CERITA PAGI – 28

 

Dalam berangan-angan, pikiran kita bisa menembus batas ruang dan waktu. Bisa menerawang kemana kita suka. Ke timur, atau utara, melewati batas-batas administratif suatu wilayah. Pikiran kita tidak akan dicegah-tangkal oleh apapun, tidak memerlukan dokumen imigrasi untuk pindah dari satu negara ke negara yang lain. Tetapi kadangkala kita lupa memikirkan atau sekedar mengamati apa yang ada di sekeliling kita. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang melupakan keadaan sekitarnya.

Masih ingin melanjutkan jalannya acara silaturrahim antara mereka yang dulu berada di jalanan kota Bandung untuk meneriakkan Tri Tuntutan Rakyat, dan Amanat Penderitaan Rakyat. Di daerah Kemang, dekat pertemuan dilakukan, ada sepotong jalan yang selalu sibuk, baik di kala pagi atau senja, siang atau malam, yang mengabadikan kata AMPERA. Tetapi yang lewat disana setiap hari, mungkin tidak mengenali apa sesungguhnya arti kata yang hanya sebanyak enam huruf tadi. Konon kalau di Sumatra Barat – khususnya kota Padang – rumah makan Ampera itu seperti warteg disini. Makanan tidak disajikan seperti layaknya seorang tuan rumah yang menyambut tamunya, tetapi si tamu dipersilahkan menunjuk makanan yang disukainya untuk diletakkan di piringnya.

Memang banyak diantara yang hadir juga sepertinya berasal dari ranah Minang. Ada yang kukenali wajahnya, tetapi aku tak tahu namanya. Karena dari dulu memang tidak mengetahuinya. Dia, kalau tak salah dari jurusan Farmasi, dan mengendarai sepeda motor Honda bebek. Aku mengingatnya, karena pernah mendengar cerita tentang masa lalunya sebelum masuk ke ITB. Entah, apakah rawinya shahih. Dia adalah salah seorang anggota Pasukan Mawar, yang gigih mempertahankan wilayah yang diperjuangkan-nya pada saat pergolakan PRRI dahulu. Entah pada saat itu usianya berapa. Tetapi wajahnya, hingga kini – empat puluh tahun lewat – masih seperti dahulu. Sehingga mudah dikenali. Kemarin dia duduk berbeda hadap membentuk sudut 90o denganku. Dia sebaris paling kiri dengan pembicara yang Dekan Fakultas Al-Azhar Indonesia, di samping kiri beliau, disela oleh seorang ibu berjilbab. Maaf kalau salah, ya.

Beberapa waktu sebelumnya mas Endro bersalaman dengan yang baru tiba, dan saling menebak nama – dan kudengar nama Hasrul – Berita ITB. Yah, nama itu selalu muncul, karena dialah pemimpin redaksinya. Dan mendengar Berita ITB – mungkinkah itu suatu penerbitan berita mahasiswa yang pertama di Indonesia? Kalau ya, perlu dicatatkan di rekor MURI barangkali, apalagi bila masih terus berlanjut hingga kini. Berita ITB – tentunya tak lepas dari kegiatan IPMI – Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia – yang kalau tak salah dimotori oleh seseorang yang selalu mengenakan pakaian putih-putih. Celana putih dan baju putih, ditengahnya melilit ikat pinggang hitam, dan di kepalanya teronggok sebuah songkok beledu hitam dengan tinggi 12 atau 11 cm. Dan sepatunya berwarna hitam pula. Sangat rapi, dan mencolok di sekitar mahasiswa yang beraneka ragam pakaiannya.

Kudengar belasan tahun kemudian, bahwa beliau mendidik sendiri anak-anaknya di rumah, tidak menyekolahkan ke sekolah formal manapun. Istilah sekarangnya barangkali home-schooling yang lagi banyak dibicarakan, dan digandrungi para artis yang padat jadwal shooting-nya, yang ‘kejar-tayang’. Beliau adalah bung Aldy Anwar [entah tulisannya pakai “y” atau “i” ya, kan nggak enak menulis nama orang salah ejaannya]. Dan salah satu aktivis pers kampus yang lain adalah kakak se jurusanku, Andi Pamusureng. Masih teringat wajah dan rupanya, tetapi tak pernah mendengar beritanya. Lupa untuk menanyakan ke bang Amiruddin Jusuf atau Iim yang kebetulan duduk bersebelahan denganku. Kalau Haji Saadudin, yang sedaerah asal dengan bang Amir dan bang Pamusureng, yang teman seangkatan dan sejurusan dengan ku, merupakan salah satu anggota “tentara pendudukan” di bangunan sekolah Cina di Cihampelas, yang kemudian dikonversi menjadi tempat belajar murid SMA Negeri II Bandung. Dia juga kemudian aktif di Koperasi Mahasiswa ITB. Setelah aku lulus tak pernah berjumpa lagi, konon telah mendahului kita semua. Semoga Allah swt menerima arwahnya di sisi-Nya.

Lewat Koperasi ITB inilah kita kemudian bisa memiliki jaket ITB yang berwarna biru, yang menjadi kebanggaan mahasiswanya. Konon, kain bahan jaket tersebut, berasal dari PT Berdikari atau PT KARKAM – yang dimiliki oleh Kapten Markam, pengusaha asal Aceh yang sangat dekat dengan Bung Karno. [PT KARKAM ini masih ada lho. Dulu tahun 75-an perusahaan itu jadi kontraktor membangun jalan antara Lhok Semauwe ke arah Banda Aceh. Dan sekarang masih punya pergudangan di Cilandak – Jalan Bakti]. Entah status mulanya apa, barang sitaan atau over stock yang kemudian di distribusikan ke mahasiswa dengan harga murah setelah tumbangnya orde lama, sehingga produk jaketnya menjadi terbeli. Maka kemudian hampir semua mahasiswa di Bandung menggunakan jaket, ITB dengan warna biru tua, UNPAD dengan warna abu-abu, dan AKATEK-ITT kalau tak salah kuning ke arah oranye, IKIP mungkin merah bata warnanya. Di Jakarta, Universitas Indonesia [UI] sudah terkenal dengan si jaket kuning-nya, dan bahkan mereka cukup dengan menyatakan sebagai “si jaket kuning” sebagaimana yang ditunjukkan dalam sticker yang di tempel di mobil-mobil mereka saat ini “We Are the Yellow Jackets”. Karena ada logo makara-nya, maka orang tak akan salah mengira sebagai Golkar, yang juga berjaket kuning. Dan sekarang, jaket mahasiswa merupakan suatu identitas perguruan tinggi di manapun.

Koperasi Mahasiswa ITB, membuka “store” di dekat pintu masuk utama kampus ITB, berdampingan dengan studio 8EH. Menyediakan berbagai macam barang-barang kecil [gimmick] yang berlogo si Gajah Duduk ITB. Mulai dari gantungan kunci, vandel, alat-alat tulis, map, tas dan sebagainya. Juga kaos, pull-over, dan bahkan dompet [walau sering kosongnya dari pada berisi]. Kalau menjelang liburan panjang, toko koperasi ini “di-rush” – penuh sesak dengan pembeli –  terutama mahasiswa baru dan mahasiswa muda yang “berebut” membeli barang untuk dipersembahkan sebagai cindera-mata di kampung halamannya, atau untuk tebar pesona [istilah yang pada saat itu belum ada]. Koperasi ini cukup kreatif dalam menciptakan produknya, yang mengandalkan pada penguasaan teknik sablon dan teknik hot-press. Biasanya, produk yang dibuat, kemudian ditiru oleh perguruan tinggi lain. Atau sebaliknya, aku sama-sama tidak yakin. Karena mungkin produsen dan suppliernya sama. Produsen kan tak memikirkan eksklusifitas produknya, yang penting omzetnya besar. Koperasi atau setidaknya store ini, dipimpin oleh bang Juniar [MS ya rasanya].

Setelah punya jaket, umumnya kalau demo lalu banyak yang menggunakannya. Tetapi jadinya kemudian, terlihat asal muasalnya mahasiswa tersebut. Tetapi ya indah juga kalau sudah campur. Berwarna warni. Umumnya demo dilakukan secara bersama-sama, dibawah koordinasi KAMI [Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia] dan KAPPI [Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia], tetapi di Bandung yang lebih populer di kalangan pelajar adalah versi P-1, yaitu KAPI [Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia]. Sedang di kalangan dosen dan alumni ada KASI [Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia] yang biasanya lebih berfungsi sebagai tokoh intelektual yang berada di balik layar, tidak ikut panasan di jalan. Sehingga bertemulah berbagai mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, yang dikala senggang kemudian diisi dengan saling meledek.

Saling ledek sesama mahasiswa antar kampus, sudah biasa terjadi sejak dahulu. Dan rupanya terus berlangsung hingga akhir abad 20 silam. Walaupun saling meledek, tetapi masih dilakukan dalam batas kewajaran dan kesopanan, dan berlandaskan rasa kebersamaan, sehingga tidak ada ekses yang sampai berupa perselisihan fisik sebagaimana tawuran yang sering terjadi di tahun-tahun terakhir ini. Antar lembaga, bahkan sesama mahasiswa dalam suatu lembaga, hanya beda fakultas – bahkan beda jurusan sudah bisa menimbulkan tawuran yang merusak sarana dan prasarana kampus.

Karena mahasiswa ITB memang begitu bangga dengan sang Ganeca, ada seseorang mahasiswa lain perguruan tinggi yang usil menyampaikan, “Untung lho kamu, kampus ITB itu letaknya di jalan Ganeca. Seandainya, kampus ITB letaknya di Jalan Gurame atau Jalan Sepat, maka logonya ITB itu pasti ikan gurame atau ikan sepat”. Memang agak aneh logonya ITB ini. Hanya merupakan gambar proyeksi patung Ganeca. Hampir sama dengan Universitas Airlangga di Surabaya, yang juga merupakan gambar dua dimensi dari patung Airlangga naik Garuda. He  he, analog dengan ledekan tadi, karena letaknya di Surabaya mestinya bukan Universitas Airlangga, karena Airlangga adalah raja Kediri yang letaknya jauh dari Surabaya. Mestinya Universitas Jokodolok yang konon patungnya ada di dekat Taman Apsari, depan Gedung Grahadi [tempat kediaman Gubernur Jawa Timur]. Jadi logonya, ya tampak depan patung tersebut, yang hitam kelam keseluruhan tubuhnya. Sorry, nggeladrah alias ngelantur.

Diledek seperti itu, mahasiswa ITB tentu membalasnya, dan mengatakan dengan plesetan [diilhami oleh tulisan pada papan nama sebuah toko binatu yang ada di jalan Tamblong, [dekat toko alat-alat tulis KENG BIE yang lengkap itu lho], “Bahwa ITT – yang merupakan pengembangan dari AKATEKS – itu kepanjangan sesungguhnya adalah Institut Tisik dan Tjelup”. Dan hal-hal seperti itu, ditanggapi dengan tawa yang berderai, sebagai pelepas kejenuhan dan keletihan setelah berdemo atau menunggu berdemo yang akan datang.

Jangan seperti kejadian akhir abad silam, ketika beberapa anak ITB [memang keterlaluan sih] membuat kaos berlogo ganeca, dengan tulisan “Bukan Unpad”. Tentu saja sebagian mahasiswa Unpad di Jatinangor yang mengetahuinya, bereaksi dan akan menggelar demo ke kampus ITB. Anakku, yang mahasiswa Unpad tidak mau [bukan karena takut sama babenya], tetapi dia bilang “Kan betul. Kalau lambang ganeca dan tulisannya UNPAD itu baru keliru, dan harus di demo. Kan ganeca bukan logonya UNPAD”. Yah, eta mah ulah oknum, sanes lembaga. Tapi ya kelewatan sih.

Kemudian datang Nabiel Makarim, yang walau dia hanya sebentar saja kuliah di ITB, tetapi aku cukup mengenalnya dengan baik. Banyak waktu yang kujalani bersamanya selama masa pergolakan tersebut. Dia adalah mahasiswa jurusan Tambang [TA], seangkatan dengan Chosdu Saiin. Selama ikut demo, Nabiel ini selalu membawa kapak yang berwarna merah di dalam rangselnya. Jadi ketika di Jakarta ada gerombolan kapak merah yang beroperasi di perempatan lampu merah, aku jadii teringat padanya, yang justru saat itu dia sedang jadi Menteri KLH. Konon kapak merah itu asalnya kepunyaan Iwan [?], dan kemudian dia kembalikan ketika akan meneruskan pelajarannya ke Australia. Dan disanalah barangkali timbul jalaran tresna saka kulina, dengan salah seorang mantan demonstran yang dikenal sebagai “PMKRI” [bukan perkumpulannya mahasiswa katholik], yang kemarin juga hadir di acara silaturrahim tersebut, yaitu ibu Ainun [dulunya di jurusan KIMIA-ITB]. Kalau tak salah ingat, ibu Ainun dan putranya pernah menghiasi sampul depan majalah Ayah Bunda nomer 2, di akhir tahun 70-an, ketika aku masih berada di ujung timur pulau Madura, Kalianget.

Salah seorang teman demo dan juga teman belajar FI-101 [Mekanika], Rusdi Ilyas, juga hadir kemarin. Kita masih ingat ketika belajar bersama dengannya dan dengan Nabiel di komplek SATDIKA, yang di samping Laboratorium Kimia Fakultas Kedokteran UNPAD – Dago. Salah satu soal yang kuingat dari SEARS – dan tidak tahu cara menyelesaikannya sampai sekarang – adalah soal tentang setandan pisang yang digantung pada seutas tali dengan katrol di atasnya. Dan si kunyuk memanjat sisi yang lain dari tambangnya. Bukan seperti posisi kita menimba air yang menapak di tanah. Lalu entah apa yang ditanyakan. Walau bukunya sudah pakai yang bahasa Indonesia [terjemahan], masih susah juga dipahaminya.

Dalam buku SEARS ini, yang suka membuat bingung, antara lain untuk kata internal energy digunakan padanan katanya daya dachil [ejaan lama], ee tahunya kata dachil itu berasal dari bahasa Arab, dakhala– masuk. Dan pernah ketika pulang kuliah sore hari di bulan Ramadhan, kebetulan ada seorang tamu yang belum kukenal. Kalau bulan Ramadhan, di rumah kami meja makannya disingkirkan, dan digelar tikar saja, untuk memudahkan shalat tarawih sesudah berbuka. Waktu itu hujan rintik-rintik, jadi agak tergesa-gesa juga masuknya kerumah. Sang tamu tersebut, bertanya “bawa buku apa?” dan ku jawab seenaknya “Mekanika, Sears”. Diluar dugaanku, dia mengatakan “Aku kenal sama yang mengarangnya”. He, dalam pikiranku, masak orang ini kenal sama Sears. Bukannya Sears sudah tua dan tinggal di Amrik sono. Dari mana orang ini bisa mengenalnya?, itulah yang ada dibenakku. Oh, barangkali dak-bek [tidak penuh]. Maka naluri menggodaku timbul. Setelah dia pulang, aku diberitahu oleh seniorku di rumah – Ahmad Baraja, [abangnya Abdullah Baraja TK-57 yang pernah jadi Dekan KIMIA TEKNIK ITS], bahwa dia adalah dosenku. Dosen di Bagian Teknologi Kimia ITB. Setelah tahu dari mana beliau berasal, maka aku mudeng. Kenalan beliau itu, bukan si Mr. Sears, tetapi si penterjemah buku yang sedang aku bawa itu. Mungkin penterjemahnya orang UGM.

Untunglah tak terjadi apa-apa karena ulahku itu. Dan akhirnya sering bertemu juga dengan beliau, dan juga bercanda dengannya. Dia kalau datang atau pergi kemana-mana mengendarai sepeda motor DKW warna abu-abu ke biru-biruan. Ngobrolnya kuat, apalagi kalau bicara tentang permainan bridge, karena memang dia ahlinya [tetapi istilah arek STM Sawahan- Surabaya, menang teori kalah praktek]. Dia menulis buku tentang teori bermain bridge, tetapi kalau main tidak sepiawai bang Amir, Alfred Ingkiriwang atau Pande Lubis. Dan ada satu lagi mahasiswa TM mungkin, mengenal wajahnya tak tahu namanya.

Ruang kuliah Fisika di Ruang 04, yang kemudian berubah jadi nomer berapa – sudah tidak ingat lagi. [Kalau Ruang 13 berubah jadi 5201 – karena di wilayah TK yang kodenya 52]. Konon kalau malam, ada Nonik Belanda yang sedang belajar. Kalau Ruang 06, itu tetap hafal. Karena salah satu tempat memperoleh hiburan murah, dimana diputar film-film oleh LFM-ITB. Ketuanya memiliki badan yang tinggi besar, dan juga anggota Batalyon I, Resimen Mahasiswa Mahawarman [benar kan? Aku sih nebak-nebak saja. Namanya siapa tak ingat].

Menjelang meletusnya G30S-PKI, film Amerika sudah lama diboikot dan dilarang diputar di gedung bioskop di negeri jamrud khatulistiwa ini. Bagaimanapun film Holywood, memang tak terkalahkan, bahkan sampai saat ini. Selama masa boikot itu, yang sering diputar adalah film-film dari Eropa Timur atau Perancis. Rasa ketagihan untuk menonton film Amerika sangatlah besar, di hati para mahasiswa yang usianya remaja. Suatu ketika, terpampang poster di papan pengumuman yang biasa digunakan untuk mengumumkan judul film yang akan diputar, yang letaknya di sisi kanan jalan, dekat tempat parkir sepeda [sekarang jadi apa ya?].

Posternya tulisan tangan, tanpa gambar. Tetapi sangat atraktif, dibuat oleh tangan-tangan yang terampil dan berbakat. Supidol-pun, saat itu masih belum ada. Suatu ketika, setelah puncak kekuasaan mulai bergeser, muncullah poster, dimana akan diputar film US, entah judulnya apa. Kan setelah lama tak mendengar nama judul film barat, jadi tak tahu film yang akan diputar nanti apa. Yang penting US bo. Yang antri membeli karcis, seperti ular. Seperti biasanya, dalam satu malam film diputar dua kali. Dan kemudian sampailah saat pemutarannya. Semua menunggu dengan harap-harap cemas. Dan mulailah keraguan muncul dalam hati, koq bintang filmnya nggak ada yang kenal. Ternyata kemudian, bahwa US nya bukanlah singkatan dari United States, tetapi Uni Sovyet alias Rusia. LFM tak salah, hanya kita yang terlalu bersemangat, sehingga tidak rasional lagi. Kalau buatan Amerika Serikat kan, USA, bukan hanya US saja. Walau untuk menyebut kapal perangnya adalah USS [United State Ship].

Walau sedikit kecewa, ya tak apalah. Salah sendiri kurang teliti sebelum membeli. Dan biasa, namanya orang, tak mau kalau mengenyam kekecewaan seorang diri – selalu ngajak yang lain sama-sama terkena “bencana”. Kepada calon penonton gelombang kedua yang bertemu ketika keluar, kalau ada yang nanya, selalu dijawab dengan “wah, baguuus”.

Film yang kadang-kadang diputar, sebelum masuknya kembali film Amerika, adalah film Perancis, antara lain yang mengetengahkan penyanyi wanita Francois Hardy. Dan lagu-lagu yang dinyanyikannya, kemudian menjadi akrab di telinga ini. Dan kitapun mengenal kata “FIN” sebagai pengganti “TAMMAT” atau “The End”.

Setelah masa “kemerdekaan” – bolehnya diputar film-film Barat, tempat-tempat berbiaya murah untuk nonton, bisa kita dapati di Ruang-K UNPAD, Gedungnya PMKRI, atau Panti Karya [depan BIP sekarang]. Dan selalu ramai, diserbu oleh para mahasiswa dan masyarakat ramai yang haus akan hiburan berupa film yang lain, setelah dicekoki dengan film-film yang itu-itu saja.

Mantan Ketua Dewan Mahasiswa ITB, Pungki atau Purwoto Handoko, katanya juga hadir pada acara Ahad tersebut, tetapi aku tak sempat berjumpa dengannya. Karena dia hanya sebentar saja. Maklum hari itu memang banyak yang akan menghadiri undangan pernikahan. Bahkan Gus Solah juga pamit duluan, katanya mau jadi saksi pada acara akad nikahnya Koes Hendratmo, yang akan berlangsung siang / sore itu.

Beberapa lainnya yang kukenal, antara lain, Djuhari Djoko [TK], mas Susilo [SI]– suami mbak Yati Sugandi [TK], dan Oriana Pudjiastuti alias Pupu [TK-65] , ada juga yang lain Amir Sube [KI], mas Istianto [SI ?], Djuhair [?]. Beberapa aktivis yang kukenal, tetapi tidak hadir pada pertemuan tahun lalu maupun tahun ini, antara lain mas Djoko Santoso [SI] [mungkin sakit di Bandung,ya], Darodjad Moefti [TK], dan A. Razak Latang [MA].

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

19 Januari 2007

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: