RAMADHAN 04

 

Lupa, suatu keadaan yang dianugerahkan oleh Allah swt, bisa merupakan suatu “nikmat” bagi seseorang, tetapi juga merupakan suatu “kelemahan” yang harus dilawan oleh manusia itu sendiri. Seseorang yang lupa, memperoleh perlakuan khusus dalam penerapan hukum, khususnya dalam bidang keagamaan. Allah swt membebaskan seorang yang lupa dari kewajiban hukum atas dirinya, sehingga bisa merupakan “nikmat”. Seseorang yang sedang berpuasa, dan lupa bahwa dia berpuasa sehingga meminum sirop, maka setelah dia sadar dari kelupaannya – dia bisa meneruskan puasanya. Kalausedang puasa sunnat, barangkali itu masih dianggap “wajar”, tetapi kalau sedang dalam puasa Ramadhan seperti sekarang ini bisa dianggap “pura-pura lupa”.

Kemampuan seseorang untuk mengingat sesuatu, mungkin sangat ditentukan pula oleh kebiasaan seseorang dan perilaku seseorang atas sesuatu. Tidaklah selalu bahwa seseorang yang disebut pelupa, memiliki tingkat kognitif rendah, dan ataupun sebaliknya seseorang yang memiliki daya ingat kuat juga akan memiliki tingkat kognitif yang tinggi. Menurut seorang ahli pendidikan – yang bernama Bloom – ada suatu sederet tingkatan kemampuan kognitif yang harus dilatihkan kepada para penuntut ilmu [tidak saja bagi murid dan mahasiswa] sehingga para penuntut ilmu tadi bisa mencapai tingkatan kemampuan kognitif yang tertinggi. Deretan tersebut – yang kemudian dikoreksi oleh muridnya bernama Anderson, setengah abad kemudian – hanya dengan peristilahan dan pembalikan urutan pada nomer 5 dan nomer 6, sehingga menjadi: [untuk mengetahui secara lebih rinci lihat pada lampiran, yang mana berguna dalam mendidik anak-anak dan juga memberi tugas serta mengembangkan pegawai]

  1. Remember – mengingat;
  2. Understand – memahami;
  3. Apply – menerapkan;
  4. Analyze – menganalisis;
  5. Evaluate – menilai; dan
  6. Create – menciptakan.

Walaupun kemampuan untuk mengingat adalah pada tahapan pertama atau terendah, tetapi sangatlah penting, karena tanpa adanya kemampuan mengingat, tidak akan ada kemampuan memahami, dan begitu seterusnya, sampai kemampuan menciptakan. Seperti anak tangga. Subhanallah.

Saat ini, lupa juga sudah digunakan sebagai senjata untuk menyelematkan diri. Setidaknya oleh sederetan orang yang sedang mengahdapi perkara di berbagai bidang. Mulai dari pembantu rumah yang lupa melakukan sesuatu, sampai pejabat tinggi yang lupa akan sesuatu yang telah dikerjakannya terkait suatu perkara di waktu yang lalu. Dan bahkan sampai diakui oleh suaminya, bahwa seorang istri terserang penyakit lupa, yang kemudian dikomentari oleh para pembawa berita sebagai lupa untuk pulang, karena sekarang tetap berada di luar negeri.

Antara lupa dan ingat, mungkin hanya dibatasi oleh suatu batas yang tipis. Kadang-kadang lupa akan sesuatu, dicoba untuk mengingat tidak juga teringat, tetapi kemudian setelah beberapa waktu bahkan sampai hitungan hari, tiba-tiba muncul dalam ingatan kita. Mungkin anda pernah atau sering [kalau yang sudah banyak makan garam] mengalami hal seperti itu. Sayapun sering mengalaminya. Bertemu dengan seseorang, dahulunya rekan kerja saya, sampai selesai berbincang sekitar 15 menit [karena sudah lama tidak berjumpa setelah dia dipindahkan ke kota lain] tidak juga teringat namanya. Tetapi hal-hal lain mengenai dirinya, seperti tanggal lahirnya, riwayat penugasannya di berbagai kota teringat dengan baik. Sehingga setelah dia beranjak pergi, saya langsung bertanya ke teman-teman yang menyertai pembicaraan tadi, dan komentarnya “Masya Allah, bagaimana bapak ini”. Dan itu terjadi tidak sekali itu saja.

Orang yang lupa – dalam berbagai kasus perkara korupsi di negeri ini terus bertambah – sebagaimana diberitakan di televis dan surat kabar, tetapi orang-orang yang ingat juga mulai diberitakan di televisi hari-hari ini. Adalah Dahlan Iskan – manusia banyak gagasan aplikatif – akan mengumpulkan sebanyak mungkin orang-orang yang ingat akan bacaan al-Quran di kantor pusat PLN untuk mengaji bersama, dengan harapan akan dapat diselesaikan 30 juz dalam sehari itu, mulai bakda Subuh hingga qabla Maghrib, tanggal 6 Agustus 2011 nanti. Jadi masih banyak orang yang ingat koq di negeri ini, setidaknya akan dibuktikan oleh pak Dahlan Iskan, yang hatinya sebagian made in Indonesia dan sebagian mungkin made in China – sebagai hasil operasi pencangkokan hati yang sukses beberapa tahun silam.

Konon ada mekanisme tertentu dan berbeda mengenai sistem penyimpanan dan pengambilan kembali sesuatu yang diingat, ingatan yang jangka pendek dibedakan dengan yang jangka panjang, antara yang sering digunakan [sering diambil kembali] dan yang jarang diambil. Yang kemudian ditiru oleh cara kerja di komputer kita, dimana ada cache memory untuk menyimpan berbagai hal yang sering digunakan oleh CPU dalam menjalankan operasi pelaksanaan tugasnya. Makin besar kapasitas cache memory biasanya akan menjadi lebih cepat melaksanakan tugasnya dengan kondisi yang lainnya sama. Dan ada juga yang disebut RAM – random access memory – yang kapasitasnya lebih besar, yang ibaratnya meja kerja kita guna menempatkan berbagai hal yangdiperlukan dalam pelaksanaan tugas, biasanya berupa data. Maka, begitu pula manusia.

Di benak para penghafal Quran itu, mungkin ingatan tentang ayat dan urutannya itu sudah tersusun rapi dan siap diucapkan – baik dalam cache memory maupun dalam RAM – dan bahkan tidak akan terputus walau diselingin dengan kegiatan lain, seperti yang terjadi pada imam shalat tarawih di Masjidil Haram, yang secara berurutan melantunkan ayat-ayat al-Quran pada setiap rakaat shlatnya, satu juz untuk satu malam. Dan kapasitas cache memory serta RAM tersebut di dalam otak kita, kapasitasnya bisa berkembang dan menyusut sesuai kebutuhan, dengan melakukan semacam partisi sebagaimana yang bisa kita lakukan dalam sistem memory komputer kita. Disini ada perbedaan, kalau di komputer, cache memory dan RAM tersebut bersifat piranti keras, walau bisa diubah dan ditambah dengan suatu batasan tertentu. Subhanallah.

Prioritas atau tingkat kepentingan atau kesan dari sesuatu kegiatan atau pekerjaan, akan memengaruhi kemampuan kita untuk mengingat suatu kejadian. Kegiatan yang sering kita lakukan, akan membuat kejadian itu tidak akan diingat lagi oleh otak kita. Tetapi suatu kejadian yang istimewa [menurut pendapat kita] insya Allah akan teringat selamanya dalam kenangan [ingatan] kita, baik itu yang pahit maupun yang manis. Bahkan walau tidak diingat, akan selalu teringat.

Salah seorang yang paling senior di Adhi Karya waktu itu – awal abad 21 – , Almarhum Dulah Sacadipura Bloomstein, masih ingat dan mampu menggambarkan secararinci, bentuk dan susunan perancah yang digunakan pada waktu pembangunan Monumen Nasional dan Masjid Istiqlal [dimana beliau selaku Pelaksana pada kedua proyek itu], yang sudah berlangsung 40-an tahun silam. Bukankah ini suatu ingatan yang istimewa? Karena orangnya yang istimewa? Menurut pengakuannya, kuncinya terletak pada perhatian pada apa yang dikerjakan. Tidak ada yang lain. Beliau lulusan STM tahun 1954 atau 1957 begitu, dan langsung bekerja di Associatie NV yang kemudian menjadi ADHI KARYA, hingga akhir hayat beliau [beliau tidak pernah menjalani pensiun dalam arti yang sebenarnya].

Hampir dua puluh tahun silam, saya sekeluarga berkesempatan mengunjungi keluarga kakak iparku, yang suaminya bertugas di negeri Singa. Disana saya mencoba bepergian bersama salah seorang anakku, menggunakan bis kota. Setelah diberitahu dimana harus menunggu dan bis nomer berapa yang harus saya naiki, sayapun berangkat dengan percaya diri, tanpa menanyakan hal-hal yang lain [menganggap sama dengan di Jakarta saja, pada hal di Jakarta pun jarang naik bis kota. Paling-paling Metro Mini P-15 dan S-604].

Setelah menunggu beberapa saat di halte [yang ada nomer di tiangnya] terlihat bis yang kutunggu akan tiba. Ee, setelah agak dekat tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti di halte, tanganku-pun aku ayunkan. Dan pengemudi bis, serta merta memberi tanda akan berhenti dan kemudian berhenti dengan mendadak. Pengemudinya seorang perempuan China tua, langsung “ngomel” karena aku memberikan tanda secara mendadak. Tetapi setelah saya meminta maaf, dan dia tahu kalau kami dari Indonesia diapun tertawa. Rupanya disana, bis kota tidak berhenti di setiap halte, kecuali bila ada penumpang yang mau turun, atau ada yang mau naik. Mempersingkat waktu perjalanan. Beda kan. Tidak ada kaitannya dengan topik ingatan, setidaknya sampai saat ini.  Ternyata dua hari kemudian saya berjalan di trotoir Orchard Road, ada bis kota yang berjalan pelan dan membunyikan tuternya, ternyata “si nya de” kemarin sambil melambaikan tangannya dan tersenyum lebar. Jadi peristiwa kemarin itu, membekas dalam ingatannya.

Memasukkan coin atau uang kertas langsung ke kotak, sebagai uang tambang ketika naik bis,. yang tarifnya bukan jauh-dekat-sama-saja, dan tidak ada uang kembalian,  merupakan suatu pengalaman pertama bagi saya. Seorang bapak-bapak Melayu dengan sopan mengatakan “Maaf, tak bisa mengembalikan, bapak lebih membayar 40 sen”. “Tidak apa-apa, kesalahan saya” saya bilang. Saya tidak tahu itu semua. Maklum “orang asing” yang menganggap semuanya sama dengan di negerinya.

Besoknya, ketika bepergian lagi [ya paling-paling juga – rute tetap – dari daerah Marina Bay ke Orchard Road pp] saya sudah menyiapkan uang coin sejumlah yang harus saya bayarkan. nDilalah menaiki bis yang dikemudikan bapak-bapak Melayu kemarin. Dan begitu saya menaiki pintu bis, dengan tersenyum beliau menyambut saya dengan “Encik kemarin lebih bayar 40 sen, sekarang bayar saja 2 ringgit dan 20 sen”. Masya Allah. Dia ingat sampai ke sen-sennya. Mungkin jarang orang yang seperti saya ini, sehingga menjadi perhatian beliau.

Perhatikan, dan insya Allah anda akan ingat selamanya. Bagaimanakah pendapat anda tentang seseorang, terperiksa, tersangka atau terdakwa yang sering mengatakan lupa atas pertanyaan tentang suatu kejadian?

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

 

Bagi yang ingin tahu lebih lanjut tentang Bloom’s Taxonomy tersebut,
bisa dibaca lebih lanjut di :
http://www.uwsp.edu/education/lwilson/curric/newtaxonomy.htm

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: