CERITA PAGI – 38

 

Ha ha. Masalah pembinaan usaha kecil atau industri rumahan, memang sepertinya sederhana, tetapi masing-masing memiliki sifat-sifatnya yang khas, dan tidak bisa disama-ratakan. Apalagi dengan pendekatan one fits all, atau satu kebijakan akan dapat digunakan untuk semua sektor. Tentu pasti akan gagal, dan tidak diperoleh hasil yang diharapkan. Kalau Bupati Gresik [Robbach] kemudian menyalahkan para pengrajin, bahwa mereka jalan sendiri-sendiri, justru yang harus dilihat apakah kebijakannya itu memang sudah benar dan pas untuk masing-masing jenis industri. Dan apakah pembinaan [biasanya kalu disebut pembinaan, seharusnya yang membina memiliki pengetahuan dan pengalaman yang melebihi pihak yang dibina] yang dilakukan oleh PEMDA itu sudah tepat? Maaf kalau saya terpaksa mengatakan, yang dibina tidak lebih bodoh dari yang membina, dan bahkan sering kali yang membina lebih berperilaku keminter.

Hampir empat puluh tahun silam, saya mendapat cerita ini dari abangnya temanku [Salim Audah, abangnya Amak Audah] yang mengelola pabrik tenun di wilayah Cermee Lor. Kalau tidak salah trade-marknya adalah cap Cabang, dan jenisnya bukan sarung pelekat, tetapi sarung kembang – yang prosesnya pakai agel sebagai pengikat benang sebelum dicelup dengan warna tertentu. Suatu ketika, datanglah penyuluh lapangan [seharusnya lebih terang dari sekitarnya], yang dengan pe-de-nya memberikan pelatihan cara-cara mencampur pewarna dan mencelup benang. Semua peserta tersenyum-senyum saja, karena sudah membayangkan hasilnya tidak akan seperti yang diharapkan. Ternyata, si penyuluh yang sok keminter tadi, tidak memahami pengaruh air setempat dalam proses pewarnaan. Cermee, yang merupakan daerah berkapur [dulu kalau orang ke Cermee, dari Bunder seperti Lutung, tetapi ketika pulang dari Cermee menjadi Hanoman], tentu airnya memiliki kandungan ion Ca++ yang relatif besar dibanding dari percobaan yang dilakukan di lab atau mungkin di daerah lain [Pekalongan misalnya], belum lagi kombinasi ion ion lainnya, baik kation maupun anion. Ada yang memperkuat dan ada yang memperlemah.

Tentu saja, si pengusaha tenun kemudian tidak ada yang menuruti penyuluhan tersebut. Mungkin hal-hal seperti itu barangkali yang kemudian ditafsirkan oleh sang Bupati Gresik [yang konon kiyahi yang mahir baca kitab kuning], bahwa para pengrajin atau pengusaha lebih memilih jalan sendiri-sendiri, dan tidak mengikuti pembinaan yang diberikan.

Coba bandingkan dengan pembinaan yang dilakukan oleh Belanda [entah apa nama dinasnya] yang hasil kajiannya masih diterapkan oleh para pengusaha kopyah di Gresik. Hayo, coba tebak. Bagi yang pernah memperhatikan – apalagi yang menggeluti usaha assembling, e’e perakitan alias ngerakit – bahwa susunan komposisi nomer atau ukuran kopyah ada dua kelompok, yaitu kelompok ‘kecil’ dan kelompok ‘besar’, yang masing-masing nomer / ukuran sudah ditentukan jumlah untuk setiap kodinya. Saya nggak tahu komposisinya, tetapi saya tahu bahwa di toko, sepertinya komposisi itu pas, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Waktu masih kecil dulu, wak Kan kan ngerakit kopyah, dan kepadanya pernah kutanyakan, mengapa koq nomer 4 nya hanya 3, dan nomer 5 nya empat dan seterusnya. Seperti yang anda duga, jawabannya, yang sesuai dengan jumlah masing-masing nomer kopyah yang sudah tercetak dalam bagian ‘etiket’-nya. Rupanya, itu adalah hasil suatu penelitian statistik yang pernah dilakukan oleh pemerintah penjajah Belanda, dalam membina pengusaha kopyah, agar kopyah yang dihasilkannya nanti, insya Allah akan habis, tidak akan ada yang tidak terjual. Karena orang membeli kopyah kan harus sesuai dengan ukuran kepalanya. Dan mungkin pemerintah Belanda pun melakukan standarisasi ukuran, bahwa kopyah yang nomer 5 itu, untuk kepala yang memiliki ukuran keliling [50+5] atau 55 cm, dan seterusnya. Saya tidak tahu lagi sekarang, apakah secara signifikan ada perubahan komposisi ukuran keliling kepala masyarakat Indonesia, mengingat sekarang banyak pejabat yang suka ‘besar kepala’. Ha ha. Dan ketika wak Ajak membuat topi, juga menggunakan komposisi ukuran seperti pada kopyah kelompok besar.

Tahukah anda mengapa sambungan kain beludru pada kopyah selalu dibuat miring? Jangan coba-coba menasehati jeragan kopyah agar sambungannya dibuat tegak lurus, nggak akan digubris. Karena lebar beludru itu pasti kurang dari 50cm, mungkin hanya 18” alias 45cm saja. Karena itu lalu sambungannya miring. Tetapi sekarang ada kopyah yang sambunganny atidak miring lagi. Mungkin lebar beludrunya sudah semakin lebar. Seperti sarung pelekat, kalau dulu pasti sambungan tengah, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Karena alat tenunnya sudah beda.

Untuk bisa melakukan pembinaan suatu jenis industri, tentulah kita harus memahami proses yang berlangsung dalam industri tersebut. Mulai dari proses memperoleh bahan baku, proses produksinya, dan kemudian proses pemasarannya, dimana masing-masing proses mungkin terdiri atas beberapa proses yang saling berkaitan. Dan untuk setiap jenisnya, memiliki ke-khos-an sendiri-sendiri. Tidak bisa digebyah uyah pada asine, atau rambut pada irenge. Kalau mau nesehatnya atau binaannya ditaati oleh para pengrajin, seharusnyalah pembinaannya mengenai hal yang dirasakan merupakan kelemahan mereka. Bukan pembinaan pada keahlian yang telah mereka miliki atau apada aspek yang mereka telah mampu.

Jelas suatu SWOT [Strengths, Weaknesses, Oportunities, dan Threats] analysis harus dilakukan terlebih dahulu bagi setiap jenis industri tersebut, kemudian dilakukan telaahan bagaimana

  • Mempertahankan kekuatan yang sudah ada,
  • Mengubah kelemahan menjadi kekuatan;
  • Memperbesar peluang yang dimiliki atau menciptakan peluang baru, dan
  • Mengubah ancaman menjadi peluang.

Mudah dikatakan, tetapi jelas perlu upaya untuk melakukannya. Lalu dari hasil kajian tersebut, dibuat action plan yang SMART [specific, measurable, achievable, reasonable dan timely], dengan mengalokasikan sumberdaya [5M+E, yaitu tenaga, modal / uang, bahan baku & penolong, peralatan produksi, cara kerja dan lingkungan usaha] yang diperlukan.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

24 Februari 2007

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: