CERITA PAGI – 27

 

Hari Ahad, 14 Januari kemarin, diselenggarakan acara silaturrahim anggota Paguyuban Angkatan 66 Bandung. Tahun lalu acara diadakan berkenaan dengan Iedul Fitri [halal bi halal], tetapi tahun ini berkenaan Iedul Adha dan Tahun Baru Hijriyah. Yah, boleh-boleh saja. Yang penting ada silaturrahim. Selama ini, silaturrahim dilakukan “off-air” melalui suatu terbitan yang bisa dibilang cukup reguler, maupun secara “on-air” dalam bentuk pengajian dengan nara sumber ustadz Sakib Mahmud [siapapun yang shalat Jumat di Aula Barat dan di awal Masjid Salman, pasti kenal dia]. Tetapi sayang, karena waktu dan tempat, saya sendiri tidak pernah bisa menghadirinya, walau selalu diberitahu via SMS oleh Kang Hendar.

Alhamdulillah, kemarin saya bisa hadir. Acara diadakan di rumah ketua periode ini, Ahmad Ganis, di bilangan Kemang. Sedangkan tahun lalu diadakan di Restoran Pulau Dua, di kawasan Senayan. Yang hadir tentu saja tidak bisa sama, ada yang tahun lalu tidak hadir, tahun ini hadir, ada yang sama-sama bisa hadir kemarin dan sekarang, ada yang kemarin hadir tetapi sekarang berhalangan. Ada yang sedang sakit, dan ada pula yang sudah pulang ke haribaan Allah swt. Yah, umumnya [bukan umumnya, tetapi mayoritas bahkan hampir semuanya] yang hadir sudah berumur >60 tahun.

Banyak diantaranya yang tidak ku kenal, baik sekarangnya maupun dahulunya. Karena memang pertemuan ini bukan hanya khusus orang-orang dari Ganeca atau Salman saja, tetapi juga mereka yang dulunya kuliah di UNPAD, IKIP [sekarang UPI – yang diplesetkan jadi Universitas Padahal IKIP], Akateks-ITT dan lain lain. Nama biasanya antara ingat dan lupa, banyak lupanya. Tetapi wajah lebih banyak masih diingat, walau ada yang sulit kita kenali lagi. Yang tidak bisa dilupakan, adalah gerak-gerik dan irama serta nada suaranya. Ini rupanya yang lebih terekam oleh benak kita, dibanding data berupa nama [yang kita nggak tahu bagaimana otak kita menyimpannya], juga wajah seseorang [yang tentu berupa image hasil pencitraan indera penglihatan kita, yang lebih kompleks dan memakan banyak byte, walau dalam format jpeg sekalipun].

Sudah banyak yang hadir lebih awal, walau aku persis memenuhi jam mulainya undangan, yaitu jam 10:00. Mas Endro Utomo, tentu saja sangat kukenali. Kang Hendar yang bertindak sebagai seksi repot, tentu sudah ada, dan beberapa orang lainnya. Yang janggal, Cak Choesnan belum ada, dan ternyata tidak hadir sampai akhir, konon karena isterinya sedang sakit [semoga Allah swt memberikan kesembuhan]. Yang begitu menggairahkanku justru ketika aku bertanya kepada Mas Endro, siapa pria jangkung yang tadi mengobrol dengannya, dan ternyata adalah Mas Djalil, yang dulu sangat aktif mengabadikan berbagai situasi dengan kamera format 35mm nya. Saat itu, memotret dan memiliki kamera merupakan hal yang sangat langka, berbeda dengan jaman sekarang [40 tahun kemudian]. Aku langsung pindah ke sisi sampingnya, untuk menanyakan sesuatu yang selama ini belum mendapat jawaban, walau sudah pernah kutanyakan kepada Media P66B.

Dan kenyataan yang kutemui, tentu membuatku sangat kecewa. “Anything can go wrong, will go wrong”, seperti apa yang dinyatakan dalam Murphy’s Law. Tentu saja yang aku tanyakan “Apakah masih menyimpan dokumentasi, dalam bentuk negatif maupun positif, dari jepretannya di masa enam-enam dulu”. Dan ternyata semuanya telah rusak, ketika terendam air banjir yang melanda rumahnya. Inna li Llahi wa inna ilaihi raaji’un. Tetapi, alhamduliLlah, ingatan dan kenangan kita tidak hilang karena banjir atau apapun [hanya karena pikun , atau lupa-lupa sedikit]. Subhan Allah. Untung [orang Jawa kan selalu begitu] – dan ini konon yang membuatnya tetap tegar, karena pernyataan itu secara tidak langsung menunjukkan keikhlasan dalam menerima mushiba] saya memiliki salah satu hasil afdrukan mas Djalil. Tentu saja foto itu dulu kusimpan baik-baik, karena itu merupakan satu-satunya foto kegiatan angkatan 66 yang kumiliki, dan kebetulan akupun ada di situ. Itulah ego manusia. Mencari keberadaan dirinya, walau hanya sekedar dalam foto.

Lain dengan mas Djalil, tentu saja semua foto itu tidak ada yang menampakkan dirinya, walau satupun. Karena dia yang memotretnya. Tetapi aku yakin, walau tidak ada wajah diri mas Djalil dalam foto-foto yang dibuatnya, tetapi dia akan lebih menikmatinya, karena justru dia adalah subyek dan bukan obyek dari foto itu. Dan itu, merupakan suatu kepuasan tersendiri bagi seorang pemotret ketika melihat hasil karyanya. Aku bisa merasakan itu, karena aku sendiri lebih suka memotret dari pada dipotret.

Di sampingku duduk seseorang yang tak kukenal namanya maupun wajahnya sebelumnya. Dia menyebutkan namanya, tetapi aku tak merekamnya dengan baik [maaf ya mas]. Ternyata dia dari bagian Mesin, yang letaknya di blok barat dari kampus ITB tercinta, sedangkan aku yang bagian TK beradanya di blok timur [jaman dulu, di dunia kedua blok itu bermusuhan, tetapi tidak di ITB]. Hanya sekedar menunjukkan lokasi. Konon di ITB, kehidupan di blok timur lebih bergairah, dibanding dengan blok barat, karena di blok timur terdapat bagian Seni Rupa, Arsitektur, Biologi, Kimia, Farmasi, Teknik Penyehatan yang tidak segersang bagian Geodesi, Teknologi Kimia, Tambang, Geologi, Teknik Perminyaan. Apalagi dibanding Mesin, Elektro dan Sipil yang ada di blok barat.

Teman ‘baru’ yang disamping itu, kemudian banyak bercerita dan bergurau. Diantara gurauannya yang kuingat dalam benakku, adalah sebuah homolog, bahwa “seorang pria beristeri satu, itu adalah belajar, beristeri dua itu wajar, beristeri tiga itu kurang ajar, dan beristeri empat itu orang Banjar”. Entah yang dimaksud Banjar mana, apa kota Banjar di Jawa Barat atau wilayah Banjar di Kalimantan Selatan. Yah, sekarang baru kuingat, waktu masih baru ‘berkenalan ulang’, dia menyebut nyebut nama Hanafi, tetapi waktu itu aku gak ngeh. Mungkin beliau itu Nafi, yang menjadi obyek joke tentang mesin cuci buatan Bagian Mesin ITB, yang memiliki feature “masuk pakaian kotor, keluar pakaian sudah tersetrika”. Karena ……. ada Nafi di dalamnya? Maaf ya mas. Ngerefresh memori.

Lalu diperkenalkan oleh mas Endro, seseorang dengan pembawaan kocak, namanya Rivai. Aku seperti mengenal wajah dan gayanya, tetapi bukan Rivai. Mulai kutanyakan, ternyata memang beliau orang Teknik Perminyakan, yang temannya Farouq Baasjir [tak ada hubungan dengan ustadz Abubakar, kecuali satu fam Baasjir]. Ketika kutanya apakah tinggal di Cirebon, ternyata bukan, dia di Bogor. Ee, ketika kutanya apakah dulu sering diledekin Jawa bukan, Sundapun bukan, tergantung siapa yang menang akan diaku. Beliau membenarkannya. Lho, kalau begitu namanya koq Rivai. Ee, tahunya yang kuingat adalah Hamzah, dan namanya memang Rivai Hamzah. Yah begitulah proses kita mengingat-ingat sesuatu.

Haripun bertambah siang, dan yang hadir bertambah banyak. Ada Iim [Iman Djumaedi], Amiruddin Jusuf yang sama-sama TK, dan tak jauh angkatannya [mungkin 09 atau 10] sedang aku sendiri angkatan 12, dengan nomer pokok 120945, yang kemudian diganti dengan 5264039 – ketika ada perubahan sistem penomoran mahasiswa. Hayo, masih ingatkah dengan dengan nomor pokok anda sendiri, yang dulu wajib kita tuliskan kalau ujian, yang mungkin sudah tak pernah kita tuliskan lagi setelah lulus, entah 30 atau 40 tahun silam. Kalau lupa tidak apa-apa, toh tidak akan ditanyakan oleh malaikat kubur [Munkar wa Nakir].

Di luar dugaanku, kemudian datang Sarwono Kusumaatmaja, yang dalam Media P66B jarang disebut, yang dulunya adalah Ketua Dewan Mahasiswa ITB ketika terjadi pemberontakan PKI/G-30-S. Seingatku, beliau ini dulu memimpin demo yang pertama kali ke Balai Kota Bandung. Dan ketika kang Sarwono mulai berpidato [walau namanya Sarwono, tetapi kalau tak salah dia adalah orang Sunda adik pak Mochtar. Konon nama Sarwono diberikan untuk menghormati dokter yang membantu kelahirannya], justru mahasiswa ITB meminta agar yang pidato diganti oleh Muslimin Nasution [Ketua Dewan Mahasiswa yang digantikan olehnya], yang sangat populer karena peristiwa 10 Mei 1963, bersama mas Djoko Santoso [SI], Dedi Krisna [TK], dan A. Qoyum [TK]. Yang A. Qoyum hanya dengar nama saja.

Kemudian datang pula, Gus Solah alias Solahuddin Wahid – adik Gus Dur, yang dulunya ternyata mahasiswa Arsitektur ITB. Tetapi sang tokoh penyobek gambar Bung Karno, pada apel KAMI Bandung di Jalan Lembong – eks bangunan sekolah Cina, mas Sugeng Sarjadi [Sospol UNPAD] tidak datang, juga pada pertemuan tahun yang lalu. Sebenarnya aku berharap bisa ketemu dia, yang dahulunya sering main ke tempat tinggalku di Kasbah, walau mungkin dia tidak mengenalku [karena hanya cacing cauk, masih angkatan 64]. Dia adalah teman baik Asad Baredwan [abangnya Ridho Umar Baredwan – yang selalu hadir kalau ada pertemuan silaturrahim]. Suatu malam mas Sugeng pernah menginap di Kasbah yang bertepatan dengan disatroninya kamar kosnya [di jalan WR Soepratman – rumah tante Dion] entah oleh siapa. Kalau dia ada di kamar kosnya, entah apa yang terjadi. Karena konon barang berharganya tak ada yang dibawa kabur. Entah mencari apa yang nyatroni itu.

Wah teringat peristiwa yang sudah empat puluh tahun silam berlalu itu asyik juga ya. Bagaimana tidak, gambar / foto seorang presiden yang masih berkuasa, dikeluarkan dari dalam baju Mas Sugeng Sarjadi dan disobek-sobek di atas panggung tempat dia berpidato. Tentu saja itu membuat terkesima peserta appel. Entah siapa yang jadi tokoh intelektualnya [kalau ngikut istilah jaman reformasi ini, waktu itu sih belum ada istilah seperti itu]. Setelah bersorak-sorai, maka berhamburanlah seluruh peserta appel ke seluruh wilayah business area di dekat situ. Jalan Tamblong, Naripan, Asia Afrika, Braga, Suniaraja menjadi wilayah operasi para mahasiswa.

Aku sendiri, entah bersama siapa, kemudian masuk ke kantor Front Nasional [masih ingat kan, organisasi bentukan Bung Karno yang menyatukan semua eksponen yang mendukung NASAKOM] yang terletak di ujung utara jalan Wastukencana [saya baru tahu akhir tahun kemarin, kalau gedung itu sudah tidak ada dan berganti jadi masjid]. Gambar Bung Karno ukuran besar, adanya di ruang rapat utama yang saat itu sedang dipakai rapat. Setidaknya ada beberapa orang yang berpangkat Letnan Kolonel, AKBP [dulu juga begitu sebutan pangkat polisi], yang kuketahui dari dua bintang bukan emas di pundaknya [sebelum ganti dua bunga melati] dan lain-lain. Kami mengetuk pintunya, dan memberitahukan maksud kami. Di luar dugaan, pemimpin rapat lalu menghentikan rapat dan mempersilakan kami untuk naik mengambil gambar bung Karno tersebut yang berukuran terbesar dari yang sudah kami turunkan dan sobek. Beberapa hari sesudah itu baru terpikir, seandainya mereka marah [mungkin kan pendukung Babe], lalu meng-apa2-kan kami, ya nggak tahulah. Mungkin tulisan ini tak ada.

Setelah gambar diturunkan, mengucap terima kasih, lalu gambar dibawa keluar ke tengah jalan. Seperti pigura yang lain, dinaikkan ke atas dan ketika jatuh kacanya langsung pecah berantakan. Tetapi, ketika akan menyobek gambarnya, kami semua kesulitan. Ternyata foto bung Karno itu dicetak [atau disablon, atau apalah] di atas sehelai tekstil [sutera kali ya, karena tipis tidak tebal, yang jelas bukan kain drill atau mereki – belacu tebal] yang dilekatkan pada multiplek [karena nggak tahu berapa lapis, kalau tiga iya disebut triplek]. Pasti barang impor, entah dari RRT atau Rusia atau negara Eropa Timur yang merupakan kameradnya. Karena sudah lelah, dan matahari sudah diatas kepala, semuanya kembali ke Kampus Ganeca dan kampusnya masing-masing.

Kalau tidak salah ingat, sore hari itu [atau hari hari berikutnya] sang Kolonel yang punya hubungan dekat dengan mahasiswa, yaitu Kolonel Sarwo Edie Wibowo [tahunya kemudian jadi mertuanya SBY ya – tapi SBY belumlah siapa-siapa waktu itu] datang dan bertatap muka di Aula Barat ITB. Ada mahasiswa yang melaporkan suatu “insiden kecil” antara mahasiswa yang menurunkan dan menyobek gambar Bung Karno dengan seorang perwira pertama RPKAD [sebelum ganti jadi Komando Pasukan Sandhi Yudha atau Kopassandha dan kemudian Komando Pasukan Khusus atau Kopasus]. Dan ternyata, dalam kunjungan berikutnya, Sang Kolonel [mugkin sudah naik jadi Brigadir Jendral] melaporkan bahwa si perwira tadi sudah tidak ditugaskan lagi di RPKAD.

Bermula dari penyobekan gambar pada tanggal 18 Agustus 1966 itulah, yang merupakan respons atas pidato “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” [yang oleh mahasiswa disingkat sebagai JAS MERAH], kemudian tanggal 19 Agustus 1966 terjadi demo dan serangan balik [pinjam istilah sepak bola] dari pihak pendukung Bung Karno yang didukung oleh sekelompok oknum pasukan berbaret oranye [waktu itu namanya masih PGT – Pasukan Gerak Tjepat, sekarang namanya Paskhas – Pasukan Khas].

Waktu itu ada appel di kampus ITB, ketika terbetik berita bahwa ada demo sekelompok orang menyerang kampus UNPAR [yang ada di Jalan Merdeka], yang memang letaknya ada di pusat kota. Sebagian mahasiswa ITB pun kemudian turun melalui Dago, bermaksud untuk menahan mereka; dan sebagian lagi tetap di Kampus Ganeca. Konon, ada sebuah rumah yang sedang dibangun, terpaksa besi beton dan batu batanya diambil untuk dipakai sebagai ‘senjata’ menghadapi mereka. Waktu itu belum ada paving block yang saat ini banyak dipakai anak-anak SMA atau mahasiswa yang tawuran di jalan. Paving block hanya ada di selasar belakang patung Ganeca di kampus ITB. Di sekitar Surapati – Sulanjana, rombongan mahasiswa ITB “dihadang” oleh Pasukan Baret Hijau [Kujang – Siliwangi] agar kembali ke kampus, karena yang “di bawah sana” bukan padanan mahasiswa. “Biar kami yang mengurusnya” kata mereka.

Bahkan kampus ITB pun kemudian di bawah penjagaan pihak Siliwangi, kalau tidak salah malah ada senapan 12,7 segala [yang bisa untuk sekedar menghalau pesawat], siapa tahu kalau PGTnya mempengaruhi yang lain yang bisa mengemudikan pesawat. Ternyata, pada insiden di Universitas Parahiyangan [UNPAR] tersebut, seorang mahasiswa, yang juga anggota Menwa Mahawarman, bernama Julius Usman gugur, dan kemudian mendapatkan “kenaikan pangkat” menjadi sarjana anumerta. Juga ada beberapa insiden kecil, yang menimpa mahasiswa ITB yang tinggal di Kebun Bibit dan Kebun Binatang [tinggalnya bukan diantara bibit dan binatang lho]. Maka malam harinya, banyak mahasiswa ITB yang memilih untuk bermalam di Kampus Ganeca. Lebih aman, dari pada – dari pada. Ngelawan “preman”, kalah atau menang tetap saja rugi, bukan.

Seingatku, sejak itu kemudian UNIVERSITAS PADJADJARAN ditambahi suffix sebutan menjadi UNPAD BERJUANG. Kemudian oleh beberapa mahasiswa ITB [yang memang sering “usil”] dikatakan, UNPAD BERJUANG, UNPAR BERKORBAN, ITB YANG MENANG [jangan diambil hati ya, memang anak ITB itu suka begitu].

Wah, berhenti dulu ya, ingatannya sudah melantur kemana-mana. Gara-gara ingat mas Sugeng Sarjadi. Insya Allah, nanti disambung tentang tamu-tamu yang lain dan acara yang diadakan di silaturrahim tersebut.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

16 Januari 2007

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: