CERITA PAGI – 19

 

Dalam hal menjalankan shalat, hampir tidak ada perbedaan antara satu kelompok dengan kelompok lain, khususnya dalam bentuk gerakan fisik yang ummat muslim lakukan. Walau ada perbedaan dalam hal bacaan, dan hal-hal detail dalam meletakkan tangan ketika berdiri, posisi kaki ketika duduk, maupun yang lainnya. Padahal, untuk hal yang ini boleh dikata sangatlah minim petunjuk yang Allah berikan secara langsung dalam bentuk ayat al-Qur’an. Tetapi petunjuk yang diberikan oleh Allah melalui Rasulullah saw dan petunjuk melalui praktek yang dilakukan oleh Rasulullah tentang bagaimana menjalankan shalat, telah sedemikian luas diketahui oleh para sahabat dan ummat Islam pada waktu itu. Baik mengenai jumlah rakaat dalam setiap shalat, maupun apa yang dilakukan dalam setiap rakaat tersebut.

Jadi, memanglah tidak mungkin kita menyandarkan segala sesuatu hanya pada firman Allah swt sebagaimana yang tersebut dalam ayat al-Qur’an saja. Banyak petunjuk yang Allah swt berikan melalui Rasulullah saw, antara lain yang berupa hadis qudsi, yang sesungguhnya adalah firman Allah hanya tidak dimasukkan dalam al-Qur’an. Dan juga berbagai petunjuk melalui perbuatan Rasulullah, baik yang berupa perkataan yang memerintahkan, menganjurkan, melarang atau membiarkan sesuatu terjadi tanpa komentar Rasulullah. Subhan Allah. Maha Suci Allah swt.

Kemampuan mengingat yang dimiliki oleh ummat Islam pada zaman hidupnya Rasulullah, serta kemauan mereka untuk menceritakan dan menyampaikan apa yang dilihat dan/atau didengar tentang perbuatan Rasulullah sungguhlah mengagumkan. Bayangkan, di zaman itu kemampuan menulis masihlah sangat rendah, tetai budaya tutur – menyampaikan kepada pihak lain melalui lisan – sudahlah sangat mengakar diantara bangsa / ummat Islam waktu itu. Bayangkan seandainya ummat Islam [bangsa Arab waktu itu] adalah bangsa yang pelupa dan tidak suka bertutur tentang berbagai hal, lalu apa jadinya kita ini.

Kembali ke masalah awal, kalau untuk bagaimana melakukan shalat, Allah swt tidak menyampaikannya secara rinci dalam al-Qur’an, melainkan banyak melalui Rasulullah saw, lalu mengapa untuk berwudhu petunjuknya cukup detail diberikan dalam al-Qur’an? Bukankah “shalat adalah tiangnya agama, dan barangsiapa menegakkannya maka dia menegakkan agama, dan barangsiapa meninggalkannya maka dia meruntuhkan agama”? Walaupun dalam berkelakar, kita sering bilang “shalat itu kan nomer dua”. [Jangan keburu tersinggung ya, yang nomer satu ya “membaca dua kalimat syahadat”. Bukankah begitu dalam urutan rukun Islam?]. Ada rahasia apakah, sehingga Allah swt menguraikan secara detail tentang tata cara berwudhu ini? Apakah karena berwudhu tidak ada imam dan makmum, sedangkan dalam shalat ada imam dan makmum sehingga akan lebih mudah dan jelas dipahami oleh ummat. Hanya Allah yang mengetahui rahasia ini.

Coba simak ayat al-Maaidah QS 5:6 berikut ini

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَڪُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِ‌ۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبً۬ا فَٱطَّهَّرُواْ‌ۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٌ۬ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآٮِٕطِ أَوۡ لَـٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءً۬ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدً۬ا طَيِّبً۬ا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِڪُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُ‌ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡڪُم مِّنۡ حَرَجٍ۬ وَلَـٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُ ۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّڪُمۡ تَشۡكُرُونَ ( ٦ )

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Yang, sebagaimana biasa untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik, kita ubah formatnya menjadi

Hai orang-orang yang beriman,

  • apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka
    • basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan
    • sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki,
    • jika kamu junub maka mandilah, dan
    • jika kamu
    • sakit atau
    • dalam perjalanan atau
    • kembali dari tempat buang air; atau
    • menyentuh perempuan,

lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik; [dengan cara] sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Di ayat ini, ada tiga klausula IF – THEN, yang berkait dan beranak-anak.

IF-THEN yang pertama, menjelaskan apa yang dikenal sebagai wudhu [walau tidak disebut secara eksplisit]. Disini digunakan dua kata yang berbeda yaitu

  • faghsilu” yang diterjemahkan sebagai “basuhlah”, dan
  • wamsakhu” yang diterjemahkan sebagai “usaplah”. Walau dalam terjemahan untuk yang kaki ditambahkan (basuhlah).

Dari sini jelas, bahwa nash dalam al-Qur’an itu hanya muka, tangan, kepala dan kaki. Dan memang dalam pelajaran fiqihpun, yang telinga hanya dengan status sunnat.

Yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, adalah yang berkenaan dengan “kakimu sampai dengan kedua mata kakimu”. Selama ini yang kita praktekkan [dan juga oleh hampir semua ummat Islam] adalah dengan membasuh [menyiram] kaki. Saya tidak tahu pasti, yang disebut dengan “arjulakum” itu bagian kaki yang mana? Kalau “ka’bain” yang diterjemahkan dengan kedua mata kaki, kiranya kita semua mafhum. Tetapi “arjulakum” selama ini adalah bagian potongan kaki yang berada di bawah mata kaki. Apakah termasuk telapak kakinya? Apakah termasuk celah-celah di antara jari jari kita? Ataukah “arjulakum” itu bagian bawah betis? Dan apakah bila diperintahkan mengusap tetapi yang kita lakukan membasuh, apakah dibolehkan? Kalau boleh, apakah tidak tergolong mubadzir dari sisi penggunaan air [yang langka dan semakin langka]?

Tetapi diakhir ayat, dinyatakan “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

Mengenai urutan apa yang harus dilakukan, kiranya sudah jelas, mulai dari membasuh muka, membasuh tangan hingga siku, mengusap kepala, dan mengusap kaki hingga kedua mata kaki. Tentu dengan air, walau di penggalan ayat ini tidak secara eksplisit disebutkan. Tetapi disebutkan pada penggalan ayat berikutnya.

Disini, rupanya Allah swt mendorong kita untuk berpikir diantara kriteria-kriteria yang diberikannya, antara batasan “menyulitkan kamu”, dengan “membersihkan kamu”, dan menerapkannya kasus per kasus. Tidak digeneralisir untuk setiap saat. Mungkinkah begitu? Wa Allahu a’lam.

IF-THEN yang kedua, sudah jelas dan gamblang. Hanya kata “faththahharu” yang berkata dasar thahir [suci] diterjemahkan dengan mandi.

IF-THEN yang ketiga, ini berkenaan dengan pra-syarat dapat dilakukannya tayammum sebagai pengganti wudhu sebelum melakukan shalat. Media yang digunakan untuk bersuci bukanlah lagi air [sebagaimana digunakan untuk berwudhu dan mandi junub] tetapi digantikan dengan tanah [atau debu] yang bersih.

Dalam tata cara melakukan tayammum, jelas kata yang digunakan adalah “famsakhu” yang diartikan mengusap. Dan dalam hal mengusap tangan, secara jelas tidak disebutkan sampai batas mana, seperti halnya dalam berwudhu yang dinyatakan hingga siku. Selain medianya yang berganti, juga ‘tingkatannya diturunkan’. Yang ketika berwudhu, muka dan tangan dibasuh, dalam tayammum cukup dengan diusap dan tidak dinyatakan batasnya sampai siku. Sedangkan yang dalam berwudhu diusap, ketika tayammum tidak lagi dilakukan.

Hanya pra-syarat “lalu kamu tidak memperoleh air”, atau “tidak menemukan air”, sampai sejauh mana dapat diterapkannya. Apakah walau sakit, tetapi ada air, tetap harus berwudhu? Ataukah asal sakit boleh bertayammum? Mungkin kembali kita harus menyimak bagian penutup dari ayat ini “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

Ada juga yang berpendapat, bahwa tayammum itu tingkat kegunaannya dibawah wudhu, kalau wudhu bisa dipakai untuk beberapa kali shalat fardhu, sedangkan kalau tayammum hanya bisa dipakai sekali shalat fardhu. Misalnya tayammum untuk shalat maghrib, nanti kalau mau shalat isya’ harus tayammum lagi, walau belum batal.

Mari kita pikirkan ulang, tentang pelaksanaan bersuci sebelum shalat ini. Sekali lagi, bukan untuk mencari mudahnya melainkan untuk menemukan bagaimana yang seharusnya kita lakukan, khususnya dalam mengusap kepala dan kaki hingga mata kaki.

Banyak kita temui, yang dilakukan bukanlah mengusap kepala, melainkan membasuh sebagian ujung rambut – karena takut sisiran dan tatanan rambutnya rusak. Sehingga yang dibasuh / usap, adalah bagian dekat tengkuk. Padahal kalau dilakukan, dengan mengusap seperti halnya pengertian dalam tayammum [debunya tidak harus menempel tebal, sehingga airnya tidak harus kocor-kocor] tentu tidak enggan mengusapkan seluruh kepala. Apalagi bagi ibu-ibu. Juga kaki sampai kedua mata kaki.

Kalau ada ketentuan fiqih tentang “khauf” yaitu kaos kaki dalam berwudhu, apakah juga bisa dikembangkan untuk “songkok / tutup kepala yang lain – termasuk jilbab”? Yang cukup diusap tanpa harus dibuka?

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

03 Januari 2007

 

 

 

[Simak juga ayat pada surat An-Nisaa ayat 43.]

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: