RAMADHAN 10

 

Bagi yang masih aktif bekerja dan melakukan kegiatan secara rutin, tentu sangatlah jarang berkesempatan untuk melihat acara Ranking 1 yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta antara jam 07:30 sampai 08:30, dengan pembawa acara [kalau tidak salah] Sarah Sehan dan Ruben [?]. Saya jadi berfikir, acara ini ditujukan untuk siapa? Apa untuk mereka yang masih sekolah, ataukah mereka yang sudah tidak sekolah dan tidak lagi bekerja, seperti saya ini. Sehingga bisa menontonnya, disaat orang lain sedang melakukan kegiatan sehari-harinya.

Entahlah, apakah acara itu bisa mewakili keadaan bangsa kita atau tidak. Bagi saya, semoga saja tidak. Bukankah ini suatu tontonan di televisi, yang juga punya tujuan untuk menghibur. Menghibur pesertanya, dan juga tentu penontonnya. Tetapi, saya juga setengah yakin, atau tiga perempat yakin, bahwa apa yang kita lihat di layar kaca tersebut – walau menjadi semakin tipis seiring dengan waktu – adalah apa yang akan kita temui di masyarakat kita. Entah yang dimana.

Format dari acara ini, biasanya ada 4 regu yang terdiri masing-masing dari 18 orang, dan 8 orang selebritis, yang kesemuanya mewakili berbagai segmen yang ada di masyarakat. Kadang ada kelompok murid SD, SMP, SMA, mahasiswa, alumni berbagai tingkat strata pendidikan, paguyuban tertentu dan lain sebagainya. Sehingga secara keseluruhan mencapai jumlah 80 orang. Dari 80 peserta, secara lambat tetapi pasti akan semakin berkurang seiring dengan berbagai pertanyaan yang dikemas dalam berbagai bentuk, yang diberi nama Semester I, Semester II, Laboratorium, Ujian Nasional dan sebagainya. Jika sudah tinggal seorang atau dua orang, maka mulailah diberikan pertanyaan yang memiliki nilai rupiah, dengan beberapa titik aman, sebelum mencapai hadiah terbesar senilai Rp. 50.000.000,00. Entahlah, apa sudah ada yang pernah meraih nilai tertinggi tersebut.

Pernah salah seorang selebriti yang sangat kita kenal, karena prestasinya dalam dunia lakon yang telah dilakoninya semenjak usia remaja hingga kini, yang saat itu bukan mewakili kelompok selebriti yang didudukkan di deretan paling depan, dapat mencapai tahap akhir. Dia adalah, Nani Wijaya. Salam hormat untuk ibu atau nenek ini, yang saat itu menyingkirkan yang usianya jauh lebih muda darinya.

Sepandai-pandai tupai melompat, sesekali akan gagal juga. Tentu saja seseorang bisa gagal pada tahapan yang dibilang oleh orang lain mudah untuk menjawabnya. Dan karena sistem gugur, ya langsung terpinggirkan. Tetapi seringkali banyak peserta akan berguguran pada tahapan menjawab pertanyaan, “apa yang akan terjadi bila dilakukan sesuatu terhadap sesuatu”? Walaupun sudah diberikan dalam bentuk multiple choice. Memang tidaklah mudah, antara lain karena cara menyampaikan dan bertanyanya yang kurang pas, sehingga mungkin membingungkan peserta acara ini. Tetapi bagian ini, memang termasuk golongan atau tingkatan yang berbeda dari jenis pertanyaan sebelumnya. Tentunya masih ingat, dengan dengan piramida tingkat kognitif yang dikenal sebagai Bloom’s Taxonomy yang pernah disampaikan beberapa hari yang lalu? Insya Allah, masih ingat bukan? Dengan diulang-ulang, nantinya akan menjadi terus ingat.

Ya, jenjang itu adalah:

  1. Remember – mengingat;
  2. Understand – memahami;
  3. Apply – menerapkan;
  4. Analyze – menganalisis;
  5. Evaluate – menilai; dan
  6. Create – menciptakan.

Sangatlah bagus, dalam acara Rangking 1 tersebut, pertanyaan diajukan dalam berbagai jenis jenjang. Mulai dari pertama hanya sekedar mengandalkan ingatan, yang memerlukan pemahaman untuk bisa menjawabnya, dan juga mengenai penerapan dari suatu konsep. Makin tinggi, tentunya makin sulit untuk bisa menjawabnya, dan makin banyak yang berguguran. Sesuatu yang wajar-wajar saja.

Tetapi bisa juga kita tanggapi dengan perasaan pesimis, karena baru sampai pada tahapan tersebut, secara pro-rata sudah sangat sedikit yang mampu memberikan jawaban yang benar. Artinya, kemampuan masyarakat [belum tentu mewakili lho ya] – setidaknya yang ikut acara – sudah sulit untuk menjawab pertanyaan tentang penerapan atau aplikasi. Mengapa?

Konon, pendidikan di sekolah – hingga tingkatan SLTA – baik pengajaran maupun asesmennya [dalam bentuk ulangan, ujian bahkan ujian negarapun] masih menekankan tahapan remember [ingat mengingat], dan paling tinggi pada memahami [understand]. Dan ini sangat dikeluhkan oleh para pendidik kita [yang mau berfikir], apalagi kalau hal seperti ini masih berlanjut sampai ke tingkat pendidikan di perguruan tinggi. Dan karena bentuk soal ujiannya seperti itu, siswa siswa ya berusahanya sampai disitu pula, maka menjamur dan suburlah berbagai bentuk bimbingan tes yang mengedepankan drilling untuk menghafalkan jawaban atas berbagai soal yang diperkirakannmemiliki kemungkinan keluar dalam ujian nanti. Yang penting, dapat menjawab dan lulus UN dan begitu pula dengan seleksi masuk perguruan tingginya.

Tetapi bagaimana kemudian setelah ada di perguruan tinggi? Konon ada penelitian kecil, yang melihat progres dari suatu sekolah menengah atas yang terkenal. Seratus persen muridnya lulus UN, dan lebih dari 90 persen, diterima di perguruan tinggi negeri. Tetapi bagaimana setelah dua semester di perguruan tinggi, lebih 50 persennya tergolong NASAKOM – bukan jargon singkatan Nasional-Agama-Komunis yang populer di era Orde Baru – melainkan NAsib SAtu KOMa, artinya Indeks Prestasinya hanya satu koma sekian, sehingga terancam atau langsung DO. Entahlah tentang kesahihannya. Tetapi, pada setengah abad silam, ada satu sekolah dasar negeri di kotaku yang memiliki fenomena sama. Lulus ujian negara [sudah ada lho waktu itu] 100 persen, diterima di SMP Negeri sudah kurang dari 50%, dan naik ke kelas dua, sudah jauh lebih rendah lagi persentasenya. Karena apa, ya drilling menjawab soal-soal, hanya mengingat saja, tanpa memahami apalagi mengaplikasi.

Sangat kontras dengan sekolah dasar negeri tetangganya, yang hanya berseberangan jalan, dimana kelulusan ujian negaranya jauh dibawah 100% [mungkin 80%] – tetapi itu sudah sangat tinggi di masa itu – sebagian besar yang lulus diterima di SMP Negeri, dan lancar sampai lulus di perguruan tinggi kelak. Suatu fenomena yang berlawanan. Tentu ada sesuatu yang berbeda dalam penanganan di kedua sekolah tersebut. Mungkin cara pengajarannya, dan mungkin juga bahan bakunya.

Membuat dua garis yang berpotongan dengan membentuk sudut 90o di atas kertas, hampir semua yang pernah mengenyam pendidikan di SMP akan bisa, terutama bila tersedia segitiga siku-siku atau jangka. Tetapi bagaimana bila di acara gotong-royong atau gugur-gunung di suatu pedesaan untuk membuat lapangan voli atau badminton atau lapangan sepak bola mini, dimana dituntut agar garis-garisnya betul-betul empat persegi panjang dan bukan jajaran genjang? Bagaimana kita akan melakukannya? Adanya cuma benang kasur. [lihat Catatan]

Yah itulah ilmu. Bila tidak pernah diajarkan, apalagi dipraktekkan, maka akan sulit kita untuk menerapkannya. Perlu suatu tingkatan yang lebih tinggi untuk bisa menerapkan dalam berbagai situasi. Begitu juga menganalisis, menguraikan pengetahuan yang dimiliki sehingga bisa mencari perbedaan dan kesamaaan antara bagian-bagian pengetahuan yang diketahui dan dipahami serta diamalkannya. Sampai pada puncak tingkat kognitif yaitu menciptakan. Berkreasi, bukan rekreasi.

 

Wa Allahu a’lam.

 

Saiuddien Sjaaf Maskoen

 

 

Catatan:
Saya memperoleh pengetahuan ini dari Pak Dullah Sacadipura [Pelaksana pada Proyek Monumen Nasional dan kemudian Masjid Istiqlal], dengan membuat penggal benang masing-masing berukuran 3a, 4a dan 5a. Makin panjang a, ketelitian yang diperoleh akan makin baik. Kalau dalil Pythagoras, bila segitiga siku-siku maka a2+b2=c2 [dimana c adalah garis miring atau hipotenusa dari segitiga]. Maka jika dibalik, sudut yang dibentuk oleh sisi dengan panjang 3a dan 4a, akan menjadi siku-siku alias 90 derajat. Tidak harus 3a, 4a dan 5a, berapapun boleh, tetapi itulah yang paling mudah dan sederhana. Dengan cara kerja yang sama, andapun bisa membuat sudut 45o, 60o.

Bisa dilakukan dengan mudah menggunakan meteran panjang [meteran gulung] yang terbuat dari kain/kanvas.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: