RAMADHAN 15

Hari Sabtu ini, ketika saya mengetik ini, masyarakat tertentu dan media massa menunggu-nunggu dengan berbagai pikiran tentang kedatangan orang yang selama ini dicari-cari, dan sudah ditangkap, dan sedang dalam perjalanan ke Indonesia. Kelihatannya, ini mendapatkan banyak perhatian dari banyak orang, karena merupakan seseorang buruan yang sempat dibawa pulang ke negeri asal, melalui jalan yang panjang. Agak berbeda dengan Gayus yang tidak lama berada di luar negeri. Juga berbeda pula, karena yang satu ini menyangkut seorang pejabat partai besar yang tentu banyak yang berkepentingan.

Pembicaraan bertambah ramai, setelah pengacaranya yang sempat pergi ke Kolombia, yang pulang naik pesawat reguler telah tiba di Jakarta dan muncul di televisi yang selama ini memang gencar memberitakan tentang Nazaruddin selama dalam pelariannya. Koq yang naik pesawat carter dengan biaya mahal belum sampai, pada hal yang naik pesawat reguler sudah sampai? Dan bermacam pikiranpun berkembang, yang terutama didasari oleh prasangka kepada pihak tertentu.

Kalau menurut saya, yang sering bawa mobil nyetir sendiri ketika ke Gresik atau Sumenep, waktu perjalanan saya jauh lebih lama dari bis, apalagi bis malam kilat seperti Lorena atau sesaudaranya. Tentunya pesawat charter yang kecepatan dan kapasitasnya terbatas, sampai-sampai wakil dari Kedutaan Besar saja tidak bisa ikut, tidak membawa pilot dan ko-pilot cadangan seperti halnya bisa malam kilat, yang setiap 8 jam ganti sopir [atau malah 4 jam, sesuai peraturan DLLAJR]. Begitu juga pesawat komersial reguler, yang tentu menggunakan pilot dan ko-pilot cadangan untuk menggantikan. Ya, ini hanya perkiraan berdasarkan logika saya, mendasarkan pada apa yang saya alami [bukan pengalaman] beberap akali melakukan perjalanan jauh di darat. Juga tidak tahu, mengapa melalui jalur Atlantik, dan bukannya jalur Pasifik dengan stop-over di Hawaii, dan Biak bilamana perlu.

Atas apa yang dialami Nazaruddin di Kolombia, pengacaranya dan pihak pengamat [Johnson Panjaitan] berapi-api menuntut dan mencurigai perlakukan yang dilakukan oleh yang berwajib. Mungkin akan lebih baik, kalau tidak berprasangka buruk kepada pihak yang bewajib. Prasangka buruk itu, terlihat jelas ditunjukkan oleh pembawa acara adan yang diwawancara di salah satu program breaking news, [semoga saya salah] ketika ada sebuat pesawat jet kecil mendarat dengan kode pesawat PK- yang memang kode pesawat yang terdaftar di Indonesia. Tetapi, beberapa menit kemudian mulailah mendarat pesawat yang sejenis, dan ternyata pesawat yang terakhir inilah yang membawa Nazaruddin. Dan tidak ada satupun, yang mengomentari tentang kode N [untuk Amerika Serikat], karena memang dikabarkan sebelumnya, bahwa pesawat dicharter dari Amerika Serikat.

Rupanya kita sudah terlalu terbiasa, sehingga harus berprasangka buruk kepada penguasa bahwa penguasa akan memengaruhi proses pengadilan yang seharusnya tidak dipengaruhi oleh siapapun. Saya jadi teringat akan peristiwa yang terjadi di ITB saat itu, yaitu saat ditembaknya Renee Louis Conraad, seorang mahasiswa ITB dalam suatu pertiakaian dengan sejumlah Taruna Akademi Kepolisian, yang dimulai di Lapangan Sepakbola Kampus ITB dan sampai berlanjut ke Jalan Ganeca depan Asrama F. Yang diajukan ke pengadilan adalah seorang atau lebih anggota Brimob yang bertugas. Kalau tidak salah, bang Buyung Adnan Nasution bertindak selaku pembela terdakwa.

Konon peristiwa itu tidak berdiri sendiri, tetapi bermula dari praktek lapangan yang dilakukan oleh Taruna Akademi Kepolisian tersebut di kota Bandung, sebelum mereka mengakhiri masa pendidikan-nya. Mereka mengadakan suatu razzia atas pemuda-pemudi yang menggunakan celana cut-bray atau ketat atau berambut gondrong. Beberapa mahasiswa-mahasiswi ITB, bahkan dosennya – dari jurusan Seni Rupa, terkena razzia walaupun sudah menunjukkan identitas sebagai mahasiswa bahkan dosen jurusan Seni Rupa. Mereka memang kelompok manusia yang mengikuti mode, maklum seniman. Dewan Mahasiswa ITB, kalau tidak salah memprotes tindakan Taruna Akpol tersebut ke Polda Jabar atau Polwiltabes Bandung. Dan disepakati untuk mendamaikan kedua generasi muda ini, akan diadakan pertandingan persahabatan sepak bola di lapangan Kampus ITB.

Entah siapa yang mengusulkan diadakannya pertandingan tersebut, karena tanpa ada suatu bibit apapun, pertandingan olah raga yang memungkinkan terjadinya kontak fisik antara pemain memiliki kecenderungan kuat untuk memicu konflik. Bahkan pada waktu itu, ada dua negara di Amerika Tengah yang sempat berperang di perbatasannya gara-gara pertandingan sepak bola. Dan “anything can go wrong, will” sebagaimana dinyatakan oleh Murphy’s Law.

Dari cerita yang saya peroleh, karena saat itu tidak seperti biasanya saya sudah pulang agak siang, ndilalah, koq kesebelasan mahasiswa ITB berhasil memasukkan gol lebih dahulu.Maka mulut-mulut cuwawak mulai mengolok-ngolok pihak lawan. Antara lain ada yang memegang bola dan keluar masuk gawang lawan [kalau tidak salah bernama Pudjo – mahasiswa Farmasi ITB]. Hal ini rupanya membuat pitam para Taruna, dan ada salah seorang Taruna yang akan membanting mahasiswa ITB dengan bantingan bergaya bela diri judo. Ndilalah lagi, bukannya mahasiswa ITB yang mau dibanting yang jatuh, tetapi justru Taruna-nya yang jatuh, ee tahunya mahasiswa ini adalah jagoan judo.

Katanya kemudian permainan dihentikan, dan kekacauan dilerai dan ditenangkan. Kemudian datang sepasukan Brimob – entah siapa yang melaporkan – dan kemudian diselesaikan. Mahasiswa pulang, begitu pula para tamu. Entah apa pula yang memicunya lagi, ketika Louis Renee Conraad – yang mengendarai motor gede Harley Davidson melewati rombongan tamu di sisi barat Jalan Ganeca, terdengar tembakan, dan dia terluka. Yang menjadi perdebatan ramai di persidangan kala itu, mengapa korban tidak dibawa ke RS Borromeus yang berada di ujung timur Jalan Ganesa, melainkan dibawa ke Polres di Jalan Merdeka dan digeletakkan disana sehingga menemui ajalnya.

Dalam proses pengadilan, malah justru mahasiswa bersimpati dan memberikan bantuan moril dan materieel kepada yang didakwa dan kemudian terpidana, yang tamtama Brimod itu. Entahlah para taruna itu kemudian menjadi apa, tetapi sepertinya mereka sudah pensiun saat ini.

Memang, katanya banyak sekali perkara yang diajukan ke pengadilan, sudah diatur terlebih dahulu. Seperti perkara Antasari, Gayus dan lain-lainnya, yang kemudian mengakibatkan polisinya, jaksanya dan juga hakimnya juga diperkarakan. Juga perkara Munir, yang katanya aktor inteletualnya belum diungkap, dan sebagainya. Mungkin karena hal-hal seperti itu,maka kalangan pengamat hukum dan pengacara sudah lebih dahulu meragukan proses yang akan dijalani oleh Nazaruddin ini. Semoga keadaannya tidak seburuk yang dibayangkan para pengamat dan pengacara yang selama ini banyak nditayangkan di acara televisi. Semoga penegakan hukum dapat berlangsung lebih baik. Semoga Allah swt memberikan petunjuk kepada mereka yang terlibat dalam kasus ini.

Wa Allahu a’lam.

 

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: