CERITA PAGI -16

 

Ini adalah file yang ‘kutulis’ paling awal di tahun 2007. Selama ini [setidaknya sudah 10 tahunan lebih] aku menuliskan file apapun dengan kode SS-Y-MM-DD-alphabet untuk memudahkan pencarian kembali nantinya. Jika anda jeli [itu yang kuharapkan] pasti akan segera menebak bahwa ini sudah aku lakukan semenjak belum menggunakan Window sebagai operating system dalam komputerku, tetapi masih dalam DOS dimana nama file hanya dibatasi sampai 8 digit saja. Dan itu masih aku teruskan walaupun nama file sudah bisa berpuluh character. Dan kemudahan itu kemudian aku manfaatkan dengan menuliskan topik atau nama filenya secara lebih deskriptif untuk mempermudah pencarian. Sampai saat ini, cara semacam itu masih aku bilang efektif, karena aku tak pernah membuat file sampai lebih dari 26 buah setiap harinya. Baik dulu maupun sekarang. Tetapi biasanya, aku membuat file bisa lebih dari dua atau lima setiap harinya. Kalau hanya dituliskan judul filenya saja, bisa mumet mencarinya. Cara ini tidak aku patenkan [he he], jadi anda boleh menirunya, bahkan dengan memperbaikinya, seperti ABCYYMMDD atau ABC YYMMDD lalu diikuti dengan identifier lainnya. Karena anda masih lebih muda dari aku, dan masih akan menggunakan komputer mungkin untuk 20 atau 30 tahun lagi. Semoga

Saya masih ingin mencoba meneruskan cerita tentang soal waktu, dan pengaruh benda langit dalam kegiatan ibadah kita. Kalau kemarin, dengan tiga benda langit – bumi- bulan –matahari untuk ibadah puasa dan haji, maka sekarang hanya antara bumi dan langit saja [ee keliru, bumi dan matahari saja].

Kita semua tahu, bahwa berubahnya masuk waktu shalat setiap hari [atau dua-tiga hari] adalah terkait dengan posisi matahari terhadap kedudukan kita di muka bumi ini. Walau berubah setiap harinya, tetapi waktu masuk tersebut adalah berulang setiap tahunnya mengikuti kalender syamsiah atau yang berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari atau kalender yang biasa kita pakai sehari-hari – Januari – Desember. Jadi, anda bisa memiliki daftar waktu shalat secara ‘abadi’, dengan mengumpulkannya jadwal mulai Januari s/d Desember, dan menyimpan dalam dompet. Akan berguna sepanjang hayat.

Tentu jadwal yang anda miliki adalah untuk daerah dimana anda bermukim [misalnya Jakarta], dan untuk daerah lain harus disesuaikan sesuai dengan posisi bujur dan lintangnya. Untuk penyesuaian waktu berdasarkan garis bujur relatif lebih mudah [pada posisi garis lintang yang hampir sama]. Anda tinggal hanya menambah atau mengurangi waktunya sebesar 4 menit untuk setiap derajat perbedaan bujur. Kalau anda pergi ke arah timur, kurangi sedang kalau ke arah barat, tambahkan. Hanya saja kalau sudah menyangkut perbedaan lintang, agak berbeda, tetapi tidaklah jauh-jauh amat, kecuali kalau dari wilayah tropis seperti Indonesia ke wilayah sub-tropis atau bahkan wilayah kutub. Tentu akan berbeda sekali, dan memerlukan perhitungan khusus, tergantung dimana sang surya berada.

Anda masih ingat akan pelajaran geografi di SMP [kalau tak salah] bahwa matahari itu akan bergeser ke arah utara sampai 23,5o LU pada 23 Juni lalu kembali lagi ke arah selatan sampai 23,5o pada 23 Desember. Dan itulah yang menyebabkan mengapa waktu masuk shalat shubuh kadang-kadang sekitar jam 04 lebih sedikit [seperti sekarang ini] dan kadang-kadang bisa mendekati jam 05 pagi. Itu semua karena posisi matahari terhadap bumi. Coba ke Brugg [pelabuhan Gresik] saat ini matahari kan munculnya di sekitar Kamal atau Tanjung Perak, sedang kalau nanti bulan Juni kan disekitar Sembilangan atau Socah.

Perbedaan tinggi dari muka laut, juga cukup mempengaruhi waktu shalat tersebut. Tetapi kalau hanya sampai puncak Mahameru [Gunung Semeru] atau Gunung Merapi [yang ‘umbel’nya sudah mulai mengalir] masih tidak begitu terasa. Saya pernah terbang dengan B-747 pada ketinggian >30.000 feet atau lebih dari 10.000 meter di atas permukaan laut, menuju arah barat. Berangkat dari Cengkareng sekitar Asar. Sebelum berangkat, sudah mulai menghitung-hitung, [dengan memperkirakan lama perjalanan dan waktu maghrib di Jakarta] kira-kira maghribnya nanti di udara jam berapa [melihat poisisi pesawat dan menambah 4 menit untuk setiap derajat garis bujur].

Kenapa ini penting? Karena sedang puasa. Kalau untuk mengetahui waktu masuk shalat, tidaklah seberapa penting. Toh bisa dijamak shalatnya. Tetapi ini menyangkut kepentingan perut, karena waktu itu sedang bulan Ramadhan. Ada orang yang berbuka mengikuti waktu Jakarta, yang menurutku kurang pas-lah. Kalau saya menjelang maghrib di Surabaya atau Makassar di bulan Ramadhan, bukanya tak mau ikut Jakarta koq, walau sahurnya di Jakarta. Menurut jamku, seharusnya sudah masuklah waktu berbuka, tetapi kulihat langit dari jendela pesawat, masih tetap merah merona seperti meronanya ufuk barat menjelang maghrib. Ee, ditunggu-tunggu sampai lewat satu jam dari perkiraan, masih saja merah merona. Akhirnya, dengan haqqul yaqin dari perhitungan, maka berbukalah. Itu masih sama-sama di sekitar khattulistiwa’ [garis ditengah yang membagi dua bumi]. Apalagi kalau sudah memasuki wilayah sub-tropis atau wilayah kutub.

Aku belum pernah pergi ke arah utara atau ke selatan sampai jauh. Jadi belum merasakan pengaruh garis lintang dalam penetapan waktu shalat yang lima waktu. Tetapi anakku nanti berpeluang [insya Allah] untuk berkelana di muka bumi ini sesuai dengan penugasan dari kantornya. Tidak ada salahnya [malah banyak benarnya] jika kita mencoba mengumpulkan berbagai hal [dari al-Quran dan hadis tentunya] tentang penetapan waktu shalat ini. Karena pergerakan manusia saat ini sudah betul-betul mengglobal. Sarapan di Sydney, makan siang di Jakarta, dan makan malam di Moskow. Atau tinggal di Alaska, yang siang dan malamnya sangat panjang.

Berikut beberapa ayat al Qur’an yang menyangkut waktu shalat dalam sehari.

حَـٰفِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٲتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلَّهِ قَـٰنِتِينَ ( ٢٣٨ )

Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu`.

[al Baqarah QS 2:238]

 

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ‌ۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡہُودً۬ا ( ٧٨ )

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

[al Israa QS 17:78]

 

إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۟ فَٱعۡبُدۡنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِڪۡرِىٓ ( ١٤ )

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

[Thaha QS 20:14]

 

فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ غُرُوبِہَا‌ۖ وَمِنۡ ءَانَآىِٕ ٱلَّيۡلِ فَسَبِّحۡ وَأَطۡرَافَ ٱلنَّہَارِ لَعَلَّكَ تَرۡضَىٰ ( ١٣٠ )

Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.

[Thaha QS 20:130]

فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ ٱلۡغُرُوبِ ( ٣٩ )

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam (nya)

[Qaaf QS 50:39]

وَٱلۡفَجۡرِ ( ١ )

Demi fajar, [al-Fajr QS 89:1]

 

Mari kita simak, secara harfiah dulu. Ada kata shalat, dan ada kata bertashbih.

  • Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
  • Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa.
  • Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh
  • bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam (nya)
  • bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.
  • Demi fajar

 

Kiranya perlu dinyatakan terlebih dahulu, menyimak ayat-ayat ini bukanlah untuk mengubah ketetapan yang sudah difahami selama ini [ada 5 x shalat dalam sehari dengan waktu-waktu yang sudah disepakati], melainkan untuk dapat memahami lebih lanjut, antara lain dengan konteks keberadaan muslimin di muka bumi ini.

  1. Ada perintah untuk menyembah Allah dan shalat untuk mengingat Allah;
  2. Ada yang disebut shalat wustho [tengah-tengah] dan shalat yang lain;
  3. Ada perintah mendirikan shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam, dan shalat shubuh;
  4. Ada perintah bertashbih
    1. sebelum terbit matahari; dan
    2. sebelum terbenam matahari;
  5. Ada perintah bertasbih
    1. sebelum terbit matahari; dan
    2. sebelum terbenam matahari;
    3. waktu-waktu di malam hari; dan
    4. waktu-waktu di siang hari
  6. Di [waktu] fajar

 

Kalau coba kita kaitkan dengan shalat yang lima waktu, maka

  • Shubuh   ada [secara implisit, fajar, dan sebelum matahari terbit];
  • Dhuhur   ada [tergelincirnya matahari];
  • Ashar                 ada [sebelum terbenam matahari]
  • Maghrib ?
  • Isya’                   ada [waktu malam hari]

 

Atau kita balik, pemikirannya

  • Shalat wustho                ?
  • Sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam
  • Shalat Shubuh;
  • Sebelum matahari terbit                       shubuh
  • Sebelum matahari terbenan                 ashar
  • Waktu-waktu malam hari                     maghrib dan isya’
  • Waktu-waktu siang hari                                    dhuhur dan ashar
  • Fajr                                                        shubuh

 

Sepertinya ayat pada surat Thaha QS 20:130 yang agak rinci mendeskripsikan waktu-waktu tersebut.

Mungkinkah dari deskripsi seperti itu, sehingga kemudian untuk shalat yang dijamak [di satukan waktunya], maka digolongkan

  • Shubuh [sendirian, tidak digabungkan dengan yang lain]
  • Dhuhur dan Ashar [bisa digabung di satu waktu, siang hari]
  • Maghrib dan Isya’ [bisa digabung di satu waktu, malam hari]

 

Pertanyaan berikutnya [bukan mau mencari mudahnya lho], apakah shalat-shalat yang di definisikan sebagai

  • Waktu-waktu di siang hari; dan
  • Waktu-waktu di malam hari

boleh selalu digabungkan, tanpa harus memenuhi syarat harus safar [atau dalam perjalanan saja]? Misalnya, shalat dhuhur dan ashar di jadikan satu [4 rakaat dhuhur dan 4 rakaat ashar, secara berturutan], begitu juga maghrib dan isya’?

Bagaimanakah contoh Rasulullah? Sebagai suatu penjelasan atas ayat-ayat tersebut?

Mungkin ada rahasia atau riwayat pada kata-kata

  • Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan,
  •  ءَانَآىِٕ ٱلَّيۡلِ  [waktu-waktu di malam hari] dan ۡ وَأَطۡرَافَ ٱلنَّہَارِ [waktu-waktu di siang hari].

 

Apa arti sesungguhnya dari kata ‘anaai  dan athraafa  tersebut?

Dalam tarjamah bahasa Inggrisnya, ayat Thaha QS 20:130 tersebut adalah

Therefore be patient with what they say, and celebrate (constantly) the praises of thy Lord, before the rising of the sun, and before its setting; yea, celebrate them for part of the hours of the night, and at the sides of the day: that thou mayest have (spiritual) joy.

Apakah lebih deskriptif, kata-kata

  • for part of the hours of the night
  • at the sides of the day

dibanding waktu-waktu saja?

Ayo kita diskusikan bersama, guna memperoleh pemahaman yang lebih baik atas apa yang kita lakukan sehari-hari ini.

 

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

01 Januari 2007

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: