CERITA PAGI – 30

 

Shalat Jumat bisa kita lakukan dimana-mana. Ada orang yang memilih masjid yang terdekat, ada pula yang memilih karena kenyamanan yang diberikan dalam suatu masjid, atau karena khatib yang biasa berkhutbah di masjid tersebut. Bahkan masjid yang jauhpun, kadangkala tidak memupus keinginan seperti itu. Ada pula orang yang sengaja berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid yang lain. Shalat Jumat juga banyak dilakukan di komplek perkantoran, walau belum memiliki masjid secara khusus, misalnya dengan mengubah suatu fungsi ruangan yang besar untuk digunakan melaksanakan shalat Jumat, tentunya siang hari itu saja.

Hari Jumat merupakan hari kerja di Indonesia. Sehingga banyak kita temui masyarakat mengadakan shalat Jumat di komplek perkantoran, yang banyak terdapat di pusat-pusat bisnis atau wilayah perkantoran. Hampir setiap gedung bertingkat tinggi, menyelenggarakan shalat Jumat di salah satu lantai gedung tersebut. Suatu hal yang tidak kita temui tiga puluh atau empat puluh tahun silam. Bahkan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia masing-masing memiliki masjid untuk penyelenggaraan shalat Jumat di masing-masing komplek istananya.

Kantorku terletak di wilayah perkantoran, dan ada dua tempat untuk melaksanakan shalat Jumat, yang saling berdekatan. Tidak lebih dari 100 meter jaraknya, pada suatu sisi jalan yang sama. Yang satu di komplek gedung pertemuan milik para pensiunan polisi, dan yang satu di masjid komplek Polisi Resort Jakarta Selatan. Yang satu berfasilitas tata udara, yang satu sedang dalam tahap pembangunan kembali [dirobohkan dan sedang dibangun kembali menjadi dua lantai dan lebih luas]. Keduanya sama-sama dipenuhi jamaah, hingga membludak ke luar sampai ke halaman parkir. Aku sendiri sering bergantian antara yang satu dengan yang lain, bila tidak sedang ke Parung.

Kemarin aku shalat di masjid yang sedang dibangun di halaman Kantor POLRES Jaksel ini, dan sengaja memilih di bagian luar yang bertenda, karena aku masih menggunakan kursi guna duduk ketika bersujud mengingat keterbatasan gerak pada lututku. Walau ruangan masjid yang di dalam masih kosong. Ketika aku datang, pengeras suara baru memperdengarkan alunan surah Yaa Sin, yang dibacakan oleh seseorang [bukan dari rekaman kaset atau CD, seperti yang sering terjadi]. Walau kadang-kadang ada bacaan bagian-bagian yang terdengar kurang pas, pada panjang-pendek pengucapannya, sehingga agak janggal di telinga. Tetapi ini jauh lebih baik dari pada kita mendengar dari kaset. Aku sendiri mencoba mengikutinya, sambil mencoba menyamai bacaannya. Umumnya, aku mengalami kesulitan untuk memulai ayat berikutnya. Tetapi setelah mendengar awal ayat, seringkali bisa meneruskan dan mengalami kesulitan pada saat di ujung akhir ayatnya. Begitulah kalau hafalannya tidak tuntas. Hanya karena dahulu sering membaca di waktu kecil setiap malam Jumat selepas shalat maghrib. Tak terbayangkan olehku, bagaimana retrieval system dalam benak para hifdzil Qur’an, yang walau disela oleh ruku’, i’tidal, sujud, duduk antara dua sujud, sujud, al-Fatihah, masih bisa melanjutkan dengan pas. Subhan Allah.

Karena di komplek POLRES, tentu banyak polisi yang ikut shalat berjamaah, walau mereka kemudian menjadi kelompok minoritas [karena lebih banyak jamaah yang bukan anggota]. Ada yang dengan pakaian dinasnya, walau tanpa topi. Ada yang ganti bajunya saja. Ada pula yang berganti pakaian secara keseluruhan, tetapi masih terlihat bahwa dia adalah anggota polisi dari bentuk tubuh dan potongan rambutnya. Mahasiswa, terutama dari tempat perkuliahan yang ada di seberang POLRES, merupakan bagian jamaah masjid ini, terlihat dari cara berpakaian dan ransel yang dibawanya.

Asyik juga memperhatikan ragam jamaah yang berdatangan. Beragam pula alas kaki yang mereka kenakan. Tetapi aku menjadi tersentak dan memastikan pandanganku, ketika seorang anggota yang berpakaian dinas mengikatkan sandal jepitnya dengan seutas benang [bekas benangan] yang biasa dipakai oleh tukang bangunan, yang masih terikat pada paku yang tertancap di dinding batu bata yang belum di plester. Hal ini membuat mulutku yang bergumam mengikuti ayat-ayat yang dibacakan, sempat terhenti, karena mencoba memikirkan dan membayangkan proses pemikiran atau hal yang memotivasi sang anggota untuk melakukan apa yang terlihat olehku.

Jika dia melakukannya karena takut sandal jepitnya hilang, maka ini merupakan suatu bencana yang dahsyat. Bagaimana tidak, seorang anggota polisi merasa khawatir sandal jepitnya akan hilang ketika menunaikan shalat Jumat di masjid yang justru terletak di halaman kantornya sendiri. Bagaimana dengan masyarakat. Karena, kalaupun ada orang kepepet yang berniat mencuri sandal, tentu bukan sandal jepit yang menjadi sasarannya, dan tentu akan memilih masjid lain sebagai tempat operasinya. Terlalu nekat [atau malah justru lebih aman] untuk mencuri sandal di kantor polisi. Yah, namanya orang yang berniat mencuri [atau mencopet atau menipu atau apapun istilahnya] biasanya tidak memandang tempat, dan mereka bisa memanfaatkan kondisi psikologis calon korbannya. Bukanlah dari cerita jemaah haji, ada saja yang kehilangan [dengan bekas siletan pada kantong ‘sabuk abang Jampang’ yang dikenakannya] ketika melakukan thawaf di Masjidi al-Haram.

Keadaan kurang aman inilah yang kemudian menumbuhkan jasa penitipan sandal atau sepatu di masjid-masjid, terutama yang banyak dikunjungi oleh jamaah yang menggunakan sepatu [dan sepatu yang mahal-mahal lagi, yang biasa dikenakan oleh para eksekutif]. Baik jasa yang disediakan oleh pengurus ta’mir masjid secara gratis, atau yang diselenggarakan oleh sekelompok ‘sukarelawan’. Bahkan ada yang sekaligus memberikan jasa penyemiran sepatu di kala yang empunya sedang mendengarkan khutbah dan shalat Jumat. Ada juga pengurus masjid yang walau tak menyediakan jasa penitipan, tetapi menyediakan rak-rak terbuka atau bahkan locker yang berkunci [namanya locker ya ada kuncinya lah ya, bukankah lock itu pengunci] guna menyimpan barang-barang jamaah ketika shalat.

Kadang-kadang, yang menjengkelkan dari hilangnya sepatu atau sandal di masjid ketika shalat Jumat itu, bukan pada nilai materi yang hilang. Tetapi lebih pada akibat yang tidak enak yang kita rasakan sebagai dampak dari hilangnya alas kaki tersebut. Mau ‘ambil’ yang lain, koq ya ikut-ikutan nggak bener. Kalau tidak ‘ngambil’ yang lain, membayangkan berjalan diaspal yang panas ketika matahari sedang di atas kepala, adalah sesuatu yang menyakitkan kaki [dan hati juga ya]. Ada orang yang menunggu sampai jamaah habis, dan yang tersisa itu adalah alas kaki yang semula dipakai oleh yang ‘memakai’ alas kaki punya kita. Dan biasanya, berdampingan dengan letak alas kaki kita.

Hilangnya alas kaki di masjid, ketika berlangsungnya shalat Jumat, sudah ada semenjak jaman dulu. Bahkan ketika jamaah masih banyak menggunakan kelompen atau bakiak atau teklek atau gamparan. Kesemuanya adalah alas kaki yang terbuat dari bahan kayu. Yang pertama, kedua dan ketiga sebenarnya makhluknya sama, hanya sebutannya saja yang beragam. Kelompen dari bahasa Belanda, klomp atau oleh lidah lokal berubah menjadi kelom dan kelompen. Masih ingatkan, kelom geulis yang banyak dipakai para mojang Priangan, yang populer beberapa dasa warsa silam di daerah Priangan dan daerah lain? Di wilayah Jawa Timur, yang terkenal adalah kelompen atau teklek dari Kediri yang dibuat dari kayu mentaos, yang tahan air, keras tetapi ringan. Alas kayu, dan di atasnya dipasang semacam tali lebar dari bahan kulit atau bekas ban.

Kalau gamparan, alasnya tetap kayu. Hanya tanpa tali lebar atau ‘bando’, melainkan ada kayu silindris yang lebih besar di bagian atasnya [seperti pegangan pintu] yang dipasang pada alas kaki tersebut. Dalam memakainya, pentolan kayu itu dijepit dengan ibu jari dan jari sebelahnya. Perlu keahlian sendiri dalam menggunakannya. Pada waktu aku kecil dulu [setengah abad silam lah], yang memakai gamparan ini adalah orang-orang yang sudah tua. Mungkin dari gamparan ini, yang dipakai untuk memukul lawan atau orang jahat yang tertangkap, timbul istilah “digampar atau menggampar” orang. Kalau masih ada yang jual, aku ingin membelinya. Just to let the younger generation to know about gamparan. The lost item.

Generasi tua dulu, sejaman bapakku, punya kemahiran melemparkan kelompen atau gamparan ini dengan kakinya menuju sasaran guna melumpuhkan lawan. Pernah suatu waktu, selepas maghrib terjadi keributan dari arah utara rumahku [rumah Garling] –perempatan Bata – dengan teriakan-teriakan adanya seorang pembunuh yang berlari ke selatan. Bapakpun keluar, dan melihat orang yang diteriaki tersebut sedang berlari di seberang jalan [lebar 10 meteran]. Dan disaat yang tepat melayanglah kelompen yang dipakainya [istilahnya nyerampang] dan mengenai kaki sang pembunuh. Dan tersungkurlah di dekat gardu listrik yang ada sulingnya, karena keseimbangannya hilang. Dan dia adalah “si janggut endek”, begitu adik-adikku memberikan julukan padanya.

Upaya menangkap “si maling sandal” ini, biasanya justru diprakarsai oleh anak-anak. Karena orang tua, sedang khusuk melakukan shalat. Anak-anak, biasanya shalat di shaf [bukan Sjaaf] yang paling belakang, yang paling berdekatan dengan obyek yang akan dicuri. Biasanya, mereka sudah mencoba menengarai calon pencurinya, dan mencoba mengamati sejak kedatangannya. Si calon pencuri, biasanya datang belakangan menjelang iqamat dikumandangkan, dan pulang paling awal [alias lam-cing, habis salam terus melencing – pergi]. Anak-anak tadi, selama shalat dilakukan, memang sengaja tidak khusuk, karena selalu memperhatikan si suspect [pakai istilah yang populer – suspect flu burung]. Jika memang kemudian si suspect betul-betul melaksanakan niatnya, anak-anak sudah siap berteriak teriak “maling sandal” berulang-ulang. Biasanya, langsung ditangkap oleh jamaah yang sudah kesal dengan ulahnya. Dan bila tertangkap, “habislah” dia. Bogem mentah, ketupat Bengkulu, dan apapun namanya melayang ke wajahnya. Sesudah itu, untuk menimbulkan efek jera, biasanya diarak menuju ke kantor polisi terdekat dengan “dikalungi” kelompen [kelompen diikat dengan tali dan dikalungkan ke leher si pencuri].

Lebih bisa dipastikan, bahwa sang anggota tadi mengikat sandal jepitnya [sandal Jepang, dulu namanya] merupakan upayanya menghindari tertukar dengan sandal lain yang memang banyak ditemui, serupa tapi tak sama. Rupanya sang anggota tadi, teringat salah satu hadis nabi berkenaan dengan sorang badui yang hanya melepaskan saja ontanya tak terikat ketika memasuki masjid. Lalu oleh Rasulullah, disuruh mengikat baru tawakkal. Karena dia datang ke masjid tidak pakai unta, ya sandal jepitnya yang diikat. He he. Nanti kalau proses pembangunannya sudah selesai, dia tidak akan menemukan lagi tali benangan yang terikat paku, diikat pakai apa ya.

Berbagai cara dilakukan jamaah suatu masjid untuk membedakan kelompen atau sandalnya dengan milik orang lain. Mulai dari memberikan paku di tempat tertentu, memberikan inisial namanya dengan melukai atau menghanguskan dengan paku panas, dengan supidol, atau bahkan melukai sandalnya dengan memberi cowakan atau irisan di bagian tertentu. Aku sendiri memiliki cara khusus. Tidak memberikan tanda pada terompah atau sandalku, tetapi meletakkannya secara khusus. Semenjak mendapat kuliah sedikit tentang time and motion study, aku selalu meletakkan sandalku – bukan seperti kebanyakan orang – yang searah dengan kedatangannya, tetapi memutarnya 180o sehingga mudah dikenali, dan memudahkan ketika mau pulang. Waktu datang kan masih sepi dan datangnya satu-satu, jadi proses memutar badan, tidaklah menimbulkan gangguan dan hambatan bagi orang lain. Sedangkan waktu pulang, orang berurutan dan berdesakan, sehingga memutar badan di saat itu akan menimbulkan hambatan atau friction, dan menyebabkan turbulensi sehingga timbul kelambatan secara keseluruhan.

Di masjid atau mushollah, suatu tempat yang suci dan disucikan, orang masih berani melakukan pencurian. Bukan saja di halaman, tetapi di dalam masjidnya sendiri. Pernah celengan [kotak infak dan sodaqoh] yang besar di masjid Giri [masjid di makam Sunan Giri] di rampok orang, dan juga di masjid lain. Karena besarnya, dan tak akan kuat mengangkat atau pasti ketahuan orang, maka mereka membongkar gemboknya dan mengambil uang yang ada di dalamnya. Bahkan beberapa waktu yang lalu, ada yang “mengail” melalui lubang pemasukannya. Masya Allah. Begitu juga barang-barang milik pribadi, seperti tas dan lain-lain.

Seorang temanku selesai shalat di mushollah suatu pertokoan, dihampiri seseorang untuk meminjam mukenanya. Mau tidak dipinjami, bagaimana – dipinjami kan harus menunggu dia shalat. Di saat dia bimbang, dan kemudian mengambil keputusan [lupa YES or NO], ternyata tasnya sudah raib. Mungkin itu suatu taktik dari kelompok pencuri, untuk mengalihkan perhatian seseorang calon korbannya.

Lain lagi dengan cerita seorang guru yang mengantar siswanya melakukan study tour atau field trip ke luar kota. Kebetulan sang guru mendapat tugas tambahan dari sekolahnya untuk mendokumentasikan kegiatan tersebut. Pada waktu melakukan shalat, kamera videonya diletakkan disampingnya. Konon, menurut laporan dalam berita acara yang dibuat kemudian, saat dia shalat ada seseorang yang memberitahu bahwa dia menghadap ke arah yang salah dan diberitahu harus memutar ke arah tertentu. Dia mengikuti petunjuk untuk mengubah arah. Wal hasil, setelah selesai salam, dia mendapati kamera videonya telah raib. Mungkin sang guru sudah benar menghadapnya – di semua mushollah kan pasti ada petunjuk arah kiblat [yang benar pakai “q” atau “k” ya, tetapi kalau salah tidak fatal ya. Beda dengan “qalbu” dengan “kalbu”. Ada nama sekolah “nurul kalbu” pada hal tentu maksudnya “nurul qalbu”. Setelah ada yang memberi tahu – dalam suatu pameran – kemudian diganti dengan “nurul qalbu” dan sekarang malah jadi “cahaya hati”. Aman sudah]. Hanya akal-akalannya si pencuri saja, agar bisa mengambil kamera video tersebut. Sekali lagi memanfaatkan keadaan psikologis si calon korban.

Kalau untuk melakukan pekerjaan yang tercela dan terlarang, si pelaku sudah memanfaatkan berbagai ilmu yang mungkin diterapkan untuk mendukung upayanya, tentunya untuk melakukan pekerjaan yang mulia [atau  mulya] haruslah mengimplementasikan perkembangan ilmu yang mutakhir. Adalah suatu paradoks bila untuk pekerjaan mulia kita hanya mendasarkan kegiatan kita berdasar ilmu yang sudah lama dan pengalaman pribadi saja. Untuk itulah, di sekolah kita saat ini dibentuk badan yang diberi nama Research & Development. Tanpa R&D, kiranya kita akan berjalan lambat dan bahkan ‘mundur’ dibanding mereka yang berjalan lebih cepat. Semoga kita selalu berada sebagai “yang terdepan”, setidaknya di negeri kita sendiri. Jago kandang dulu pun boleh, sebelum jadi jago tandang. Kalau di kandang saja belum jago, kan lebih payah lagi.

 

Wa Allahu A’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

27 Januari 2007

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: