CERITA PAGI – 34

 

Hari Kamis kemarin, aku berada di kantorku yang lama ADHI KARYA guna bertemu dengan Direktur Utama nya, yang memang menyisihkan sebagian dari waktunya yang sangat berharga untuk mengarahkan kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan sekolah dimana sekarang aku aktif untuk ikut mengurusinya. Rupanya di pagi itu memang sudah banyak yang akan bertemu dengannya, setidaknya ada dua direktur dari lima direkturnya, dan seorang kepala biro yang menangani suatu hal baru – manajemen risiko – beserta stafnya. Memang aku datang lebih awal, dari jam yang ditentukan sebelumnya, dan karena urusanku mungkin yang tidak memakan banyak waktu, jadi didahulukan.

Saat itu wilayah tersebut sedang direnovasi sehubungan dengan tambahan kebutuhan ruangan karena bertambahnya jumlah direktur seiring dengan perkembangan perusahaan. Salah satu yang cukup mencolok dari renovasi ini adalah pergantian tekstur dan warna dari wall-paper yang digunakan sebagai pelapis dinding. Dari warna kelabu tak bertekstur, berubah menjadi hijau muda [tetapi bukan hijau pupus seperti warna daun pisang yang masih kuncup] yang tentunya lebih cerah dan bertekstur lembut.

Setelah aku keluar, aku mendapati suatu pemandangan yang sangat menarik di ruangan sekretaris direksi yang memang terbuka. Seseorang dengan santainya sedang memfoto kopi sendiri beberapa helai halaman dari suatu dokumen yang tebal. Kalau yang memfoto-kopi adalah seorang petugas foto-kopi, ya apa anehnya. Atau si sekretaris direktur, atau siapapun yang ada di sana. Tetapi yang memfoto-kopi tersebut adalah salah seorang direktur dari sebuah perusahaan nasional yang beromset trilyunan rupiah, dan yang operasinya sudah merambah ke wilayah Timur Tengah.

Kejadian sesaat itu, bisa kita lihat dari berbagai sisi, dan mungkin memberikan hasil analisis yang berbeda-beda. Ibarat orang buta yang meraba gajah, dan kemudian menceritakan bentuknya. Dan agar tidak salah dalam mengartikan kejadian tersebut, aku sengaja menyatakan kepadanya, yang sudah kukenal lama walau jarang berhubungan karena tugas sebelumnya yang banyak di luar Jakarta “Hal seperti ini merupakan suatu hal yang langka didapati, apalagi di perusahaan lain, dan juga di ADHI KARYA sendiri –baik di kantor pusatnya maupun di kantor cabang atau kantor divisinya”. Dan dia dengan cepat menjawab “Tergantung dari paradigma yang dianut oleh si pelakunya. Bagiku, yang penting pekerjaan selesai dengan cepat dan sesuai dengan yang diharapkan”.

Tentunya, hal itu tidaklah timbul sesaat saja. Untuk bisa memfoto-kopi dokumen sendiri, tentu membutuhkan suatu usaha sendiri. Tentunya sudah lama dia melakukan hal itu, mungkin semenjak belum menjabat apa-apa. Dia bisa memfoto kopi, dan juga mengetahui prinsip dan cara kerjanya. Dengan melakukan sendiri, mungkin jauh lebih cepat. Dari pada dia memilih dan memberi tanda yang mana mau dikopi, dengan melakukan sendiri pekerjaan itu langsung selesai. Tentunya, kalau yang dikopi satu set dokumen tebal, ya dia tidak akan melakukannya sendiri.

Sebagian orang menganggap melakukan pekerjaan dengan tingkat tuntutan kognitif yang rendah, oleh seseorang yang memiliki jabatan tinggi [yang tentunya memiliki kemampuan kognitif tinggi pula] adalah merupakan suatu pekerjaan yang mubadzir. Artinya suatu kapasitas yang besar hanya digunakan untuk tuntutan kapasitan kecil saja. Ibaratnya mengangkut satu zak semen yang hanya berbobot 40 kg dengan menggunakan truk tronton yang berkapasitas 15.000 kg.

Sebagian lagi berpendapat, dari pada aku harus menjelaskan mana-mana yang mau dikopi, memberi tanda, dan menunggu hasilnya [yang mungkin belum tentu hasilnya seperti yang diinginkan], mengapa tidak aku lakukan sendiri. Waktunya jauh bisa lebih singkat. Waktu yang digunakan untuk memilih, memberikan tanda, menjelaskan kepada yang disuruh bisa-bisa lebih memakan waktu dibanding melakukannya sendiri [apalagi kalau si pesuruh – sorry istilahnya sekarang office-boy – agak sedikit oon]. Yang jelas, si direktur yang memfoto-kopi sendiri dokumen yang dia perlukan, dulunya bukanlah seorang anak yang biasa dilayani. Dia tentu sudah mampu membuat minumnya sendiri, dan bukan hanya dengan berteriak kepada pembantu dan minuman menjadi tersedia.

Mugkin juga ada yang berpendapat, kalau semua direktur seperti dia, maka office-boy akan tidak ada pekerjaannya dong. Dan juga mungkin ada yang mengkaitkan dengan masalah gengsi, martabat atau sebagainya. Memang betul apa yang dikatakan sang direktur tadi, masalah paradigma.

Ketika aku masih kuliah dulu, ada senior di Kasbah – Abdu Razak Faqih yang dari jurusan Fisika Teknik, yang kumisnya mirip Einstein – semoga Allah swt mengasihi dan menyayanginya] memberikan nasehat yang kuingat sampai sekarang dan selalu kucoba untuk menerapkannya. “Jangan membuat dirimu bergantung pada orang lain. Lakukan sendiri apa yang bisa kamu lakukan. Kalau kamu belum bisa melakukannya, belajarlah untuk melakukan. Karena itu adalah untuk keperluanmu sendiri”. Yang kuingat darinya, karena pada masa mid-60 itu, silet merupakan barang langka dan harganya mahal juga, dia selalu mengasahnya dengan menggunakan bagian dalam sebuah gelas. Suatu cara yang cerdik dan memudahkan kerjanya. Dan banyak pelajaran lain yang bermanfaat tentang kehidupan ini yang kudapat darinya. Semoga menjadi bagian dari amalnya – ilmu yang bermanafaat – yang tidak akan pupus walau sudah meninggal dunia. Rupanya, hal seperti itu pulalah yang dianut oleh sang direktur yang kelahiran Cirebon, walau nenek moyangnya berasal dari “Belgia” [suatu plesetan dari Blega –di Kabupaten Bangkalan].

Saat ini hampir seluruh aspek kehidupan kita menggunakan air, peralatan listrik atau peralatan yang berteknologi. Dalam bentuk lampu penerangan, pompa air, seterika, peralatan dapur, peralatan hiburan dan lain lain. Setidaknya, kita harus memiliki pengetahuan tentang cara kerja peralatan-peralatan tersebut, dan kalau bisa menguasai keterampilan dasar dalam menemukan kegagalan beroperasinya, dan bisa melakukan small-repair atas alat-alat tersebut. Tetapi ada pula orang yang berpendapat, kan tinggal panggil tukang yang bisa mereparasinya, dan bayar. Beres. Sah-sah saja. Asal mau menunggu tukang reparasinya datang.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

10 Februari 2007

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: