CERITA PAGI – 25

 

Al-Fattah, Allah Yang Maha Membuka berbagai hal, telah mulai membuka penutup misteri atas hilangnya ADAM AIR KI 574. Cukup menyedihkan, bahwa mereka yang menemukan serpihan, justru banyak yang telah menyimpannya selama 3 [tiga] hari. Kalau dilihat sepintas, tentu tidak ada keinginan mereka untuk memiliki benda yang tercabik-cabik tersebut. Sepenuhnya karena ketidak tahuan mereka.

E, ternyata pesawatnya belum dicat seperti pesawat ADAM AIR yang lain dengan warna oranye, tetapi masih putih alumunium, polos.

Selama ini [ya sepuluh sebelas hari ini] rasanya kita tidak pernah mendengar di televisi tentang adanya himbauan kepada masyarakat pesisir untuk melaporkan sesuatu yang dilihat [apalagi ditemukan] atas berbagai hal yang tidak biasanya mereka lihat [dan temukan]. Memang kadang-kadang kita melupakan hal yang mendasar, karena terlalu fokus pada satu hal. Padahal, hal itu sangatlah penting. [koq aneh ya kalimatnya]. Mungkin cukup “padahal itu sangat penting” saja. Mungkin pejabat di daerah – lurah atau babinsa, kalau masih ada –  tentunya bisa memberitahu masyarakatnya.

Memang ada komentar dari anggota keluargaku, koq mereka tidak tahu ya kalau yang mereka temukan dan simpan itu adalah bagian dari pesawat yang dicari. Dengan ringan kujawab “Bagaimana bisa tahu, mereka kan tahunya pesawat terbang hanya dari jauh. Jangankan menjamah dan masuk ke dalamnya, melihat dalam jarak dekat saja tidak pernah”. Mereka kan tidak tahu, bagaimana kursinya pesawat dan bahwa kepingan itu adalah bagian dari meja makan di pesawat. Mereka juga tidak tahu, kalau tulisan yang tertempel di serpihan itu, adanya hanya di pesawat terbang. Kita sering menganggap orang lain mengetahui sesuatu, sebagaimana kita mengetahuinya.

Secara rasional, akan timbul banyak pertanyaan. Mengapa baru setelah sekian hari muncul serpihan-serpihan itu? Tidak sesaat setelah hilang, padahal selama ini permukaan laut di situ dilewati kapal dan pesawat terbang, yang selalu melihat permukaan laut. Mengapa serpihan itu seperti di kremes, sebagaimana penjelasan Dan Rem yang kolonel artileri, dalam siaran langsung di METRO TV? Kalau melihat serpihan tempat duduk, meja makan seperti itu, tercabik-cabik, mungkinkah orang yang duduk di kursi itu masih utuh? Mana yang lebih ‘kuat secara fisik’, yang diduduki, disandari atau yang sandar dan duduk di atasnya?

Aku jadi ingat cerita Saleh Baktir [alm] ketika belum menjadi insinyur. Almarhun ini adalah seniorku di Bagian Teknologi Kimia ITB, juga seniorku di Kasbah [komplek rumah tinggal jamaah di Bandung, di daerah Dago], yang masuk tahun 1957 dan baru lulus tahun 1970an [kira-kira]. Almarhum pernah bercerita, waktu masih adanya profesor dari luar yang mengajar di ITB, kalau bukan Eropa ya Amerika Serikat. Ada mahasiswa yang praktikum dengan menggunakan dessicator, yaitu suatu wadah yang kedap udara untuk menyimpan zat kimia atau preparat agar tidak terganggu oleh kondisi kelembaban udara luar, biasanya untuk mengeringkan atau menyimpan yang mau ditimbang. Sebagai pengering digunakan dessicant berupa CaO padat atau NaOH padat. Waktu itu silica gel [seperti yang banyak kita temukan dalam kemasan makanan kering] masih merupakan zat yang elite. Ada juga dessicator yang bisa divacuumkan, sampai suatu tekanan tertentu. Jika atmosfir adalah 76 cmHg, maka tekanan dalam dessicator bisa dibuat beberapa cmHg saja.

Untuk memvacuum suatu bejana, biasanya digunakan vacuum-pump. Konon, yang praktikum waktu itu, karena takut kalau dessicator-nya meledak, maka dia menutupi dessicator tersebut dengan jas lab-nya. Bersamaan dengan itu, sang profesor masuk ke lab, dan mengatakan mengapa ditutupi dengan jas lab, kalaupun nanti meledak, kan meledaknya ke arah dalam, tidak keluar. Jadi teruskan saja diisap, tak perlu takut meledak keluar. Tak lama sesudah itu, meledaklah si dessicator tersebut, – tak kuat menahan tekanan luar yang hanya 1 atm saja – dan ternyata ya semburat ke mana-mana. Tidak langsung ngelimprek ke dalam. Dan kemudian mereka menemukan sang profesor bersembunyi di balik meja laboratorium. Wa Allahu a’lam. Tetapi cerita ini shahih, setidaknya hasan.

Kalau memang pesawat itu utuh masuk ke dalam laut, dan tidak tahan terhadap tekanan air [itu mekanismenya sama dengan pecahnya dessicator tadi] maka dia akan seperti kaleng soft drink yang dikremes-kremes. Dan karena bukan gelas yang brittle [getas] maka badan pesawat itu seperti di kruwes-kruwes. Setelah lungset, lalu sobek tercabik-cabik. Kalau karena benturan, maka serpihan itu akan terpotong karena adanya gaya gunting [shear force] yang mengenainya, walaupun bisa pesok atau penyok lebih dulu.

Mungkinkah arus atas dan arus bawah laut di Selat Makassar itu berlawanan arah? Yang atas ke arah utara yang bawah ke arah selatan? Sehingga yang di obok-obok daerah Mamuju, tetapi menemukan serpihan di Barru dan Pare-Pare? Mengapa yang muncul bagian ekor dulu? Memang kalau sedang terbang dengan kecepatan tinggi, dan bagian ekornya pecah, maka isi perut pesawat akan terlempar keluar [terhisap keluar] seperti kita lihat di film-film bila ada bagian pesawat yang terbuka.

Mungkinkah pesawat itu masuk ke dalam suatu palung dalam, yang juga tertutup atau terlindung atasnya, sehingga seperti masuk ke terowongan. Dan disana kemudian sedikit demi sedikit pecahannya keluar menuju ke permukaan. Mungkinkah besok kita akan menemukan serpihan yang bertambah banyak? Apakah pada dasarnya, serpihan tersebut memiliki bulk density yang memang lebih ringan dari air, sehingga akan mengambang? Mengapa mengambangnya agak lama? 7 hari lho.

Orang yang tenggelam [karena bulk density-nya lebih besar dibanding air] setelah beberapa hari, kemudian akan mengambang [karena adanya proses pembusukan, badan menggelembung dengan adanya gas dalam perut, dan bulk density akan mengecil]. Karena itu orang yang mati di kapal, yang dikubur dengan melempar ke dalam laut, akan diberikan pemberat. Agar nanti tidak muncul ke permukaan laut.

Mungkinkah benda yang seharusnya mengambang, tetapi kemudian bisa tertarik dan tertahan dalam keadaan tenggelam? Tentu bisa, bila ada daya tarik atau daya dorong yang lebih besar dari gaya angkat sebagai akibat dari perbedaan density antara benda dengan fluida di sekitarnya.

Bisa saja gaya itu berasal dari gaya dorong mesin pesawat yang masih hidup ketika memasuki permukaan laut, sama seperti anda memasukkan bola ke dalam kolam air. Tapi itu mungkin hanya sebentar, setelah mesinnya mati, gaya itupun akan hilang. Mungkin juga ada gaya hisap oleh suatu pusaran arus air yang melingkar [bahasa tekniknya membentuk vortex] seperti kalau kita mengaduk kopi dalam cangkir. Bagian yang tengah akan turun, dan bagian tepinya akan naik ke dinding cangkir. Seperti juga pusaran angin topan [tetapi ini air topan]. Bila kemudian gaya itu hilang atau berkurang, maka benda-benda serpihan tersebut, atau bahkan keseluruhan sisa badan pesawat akan naik kepermukaan, karena pada dasarnya memiliki bulk density yang lebih rendah dibanding density fluidanya.

Bentuk topografi dasar laut, serta kecepatan arus, secara teoritis bisa menimbulkan vortex yang mampu mengisap dan menahan benda itu selama beberapa waktu [beberapa hari ini]. Setelah kecepatan arus bawah air agak menurun, maka gaya yang ditimbulkan akan mengecil, maka lepaslah serpihan itu ke permukaan. Kalau memang begitu, maka tidaklah ada makhluk halus yang menahan serpihan tersebut selama ini. Kalau saja kejadiannya di Segoro Kidul [sebutan untuk Lautan Hindia sebelah selatan pulau Jawa], maka akan banyaklah cerita-cerita mistik yang akan beredar di masyarakat. Untung kejadiannya di Selat Sulawesi, yang tidak dihuni oleh Nyai Loro Kidul [Loro atau Roro].

Barangkali ada benarnya celotehan cucuku yang masih berusia 3 tahun lebih sedikit, yang mengatakan bahwa ADAM AIR ada di dalam terowongan [pada hari Minggu], yang dikelilingi oleh pohon bambu. Dan dalam air [pada hari Senin]. Dia mengenal terowongan, dari permainan yang sering dimasukinya. Hanya dengan pengertian, terowongan itu adalah suatu pusaran air yang membentuk lubang vortex seperti terowongan memangnya dengan tepi yang tidak rata.

Yang penting, adalah bagaimana para ahli nantinya dapat menjelaskan fenomena yang sebenarnya menimpa ADAM AIR ini, sehingga baru sekian hari kemudian muncul serpihan-serpihannya. Agar masyarakat terhindar dari berbagai mitos atau cerita mistik sejenisnya, agar jauh dari syirik.

 

Wa Allahu A’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

12 Januari 2007

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: