CERITA PAGI – 24

 

Kemarin siang, entah oleh sebab apa aliran listrik dari PLN mendadak mati untuk waktu sekitar satu jam. Walau sudah jarang, tetapi kadang-kadang masih terjadi juga hal yang paling tidak mengenakkan di abad ke 21 ini. Bagaimana tidak, di jaman orang sudah sangat tergantung pada listrik, tetapi ketersediaannya tidak bisa diandalkan, sewaktu-waktu bisa menghilang walau hanya sesaat.

Memang sih, kalau dulu  bekerja di komputer lalu listrik mati, maka “wassalam”lah semua apa yang sudah kita kerjakan, bahkan yang sebelum-belumnya. Tetapi sekarang sudah lebih aman. Apalagi kalau pakai laptop, kan ada batu batereinya [ini istilah jadoel, alias jaman dulu dengan menyebut baterei sebagai batu baterei atau batu saja]. Tetapi kalau gelap, karena tidak semua ruangan kantor memiliki jendela untuk masuknya sinar alami dari pancaran sang surya. Tetapi kalau tidak ada penerangan lampu sebagai sumber cahaya, ya tidak nyamanlah di depan komputer. Kalau sinar alami tak ada, maka tentu mengandalkan penyejuk ruangan sebagai sumber kenyamanan bekerja. Jadi kalau tak ada aliran listrik, konon istilah di Jakartanya, dinyatakan sebagai sedang aliran. Yah, kulawak kuwalik. Itulah kenyataannya.

Jadilah aku sebagai “pengangguran terpaksa” tersebut, sebagai komplemen istilah “pengangguran terselubung” atau disguess unemployment  [kalau salah benerin ya], karena kemampuan mengingat yang detail detail memang menurun secara berbanding terbalik dengan pertambahan usia. [Apa masih lazim penggunaan istilah “berbanding terbalik” ini?]. Di tengah susana tidak menentu tersebut, entah kenapa mulanya, aku kemudian secara tanpa sadar melantunkan secara rengeng-rengeng [bersuara sangat lirih sekali, sehingga orang yang disampingnyapun sulit untuk menyimaknya], bait-bait lirik lagu yang dulu sering kulantunkan di kala dinginnya malam dan menahan kantuk dalam menyelesaikan Laporan Praktikum Unit Operations [suatu mata kuliah yang paling banyak menyita waktu] dan kemudian aku menjadi asisten untuk mata kuliah tersebut selama beberapa tahun.

Aku memulainya dari bagian tengah [refrein], dengan kata-kata seperti ini

Duhai ibunda berikanlah hamba doa mesra murni

Agar hamba selamat hidup dirantau orang selama ini.

dan tidak ingat apa kata-kata pada permulaan lagu tersebut, walau mencoba dan berusaha menemukannya.

Dengan bantuan bu Sadrah yang ada di ruangan sebelah dan juga seorang pemerhati lagu dan pintar nyanyi, [karena termasuk yang tertua di kantorku bila pak Fuadi tak ada] aku mencoba mencari bagian depan lagu tersebut. Masak orang menyanyi [walau pasti falesnya bukan alang kepalang hebatnya – dan kalau penciptanya mendengar akan bangun dari kuburnya] hanya bagian tengahnya saja, kan nggak afdhol. Tetapi itu rupanya suatu gejala alam, ingat tengah lupa awalnya. Coba saja.

Dalam mengingat-ingat, malah nyasar ke lagu

Kala senja amat indah ceria,

Tiba-tiba datang angin kencang

Berguguran daun-daun di dahan

Berjatuhan hancur tak tertahan

Terbayang kasih nan pergi jauh

…….[dan tak tahu selanjutnya]

 

Dan kemudian baru sadar, kalau itu bukan awalan lagu yang dicari. Dan listrikpun menyala [istilah yang kurang pas ya – kan bukan kayu bakar]. Dan anakkupun telah datang menjemput. Kalau di METRO TV ada acara “Unsolved Problem”, barangkali ini “unsolved melody”. He he

Dalam perjalanan menyusuri jalan menuju ke rumah, aku masih penasaran akan awal lagu tersebut. Dan setelah berkali-kali mencoba rengeng-rengeng mencari melodi dan lirik awal lagu tersebut, tiba-tiba tuing, muncul kata “pada” dalam benakku dan terucapkan. Maka terlantunlah kata-kata yang mengikutinya secara tersendat-sendat. Sampai akhirnya lancar

Pada suatu malam kududuk termenung seorang diri

Melamun duka lara terkenang ibuku nan jauh di mata

Mungkin juga itu barangkali belum lengkap, tetapi sudah memadailah. Karena takut lupa lagi [seperti cerita seorang matematikawan yang menemui kesulitan dalam menyelesaikan problem pembuktian suatu hipotesa, yang kemudian dapat membuktikan sampai q.e.d. ketika mimpi dalam tidurnya, tetapi karena tidak cepat-cepat menuliskannya setelah bangun, maka dia memerlukan waktu berbulan-bulan untuk meng q.e.d. kan masalahnya lagi] maka aku segera menuliskan di HP dan meng-sms-kannya ke bu Atin Sadrah. Dan responnya “Itu lagu jaman dulu banget. Saya masih kecil aja itu udah kuno”. Yah anak pertamanya dia baru mau masuk perguruan tinggi pada bulan Juli nanti. Semoga tercapai keinginannya untuk masuk ke UNPAD [tanpa “pisanatu eui]

Jadi lirik lagu itu adalah [mungkin juga belum lengkap ya]

Pada suatu malam, kududuk termenung seorang diri

Melamun duka lara, terkenang ibuku nan jauh di mata

Duhai ibunda berikanlah hamba doa mesra murni

Agar hamba selamat, hidup dirantau orang selama ini.

yang saat ini hampir tak pernah ada yang mendendangkannya lagi.

Bagi mereka yang dirantau orang, apalagi pas wesel terlambat –padahal satu-satunya sarana umum pada waktu itu – rengeng-rengen melantun-kannya, bisa membuat air mata meleleh di pipi. Allahummaghfir lahuma. Sekarangpun, aku membayangkan wajah ibundaku yang sangat penyabar.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

12 Januari 2007

 

Hari ini [14 Februari 2013] saya cari di internet, ternyata yang betul dan lengkapnya adalah

 

Pada suatu malam ku duduk, termenung seorang diri
Dilamun duka lara, terkenang Ibuku nan jauh dimata
Air mata berlinang membasahi pipi, tak terasa
Terbayang akan daku, waktu aku ditimang dan dimanja

Kini hamba jauh di rantau
Ini adalah kodrat Yang Kuasa
Duhai Ibunda, berikanlah hamba doa mesra murni
agar hamba selamat, hidup di rantau orang s’lama ini

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: