RAMADHAN 05

 

Buka puasa bersama, semakin tahun semakin semarak diadakan dimana-mana. Entah kapan mulainya kebiasaan baik ini berlangsung, tetapi buka puasa bersama bukanlah suatu hal yang baru. Dari dulu juga sudah berlangsung dalam segala kesederhanaannya di surau atau langgar bahkan masjid selama bulan Ramadhan. Di Indonesia, kemudian tumbuh menjalar diadakan di perkantoran, oleh kelompok masyarakat, atau oleh suatu keluarga. Semuanya bagus-bagus saja. Tetapi, kalau kita lihat, yang “memperoleh kenikmatan” tersebut, umumnya adalah orang-orang yang berpunya, yang sudah cukup makan bahkan kadangkala adalah kelompok yang berlebih makanan. Dan bahkan presiden USA pun mengadakan acara buka puasa bersama semenjak beberapa tahun silam, sebelum jamannya Barack – yang keturunan dan sempat menganut agama Islam dimasa kecilnya.

Kalau tidak salah, memang ada anjuran untuk memberikan berbuka kepada orang yang berpuasa Ramadhan, dan untuk memotivasinya bahkan disebutkan bahwa pahalanya sama dengan orang berpuasa. Maka, kalau anda sempat menyaksikan sendiri di dua masjid utama ummat Islam, yaitu Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah, begitu banyaknya makanan yang disediakan untuk berbuka, oleh beberapa orang dengan mutu makanan dan minuman yang tergolong kelas wahid, serta serba lezat. Dan karena melimpahnya pasokan, sampai-sampai si pemasok – karena khawatir makanan dan minuman yang disediakannya tidak sampai ke sasaran – mereka menyebar semacam “sales promotion person” untuk menggiring jamaah shalat maghrib menuju ke area dimana makanan dan minuman yang dia sajikan tersebut telah digelar.

Semalampun, acara buka puasa bersama juga dilangsungkan di Istana, dihadiri oleh para pejabat tinggi dan perwakilan negara sahabat. Dalam pidato sambutannya, Presiden SBY mengemukakan beberapa hal, yang saya anggap sangat bagus dan penting. Tetapi sayang, di METROTV ditampilkan hanya secuil saja. Dan paginya saya cari-cari di KOMPAS, gambarnya ada di halaman 15 dan beritanya ada di halaman 3 pojok kiri bawah. Kasihan. Kalau yang bagus, tidak mengeluh, dikabarkannya kecil-kecil. Kalau yang mengeluh, dibesarkan dan diberitakan berulang-ulang. Nasib menjadi Presiden, rupanya selalu begitu. Memang makin tinggi suatu pohon, makin besar pula angin yang akan menerpanya.

Ada lima pokok yang disampaikan oleh SBY mengenai bagaimana seharusnya wujud bangsa kita ini, yaitu

  1. Masyarakat yang berkeadaban;
  2. Masyarakat yang berpengetahuan;
  3. Masyarakat yang rukun, harmonis dan toleran;
  4. Masyarakat yang terbuka dan bebas mengekspresikan pemikirannya; serta
  5. Masyarakat yang tertib, patuh pada norma dan pranata.

Saya kira, siapapun setuju dengan pendapat presiden tersebut, dan hanyalah mereka yang tidak menginginkan bangsa ini berkehidupan layak dan terhormat, yang akan menyangkalnya.

Di televisi kemarin malam, saya hanya mendengar sedikit tambahan uraian dari SBY sampai dua poin teratas saja,

Masyarakat yang berkeadaban, adalah civilized society, aneh memang ya, dari bahasa sendiri diberikan keterangan dalam bahasa asing, ini menandakan bahwa kita jarang sekali menggunakan frasa itu dalam kehidupan sehari-hari. Bagi yang beragama Islam, dan sedikit mengenal bahasa Arab, hal yang diharapkan Presiden tersebut bisa dinyatakan sebagai “masyarakat madani” – yang berasal dari kata madina, yang dijadikan pengganti nama kota Yatsrib. Cendekiawan Mas Komaruddin Hidayat, sering mengutip kalimat-kalimat tersebut, terutama ketika menjelaskan mengapa nama sekolah yang bdiangunnya bersama Cendekiawan Cak Nurcholis Madjid dan yang lain-lainnya [Pak Fuadi, Pak Saiful, Pak Soetrisno dll], memakai nama Sekolah Madania [sudah di Indonesia-kan, kalau mau aslinya barangkali tulisannya madaniyyah – seperti Muhamamadiyyah, Aisyiyyah, Attahiriyyah dan lain sebagainya].

Masyarakat yang berpengetahuan, adalah knowledgable society, yaitu masyarakat yang berilmu dan tentunya bisa mengamalkan ilmunya guna memberikan manfaat bagi masyarakat. Kalau dari sisi kualitas dan kuantitas, relatif sudah sangat banyak dibanding masa menjelang kemerdekaan, tetapi kenapap kehidupan berbangsa ini sepertinya semakin mundur? Padahal doa “rabbi zidni ilman nafian, wa rizqan fahman” selalu dilantunkan oleh murid-murid madrasah dan banyak lagi murid dan manusia lainnya di bumi persada ini. Saya kira banyak teknisi kita yang bisa membuat jembatan seperti yang dibangun oleh orang Swis di wilayah Lumajang kemarin, tetapi mengapa tidak melakuakannya? Yang terjadi malah sekelompok orang membakar ban di tengah jembatan rangka baja dalam protes di jalan menuju pertambangannya Newmont. Kalau membakar ban di tanah pasir atau tanah liat, paling-paling pasir akan jadi kaca dan tanah akan jadi keramik. Tetapi, karena ketiadaan ilmu, mereka tidaklah tahu bahwa apa yang mereka lalukan akan memperlemah struktur jembatan tersebut, dan pada batas tertentu bisa membuat jembatan roboh. Mereka tidak tahu, bahwa ditahun 1980-an ada truk tangki BBM yang terbakar di jembatan di Jogjakarta [mungkin kali Code] yang kemudian berakibat runtuhnya jembatan tersebut. Dan kalau tidak salah, Adhi Karya ditugaskan untuk membangun kembali dalam waktu yang cepat.

Masyarakat yang rukun, harmonis dan toleran, dan saya tidak mendengarkan sedikitpun uraian tambahan mengenai hal ini, karena siarannya selesai. Sepertinya hal yang disebut ini, yang dulunya merupakan suatu ciri keunggulan bangsa ini, sekarang sudah sangat tipis sekali keberadaannya. Dan itupun seperti terlihat hanya dipermukaan, sedangkan sejatinya – barangkali sudah sirnah. Coba saja, perhatikan akhir-akhir ini, baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Seakan yang waras sudah tidak berdaya lagi. Berbagai gesekan dan kekerasan terjadi dimana-mana, yang dipicu dan ditimbulkan oleh berbagai hal. Ada yang kita sadari, dan ada pula yang tidak kita sadari. Parahnya lagi, kalau ummat Islam yang melakukan [yang kita juga meyakini itu tidak sesuai dengan ajaran Islam] beritanya kemana-mana, tetapi kalau orang lain yang melakukan sepertinya tidak ada yang peduli. Saya tidak tahu bagaimana kalender yang berlaku bagi saudara kita ummat Hindu Bali, dalam menentukan hari raya Nyepi. Apakah bila suatu ketika hari raya Nyepi jatuh pada hari Jumat, maka ummat Islam lelaki harus keluar dari pulau Bali agar bisa melaksanakan kewajiban shalat Jumat – yang harus dilakukan secara berjamaah di masjid-masjid – ataukah ummat Islam dibolehkan tidak melaksanakan kewajiban shalat Jumat karena keadaan keamanan tidak memungkinkan [keadaan darurat].

Masyarakat yang terbuka dan bebas mengekspresikan pemikirannya, dua hal yang seringkali bertautan, seperti halnya antara kewajiban dan hak. Saat ini, kebanyakan mau mengemukakan pendapatnya dan tidak mau menerima pendapat orang lain. Pendapat atau pemikiran yang bukan dari golongannya, selalu ditolak, tanpa lebih dahulu mempertimbangkan manfaat dan madharatnya. Tentu saja sikap apriori seperti itu, tidaklah akan membawa bangsa ini ke arah yang kita harapkan semua. Tetapi, mengekspresikan pemikiran, juga haruslah mempertimbangkan kemaslahatan ummat, dan dalam batas-batas nilai-nilai luhur yang dianut bangsa ini, dan dapat dipertanggung jawabkan. Saya kira SBY menyampaikan harapan adanya “bebas mengekspresikan pemikiran” ini bukanlah untuk membela pemikiran dari rekan separtainya – Marzuki Ali – yang disampaikannya baru-baru ini, yang ditentang oleh banyak pihak.

Masyarakat yang tertib, patuh pada norma dan pranata, sesuatu yang barangkali akan menghadapi kepunahan, dan perlu dinyatakan sebagai “endangered species” di bangsa ini. Kadang-kadang, mungkin untuk menciptakan ini – pada masyarakat yang belum sepenuhnya berkeadaban dan belum sepenuhnya berpengetahuan – tidak bisa dibiarkan berlaku dengan sendirinya. Sebaiknya memang dengan cara persuasif, tetapi cara represif harus bisa diterapkan kepada mereka yang jelas-jelas melanggarnya. Bagaimana aparat penegak hukum seakan tidak berdaya menindak pengguna lalulintas yang jelas-jelas melanggar rambu-rambu dan aturan yang ada. Dan bahkan ada pejabat [saya kurang setuju untuk dibilang pemimpin] yang memberikan contoh pelanggaran tersebut dengan kawalan aparat penegak hukum – apapun alasan yang dikemukakan.

Kalau anda akan bertanya, “Dari mana memulainya?”, saya bisa cepat menjawab, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad saw, yaitu “Mulailah dari dirimu sendiri”, dan tentunya sesusai slogan kampanye Golkar dikala jayanya orde-baru, kemudian sekasur, selembur dan sesumur [satu kasur, satu rumah, satu sumur atau keluarga sekitarnya].

Tetapi kalau anda bertanya “Bagaimana memulai dan melaksanakannya?, he he, itulah yang seringkali tidak diberikan oleh para pemimpin kita. Ataukah itu tugas para staf untuk mengelaborasi lebih lanjut? Atau diserahkan sendiri kepada masyarakat untuk bagaimana mencapainya? “Bagaimana” itu adalah bagian yang paling sulit bila diserahkan kepada masyarakat, apalagi yang belum berpengetahuan secara cukup. Hasilnya bisa lain.

Saya selalu ingat akan Hukum Thermodinamika, bahwa “sesuatu yang dapat berjalan sendiri adalah sesuatu yang menuju keadaan lebih tidak-beraturan”. Atau Hukum Muphy, yang mengatakan “bila ada dua cara atau lebih untuk melakukan sesuatu, maka seseorang akan memilih cara yang bisa menimbulkan bencana”, dan “If anything can go wrong, it will”.  Kalau mau tahu lebih lanjut, tanya sama mBah Google ya.

Jadi, HOW TO nya itu penting untuk dijabarkan. Kita tunggu mungkin hari-hari mendatang ini.

SemogaAllah swt merahmati bangsa Indonesia, dan menjadikan negeri ini, suatu negeri yang digambarkan dalam al-Qur’an, baldatun thayyibatun wa rabbun ghofuur. Amien.

Wa Allahu a’lam

 

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: