RAMADHAN 01

Alhamdulillah pagi ini, kita telah mulai menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1432 H, yang mana kali ini penetapannya di Indonesia tidak menimbulkan “keriuhan” tentang penetapannya. Mayoritas ummat Islam Indonesia, memulai pada hari yang sama, hanya beberapa golongan kecil yang telah mendahului dengan memulai berpuasa pada hari Minggu, dan bahkan pada hari Sabtu. Umumnya mereka yang telah mulai berpuasa sebelum Senin, adalah yang mendasarkan pada Kitab-Kitab tertentu yang diacunya – yang konon kitab terbitan lama [yang tidak direvisi atau dimutakhirkan].

Bagi yang agak jeli memperhatikan berita yang ada – misalnya running-text pada salah satu televisi swasta yaitu METROTV – bahwa Majlis Tinggi Kerajaan Arab Saudi telah mengumumkan dimulainya awal Ramadhan 1432 H pada hari Senin 1 Agustus 2011 dikala masyarakat Indonesia belum memulai upaya melihat hilal. Saya sempat “bingung”, karena hal ini di luar kebiasaan yang berlaku, sebagaimana yang saya ungkapkan dalam email saya secara terbatas pada milis Maskoen-Asjari dan Otak-Otak_Gresik, pada jam 16:15 yaitu :

Ketika menonton acara Kick Andy sore ini [ulangan] dengan yang diwawancarai adalah WALJINAH, saya cukup terkejut melihat/membaca runningtext yang ada, bahwa “Majlis Tinggi Arab Saudi sudah menetapkan awal Ramadhan pada Senin 1/8/11 dan berlaku untuk seluruh jazirah Arab”.
Apakah benar ini? Mengingat, setahuku disana mengikuti ketentuan ru’yatul hilal, pada hal kan belum masuk waktu maghrib, dhuhur saja belum. Apakah di Arab Saudi ada perubahan cara penentuan awal bulan Hijriyah? Atau ada metode lain yang diterapkan disana. Dan kalau yang disebelah barat [Arab Saudi] sudah menetapkan, apakah negara / wilayah yang disebelah timur dengan sendirinya mengikuti?
Adakah yang bisa memberikan penjelasan, ataukah berita itu “tidak benar”?
Selamat memasuki bulan Ramadhan, dan semoga Allah swt memberikan kekuatan kepada kita semua dalam menjalankan ibadah puasa pada tahun ini. Serta saya dan keluarga memohon maaf atas semua kesalahan yang pernah dan mungkin akan terjadi di waktu mendatang.

Yang kemudian mendapat tanggapan dari salah satu anakku – Antos -, pada jam 18:33 berupa:

Kantor cabang arab saudi belum menjawab Pa. Hehehe.

Yang kemudian dilanjutkan dengan dialog sebagai berikut:

Siapa Kantior Cabang Arab Saudi?

Temenku yang di KBRI Riyadh🙂. Mufti Mesir dan al Azhar sudah menetapkan 1 Agustus sebagai 1 Ramadhan. 

Yang aneh, mereka yg selama ini menganut Ru’yat, koq sebelum maghrib sudah menyatakan masuk Ramadhan. Apa memang hari Ahad ini sudah 30 Sya’ban, jadi nggak ada pilihan. Kalau begitu kenapa Indonesia masih “keukeuh” mau merukyat?

Masih 29 sya’ban kok Pa.

Makanya, ada sesuatu yang perlu dipelajari. Perlu cari informasi dari sumber2 considerance nya mereka, Cairo dan Riyad / Mekkah.

Emirat sudah mengumumkan malam tadi kalau 1 Ramadhan jatuh di 1 Agustus. Katanya di tanggalan mereka hari ini sudah 30 Sha’ban. 

Emirat merukyat Pa. Jadi ya tanggalan jazirah arab beda dengan penanggalan indonesia. Sya’bannya. Hehehe.

Rupanya penentuan awal Ramadhan tahun ini cukup menarik, perlu dikumpulkan informasinya, terutama dari wilayah baratnya Indonesia.
Yah, semuanya tergantung posisi saat ijtima / conjunction nya.
Mungkin, bila kapal yg memuat alat yg kemudian dikenal sebagai “antikryta” (?) Tidak tenggelam, dan pada zaman Rasul sudah maju ilmu falak, maka nggak perlu ada rukyat, kali ya.
He he, itu semua rencana Allah swt. Tidak boleh berandai-andai.

Dan kemudian salah seorang keponakanku – Nashrudin Ismail – nimbrung dengan menyampaikan

Di penanggalan yang di www.islamicfinder.org siang tadi 30 sya’ban
Aku juga bingung kenapa sidangnya hari ini? Bukannya harusnya kemarin ?
Wes mudah2 an kita ditambah ilmu oleh Allah SWT dan diberi hidayat dan taufik oleh Allah SWT

dan keponakan lainnya – Abidin Royyani – menambahkan pada jam 21:40, yang terbaca ketika sudah akan sahur:

pas mbuka detik.com menemukan berita ini

Sidang Isbat Malam Ini Pembodohan Umat
Eddi Santosa
– detikNews
Den Haag – Perintah agama untuk melakukan ru’yatul hilal (mengamati bulan baru, red) dilakukan pada tanggal 29 Sya’ban, bukan pada 30 Sya’ban atau 31/8/2011 malam ini. Sidang isbat malam ini merupakan pembodohan umat dan cuma seremoni buang-buang anggaran.
Hal itu disampaikan Prof. Dr. Sofjan Siregar, MA, pakar syariah pada Universitas Islam Eropa, Rotterdam, kepada detikcom, Minggu (31/7/2011).
“Jika memang terlihat hilal setelah maghrib 29 Sya’ban (Sabtu, 30 Juli 2011) kemarin, maka ditetapkan besoknya adalah awal bulan Ramadan. Namun jika tidak bisa dilihat, baik karena mendung atau karena posisi hilal masih terlalu kecil atau masih di bawah horizon, maka besoknya dianggap hari ke-30 Sya’ban, sehingga Ramadan dimulai bertepatan dengan 1 Agustus 2011,” terang Sofjan.
Dijelaskan, konjungsi terjadi pada 29 Sya’ban atau Sabtu (30/7/2011). Posisi hilal di Indonesia pada waktu terbenam matahari tidak memungkinkan untuk bisa diru’yah, maka otomatis besoknya 31/7/2011 adalah 30 Sya’ban 1432 H, sehinggaawal Ramadan jatuh pada 1/8/2011.
“Dengan demikian usaha Kementerian Agama menggelar sidang isbat pada malam ini, 30 Sya’ban atau Minggu 31/7/2011, bukan hanya sia sia, tapi termasuk pembodohan umat,” ujar Sofjan.
Menurut Sofjan, Menteri Agama harus berhenti menghamburkan uang APBN menggelar sidang isbat pada 30 Sya’ban atau 31/7/2011, yang tidak ada pengaruhnya dengan penentuan awal Ramadan.
“Lain halnya jika dilakukan pada 29 Sya’ban, itu masih bisa difahami oleh umat. Bertahun-tahun sudah kebiasaan buruk semacam ini dilakukan. Itu sangat sesat dan menyesatkan umat,” pungkas Sofjan.
(es/es)

Sesuatu yang memang menarik untuk kita simak bersama-sama, dengan kepala dan hati yang dingin, demi kemajuan ummat di masa-masa mendatang.

Kita sama-sama memahami bahwa pada dasarnya [tolong dikoreksi bilamana perlu]

Bulan baru [pergantian bulan] menurut sistem qamariyah, adalah apabila telah terjadi ijtima’ atau conjunction sebelum matahari terbenam, dan ada yang menambahkan kriteria dengan ukuran besarnya hilal di atas ufuk dan/atau telah terlihatnya hilal setelah matahari terbenam. Malam itu kemudian dinyatakan sudah memasuki bulan baru, dan dihitung tanggal 1.

Saat ijtima’ hanyalah satu waktu, dan berlaku sama untuk keseluruhan permukaan bumi ini, hanya dampak pada ukuran hilal dan terlihat apa tidaknya hilal untuk masing-masing tempat dipermukaan bumi, yang akan berbeda.

Hampir semua pihak dimanapun, sama-sama menyatakan bahwa ijtima’ akhir bulan Sya’ban 1432 H terjadi pada  Sabtu, 30 Juli 2011, 18:40 GMT (atau di Indonesia Ahad, 31 Juli 2011, 1:40 WIB).

Pada tahun ini, “kebingungan” rupanya disebabkan pada perbedaan penentuan awal bulan Sya’ban 1432 H. Di daerah Timur Tengah lebih maju sehari dibanding dengan Indonesia. Sehingga pada hari Sabtu 30 Juli 2011, di Indonesia masih 28 Sya’ban 1432 H, sedang di Timur Tengah sudah 29 Sya’ban 1432 H.

Orang-orang di Timur Tengah melakukan ru’yatul hilal pada 30 Juli 2011, dan tentu saja tidak akan melihat hilal, karena pada saat maghrib [Madina 16:06 GMT, dan Cairo 16:50 GMT] belum terjadi ijtima’ [18:40 GMT]. Kita di Indonesia, tidak melakukan ru’yatul hilal pada 30 Juli 2011 karena masih tanggal 28 Sya’ban 1432 H.

  • Pada hari Sabtu 30 Juli 2011 malam hari, otoritas di Timur Tengah sudah mengumumkan bahwa bulan Sya’ban digenapkan 30 hari sehingga 1 Ramadhan 1432 H, dimulai pada Senin 1 Agustus 2011.
  • Otoritas di Indonesia, baru mau meru’yat hilal pada 31 Juli 2011 karena hari itu adalah 29 Sya’ban 1432 H. Yah, nggak salah Menteri Agama kita [sebagaiamana yang dilontarkan oleh Profesor Sofyan yang dimuat dalam detik.com tersebut]

Dalam kehidupan beragama kita di Indonesia, hingga saat ini baru mempermasalahkan awal bulan Hijriyah, bila mana itu menyangkut bulan Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah. Selain itu, hampir tidak ada yang mempermasalahkan, walaupun melakukan perhitungan [hisab] atasnya.

Bagi yang masih kurang ngeh, barangkali bisa ditambahkan informasi, bahwa ijtima’ itu adalah kejadian alam dimana posisi bumi-bulan-matahari berada pada satu bidang datar. Dan ini tidak dapat diamati fenomenanya secara fisik. Keadaan istimewanya, bila bumi-bulan-matahari berada satu garis dilihat dari sebagian permukaan bumi, yaitu pada terjadinya gerhana matahari yang dapat diamati fenomenanya secara fisik. Sehingga gerhana matahari bisa dijadikan sarana kalibrasi atas perhitungan waktu ijtima’ yang telah dilakukan oleh para ahli hisab, baik yang muslim maupun non-muslim.

Kejadian tahun ini, bahwa otoritas di Timur Tengah [yang menganut ru’yat dalam penentuan awal bulan Hijriyah] telah menetapkan dan mengumumkan awal bulan hijriyah berdasarkan penggenapan umur bulan 30 hari, sedangkan kita di Indonesia [yang disebelah timur, dan lebih dahulu mengalami maghrib] masih sibuk akan meru’yat hilal, dapat kita jadikan pelajaran untuk tahun-tahun mendatang. Salah satunya, yaitu menetapkan awal Sya’ban secara resmi dan membandingkan dengan penetapan dari otoritas di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim.

Marhaban ya Ramadhan. Semoga kita dapat menjalankan ibadah dengan baik, dan mendapatkan ridho Allah swt.

Mohon maaf lahir dan batin.

Wa Allahu a’lam

 

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: