CERITA PAGI – 32

 

Sampai saat ini [2-2-7] jam 10:36 hujan masih mengguyur dari langit mulai semalaman. Tadi pagi [06:20] saya sempat mencoba berangkat ke kantor. Walau dari rumah gerimispun tidak, ternyata baru sampai Jalan AYUB [+/- hanya 150 meter dari rumah] hujanpun sudah mulai mengguyur.

Memasuki Jalan H. Samali masih OK, tetapi di pertigaan dengan Warung Jati, sudah mulai macet. Tidak seperti biasanya, kendaraan dari arah Warung Jati menuju Jalan Siaga Raya sangat ramai. Kami “memaksa” terus melaju, dan berhasil. Ketika ketemu dengan banyak METRO MINI dan KOPAJA yang seharusnya tidak melewati jalan Warung Jati, mulai timbul tanda tanya. Ternyata jalan Buncit Raya ke arah REPUBLIKA sudah tidak bisa dilalui. Padahal aku harus menuju kesana untuk memutar balik. Maka mulailah ‘petualangan’ dengan berjalan melawan arus. Alhamdulillah bisa, karena yang dari arah TENDEAN sepi.

Kami tidak melewati jalan yang biasa kulalui, karena disitu banyak anak sungai dengan ketinggian jalan yang menurun dari ketinggian BUNCIT. Sesampai di perempatan BUNCIT / MAMPANG / TENDEAN, ternyata tidak bisa belok kiri. Maka terpaksa harus lurus, menuju perempatan KUNINGAN – GATOT SUBROTO.

Kuningan pasti akan dilanda banjir, karena dulu HOTEL FOUR SEASON terendan sampai lobby [dan tentunya basement parkirnya juga]. Dipastikan menuju SEMANGGI, maunya akan memutar balik.

Sesampai di SEMANGGI ternyata bagian bawah sudah macet total, tak bisa gerak. Mulailah menelpon SI dan AF untuk membatalkan semua acara hari Jumat ini. Dan kemudian memberi tahu yang lain, untuk tidak jadi ke kantor di WIJAYA, dan tetap saja dirumah.

Begitu juga ANTOS, mengabarkan teman-teman yang lain agar kembali ke rumah tak perlu ke DEPLU.

Karena tidak bisa memutar di SEMANGGI, maka memutar di SENAYAN [depan TVRI]. Alhamdulillah berhasil melewati fly-over TAMAN RIA.

Jalan TOLL DALAM KOTA, sepi dari dua arah.

Tetapi untuk melewati SEMANGGI ATAS, sangat padat oleh kendaraan yang tidak jadi turun ke SUDIRMAN.

Kami lalu melalui jalan biasa menuju MT HARYONO. Aman sampai di Jalan Pasar Minggu. Arah ke Pancoran, sudah padat merayap tanpa harapan [alias PAMER PAHA], tidak ada lagi padat merayap yang susul menyusul [PAMER SUSU].

Hal seperti ini, persis terjadi lima tahun lalu, 2-2-2 ketika Jakarta dilanda banjir. Dan kami akan menuju ke Semarang untuk pernikahan ERI anaknya NASHIF.

Teringat Nashif, lalu menelpon dia. Ternyata Nashif sudah ada di dalam METRO MINI 640 mau menuju ke Proyeknya. Dan ketika kutanya, ternyata masih di Jalan pasar Minggu, dan belum melewati KALIBATA, maka aku sarankan turun dan menyeberang, untuk pulang bersama-sama saya.

Kami masuk melalui ASRAMA BRIMOB, ternyata disitu ada genangan sampai lutut orang dewasa. Untung pakai VITARA yang 4×4 [walau sudah tua], alhamdulillah bisa melewati.

Dan sampailah kembali di rumah jam 08:00.

Semoga segera surut, dan mereka yang mengungsi bisa pulang kembali ke rumahnya.

 

SSM     2-2-7                 10:47

 

Itulah yang kutuliskan pada hari Jumat yang lalu. Dan sampai hari ini, Senin 05 Februari 2007, jam 06:17 keadaan bukanlah membaik, tetapi justru sebaliknya memburuk, seiring dengan tingginya hujan di wilayah Bogor dan Depok yang mengirimkan air dalam jumlah besar sehingga menimbulkan rekor baru di pintu air Manggarai, yang merupakan pengendali utama sebelum air dipecah-pecah memasuki berbagai saluran yang ada di wilayah Jakarta.

Hujan lebat umumnya datang setelah lewat tengah malam hingga menjelang subuh. Dan di Sabtu pagi, di rumahku mengucur cukup deras. Walau tidak kena banjir, ternyata bocoran melalui sela-sela genteng cukup merepotkan juga. Selain itu, rembesan lewat bagian dalam dinding juga tak mau kalah. Rupanya, teknik pemasangan genteng yang “kurang mengikuti aturan” – misalnya jarak antar reng – sangat menentukan kekedapan dari genteng terhadap hujan, walau sudah menggunakan genteng jenis yang prima. Pemilik bangunan umumnya sulit untuk melakukan pengawasan dalam pemasangan reng dan genteng ini, karena letaknya yang sulit dijangkau. Juga sambungan-sambungan antara dinding tegak dengan genteng, yang biasanya sudah ditutupi dengan adukan [tetapi waktu pemasangannya yang tidak bersamaan dengan plesteran dinding] mengakibatkan timbulnya retakan yang bisa diresapi [kalau tidak dilalui] oleh air. Bersyukurlah masih hanya sedikit bocor di sana-sini. Bayangkan yang ditimpa banjir.

Aku sekeluarga pernah mengalami dua kali ditimpa banjir, walau hanya memasuki bagian belakang rumah yang terdiri atas kamar mandi, gudang, dapur dan kamar yang dipakai gudang ketika masih tinggal di Setiabudi VI Gg 6 nomer 10, dulu. Walau hanya masuk sekitar 5 sentimeter saja, sudah cukup membuat repot. Apalagi yang sampai keseluruhan rumah, dengan tinggi ratusan sentimeter yang dipenuhi dengan peralatan dan perabotan rumah tangga. Untung kalau masih punya lantai 2, kalau tidak?

Ada salah satu yang disampaikan khotib shalat Jumat di masjid dekat rumahku kemarin, yang akan selalu kuingat [semoga], entah ini hadis atau hanya pepatah atau hanya kata-kata berhikmah “Fi kulli mushibah, mufidah”. Tetapi aku dan anak-anakku tidak sepaham dengan sebagian besar isi khotbah yang menolak kebijakan pemerintah dalam meniadakan unggas di pemukiman, sebagai langkah antisipatif dalam memutus rantai perkembangan avian flu yang dikhawatirkan virusnya akan bermutasi yang memungkinkan penularan dari manusia ke manusia, dan menjadikan suatu penademi yang sangat ditakuti.

Sang khotib melandasi tantangannya terhadap kebijakan peniadaan unggas di wilayah pemukiman, “li kulli daa’in, dawa’, illa al-maut“ – setiap penyakit ada obatnya, kecuali mati. Mungkin sang khotib tidak tahu [semoga Allah swt memaafkan ketidak tahuannya], bahwa untuk avian flu yang dikhawatirkan akan menjadi pandemi itu, BELUM ADA OBATNYA [bukan saja di Indonesia, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat pun]. Vaksin untuk melawan virus flu burung [hasil mutasi dari H5N1 nanti] baru bisa dibuat setelah virus baru itu ada. Dan itu butuh waktu untuk membuatnya, apalagi untuk memperbanyaknya. Dan dikala itu, sudah ratusan juta orang yang terinfeksi, dan sebagian perlu pelayanan rumah sakit, dan sebagian akan mati karena belum ada obatnya. Memang, manusia akan berusaha untuk membuat obatnya, dan insya Allah akan ada. Tetapi sudah sekian banyak yang qo’it, atau quit dari dunia ini. Memang cukup merepotkan kalau ada khotib seperti ini.

Semoga bila pandemi itu benar-benar merebak, Indonesia baru tertular pada tahapan sesudah ada obatnya. Mungkinkah doa kita itu? Insya Allah. Tuhan Allah swt Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tetapi dengan melihat kenyataan yang ada sampai saat ini, agaknya kemungkinan Allah swt mengabulkan harapan kita itu kecil sekali. Saat ini, jumlah penderita suspect atau positif flu burung di dunia, rekornya sudah dipegang oleh Indonesia. Dan kiranya, tidak ada negara lain yang akan berusaha merebutnya. Untuk yang satu ini, ibarat ubi panas, semua akan menolaknya.

Menurut para ahli, berdasarkan siklus merebaknya penyakit yang terdahulu, seharusnya pandemi flu burung ini sudah terjadi. Allah swt sudah menundanya, memberi kesempatan kepada manusia untuk bersiap-siap lebih baik. Tetapi kalau kesempatan ini tidak dipergunakan, janganlah kemudian ber-su’ud dzan kepada Allah. Dan kemudian bahwa bencana yang menimpa kita, adalah sesuatu yang memang dijanjikan oleh Allah, sebagaimana yang sampaikan juga oleh sang khotib tersebut, yaitu

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ۬ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ ( ١٥٥ ) ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ ( ١٥٦ )

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Begitu juga dengan banjir yang menimpa Jakarta dan sekitarnya sekarang. Berapa banyak andil manusia atas kejadian ini? Memang air menguap karena sinar matahari, dan kemudian turun kembali ke bumi sebagai hujan adalah peristiwa alami sehari hari. Tetapi apakah suatu kebetulan bila kemudian air itu turun kembali sebagai hujan di suatu wilayah yang berpenghuni padat, dan dengan prasarana saluran air yang jelek [kalau tidak dibilang jelek sekali]. Mengapa hujan itu tidak turun di wilayah yang lebih utara alias di Laut Jawa, sehingga tidak lagi memerlukan saluran air untuk pergi ke laut. Mengapa jatuhnya di Bogor dan Depok, yang kemudian secara alamiah akan dikirim melewati Jakarta yang sudah seperti telogo gede. Bukan Telaga Kahuripan, melainkan Telaga Kesengsaraan. Masih belum sadarkah mereka yang menghambat pembuatan Banjir Kanal Timur sebagai penyalur air limpahan dari wilayah di atas Jakarta?

Banjir sudah datang. Bahkan, konon lebih besar dan luas dibandingkan dengan 5 tahun silam, tahun 2002 dengan tanggal yang sama. Tetapi sepertinya kali ini akan memberikan dampak yang lebih luas, baik secara materiil maupun immateriil. Saya jadi teringat sekitar tahun 65-66-an empat puluh tahun silam. Pak Badhawi, yang secara rutin memberikan tausiyah subuh selama bulan Ramadhan di TK Batik, Bedilan, Gresik pernah menyampaikan dalam menyikapi adanya banjir besar waktu itu, bahwa air merupakan satu-satunya zat yang suci dan mensucikan [tentu ada juga debu, dalam keadaan tertentu]. Jadi dalam menyikapi banjir, hendaklah kita melihat kepada sifat hakiki dari zat yang berupa air tersebut. Mungkin Allah swt sedang mensucikan wilayah yang kita diami. Mensucikan dari berbagai hama atau virus yang melekat di unggas peliharaan kita, membebaskan wilayah Jakarta dari jentik-jentik nyamuk pembawa DBD. Mungkin sementara penyebaran avian flu dan DBD agak tersendat, karena jentik-jentik dan ayamnya kintir. Tetapi sehabis ini, mikroba penyebar diare mungkin akan menggantikan. Sudah siapkah rumah sakit kita untuk menerima pasien baru yang muntaber, sementara pasien DBD masih memenuhi zaal-zaal yang ada.

Temanku yang di Johor Bharu, setelah melihat siaran televisi Indonesia yang bisa diterima di tanah airnya yang kedua, langsung menelponku kemarin sore, menanyakan ihwal keluargaku dan teman-teman lainnya. Dia yang pernah tinggal di Indonesia sekitar seperempat abad, tahu betul keadaan negeri ini. Dan tidak habis pikir. Dia menanyakan, ketika banjir besar di negeri Johor beberapa waktu yang lalu, banyak petinggi Indonesia yang studi banding ke sana, lalu apa yang mereka perbuat sesudah itu? Bukankah dari ramalan cuaca sudah “hampir dapat dipastikan bahwa pergerakan hujan lebat akan mengarah ke selatan”?.

Yah, tentunya aku menjawab dengan “sedikit membela” negeri yang kusayang ini. Mereka tidak menduga banjir akan datang secepat ini. Ada kesulitan mencapai gang-gang sempit yang tidak bisa dilalui oleh perahu karet yang didrop oleh petinggi DKI. Dan banyak juga para korban yang terlalu sayang pada harta yang mereka miliki [karena itu adalah 100% yang dipunyainya] sehingga enggan meninggalkan rumah.

Yah memang. Kalau kita lihat di televisi – entah karena juru kameranya tidak meliputnya – hampir sedikit menayangkan keterlibatan TNI-POLRI dalam upaya evakuasi warga ini. Pada hal dalam newsticker-nya METRO TV disebutkan pusat bantuan dari DISPENKOARMABAR [tahu enggak kepanjangannya? – Dinas Penerangan Komando Armada wilayah Barat –kalau tak salah lho], dan dari instansi lainnya. Ada terlihat truk TNI atau POLRI dari kelas ELF atau FUSO, mengapa tidak mengerahkan truk yang rodanya gede buatan AMERIKA yang kami yakin mereka mempunyainya. Apakah sudah tidak bisa jalan karena embargo suku cadang oleh Paman Sam, karena dikhawatirkan akan digunakan untuk menindas rakyat. He He. Khusnu dhon saja lah ya. Kalau truk itu, genangan air satu meterpun insya Allah akan bisa dilewati, selain tinggi juga jaringan elektrikalnya memang sudah kedap air, juga air-intake nya jauh diatas.

Bagaimana dengan persediaan makanan dan uang tunai anda? Walau punya saldo, kalau ATM sudah tidak berfungsi oleh berbagai sebab [terendamnya sarana komunikasi elektronik yang mendukungnya] kumaha. Mungkin juga akan terjadi rush di loket-loket bank. Tetapi dari radio El-Shinta baru saja, kalau BNI sudah mencadangkan persediaan uang tunai dalam jumlah besar, guna mengantisipasi pengambilan uang kertas dalam jumlah besar.

Aku tadi pagi, menyarankan temanku yang di Bekasi untuk menyediakan stok makanan di rumah setidaknya untuk seminggu. Karena aku mengkhawatirkan adanya shortage bahan makanan karena terganggunya sarana transportasi. Jawabannya sangat mengejutkanku. “Carfour [entah tulisannya bagaimana, agak hang] sudah tutup, dan Superindo sedang diserbu orang tadi malam.” Bagaimana dengan mereka yang bekerja untuk makan hari itu juga? Berapa banyak yang seperti mereka ini di Jakarta. Kalau satu dua hari, mereka masih tahan- seberapa lama bisa bertahan mereka itu. Kalau yang punya uang saja tidak bisa memperoleh, apalagi yang tak punya uang.

Entah bagaimana keadaan lalu lintas pagi ini. Sejak subuh aku sudah memutuskan untuk berdiam di rumah saja. Anakku kuminta berangkat pagi-pagi menuju Pejambon. Dia membawa koper berisi pakaian untuk 3 hari, siapa tahu jalan akan macet berat dikala pulang, atau banjir semakin membesar. Dia juga bawa aqua dan roti tawar. He he. Alhamdulillah jam 06:45 sudah tiba di Pejambon, setelah melewati Kuningan dengan menyerobot menggunakan jalur bus way dari arah yang berlawanan [yakin amat dia kalau tak ada bis Trans Jakarta dari arah berlawanan].

Sejak tadi hingga kini jam 08:30 aku mencoba menghubungi sekolah atau orang yang ada di sekolah, tetapi selalu gagal. Mungkin lalu lintasnya padat, atau ada kesulitan pada beberapa BTS yang harus dilalui sinyalnya. Karena semenjak kemarin, hubungan SLJJ agak terganggu. Adik-adikku yang di Gresik dan Sumenep hanya bisa menghubungiku melalui HP, tidak bisa lewat telepon rumah.

Semoga sesudah banjir ini, tidak diikuti dengan serangkaian gangguan penyakit kepada masyarakat yang tertimpa bencana ini, misalnya ISPA [infeksi saluran pernafasan akut] atau diare, yang biasanya selalu mengikuti. Dan PUSKESMAS serta Rumah Sakit sudah bisa mengantisipasinya dengan lebih baik.

Tadi malam terjadi pula gempa di Halmahera. Semoga tidak ada gempa besar [lebih dari 6 SR – skala Richter] di sekitar Jawa Barat, apalagi dengan kedalaman yang dangkal [sekitar 10 km]. Karena dengan kondisi tanah yang sudah jenuh dengan air [saturated], dan berkurangnya angle of repose, maka longsor akibat adanya goncangan akan sangat mudah terjadi dan bisa jauh lebih fatal akibatnya. Laa yukallifu Llahu nafsan illa wus’aha.

Itulah janji Allah. Entah yang sekarang ini apa, cobaan atau siksa. Ampuni dan maafkan kami semua ya Allah.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

05 Februari 2007

 

 

Catatan :

Dan ternyata 6 tahun kemudian,– yaitu beberapa hari yang lalu – di awal Februari 2013 banjir terulang lagi, bahkan ada yang masuk ke basement berlantai tiga suatu bangunan di jalan protokol.

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: