RAMADHAN 07

 

Demonstrasi di tambang Newmount masih terus berlangsung, untungnya sudah tidak lagi membakar ban di tengah jembatan. Mereka terus menuntut transparansi proses seleksi penerimaan pegawai. Saat ini banyak berlangsung proses seleksi, baik tingkat penerimaan pegawai sampai tingkat penerimaan komisioner lembaga tertentu, hakim agung dan lain lain. Memang transparansi atas berbagai hal selalu menjadi harapan masyarakat luas, tetapi bagaimana tentang transparansi suatu proses seleksi harus disampaikan kepada masyarakat? Apakah cukup dengan pernyataan dari panitianya “Kami sudah melaksanakan secara transparan, terbuka, tidak ada pengaruh ari manapun”?

Semua manusia, di akhirat nanti akan menjalani suatu proses seleksi untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk. Kriterianya, kalau saya tidak salah, adalah timbangan dari amalnya ketika hidup di dunia. Sesuatu yang dikuantifikasi, tidak kualitatif. Secara fisika dunia, berat dari suatu benda ditentukan dari perkalian antara berat jenis dan volume benda tersebut. Mungkin semacam itu. Pasti ada sebagian yang akan bilang, bahwa apa yang saya sampaikan tersebut, mendasarkan pada ilmu fisika dunia, terlalu melogikakan hal-hal yang bersifat spiritual. Yah, itu hanyalah misal.

Begitu juga berbagai seleksi yang dilakukan oleh berbagai instansi, pemilihan kelulusan haruslah berdasarkan timbangan yang jelas, dengan kuantifikasi yang gamblang, dan tentunya kriteria yang telah disepakati semula. Masing-masing komponen, terlebih dahulu ditentukan berat jenisnya, dan kemudian dalam proses seleksi akan diketahui berapa volume yang dimiliki oleh seseorang. Lalu dihitung, berapa beratnya.

Mungkin masalahnya adalah bagaimana mengkuantifikasi hal-hal yang bersifat kualitatif. Misalnya saja suatu panitia kontes yang terdiri dari 5 orang, diminta memilih suatu hasil masakan, pizza. Kalau prosedurnya bisa dipilih antara

  1. masing-masing anggota panitia menilai setiap kontestan secara perseorangan, lalu hasilnya dikumpulkan dan dimusyawarahkan; atau
  2. secara musyawarah menilai masing-masing kontestan, dan hasilnya merupakan hasil akhir.

Atau seorang guru, akan memberikan nilai kepada hasil kerja muridnya. Kalau itu soal multiple-choice, atau hasil perhitungan yang jelas salah-benarnya, maka relatif mudah dilakukan dan dipertanggung jawabkan. Tetapi kalau yang mau dinilai adalah hasil tulisan murid dengan judul “Berlebaran di Pedesaan”. Bagaiamanakah bapak/ibu guru akan mempertanggungjawabkan, seandainya ada sekelompok murid yang melakukan “demonstrasi” meminta transparansi atas hasil nilai yang diperolehnya. Bagi seorang guru yang telah menggunakan teknik “rubric” dalam melakukan penilaian, tidaklah menjadi masalah jika dituntut untuk menjelaskan asal-usul nilai yang diberikan. Karena dia telah melakukannya secara terkuantifikasi, untuk masing-masing aspek atau kriteria yang dinilainya, bahkan bisa juga memberikan bobot untuk masing-masing aspek atau kriteria tadi [bilamana diperlukan].

 

Resume Rubric

 

 

Item

 

Level 1

 

Level 2

 

Level 3

 

Level 4

Format
  • Missing some required sections
  • Does not use bullet/list format
  • Missing name or address information at top of page
  • Is missing a/some required sections
  • Does not always use proper bullet/list form
  • Missing some of address or
  • Includes all required sections
  • Appropriately uses bullet/list format
  • Name and address information properly located at top of
  • Has added relevant sections
  • Error free
 

Mechanics

  • Frequent minor errors
  •  A couple minor errors that do not cloud meaning
  •  Free of mechanical or spelling errors
  •  Perfec
 

Information

  • Missing some sections of required information
  •  Includes almost all required information
  •  Includes all required and/or relevant information
  •  Has added additional relevant sections
 

Visual Appeal

  • Many errors visually evident
  • Has left many unused sections of template on page
  • Has left some irrelevant sections of the template
  • Some formatting errors
  • Laid out in a professional and attractive manner
  • Has properly used the template
  • Very professional looking
  • Error free
  • No rough edges

 

Di dalam rubrik ini, secara jelas akan diketahui oleh kontestan, apa yang akan dinilai dan bagaimana yang diharapkan untuk masing-masing item. Tentu saja yang Level 4 adalah nilai yang tertinggi, misalnya 100. Tetapi untuk Level 3, 2, dan 1 bisa saja diberikan nilai yang berbeda, misalnya Level 3 = 80, Level 2 = 60 dan Level 1 = 30. Dan bisa juga yang lainnya. Begitu juga untuk bobot masing-masing item. Dan dengan diumumkannya terlebih dahulu, maka si murid juga akan bisa “menentukan strategi” untuk memperoleh nilai tertinggi yang dia harapkan.

Walau rubric ini berkembang di lingkungan pendidikan, tetapi sangatlah layak untuk dikembangkan dan diterapkan pada berbagai bidang lainnya. Memang, untuk membuatnya pertama kali mungkin agak memakan waktu dan sedikit ribet. Tetapi sekali dibuat, bisa digunakan berkali-kali. Di dunia maya, tersedia banyak sekali contoh untuk dipelajari atau langsung digunakan, atau disesuaikan dulu – walaupun didominasi untuk kepentingan guru.

Bagi panitia lelang pekerjaan, bisa juga dibuat rubrik untuk memilih pemenang tender, sehingga bila nanti diperiksa BPKP, BPK, KPK, Kejaksaan Agung, Bareskrim POLRI, akuntan atau LSM tidak akan sulit-sulit untuk mempertanggung jawabkan, tinggal buka penilaian rubrik.

Kalau mau kuantifikasi hal-hal yang bersifat kualitatif secara lebih kompleks [dasar matematikanya] tetapi telah dimudahkan pelaksanaannya karena adanya aplikasi komputer yang tersedia, namanya Analytical Hierarchy Process [AHP] yang diperkenalkan oleh Prof. Saaty dan aplikasi komputernya bernama Expert Choice [mungkin sekarang sudah versi 11 atau berapa]. Sangat menarik.

Sebenarnya cara kerja otak kita, dalam menentukan sesuatu sudah seperti itu, hanya tidak dijabarkan secara tertulis. Cobalah ketika anda akan memilih salah satu dari dua atau lebih barang sejenis yang akan anda beli, tentu ada kriteria yang anda pertimbangkan, kelebihan satu terhadap yang lain, dan lain sebagainya.

Ada pesan dari seseorang, yang pernah saya terima, janganlah kita mengkuantifikasi amal ibadah kita. Serahkan sepenuhnya kepada Allah swt, dan mohonlah akan keridhaan Allah swt. Walaupun mungkin saja Allah swt akan mengkuantifikasi dengan caranya sendiri.

Wa Allahu a’lam.

 

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: