RAMADHAN 08

 

Setelah sahur dan menjelang shubuh ada acara yang disponsori oleh salah satu bank yang menerapkan kaidah syari’ah, yang menunjukkan keberhasilan usaha mereka yang menerima kredit dari bank tersebut. Kadang-kadang yang dipertontonkan seringkali bukanlah bagaimana keseharian hal-hal itu dilakukan, tentu saja agar lebaih enak ditonton. Kalau kesehariannya yang bekerja tanpa baju [ngeligo] tetapi ketika dipertontonkan mereka menggunakan kaos atau baju. Manusiawi lah.

Kali ini usahanya sangat sederhana, memotong kardus [corrugated paper] bekas sehingga menjadi ukuran sesuai yang ditentukan, misalnya 15 cm x 15 cm atau yang lainnya. Adanya penerima hasil kerja, merupakan kunci keberhasilan usaha ini, juga pemenuhan spesifikasi yang diharapkan oleh pengguna berikutnya, tidaklah dapat diabaikan. Keseragaman ukuran, serta kesikuan dari hasil potongan merupakan suatu persyaratan teknis yang harus dipenuhi.

Menemukan dan menggaet pelanggan, adalah bagian terlemah dari kemampuan para pengusaha dan wirausaha kecil. Disinilah peran pihak tertentu sangat diperlukan untuk mempertemukan mereka. Silaturrahim mungkin suatu kata kunci. Bukankah ada penggalan cerita tentang sahabat Rasulullah yang ketika baru tiba di Yatsrib  pada saat menyertai Rasulullah hijrah, hal yang pertama ditanyakan adalah “Tunjukkan aku dimana pasar”. Dan saudaranya dari kaum anshor menunjukkannya dengan senang hati, maka mulailah si muhajir ini melakukan pengamatan dan melakukan perdagangan. Dan memperoleh sukses yang luar biasa.

Melihat tayangan tadi, saya langsung teringat akan cerita dosenku dulu – empat puluh tahun silam – yang saat itu bagian teknik industri masih menyatu dengan bagian mesin di ITB, tentang suatu konsultansi yang dilakukan oleh sebuah badan dari Perserikatan Bangsa Bangsa di India. Sang konsultan asing, melihat bagaimana para pekerja di pedesaan India bekerja dengan berjongkok atau duduk seperti halnya yang saya saksikan tadi. Untuk meningkatkan produktifitas, dan kenyamanan bekerja sesuai asas-asas egronomis, sang konsultan menyarankan agar disediakan meja kerja sehingga mereka bisa bekerja dengan berdiri atau duduk di kursi. Saran diterima dan direalisasikan dengan pemberian hibah peralatan yang diperlukan dan pelatihan seperlunya.

Beberapa bulan kemudian, sang konsultan kembali ke lokasi semula dan sangatlah terkejut mendapati mereka bekerja menggunakan meja yang dihibahkan tadi. Mereka tetap bekerja dengan berjongkok, hanya saja sekarang dilakukannya di atas meja yang dihibahkan. Menghilangkan suatu kebiasaan, memang bukanlah hal yang mudah. Memerlukan pendampingan dan ketekunan yang mungkin memerlukan waktu lama. Tidak bisa dengan memberikan alat lalu ditinggalkan, walau sudah dilatihkan juga.

Di negara kita, sebenarnya telah terjadi suatu perubahan besar – bisa dikatakan revolusi barangkali – dalam proses pemanenan dan pengolahan pasca panen atas komoditas padi, yang merupakan bahan makanan pokok masyarakat kita. Kita sudah tidak lagi mengenal yang namanya ani-ani atau ketam [entahlah, apa masih ada petani yang menyimpannya agar bisa ditunjukkan kepada anak cucu di masa mendatang] dan sudah digantikan dengan sabit, bahkan sabitnya bukan sabit biasa melainkan sabit bergerigi – yang pada awal pengenalannya juga banyak diprotes pembuat sabit tradisional.

Tidak hanya itu, petani juga langsung merontokkan bulir-bulir padi dari tangkainya di lapangan [in situ] lalu memasukkannya kedalam karung anyaman plastik atau bagor dan tidak lagi membawanya pulang dengan diikat pada merangnya, dan kemudian dipikul atau dimuat pedati yang dihela sapi. Dan sepertinya para petani sudah tidak lagi memerlukan lumbung, karena produksinya tidaklah akan disimpan selama bertahun-tahun, sudah habis dijual pada musim yang sama untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin berat.

Saya tidak tahu, apakah gabahnya itu kemudian langsung ditumbuk [walau dengan mesin huller] setelah dijemur seperlunya, karena BULOG hanya akan menerima beras dengan kriteria kadar air, dan pecahan tertentu pada musim yang sama, saat berlangsung panen raya. Tidak lagi diperlukan menyimpan padi dalam bulirnya agar awet dan sedikit diolah sesuai kebutuhan untuk ditanak sebagaimana yang diajarkan oleh Allah swt melalui firmannya pada Surah Yusuf 12: 47, yaitu:

قَالَ تَزۡرَعُونَ سَبۡعَ سِنِينَ دَأَبً۬ا فَمَا حَصَدتُّمۡ فَذَرُوهُ فِى سُنۢبُلِهِۦۤ إِلَّا قَلِيلاً۬ مِّمَّا تَأۡكُلُونَ ( ٤٧ )

Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamui tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan, (47)

Subhanallah. Biji-bijan, bilamana tetap dibiarkan pada bulirnya dalam keadaan kering, dia akan tahan lama dan tetap hidup. Bila saja kemudian diletakkan di tempat yang basah dengan kelembaban tertentu, maka dengan adanya air, proses pertumbuhan melalui pembentukan kecambahpun akan berlangsung, untuk menjadi suatu tanaman baru. Tetapi kalau sudah dibuka dari bulirnya, dan terkena kelembaban sedikit, maka akan menjadi apek baunya [seperti beras-miskin atau raskin yang sering dijadikan komoditi operasi pasar disaat kelangkaan beras di pasaran mulai dirasakan].

Menyimpan gabah mungkin lebih alami dan sesuai dengan sunnatullah dibanding menyimpan padi yang sudah dikuliti alias dalam bentuk beras. Dan bila perlu beras, kan tinggal giling, cepat kan. Entahlah, serahkan kepada ahlinya. Bukankah “kalau suatu pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya” sesuai salah atu sabda Rasulullah s.a.w.

Lalu…………bagaimanakah dengan kehidupan di negeri ini? Apakah sudah diserahkan kepada ahlinya? Cari sendiri jawabannya ya, karena saya terus terang bingung. Saya masih ingat, pelajaran tentang Ketata-negaraan saya peroleh di kelas 3 SMP [kelas 9 sekarang] dimana diajarkan bahwa pemerintahan dilakukan oleh tiga badan, yaitu legislatif – membuat undang-undang-, yudikatif –melaksanakan fungsi kehakiman-, dan eksekutif –ya tentunya to execute segala hal.

Apakah sindrom TETUKO,– sing teko ora tuku, sing tuku ora teko – yang dulu dikenakan pada PT Dirgantara Indomesia juga berlaku untuk ketiga soko-guru pemerintahan kita ini? Yang menjadi kewajibannya tidak dilakukan, yang bukan kewajibannya malah getol dilakukan – sangat terlihat pada lembaga legislatif. Lembaga yudikatif, kepolisian dan kejaksaan serta kehakiman sering menghebohkan masyarakat karena dirasakan jauh dari rasa keadilan. Lembaga eksekutif sepertinya tidak sempat melakukan apa-apa, karena kesibukannya yang lain [apa ya?].

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: