RAMADHAN 17

Dirgahayu Republik Indonesia
pada Ulang Tahun nya yang ke 66
menurut hitungan kalender syamsiyah,
dan yang ke 68 tahun dalam hitungan kalender qomariyah.

Semoga Allah swt memudahkan bangsa ini dalam mencapai
apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa
di saat memproklamasikan kemerdekaan pada Jumat
17 Agustus 1945 M
yang bertepatan juga dengan
8 Ramadhan 1364 H.

Apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini, tidaklah dapat kita lihat dalam teks proklamasi yang memang dibuat sangat singkat dan padat, yang menekankan pada upaya jangka pendek yang akan menentukan masa depan, yaitu pemindahan kekuasaan.

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan

dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta

Dalam peristilahan saat ini, rationale, vision, mission dan principles dari negara bangsa yang akan diwujudkan, telah lama dibahas dan kemudian disimpulkan oleh panitia sembilan [karena terdiri dari sembilan orang] yaitu Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakir, H.A. Salim, Achmad Subardjo, Wachid Hasjim, Muhammad Yamin pada tanggal 22 Juni 1945, yang dikenal sebagai Piagam Jakarta, yaitu

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Atas berkat Rahmat Allah Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan menyatakan kemerdekaanya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bagi anak bangsa yang hidup saat ini – apalagi generasi mendatang – tata bahasa dan susunan kalimatnya agak janggal didengar oleh telinga kita, tapi itulah bukti sejarah. Upaya untuk mengubahnya, – dalam istilah sekarang – bida digolongkan sebagai mengubah barang bukti, sesuatu yang melanggar hukum. Apalagi bila menghilangkan barang bukti dan menggantinya dengan sesuatu yang lain.

Antara dokumen Piagam Jakarta, yang kemudian dijadikan Pembukaan Undang-Undang dasar 1945 dengan sedikit perubahan tentang dasar negara dengan tidak diikut-sertakannya serangkaian kata-kata “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar” dan menggantinya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dan itu adalah kenyataan sejarah.

Isi atau batang tubuh dari Undang-Undang Dasar 1945 saat ini telah banyak mengalami perubahan, ada yang dihilangkan dan ada pula yang ditambahkan, tetapi syukurlah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut masih utuh seperti sediakala. Dan memang tidak perlu ada yang diubah, karena itu merupakan rationale, vision, mission dan principles yang ditetapkan oleh para pendiri bangsa ini. Sesuatu yang menyatakan keadaan pada masa sebelum dan keadaan saat dinyatakannya kemerdekaan.

Teks Piagam Jakarta itu, seandainya diterjemahkan ke bahasa Arab dan dibacakan oleh seseorang, maka seakan-akan anda sedang mendengarkan bagian awal dari khotbah Jumat.bagian rationale, didahului dengan kata “bahwa” – “inna” dan selanjutnya anda akan mendengar “amma ba’du” yang diterjemahkan sebagai “kemudian dari pada itu”. Ini sangatlah khas, dan tidaklah mengherankan karena disana setidaknya ada Abdulkahar Muzakir, H.A. Salim, Achmad Subardjo, Wachid Hasjim, yang sering menggunakan kata-kata tersebut dan yang lain sering mendengarnya pada saat khotbah Jumat, barangkali kecuali A.A. Maramis.

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Piagam Jakarta

 

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Atas berkat Rahmat Allah Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan menyatakan kemerdekaanya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Pembukaan

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Atas berkat Rahmat Allah Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan menyatakan kemerdekaanya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan keadilansosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: