RAMADHAN 22

 

3 KATA INDAH SANG PEMIMPIN

Kisah ini terjadi di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan kritikan dari anak buah kepada sang direktur yang segera memasuki masa pensiun.

Karena waktu yang terbatas, kesempatan tsb di persilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan.

Di antara pujian kesan yang diberikan, di pilih di bingkai utk diabadikan kemudian dibacakan di acara tsb, yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.

Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut :

YANG TERHORMAT PAK DIREKTUR.

  • TERIMA KASIH KARENA BAPAK TELAH MENGUCAPKAN KATA TOLONG, SETIAP KALI BAPAK MEMBERI TUGAS YANG SEBENARNYA ADALAH TANGGUNG JAWAB SAYA.
  • TERIMA KASIH PAK DIREKTUR KARENA BAPAK TELAH MENGUCAPKAN MAAF, SAAT BAPAK MENEGUR, MENGINGATKAN BERUSAHA MEMBERITAHU SETIAP KESALAHAN YANG TELAH DI PERBUAT KARENA BAPAK INGIN SAYA MERUBAHNYA MENJADI KEBAIKAN.
  • TERIMA KASIH PAK DIREKTUR KARENA BAPAK SELALU MENGUCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA SAYA ATAS HAL² KECIL YANG TELAH SAYA KERJAKAN UNTUK BAPAK.

TERIMA KASIH PAK DIREKTUR ATAS SEMUA PENGHARGAAN KEPADA ORANG KECIL SEPERTI SAYA SEHINGGA SAYA BISA TETAP BEKERJA DENGAN SEBAIK²NYA, DENGAN KEPALA TEGAK, TANPA MERASA DIRENDAHKAN DIKECILKAN SAMPAI KAPAN PUN BAPAK ADALAH PAK DIREKTUR BUAT SAYA.

TERIMA KASIH SEKALI LAGI. SEMOGA TUHAN MERESTUI JALAN DIMANAPUN PAK DIREKTUR BERADA.

AMIEEEN.

Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Diam² Pak Direktur mengusap genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor.

3 kata : TERIMA KASIH, MAAF, TOLONG adalah kalimat pendek yang sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif.

Dengan mampu menghargai orang lain minimal kita telah menghargai diri kita sendiri…

Dan yang satu lagi

KISAH SI PENSIL DAN SI PENGHAPUS

Pensil : “Maafkan aku Penghapus..”

Penghapus : “Maafkan aku??untuk apa Pensil?? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku…”

Pensil  : “Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu berada disana untuk menghapusnya. Namun setiap kali kamu membuat kesalahanku lenyap, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil setiap saat…”

Penghapus  : “Hal itu memang benar…Namun aku sama sekali tidak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan hal itu. Diriku tercipta untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan mengganti diriku dengan yang baru. Aku sungguh bahagia dengan peranku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih…”

Si Penghapus adalah Orang Tua kita…
Si Pensil adalah diri kita sendiri….

Orang tua akan selalu ada untuk anak-anaknya…
Untuk memperbaiki kesalahan anak-anaknya…
Namun, terkadang, seiring berjalannya waktu…
Orang tua akan terluka dan akan menjadi semakin kecil…
(B’tambah tua dan akhirnya meninggal).

Walaupun anak-anak mereka pada akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (Suami atau Istri), Namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa bersedih bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.

“Hingga saat ini, Saya masih menjadi Si Pensil😦

Hal itu sangat menyakitkan diri saya. Melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah “Kecil” dan “Kecil” seiring berjalannya waktu.

Kelak suatu hari, Yang tertinggal hanyalah “Serutan” si penghapus
Segala kenangan yang pernah saya lalui dan miliki bersama mereka.”
Kisah ini didedikasikan secara khusus kepada orang tua saya dan seluruh orang tua anda/yg udah/akan jadi orang tua .. ^~^

Smoga bisa menjadi renungan.

 

Pada saat “paceklik” beberapa hari yang lalu itu, secara tidak terduga saya juga mendapat kiriman artikel dari seorang kerabat yang boleh dibilang tidak pernah berkomunikasi secara langsung, namanyapun tak ingat – ya mana mungkin ingat, tahu juga tidak – hanya tahunya isterinya Tjahjo, yaitu dra. Handayani.

Dua hal yang sama-sama perlu kita sadari, yang selain untuk kita renungkan, juga untuk kita lakukan. Kalau sudah ya syukur, kalau belum ya ayo kita mulai. Tidak ada kata terlambat.

Menggunakan 3 kata, yang disampaikan diatas, TOLONG, TERIMA KASIH, dan MAAF dalam kehidupan sehari-hari, kiranya tidak akan terlalu sulit bila sudah dibiasakan atau diajarkan sejak dini kepada anak-cucu kita, sehingga mereka menjadi biasa, dan otomatis mengatakannya pada saat yang tepat. Terutama bagi keluarga yang memiliki pembantu, hal ini harus betul-betul kita perhatikan. Dan contoh yang paling baik bagi anak-cucu tersebut, adalah kita sendiri. Kita sendiri harus mejadi contoh, kalau hanya sekedar menyerukan dan meminta anak-cucu melakukan, tanpa kita memberi teladan, ya jangan harap bisa berhasil. Semoga Allah swt memudahkan kita semua.

Yang kedua, itu yang justru sangat sulit. Itu sebagai suatu estafet. Yang suatu saat kita akan berubah fungsi. Kiranya, memang banyak yang harus kita pelajari untuk menjadi orang tua, bukan sekedar orang yang sudah tua. Dan sepertinya tidak ada pelatihan atau seminar untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua, tetapi menjadi orang yang sudah tua akan terus berjalan dengan sendirinya tanpa dapat kita tunda prosesnya.

Bulan Syawwal yang akan segera tiba, mungkin saat yang tepat untuk memulainya. Karena kata Syawwal itu sendiri berarti peningkatan. Berarti saat yang tepat untuk mulai melakukan peningkatan, dan kita bisa melakukan assessment atau appraisal pada Ramadhan mendatang, jika Allah swt mengizinkannya.

إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ‌ۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَا‌ۚ

“In akhsantum akhsantum li anfusikum; wa in asa’tum falahaa.  ………
“Jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.
Dan jika kamu berbuat jahat, maka itu untuk dirimu sendiri. ……..”
QS Al-Israa, 17:7

 

Wa Allahu a’lam

 

Saifuddien Sjaaf Maskoen.

 

Terima kasih mbak Henny, semoga Allah swt selalu memberikan kemudahan dalam menyampaikan pemikiran melalui tulisan-tulisan.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: