RAMADHAN 09

Kejadian yang sekarang banyak diberitakan, karena semakin banyaknya media massa, sepertinya makin banyak saja terjadi. Mungkin dulu juga begitu, hanya saja tidak terdengar, terbaca atau tertonton oleh kita. Mungkin karena penanganan dengan model pemadam kebakaran, dan tidak sampai ke akar permasalahannya, maka akan terus berulang setiap tahun. Banyak model seperti ini yang terjadi di masyarakat.

Mulai dari razzia mercon, persiapan jalan menjelang arus mudik lebaran, dan juga hal-hal lainnya. Berbagai penyebab yang berbeda tentunya perlu penyelesaian yang berbeda pula.

Menyalakan mercon dan/atau kembang api selalu sudah mulai selama bulan Ramadhan, dan akan mencapai puncaknya ketika lebaran nanti. Tidaklah terlalu sulit untuk mencari asal muasal budaya menyulut kembang api dan mercon, dan kita akan dengan cepat tertuju pada negeri tirai bambu, dimana kembang api dan mercon/petasan itu mula pertama ditemukan. Dan kelihatannya, nafsu untuk melihat api berhamburan – apalagi yang beraneka warna – serta mendengar bunyi ledakan dan melihat asap berkepul, tidaklah dengan mudah dicegah dengan hanya menetapkan peraturan dan melaksanakannya peraturan tersebut secara benar.

Sebenarnya yang dilarang oleh peraturan negara ini, apakah menyulut kembang api dan/atau petasan alias mercon, atau memperdagangkannya, atau membuat dan mengedarkannya. Salah satu atau keduanya. Ulang tahun Jakarta, penutupan Jakarta Fair, penyambutan Tahun Baru kalau tidak salah selalu diramaikan dengan acara kembang api. Tentu saja hal seperti ini akan menimbulkan hasrat kepada rakyat kecil tertentu untuk menirunya. Dengan menyulut kembang api atau petasan pada acara khitanan anaknya, pelepasan dan/atau kedatangan jemaah haji ke/dari tanah suci Mekkah, kedatangan calon pengantin pria pada acara akad nikah dan pada acara-acara lainnya. Dan tidak pernah ada yang mendengar, pelakunya ditangkap atau ditahan oleh polisi.

Lain halnya dengan penjual eceran yang berdagang di kaki lima, atau kios-kios di tepi jalan, yang selalu menjadi sasaran razzia. Dan kadang-kadang ada pedagang yang agak besar atau pembuat yang skala kecil. Dan kalau kita mau lihat lebih jauh, kadang-kadang barang tersebut adalah barang impor. Entahlah, bingung kalau memikirkan hal-hal tersebut, di negeri beribu pulau yang disatukan [bukan dipisahkan] oleh lautan dan selat ini. Semoga kedaan akan berangsur membaik di masa mendatang. Hanya itu yang bisa kita harapkan.

Saya pernah mengalami dua “hari besar” yang dirayakan dengan kembang api dan petasan di ibu kota negara penemu mesiu ini. Pertama pada saat mereka memperingati ulang tahun kemerdekaannya yang ke 60. Pesta kembang apinya sangat luar biasa, dan tentu saja dipusatkan di Lapangan Tan An Men, dimana terletak pula makam paman Mao [begitu kita di zaman Orde Lama menyebutnya], dengan nama lengkapnya Mao Tse Tung [ejaan sekarang Mao Zhe Dong – bunyi sih sama]. Dan satu paman lagi yang populer di masa itu, yaitu Paman Ho [Ho Chi Minh – yang sekarang dijadikan nama kota sebagai pengganti nama Saigon – sebagai Ho Chi Minh City untuk menghormati perjuangan-nya]. Itulah tokoh-tokoh dari poros Jakarta-Hanoi-Beijing yang dipopulerkan waktu itu sebagai kekuatan anti nekolim dan sebagai kekuatan new emerging forces. Masyarakat boleh dikata tidak menyulut kembang api atau petasan, walau disulut di pusat-pusat kota yang lain, seperti taman-taman, dan lain lain, sepertinya semua oleh negara.

Lain halnya dengan ketika akan menyambut tahun baru Kelinci beberapa bulan yang lalu, beberapa hari sebelumnya, di beberapa pusat kota [dimana memungkinkan] terlihat orang membangun semacam bedeng dengan konstruksi besi hollow dan lembaran alumunium, dengan ventilasi yang terencana. Ternyata bedeng itu, digunakan secara khusus untuk menjual aneka kembang api dan mercon bagi masyarakat yang menginginkannya. Ada spandook atau banner yang tidak bisa saya baca arti tulisannya pada setiap bangunan seperti itu. Kalau sore dan malam hari, baru buka dan digelar aneka mercon dan kembang api, setidaknya di perempatan yang sering saya lalui di segokan dekat tempat tinggal anakku.

Kelihatannya, pengedaran dan penjualan mercon dan kembang api ini, dikelola oleh suatu badan berlisensi yang memperoleh ijin dari pemerintah, dan dengan persyaratan yang ketat pula. Hampir pada setiap kios/bedeng tadi, selalu ada truk yang stand-by.

Pada malam tahun baru, langit menjadi meriah dengan aneka warna kembang api, dengan bentuk yang beragam dan ketinggian yang berbeda-beda, di banyak sekali tempat di seluruh penjuru kota, sebagaimana terlihat dari jendela apartemen di lantai 25. Kali ini, penduduklah yang menyulutnya. Juga pusat-pusat perbelanjaan melakukannya. Mulai matahari terbenam hingga larut malam, hingar bingar suara dentuman petasan, mulai dari yang rentetan mercon cabai sampai ukuran blanggur [seperti yang untuk tanda berbuka puasa di kota-kota tertentu di Jawa]. Memang sangat meriah dan itu legal. Tidak harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, baik yang berjualan maupun yang menyulutnya.

Entahlah bagian mananya yang membuat orang ketagihan untuk menyulut kembang api atau petasan ini. Apakah keindahan warna-warni kembang api, keanekaragaman penampilannya, suaranya yang keras, atau mungkin juga bau mesiunya. Saya sendiri paling-paling menyukai keindahan dan keanekaragaman warna serta komposisi maupun urutan sekuen desain dari penampilan suatu kembang api.

Penampilan kembang api yang dengan aneka desain, walau berjalan hanya beberapa menit, tetapi tahapan persiapannya sangatlah lama dan memerlukan banyak sisi keilmuan. Yang pernah saya saksikan di tayangan suatu televisi, yang saya anggap paling spektakuler baik dari sisi perencanaan sampai realisasi penampilannya, adalah kembang api yang menampilkan seekor burung elang terbang dengan mengepakkan sayapnya pada saat pembukaan arena pacuan kuda di salah satu negara teluk [Arab tentunya]. Tetapi yang mengerjakan, bukanlah orang Arab melainkan dari pabriknya, mungkin Itali atau Perancis.

Sebagai seseorang yang pernah diajar sedikit tentang piroteknik, membuat kembang api [bukan petasan] sangatlah menuntut penguasaan ilmu, imajinasi dan keterampilan yang sangat tinggi. Untuk setiap warna yang akan ditampilkan, diperlukan campuran garam [bukan garam dapur, tetapi garam dalam ilmu kimia, campuran logam dan sisa asam] yang beraneka ragam. Setiap unsur logam akan memberikan warna yang berbeda. Biru, merah, jingga, kuning, hijau membutuhkan unsur logam yang berlainan. Ada sodium, stronsium, barium, cuprum dan sebagainya. Jangan khawatir, saya adalah tergolong yang dinyatakan oleh teman-teman STM dulu sebagai “menang teori, kalah praktek”, artinya saya tidak pernah mencoba membuat kembang api yang rumit tersebut. Membuat mercon saja tidak pernah, apalagi membuat peledakan yang lain, walau tahu ilmunya. Sempat kaget juga ketika mendengar ada teman seperguruan [walau tidak kenal dan beda jauh tahun] yang sampai disidang kasus teroris karena mempraktekkan ilmu pirotekniknya di jalan yang illegal [menurut masyarakat, tetapi tidak menurutnya].

Saya melihat di Amerika atau Eropa melalui tv tentunya, pabrik pembuatan kembang api itu luas lahannya sampai puluhan hektar, dan dilakukan oleh para ahlinya untuk menjamin tingkat keselamatan pabrik. Bukannya diproduksi di daerah padat penduduk, apalagi sebagai industri rumah tangga, seperti halnya di bumi pertiwi ini. Sehingga kalau ada kecelakaan kerja, bisa berakibat menjadi kecelakaan masyarakat.

Kembali ke perayaan tahun baru yang dipenuhi dengan bunyi suara ledakan dan semburan api di mana-mana, pernah dimanfaatkan oleh pasukan Viet Cong dan tentara Viet Nam Utara pada tahun 1975 [lupa-lupa ingat] untuk merebut kota Saigon [Ho Chi Minh City] dan seluruh wilayah Viet Nam Selatan serta mengusir tentara Amerika Serikat dan mempersatukan Viet Nam [seperti sekarang]. Dikenal sebagai serangan Tahun Baru Tet [nama di Viet Nam untuk Tahun Baru Imlek di China], karena tentara Amerika yang sedang turut bergembira ria, mengira keramaian itu suara petasan tahun baru. Sehingga perayaan Tahun Baru Tet di Ho Chi Minh City menjadi lebih meriah lagi, karena bersamaan dengan peringatan “Fathul Saigon” alias pembebasan Saigon. Tetapi tidaklah sama dengan Fathul Makkah, karena banyak sekali korban jiwa di kedua belah pihak pada pertempuran tersebut, dan banyak pula para pemimpinnya yang melarikan diri ke negeri “majikannya”, menyeberang lautan ke Amerika Serikat meninggalkan rakyatnya. Dimana rakyatnya kemudian sebagian ada yang keluar dari negaranya, yang dikenal dengan sebutan manusia perahu. Dan karena banyaknya aliran pengungsi tersebut yang terdampar di wilayah kita [bukankah katanya nenek moyang orang Indonesia dulu berasal dari Indo China juga ya] maka dibuatkan kamp pengungsi di Pulau Galang, wilayah Riau Kepulauan.

Tahun Baru yang sama waktunya, dirayakan juga oleh masyarakat Indo China seperti Laos, Kamboja, Viet Nam, Thailand dan tentunya China dan Korea. Semuanya menganut kalender qomariah alias berdasar peredaran bulan. Dan koq bisanya, waktunya sama dan sudah diketahui lebih dahulu dengan pasti. Apakah mereka punya cara perhitungan peredaran bulan sebagaimana para ahli hisab di lingkungan agama Islam, dan mungkin “kriteria penampakan hilalnya” mereka sama dan tidak berbeda-beda seperti kita – ummat Islam – ya.

Wa Allahu a’lam.

 

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: