CERITA PAGI – 31

 

Si Janggut Endek”, penggal kata ini sempat muncul dalam cerita sebelumnya, beberapa waktu yang lalu. Alkissah, pada masa itu ada juragan becak, Yok Sia sepasang suami istri yang berdomisili di ujung Kampung Kemasan, Pekelingan, Gresik. Mereka adalah warga keturunan Cina, yang dikarunai beberapa orang anak. Dekat dengan rumah mereka, di seberang jalan, di ex-Pabrik Karet [begitu masyarakat mengenalnya waktu itu] juga ada juragan becak yang sudah memekarkan usahanya hingga menjadi juragan truk, yaitu MTH [alias Mat Toha] seorang wiraswasta yang memulai usahanya dari kecil. Konon dia berasal dari desa Karangkering, yaitu lokasi dimana pabrik Sumber Mas Plywood berada sekarang. Sebelum menempati lokasi tersebut, MTH menempati bangunan milik keluarga Ning Sah [Nyonya Maria] di ujung Kampong Ombo, Bedilan.

Keberhasilan usaha perbecakan, membuat becaknya semakin banyak. Boleh dikata, dia adalah pengusaha becak terbesar di Gresik kala itu. Mungkin menguasai lebih dari 50% becak yang ada di Gresik. Seperti biasanya, setiap pengusaha selalu memiliki kecenderungan untuk memperluas usahanya. Bermacam-macam bisa dilakukan. Ada yang mendiversivikasi usahanya secara horisontal, misalnya dengan membuka usaha sejenis di tempat lain, atau diversifikasi secara vertikal baik ke arah hulu maupun ke arah hilir. Atau bahkan merambah ke usaha yang lain lagi. MTH rupanya memilih ke bidang usaha yang sejenis, masih di transportasi, tetapi sekarang transportasi dengan menggunakan vrachtauto atau prahoto [berasal dari bahasa Belanda] atau sekarang lazim disebut truk [berasal dari truck yang berbahasa Inggris].

Memang saat itu, yang punya prahoto, adalah PJT dan KIS. Keduanya adalah Cina yang berdagang palawija dan meracang, dan prahotonya sudah habis waktunya untuk mengangkut barang dagangannya sendiri. PJT adalah kependekan dari Poo Joe Tjoo, pedagang palawija yang cukup besar atau bahkan terbesar di Gresik. Dia tidak berjualan eceran, tetapi hanya sebagai pedagang perantara. Membeli hasil tanaman dari desa dan menjualnya ke pengumpul yang lebih besar, sebaliknya dia mendistribusikan barang lain ke desa seperti gula, lemon, beras dan minyak kelapa serta minyak tanah. Rumah yang juga merangkap gudangnya, berada diantara toko Shanghai dan Toko Tiga dan Afrika [keluarga Haji Masduki]. Kalau KIS saya tak tahu nama panjangnya, selain meracang juga jualan es balok. Es nya didatangkan dari Surabaya, dan diangkut dengan truk tersebut.

Suatu hari, konon Sja’roni [anaknya cak Nan Kopi, Pekelingan] yang bertetangga dengan Yok Sia tadi, melempar mercon ke anaknya PJT yang sedang ada di depan rumahnya. Rumahnya, besar dan tembus sampai ke kampung Karangpoh. Anaknya PJT tidak terima dan entah memukul atau mengapakan Sja’roni tadi. Kemudian hal itu menjadi pemicu peristiwa perusakan rumah / gudangnya yang cukup menghebohkan dan mencekam Gresik di kala itu. Semua harta bendanya di rusak, untung tak di bakar.

Saya sendiri masih kecil, masih SD. Dan mengetahui kejadian tersebut karena terbangun ada ribut-ribut di jalan depan rumah Garling, yang cukup jauh dari rumahnya PJT. Rupanya polisi yang ada, yang jumlahnya terbatas tidak dapat mengatasi kerusuhan tersebut, sehingga didatangkan sejumlah polisi dari markas [Polres] yang berada di Kembang Kuning [jalan Diponegoro, Surabaya]. Saat itu didatangkan [entah sebanyak apa, setingkat regu, peleton atau SSK – satuan setingkat kompi] MOBRIG [mobile brigade] – yang namanya sekarang dibalik menjadi Brigade Mobil alias BRIMOB. Setelah aman, mereka kembali ke Surabaya, dan kemudian di Gresik ada polisi PERINTIS yang ditempatkan di tangsinya.

MTH tak begitu sukses dalam mengelola usaha angkutan dengan menggunakan truk tersebut. Dan entah kemudian bagaimana nasibnya. Aku tak mengikuti masa pudarnya, karena mungkin sudah merantau ke Bandung. Sepertinya becaknya sudah dijual, dan truknya tidak bertambah. Rupanya ada perbedaan pola penanganan antara mengelola becak dengan mengelola truk, walau sama-sama masih di bidang angkutan. Entah bagaimana nasibnya LORENA dan KARINA yang kita tahu saat ini cukup menguasasi pangsa angkutan penumpang dengan bis eksekutif dari Bogor, Jakarta  menuju ke kota-kota lain di Jawa, Madura dan Bali, dan bahkan ke Sumatra. Kemudian merambah bisnis angkutan paket cepat. Dan dalam iklan di KOMPAS beberapa waktu yang lalu, sepertinya perusahaan itu akan mengembangkan sayapnya ke dunia penerbangan. Semoga tak seperti MTH ya.

Barangkali, kita juga harus waspada benar akan perilaku yang berbeda dalam pengelolaan usaha yang sejenis, tetapi memiliki ciri-ciri yang berbeda. Mengelola TK, mungkin beda dengan SD. Begitu pula mengelola SD akan berbeda dengan SMP. Dan SMP juga memiliki perbedaan dengan SMA. Dan tentunya dengan perguruan tinggi, baik itu akademi maupun universitas. Ya kesemuanya itu sama-sama pengelolaan sekolah, tetapi sifat-sifat dan ciri-ciri dari masing-masing tingkatan yang berbeda perlu dipahami dengan sebaik-baiknya, dan dikelola perbedaannya agar kita tidak mengalami nasib yang sama dengan MTH. Kita tumbuh mulai dari mengelola SMA Boarding, kemudian membentuk SD diikuti dengan mengelola Pre-School dan TK. Dan SD berkembang menjadi SD + SMP. Dan akhirnya setelah SMA Boarding dihentikan, maka jadilah SD + SMP + SMA dalam suatu lokasi. Sedangkan Pre-School dan TK-nya menyusut, dan perlu dipisahkan pengelolaannya.

Mengenali persamaan dan perbedaan dari masing-masing bidang usaha, merupakan langkah awal guna menghindari diri dari kesalahan penanganan. Dan harus dipikirkan dengan tenang dan matang. Belajar dari pengalaman orang lain, konon merupakan sesuatu petuah dari orang-orang tua. Experience is the best teacher. Begitu kata-kata yang pernah diajarkan oleh guru bahasa Inggris ketika masih di SMP dulu, selain Slowly but sure. Yang terakhir ini beda lho dengan Alon waton kelakon.

Kalau tidak salah, suami-istri Cina pengusaha becak tadi biasa dipanggil sebagai Yok Sia. Saya tidak begitu mengenali wajah yang lelaki, hanya yang perempuan yang agak memahami – setelah kejadian tersebut – dengan postur tubuh agak gendut sebagaimana kebanyakan Cina perempuan yang sudah berumur. “Si Janggut Endek” ini adalah seorang tukang becak kepercayaan si tauke. Dia selalu terlihat mengantarkan anak-anak taukenya ke sekolahnya di Bandaran / Pecinan dan menjemputnya kembali. Dia di sebut “Si Janggut Endek” oleh adik-adikku karena memang keadaan fisik dagunya yang agak berbeda dengan yang lainnya.

Rupanya sore itu terjadi pertengkaran yang cukup seru. Entah antara tauke lelaki dengan tauke perempuan, atau mungkin juga pertengkaran segi-tiga yang melibatkan “Si Janggut Endek”. Mungkin pertengkaran suami istri yang bermula dari keberadaan “Si Janggut Endek” sebagai prima causa. Atau pertengkaran suami-isteri dan kemudian “Si Janggut Endek” membela sang tauke perempuan. Entahlah. Dan rupanya keributan itu berakhir dengan dihunjamkannya belati [biasanya yang terkenal ya Cap Garpu, buatan Jerman] oleh “Si Janggut Endek”. Dan kemudian “Si Janggut Endek” melarikan diri menuju ke tangsi polisi [kalau melihat arah larinya yang menuju ke sana, dan bukannya ke arah utara yang tentunya lebih sepi dan akan lebih sulit dicari]. Menyerahkan diri setelah terpaksa membunuh orang lain, biasa dilakukan oleh etnisnya “Si Janggut Endek” ini. “Si Janggut Endek” kemudian tentu ditahan, dan setelah melalui proses pengadilan dia dipenjara entah berapa lama. Setelah dia keluar dari penjara, kemudian kembali bekerja ke tauke perempuan yang masih menjalankan usaha becak.

Kalau melihat seperti itu, mungkin pembunuhan itu dilakukan untuk membela tauke perempuan. Kalau tidak, kan tak mungkin si tauke perempuan akan menerima seseorang yang telah membunuh suaminya. Entah penyebab pertengkaran itu apa. Pada saat itu belum ada istilah perselingkuhan, PIL atau WIL. Atau ada cerita lain di balik itu, tak tahulah. Apa iya, apa mungkin “Si Janggut Endek” itu PIL-nya si tauke perempuan. Wa Allahu a’lam.

Begitulah alur suatu pemikiran dalam otak kita. Tidak bersifat linear, tetapi bisa bercabang ke mana-mana, layaknya suatu bentuk dahan-cabang-ranting-pucuk daun suatu pohon yang rimbun. Tergantung proses berpikir apa yang sedang dilakukannya. Bisa kita arahkan agar divergen dan bercabang-cabang, jika kita sedang mengeksplorasi sesuatu. Dan untuk mempermudah dalam mengingatnya, dan mengefektifkan eksplorasi yang kita lakukan, Tony Buzan menganjurkan cara mind-mapping [sudah tahu dan mempraktekkannya belum?]. Sedang untuk mengambil keputusan, tentunya harus sebaliknya, konvergen atau menyempit, setelah sebelumnya mengeksplorasi secara divergen dan bercabang-cabang. Pernah tahu dengan tentang Master Thinker karya Edward de Bono? Itulah pengarang Six Hats yang terkenal, dan buku-buku lainnya.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

28 Januari 2007

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: