CERITA PAGI – 26

 

Lojie, dan para pembaca berita di televisi melafalkannya sebagai loji’e, sungguh sangat membuat aku sebal mendengarnya. Yah, tapi kemudian aku menyadari bahwa mereka adalah anak-anak muda yang mungkin lahir tahun 80-an, paling-paling 70-an, yang tidak mengalami secuilpun masa lalu yang penuh dengan bermacam-macam ejaan. Mereka adalah generasi EYD [Ejaan Yang Disempurnakan] yang mulai diperkenalkan pada awal 70-an. Aku mengalami saat transisi itu ketika sedang menyiapkan ketikan untuk tugas akhir, berupa Rancangan Pabrik dan Hasil Penelitian Karya Utama [semacam Skripsi untuk fakultas atau universitas lain]. Apalagi mengetik di jaman itu, bukan mengetik di papan kunci [anehkan, lebih baik disebut keyboard saja] yang setiap saat bisa di “Del” atau bahkan “Ctrl Del” atau bahkan “Ctrl-A Del”. Sorry aja ya, too technical.

Tapi sebelum berlanjut ke masalah utamanya, aku pernah punya pengalaman lucu dan akhirnya membuat aku ketawa sendiri tentang keyboard ini. Sebagaimana anda tahu, setelah aku purna bhakti karena usia sudah >55 tahun, aku membantu cawe-cawe di sekolah. Suatu pagi dalam perjalanan ke sekolah [yang jaraknya 40 km dari rumahku], dapat telepon yang memberitahukan dua buah keyboard milik siswa hilang setelah diserahkan / diletakkan oleh sopirnya ke office boy [OB] yang menjaga ruangan. Keyboard saja yang hilang, koq sampai nelepon saya pagi-pagi, dan masih di jalan lagi. Resek amat. Dalam benakku, karena selama bertahun-tahun menggunakannya dan tahu harganya, paling 40 ribu rupiah sebuah [itupun setelah krismon yang melanda negeri ter….. – terserah anda mau diisi apa titik-titik tersebut]. Sesampai di sekolah dengan agak sedikit jengkel aku tanyakan, mengapa menelepon untuk urusan kecil seperti itu, tidak menunggu sampai ketibaanku [hayo- yang ini jarang digunakan di Indonesia, tetapi lazim di Malaysia kan, sama saja koq dengan kedatangan]. Ee, tahunya yang hilang itu bukan keyboard pasangannya CPU dan monitor, melainkan keyboard yang bisa mengeluarkan bunyi, dan populer juga untuk pesta perhelatan dengan sajian acara keyboard-tunggal. Harganya sih lain, jauh berlipat dari order harga keyboard komputer. Itulah kalau suatu kata [jargon] dalam suatu bidang, juga dipakai di bidang lain. Orang yang berada di satu bidang, akan jadi repot kalau masuk ke bidang yang lain.

Dalam ejaan jaman dulu, Lojie ditulis dengan Lodjie. Lodjie itu adalah wilayah perdagangan pada jaman VOC dulu, dan biasanya terletak di pelabuhan atau di bandar. Kata ‘loji’ ditulis tanpa ‘e’ masih banyak digunakan oleh penduduk jiran kita, untuk menyatakan tempat kerja atau pabrik pengolahan [tolong di koreksi ya Mak – Muhammad Audah, retired– pensyarah di UTM, Johor Bharu, Malaysia]. Kita masih bisa menemukan nama tempat yang disebut lojie [saya tetap dan sangat suka dengan menuliskannya sebagai lojie]di kota-kota pantai utara Jawa, dan juga di tempat-tempat lain. Di Kalianget, ada Lojikantang. Aku sendiri dibesarkan di daerah Lojie. Ada Lojie Cilik [jalan Nyai Gede Pinatih – dahulu Keboengson], dan Lojie Gede [jalan Besar, Jalan Pemuda, dan sekarang kalau tak salah Jalan Basuki Rahmat].

Semasa aku kecil, nama Lojie digunakan sebagai nama dagang perusahaan penggergajian kayu milik Oei Swan Djoo, yang juga merupakan satu-satunya penyewaan kursi dan meja untuk perhelatan, yang terbuat dari kayu full-jati.

Kembali ke ejaan yang berubah-ubah. Cobalah simak beberapa cerita singkat seperti ini.

  • Aku punya Ketua Departemen [seperti Dekan] yang namanya SOEPARWADI. Anda pasti tahu, beliau tergolong ulama. Kalau dia golongan ubaru, maka namanya ditulis SUPARWADI. Tetapi anaknya, yang bernama DODOI baru belajar membaca. Di kantor tata-usaha departemenku, setiap dosen mempunyai laci yang diletakkan bersusun dengan nama masing-masing dosen, sebagai kotak pos, sehingga tak perlu ada oepas atau upas atau sekarang office boy untuk mengantar surat atau undangan [kalau di Madania, ya si Jacky alias Sopian]. Si Dodoi kemudian membaca dengan lantang, so-e-par-wa-di. Persis seperti si penyiar televisi yang melafalkan lo-ji-e untuk loji.
  • Lain lagi seorang anak kecil, yang diajak orang tuanya berkeliling kota di Jogja atau Solo, guna melihat gedung-gedung bersejarah. Di gedung-gedung tua, sering tertulis nama gedung atau nama tempat. Si anak berkomentar, kenapa nama gedung atau jalannya banyak yang gila ya, banyak yang ‘edan’. Ternyata Martoyudan, kan ditulis sebagai MARTOJOEDAN, Singoyudan dengan SINGOJOEDAN, dan lain lain. Itu akibat OE diganti U. Sehingga orang yang namanya SOE…., MOEHAMMAD atau ada vowel U yang ditulis OE, sering diplesetkan sebagai orang anggota Nahdhatul Oelama, [bukan ulama dalam bahasa Arab, tetapi oe-lama, karena kalau u-baru ya ‘u’ bukan ‘oe’].

 

Begitu juga kita harus menebak-nebak jika melafalkan nama seseorang yang sudah berusia lanjut, sehubungan dengan diterapkannya EYD, yang mengubah J dengan Y, DJ dengan J, NJ dengan NY, TJ dengan C. Bagaimanakah melafalkan SUJONO [su-yo-no atau su-jo-no karena dua-duanya valid], CHAMID [kha-mid, atau ca-mid, kalau ini jelas yang terakhir tidak valid]. Karena banyak yang tak mau mengganti namanya ke ejaan baru. Termasuk yang tidak mau mengganti namanya dengan ejaan baru adalah aku sendiri. SJAAF. Walau Tjipto Mangoenkoesoemo yang lebih terkenal dan sudah meninggal sebelum EYD diberlakukan, diubah penulisannya dengan Cipto Mangunkusumo [ingat RSCM kan].

Aku juga masih mempertahankan cara penulisan lama untuk vowel yang panjang, khususnya “i” ditulis dengan “ie” bukan “ii”. Dan karena aku tahu penulisan namaku dalam huruf Arab adalah terdiri atas sin-ya-fa-alif-lam-dal-ya-nun, maka dalam huruf latin aku tuliskan sebagai SAIFUDDIEN. Karena itulah aku suka LODJIE, dan bukan LOJI. Setidaknya LOJIE.

Tulis dan ucapkan namaku secara baik dan benar ya. SAIFUDDIEN SJAAF.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

13 Januari 2007

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: