CERITA PAGI – 18

 

Bagaimana ganasnya ombak yang besar, walau menimpa kapal yang besar sekalipun, amatlah sulit untuk membayangkan, khususnya bagi yang belum pernah mengalaminya. Apalagi ombak yang besar menimpa perahu kecil. Apalagi bagi yang belum pernah naik perahu atau kapal sekalipun. Selama masa awal tugasku di pegaraman dulu, aku sering harus melintasi selat Kamal, yaitu antara Ujung di Pulau Jawa dengan Kamal di Pulau Madura.

Pada waktu itu, awal 1970-an, penyeberangan dilayani oleh kapal fery Maduratna [yang bisa mengangkut mobil], dan kapal-kapal penumpang lainnya milik PJKA, serta beberapa buah LST [Landing Ship Tank] atau LCM [Landing Cruise Machine] yang bisa mengangkut orang [sedikit] dan beberapa kendaraan saja. Pelayanan penyeberangan oleh PJKA biasanya terjadwal, dan sering lebih lama dibanding penyeberangan yang menggunakan LST/LCM tersebut. Setidaknya dua kali dalam menjalani peneberangan aku mengalami saat yang cukup mendebarkan.

Satu kali sore hari menjelang maghrib, di hari Sabtu ketika masih awal-awal bertugas di Kalianget. Aku pulang ke Gresik, dan menyeberang dengan menggunakan LCM tersebut. Saat bertolak dari Kamal, cuaca memang mendung, tetapi gerimispun belum. Setelah beberapa menit berlayar, mendadak hujan lebat, dan basah kuyuplah seluruh badan. Penglihatan ke depan hanya sebatas sampai ujung pintu LCM itu sendiri. Saya ‘ngiyup’ di ruangan motoris [masisnis] bersama penumpang yang lain [hanya beberapa orang saja]. Mendadak di depan kita, ternyata lambung sebuah kapal besar yang sedang membuang sauh menunggu giliran untuk masuk ke pelabuhan Tanjung Perak.

Kontan saja sang motoris LCM tersebut memutar kemudinya guna menghindari tabrakan dengan lambung kapal tersebut, dan ternyata kemudian bahwa arah LCM tersebut bukannya ke dermaga Ujung, melainkan sudah menuju ke arah Gresik. Itu baru pelayaran di suatu selat yang terlindung oleh pulau Jawa dan Pulau Madura. Bagaimana kalau ombak besar dan hujan lebat itu terjadinya di laut lepas seperti yang dialami oleh KM Senopati Nusantara itu, walau badannya cukup gede.

Kali lain, juga sore hari ini. Tetapi dari arah sebaliknya, dan aku sudah dikaruniai dengan seorang anak. Ketika itu hendak kembali ke Kalianget, dengan isteri dan Ella anakku, bersama seorang pengemudi Ishak namanya. Walau masih tetap naik LCM, tetapi saat itu sudah mengendarai mobil dinas, Toyota Land Cruiser, Canvas Top, bopol M-93. Kejadiannya hampir serupa, waktu berangkat ombak belum terasa besar [karena memang dermaganya kan di muara Kali Mas – yang konon menurut legendanya tempat bertarungnya ikan suro melawan boyo, sehingga menjadi nama Suroboyo alias Surabaya. Begitu keluar dari mulut muara, LCM kami sudah dihantam ombak dan angin yang tidak seperti biasanya. Aku mulai menghitung, deburan ombak yang menimpa LCM-ku. Satu-dua, dan iramanya berubah. Begitu seterusnya.

Karena menurut nasehat dari para kolegaku di perkapalan, jika deburan ombak sampai tiga kali dengan irama yang sama itu merupakan suatu tanda bahaya. Itu berarti telah terjadi gerakan harmonis, dan menyebabkan amplitudo dari ayunan kapal akan semakin besar dan terus membesar. Hal itu sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kapal sebesar apapun akan tenggelam. Dan juga, ombak tidak boleh datang dari samping. Jadi arah haluan kapal, haruslah diarahkan memotong ombak tersebut. Aku menyadari keadaan kritis yang sedang kami hadapi. Kami menoleh ke belakang, tidak ada lagi LCM yang keluar dari muara Kali Mas. Kami sekeluarga semuanya tidak bisa berenang.

Sebagaimana anda tahu, di dalam LCM mobil di parkir begitu rapat antara satu dengan yang lain. Kedua pintu samping depan tidak dapat dibuka sampai orang bisa melaluinya, begitu juga pintu belakang. Kami membuka semua kaca jendela, termasuk kanvas tepi kiri dan kanan jeep, yang memang hanya menggunakan zipper [retsluiting]. Kami tidak mau mati terjebak dalam jeep. Di mobilku, memang telah kusediakan pelampung [yang kuminta dari Biro Perkapalan] yang kusimpan di bawah jok depan. Tetapi hanya satu saja. Lebih baik masih ada satu, dari pada tidak ada sama sekali. Segala doa mulai dipanjatkan, semoga sampai ke seberang yang sebenarnya dari tadi juga sudah terlihat.

Ketika LCM mencapai dermaga, persoalan yang lain muncul pula. LCM tidak dapat dengan tetap pada posisinya, karena selalu diterjang ombak dari samping. Sehingga pintu LCM yang digunakan sebagai anjungan untuk mendarat, selalu berubah posisinya. Kami diinstruksikan oleh pemandu kapal, agar menyiapkan diri untuk naik ke dermaga dengan cepat, begitu diberi komando olehnya. Karena masuknya tadi maju, maka keluarnya harus mundur. Yang dikhawatirkan, adalah apabila roda belakang sudah ada di darat sedangkan roda depan masih di LCM, dan LCM bergerak ke samping karena ombak, maka mobil akan tercebur ke dalam laut. Syukurlah keadaan kritis tersebut dapat dilalui dengan baik. Dan pelampung tak jadi digunakan. Dan sampai aku meninggalkan PN Garam, alhamdillah pelampung itu tak pernah terpakai.

Kejadian yang dikhawatirkan saat mendarat di dermaga tersebut, bukanlah mengada-ada. Seorang rekanku [Mas Suliyo] pernah mengalaminya. Dia pulang dari Surabaya menuju Kalianget dengan menggunakan mobil pick-up FARGO keluaran tahun 60-an atau bahkan 50-an. Saat itu bak belakang pick-up penuh berisi tali rafia [rumput jepang] yang diperlukan untuk menjahit karung garam. [Kebayang ya, tali rafia satu pick-up gede]. Mobilnya terseret LCM dan kecebur ke laut, beserta Mas Suliyo dan sopirnya [yang pakai gigi emas, lupa namanya, mungkin Abdul Rahman]. Untunglah mas Suliyo – yang saat itu menjadi Ka Bag Logistik – asalnya adalah pelaut sebagai KKM [Kepala Kamar Mesin] yang lulusan AIP [Akademi Ilmu Pelayaran, Ancol], jadi cukup tenang dalam menghadapi keadaan darurat tenggelamnya pick-upnya.

Dengan tenang dia menginstruksikan kepada si sopir, agar tidak berusaha mencoba membuka pintu, karena akan sia-sia dan akan menambah kepanikan. Ya kalau kita hitung, ukuran pintu mobil adalah misalnya 70 cm x 100 cm, maka luasnya adalah 7000 cm2, maka tekanan airnya berapa? Bukalah jendela kaca se lebar-lebarnya, sebagai jalan untuk keluar dari mobil. Rupanya karena membawa banyak tali rafia, mobil tidak dengan cepat tenggelam. Dan selamatlah mereka.

Ada lagi satu kejadian yang pernah membuatku ketakutan di laut. Pada waktu itu, aku mendampingi beberapa konsultan dari Salins du Midi [perusahaan pegaraman asal Perancis] guna menyusun basic-design dari pegaraman di Madura Timur. Untuk itu, disediakan kendaraan dinas berupa perahu yang ditempeli motor tempel berkekuatan 70PK merk Mercury [kalau tak salah]. Aku baru saja mengantar mereka ke lokasi di pantai Gersik Putih [bukan Gresik kota tempat kelahiranku], dan aku harus kembali ke Kalianget hanya disertai oleh seorang motoris [yang ngerti mesin, tetapi tak mengerti mengemudikan perahu]. Jaraknya sih hanya 2-3 kilometer saja.

[ada gambar tetapi tidak bisa diupload]

Kondisi geografis laut [selat] yang kulalui, adalah seperti simpang tiga. Satu ke arah laut lepas antara Pantai Gresik Putih dengan Pulau Puteran, satu menuju ke teluk Gersik Putih dengan celah yang hanya 50 meteran saja, dan satu ke arah teluk Sumenep / Palebunan antara pantai Kalianget dengan Pulau Puteran tadi. Perahu yang kukemudikan, ternyata tidak mau mengarah ke Kalianget. Rupanya di pertigaan itu, terjadi pertemuan arus yang menyebabkan arah perahu mengikuti arah arus itu. Pelampung sudah kupakai. Yang kuingat hanyalah, jangan sampai ombak dari samping. Aku kemudian mengarahkan perahu tidak lagi ke pelabuhan Kalianget, tetapi yang penting menuju ke pantai. Alhamdulillah. Perahunya nurut, dan kemudian setelah ditepi, menyusuri pantai menuju ke pelabuhan.

Dengan kejadian yang hanya sangat kecil seperti itu, saya sudah dibuat berkeringat dingin. Bagaimana dengan yang dialami oleh para pelaut kita yang mencari ikan, di selat Madura, di pantai utara Jawa dan Madura [di laut Jawa], di pantai selatan pulau Jawa [di Lautan Hindia] dan di laut-laut yang lain. Berselimut angin dan berbantal ombak, sebagaimana didendangkan dalam lagu Tanduk Majeng. Apalagi mereka yang sampai ke tersasar ke benua Australia, hanya sekedar mencari sirip ikan hiu [shark fin] yang memang mahal harganya di rumah makan China.

Ada lagi cerita teman-temanku yang harus mengimpor garam dari India, dengan menggunakan kapal berukuran 500 Ton saja [kapal PN Garam yang gedean ukurannya 2400 Ton]. Konon kapal [kapal-kapalan] ini mengarungi Samudra Hindia. Pernah diterjang angin dan ombak, sehingga perjalanan selama beberapa hari hilang begitu saja [kapalnya seakan mundur]. Kapal itu juga, Keles namanya, pernah dihampiri oleh super tanker yang bobotnya ratusan ribu ton, hanya karena dikira sebagai kapal yang terseret ombak dan kehilangan kendali, sehingga memerlukan pertolongan. Ketika mereka tahu, bahwa kapal [kapal-kapalan] itu sengaja menuju India, mereka [yang di super tanker tersebut] hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Pernah juga salah satu tongkang [kapal tanpa mesin] milik PN Garam hanyut terbawa ombak. Ceritanya, tongkang ini ditarik tugboat menuju Sampang, di tengah jalan mesinnya agak ngadat. Tongkang melego jangkar, dan tugboat kembali dulu memperbaiki mesin. Ternyata ketika tugboat kembali, si tongkang [dengan beberapa likur pekerja angkut dan mandor] sudah tidak berada di tempat. Rupanya, tali jangkarnya tidak dapat menjangkau tanah dasar laut. Pencariannya memakan waktu hampir 3 hari, dengan melibatkan seluruh kapal milik PN Garam yang sedang ada dan menuju Kalianget. Ternyata kemudian, tongkang tersebut ditemukan menyangkut di karang, dari deretan kepulauan di timur Pulau Madura, yang kalau diambil garis bujurnya, sudah di atas [utaranya] pulau Lombok atau Sumbawa. Untungnya mereka bawa beras dan lauk serta peralatan masak, sehingga tidak kelaparan seperti jamaah haji kita di Arafah kemarin

Lalu bagaimana lagi, seandainya kita mengalami apa yang digambarkan oleh Allah swt dalam salah satu firman-Nya dalam surat An-Nuur ayat 40 berikut ini :

 أَوۡ كَظُلُمَـٰتٍ۬ فِى بَحۡرٍ۬ لُّجِّىٍّ۬ يَغۡشَٮٰهُ مَوۡجٌ۬ مِّن فَوۡقِهِۦ مَوۡجٌ۬ مِّن فَوۡقِهِۦ سَحَابٌ۬‌ۚ ظُلُمَـٰتُۢ بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ إِذَآ أَخۡرَجَ يَدَهُ ۥ لَمۡ يَكَدۡ يَرَٮٰهَا‌ۗ وَمَن لَّمۡ يَجۡعَلِ ٱللَّهُ لَهُ ۥ نُورً۬ا فَمَا لَهُ ۥ مِن نُّورٍ ( ٤٠ )

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.

Bayangkan, di laut yang dalam [dalamnya laut bisa melebihi tingginya gunung Himalaya, lho], di bawah kita ombak menggulung tinggi, dan di atasnya ada ombak pula yang menggulung [sila lihat itu si peselancar yang memasuki ombak dengan sengaja], dan di atasnya awan yang gelap menggantung, sehingga kita tidak bisa melihat telapak tangan kita sendiri. Membayangkan saja sudah ketakutan, apalagi mengalaminya. Ketika malam hari dan listrik mati, kita sudah kalang kabut mencari pintu. Bagaimana kalau di atas perahu atau kapal?

Maha Suci Allah swt, dan segala puji hanyalah untuk-Nya.

 

Wa Allhu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

02 Januari 2007

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: