CERITA PAGI – 17

 

Di waktu aku kecil dulu, setelah kembali ke Gresik dari pengungsian di daerah Bungah dan Lamongan,  sampai kelas 2 sering diajak bapak pergi ke daerah-daerah di wilayah Kabupaten Surabaya [sebelum namanya dikembalikan ke Kabupaten Gresik]. Setelah penyerahan kedaulatan itu, bapak beserta rekan-rekannya sering melakukan tournee [istilahnya waktu itu] untuk memasyarakatkan arti kemerdekaan bagi penduduk di daerah-daerah pedalaman. Kendaraan yang digunakan waktu itu, Jeep Willys ex Perang Dunia ke II dengan nomer polisi L-2005 [hebat ya, persis seperti tanggal dan bulan kelahiranku]. Juga perjalanan ke daerah-daerah waktu itu, sering dilakukan bila terjadi bencana alam, dimana banjir dari kali Bengawan Solo dan Kali Tangi [Kali Lamong] merupakan hal yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Karena itu, saya cukup familiar dengan nama-nama desa atau kecamatan di wilayah Kabupaten Gresik.

Di tambah lagi, aku suka membuka buku induk catatan calon jemaah haji, serta membaca daftar mereka yang akan berangkat pada tahun-tahun itu. Jadi nama-nama desa dan kecamatan menjadi lebih sering kubaca, dan secara tidak langsung jadi mengenali dan hafal. Bengawan Solo, dengan telah dikembangkannya wilayah daerah aliran sungainya, relatif akhir-akhir ini agak jarang meluap. Tetapi Kali Lamong, yang lebih populer di Gresik dengan sebutan Kali Tangi, beberapa hari yang lalu sempat banjir dan menggenangi daerah Cerme, Benjeng dan Balong Panggang.

Cerita ini aku tulis, karena agak sebel mendengar di televisi, para pembaca berita salah mengucapkan kedua nama desa tersebut. Begitu juga, ketika memberitakan ditemukannya seorang penumpang korban tenggelamnya kapal Senopati Nusantara, lelaki berumur 15 tahun di Panceng. Masalahnya, dalam sistem ejaan yang berlaku sekarang di negeri tercinta ini, tidak dinyatakan perbedaan berbagai jenis pengucapan dari huruf “e”, sedangkan huruf “e” ini memiliki beberapa cara pengucapan, seperti pada kata

  • “sate”; [daging yang ditusuk lidi dan dibakar]
  • “pergi”; dan
  • “seng” [sejenis logam, yang digunakan sebagai pelapis baja pada atap, yang kemudian dijadikan nama atap seng]

 

Kata Panceng, seharusnya diucapkan dengan huruf “e” sebagaimana dalam kata “pergi”, tetapi para pembaca berita mengucapkannya sebagai “seng”. Lebih parah lagi untuk Cerme dan Benjeng, dimana ada dua huruf “e”, yang berbeda cara pengucapannya antara yang pertama dengan yang kedua. Huruf “e” yang pertama, seharusnya diucapkan seperti pada “pergi”, sedangkan huruf “e” yang kedua seharusnya diucapkan seperti pada kata “seng”.

Untuk mengetahui bagaimana janggalnya di pendengaran kita, bila kita mendengarkan sesuatu kata yang diucapkan tidak pada tempatnya. Anda semua akan merasa aneh jika mengetahui hal itu. Coba saja ucapkan “sate” dengan menggunakan “e” sebagaimana dalam kata “pergi” atau “seng”. Dan begitu pula sebaliknya.

Pada ejaan lama [khususnya ejaan van Openhuisen – maaf kalau salah menulisnya], huruf “e” dituliskan dengan tambahan ^ dan ‘. Sehingga memudahkan bagi pembacanya untuk mengucapkannya dengan benar. Mungkin juga sampai pada ejaan Soewandi. Bagaimanakah cara kita menuliskannya sekarang, agar anak-anak kita tidak salah baca seperti yang terjadi pada para pembaca berita televisi dan mungkin juga radi [maaf, sudah jarang mendengarkan berita dari radio]. Kalau dalam koran dan sms, sih tak ada masalah.

Kembali ke kejadian tenggelamnya kapal Senopati Nusantara, jadi teringat akan Tenggelamnya Kapal van der Wijk yang juga terjadi di laut Jawa. Tetapi entah pada musim apa, apakah sama-sama pada musim barat seperti ini. Kalau anda sesekali melewati jalan Daendels antara Tuban dan Gresik, [bukan yang lewat Babad – Lamongan], di desa Brondong, anda masih bisa menemukan tugu peringatan tenggelamnya kapal van der Wijk tersebut. Tugu itu dibuat sebagai ucapan terima kasih kepada masyarakat Brondong, yang banyak menolong korban kapal tersebut. Anda bisa menemukannya [kalau belum digusur karena pembangunan] di dekat TPI desa Brondong tersebut. Ada di sebelah utara jalan.

Jadi roman karangan HAMKA tersebut, memang kissah fiksi, tetapi dikaitkan dengan kejadian yang benar-benar ada [tenggelamnya kapal van der Wijk tersebut]. Tetapi apakah benar ada penumpang yang bernama Zainuddin yang beribu asal Makassar dan berbapak asal Minang, wa Allahu a’lam.

Yah, kami semua tentunya turut berduka atas berbagai musibah yang sedang menimpa negeri ini, khususnya musibah transportasi yang sedang menimpa saudara saudara kita di Nusantara ini. Beberapa kali sebelumnya, kereta api anjlok dari rel dan sampai terbalik. Kapal tenggelam dalam sepekan ini seakan terjadi setiap hari. Itu yang diberitakan, dan tentunya banyak juga menimpa para nelayan kita yang tidak sempat menjadi berita. Dan yang terakhir, kemarin sore sebuah pesawat ADAM AIR yang terbang dari Juanda menuju Sam Ratulangi, belum diketahui nasibnya.

Semoga Allah swt mengampuni mereka yang telah pulang kembali ke haribaan-Nya, dan memberikan kekuatan iman kepada keluarga yang ditinggalkannya. Serta memberikan kekuatan dan ketabahan bagi mereka yang cedera akibat berbagai kecelakaan tersebut, dalam mengarungi kehidupannya di masa mendatang.

Semoga jamaah haji asal Indonesia [khususnya Yayat dan ibu mertuanya Didik Anang] dan jamaah dari negara-negara lain di dunia, dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang tanpa ada suatu musibah yang berarti. Cukuplah ‘sehari kelaparan’ sebagai ujian. Amien.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

02 Januari 2007

 

Tambahan dibuat pada 14 Februari 2013

Saya tambahkan contoh penulisan lama, yang saya perolehdari sastra.org

Contoh:

Penulisan menurut sistem ejaan lama : Satè, Seng, Pêrgi

Dan agar melafalkannya benar, maka Cêrmèè, Bênjeng, Pancêng

 

Begitu juga dengan huruf “o” dengan “ô” dan “o”, dan “a” yang hampir sama tapi beda. Mau Solo atau Sala.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: