CERITA PAGI – 21

 

Tiga hari sudah hampir berlalu, tetapi pencarian pesawat yang hilang tersebut belumlah menunjukkan titik-titik terang. Bahkan wilayah pencariannya semakin meluas, seiring dengan ditengarai adanya sinyal-sinyal di daerah Naongan, Bolaang-Mangondow yang berada di dekat Manado. Entah kemana hilangnya pesawat tersebut. Kejadian seperti ini, seingatku pernah terjadi pada tahun awal akhir 60-an atau awal 70-an yang menimpa pesawat Merpati yang akan menuju ke Padang. Tetapi tentunya peralatan 30 tahun silam, sudah berbeda dengan peralatan yang digunakan oleh Team SAR saat ini.

Saya sendiri pernah mengalami kecelakaan pesawat tepatnya di bandara Hasanuddin, Makassar [Ujung Pandang waktu itu namanya]. Walau, alhamdulillah tak mengalami cedera sedikitpun. Pesawatnya adalah pesawat berbaling-baling, buatan HS [Hawker and Seddely – persisnya lupa] buatan Inggris, dengan maskapai Bouraq [kalau tidak salah]. Sepertinya ya, yang jelas bukan Garuda atau Merpati.

Kala itu, saya sedang bertugas untuk mencari lokasi baru bagi ekstensifikasi [perluasan] areal pegaraman. Karena dengan bertambahnya penduduk Indonesia, dan kemungkinan pengembangan industri kimia dasar berbahan baku garam [seperti soda api, soda abu, gas khloor dan turunannya] sudah dapat dipastikan Indonesia akan mengalami defisit garam. Dari desk-study yang kulakukan sebelumnya, melalui data meteorologis yang aku kumpulkan dari Badan Meteorologi dan Geofisika, ditengarai ada daerah yang memiliki curah hujan sangat sedikit dan masa kemarau [curah hujan dibawah 10 mm dalam satu bulan] yang panjang. Bahkan data hujan [lebih tepatnya data tidak adanya hujan ] dari daerah tersebut, lebih hebat dari wilayah Nusa Tenggara Timur sekalipun.

Daerah itu adalah wilayah Talisse, yang terletak di pantai timur teluk / lembah Palu, di wilayah Sulawesi Tengah. Kala itu, penerbangan belumlah seramai sekarang ini. Penerbangan Ujungpandang – Palu, hanyalah dua kali seminggu. Sekali seminggu dilayani Garuda / Merpati, dan satu kali lagi oleh Bouraq. Kalau sekarang, mungkin sudah dua kali sehari. Sehingga jika terlambat penerbangan yang kita inginkan, maka kita harus menunggu 3 hari lagi untuk bisa terbang, itupun kalau dapat seat. Kota Palu, asalnya hanyalah sebuah kecamatan [atau mungkin kelurahan] yang dipilih untuk dikembangkan menjadi ibu kota provinsi. Entah mengapa, bukan ibu kota kabupaten yang telah ada yang dipilih [seperti Donggala] misalnya. Depdagri-lah yang tahu.

Aku pergi kesana dengan seorang pejabat dari Direktorat Jendral Industri Kimia. Kami juga mendatangi wilayah pembuatan garam di sekitar Makassar, seperti di daerah Nassara [Jeneponto], Maccinibaji [Pangkep] dan Biringkanayya [di utara Ujung Pandang]. Aku sempat dibuat bingung oleh nama kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan itu, seperti Pangkep, yang aku cari di peta tetapi tak ada. Ternyata Kabupaten Pangkep itu, adalah singkatan dari Pangkajene & Kepualauan, dengan ibu kota Pangkajene. Jadi kalau cari di peta ya Pangkajene, baru ada.

Begitu juga saat ini yang banyak disebut sehubungan dengan pesawat ADAM AIR ini, yaitu Polewali Mandar atau Polman. Dulunya yang populer adalah Polmas, singkatan dari Polewali-Mamassa. Nama dua daerah dijadikan satu, kalau enggak akan tengkar terus. Ketika Polewali akan dipisahkan dari Mamassa, seperti anda ingat beberapa waktu lalu, pertikaian atau perang antar desapun terjadi. Tetapi kemudian Polewali tetap memilih berpisah, dan bergabung dengan Mandar yang terkenal dengan hasil tenunan sarung suteranya, sarung mandar. Di jaman aku kecil [1950an], adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi orang Gresik apabila memiliki sarung mandar, apalagi yang bisa dilipat dan dimasukkan kedalam kotak korek api [untuk menunjukkan betapa tipis dan halusnya benang sutera yang digunakan]. Kalau sarung yang mirip sarung mandar, biasa disebut sarung ‘mandar mugo’ yang merupakan kata awal untuk mendoakan orang [tetapi dengan harapan negatif].

Setelah dua hari di Palu, menginap di Hotel Bumi Nyiur [?] yang baru saja dioperasikan, sehingga masih bau cat, kamipun akan balik ke Ujung Pandang. Maunya langsung ke Bandara Mutiara, tetapi oleh tuan rumah diajak sarapan dulu [tetapi sarapannya bukan ke Ateng, yang terkenal dengan roti bakar dan telur ayam kampung setengah matang. Entah sudah ada apa belum aku tak tahu]. Akhirnya kami ‘terlambat’ untuk check-in. Karena waktu check-in sudah tutup, seat kami diberikan kepada penumpang lain yang berstatus waiting-list. Si Tuan Rumah merasa bertanggung jawab atas kejadian ini. Seat yang tersisa hanya satu. Maka dia , sebagai pejabat tingkat provinsi lalu menggunakan power dan network-nya di lapangan terbang. Walhasil, kami berdua bisa boarding.

Tetapi ketika boarding ke pesawat, ada perasaan tidak enak. Tak lain, karena ada seorang calon penumpang yang ngotot ingin bisa terbang dengan pesawat tersebut. Rupanya beliau sore itu harus menjemput ibunya yang pulang dari haji. Jadi kalau itu tahun 1976, maka kejadiannya ya bulan-bulan ini, karena dalam 30-an tahun, bulan hijriyah akan kembali menyatu dengan bulan syamsiyah. Jadi ya pas musim barat seperti ini. Hatiku berkata, kalau nanti terjadi sesuatu maka salahku sendiri. Karena keberangkatanku ini telah meng-cancel orang yang semula sudah di OK kan. Orang tersebut, masih tetap mau naik ke pesawat dan sampai ‘diamankan’ oleh petugas bandara.

Take-off pesawat berjalan mulus. Alhamdulillah dalam hatiku. Bukankah masa kritis perjalanan pesawat, adalah saat take-off dan landing. Sebagaimana kebiasaanku sampai sekarang, aku selalu melihat keluar melalui kaca jendela pesawat pada saat take-off dan landing, maupun selama perjalanan selagi memungkinkan. Walau sudah mendekati bandara Hasanuddin, tetapi daerah Biringkanayya yang kemarin aku kunjungi masih belum tampak juga. Rupanya hujan begitu lebat, dan tidak terlihat lagi galengan [dijk atau dike] yang menjadi batas antara petak yang satu dengan petak yang lainnya dari ladang garam yang seharusnya terlihat. Berarti genangan air sudah setinggi 20 cm atau lebih.

Aku betul-betul menikmati pemandangan yang kulihat dari jendela pesawat. Bukan mau menyamakan diri dengan pak Habibi – yang mempunyai kemampuan untuk mengarahkan pesawat – sehingga bisa membidikkan kameranya dan membuat koleksi foto yang sempat dipublikasikan, akupun suka memotret dari jendela pesawat selagi memungkinkan. Dan karena aku sangat menyukainya, akupun mengoleksi kumpulan foto pak Habibi tersebut, dengan tanda tangan asli dari beliau. Semoga tak dimakan rayap yang sempat menyerang lemari buku dan beberapa koleksiku, termasuk negatif berpuluh atau seratusan lebih rol film hasil jepretanku dan anak-anakku.

Aku menyadari bahwa sesuatu akan terjadi. Pesawat berputar lebih dari tiga kali. Memang lebih tenang orang yang tak tahu, dari pada yang tahu atau punya firasat. Tetangga sebelah, di seberang aisle, seorang ibu-ibu mulai mau muntah-muntah, dan kuberikan balsem yang selalu menemaniku dalam perjalanan. Dia sempat menggunakan balsem tersebut, dan mengembalikannya padaku. Aku terus berdoa dalam hati. Dan ketika pesawat melakukan approach untuk landing, hatiku semakin cemas. Dan tiba-tiba terdengar suara braak. Aku langsung berteriak “Ya Allah, jadi”. Teman seperjalananku bertanya “Apa yang terjadi?”, “Kecelakaan” jawabku singkat.

Terdengar suara bergesernya badan pesawat dengan landasan, dan tercium bau bahan bakar [entah dari mana masuknya bau]. Setelah pasti bahwa pesawat tak akan naik lagi, segera kubuka safety belt-ku, dan kutenteng tas kerja serta kameraku. Aku memperhatikan pintu pesawat yang tak jauh dari tempat dudukku, karena aku dibarisan sekitar ke lima dari depan. Begitu pintu terbuka, dan orang lain belum menyadari aku sudah di depan pintu, dan termasuk orang pertama yang meloncat. Karena tidak seimbang dengan bawaan tasku, dan juga karena tidak biasa melakukan lompatan, maka jatuhnya kurang sempurna, dan lututku ikut mencium aspal dengan sobekan kecil pada celanaku. Hujan tinggal rintik-rintik saja. Aku terus berlari menjauh dan berlindung dibalik tanggul yang ada, guna mengantisipasi bila terjadi percikan api yag menimbulkan kebakaran. Untunglah landasan yang masih berair, menghalangi terjadinya percikan api karena bergesernya logam dan aspal.

Tidak ada korban yang berarti dari penumpang pesawat. Hanya ada penumpang yang terkilir kakinya, karena mencoba memecahkan jendela kaca pesawat dengan kakinya, ada pula yang mencoba memecahkan kaca jendela dengan kameranya [ya kameranya yang hancur]. Tetapi seorang pegawai bandara meninggal dunia, ketika berusaha memberikan pertolongan dengan mendekati pesawat dengan menaiki motornya, dan kemudian menabrak mesin yang biasa menarik kereta barang di apron. Semoga Allah swt menerima niat baiknya yang tidak kesampaian.

Perilaku orang dalam keadaan panik, memang bermacam-macam. Ada yang semula berteriak teriak menghawatirkan keberadaan tasnya yang masih dipesawat, sambil berteriak-teriak menyebut tasnya. Tetapi setelah kuberitahu, tidak apa-apa tasnya pak, nanti juga akan ketemu. Yang penting kita selamat dulu. Kemudian dia berubah, dengan mengucapkan berkali-kali kata “Alhamdulillah”. Entahlah, apa sesungguhnya isi tasnya. Saya kemudian sempat memotret, baling-baling pesawat yang tertinggal di landasan, dan juga roda depan yang tergeletak lebih jauh dibelakangnya.

Rupanya pesawat tersebut mendarat dengan sudut yang kurang tepat. Mungkin karena cuaca berawan tebal yang menghalangi jarak pandang sang pilot saat melakukan approach, mungkin juga karena pengaruh angin pada saat pendaratan dilakukan. Seharusnya pesawat mendarat dengan roda belakang terlebih dahulu menyentuh tanah, dan kemudian badan pesawat perlahan-lahan turun menyentuhkan roda depan [yang konstruksinya memang lebih ringkih dibanding konstruksi roda belakang]. Tetapi ini terbalik, roda depan yang mendarat lebih dahulu, dan tak kuat menahan beban yang harus ditanggungnya, dan langsung patah. Tentu diikuti dengan tergoresnya landasan oleh putaran baling-baling, yang tentu baling-balingnya yang akan kalah.

Kami terpaksa stranded beberapa hari di Makassar, menginap di mess milik Pabrik Semen Tonasa, seperti halnya ketika kami sedang berada di Makassar sebelumnya. Badan pesawat yang masih berada di runway, tidak memungkinkan penerbangan lain, khususnya pesawat besar yang menuju Jakarta Kemayoran. Dalam menunggu kesempatan balik ke Jakarta, kami dengar juga bahwa Jakarta mengalami banjir yang cukup hebat, antara lain landasan terbang Kemayoran juga tergenang air.

Kami melalui telepon melapor ke kantor di Bubutan, Surabaya, dan ke Ditjen Inkim di Kebonsirih, Jakarta. Kami sangat mengagumi cara Direktur ku menangani berita ini, juga orang tua ku. Direktur Teknik ku, pak John Anwar – yang namanya kemudian kugunakan sebagai nama anakku yang kedua Anwar Luqman Hakim [dengan cerita tersendiri nantinya], langsung menugaskan pak Rubiyanto, [staf Pembukuan, yang rumahnya bersebelahan, satu dinding koppel, dengan rumah dinasku] untuk segera pulang, dengan tugas mendengarkan issue yang mungkin beredar di Kalianget, khususnya di rumah tanggaku. Lebih baik tidak tahu, dari pada mendengar berita yang samar-samar. Tetapi lebih baik mendengar berita yang benar, dari pada menduga-duga. Instruksinya, bila beredar kabar, baru beritahu bahwa memang saya ada dalam pesawat yang mengalami kecelakaan, tetapi selamat dan sedang menunggu pesawat ke Jakarta.

Begitu juga dengan ayahku, tanpa sepengetahuan ibuku, langsung mendatangi kantor di Bubutan 9, untuk menanyakan berita yang sebenarnya. Dan oleh staf di kantor, diberitahukan bahwa benar saya dalam pesawat itu, tetapi selamat tidak luka sedikitpun.

Sampailah kami di Jakarta Kemayoran, dan langsung ke mess di jalan Sunan Drajat 44, Rawamangun. Besoknya dengan taksi, akan melapor ke Kantor Ditjen Industri Kimia di Kebonsirih. Ternyata jalan Kebonsirih, mulai dari Hotel Sabang [?] sudah terendam air. Air masuk ke mobil, sampai kaki harus diangkat ke atas jok taksi. Dan kantor kosong. Setelah itu kembali ke mess, dan langsung ke Surabaya pada kesempatan pertama.

Keluarga di Kalianget, baru mengetahui kecelakaan tersebut setelah saya sendiri tiba dirumah. Pak Rubiyanto memang selalu memantau keadaan rumah secara tidak langsung, dan berusaha mencegah adanya koran yang dibaca oleh staf kantorku dan orang rumah [karena pembantu lelaki yang dirumah, Rahwini – lelaki, bukan Rahwana perempuan – juga bertugas di kantorku]. Walhasil, kejadian tersebut tidak menimbulkan gundah gulana dalam keluargaku di Kalianget dan Sumenep.

Lain halnya di Gresik. Bagaimanapun, seorang ibu itu memang memiliki ikatan batin yang lebih erat dengan anaknya. Rupanya ibuku bermimpi, bahwa aku datang ke rumah dengan mengendarai mobil jeep yang langsung masuk ke ruang tamu tanpa roda depan. Dan itu dikemukakan oleh ibuku kepada ayahku. Oleh ayahku yang memang sering bersenda gurau dijawab “kembange turu iku” [bunganya tidur itu]. Ketika aku pulang ke Gresik, dan semua berkumpul, bapak mulai menanyakan kejadiannya. Dan ibuku langsung menimpali, “kenapa baru cerita sekarang kalau sudah tahu sebelumnya”, dan ketika ditanya koq tidak menceritakan yang sebenarnya. Dengan tenang bapakku menjawab “Anaknya sudah ada disini saja masih panik, apalagi kalau dengar cerita sedang anaknya belum ada, nanti tambah kepikiran”. Benar juga ya. Jadi menutupi berita, dan menyampaikannya pada saat yang tepat itu memang perlu.

Begitulah sedikit [he he, banyak juga ya] cerita pengalamanku ketika mengalami kecelakaan pesawat, walau tak memakan korban penumpangnya, tetapi telah membuat panik keluarga meskipun anaknya sudah ada di depannya ketika itu. Menunda penyampaian berita, bila itu akan memberikan dampak yang lebih baik, adalah bijaksana dan tidaklah salah untuk dilakukan.

Kemudian kudengar cerita tentang orang yang sempat marah-marah ketika keberangkatannya ke Makassar di-cancel, ketika mendengar bahwa pesawat yang rencananya akan membawa dia ke Makassar mengalami musibah dia berubah menjadi bersyukur. Karena kalaupun dia terbawa oleh penerbangan tersebut, maka ibunyapun belum akan tiba. Karena pesawat tidak ada yang bisa mendarat di Hasanuddin Airport.

 

Alhamdulillah, setelah itu akupun tidak pernah merasa was-was ketika harus naik pesawat. Hanya pernah sekali, ketika menumpang pesawat yang sejenis dari maskapai yang sama pula dalam penerbangan sekeluarga dari Bandung ke Surabaya, ketika ibuku pulang ke Rahmatullah, tepat dihari ulang tahun Antos yang pertama.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

04 Januari 2007

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: