RAMADHAN 02

 

Sahur pertama, biasanya dilakukan dengan bersemangat dan begitulah pagi tadi, Senin 1 Ramadhan 1432H. Acara khas Ramadhan banyak ditayangkan pada bulan yang suci ini, kesemuanya bertemakan Ramadhan, tetapi berbagai nuansa yang bisa kita lihat di televisi. Banyak yang menyajikan acara-acara gurauan, bahkan seringkali melebihi batas, dan kurang sesuai dengan kesucian bulan Ramadhan. Semoga ke depan hal hal tersebut dapat berlangsung dengan lebih baik, dan lebih baik lagi.

Favoritku, adalah acara yang diselenggarakan oleh METROTV sejak beberapa tahun silam, yang menjadi bintangnya adalah Prof. Dr.Quraish Shihab, ayah dari Najwa Shihab pemandu acara Mata Najwa di setasiun televisi yang sama. Tafsir al-Misbah. Acara yang baik, punya kecenderungan seakan-akan berjalan dengan cepat, tidak terasa – tahu-tahu sudah selesai.

Dan berikutnya adalah Headline News, pukul 04:00 WIB, dan salah satu beritanya – yang cukup mengejutkan dan membuat rasa mengantuk menjadi sirna. Bukan berita tertangkapnya Muhammad Nazaruddin – yang ditunggu-tunggu masyarakat [tetapi mungkin juga tidak oleh sebagian, takut kelakuan aibnya akan terbuka kepada umum], melainkan berita tentang perilaku seorang warga negara Swiss di daerah Lumajang. Sayang beritanya sangat pendek, dan entahlah apa akan diulang pada kesempatan lain, seperti berita-berita politik dan korupsi yang menarik perhatian masyarakat, seperti ucapan sang ketua parlemen – mau bilang ketua dewan perwakilan rakyat koq sangsi [bukan sanksi lho], apa benar ucapannya mewakili rakyat. Tetapi mungkin juga ya, rakyat yang korup.

Seorang pria Swis, membangun jambatan gantung sepanjang 90 [embilan puluh – bukan sembilan] meter dibantu masyarakat setempat, hanya dalam waktu 4 [empat] jam saja, melintasi sungai yang biasa mengalirkan lahar dingin yang menerjang apapun yang merintanginya. Wouw, spektakuler bukan? Kalaupun 4 [empat] hari pun ya nggak apa-apa ya.Disampaikan dalam berita singkat tersebut, bahwa kepada masyarakat yang akan membantunya terlebih dahulu diajarkan tentang cara kerja atau metode kerja yang akan dilakukan nanti. Dan dalam gambar video, sejenak terlihat bagaimana si pria tersebut bersama seorang pribumi berada diatas papan sedang “berseluncur” diatas bentangan kabel baja yang menjadi bagian utama dari konstruksi jembatan jenis suspension ini.

Penyelesian yang 4 [empat] jam itu, saya yakin hanyalah membentangkan kabel dan menyelesaikan lantai jembatannya, bukan membangun pilar yang akan menyangga kabel beserta fondasinya. Pasti ada pilar beton di tepi sungai yang menyangga tiang berupa pipa baja/besi, yang butuh waktu pengerasan lebih dari 2 [dua] minggu – setidaknya, kalau terlalu lama menunggu 4 [empat] minggu. Masih ingat umur beton yang diperlukan dalam mencapai kekuatan akhir.

Konstruksi jembatan yang tanpa pilar di tengah ini, sangatlah sesuai untuk kondisi sungai yang seperti itu, dimana seandainya dibangun pilar-pilar untuk menopang jembatan, niscaya akan segera sirna disapu aliran lahar yang tak terkendalikan, yang disisi lain membawa rahmat bagi pengumpul pasir dan batu di bagian hilir aliran sungai tersebut.

Barangkali kawan-kawan kita, seperti Cak Choliq, Cak Indra, Kak Pardi [atau siapapun] yang sedang mengemban amanat memimpin perusahaan-perusahaan konstruksi terbesar di negeri ini, bisa mengutus anak buahnya guna mempelajari konstruksi dan metode kerja yang diterapkan dalam membangun jembatan gantung sederhana tersebut. Saya katakan sederhana, karena semua bahan disediakan secara pribadi oleh warga Swiss tersebut, dan dia bertindak selaku project-manager pembangunannya sekaligus mengajarkan metodenya kepada masyarakat. Dan ikut terjun sebagai pekerja proyeknya, memberi contoh memasang kabel-kabel gantungnya. Dan pada gilirannya nanti, menjadikannya hal seperti itu sebagai bagian dari kegiatan CSR – corporate social responsibility – dari perusahaan yang dipimpinnya, atau bahkan ISR – individual social responsibility. Istilah baru.

Selama ini, di daerah itu – dan juga banyak di wilayah lainnya – penduduknya harus memilih untuk terisolasi atau ber-vivere pericoloso [hidup nyerempet bahaya – istilah bahasa Latin / Itali yang dipopulerkan kepada bangsa kita oleh Almarhum Bung Karno] menyeberangi sungai tersebut bila hujan turun di daerah hulu. Bisa saja di lintasan sungai tersebut terang benderang, tetapi kalau di hulu hujannya lebat, banjir lahar yang tidak terduga bisa saja datang.

Ketidakberdayaan masyarakat, karena keterbatasan dana, serta ketiadaan pengetahuan, menjadikan mereka seakan tak berdaya menghadapi itu semua.

Saya kira sangatlah mungkin kita membuat “buku kecil” berupa panduan sederhana untuk membuat berbagai jenis jembatan sederhana, guna menghubungkan kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya yang terpisah oleh keadaan alam, dengan berbagai bahan yang tersedia di pedesaan, yang mungkin bisa dibangun sendiri secara swadaya oleh masyarakat, atau dengan sedikit bantuan dari pihak lain yang lebih mampu.

Dan tentunya akan lebih baik lagi, kalau bisa memberikan contoh untuk suatu daerah. Mulai dari mengajarkan cara membangunnya, sampai melakukan pembangunannya. Biasanya masyarakat kita itu akan mudah untuk meniru sesuatu yang baru dilihatnya, apalagi bila itu sangat bermanfaat bagi menunjang kehidupannya.

Beberapa waktu yang lalu, saya juga melihat di televisi, bagaimana suatu kelompok penduduk mencoba mengatasi isolasi wilayahnya akibat runtuhnya suatu jembatan, dengan membangun jembatan darurat dari batangan kayu. Karena keterbatasan pengetahuan mereka tentang besarnya kelembaman [inersia] yang bisa diperoleh dalam suatu struktur, mereka membangunnya dengan hanya menyambung-nyambung ala kadarnya batang kayu yang ada.

Niat baik, yang diiringi dengan tekad yang baik, dan dilaksanakan pada bulan yang baik, insya Allah akan dimudahkan oleh Allah swt. “Man a’tho, wattaqo, washaddaqo bil khusna, fasanuyassiruhu fil yusro,  fa amma man bakhila ……………..”

فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ ( ٥ ) وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ( ٦ ) فَسَنُيَسِّرُهُ ۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ( ٧ ) وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ( ٨ ) وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ( ٩ ) فَسَنُيَسِّرُهُ ۥ لِلۡعُسۡرَىٰ ( ١٠ )

Ada sedikit artikel untuk anak sekolah tentang jembatan, untuk menyegarkan kembali ingatan kita semua akan jembatan [http://www.pbs.org/wgbh/nova/tech/build-bridge-p1.html]

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: