CERITA PAGI – 29

 

Halima-N-1, bukan begitu menulisnya, walau bunyinya sama. H5N1, begitulah kode yang diberikan untuk mengenali virus yang menghebohkan pada awal abad 21 ini. Betapa tidak, karena kehadirannya dunia menjadi heboh. Dan berbagai persiapan diambil oleh seluruh pemerintah di dunia. Baik yang ternaknya belum mengalami kematian mendadak, apalagi tentunya para pemimpin negara yang bukan saja ternak unggas atau unggas liarnya yang mati mendadak, tetapi juga warganya. Seperti negara kita, dimana sekarang sudah menduduki rekor tertinggi jumlah meninggal dunia, sudah menyalip Vietnam dan China yang sebelum ini menjadi jawaranya. Mengapa dalam hal yang begini, negara kita justru menjadi juaranya, menduduki tempat tertinggi, dan dengan mudah mengalahkan Vietnam dan China. Mengapa tidak dibidang lain yang memerlukan upaya dan usaha. Jawabannya mudah, karena kita lengah dan membiarkannya. Kalaupun menangani, yah seperti biasanya, hanya dengan “setengah hati”.

Siapapun yang memimpin negeri ini, apakah SBY, Mega, Gus Dur, Habibie, Soeharto atau Sukarno, tentu akan mengalami kesulitan. Yang kita hadapi agak beda dengan penyakit yang dibasmi pada awal tahun 50-an sampai awal 60-an, yaitu penyakit yang disebabkan oleh nyamuk apapun, yaitu Malaria. Pada zaman itu, walau dengan teknologi yang masih sederhana – belum secanggih sekarang ini – secara serentak memberantasnya. Dengan mobil dobel-gardan buatan Amerika yang dicat berwarna hijau tua, apakah itu jeep yang kecil [yang berasal dari GP, general purpose, yang dibaca je-pe, dan berubah jadi jeep, yang menjadi trade-mark], maupun power wagon yang besar, kendaraan itu memasuki pelosok-pelosok nusantara untuk mendistribusikan, dan mengawasi penggunaan DDT, yang merupakan singkatan dari senyawa dichlorodiphenyltrichloroethane, bubuk putih yang ampuh melawan nyamuk. Tetapi senyawa ini kemudian dilarang penggunaannya pada 1973, karena dampaknya berjangka panjang.

Kondisinya sangat berbeda. Nyamuk yang kecil itu, walau tidak membawa atau menyebarkan malaria, sudah tidak disukai keberadaannya oleh manusia melalui gigitannya. Apalagi yang berbintik-bintik – yang dinamai dudo-bantat, [pada hal katanya nyamuk yang menggigit orang untuk mengisap darah itu, adalah berkelamin betina] yang kalau menggigit menyebabkan bentol-bentil di permukaan kulit. Juga sekarang ini, marga tertentu dari nyamuk tersebut, yang diduga berasal dari negerinya Cleopatra atau negerinya Firaun, Aëdes aegypti [karena namanya mengandung kata egypt – kata lain dari Mesir]. Karena tidak ada masyarakat yang dengan sengaja memelihara nyamuk, jadi kalau diberantas, ya OKE-OKE saja. Beda dengan si unggas, khususnya ayam dan bebek maupun entog atau mentog.

Memang sejak lama, masyarakat kita telah hidup bersama unggas, baik yang dipelihara dalam sangkar maupun yang dipelihara secara bebas di halaman [ketika mereka hidup di pedesaan yang masih memiliki halaman]. Mulai dari burung perkutut, burung bernyani, maupun burung yang indah bulunya. Mulai dari ayam kampung alias buras, ayam ras atau sribombok dan kawan-kawannya seperti leghorn atau lainnya, sampai ayam bekisar hasil perkawinan silang antara ayam hutan jantan dengan ayam kampung [pada saat bulan purnama?. Memangnya ayam akan kumpul di malam hari, mereka tidur, tidak seperti kita]. Dimana binatang-binatang peliharaan itu memiliki harga jual yang tidak masuk akal orang yang tidak memiliki hobi seperti itu. Banyak cerita ada burung ditawar untuk diganti mercy, motor atau barang berharga lainnya.

Malah, hubungan antara manusia dan unggas itu bukan sekedar hubungan karena alasan ekonomi, tetapi sudah jauh masuk ke wilayah hubungan emosional antara yang dipelihara dan yang memelihara. Masalahnya akan bertambah sulit. Sejak anak kecil belum bisa berjalan, ada kebiasaan untuk memberikan anak ayam [bahkan mungkin masih DOC – day one chicken] – kuthuk [?] – sebagai binatang peliharaan si anak, yang selalu berdampingan dengannya.

Unggas yang dipelihara di rumah, sebenarnya berfungsi sebagai pendaur ulang, dan juga sebagai protein-generator. Melalui unggas itulah, sisa-sisa makanan dan sampah dapur [yang sebagian besar adalah karbohidrat dan selulose], akan mengalami biological-processes untuk diubah menjadi protein, dalam bentuk telur yang dihasilkan 2 atau 3 hari sebutir. Atau daging unggas itu sendiri, bilamana diperlukan untuk kenduri atau selamatan tertentu. Dan ini merupakan suatu cara untuk meningkatkan gizi masyarakat, yang dipromosikan oleh PKK pada zaman pak Harto dulu. Walau kita sering risih juga, jika berjalan kaki dan bertemu dengan tinja dari ayam atau bebek yang bertebaran di jalan, yang karena saking banyaknya sehingga sulit dihindari. Apalagi kotoran ayam, yang dikenal sebagai tembelek lantung, yang agak cair dan berwarna coklat dengan bau yang sangat menyengat.

Ya ada manfaat, tetapi juga ada madharat. Dahulu digalakkan, karena manfaat lebih besar dari madharat. Tetapi ketika posisi itu bergeser menjadi madharat yang lebih besar dari manfaat, maka kebijakan lama tentu harus ditinjau ulang. Dan Allah swt telah memberikan contoh, seperti halnya pada hamr. Memahami hal ini, kadangkala tidaklah mudah, terutama bagi masyarakat yang kurang terinformasi. Jika, avian influenza atau lebih populer dengan flu burung ini, seperti flu yang biasa menyerang seperti sekarang ini, sebentar datang dan kemudian pergi, mungkin dunia dan pemerintah tidak seheboh sekarang. Dan bagi yang well-informed, bisa akan menjadi sangat heboh. Kalau sekarang ini, si H5N1 itu baru berpindah dari binatang ke binatang, dan dari binatang ke manusia, boleh dikata tidaklah seberapa. Belum menjadi penyakit yang menyebar dari manusia ke manusia. Dan inilah yang dikhawatirkan banyak pihak. Dan upaya yang dilakukan sekarang ini, adalah agar si H5N1 itu tidak memiliki kesempatan untuk mengubah dirinya sehingga mampu berpindah antar manusia. Makin banyak dan makin lama H5N1 berada di manusia, kemungkinan mengubah dirinya [atau mutasi] itu membesar.

Inilah kutipan dari Encarta tentang pandemi yang ditakutkan akan terjadi dengan berubahnya H5N1 sehingga bisa menular dari manusia ke manusia.

In the 20th century, major pandemics occurred in 1918-1919, 1957-1958, and 1968-1969. The 1918-1919 pandemic was the most destructive in recorded history. It started as World War I (1914-1918) was ending and caused 20 million deaths—twice as many deaths as the war itself. When and where the pandemic began is uncertain, but because Spain experienced the first major outbreak, the disease came to be called the Spanish flu. The virus was exceptionally lethal; many of the deaths were among young adults age 20 to 40, a group usually not severely affected by influenza.

In 1957 a flu outbreak occurred in Guizhou, a province in southwestern China. Within six months, most areas of the world were battling what became known as Asian flu. Before the 1957-1958 pandemic subsided, an estimated 10 to 35 percent of the world’s population had been affected. The overall mortality rate, however, was comparatively low.

About a decade later, a variant of the virus that caused the 1957-1958 pandemic originated in either Guizhou or Yunnan province in southern China. The variant was first isolated and identified in Hong Kong in July 1968. Within a few months, cases of this Hong Kong flu appeared around the world. Hardest hit by the pandemic were children under age 5 and adults aged 45 to 64. In the United States, an estimated 30 million people were infected and there were some 33,000 influenza-related deaths.

No additional pandemics occurred during the 20th century, but public health experts expect that there will be more pandemics in coming years. While scientists do not yet know how to accurately predict flu outbreaks, they have established an international network to track and monitor outbreaks so that health officials can take immediate preventive measures to avoid pandemics. The international network, called FluNet, consists of about 110 influenza centers in more than 80 countries and several World Health Organization (WHO) centers, all linked electronically.

Microsoft ® Encarta ® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Dengan teknologi pengobatan yang semakin maju, kita semua berharap korban akibat flu-burung [bila pandemi itu betul-betul terjadi] semoga tidaklah sebanyak dimasa lalu. Tetapi beberapa masalah masih merupakan kendala. Bukan untuk menakut-nakuti anda semua, tetapi agar lebih waspada. Kita sebagai ummat beragama, wajib untuk berusaha. Perkara hasilnya, kita serahkan – tawakkal – kepada Allah. Para ahli mengandalkan vaksin yang bisa dibuatnya guna mencegah merebaknya wabah atau pandemi influensa ini. Tetapi, perlu kita ketahui bahwa

  • vaksin untuk melawan suatu virus, baru bisa dibuat setelah ada virusnya;
  • kalau virusnya belum ada, maka vaksinnya belum bisa diproduksi;
  • kalau virusnya sudah ada [mutan dari H5N1 yang bisa menular antar manusia], butuh waktu untuk menyiapkan vaksinnya;
  • produksi vaksin memiliki kecepatan tertentu, karena prosesnya melalui pengembang-biakan;
  • pabrik vaksin kebanyakan perusahaan kecil dan dengan produksi terbatas;
  • pada waktu yang sama, virus sudah menyebar kemana-mana [apalagi dengan tingkat mobilitas manusia yang semakin tinggi saat ini] dan bisa menginfeksi separoh penduduk dunia dalam waktu hanya beberapa hari saja], tanpa pandang bulu apa jabatan dan pekerjaannya;
  • vaksin yang ada tidak cukup untuk mevaksin semua penduduk bumi, sehingga harus dipilih-pilih siapa yang berhak mendapat vaksin lebih dahulu;
  • hal yang menyangkut nyawa ini bisa menimbulkan kerusuhan sosial – terutama di Indonesia ini – karena antrian subsidi tunai yang 100 ribu bisa tengkar dan bunuh-bunuhan, apalagi yang menyangkut nyawa keluarga;
  • dari yang terinfeksi, separohnya lagi perlu perawatan rumah sakit, dan rumah sakitnya tidak cukup;
  • penentu kebijakan, dokter dan pegawai rumah sakit sebagian malah harus dirawat di rumah sakitnya sendiri;
  • sebagian yang dirawat di rumah sakit – bisa sepertiga atau separoh – meninggal dunia.

 

Dan seperti biasanya, justru korban akan lebih banyak terjadi di wilayah yang kurang baik penanganan dan pengelolaannya. Apalagi dengan banyak penduduknya, dan padat lagi.

Kalau untuk melawan nyamuk, yang barangnya – sorry, makhluknya – kelihatan saja sudah sangat merepotkan. Apalagi menghadapi virus, makhluknya ghaib [tak terlihat] walau nyata ada dan bisa mengalahkan kita.

Kalau hal itu suatu saat terjadi, walau bukan hasil mutasi H5N1, tetapi pandemi apapun yang kemungkinan akan terjadi [dan pasti akan terjadi, entah kapan dan dimana mulainya], konon cara yang cukup ampuh dan disarankan, adalah menghindari kerumunan, atau bahkan yang ekstreem, mengurung diri dalam rumah. Berapa lama? Sehari, tiga hari, seminggu, empatpuluh hari, seratus hari atau seribu hari? Wa Allahu a’lam.

Orang tidak akan pergi bekerja, orang tak ke pasar. Mall tutup, bioskop tutup, kendaraan umum tak ada penumpang. Apalagi sekolah, mulai dari kelompok bermain, sampai perguruan tinggi. Lalu kalau tenaga para medis, sudah tidak berani keluar rumah, siapa yang akan merawat orang sakit yang harus diisolasi?. Semua orang takut untuk bertemu orang lain. Hanya berani bertemu dengan keluarga serumah saja. Mungkin, melongokkan kepala ke luar rumah, akan menjadi sesuatu yang menakutkan. Sungguh tak terbayangkan keadaan seperti itu. Karena virus itu bisa terbang megikuti aliran udara yang disemprotkan oleh penderita yang bernafas, yang batuk, yang bersin. Kemana-mana orang memakai masker, tetapi apakah masker akan mampu menyaring virus? Seperti waktu merebaknya SARS beberapa tahun yang lalu. Seorang dokter mati, karena tertulari oleh pasien yang dirawatnya. No guarantee.

Lalu orang meninggal, siapa yang akan menguburnya? Siapa yang akan memandikan, mengkafani, dan menshalatkannya? Siapa? Mungkin orang yang pulang mengantar jenazah ke kubur, sebentar lagi dia akan diantar ke liang yang bersebelahan. Keadaan yang menakutkan semacam itu, konon pernah terjadi di negeri ini beberapa puluh tahun silam, yang disebut penyakit tha’un oleh kalangan masyarakat pesisir, dan disebut cholera oleh kalangan akademisi. Kalau yang ini disebabkan oleh bakteri [sedikit lebih besar dari virus], yang berkembang karena kekumuhan akibat kekurangan air bersih dan ketiadaan fasilitas penanganan kotoran manusia atau sampah-sampah.

Tentunya kita tidak boleh berpangku tangan berdiam diri. Semua dunia ribut menghadapi kemungkinan menularnya flu burung antar manusia. Beberapa waktu yang lalu, ditengarai sudah ke babi [yang dibeberapa daerah tertentu sebagai binatang rumahan], dan sekarang ke anjing dan kucing [yang menjadi binatang rumahan di seluruh dunia]. Semakin dekat dengan manusia. Sejauh ini, walau sudah ada beberapa orang dalam satu keluarga yang menjadi korban flu burung, tetapi itu belum penularan antar manusia. Karena, belum ada petugas medis yang tertulari. Masih dari unggas ke manusia. Mungkin satu unggas ke banyak manusia. Sudah one-to-many, tetapi masih belum man-to-men.

Pencegahan jauh lebih baik dari pengobatan. Dan untuk mencegah berlangsungnya penularan, pemutusan mata rantai adalah satu-satunya yang efektif. Tetapi apa dan dimana mata rantai itu harus diputuskan? Satu burung gereja saja ditemukan mati di sekolah, sekolah diliburkan seminggu. Disemprot seluruhnya. Itu burung liar, apalagi unggas peliharaan. Itu beberapa bulan atau setahun yang lalu di wilayah Margasatwa [Bon-Bin nya Jakarta]. Sekarang ini, salah satu korban tinggalnya di Mampang Prapatan atau Warung Buncit atau Tegal Parang, yang berada di pinggiran segi-tiga-emasnya Jakarta. Daerah padat, di tengah pusat kota, tetapi dengan kehidupan a la kampoeng pedesaan.

Seekor atau dua ekor, bahkan sepuluh ayam dimusnahkan, mungkin tak berarti bagi seseorang yang mempunyai harta senilai ribuan ayam. Tetapi bila dua ekor ayam itu, adalah satu-satunya ternak yang dimiliki, dengan total asset tak lebih dari sepuluh ayam, maka tentu akan menolak untuk meniadakan kedua ekor tersebut. Disinilah sumber permasalahan penolakan peniadaan ayam di perkampungan itu. Tetapi seribu nyawa ayam tentu tak terbandingkan dengan nyawa seorang anak manusia. Akankah kita menunggu korban berjatuhan lebih banyak untuk sadar akan bahaya avian flu ini? Kalau ayam, entog dan bebek langkahnya masih terbatas, bagaimana dengan burung merpati yang bisa terbang jauh, bahkan sengaja dibonceng sepeda untuk diterbangkan jauh dari pegupon [bekupon]-nya.

Jumat 19 Januari 07 sore di wilayah Kemang, aku melihat mobil pick-up milik kelurahan setempat mengangkut beberapa kandang unggas, sebagian sudah kosong dan yang sebagian lagi masih ada beberapa ekor burung merpati, untuk dikumpulkan di halaman Kantor Kelurahan. Mungkin akan dipakai sebagai sarana upacara pemusnahan di lingkungan kelurahan tersebut. Seberani apapun seseorang, kalau ketemu akan mati tentu akan berfikir lain. Kalau ada seorang anggota keluarga yang meninggal, barulah seseorang akan merasakan dampak dari flu burung ini. Dan mungkin akan getol memerangi flu burung, dengan mencegahnya. Apakah kita akan menunggu korban lain, dan bahkan menunggu korban itu dari keluarga kita sendiri? Terlalu mahal bukan?

Yang aku khawatirkan, karena emosi masyarakat kita ini sangat mudah disulut. Oleh hal yang sepele saja, bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Selama ini orang yang terkena flu burung [apakah suspect atau betul-betul korban] adalah akibat ulahnya sendiri, bisa karena dia memelihara, kontak dengan ayam yang sakit, yang ayam itu miliknya sendiri. Paling-paling menyesali diri sendiri. Bagaimana kalau seandainya, penyebabnya adalah unggas milik tetangga, yang tidak ada hubungan darah sama sekali? Lalu ada yang ngompori, apa tidak pecah perang antar tetangga? Lalu siapa yang untung.  Orang yang menghendaki kekacauan, dan ingin menangguk ikan di air keruh.

Menjelaskan kemungkinan dampak terburuk akan avian flu ini, bukanlah untuk menakut-nakuti masyarakat. Tetapi untuk membuatnya waspada, aware dan alert tentang bahayanya. Kewajiban yang mengetahui untuk memberitahukan kepada yang tidak mengetahui. Peran tokoh informal, yang selama ini masih dianggap netral oleh masyarakat, akanlah sangat berarti. Kalau pejabat pemerintah yang memberi tahu, selalu akan disertai dengan prasangka yang bermacam-macam. Pemimpin majlis ta’lim atau pengurus masjid tentunya bisa menyadarkan jamaahnya.

Berdoa, berusaha, berikhtiar diikuti dengan tawakkal, adalah suatu jalan yang bisa kita tempuh untuk menghindari terjadinya pandemi ini di kemudian hari. Semoga Allah swt, memberikan nikmat kesehatan dan menjauhkan kita semua dari berbagai penyakit yang mewabah baik saat ini maupun di masa yang akan datang.

Kalau sudah pernah kena cacar, ada jaminan imunitas bagi mantan penderita yang selamat, tidak akan terkena penyakit itu lagi. Tetapi dengan flu, sifatnya lain. Seminggu yang lalu flu, lusa bisa terjangkit lagi. Karena, virusnya terus bermutasi. Jadi manusia harus, Berpacu dengan Virus, bukan Berpacu dalam Melodi, seperti nama suatu acara di televisi. Disinilah kesigapan pemerintah dan segenap jajaran aparatnya diuji. Mengingat sifat hangat-hangat-tai-ayam yang selama ini selalu melekat sebagai pola tindak aparat kita dalam berbagai hal, seperti pengaturan para PKL, penangan para pengendara sepeda motor, maupun penanganan pedagang asongan di perempatan lampu lalu lintas, alias lampu bangjo.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini, sangatlah strategis. Sangatlah dihargai apabila, masyarakat mau melaksanakan peniadaan unggas ini secara sukarela. Kalaupun masyarakat tidak sukarela, seharusnyalah pemerintah melakukannya secara represif. Thau’an au Karhan. Dengan kerelaan karena ketaatan maupun dengan paksa, haruslah dilakukan oleh pemerintah. Syukur jika pemerintah memberikan ganti untung [bukan rug]i ke masyarakat yang sudah meniadakan unggasnya. Tidak harus dalam bentuk uang tunai yang dihitung per potong, bisa dengan menyediakan insentif secara intensif pada wilayah-wilayah yang yang secara konsisten meniadakan unggas dan memelihara ketiadaan unggas dalam pemukiman. Bisa dengan penyediaan fasilitas penunjang kesehatan, seperti penyediaan air bersih berupa sumur pantek, syukur jika saluran air bersih [tetapi yang mengalir airnya], fasilitas MCK, fasilitas pembuangan air yang lancar dan memadai. Jer basuki mawa bea. Slogan berbahasa Jawa yang diadopsi oleh pemerintah daerah Jawa Timur semenjak pemerintahannya Gubernur Moh. Noer.

Sangat strategis, bukan saja dari sisi kacamata nasional. Tetapi sangat strategis pada tataran internasional. Bukankah saat ini bulan Januari, di saat secara rutin – sesuai dengan jadwal permanen perjalanan migrasi burung dan unggas – sesuai dengan pertukaran musim setiap tahunnya. Saat ini, matahari sedang berjalan perlahan tetapi pasti dari wilayah selatan menuju arah utara. Dan saat ini, ketika perjalanan matahari hampir mencapai sepertiga menuju khattulistiwa, atau belum mencapai 16o LS. Jika rombongan “turis” mancanegara itu nantinya sampai di wilayah Jawa [yang saat ini masih belum bebas flu burung], maka penyebaran flu burung tersebut bisa saja akan terbawa ke arah utara, sampai ke wilayah Siberia, yang terletak nun jauh di utara, bila mereka sampai di sana pada bulan Juni 2007 mendatang.

Sebentar lagi, dalam hitungan hari – paling-paling minggu – rombongan jamaah burung itu akan sampai di wilayah Jawa – yang saat ini sedang dilanda flu burung. Tidak ada pihak yang mampu membatasi gerak burung-burung tersebut, juga pergaulannya dengan burung-burung lokal yang bukan merupakan bagian jamaah turis tersebut. Di saat jamaah itu tiba, misalnya di kepulauan Seribu – di utara Jakarta – yang merupakan hotel transit tanpa visa – seharusnyalah keadaan wilayah itu sudah bebas virus flu burung. Begitu juga rute yang akan dijalaninya di wilayah Indonesia, menuju utara. Bisa lewat Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi, – semuanya harus sudah bebas virus. Kalau tidak, bisa dipastikan – sedikit atau banyak – akan ada burung migran yang tertulari virus dan akan membawanya ke daerah-daerah yang mereka singgahi.

Bagi masyarakat Palembang, Pekanbaru, Medan dan kota-kota lainnya, bukanlah hal aneh tentang kedatangan dan kepergian burung-burung ini dari kawat-kawat listrik di kota mereka. Dan juga daerah-daerah pertambakan atau empang di sepanjang pantai, dimana burung burung sejenis bangau yang selalu datang dan pergi. Semoga, selama perjalanannya nanti, jamaah itu bebas virus.

 

Wa Allahu a’lam

Saifuddien Sjaaf Maskoen

21 Januari 2007

 

 

Viral Structure

The influenza virus has a relatively simple structure. A lipid (fatty) envelope surrounds the protein shell (capsid), which encloses coiled genetic material (RNA). Projecting from this envelope are two kinds of protein spikes, hemagglutinin and neuraminidase. These proteins act as antigens, eliciting an immune response in the organism that the virus invades. Influenza viruses exhibit the unique quality of periodically mutating these protein spikes. Because the viruses continually change, they can cause repeated waves of infection, even among people previously infected.

 

© Microsoft Corporation. All Rights Reserved.

Microsoft ® Encarta ® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Avian Flu

Avian Flu, also known as bird flu, an infectious disease of wild and domestic birds, caused by a range of viruses known as Type A influenza viruses. Variants of avian influenza viruses have also infected humans and a number of other mammals.

Avian influenza viruses exist in wild populations of seabirds, shorebirds, and other wildfowl, but do not usually cause illness in wild bird species. When wild birds contaminate ponds and fields with fecal droppings containing the virus, however, domesticated birds such as chickens, turkeys, and ducks can be infected. For these species, avian influenza is often fatal, afflicting the respiratory system and nervous system, and opening the way for dangerous bacterial infections. With their nasal and fecal secretions, sick individuals can rapidly spread illness to other poultry in the close confines of a farm enclosure or live animal market.

Avian influenza was not known to directly infect humans until 1997, when an outbreak in Hong Kong, China, caused by infected poultry, sickened 18 people, killing 6 of them. Death was caused by pneumonia or other respiratory ailments, kidney failure, or related complications. Symptoms of avian flu resemble those of other influenzas: fever, cough, sore throat, and muscle aches. Although humans have a degree of immunity to the influenza subtypes that circulate during the winter flu season, the human immune system is unaccustomed to recognizing and fighting off avian influenza. This makes the avian viral strains all the more dangerous. After the 1997 Hong Kong episode, other outbreaks of avian influenza followed, including cases in at least ten Asian countries beginning in 2003, resulting in at least 20 deaths.

Scientists identify the various strains of avian flu and other varieties of Type A influenza by categorizing them according to the differences in two key proteins found on the surface of the virus. The two proteins are hemagglutinin (H) and neuraminidase (N). There are 15 major subtypes of H and 9 major subtypes of N. The virus that caused the 1997 Hong Kong outbreak was designated H5N1 because the key proteins on the surface of the virus were subtype H5 and subtype N1. Tests determined that strains related to H5N1 were behind the deadly Asian outbreak that began in 2003. Some poultry farms in Europe and the eastern United States, meanwhile, suffered outbreaks in 2003 and 2004 of subtypes of H7, an avian strain that is currently believed to be less dangerous to humans.

Avian influenza appears to spread from birds to humans through direct, close contact with sick birds or with fecal-contaminated surfaces. As yet there is no confirmed evidence that avian influenza spreads from person to person. Influenza viruses, however, mutate (change) easily. Scientists and public health experts fear that an avian flu strain might strike a person who is already infected with a human variant of influenza. The two variants could swap, or combine, their viral components in the infected person before spreading to other people. This combination of virus components could even take place in a susceptible mammal, such as a pig.

The result could be a novel virus strain completely unknown to the human immune system. It could be especially virulent and cause death in a high percentage of infected individuals, passing easily from person to person. Such a virus could touch off a global epidemic, or pandemic, of influenza that could kill millions of people. The grim benchmark for such a catastrophe is the “Spanish flu” outbreak of 1918 (originating from an avian viral strain), which killed from 20 million to 50 million people around the world.

Currently, the most effective means of fighting avian influenza is the destruction of infected birds or those at risk of infection, often millions at a time when outbreaks occur. Scientists are also pursuing new antiviral compounds and vaccines to protect people. Public health officials say there is no danger to the public from eating poultry or eggs as long as they are well cooked.

Microsoft ® Encarta ® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Building Better Vaccines

By W. Graeme Laver, Norbert Bischofberger, and Robert G. Webster

When contemplating the prospects for flu drugs, observers might reasonably wonder whether the disease would be better controlled by a universal vaccine—one able to prevent infection by inducing the body to mount a protective immune response against any influenza strain that might appear. Regrettably, no such all-purpose vaccine has yet materialized.

 

Nevertheless, immunologists are honing ways to speed vaccine production, so that immunization can be carried out swiftly if a virulent epidemic starts abruptly. They are also working on injection-free vaccines, to improve acceptance and to encourage immunization of children. Although the elderly tend to become sickest when they have the flu, children account for much of its spread.

 

Flu vaccines have been common since the 1940s. Today the manufacturing process begins after influenza samples collected by 110 surveillance sites around the world are analyzed. In February the World Health Organization pinpoints three strains—two type A and one type B—that seem likely to account for most of the flu that will occur in the upcoming season (November to March in the Northern Hemisphere). These become the basis for the vaccine.

 

A simple way to make a vaccine would be to grow vast numbers of the selected strains, inactivate them so that they cannot cause infection and combine them in a single preparation. Unfortunately, the strains that are selected tend to grow slowly in the laboratory and are thus difficult to mass-produce. To overcome this obstacle, scientists begin by basically inserting immune-stimulating proteins—hemagglutinin and neuraminidase—from the surface of selected strains into a form of influenza virus that will grow quickly in the lab. For each strain, they infect chick embryos with both the fast-growing and the chosen virus. Many of the virus particles made by the embryos grow rapidly but now display the hemagglutinin and neuraminidase spikes of the strains expected to cause this year’s epidemics. These high-growth reassortments are then isolated and delivered to vaccine manufacturers, who mass-produce them in more chick embryos.

 

At one time, inactivated forms of these viruses, including reassortments for all three of the selected strains, served as the vaccine. Now most manufacturers take the process a step further. They break the viruses apart and compose the vaccine of the viral proteins. The proteins elicit immunity but are totally unable to cause any kind of infection. In both cases, the vaccines prod the immune system to make antibodies able to bind to, and help eliminate, infectious viruses bearing those same proteins.

 

In an alternative approach, investigators are testing vaccines made of weakened live viruses, because live viruses evoke production not only of antibodies but also of white blood cells known as T lymphocytes. These cells recognize and eliminate virus-infected cells. T cells turn out to respond to closely related strains of influenza, not just to the single strains recognized by individual antibodies. Hence, they could potentially provide immunity for a while even after an influenza strain underwent small changes in the structure of its surface molecules.

 

A live-virus vaccine that is delivered as a nasal mist has been developed by Aviron in Mountain View, Calif. It has tested well in people, including children, and will probably be on the market in a year or two. Unfortunately, live-virus vaccines cannot be produced much more quickly than killed-virus types, and so they probably would not provide a rapid defense against a sudden pandemic.

 

To shorten production time, scientists are examining manufacturing methods that sidestep the need for acquiring large numbers of fertilized eggs. One approach inserts hemagglutinin and neuraminidase genes from selected influenza strains into another kind of virus, such as a baculovirus, that grows readily in cultured cells—something influenza viruses do only poorly. As the genetically altered viruses reproduce in the cells, they also make large quantities of the encoded influenza proteins, which can then be purified for use in vaccines. Recombinant vaccines can be prepared and distributed in just two or three months, but their effectiveness is still being evaluated.

 

Yet another vaccine strategy, able to yield a product even faster, relies on “naked” DNA. In this scheme, investigators fit desired hemagglutinin and neuraminidase genes into rings of DNA known as plasmids. In theory, if such plasmids were injected into skin or muscle, cells in the vicinity would take them up and use them to make influenza proteins. These proteins would then be displayed on the cells’ surface, where cells of the immune system could spot them. In response, the immune system would deploy antibodies and T cells able to neutralize free virus and eradicate any infected cells. Naked-DNA influenza vaccines have worked well in lab animals but have yet to be tested in people.

 

About the authors: W. Graeme Laver, Norbert Bischofberger and Robert G. Webster have all contributed to progress in the control of influenza epidemics and pandemics. Laver, professor of biochemistry and molecular biology at the Australian National University in Canberra, produced the first crystals of neuraminidase and continues to provide them to researchers who are designing new neuraminidase inhibitors. Bischofberger is senior vice president of research at Gilead Sciences in Foster City, Calif. Webster, who with Laver first traced pandemic strains of influenza viruses to lower animals, is Rose Marie Thomas Professor and chairman of the department of virology and molecular biology at St. Jude Children’s Research Hospital in Memphis. He is also director of the World Health Organization’s Collaborating Laboratory of the Ecology of Influenza Viruses in Lower Animals and Birds.

 

Source: Reprinted with permission. Copyright © January 1999 by Scientific American, Inc. All rights reserved.

Microsoft ® Encarta ® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: