CERITA PAGI – 35

 

Baru saja [sekitar jam 05an] aku menerima berita duka cita yang disampaikan oleh Pak Rozy, bahwa salah seorang sahabat – Chumayah [nama panggilannya sehari-hari] – yang sebenarnya memiliki nama Jahja Subandi, telah pulang keharibaan Allah swt. Inna li Llahi wa inna ilaihi rajiuuun. Semoga Allah swt menerima semua amalannya, mengganjarnya dengan berlipat ganda, dan ditempatkan dia di sisi-Nya. Amien.

Walau usianya lebih tinggi dari ku, tetapi aku cukup mengenalnya dan cukup dekat pula dengan cak Chumayah ini. Rumahnya dulu di Kemuteran gang VII, di sebelah barat Langgar [surau] yang ada di sana. Waktu kecilku, ketika mbah [ibu dari Bapak Koen] masih hidup, dan selama aku sekolah di MINU [Madrasah Ibtidaiyyah Nahdhatul ‘Ulama] Sukodono hingga kelas 1 – aku sering berada di sana, di rumah wak Kan [Marlichan – abang dari Bapak Koen]. Sehingga aku mengenalnya sejak aku masih kecil, bahkan sebelum aku mulai bersekolah. Dia banyak memiliki saudara, yang kuingat adalah Ning nDuk, Mansur dan Harit saja.

Karena di Garling jauh dari langgar, ketika bulan puasa aku sering ikut terawih di langgarnya wak Kan. Imamnya adalah wak Kasan [yang masih keluarga dari cak Sur – suaminya ning Nah – anaknya mak Tin / pak Amat]. Belajar shalat. Karena aku belum begitu tahu bagaimana melakukan shalat, maka cara yang paling mudah adalah mengikuti yang disampingnya. Dan yang aku ikuti, adalah cak Chumayah ini. Dia nyuding – waktu attahiyat – ya aku nyuding. Dan ketika entah karena apa, setelah salam di salah satu rakaat shalat tarawih, dia berdiri ke arah luar [mungkin untuk meludah], dan karena takut kehilangan yang akan di tut, [diikuti] maka aku ikut membuntutinya. He he, lucu juga ya kalau dikenang.

Langgar itu memiliki teras – badug yang cukup lebar dan berada sepanjang bangunan langgar di sisi kampung. Dia dulu suka belajar di terasnya langgar. Dan di situlah aku melihat gambar dari bukunya – dewa Ra, dewanya bangsa Mesir kuno. Dia adalah keponakan wak Kakak [begitu aku memanggilnya, sedangkan nama sebenarnya adalah Sjua’ib atau orang memanggilnya cak Sueb], yang karena keterbatasan fisiknya [lumpuh] dia hanya bisa duduk saja. Wak Kakak ini bekerja membuat dus atau kotaknya kopyah yang dilakukannya di teras rumahnya, yang berada persis berdampingan dengan rumahnya wak Kan. Di kala senggang, wak Kakak suka memainkan siter – suatu alat musik petik yang memiliki senar- tetapi yang ini memiliki tuts [key] yang ditandai oleh nada-nadanya.

Setelah mbah Janah wafat, dan aku sudah tidak sekolah di MINU Sukodono lagi – karena pindah ke MIT [MINU Teratee] aku semakin jarang ke Kemuteran. Aku kemudian lebih sering ke Kaliboto [Kauman] tempatnya mak Yah [satu-satunya saudara Ibu Muz, yang bersuami wak Ajak], karena aku belajar ngaji di langgar Kaliboto [Kauman Gang III], bersama cak Ud [Mas’ud] dan cak Nul [Chusnul] anak-anaknya mak Yah.Sehingga aku jarang ketemu dengan cak Chumayah.

Setelah aku masih di SMP, yang kutahu disamping sekolah [entah dimana tak kuketahui] dia juga bekerja di Kantor Pos [mungkin secara paruh waktu]. Yang kutahu, dia bekerja di Kantor Pos Gresik, dan kemudian kuketahui [jauh setelah itu] bahwa juga pernah di Kantor Pos Kebonrojo [Surabaya]. Dia adalah seorang yang tekun dan bertekad untuk mencapai cita-citanya.

Dia berteman dekat dengan cak Machmudin Amat Angkat [kakaknya Oemar Wahyudin alias Oemar Golek], karena sama-sama memiliki hobbi menunggang moge [walau saat itu istilah moge untuk motor gede belum ada]. Motornya adalah Harley Davidson [sisa Perang Dunia ke II]. Motornya disimpan di Toko Djawi, tokonya orangtua cak Amat Angkat.

Setelah lulus SMP, aku aktif di PII [Pelajar Islam Indonesia], yang ‘markas’nya ada di Kampung Rambu [Kemuteran]. Dan di situlah ada kontak lagi dengan cak Chumayah. Dari dulu jalannya sudah tegap. Sehingga oleh anak-anak ongkek Kampung Malang / Kampung Gajah, dijuluki TOBOR [kebalikan dari ROBOT, ha ha]. Dan kalau sedang jalan-jalan beriringan, dia tidak mau berada di sebelah kirinya Achmad Fauzy [yang lebih dikenal dengan Tem alias Mat Tembel] karena silau, katanya.

Saat itu, dia baru menyelesaikan ujian akhir SLTA, dan dia berhasil lulus untuk SMA Bagian C. Waktu itu, penjurusan sudah dimulai di kelas 3 SMP yaitu bagian A [bahasa dan ilmu sosial] dan B [ilmu pasti alam]. Sedangkan di SMA sekolahnya sudah dipisahkan, ada SMA Bagian A [bahasa dan sastra], SMA Bagian B [ilmu pasti & alam] dan SMA Bagian C [ilmu ekonomi dan sosial]. Bukannya satu sekolah memiliki beberapa jurusan. Dia merupakan satu-satunya siswa yang lulus ujian negara [UAN atau UN sekarang] dari sekolah tersebut. Sekolahnya itu ada di sekitar Tegalsari – kolam renang alias swimbath yang sering dikunjungi oleh warga Gresik. Dia sekelas dengan biduanita Nani Suwandi – penyiar Radio Republik Indonesia studio Surabaya – yang kemudian menikah dengan Eddy Mulyono – yang juga penyiar dan pencipta lagu Gadis Manis dari Pantai Seberang, yang sempat populer di masa itu. Saat itu, lulusan SMA/C masih boleh mendaftar ke AMN [Akademi Militer Nasional], dan alhamdulillah diterima.

Asbabun-nuzulnya lagu itu, adalah ketika Eddy Mulyono sedang menunggu kedatangan kembali pacarnya tersebut di Dermaga Ujung [salah ya, Ujung saja. Karena kalau Dermaga Ujung itu pangkalannya Angkatan Laut], yang baru saja toron [pulang kampung] dari Pantai Seberang [Madura].

Semangatnya untuk belajar, dan berjuangnya sangatlah tinggi. Sesuatu yang jarang dimiliki oleh anak-anak Gresik sebayanya, yang lebih senang memilih cepat bekerja dibanding meneruskan menuntut ilmu. Entahlah usianya waktu memasuki AMN itu berapa, mungkin sudah batas akhir usia maksimum. Dan setahun sesudahnya, AMN tidak lagi menerima taruna dari lulusan SMA/C lagi. Adalah jarang sekali seorang anak Gresik, menjadi tentara [kecuali yang meneruskan setelah revolusi dulu]. Salah satu keluarganya [kalau tak salah, Cak Oes] memang juga tentara.

Mendengar cak Chumayah diterima di AMN, kami semua sangat bergembira. Bersama-sama dengan dia, seingatku Hilmy Uzair [adiknya pak Muyazzin – guru Muhammadiyah – anaknya cak Ujer Toko Andalas] juga mendaftar ke AMN, tetapi tidak lolos. Dan kemudian Hilmy melanjutkan ke Akademi Koperasi di Jogjakarta. Sebelum dia berangkat ke Magelang untuk pertama kalinya, kita [Achmad Bestari, As’ad alias Azhar, Husni Thamrin dan saya] mengadakan semacam perpisahan dengan dia, dengan pergi ke Selecta. Semuanya mandi di kolam renang, kecuali aku, karena tidak bisa berenang jadinya ya hanya nonton saja. Ha ha. Sehabis berenang, lalu jalan-jalan ke wilayah gunung-gunungnya. Semuanya hanya pakai celana renang [swimpack alias simpak] saja, kecuali aku yang masih lengkap dengan celana dan baju. Entah memang betul-betul kedinginan, atau hanya sekedar ingin ngerjain aku [yang paling muda dalam kelompok itu], mula-mula bajuku di pinjam guna mengusir rasa dingin dan kemudian malah celanaku. Jadinya aku yang malah pakai celana dalam saja [saat itu belum pakai singlet dan celana dalamnya masih berupa celana kolor, bukan HING atau sebangsanya].

Tiga bulan setelah dia di Magelang, tibalah saatnya liburan pertamanya. Yang kulihat dan kuamati, semuanya berubah. Cara jalannya, jadi tegap [kalau ini sih memang dari dulunya sehingga dia dijuluki TOBOR], dan juga tidak tolah toleh. Senyumnya jadi hanya tersungging saja, tidak terbuka lagi bibirnya. Itu kalau pakai pakaian seragam taruna. Tetapi, dasar cak Chumayah, rupanya dia tidak kerasan meninggalkan kebiasaannya untuk memakai sarung dan berkopyah, yang masih diteruskannya – mungkin hingga akhir hayatnya. Dan bila sudah lepas dari pakaian seragamnya, ya kembali ke ongkek.

Dan beberapa belas tahun kemudian [1990], ketika aku bertugas untuk merekrut lulusan S-1 untuk ADHI KARYA, aku bekerja sama dengan seorang psikolog pensiunan overste [Letnan Kolonel] Angkatan Laut yang biasa menangani calon taruna atau taruna baru, dan kutanyakan mengenai hal itu, yaitu bagaimana mengubah seseorang yang asalnya cengengesan menjadi berdisiplin seperti itu hanya dalam waktu tiga bulan. Walau tidak persis, kami kemudian mencoba menerapkannya secara terbatas, dengan mengkonsinyir para pegawai baru di Puncak selama 4 minggu, sebelum mereka di lepas ke lapangan untuk magang. Dan hasilnya memang berbeda dengan angkatan-angkatan sesudahnya.

Ada aturan, dimana seorang taruna harus menggunakan seragam selama di luar rumah atau berada di tempat umum. Dan bila ketahuan tidak menggunakan seragam – biasanya oleh seniornya – maka bisa mempengaruhi konduite dan mendapat hukuman ketika kembali ke kawah candradimukanya. Dengan menggunakan seragam taruna, tidak boleh nongkrong seenaknya, dan tidak boleh makan di warung-warung yang sembarangan, kesemuanya demi menjaga citra taruna di mata masyarakat umum. Tentu saja hal ini sangat mengekang kebebasan seorang Chumayah.

Nonton bioskop pakai seragam taruna, tentunya harus di bioskop kelas I di Surabaya seperti Broadway [Arjuna] yang di Embong Malang, Capitol [Wijaya] di Bubutan, Rex [Ria] di Tegalsari [?], Irama [malah lupa nama dulunya] di Kedungdoro. Tidak boleh nonton di Hartati atau Kentjana di Gresik. Padahal, biasanya sehabis nonton biskop [film] di Minggu siang di Surabaya, selalu diikuti dengan makan rujak congor [rujak cingur] di Genteng, dan minumnya es shanghai di samping bioskop Indra [di dekat perempatan jalan Pemuda]. Dia tak kehabisan akal, baju seragamnya lalu di plorot di tinggal di mobil, tinggal pakai kaos oblong putih, dengan harapan tidak ada seniornya yang mengenalinya selagi nongkrong menikmati rujak cingur di Genteng tersebut.

Suatu malam ketika dia sedang liburan, setelah menceritakan pengalaman ‘perpeloncoan’ seorang taruna militer – terutama acara jurit malam -, kami sedang berputar-putar di Gresik entah dari mana sebelumnya, e tahunya oleh Bestari [mungkin atas gagasan dari Chumayah] mobil mengarah ke perempatan Kebomas, dan terus melaju ke Semardempok [Bunder] yang saat itu masih sunyi sepi di kala malam. Hanya sesekali [jarang sekali] ada mobil lewat, dan di kiri kanan masih dipenuhi oleh kuburan Cina. Tiba-tiba mobil dihentikan dan dimatikan lampunya. Tepat dibawah pohon randu alas yang ada di sisi kiri jalan. Maka berteriak-teriak ketakutanlah aku. Dan itulah yang membuat mereka gembira, karena memang sudah mengetahui kalau aku penakut. Kalau sekarang ya tidak apa-apa. Sudah ramai. Saat itu tidak ada satu bangunanpun di situ. Maklum, tahun 1961 atau 1962-an. 45 tahun silam. Yah, zaman telah mengubah segala sesuatunya.

Sifatnya yang suka membela siapapun yang teraniaya, walau tidak dikenalnya ditunjukkannya dalam suatu peristiwa. Pada suatu malam, disaat dia sedang liburan masih taruna atau sudah lulus, aku lupa waktunya – tetapi ingat peristiwanya. Dia seperti biasanya, menggunakan sarung dan kopyah, sedang duduk-duduk di bangku di depan rumahku – Garling. Tiba-tiba dari arah Makam Londo, terdengar suarah riuh. Rupanya ada seorang pencuri – entah mencuri apa, tetapi bukan nyolong dendeng – sedang diarak menuju kantor polisi, sambil dipukuli oleh yang mengiringinya. Dia menerapkan asas praduga tak bersalah, dan mengatakan kepada kita bahwa seorang seperti itu tidak boleh dipukuli. Tanpa ba-bi-bu, dia langsung menyambar sepeda [entah sepedanya siapa – sepeda perempuan. Bukan pemiliknya yang perempuan, tetapi jenis sepedanya yang perempuan] yang ada di depan kita dan menuju rombongan tersebut. Di saat kami sedang terperangah. Tidak menduga apa yang akan dilakukannya, dia menerobos ke arah si suspect dan merangkul serta mnyuruhnya membonceng di sepedanya. Usahanya tidak berhasil, dan hampir saja dia dipukuli oleh massa yang mengarak suspect pencuri tersebut. Untunglah salah seorang yang mengarak– cak Mat Chinzir – Achmad Nursjamsi – Toko Asia, mengenalinya. Dan kemudian dia mengawalnya agar tak terus dipukuli hingga ke tangsi di dekat Brugg. Semula dia dikira mabuk oleh orang-orang Teratee itu. Tetapi semua mengenal cak Chumayah.

Sampailah saatnya cak Chumayah lulus dan diwisuda sebagai Letnan Dua, dalam kesatuan Polisi Militer. Konon katanya, penunjukan sebagai apa – Infanteri, Kavaleri, Artileri, atau apapun bukanlah merupakan suatu pilihan, tetapi ditentukan. Tentunya berdasarkan pengamatan para pemimpin Akademi. Cak Chumayah langsung sebagai anggota Batalyon Para POMAD yang baru dibentuk pada waktu itu. Seorang Letnan Dua, akan mengalami beberapa kali penugasan dan dirotasi, tetapi menurut aturan baku, kenaikan pangkatnya hingga Mayor sudah diprogram dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Tentunya setelah melewati berbagai pendidikan lanjutan. Yang aku dengar, ada KUPALDA [Kursus Perwira lanjutan tingkat dua] dan KUPALTU [Kursus Perwira lanjutan tingkat satu], sebelum mencapai Kapten.

Dan disaat itu, akupun melanjutkan pendidikanku ke Bandung [ITB]. Suatu ketika, pas setelah liburan, kita akan sama-sama kembali ke barat dengan menggunakan kereta api. Saat itu kereta penuh sekali, dan kita tidak dapat memperoleh karcis dengan tempat duduk. Cak Chumayah berusaha melewati jalur-jalur inkonvensional, tetap saja masih tidak bisa. Akhirnya, diputuskan untuk tetap berangkat dengan membeli karcis berdiri. Wah, ternyata memang benar-benar penuh. Antara lain disebabkan oleh beberapa gerbong digunakan oleh rombongan pasukan kavaleri yang mungkin akan kembali ke induknya di Bandung.

Kami berdiri di bordes, antara pintu dan bagian sambungan kereta, berimpitan. Jalannya kereta juga angot-angotan. Jam 12-an baru sampai Madiun, pada hal biasanya jam segitu sudah sampai Jogja. Akupun mulai ngap-ngapan dan hampir semaput. Cak Chumayah berinisiatif untuk menghubungi komandan rombongan pasukan kavaleri tersebut – yang kebetulan juga Letnan Dua, tetapi rupanya dari karir – yang didahului dengan membuka jaketnya [agar ketahuan pangkatnya, he he]. Dan dapatlah aku memperoleh tempat duduk dekat pintu diantara pasukan tersebut. Alhamdulillah. Kereta sampai di Jogja sekitar jam 17-an, dan tahu anggak sampainya di Bandung jam berapa. Aku lemas, lunglai, antara terbangun dan tertidur. Yang kutahu, kepalaku benjut di sana-sini – bukan karena dipukuli tentara – tetapi terantuk dengan besinya kursi kereta api yang bergerak kian kemari mengikuti goncangan kereta. Saya sampai di Bandung jam 03 pagi keesokan harinya. Menunggu sebentar, untuk melanjutkan dengan oplet Dago yang sudah mulai beroperasi menjelanag shubuh. Untung juga, tibanya sudah menjelang pagi. Kalau tengah malam, ya repot juga sih.

Setelah pecahnya pemberontakan G-30-S/PKI, cak Chumayah mengikuti pendidikan lanjutan [konon Kupalda dan Kupaltu sekaligus, mungkin karena banyaknya yang harus dipinggirkan karena pemberontakan itu] yang diselenggarakan di PPI [Pusat Pendidikan Infantri] yang kemudian beralih nama menjadi PUSDIKIF dengan kepanjangan yang sama. Letaknya di wilayah timur Bandung. Aku sering kesana di kala Sabtu sore, saat dibolehkannya berkunjung, atau cak Chumayah yang datang ke Dago ke tempatku.

Waktu berjalan terus. Maaf kalau ceritanya tidak runut. Melompat dalam skala waktu secara bolak-balik. Karena mana yang ingat langsung diketikkan. Begitulah gaya penulis dadakan sepertiku, yang hanya mengandalkan ingatan yang sudah mulai rapuh.

Yah saat saya masih di Gresik, dan cak Chumayah masih belum lulus dari AMN. Dia sudah mulai memprogram dirinya, harus segera menikah setelah lulus nanti. Rupanya dia tidak tertarik dengan gadis-gadis yang ada di Kawah Candradimuka nya AMN, alias Magelang, seperti halnya pak SBY yang kecantol atau dicantol oleh Dan Jen AMN atau AKABRI, sehingga jadi menantunya pak Sarwo Edhi. Cak Chumayah, mencari calon dari anak Gresik. Karena dia sudah meninggalkan Gresik, selama beberapa tahun, jadi tidak punya ‘peta situasi’ gadis yang ada di Gresik. Karena dia orangnya terbuka, maka tidak segan-segan ‘berkonsultasi’ dengan kita. Dan secara spesifik, lebih prefer kepada anak-anak PII alias PII-wati. Karena requirement-nya seperti itu, maka lebih mudah. Kebetulan, buku stamboom [buku induk] anggota PII ada di rumah, dan dilengkapi dengan foto, ya tinggal dibukakan saja buku itu. Kalau dalam aturan Bapepam, barangkali ini digolongkan sebagai inside-trading, yang dilarang. Tetapi ini menyangkut proyek “pembangunan masjid” dan tergolong PMA [penanaman modal akhirat], jadi tak dikenai peraturan Bapepam.

Kriterianya, pertama pada tahun kelahiran dan dilihat fotonya. Karena sebagai anggota PII, dengan sendirinya salah dua kriteria dari yang empat – yang menjadi pra-syarat yang dianjurkan oleh Rasulullah -, yaitu keturunan dan keberagamaan, dianggap sudah memenuhi. Tinggal kecantikan, sedangkan harta atau kekayaan tidak dijadikan kriteria olehnya. Dan dia tertuju pada seseorang pada ‘pandangan pertamanya’. Dia bertanya siapa dia. Dan kujelaskan, adiknya siapa – yang dia mengenal semua saudaranya dan tahu orang tuanya. Dan alhamdulillah, kemudian harapannya terealisir, dan dikaruniai beberapa putra, dan berlangsung hingga akhir hayatnya. Yang dipilihnya waktu itu tidak lain adalah Jeng Lik – begitu dia dipanggil – yang nama sesungguhnya adalah [maaf kalau salah] Nurhidayati binti Mas Moedjab, yang saat itu menjadi siswi di PGAL [Pendidikan Guru Agama Lengkap – 6 tahun]. Yah saya nggak tahu proses selanjutnya, bahkan juga pelaksanaan pernikahannya. Karena saya di Bandung.

Saya tidak tahu perjalanan karir berikutnya, dan dimana saja dia ditempatkan. Hanya kudengar, ketika aku mulai bertugas di Jakarta di PT REKAYASA INDUSTRI, bahwa dia bertugas di Gambir [bukan setasiun Gambir, tetapi di Markas POLISI MILITER, yang letaknya di depan setasiun Gambir]. Saat itu saya bersama beberapa teman masih tinggal di Messnya PT Rekayasa Industri yang berada di Kamar 803 Gedung Patra Jasa di Jalan Gatot Subroto. Seorang temanku, Ventura [agak aneh namanya memang], dalam perjalanan ke Jakarta menumpang 4848 [dulu sangat populer, sekarang sudah pudar dan bahkan hilang] rupanya berdampingan dengan cak Chumayah. Dari ngobrol, karena asalnya dari Gresik, kemudian temanku tadi menanyakan apa kenal denganku. Dan tentu cak Chumayah menyampaikan salam kepada ku. Dan apa kata Ventura kepadaku? Dia menyampaikan salam dan bercerita ketemu dengan sesorang asal Gresik juga yang kerja di setasiun Gambir. Siapa yang tak bingung, kuingat-ingat siapa ya. Dan ketika kutanya ciri-cirinya, pakai kopyah [dan pasti mblesek lagi] , maka tak ayal lagi kupastikan bahwa dia adalah cak Chumayah. Dan kubilang padanya, bahwa Gambirnya bukan setasiun Gambir, tetapi markas yang ada di depan setasiun. Si Ventura tadi terperangah, dan tak menyangka bahwa seorang perwira menengah atau bakal pati – perwira tinggi – bisa menyamarkan dirinya seperti itu. Suatu kerendahan yang selalu ditampilkannya, dimana pun dia berada.

Rupanya dia tidak berhenti untuk belajar. Ketika ketemu beberapa tahun kemudian, dia sudah menyandang gelar Sarjana Hukum, yang tentu akan sangat mendukung pelaksanaan tugasnya sebagai Polisi Militer. Dan dia lebih senang menyebutkan SH-nya dari pada pangkat militernya, sehingga aku sendiri tak tahu, apa pangkat terakhirnya. Apakah Mayjen, atau Brigjen. Dan itu tak penting bagiku, karena rasa hormatku kepadanya bukan ditentukan oleh pangkatnya dalam kemiliteran, tetapi lebih pada semangat perjuangannya dan nilai-nilai kehidupan yang dihayatinya.

Setelah aku tinggal di Setiabudi – bertetangga dengan Nashief – barulah pertama kali berjumpa lagi dengannya. Sekitar tahun 1982-3 an. Dia tinggal di daerah Cipinang. Waktu itu ada undangan pengantin, kalau tak salah pengantinnya Agus Jumhana [almarhun] anaknya cak Imron Zuhri. Dia datang ke rumah Nashief mengendarai mobil Moskwich [mobil buatan Rusia, yang dibuat persis mirip mobil FIAT – Fabricano Italiano Automobilano Turino – berwarna putih. Sama-sama di Jakarta, tetapi jarang-jarang ketemu. Hanya berkomunikasi dengan telepon saja. Dan sesekali ketemu bila ada pengantin keluarga Gresik.

Suatu saat, sesudah 1987 atau hampir 1990, ada undangan pengantin. Choliq, yang asalnya dari Kemuteran Gang VII atau Sukodono Gg … [karena tak jelas batasnya, yang penting di kampung itu] bertemu dengan cak Chumayah. Dan Choliq masih mengingat sekali kejadian tersebut hingga kini. Cak Chumayah agak tidak mengenalinya, tetapi sebaliknya Choliq mengenalinya. Dan ketika Choliq memperkenalkan diri dan bersalaman, langsung cak Chumayah bilang “Koen iki Choliq sing mbeling, kuru, sering tak tempilingi biyen tha”. Sesuatu yang spontan, dan tentu saja orang-orang podo noleh kabeh.

Dulu sewaktu baru lulus AMN, pernah dia bergumam, bahwa nanti harapannya setelah pensiun [pada hal baru mulai meniti karir, sudah memikirkan pensiun] akan menjadi pengusaha angkutan darat, dengan cara membeli mobil dump dari militer. Yang diincar waktu itu, adalah mobil-mobil minibus merk Mercy yang semula banyak digunakan waktu Asian Games 1962.

Ketika kemudian dia ditunjuk menjadi Direktur Utama PPD [hayo, singkatan apa itu – Pengangkutan Penumpang Djakarta, jarang orang yang tahu lagi, pokoknya PPD], aku bilang keturutan kepinginane sampaeyan. Yah, PPD siapapun yang ditempatkan disana, akan menemui kesulitan. Betapa tidak, dengan beragam asal pengemudi dan pegawai, yang merupakan merger dari berbagai perusahaan angkutan bis yang pernah ada di Jakarta dulu, selepas masa orde lama.

Mungkin sesudah di PPD, kemudian cak Chumayah ditempatkan sebagai Kepala Kantor Wilayah Departemen Perhubungan Kalimantan Barat, di Pontianak. Masih sering berhubungan walau hanya dengan telepon. Di saat itu, kepala cabang Adhi Karya di Pontianak, adalah Ali Muzayin, adiknya cak Shohib, asal Pekelingan.

Setelah di Cipinang, dia juga pernah menempati rumah di Komplek Hankam, Jalan Jambu di Cibubur sana. Saya pernah kesana, mengantarkan Boim yang ternyata bersahabat dekat dengan anaknya cak Chumayah. Kalau tak salah tahun 1991-2 an atau sesudah itu. Dan begitulah selanjutnya. Ternyata anaknya cak Chumayah juga ada yang bekerja di XL, satu kantor dengan Eri Nazaruddin [anaknya Nashief] dan Didik Nashruddin Ismail [anaknya Anang]. Begitu sempit dunia ini ya. Kalau yang sahabatnya Boim, jadi tentara mengikuti jejak ayahnya.

Setelah itu, dia kembali ke Gresik. Dan menetap disana hingga akhir hayatnya. Berjumpa dengannya, bila ada akad nikah atau pengantin. Dia lebih sering hadir saat akad nikah. Tetap dengan kopyahnya.

Entahlah, apakah Cak Chumayah sempat menuliskan riwayat hidupnya seperti Cak Ibis [Bisri Ilyas] atau Cak Ghon [Afghon Andjasmoro]. Kalau almarhum menuliskannya, tentu cukup menarik, karena memberikan suatu dimensi lain dari kehidupan Wong Gresik.

Di minggu yang lalu, anak sepupuku Ong dan adik perempuannya Anita, anaknya nDuk Yah [Sofiyah – anaknya wak Kan] datang ke rumahku, dan dalam pembicaraan, juga menceritakan bahwa rumah tempat tinggal cak Chumayah di Kemuteran dulu, telah diwakafkan ke Langgar, sehingga langgarnya jadi tambah luas. Semoga menjadi amal jariah yang tak terputus hingga hari kiamat kelak.

Cak Chumayah menderita sakit sepulang haji dan umrah yang sudah ditunaikannya beberapa kali, pada tanggal 15 Januari 2007 silam. Dan berpindah-pindah rumah sakit hingga akhir hayatnya. Nashief sempat bertemu dengannya, terakhir kali ketika akan berangkat menuju ke Bandara Juanda. Aku sendiri bertemu dengannya terakhir kali, saat pernikahan Boim di Masjid Agung Gresik, di Bunder [kalau tak salah].

 

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’fu’anhu, wa wassi’; madkhalahu.

 

Selamat jalan cak Chumayah, Jahja Soebandhi. Selamat jalan menuju ke haribaan-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan, Jeng Lik dan anak-anaknya, menantu serta cucu-cucunya, diberikan ketabahan dan kekuatan iman.

Jika ada kekhilafanku, semoga dimaafkan.

Karena semua ini kutuliskan hanya berdasarkan ingatanku yang terbatas.

 

Jakarta, 11 Februari 2007

Saifuddien Sjaaf Maskoen

10:12 WIB

 

Tambahan dari Toni [Yazid Fathoni, adik bungsuku]

Saya mengenal Cak Chumayah pertama kali secara tak sengaja saat antri “Soto Cak Karim” di alon-alon barat ( meski dari kecil sdh sering dengar namanya ), waktu itu karena masih penuh dengan calon pembeli, saya duduk di dinglik disamping sesorang yang pakai sarung dengan kopyah mblesek persis seperti pada tulisan sampeyan,  dia mathak saya duluan kalau saya adiknya sampeyan, seterusnya saat hari minggu pagi kalau andhok soto Cak karim, saya pasti ketemu Cak Chumayah di situ dan saya selalu sempatkan ngobrol dengan dia. …. Selamat jalan Cak Chumayah

 

Tambahan dari Ituk [Khalisah Amali, adikku yang kembar]

yang disampaikan melalui telepon pada malam harinya

  • Di Aloon-aloon, dekat rumahnya memang banyak becak mangkal. Suatu ketika, ketika adikku lewat ada “tukang becak” yang menawarkan, “Bade teng pundi buk, mawi becak tha”. Kan janggal, ada tukang becak yang menawarkan diri, biasanya kan mereka duduk sambil ngobrol dengan teman sesama tukang besak atau duduk beristirahat memulihkan tenaga. Suaranya koq kayak-kayak kenal, dan ternyata memang cak Chumayah, sedang berpura-pura menjadi “tukang becak”
  • Adikku membuka toko kecil di ujung Samanhudi, dekat perempatan Bata, yang menjual barang-barang kecil kebutuhan tertentu. Suatu ketika, ketika lagi sibuk dengan yang lain, ada orang datang minta sedekah. Setelah diberi uang 200 rupiah, yang biasanya akan diterima oleh peminta sedekah, tetapi yang ini lain. Malah bilang “Bu, biasane paling nggak lak limang atus, niki koq cuma rong atus”. Barulah disadari kemudian, ternyata cak Chumayah. Dan ngakaklah bersama-sama.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: