CERITA PAGI – 33

 

Alhamdulillah, seharian kemarin [Selasa, 06-02-07] langit sudah mulai cerah, dan dini hari Rabu ini pun, yang kemarin-kemarinnya selalu mengucur hujan, bulan sudah menampakkan diri. Walau bukan bulat sempurna seperti seharusnya beberapa hari yang lalu ketika dia tertutup awan yang merata, baik siang maupun malam. Karena malam ini sudah 19 Muharram. Hujan lebat yang mulai mengguyur wilayah Jabodetabek, terjadi pada malam Jumat, saat bulan purnama.

Ada mitos atau kepercayaan di kalangan para mantong [pembuat garam] – dan juga masyarakat di Kalianget dan Sumenep – bahwa bila hujan mulai datang di malam Jumat [Kamis malam] maka hujan akan berlangsung terus selama seminggu. Begitu juga saat bulan purnama [di musim hujan tentunya] besar kemungkinan akan terjadi hujan. Hal itu tentu berasal dari pengalaman mereka, yang kehidupannya banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh datangnya [tepatnya, tidak datangnya hujan]. Ketika mendengar itu dahulu, aku tidak langsung percaya. Aku lalu mengumpulkan data hujan yang dimiliki oleh PN Garam, dan memang tercatat dengan baik untuk setiap penakar hujan yang ada di pegaraman yang jumlahnya enam buah [Sumenep, Pamekasan, Sampang, Nembakor, Gresik Manyar, dan Gersik Putih]. Catatan itu berupa laporan kapan terjadi hujan, dan berapa besar curahnya dalam satuan milimeter.

Dan memang hujan itu selalu datang secara berombongan, beberapa hari berturut-turut. Lalu terang lagi, dan kemudian hujan lagi, begitulah gonta-ganti [bergantian, silih berganti] antara terang dan hujan. Dan tidak hanya di Madura saja, tetapi di semua tempat ya begitu. Dan umumnya waktunya bergeser beberapa jam setiap harinya. Biasanya hujan malam, lalu terus bergeser sampai pagi. Bila hujan sudah turun di pagi hari, itu sering diartikan bahwa kita sudah benar-benar memasuki musim kemarau. Berdasar pengalaman itulah, beberapa waktu yang lalu aku berani menunda permintaan dari Kepala Sekolah PS&TK Madania untuk merealisasi pembuatan selasar guna melindungi kedatangan dan kepulangan siswa dari gangguan hujan. Lumayan menunda dari Juli sampai Desember.

Catatan meteorologi semacam itu, dapat kita peroleh dari Badan Meteorologi dan Geofisik, baik dalam bentuk data mentah yang sudah dibukukan maupun berupa data olahan, berupa buku-buku terbitan mereka. Beberapa catatan bisa dirunut sampai pertengahan tahun 1800an, terutama untuk daerah-daerah yang banyak perkebunannya. Karena rupanya pencatatan tersebut dilakukan untuk mendukung usaha pertanian dan perkebunan yang merupakan usaha pokok penjajah Belanda dalam mengeruk kekayaan bumi pertiwi ini. Kita – bangsa Indonesia – seharusnya terus mengembangkan apa yang sudah dirintis oleh penjajah kita dahulu dan mengembangkannya seiring dengan perkembangan daerah dan ilmu pengetahuan sendiri. Tetapi, biasanya kita kurang peduli akan hal-hal seperti itu. Bahkan memeliharanya saja, kita kurang [tidak] becus.

Termasuk juga sarana pengendali banjir yang sudah dirintis oleh sang penjajah, yang tentu pembangunannya dengan tujuan yang berbeda dengan kita membangun wilayah kita. Ambil contoh saja, Pintu Air Manggarai beserta saluran di hulu dan hilirnya – yang tahun pembangunannya masih bisa kita lihat di dinding bangunan tersebut [entah lupa, nanti kalau aku lewat sana akan kulihat dan kuingat] – dibangun untuk membebaskan wilayah Menteng dan Silang Monas dari gangguan air yang berasal dari wilayah hulu, dengan mengalirkannya ke Banjir Kanal Barat [karena melintang di Wilayah Jakarta] dari arah aliran alamiahnya yang menuju ke utara. Menteng dan wilayah Monas adalah tempat tinggal dari para pembesar Belanda, karena itu prosedur tetap [protap] nya harus memberitahu sang biggest boss yang tinggal disana bila pintu air yang mengarah ke utara akan dibuka. Dan itulah – yang ternyata sudah dicabut oleh SBY – tetapi Sang Gubernur masih pekiwuh dengan kulo nuwun dulu melalui Sudi Silalahi, yang kemudian menjadi bahan berita di tengah banjir berita tentang banjir.

Saat itu – dikala puntu air Manggarai dibangun-  daerah Kampung Melayu dan lain-lain di sekitarnya seperti Jatinegara [Mesteer Cornelis – dan sekarang masih ada yang menyebutnya dengan Mester saja], masih sedikit penduduknya. Jadi tak apalah dikorbankan, apalagi yang tinggal disitu adalah para inlander [bumi putera] yang dianggap warga negara kelas dua oleh penjajah. Daerah selatan Banjir Kanal Barat itu, masih belum berkembang. Setiabudi, konon belum ada penduduknya, dan disitu dijadikan Waduk atau bozem [dalam bahasa Belanda nya] guna tempat transit atau parkir air dikala jumlahnya besar dan tak tertampung oleh kanal-kanal yang ada, yang sifatnya hanyalah sebagai jalan.

Kita tahu, wilayah Senayan itu baru berkembang di tahun 60-an, begitu pula Tebet dan lain-lainnya. Kebayoran Baru [yang dibagi dalam beberapa Blok mulai dari Blok A sampai Blok S, apa ada Blok T dst saya kurang tahu] merupakan kota yang dikembangkan menjelang dan sesudah Perang Dunia ke II, yang direncanakan oleh suatu badan otorita yang namanya disingkat sebagai CSW [masih tahu kan perempatan dengan nama CSW ini]. Kalau tak tahu naik saja bis kota dari Blok M menuju Komdak dan dengarkan celoteh sang kondektur, suatu saat anda akan mendengar kata CSW ini diteriakkan oleh kondektur atau penumpang. Kalau tak salah C nya Centraal, yang lainnya embuh, ora weruh, tak tahu.

Apalagi daerah yang namanya Ciledug, Tangerang, Bekasi. Itu daerah yang masih kosong melompong [entah berapa jiwa per kilometer persegi]. Jadi Belanda belum memikirkan apa-apa bagi daerah itu. Tetapi, pernah kubaca suatu rencana yang bisa disebut “mega-proyek” [bukan proyeknya bu Mega] yang diusulkan oleh van Bloomenstein [mungkin masah ada hubungan famili dengan pak Dullah Sacadipura] untuk membuat kanal besar di daerah pantura guna menangani banjir yang secara rutin melanda daerah pantai utara Jawa. Kalau untuk membangun de Groote Postweg kita pinya Daendles, apa untuk membangun kanal tersebut perlu “Daendles II”.

Daerah-daerah seperti Mester, Pasar Minggu, Pondok Cina, Depok, dan lain-lain itu sudah ada, tetapi masih jarang penduduknya dan tidak ‘sambung menyambung menjadi satu’ seperti sekarang. Tidak ada lagi yang disebut “oro-oro” atau “bulak” yaitu penggal jalan yang tidak rumah di sisi-sisinya. Cobalah jalan [maaf naik mobil] dari Priok  yang di ujung utara [tak ada lagi kan yang lebih utara] ke arah selatan, dan mulailah dengan odometer yang diset pada angka nol, dan kemudian setelah bertemu bulak atau oro-oro, kemudian lihatlah odometer anda. Angka berapa yang ditunjukkan. Begitu juga dari arah timur [entah dimana anda harus mulai] ke arah barat dengan prosedur yang sama. Kalau aku masih nyetir sendiri mobil, mungkin akan kucoba; tetapi sekarang endak, kaki kiriku belum kuat menginjak pedal kopling.

Dan setelah kita merdeka alias terlepas ikatan dengan Londo [mau dihitung dari 1945, 1949 atau 1958] – bukan mengecilkan arti pembangunan yang sudah kita lakukan – apalah yang sudah kita perbuat untuk memperbaiki “wilayah”? Mungkin kita banyak berbuat untuk memperbaiki rumah kita [kita disini boleh dibaca pribadi masing-masing]. Siapa yang peduli dengan pembangunan “wilayah”, semua membangun dirinya sendiri dan keluarganya. Kita seakan tidak berdaya untuk membangun atau memperbaiki wilayah, kecuali dengan bantuan [sekali lagi bantuan] – baik berupa dana hibah, pinjaman atau teknologi dari pihak asing. Coba renungkan. Semua menunggu bantuan. Mulai dari membangun masjid dengan kecrek-kecrek, sampai membangun monorail [dengan wira-wiri ke Dubai dan kota-kota lain]. Apalagi membangun subway. Ke Jepang, ke Eropah, ke Amerika dan lain-lainnya. Bukankah yadu al ‘ulya khairun min yadu -al sufla. Dan posisi kita masih pada yadu -al sufla. [Tetapi buuanyak pribadi yang sudah pada posisi yadu al-‘ulya]. Sufla ini adalah kata yang seakar dengan aspal [asfal, asphalt]. Tahukan artinya aspal, tak lain adalah “yang paling rendah”. Karena memang aspal adalah hasil paling bawah dari suatu destilasi minya bumi yang bersifat asphaltis.

Kembali ke Pintu Air Manggarai dan pintu-pintu air lainnya. KOMPAS memuat di halaman muka [halaman 1] nama-nama pintu air dan ketinggian peil schaal-nya [alat pengukur tinggi muka air]. Antara lain

 

Lokasi Tinggi Normal Tinggi saat Banjir
Pos Katulampa 170 250
Pos Depok 200 465
Pintu Air Manggarai 750 1090
Pintu Air Karet 400 770
Pos Sunter Hulu 140 260
Pos Cipinang Hulu 150 210
Pintu Air Pulo Gadung 550 785

 

Apa artinya informasi itu? Hanya sebatas, muka air meningkat melebihi normal. Titik. Dan kalau naik akan meluber ke tempat lain. Titik. Itu yang bisa kita tangkap dari informasi yang semacam itu. Kalauhanya semacam itu, apalah arti dibangunnya sebuah Pos Katulampa, Pos Depok, Pos Sunter Hulu dan Pos Cipinang Hulu?. Namanya saja pos, bukan Pintu Air. Memang ada beda antara Pos dan Pintu Air.

Dari namanya, Pintu Air, tentu bangunan itu memiliki pintu-pintu yang bisa dibuka dan ditutup atas perintah penjaga, guna mengatur aliran air. Kalau Pos, hanya untuk memantau ketinggian air. Tetapi apa arti sebenarnya ketinggian air di suatu Pos? Marilah kita coba lihat.

Biasanya, dan setahuku, Pos Pengamat seperti ini, berbentuk suatu ‘halangan’ berupa bangunan mendatar yang diketahui dengan pasti berapa lebarnya [b], dan kemudian dipasang peil-schaal [penggaris dengan ukuran sentimeter, ya seperti penggaris biasa] guna mengetahui “tebal air” [h] yang mengalir diatas bangunan penghalang tersebut. Istilah tekniknya disebut RECTANGULAR WEIR. Dari [b] dan [h] ini, menurut ilmu hidrolika, akan dapat diketahui berapa debit [Q dengan satuan volume per satuan waktu, bisa liter per jam tetapi untuk aliran sungai biasanya meter kubik per detik]. Informasi yang diperlukan oleh masyarakat dan juga tentunya otoritas pengendali banjir adalah debit aliran sungai tersebut.

Yang mungkin di luar dugaan anda [yang sehari-harinya tidak berurusan dengan air] bahwa hubungan antara debit [Q] dengan ketinggian muka air [h] adalah linier atau perkalian dengan pangkat satu. Sepertinya, karena sudah lama aku tak berurusan dengan hal-hal yang basah ini [betul-betul basah lho, bukan basah sebagai istilah bagi kedudukan yang sering dicari sebagian orang sebagai sarana untuk korupsi] [h] itu berpangkat tiga [sekali lagi tiga dan bukan dua apalagi satu]. Dan rumusnya, mungkin [maaf kalau salah] adalah [1/3] x [b] x [h]^3.

Kenapa pangkat tiga? Karena debit adalah volume yang merupakan luas penampang kali [b] x [h] kali kecepatan yang komponennya [h^2]. Tetapi kalau [b]x[h^3] dimensi linearnya kan pangkat empat ya. Itulah, ilmu kalau tidak dipakai akan lupa.

Dan setelah di cek [maklum tadi hanya mengandalkan ingatan yang sudah rapuh], ternyata bentuknya itu [Konstanta] x [b] x [h]^[3/2]. Dan jelas konstantanya itu memiliki satuan, antara lain karena ada unsur [g] gravitasi yang satuannya [meter] / [detik]^2.

Coba kita hitung di Pos Katulampa. Tinggi normal 170 cm atau 1,7 meter, dan tinggi saat banjir 2,5 meter. Kalau ketinggian diukur pada puncak bangunan penghalang mendatar [artinya puncaknya dianggap nol], dan lebarnya adalah tetap [b] – entah berapa meter. Maka debitnya itu berarti naik [2,5^3]/[1,7*3] = [25]/[5] = 5 kali normal. Ulangi sekali lagi lima kali debit normalnya.

Dan dengan asumsi yang sama, untuk Pos Depok adalah [4,65^3] / [2,0^3] = [100,5] / [8] = 12,5 kali debit normal. Lah, mau nggak banjir bagaimana? Tetapi Gubernur Jawa Barat, menolak kalau sumber bencana banjir adalah dari Kabupaten dan Kotamadya di Jawa Barat. Kalau tak salah Pos Depok ini letaknya di Jalan Tole Iskandar, dekat Komplek Perumahan Karyawan ADHI KARYA, Pancoran Mas, dekat jembatan.

Ha, jadi harus dikoreksi dong. Bisa saja aku melakukan “Ctrl-Del” atas bagian tertentu, tetapi kurang etis. Kalau tadi salah, ya dibetulkan bila sudah tahu yang benarnya.

Jadi di Pos Katulampa, [2,5]^[1,5] / [1,7]^[1,5] = 1,78335 kali debit normal. Dan di Pos Depok [4,65]^[1,5] / [2,0]^[1,5] = 3,545149 kali debit normal. Pengertian “normal’ disini adalah debit yang masih tidak menyebabkan bencana, atau batas tertinggi debit air yang masih bisa ditampung oleh sarana di hilir dari Pos Pengamat tersebut.

Informasi semacam peningkatan debit air inilah yang lebih berarti bagi masyarakat, terutama masyarakat awam. Sehingga tidak membayangkan yang bukan-bukan. Kalau hanya ukuran tinggi peil-schaal memang langsung berhubungan dengan meluap atau tidaknya air di suatu lokasi.

Yah kita harus mau belajar dan mampu meningkatkan analytical thinking dan conceptual thinking kita, dengan melatihnya dan melakukan sesuatu yang teramati, karena dengan begitu level kita dalam kompetensi tersebut bisa ditingkatkan. Kedua kompetensi tersebut seringkali menjadi suatu tuntutan kompetensi dalam suatu jabatan. Yah, tentunya jabatan yang memerlukan thinking. Alias berbasis akal bukan okol, atau berbasis otak bukan otot.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

07 Februari 2007

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: