RAMADHAN 23

Fokus pada tujuan akhir, adalah sesuatu yang sering dianjurkan dalam berbagai hal. Dan tentu mengharapkan akhir yang baik, penutup yang baik, yang jauh lebih populer dalam istilah bahasa Arab atau keagamaan Islam, sebagai konsep “khusnul khatimah”. Tetapi, memperhatikan berbagai hal yang mungkin terjadi dalam tahapan pencapaian tujuan akhir, juga tidak boleh dilupakan begitu saja. Tidak boleh mengharapkan khusnul khatimah, tetapi di tengah-tengahnya isinya yang serba su’ul [lawannya khusnul- kurang atau tidak baik]. Kita sangat dianjurkan untuk selalu berdoa, mengharapkan Allah swt menganugerahkan khusnul khatimah di akhir hayat kita nanti. Amien.

Saya tadi cukup terkejut ketika mendengarkan penjelasan dari Wakil Direktur Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia [entah tidak saya ingat namanya – termasuk yang jarang muncul di televisi] yang menghimbau agar para pemudik yang menggunakan ruas toll Palimanan – Pejagan dengan tujuan Semarang [Pantura] agar keluar di pintu tol Kanci [seperti 2 atau 3 tahun silam ketika ruas Kanci – Pejagan belum ada]. Lho, lalu apa gunanya ruas toll Kanci – Pejagan dibuat? Bukankah arus utama dari ribuan kendaraan yang melewai ruas tersebut tujuannya adalah ke arah Pantura? Kan lumayan mengurangi waktu tempuh, karena jalan Pantura antara Kanci – Pejagan itu penuh dengan kemacetan karena berbagai sebab. [anda tidak mendengarkan kan, karena sedang di kantor].

Alasan yang disampaikan, sangat manusiawi dan demi keselamatan para pengguna jalan itu sendiri, karena setelah keluar pintu Pejagan, kalau ke kiri kita akan langsung berjumpa dengan lintasan kereta api yang padat lalu lintasnya, mungkin hanya kalah dengan lintasan Pasar Minggu – Depok saja barangkali. Sehingga jalannya sering dipalang bila ada kereta mau lewat, dan dikhawatirkan menyebabkan penumpukan kendaraan. Kalau ke kanan, tidak ada hambatan.

Sebelum ruas jalan toll Kanci – Pejagan tersebut dibangun, bahkan direncakan, bahkan perencananya dilahirkan, lintasan kereta api itu kan sudah ada. Dan bukan lintasannya muncul dari dalam bumi ketika ruas toll Kanci – Pejagan selesai dibangun, bukan?.

Ternyata itu [menurut nalarku lho ya], memang pola pikir yang diterapkan dalam pembangunan jalan toll [entah siapa yang menentukan pola perencanaan seperti itu]. Ruas-ruas jalan toll itu, tidaklah berdiri sendiri, tetapi akan membentuk suatu jaringan yang menyatu dan saling terhubung, yang kalau tidak salah disebut Trans-Java Toll Road. Hanya saja pembangunannya bertahap, dan antara masing-masing ruas yang terpenggal-penggal itu, bisa berbeda 1-2 tahun sampai 10-15 atau bahkan 25-30 tahun tahapannya. Tidak dibuat seperti de Groot Postweg ala Daendels.

Pembangunan masing-masing ruas – sebagai bagian utuh bila sudah terangkai –  sama sekali tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada ujung [sementara], ketika ruas toll berikutnya belum dibangun dan dioperasikan. Sementara-nya bisa mencapai 25 tahunan lho, contohnya di pintu toll Cikampek.

Pada saat dibangun, memang beban lalu lintasnya tidaklah seperti sekarang ini. Dikredit. Pintu toll Cikampek sendiri sudah merupakan masalah ketika beban puncak pada saat mudik, antrian untuk keluar sejak beberapa tahun silam, walau alokasi pintunya sudah ditambah untuk para pemudik yang keluar toll.

Ke kiri kita akan menemui jalan yang “sangat sempit” untuk lalu lintas dua arah tanpa pembatas di tengahnya [median]. Lalu bertemu dengan Simpang Jomin. Boleh dikata pasti akan merayap disitu. Baru kemudian dibangun jalan layang di pertigaan tersebut.

Ke kanan semula baik-baik saja, tetapi kemudian bertemu dengan lintasan kereta api di Sadang. Akhirnya dibuat jalan layang di lintasan tersebut, sehingga Warung Soto Sadang jadi sepi ya. Karena akses bagi yang baru keluar dari toll menjadi sulit.

Setelah ruas Cikampek- Padalarang yang terhubung ke Bandung selesai, beban di pintu toll dan arus yang kekanan menurun drastis, namun belum bisa membebaskan pintu toll dari kemacetan. Dan akhirnya, bila tiba saatnya, bahwa pintu toll Cikopo bukan lagi sebagai ujung – karena sudah ada ruas toll lanjutannya, maka semua masalah itu akan selesai, karena sebagian besar kendaraan akan melanjutkan perjalanan melalui ruas toll lanjutannya.

Mungkin karena skenario semacam itu, maka ujung ruas jalan toll [yang nantinya akan tersambung dengan ruas lain] sengaja tidak disiapkan suatu prasarana pendukung [kecuali kalau sudah sangat terpaksa] karena nantinya akan tidak berfungsi [alias mubadzir]. Kalau pembangunan ruas berikutnya itu cepat [ 1-2 tahun saja] sih oke-oke saja ya. Tetapi Cikupa, itu sudah 25 tahun lho.

Mungkin itulah pola pikir para perencana jalan toll, sehingga sengaja dilakukan pembiaran pada arus yang keluar di pintu toll Pejagan, bagi yang ke arah kiri. Karena nantinya akan jadi sepi kembali. Kebanyakan kendaraan akan melanjutkan ke ruas toll berikutnya. Hemat biaya investasi dan biaya pemeliharaan, walau sedikit menyengsarakan pengguna jalan. Konsep su’ul khatimah.

Begitu juga kiranya dengan ruas toll Semarang-Ungaran yang sempat tertunda pengoperasiannya, tetapi sudah bisa dibuka untuk lebaran ini hanya untuk mobil penumpang kecil [golongan I]. Di ujung Ungaran-nya, juga akan terkendala, karena sebenarnya akan nyambung ke ruas lainnya.

Lain lagi dengan ujung jalan toll di bagian paling barat Pulau Jawa, yaitu Merak. “Kekacauan” disana bukanlah dari perencanaan jalan tollnya melainkan dari tidak berfungsinya dermaga atau alat pengangkut antar pulau secara benar dan terkoordinasi.Perencanaan docking kapal.  Beberapa kali antrian truk sampai masuk ke jalan tollnya, sehingga mau keluar saja tidak bisa.

Konsep ‘khusnul khotimah”, sepertinya belum terpenuhi pada hampir sebagian besar pintu toll yang ramai, dimana antrian panjang masih sering terlihat, semata-mata karena sistem pembayaran yang tidak efisien dan effektif. Jalan yang lancar di sepanjang jalan toll, ditutup dengan antrian yang tidak perlu [jika saja diterapkan cara-cara pentarifan dan pembayaran yang efisien]. Tarif yang memerlukan uang kembalian dari beragam mata uang, cara transaksi dengan uang kartal, pembayaran dengan kartu elektronik yang hanya tertentu saja, dan lain sebagainya.

Semogalah, pada pembangunan ruas toll yang masih akan dilanjutkan dengan ruas toll berikutnya, akan memperhatikan arus kendaraan yang akan keluar [sementara belum ada ruas berikutnya]. Kita hanya bisa berdoa.

Wa Allahu a’lam.

 

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: