CERITA PAGI – 37

 

Tulisan tentang remote sensing, berkenaan dengan informasi tentang ketinggian air [yang bisa diubah menjadi debit air] tersebut masih bersifat dari sisi hardware-nya saja. Yang sebenarnya lebih merupakan suatu telemetering, atau melakukan pengukuran jarak jauh. Sampai pada tahapan itu [lebih tepat telemetering, dari pada disebut remote sensing], tidaklah begitu sulit. Hanya melibatkan

  • Metering element, yang berupa transducer untuk mengubah suatu besaran menjadi besaran elektrik, misalnya dari ketinggian, tekanan, menjadi suatu signal yang terukur besarnya dalam milivolt atau suatu data secara digital;
  • Transmitting element, yang akan memancarkan data tersebut dari tempat dilakukannya pengukuran ke suatu tempat lain. Penyampaian data, bisa dengan kabel atau tanpa kabel [wire less].
  • Receiving element, tentunya di Pusat Penerimaan Data yang akan menerima data dari seluruh stasiun pengirim untuk hanya sekedar ditayangkan apa adanya, atau diolah menjadi suatu informasi yang berguna bagi para pengambil keputusan.

 

Yang krusial atau penting sekali, dan cukup rumit, adalah dalam proses pengolahan data menjadi informasi, khususnya yang menyangkut penanganan banjir akibat tingginya curah hujan di daerah hulu atau tingginya permukaan sungai – tepatnya anak-anak sungai di wilayah hulu – guna memprediksi keadaan / ketinggian air di daerah hilir [yang menjadi langganan banjir] beberapa waktu mendatang. Yaitu mencari hubungan sebab-akibat antara keadaan di wilayah hulu yang akan memberikan dampak di wilayah hilir.

Disitulah peran komputer yang sudah diprogram dengan suatu model [biasa disebut mathematical modelling] yang mampu mensimulasi keadaan yang sesungguhnya. Sehingga dengan cepat akan bisa diprakirakan [diprediksi], bila sesuatu terjadi di hilir dengan suatu besaran tertentu, bagaimana akibatnya dalam 1 menit ke depan, 5 menit ke depan, dan seterusnya mungkin sampai beberapa jam ke depan. Dari hasil simulai yang dilakukan oleh komputer inilah, kemudian para pengambil keputusan akan memberi tahu kepada masyarakat akan adanya suatu bahaya banjir di daerah hilir, atau memberikan perintah-perinta kepada para penjaga pintu air pengatur debit guna menyalurkan air yang akan datang itu ke arah mana, agar dampaknya seminimal mungkin.

Model matematik tersebut, bisa dibuat melalui dua pendekatan yang berbeda, yaitu

  • Dengan melalui percobaan dalam skala kecil pada sebuah ‘maket’ wilayah yang akan dipelajari, dengan betul-betul menggelontorkan air di wilayah hulunya pada ‘maket’ tersebut secara berbeda-beda. Hal ini memerlukan maket yang betul-betul mewakili wilayah yang dikaji dan biaya operasional yang besar sekali. Balai Penelitian Air, yang semula lokasinya di ITB dan kemudian memiliki fasilitas sendiri di Jalan Ir H Juanda [Dago], tepat berbatasan dengan rumah tinggalku waktu kuliah dulu, adalah satu-satunya tempat yang memungkinkan melakukan modelling seperti itu. Jangan membayangkan maket yang berukuran satu meja makan, atau meja kerjanya seorang Bupati Gresik, tetapi maketnya itu bisa berukuran lapangan tenis atau lebih besar lagi.
  • Dengan melakukan pengukuran-pengukuran pada berbagai tempat dari wilayah yang dikaji, yang hasilnya dikumpulkan secara akurat, baik besarannya maupun waktunya. Dari kumpulan data selama kurun waktu yang panjang, akan bisa diperoleh korelasi matematis antara fungsi x [input] dan y [output] nya dengan berbagai variabel yang kompleks. Kemudian, model matematis tersebut diinstal dalam suatu aplikasi program dalam sebuah komputer yang memiliki kecepetan prosesing tinggi, guna bisa memprediksi bagaimana “y” nya, bila ada suatu “x” yang bermacam-macam. “x” nya tidak satu, bisa puluhan dan bahkan ratusan [tergantung jumlah stasiun pengamat / pengumpul data di mana transducer ditempatkan dan datanya ditransmit ke pusat datanya. Dengan semakin lamanya pengamatan yang dilakukan, model matematis yang diperoleh akan semakin akurat, dan prediksinya tentu akan menjadi lebih akurat pula. Sistem semacam ini, biasanya akan terus menambahkan data yang diperoleh dalam pengoperasiannya, untuk lebih mengakuratkan model matematiknya.

 

Misalnya, kita tahu kalau hujan agak sedikit lebat di wilayah tertentu, maka kali Basiran akan meluber ke jalan Samanhudi, dan akibatnya jalan KH Faqih Oesman pun akan banjir. Tergantung hujan lebatnya ada di mana, apakah di wilayah Telogodendo, Telogobendung, Teratee, Kampung Bapang, Kauman, Semarangan atau di Petro atau di Semen Gresik.

Berarti harus dipunyai stasiun pengamat di daerah-daerah yang akan menjadi sumber air tersebut, dan tentu masing-masing memiliki dampak yang berbeda bagi banjir di Kali Basiran.

Lha, kalau yang mau dikaji seluruh wilayah Kabupaten Gresik, dimana ada Kalitangi [Kali Lamong], Kali Mireng, Bengawan Solo, dan mungkin aliran-aliran lainnya, yang wilayah hulunya mungkin ada di Benjeng, Balongpanggang, Morowudi, Cermee Kidul, Cermee Lor, Duduk Sampeyan, Ambeng-ambeng, Dukun, Karangbinangun, Bungah, Sedayu, Ujung Pangkah, Manyar, Gumeno, Betoyo, dll, tentu masalahnya akan lebih komplek lagi.

Konsepnya memang sederhana, tetapi kadang aplikasinya cukup rumit dan membutuhkan sumber daya dan sumber dana yang besar. Sehingga kemudian orang akan mengkajinya dengan Cost & Benefit Analysis. Apakah memang ada manfaat dari biaya yang akan dikeluarkan itu.

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

24 Februari 2007

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: