RAMADHAN 03

Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, bahkan sekitar setengah abad silam, dimanapun ada orang muslim yang berpuasa – tentunya dalam komunitas yang mayoritas muslim – akan kita temukan berbagai penjual makanan dan minuman dadakan, yang hanya kita temukan saat dan selama bulan Ramadhan saja. Apakah penjual minuman yang selama bulan-bulan lain juga telah ada, seperti kelapa muda, dan bahkan makanan dan minuman yang hanya dijual selama bulan Ramadhan saja, dan malah bisa diseut sebagai jajanan khas Ramadhan.

Tiap komunitas, dan tiap daerah memiliki kekhasan masing-masing. Bahkan mungkin setiap daerah juga berbeda-beda. Mungkin agak mencengangkan jika saya sebutkan, ada suatu daerah yang memiliki bahan untuk lauk secara khusus, yaitu batang rotan muda [rebungnya rotan]. He he, kenapa tidak, tanaman bambu yang lebih besar saja, rebungnya bisa dimasak, rotanpun tentu bisa bukan? Tentu saja hal itu tidak kita temukan di wilayah pulau Jawa, karena mungkin kita tidak menemukan tanaman rotan di hutan hutan pulau Jawa [apakah masih ada hutan di pulau yang terpadat penduduknya ini?]. Mungkin untuk mencari rebung bambu, yang biasa disayur lodeh atau dijadikan isi loenpia, sudah agak susah juga saat ini.

Rebung rotan itu dijual ditepi jalan yang menuju ke arah dalam kota, dalam bentuk batangan panjang. Entahlah kemudian dimasak apa, mungkin juga seperti sayur lodeh begitu. Di daerah itu, ada juga nama penganan yang khas di bulan Ramadhan, yang namanya taoge [benar tha ya, sudah agak lama – belasan tahun silam] tetapi tidak ada unsur kecambahnya sama sekali. Dia adalah penganan berbahan aneka olahan ketan dengan kuah santan seperti kolak. Medan lah asalnya. Medan adalah wilayah kerajaan Islam, Kesultanan Deli di masa lalu, yang masih dapat kita saksikan peninggalan-peninggalannya beserta tradisi-tradisinya hingga masa kini.

Daerah-daerah lainnya tentu saja begitu, dan akanlah sangat kaya pengetahuan kita, bila anda-anda yang berasal dari daerah berbeda-beda sudi menyampaikan kekhasan dari wilayah kediamannya.

Kalau penjual kelapa muda, boleh dikata ibarat cendawan di musim hujan, bermunculan dimana-mana, mengalahkan jumlah penjual kelapa muda yang berjualan sepanjang tahun. Tetapi penjual kelapa muda yang sepanjang tahun, tidak akan kekurangan pembeli walau banyak pesaing barunya. Seorang penjual kelapa muda, yang sudah terkenal karena kemampuannya memilih kelapa muda yang pas [nggak terlalu tua, dan nggak pula terlalu muda], di bulan puasa seperti ini, semenjak habis dhuhur sudah berbaris orang mengantri, seperti antrian menunggu pembagian zakat saja. Artinya pembelinya semakin banyak.

Selain kelapa muda, salah satu primadona di bulan Ramadhan ini, di daerah yang tidak ditumbuhi buah garbis atau blewah, adalah timun suri. Buahnya besar, berwarna kuning keemasan, dengan aroma seperti blewah tetapi daging buah yang lembut amorf tidak usah dikunyah sudah luluh. Pas buat orang yang sudah kehabisan tenaga untuk mengunyah. Banyak petani yang sengaja menanam timun suri ini pada suatu waktu, sehingga akan memanen buah yang ranum pada saat Ramadhan. Apalagi bila Ramadhan berada pada musim kemarau seperti sekarang ini. Tiga puluh tahun yang lalu, sekitar tahun 1980-an, buah garbis atau blewa masih merupakan barang langka di Jakarta. Penjualnya hanya ada sedikit di Jalan Sabang dan Jalan KHA Dahlan saja. Dan kualitasnya juga tidak seranum yang ada di Jawa Timur, dengan harga yang masih aduhai. Kalau sekarang, apa yang tidak ada.

Buah atap atau kolang-kaling, juga akan naik pamornya, untuk diolah menjadi manisan dengan berbagai aneka rasa atau menjadi isi dari kolak atau es campur. Konon pengolah dan pengusaha kolang-kaling sampai kewalahan memenuhi permintaan pasar yang sedang memuncak hanya dalam sebulan ini saja. Kolang-kaling, sebelum dapat dijual dan kita nikmati memerlukan berbagai tahapan pengolahan yang membutuhkan keterampilan khusus serta memerlukan waktu.

Dan tentu saja buah impor yang satu ini, yang justru yang paling top sekarang [harganya] bukanlah yang berasal dari negeri asalnya di Timur Tengah, melainkan dari negerinya Bang Barack. Kalau sekarang ini kita disuguhi dengan berbagai aneka jenis buah kurma, mulai produk dari Marokko, Tunisia di barat Afrika,sampai Irak di sisi timur Timur Tengah, dengan berbagai bentuk dan ragam rasa. Mulai dari yang masih bertangkai, sampai yang sudah peyot tak berbentuk lagi. Sangatlah berbeda dengan keadaan setengah abad silam, dimana kurma yang kita kenal [disini] hanyalah kurma asal Irak yang sudah penyet tak berbentuk lagi. Bahkan pada suatu ketika, pernah masyarakat Indonesia hampir tidak dapat menikmati kurma pada bulan Ramadhan, karena pemerintah waktu itu tidak memiliki devisa untuk mengimpornya. Tetapi atas desakan masyarakat, kurmapun didatangkan juga dalam jumlah yang sangat terbatas, maka dengan sendirinya harganya melambung. Bisa memakannya untuk hanya sekali berbuka puasa saja, sudahlah sangat beruntung, walau hanya sebutir seorang. Pemasaran komoditi ini tidaklah memerlukan berbagai promosi, hadist Rasulullah Muhammad saw telah cukup untuk mendorong masyarakat guna menyantapnya disaat berbuka puasa.

Sekarang lebih banyak lagi buah-buahan yang dulu tidak kita kenal, dengar namanyapun tidak, apalagi membayangkan bentuk dan rasanya. Buah markisah, terung belanda, juga turut serta menjadi pilihan bagi wilayah tertentu yang menghasilkan buah tersebut. Buah kiwi, pier, leci, kelengkeng, apalagi buah naga yang sekarang juga turut menghiasi meja buka puasa kebanyakan orang Indonesia. Menjauhkan kedondong, bengkuang, rukem, juwet, kawista dan lain lain buah-buahan endemik. Kalau belimbing, jeruk bali, jambu klutuk, jambu air mungkin akan masih bertahan karena peningkatan mutu dan pembudidayaan. Tetapi kalau jambu monyet, hanya bijinya saja yang diambil, sedang buah palsunya [sesungguhnya batang yang membesar] sudah ditinggalkan di sekitar pohonnya. Di bawah dan bahkan dibawa atau diangkut ke pasarpun tidak.

Untuk keperluan berbuka puasa, yang disukai dan diharapkan adalah buah-buahan yang berair dan memiliki rasa manis, hanya kadang-kadang yang agak asam menyegarkan juga menjadi pilihan. Tentu saja, itu semua memang menjadi tuntutan tubuh, guna sebanyak mungkin memperoleh sumber air dan gula guna menjalankan berbagai fungsi metabolisme tubuh, agar dapat menjalankan puasa dengan keadaan tubuh masih segar dan bugar.

Sungguh banyak nikmat yang telah Allah swt berikan kepada ummat-Nya, hanya saja kita tidak merenungkannya dan menghitungnya. Semua dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja. Mahasuci Engkau ya Allah. Ampunilah kami ya Allah, kami yang lalai ini.

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: