya, dan kalender Gregorian [Syamsiyah] sebagai kalender sekunder? Seperti Kerajaan Saudi Arabia menyiasatinya, guna memperoleh kepastian. Misalnya membuat janji pertemuan bisnis pada tanggal 1 Syawal 1432 H. Akankah Selasa tanggal 6 Agustus atau Rabu 7 Agustus 2011?

Ternyata, menurut informasi yang ada di salah satu situs suatu organisasi di Jogjakarta yaitu –http://rukyatulhilal.org/visibilitas/indonesia/1432/syawwal/index.html , bahwa kalender Ummul Quro yang diberlakukan untuk non-ibadah, bulan baru Hijriyah didasarkan kepada hisab dengan kriteria bulan terbenam sesudah matahari, diawali ijtimak terlebih dahulu. Suatu solusi yang sangat cerdas, mengingat ilmu hisab saat ini, dengan didukung oleh berbagai perangkat teknologi telah sedemikian maju, dan memungkinkan memberikan ketelitian yang sangat tinggi, sehingga penetapan kapan saat ijtimak, kapan saat matahari tenggelam dan kapan bulan tenggelam dapat dilakukan hingga belasan tahun kedepan, bahkan dalam puluhan tahun ke depan. Tetapi untuk keperluan ibadah [1 Ramadhan, 1 Syawal dan 1 Dzulhijjah] pemerintah Kerajaan Saudi Arabiah tetap menggunakan cara ru’yatul hilal, yang diikuti juga oleh Qatar, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, Yaman dan Turki, Iraq, Yordania, Palestina, Libanon dan Sudan. Kalau untuk waktu shalat, sudah full-hisab.

Sangatlah bijaksana bila kita berupaya untuk mengetahui bagaimanakah berbagai negara yang memiliki penduduk muslim di dunia menetapkan awal bulan Hijriyah yang didalamnya mengandung ketentuan suatu kegiatan ibadah [Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah], dan masih dari sumber yang sama, sya mencoba mengurutkannya dan memperoleh sebagai berikut

Menggunakan Rukyat
Mata Telanjang
Namibia, Angola, Zimbabwe, Zambia, Mozambique, Botswana, Swaziland dan Lesotho
Rukyat Hilal Saudi Arabia khusus untuk Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah

Diikuti oleh Qatar, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, Yaman dan Turki, Iraq, Yordania, Palestina, Libanon dan Sudan.

 

Rukyatul Hilal berdasarkan kesaksian Perukyat (Qadi) serta dilakukan pengkajian ulang terhadap hasil rukyat secara ilmiah Banglades, India, Pakistan, Oman, Maroko, Trinidad dan Brunei Darussalam
Mengikuti negara Muslim yang pertama kali berhasil rukyat Kepulauan Karibia
Hisab urfi yang sangat sederhana Jamaah Ahmadiyah, Bohra, Ismailiyah, serta beberapa jamaah (tarekat)
Hisab dengan kriteria umur bulan, ketinggian bulan atau selisih waktu terbenamnya bulan dan matahari Algeria, Turki, Tunisia dan Malaysia
Hisab dengan kriteria bulan terbenam setelah Matahari dengan diawali ijtimak terlebih dahulu (moonset after sunset) Saudi Arabia pada kalender Ummul Qura
Hisab dengan kriteria  bulan terbenam minimal 5 menit setelah matahari terbenam dan terjadi setelah ijtimak Mesir
Hisab, Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam di Makkah dan bulan terbenam sesudah matahari terbenam di Makkah [sama dengan Kalender Ummul Qura] Komunitas muslim di

  • Amerika Utara; dan
  • Eropa (ISNA)
Hisab, Ijtimak Qablal Fajr atau terjadinya ijtimak sebelum fajar Libya
Menunggu berita dari negeri tetangga
  • Selandia Baru mengikuti Australia, dan
  • Suriname mengikuti negara Guyana
Tidak tetap menggunakan satu kriteria dan berganti dari tahun ke tahun Nigeria dan beberapa negara lain

 

 

Bagaimanakah dengan kita yang di Indonesia? Sepertinya ada 3 kelompok, dan di tiap kelompok juga ada sub-kelompok. Beragam sekali. Ada yang dengan rukyat [mata telanjang atau dengan teropong atau produk teknologi lainnya – kelompok Nahdhiyyin dll], ada yang dengan hisab sederhana [sebagaimana yang diikuti oleh berbagai kelompok tarekat – yang di Sumatra Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dll], ada yang dengan hisab dengan berbagai kriteria yang berbeda-beda [Muhammadiyah, Persatuan Islam dan lain-lain].

Kalau kita cermati, di seluruh dunia Islam-pun terjadi evolusi dari cara penentuan bulan baru Hijriyah, yaitu dari yang paling konservatif [seperti pada zaman Rasulullah] sampai yang paling revolusioner, yaitu Libya yang sedang berrevolusi saat ini.

Memang, dengan yang berlaku saat ini di dunia ini bisa terjadi setelah ijtima’ yang terjadi pada saat sebelum matahari tenggelam [katakan 1 detik sebelumnya] – apalagi kalau mengikuti Libya yang ijtima’ sebelum fajar – bisa terjadi di dunia ini hari raya dilaksanakan pada tiga hari yang berbeda. Karena ummat Islam sudah tersebar pada seluruh permukaan bumi ini, pada berbagai garis bujur mulai dari 0 sampai 180 BT dan 180 BB, juga dari 0 [khattulistiwa] sampai mendekati kutub.

Ada suatu usulan Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) yaitu Kriteria Kalender Hijriyah Global Universal Hejri Calendar (UHC) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Astronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi  180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).

Catatan : Presentasi dengan lingkaran Merah dan Kuning ini
kurang tepat digambarkan dalam bentuk ellips, seharusnya persegi panjang [?],
dan pada perbatasan tersebut insya Allah adalah lautan yang tidak berpenduduk.

 

Hampir pada setiap menjelang Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah sering muncul pertanyaan yang memerlukan penjelasan tentang penentuan awal bulan, dan kiranya hal singkat yang disampaikan ini [yang mengambil dari satu situs di internet] akan dapat sedikit memberikan gambaran secara umum. Tentu bila kita mengkajinya lebih mendalam, dari banyak sumber, akan memperoleh pemahaman yang lebih baik yang kiranya perlu kita ketahui untuk bisa menentukan sikap bagi diri sendiri dan keluarga yang dibawah kepemimpinan kita.

Tidak ada pretensi apapun dari tulisan ini, selain untuk lebih mengenali konstelasi cara penentuan awal bulan Hijriyah yang berkenaan dengan waktu peribadatan kita. Setiap orang memiliki opsi untuk memilih cara yang mana, tetapi sebaiknya dengan pengetahuan dan tidak asal ikut-ikutan saja.

Sangatlah baik bila kita mengetahui berbagai landasan yang digunakan oleh para ahli tersebut, dan seperti sabda Rasulullah saw : “ al-din aql, la dina liman la aqlalah “, Agama adalah manifestasi akal, maka tidak dianggap beragama orang yang tidak berakal. [http://lovely1930.multiply.com/journal/item/25]

Wa Allahu a’lam.

 

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: