RAMADHAN 18

 

Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengirimkan email kepada saya, yang isinya seperti ini:

Proses utk bisa jadi pemimpin itu yg bener gimana ya pak? Murni dipilih, diusung massa, atau ybs berbuat sesuatu spy dipilih dan menggalang massa sebanyak-banyaknya spy memilih? Kalo yg pertama bisa disebut tanpa ongkos, sementara yg ke 2 ongkosnya guede banget…(Fokusnya bukan jual program, tp ‘beli suara’)

Jaman sekarang, gak mungkin pake cara pertama utk bisa menjadi pemimpin pemerintahan atau bahkan perusahaan sekalipun. Kecuali ybs kuaya banget dan ingin beraktualisasi diri menjadi pemimpin negara…

Tentu saja itu dituliskannya berdasarkan apa yang dilihat, dirasakan dan diamati olehnya selama ini. Barangkali kebanyakan kita, yang masih mau sedikitkan melihat, merasakan dan mengamati apa yang terjadi di sekitar kita, akhirnya akan berkesimpulan yang sama dengan temanku ini. Mungkin yang kita lihat, kita rasakan dan kita amati adalah yang terjadi dengan berbagai jenis pemilihan yang dilakukan atas nama demokrasi, apakah pemilihan bupati/walikota, pemilihan gubernur, pemiihan anggota dewan yang terhormat pada berbagai tingkatan, sampai pemilihan pemimpin puncak di negeri ini, yaitu pemilihan presiden. Dan mungkin juga pada pemilihan pengurus partai, sebagaimana yang dikicaukan dengan riang oleh Nazaruddin tentang pemilihan pada partainya, walaupun sekarang “burungnya” seperti tidak berkicau lagi. Yang kesemuanya itu dikelola berdasarkan asas demokrasi yang diunggulkan saat ini. Betapa kita dambakannya demokrasi tersebut, karena mungkin kita tidak merasakan atau bahkan mencium baunya selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, pada era orde lama dan era orde baru. Demokrasi bagi bangsa ini seperti menjadi kata merdeka bagi rakyat terjajah, sebagaimana potongan bait lagu [lupa judul dan syair lengkapnya]

Susah itu hanyalah bagi rakyat terjajah,
Merdeka, gembiralah

Yah begitulah kemudahan yang diberikan pada jaman ini, dengan adanya Kyai Google [sebutan dari Mas Komaruddin Hidayat, pada acara televisi kemarin sore] ketemulah syair lengkapnya

GEMBIRA….

Gembira… gembira, s’apa tak mau gembira
gembira…. gembira…gembira itu merdeka….
Siapa… siapa….Siapa mau bersusah…

Susah itu hanyalah bagi rakyat terjajah
merdeka… gembiralah

 

Masih bisa kan, untuk menyanyikannya? Semoga. Dan semoga tidak menetes air matanya.

Terus terang, saya jadi terharu. Teringat ketika menyanyikannya dalam barisan ketika sedang berpawai obor pada peringatan 17 Agustus di awal-awal setelah penyerahan kedaulatan dulu, ketika masih duduk di SD kelas 3 atau 4.

Bagaimanapun, kita harus gembira dan bersyukur atas apa yang telah dicapai oleh bangsa ini hingga saat ini, walaupun mungkin kita berpendapat, seandainya semuanya berjalan on the right track, bangsa ini sudah akan lebih jauh berada di depan diantara bangsa-bangsa lain di sekitarnya, apalagi dengan bangsa tetangga kita yang merdeka belakangan. Semoga kita bisa mengejar ketertinggalan ini, dengan izin Allah swt. Tentunya dengan pijakan yang lebih kuat, dan proses yang lebih terarah dan efisien.

Kenapa bangsa ini selalu menghadapi proses bangun-jatuh [bukan jatuh bangun ya] sehingga pengembangan bangsa ini jadi terhambat. Walau bagaimanapun, apa yang sudah dicapai haruslah kita syukuri, tanpa adanya kemerdekaan dan upaya membangun bangsa ini, mungkin saya tidak akan mengetik di laptopku, dan anda tidak akan membaca apa yang saya kirimkan di BlackBerry, iPad atau peralatan lainnya. Alhamdulillah.

Apakah ada sesuatu yang salah dari bangsa ini, sehingga perjalanan menuju Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur, sepertinya banyak menemui aral yang melintang, dan pergantian pemimpin nasional sering terjadi dengan keributan, layaknya negeri Singosari yang terkena serapah dari Empu Gandrung. Semoga keadaan seperti ini akan segera berakhir dan kita memasuki jaman baru, sebagaimana yang dicita-citakan dan diharapkan oleh para pendiri bangsa ini.

Rasulullah s.a.w. telah memberikan arahan kepada kita semua, untuk mengenali syarat yang perlu dipunyai oleh seorang pemimpin, yaitu Shiddiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah. Pemimpin pada berbagai tingkatan kepemimpinan, dan pada berbagai bidang, kiranya hal itu berlaku. Bukan kita harus memilih 3 dari 4 syarat yang terpenuhi, melainkan ke-empat-empatnya harus dimiliki pada skala tertinggi dari seorang pemimpin.

Dalam banyak literatur tentang organisasi perusahaan, sering dibedakan antara pemimpin [leader] dan manajer [manager]. Apakah seseorang itu leader atau manager. Mungkin bangsa kita perlu memiliki panduan, untuk suatu jabatan tertentu – baik kenegaraan maupun pemerintahan – apakah lebih sesuai dijabat oleh seorang dengan ciri leader atau seorang dengan ciri manager.

Kita juga sama-sama mengetahui, bahwa banyak persyaratan untuk suatu jabatan yang terlalu rendah ditetapkan [dengan maksud agar orang digolongannya bisa memenuhi syarat tersebut], dan sudah itu dipalsukan pula agar terpenuhi. Tentu saja kita bisa bertanya, apa yang bisa kita harapkan dari seorang pemimpin yang semacam itu, yang memalsukan ijazahnya.

Dan juga, apakah di lingkungan pemerintahan memiliki Prosedur Tindakan Perbaikan (Corrective Action) dan Prosedur Tindakan Pencegahan (Preventive Action) atas berbagai hal yang terjadi, khususnya di bidang penanganan korupsi selama ini. Kalau di Menpora ada kasus seperti itu, juga di Kemendiknas, Kemensos, Kemendagri, tentunya di kementerian lainnya. Setidaknya oleh KPK, Kepolisian dan Kejaksaan Agung serta aparat penegak hukum lainnya. Apakah mereka tiak tahu akan hal seperti itu, atau sengaja tidak melakukannya demi mempertahankan eksistensinya.

Karena dengan adanya kedua prosedur tersebut, maka semua masalah atau perkara yang muncul, bukannya akan diisolasi tetapi malah akan dilebarkan selebar-lebarnya, terutama pada Tindakan Pencegahannya. Saya teringat akan contoh yang diberikan oleh seorang assessor ISO 9002 waktu itu tentang bagaimana tindakan yang perlu dilakukan berkenaan dengan terjadi hooliganisme oleh supporter Inggris di Belgia [?] yang mengakibatkan banyak nyawa melayang. Berbagai pengkajian harus dilakukan bukan saja pada cabang olah raga sepak bola [yang sudah terjadi] tetapi juga pada cabang olah raga lainnya [seperti bola vollei dan lain-lainnya].

Mungkin anda masih ingat, kejadian beberapa tahun yang lalu yang menyebabkan aliran listrik ke Pulau Madura terputus selama 3 bulan, karena kabel pensuplai arusnya putus tertarik oleh jangkar kapal yang membuang sauh disana. Hanya pemasangan kembali yang dilakukan, dan seminggu setelah listrik menyala, kejadian serupa terulang kembali – untungnya belum sampai putus kabelnya, karena anak buah kapal merasa ada yang aneh waktu menarik jangkar. Sekali lagi ada kabel yang terikut.

Tetapi yang membuat saya sangat terkejut, adalah bagian dari pertanyaan atau pernyataan teman saya tadi “Jaman sekarang, gak mungkin pake cara pertama utk bisa menjadi pemimpin pemerintahan atau bahkan perusahaan sekalipun”. Apa sudah sampai melebar kesana? Kalaupun Mungkin itu suatu kekhawatiran saja, tetapi akalau itu sudah terjadi tentunya bukan perusahaan milik swasta atau keluarga, karena dia bekerja di sebuah badan usaha milik negara.

Ada satu hadist Rasulullah s.a.w. yang artinya kira-kira “Jika suatu pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah khancurannya”. Kalau benar pertanyaan atau pernyataan teman saya tadi, naudzu billahi min dzalik. Ya Allah, lindungilah kami dari berbagai kerusakan yang akan terjadi pada bangsa ini, akibat salah penempatan [atau karena kami salah memilih] pemimpin-pemimpin kami. Jauhkanlah kami dan negeri ini dari kehancuran yang mungkin dapat ditimbulkan dari kesalahan yang telah kami perbuat. Ampunilah kami ya Allah. Anugerahkan petunjuk dan hidayah kepada bangsa ini beserta pemimpin dan “pemimpin”nya sehingga bangsa ini dapat lebih cepat mencapai apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa kami, sebagaimana yang dirumuskan dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945,antara lain Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Amien.

Wa Allahu a’lam.

 

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: