CERITA PAGI – 23

 

Sepuluh hari sudah berlalu upaya untuk menemukan benda paling menghebohkan yang hilang di awal tahun 2007. Benda yang besar, dan memiliki warna yang terang [kontrast] dengan kehijauan alam nusantara – seperti warna yang digunakan oleh para pilot tempur / Angkatan Udara, anggota team SAR, Pasukan Khas dan para pecinta alam – seakan hilang ditelan bumi.

Berbagai kekuatan dan daya yang dimiliki telah dikerahkan, baik dari ketiga angkatan [darat, laut, udara] dan POLRI, masyarakat pecinta alam, keluarga korban, fasilitas dari Singapura, Amerika Serikat dan juga Canada, serta BPPT dengan kapal Baruna yang dimilikinya. Pesawat terbang berbagai jenis [Nomad, Boing 737, Fokker 50, CASA] yang diperlengkapi dengan berbagai peralatan mutakhir, juga berbagai kapal perang yang dilengkapi berbagai peralatan juga. Dan tentunya juga masyarakat dengan berbagai peralatannya pula. Kesemuanya, bukanlah tenaga yang asal comot, tetapi sudah terlatih untuk menjalankan tugas seperti itu. Tetapi, pesawat ADAM AIR yang berwarna orange tersebut belum juga terlihat.

Di darat tak terlihat, di lautpun tak teraba. Dimanakah pesawat segede itu tersembunyi. Indra yang dimiliki manusia [ke lima indra – walau indra perasa yang ada di lidah kita tentunya tidak ikut-ikut mencari pesawat ya] belum juga mampu menemukan, begitu juga peralatan buatan manusia yang menambah kekuatan dan ketelitian serta kemampuan manusia dalam melakukan penginderaan – yaitu berbagai peralatan penerima sinyal, radar, sonar – bahkan berbagai kemungkinan penentu lokasi [seperti penelusuran melalui perekaman informasi yang diberikan oleh HP], juga belum memberikan hasil yang diharapkan. Maka manusiapun berupaya, menggunakan indra keenam yang dimiliki oleh beberapa orang khusus. Tetapi sejauh ini belum juga memberikan hasil. Jangankan hasil, petunjukpun belum.

Titik terang diberikan oleh KRI FATAHILLAH, yang dengan peralatan sonar yang dimilikinya, yang hanya mampu mendeteksi keberadaan logam di bawah laut sedalam sekitar 1000 [seribu] meter saja. Maaf, terpaksa menyertakan kata ‘hanya’, karena itu kemampuan tertinggi yang dimiliki oleh aparat kita, pada hal kedalaman laut kita banyak yang sangat dalam. 2000 meter, 3000 meter bahkan lebih. Kedalaman laut ada yang melebihi tingginya gunung Himalaya yang 8888 meter [ya kurang lebih lah], seperti palung di Filipina yang lebih dari 10000 meter. Artinya, melebihi jangkauan kemampuan yang ada pada KRI FATAHILLAH tersebut. Hanya negara maju yang memiliki peralatan sonar untuk menjangkau kedalaman yang lebih kelam. Kapal milik Amerika Serikat pun turut membantu.

KRI FATAHILLAH menemukan logam pada posisi sekitar 2o 36’ LS dan 118o 47’ BT. Ada lagi sekitar 2o 31’ LS dan 118o 24’ BT. Lihatlah pada peta di bawah ini, lautnya sudah berwarna biru lebih tua. Artinya laut dalam.

[ada peta]

Dan konon kemudian si Mary Sears, menemukan bahwa salah satu lokasinya sudah bergeser 1,7 mil atau lebih dari 3,5 kilometer dalam waktu hanya 2 hari saja. Kalau memang itu si ADAM, wow. Arus laut bawah laut mampu menggeser sejauh itu? Wa Allahu a’lam.

Kalau di darat, dimana. Kalau di laut dimana pula. Hanya beberapa pertanyaan tentang berbagai kemungkinannya tentu tak bisa diabaikan begitu saja. Kelihatannya para pencari memfokuskan di laut, walau pencarian di darat terus dilakukan. Kalau truk jatuh ke jurang, sudah jadi peyot dan berantakan. Kalau pesawat nabrak gunung, ya seperti itulah keadaannya. Kalau meledak di udara, tentu lebih berserakan lagi. Bisa di darat atau di laut. Tetapi tidak ada tanda-tanda dimana serakan itu berada. Atau adakah sesuatu yang menutupinya? Apa itu? Atau sekedar pandangan kita yang tertutupi oleh sesuatu, pada hal sebenarnya mereka nyata?

Kalau mendarat di laut, tentu sempat membuka pintu darurat. Dan, insya Allah pemberitahuan cara penyelamatan dan peralatan penyelamatan masih lebih baik dibanding KM SENOPATI NUSANTARA, walau ADAM AIR sebuah penerbangan murah. Kalaupun karena menghantam air laut lalu pecah tentu berserakan dan terbawa air ke mana-mana. Kalau di Selat Makassar, sepertinya ke arah utara, menuju Laut Cina Selatan. Tergantung sudut mendekatinya, pesawat bisa mental [seperti permainan serampatan di Brugg dulu], hancur berkeping-keping, atau seperti masuknya peloncat indah ke kolam renang dalam lomba di Olympiade. Mungkinkah pesawat Boing 737-400 itu masuk ke laut seperti peloncat indah dari papan yang tinggi [loncat menara?], sehingga tak ada kerusakan dan langsung masuk ke dalam.

Kalaupun itu yang terjadi, apakah kemudian yang terjadi? Pesawat terbang, adalah suatu benda berongga [tidak pejal] yang dibentuk seperti telur, dimana kekuatannya berada pada shell, dan memang dia dihitung berdasarkan shell-theory untuk menahan suatu beban dan kekuatan tekan tertentu. Pada saat terbang tinggi [diatas 30000 feet, atau diatas 10000 meter] boleh dikata pesawat akan menerima tekanan di dalam yang lebih besar dibanding udara luar. Tekanan di dalam, memang dibuat seperti di permukaan bumi, 1 atmosfor, sedangkan di luar udara sudah sangat tipis. Dan kalau sampai kedalaman tertentu [10 meter di bawah air] tekanan dalam dan luar akan seimbang. Tetapi saat lebih dalam lagi, sampai 300 meter, apakah dinding pesawat mampu menahan tekanan sebesar 30 atm, atau 30 kg/cm2. Mungkin ban mobil kita sudah akan meletus dan bercerai berai. Apalagi bila 1000 meter, atau 100 atm atai 100 kg/cm2.

Kita bisa membayangkan, bagaimana remuk redamnya pesawat dan tubuh manusia yang ada di dalamnya. Kecuali kalau kemudian pintu-pintunya terbuka, atau ada lubang masuknya air, sehingga terjadi penyesuaian tekanan antara dalam dan luar, antara dinding luar dan dalam pesawat. Tetapi bagaimana dengan badan manusianya, menerima tekanan yang tinggi. Tentu berurutan, selaput-selaput yang tipis akan pecah dahuluan [gendang telinga], dan diikuti oleh yang lainnya. Mungkin badan manusia, menjadi seperti bantal busa yang dibungkus vacuum ketika dijual, untuk memudahkan pembelinya membawa pulang [itu hanya 1 atmosfir lho].

Cobalah dengan sebuah kaleng soft-drink [yang dibuat dari alumunim tipis itu] apapun merk dagangnya. Semulah dia diberi tekanan di dalamnya. Dia kuat walau kita tekan. Ketika sudah kita isap isinya, dia jadi lemah, dan dengan sedikit tekanan saja sudah penyok. Pada hal kekuatan kita tak seberapa, bukan? Dibanding tekanan air yang setiap 10 meter masuk ke laut bertambah 1 atmosfir alias 1kg/cm2.

Hanya kepada Allah lah semua persoalan ini kita kembalikan. Dan banyak doa dipanjatkan ke haribaan-Nya guna menemukan ‘misteri ini’. Sudah banyak upaya yang dilakukan. Tenggat waktu normal dalam semua kecelakaan dan bencana yang biasanya 7 hari, sudah dilalui. Atas instruksi Presiden agar dilanjutkan terus sampai ketemu. Iya kalau ketemu, kalau ketemunya kemudian secara kebetulan setelah 12 tahun seperti yang terjadi di Sumatra Utara, bagaimana.

Mencari sesuatu benda dalam air sangatlah sulit, jauh lebih sulit di banding mencari benda di atas tanah. Bagi yang pernah hidup dengan budaya sumur gali [sekarang sudah berganti dengan budaya sumur pantek dan dilengkapi pompa manual – dragon – atau bahkan pompa listrik –sanyo-] tentu suatu ketika pernah mengalami putusnya timba dan harus mencarinya dengan ‘memancing’-nya. Itu sangat sulit. Tetapi dengan sedikit pengetahuan, kita menunggu saat matahari benar-benar di atas ubun-ubun, maka kita bisa melihat dalamnya sumur dengan jelas, apa saja yang ada di dalamnya. Maka kita akan sangat mudah ‘memancing’ timba tersebut. Tetapi kalau yang dicari di lautan, ya tidak dapat dengan mata telanjang ini. Tentu diperlukan alat.

Fa idza azamta, fa tawakkal ala Allah. Jika kita sudah mengupayakan semaksimal mungkin, maka serahkanlah kepada Allah. Nama KRI yang pertama kali menemukan adanya tiga posisi logam di bawah air, yaitu FATAHILLAH – walau diambil dari nama pahlawan Islam di masa silam – memiliki arti yang merupakan salah satu sifat atau nama Allah yang 99 buah.

 

 

! الْفَتَّاحُ     Al Fattah
 
According to Arabic Lexicon (Taj / Muheet /Raghib), this “Sift” of Allah Almighty described as the one who made big decisions. He who opens the solution to all problems and eliminates obstacles. “Sovereign”.

[ Reference: Surah Saba – Verse 26 ]

قُلۡ يَجۡمَعُ بَيۡنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفۡتَحُ بَيۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ وَهُوَ ٱلۡفَتَّاحُ ٱلۡعَلِيمُ ( ٢٦ )

Katakanlah: “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui”.

 

———————————————————————————-

Aku menghentikan menulis, karena sudah harus bersiap berangkat, jam 05:50, tetapi jam 07:07 ketika di jalan aku memperoleh SMS dari anakku yang lagi nonton TV di rumah, bahwa ada nelayan di Pare Pare yang menemukan bagian ekor pesawat sekitar 300 meter dari pantai. Kudengarkan di radio wawancara dengan Menhub tentang hal tersebut, bahwa benar itu adalah horizontal tail stabilizer milik ADAM AIR yang hilang. Sudah mulai ada petunjuk atas teka-teki ini.

———————————————————————————–

 

07:46 aku lanjutkan lagi ya. Dari detik.com juga memang begitu. Dan dari tag number yang dimiliki memang kepunyaan pesawat ADAM AIR tersebut. Syukurlah, sudah mulai terbuka dan ada sedikit petunjuk. Semoga Allah swt [al-Fattah] membukakan lebih banyak petunjuk bagi upaya penemuan pesawat tersebut, agar masyarakat terhindar dari berbagai hal yang cenderung ke arah syirik [mensekutukan Tuhan Allah swt] dan berandai-andai yang bukan-bukan. Selamat bekerja Team SAR antar negara.

 

Wallahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

11 Januari 2007

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: