CERITA PAGI – 20

 

Kecelakaan dan pencarian di laut, memang sesuatu yang tidak mudah dilakukan, serta melelahkan. Wlau itu dilakukan dengan bantuan peralatan yang canggih sekalipun. Itulah setidaknya yang kita saksikan di layar televisi beberapa hari terakhir ini. Terakhir diperoleh berita bahwa 15 orang penumpang KM Senopati Nusantara ditemukan dalam keadaan selamat di gugusan kepulauan Kangean, Sapudi, Raas yang masuk wilayah administratif Kabupaten Sumenep. Nun jauh di timur dari tempat kejadiannya.

Tanpa ombak dan hujan lebatpun, mencari orang yang terapung di laut sangatlah sulit, karena medannya terus bergerak mengikuti arus. Itulah yang pernah kualami dalam ikut serta berada di posko untuk mencari tongkang yang hanyut, karena sedikit masalah teknis, kurang panjangnya tali pengikat sauh atau jangkar. Karena memang semua tongkang lazimnya hanya akan melego jangkar di pantai, maka tali jangkarnya umumnya hanya sekitar 20-an meter saja. Tidak tahunya, lokasi tempat tongkang di tinggal oleh tug-boat – walau di pantai – kedalamannya mencapai lebih 30 meter.

Pada saat itu, hubungan telepon belumlah seperti saat ini. Untuk berhubungan antara Surabaya dengan Kalianget masih harus melalui operator di sentral telepon, yang dilakukan secara manual. Di Surabaya sendiri, sentral teleponnya masih manual, dengan sentral telepon Selatan, Utara dan Darmo. Jadi kalau mencatat nomer telepon, harus ada prefix-nya, S, U atau D. Untung kami di Kalianget mempunyai hubungan radio SSB [Single Side Band] antara Kantor Jakarta, Kantor Surabaya, Kalianget dan dengan kapal-kapal milik PN Garam.

Disamping tentunya pencarian sepanjang pantai selatan Pulau Madura, antara Sumenep – Pamekasan – Sampang – Bangkalan. Keberadaan peta pelayaran, yang memiliki skala cukup kecil, sangatlah berarti guna memetakan posisi mana yang sudah di-ubek-ubek oleh kapal pencari. Agar petanya tetap bersih [maklum belinya jauh dan agak sulit juga] maka peta tersebut maunya dilapisi dengan kertas kalkir. Karena kantor kami tidak pernah ada pekerjaan gambar-menggambar di atas kertas kalkir, ya tidak punya persediaan. Mencari di toko kota Sumenep [11 km dari Kalianget] ya tidak ada juga, karena tidak ada pemakainya. Rupanya sekolah STMpun tidak memakai kertas kalkir, cukup kertas gambar A-2 buatan pabrik Kertas Padalarang. Akhirnya kertas kalkir diperoleh berkat bantuan dari Dinas Pengairan Pekerjaan Umum Kabupaten Sumenep, yang hanya punya sekitar 5 meter saja. Dari pada tidak ada, 5 meter itu sudah sangat bermanfaat sekali.

Waktu itu pihak pemimpin kami belum melibatkan Tim SAR untuk pencariannya [atau mungkin tim SAR semacam yang sekarang ini barangkali belum ada juga]. Hanya Dirut kami, yang pensiunan Kolonel [pak Soewondo] dan stafnya Overste Noorhadi, meminta Komandan KODIM se Madura [yang umumnya pangkatnya Overste alias Letnan Kolonel] untuk membantu mengamati pantai selatan.

Ada mayat lelaki yang terdampar di daerah Bangkalan – Sampang, tetapi oleh penduduk dipastikan ini bukan bagian dari orang yang kita cari. Karena pandangan muka jenazah tadi menghadap ke barat, jadi asalnya pasti dari wilayah barat, bukan dari Kalianget – Sumenep yang berada di Tumur. Itulah kepercayaan masyarakat setempat bila menemukan jenazah di pantai. Wa Allahu a’lam. Dan ternyata memang bukan.

Semua tug-boat dan kapal milik PN Garam yang sedang sandar [sekitar 5 buah tetapi tidak memiliki perlengkapan radar], diperintahkan mencari di ‘kolam raksasa’ Selat Madura, sampai ke pesisir Panarukan – Situbondo. Kebetulan, sore hari kedua, ada dua kapal besar – Adipoday dan Adirasa – yang berbobot 2400 ton dan merupakan kapal yang paling mutakhir yang dimiliki, yang memiliki radar, sedang menuju ke Kalianget dari pelayarannya ke Medan dan Makassar. Maka keduanya langsung diperintahkan untuk mencari. Yang satu masuk melalui selat Kamal [Surabaya] dan bergerak ke arah timur, dan yang satunya langsung mencegat dan mengitari gugusan kepulauan Kangean, Sapudi, Raas yang berada di wilayah timur pulau Madura.

Hubungan komunikasi hanya bisa dilakukan antara sesama kapal dan dengan stasiun Kalianget, guna mengetahui posisi keberadaan kapal yang dari laporan itu, kemudian dipetakan diatas peta berdasarkan koordinatnya. Ternyata para ABK [anak buah kapal] itu memiliki alat penggaris yang mempermudah pembuatan garis sejajar [kalau orang teknik, membuat garis sejajarnya menggunakan dua buah segitgia siku-siku, kan – tetapi mereka tidak].

Seperti halnya para keluarga korban KM Senopati Nusantara atau pesawat Boing 737-400 ADAM AIR, keluarga dari mereka yang berada di tongkang juga menunggu dengan harap-harap cemas, sambil mendengarkan komunikasi radio dengan kapal pencari di pelabuhan Kalianget. Kami tidak mengkhawatirkan mereka yang di tongkang akan mati kelaparan atau kehausan, karena diketahui bahwa mereka membawa beras dan air dalam jumlah yang cukup untuk bekerja selama seminggu.

Sore menjelang malam hari, kami kehilangan kontak dengan dua buah kapal yang diandalkan tersebut. Tetapi tidak usah dikhawatirkan, kata teman-teman yang dari Perkapalan. Mungkin mereka mau istirahat dulu malam ini, dan insya Allah tidak ada kerusakan radio [karena mereka mengenali betul perilaku nakhoda kedua kapal tersebut]. Dan ternyata dugaan mereka itu betul.

Esok paginya, ketika kami mulai berkumpul lagi, ada berita radio bahwa kapal yang di timur [yang semalaman lego jangkar] menemukan tongkang tersebut jangkarnya tersangkut di karang pada salah satu gugusan pulau yang ada disana. Coba kalau kapalnya jalan terus, mungkin tidak bisa menemukan tongkang tersebut. Sang Direktur yang malam sebelumnya mau marah karena mereka mematikan radio, jadinya tidak marah lagi.

Cerdik juga orang yang ada di tongkang tersebut. Karena menyadari bahwa tongkangnya hanyut terbawa arus, maka yang bisa menghentikan tongkangnya hanyalah apabila jangkarnya menyangkut pada sesuatu yang cukup kuat, apa dasar laut atau karang. Jadi mereka membiarkan sang jangkar untuk tetap menggelantung dalam keadalam air. Maka tongkang pun ditarik oleh kapal yang besar menuju ke pangkalannya di Kalianget. Para keluarga bergembira, dan menunggu dengan tenang, karena sudah memastikan keselamatan keluarganya.

Dalam perjalanan, dilakukan pengecekan jumlah orang yang ada di tongkang, ternyata lebih satu dari yang terdaftar. Selain anak buah tongkang, tongkang tersebut memuat pekerja angkut garam yang dikepalai oleh seorang mandor. Semuanya lelaki, tetapi ada nama perempuan dalam daftar tersebut. Usut punya usut, ternyata perempuan tersebut adalah isteri kedua dari sang mandor, yang dibawa dalam bertugas ke Sampang.

Hikmah bagi sang mandor, walau ketahuan beristeri dua, sang isteri tua tidaklah marah karena yang penting suaminya selamat. Barangkali kalau ketahuannya tidak dalam suasana seperti itu [kekhawatiran akan meninggal, tetapi selamat walau bawa isteri yang lain].

Mencari keberadaan sesuatu yang hilang, yang tidak memberikan petunjuk kemungkinan tempat untuk menemukannya, sangatlah menekan emosi dan kejiwaan mereka yang mencarinya. Mencari sesuatu barang yang ketelisut [tidak diketahui tempatnya karena lupa meletakkan atau ada yang memindahkan] di rumah saja, kita kadang-kadang sudah sewot dan jengkel. Apalagi mencari sesuatu yang menyangkut nyawa orang banyak, seperti pada kejadi hilangnya BOING 737-400 tersebut. Sehingga berita yang diharapkan, [walau ternyata kemudian tidak benar] tentulah akan menyebar dengan cepat. Apalagi dengan sarana komunikasi seperti sekarang ini, hampir semua orang memiliki telepon seluler [bahkan ada yang membawa lebih dari satu dalam kantongnya – dengan berbagai alasan].

Kalau kita sedikit jeli, berita kemarin siang itu juga menimbulkan kejanggalan, misalnya :

  • Mereka yang tewas sebanyak 90 orang akan dibawah langsung ke Makassar sedangkan yang selamat 12 orang, akan dibawa ke kota yang terdekat [mengapa bukan sebaliknya, bukankah yang selamat – mungkin luka-luka  ringan atau parah – tentu membutuhkan fasilitas kesehatan yang lebih baik];
  • Mereka yang selamat sedang dicari disekitar lokasi. [apakah yang selamat masih bisa jalan, dan mencari pertolongan sebagaimana korban jatuhnya pesawat di Tinombala dulu?]

Dalam pencarian pesawat di Tinombala dulu, pihak otorita penerbangan menggunakan jasa seorang pastor dari Magelang yang memiliki kemampuan dowsing, entah Romo siapa namanya. Mengapa tak dicoba? Atau sudah dicoba secara diam-diam?

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

04 Januari 2007

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: