CERITA PAGI – 15

 

Hampir pada setiap terjadi perbedaan hari raya, apakah itu iedul fitri maupun iedul adha, para pemimpin kita selalu mengatakan “adanya perbedaan pendapat itu adalah suatu hikmah”. Dan konon kalimat itu, kalau tak salah adalah hadis Nabi Muhammad saw, atau setidaknya ucapan para ulama di masa lalu, yang dikutip oleh ulama di masa sekarang. Karena seringnya kita mendengar ungkapan tersebut, seakan-akan hal itu menjadi biasa. Dan tentunya kita bisa bertanya-tanya – setidaknya dalam hati kita masing-masing – hikmahnya apa? Karena selama ini, perbedaan itu ya terus ada, dan bahkan semakin rancu.

Coba simak berita-berita di layar kaca [karena koran hari Ahad dan Senin nanti tidak terbit], ada pula sebagian [kecil sekali] yang merayakan iedul adha pada hari Jumat [kalau tidak salah di wilayah Makasaar, tepatnya Gowa – bukan Gowa jajahan Portugis di anak benua India].

Perbedaan hari raya, atau tepatnya awal bulan Hijriyah, tidaklah terlepas dari pemahaman tentang kapan bulan baru itu terjadi. Dan untuk kasus iedul adha, ada tambahan klausul lain. Yang banyak beredar sekarang ini, sudah kurang mengaitkan dengan kedatangan bulan baru di tempat mereka berada, tetapi lebih pada penetapan waktu wukuf [hari arafah] – dan satu hari sesudahnya adalah iedul adha.

Bulan hijriyah jumlahnya ada 12 [dua belas], sama dengan bulan miladiah. Hanya jumlah harinya yang berbeda-beda. Bulan hijriyah, penentuan siklusnya ditentukan oleh peredaran bulan mengelilingi bumi dan peredaran bumi mengelilingi matahari. Jelasnya, ada tiga benda angkasa [matahari, bumi, dan bulan] yang akan menentukan kapan tanggal satu dimulai. Dalam hal ini semua ahli sepakat. Artinya, tidak ada benda-benda angkasa lainnya yang ikut mempengaruhi misalnya Mars, Jupiter atau yang lainnya.

Salah satu ayat yang memerintahkan mulai berpuasa di bulan Ramadhan, adalah dalam surat al-Baqarah 185,

شَہۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدً۬ى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ‌ۚ فَمَن شَہِدَ مِنكُمُ ٱلشَّہۡرَ فَلۡيَصُمۡهُ‌ۖ وَمَن ڪَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ۬ فَعِدَّةٌ۬ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ‌ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِڪُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِڪُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُڪۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُڪَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَٮٰكُمۡ وَلَعَلَّڪُمۡ تَشۡكُرُونَ ( ١٨٥ )

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Mari kita simak arti kata-kata firman Allah tadi, khususnya pada penggalan ayat
فَمَن شَہِدَ مِنكُمُ ٱلشَّہۡرَ فَلۡيَصُمۡهُ‌ۖ yang kemudian diterjemahkan sebagai “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. yang seakan-akan kata “syahida” itu diterjemahkan sebagai “hadir di negeri tempat tinggalnya”. ,

Saya mencoba mencari ayat lain yang ada kata “syahida” dalam al-Qur’an, dan ada tiga ayat lain, yaitu pada surat Ali-Imran 18, al-Fushshilat 20 dan al-Zukhruf 86, yang terjemahannya berbeda-beda, dan ketiganya memiliki terjemahan yang kita sangat familiar yaitu seperti dalam dua kalimat syahadat, yaitu menyatakan, menyaksikan, dan mengakui.

Kalau seanadainya, kata “syahida” dalam al-Baqarah 185 diterjemahkan dengan menggunakan kata-kata di ayat yang lain tadi, maka akan berbunyi

“Karena itu, barangsiapa diantara kamu menyatakan / menyaksikan / mengakui bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. Mungkin lebih pas ya.

Marilah kita berandai-andai kembali ke zaman dimana Rasulullah masih hidup. ‘Rupanya’ di jaman Rasulullah juga ada wacana sehubungan dengan perintah tersebut, apakah definisi “bulan baru”, dan bagaimana menentukannya. Kita sering mendengar hadis yang dinyatakan oleh para ulama, seperti yang menyatakan “bila bulan tertutup awan, maka genapkanlah [menjadi tiga puluh]”, karena sarana untuk mengetahui “bulan baru” yang berbentuk sabit atau yang dalam bahasa Arabnya “hilal” hanyalah dengan pengamatan langsung dengan mata telanjang. Mengapa begitu? Karena mereka yang hidup pada waktu itu, sudah mengetahui bahwa satu bulan hijriyah [satu kali siklus bulan ‘mengelilingi bumi’] adalah kadang-kadang 29 dan kadang-kadang 30, karena masa edarnya lebih dari 29 hari tetapi kurang dari 30 hari. Tepatnya, barulah diketahui beberapa abad [bukan tahun] kemudian setelah wafatnya Rasulullah.

Atas wacana yang berkembang, dan pertanyaan muslimin pada waktu itu kepada Rasulullah Muhammad saw, Allah memberikan jawabannya secara gamblang, sebagaimana pada penggal pertama surat al-Baqarah ayat 189

يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَهِلَّةِ‌ۖ قُلۡ هِىَ مَوَٲقِيتُ لِلنَّاسِ وَٱلۡحَجِّ‌ۗ وَلَيۡسَ ٱلۡبِرُّ بِأَن تَأۡتُواْ ٱلۡبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَـٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنِ ٱتَّقَىٰ‌ۗ وَأۡتُواْ ٱلۡبُيُوتَ مِنۡ أَبۡوَٲبِهَا‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّڪُمۡ تُفۡلِحُونَ ( ١٨٩ )

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

Bentuk atau pola kalimat yang seperti ini, juga kita temukan atas berbagai wacana, misalnya tentang hamr dan maisir, anfaal, nafkah, berperang dalam bulan haram, makanan yang halal, saat terjadinya hari kiamat, dan lainnya. Dan disini, seakan peran Rasulullah hanyalah menyampaikan saja, yang terungkap dengan kata “Qul” atau “katakan”. Dan jawabannya, kesemuanya adalah secara implisit, atau mengharuskan kita untuk berfikir dan menyelidikinya lebih lanjut. Tidak diberikan secara tinggal telan atau glek langsung, tetapi harus mencari dan mengolahnya dulu.

Dan tentang hilal ini, hanya dikatakan ““Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”. Puasanya sendiri malah tidak disebut ya. Secara pasti sudah implisit untuk puasa Ramadhan, karena ayat-ayat sebelumnya berkenaan dengan puasa dan bulan Ramadhan. Itulah indahnya susunan al-Qur’an, yang mengharuskan kita selalu memutar otak.

“Tanda tanda waktu”. Secara bodoh-bodohan, bulan sebagai tanda waktu memang telah berfungsi sejak lama, bahkan dalam masyarakat yang masih belum berpengetahuan tinggi. Lihatlah pada syair-syair atau hikayat cerita lama, atau dalam dunia persilatan. Mereka biasanya berjanji untuk bertemu di suatu tempat [biasanya ya tempat mereka berpisah] pada saat bulan purnama yang ke sekian. “Tujuh purnama engkau kunanti” misalnya. Karena belum ada kalender, dan belum ada jam, dan salah satu [atau bahkan satu-satunya] fenomena alam yang bisa diamati adalah kejadian bulan baru [tetapi sulit dilihat] dan bulan purnama [yang sangat mudah dilihat]. Bulan purnama, dulu [ketika langit hanya benderang di kala purnama] juga ditunggu oleh anak-anak untuk bermain malam hari di halaman, menikmati indahnya malam. Berbagai permainan digelar untuk itu. Sekarang sudah tak ada. Selain halaman tak ada, terangnya bulan purnama sudah dikalahkan oleh terangnya lampu-lampu perkotaan.

Pada zaman itu, belumlah jelas bagi ummat manusia [termasuk muslimin] bagaimana sebenarnya kejadian siang dan malam, dan kejadian terbitnya matahari di timur dan tenggelamnya di barat, juga tentang bulan yang secara perlahan berproses dari hilal [bulan sabit yang hanya selebar alis artis yang dicukur] menjadi purnama [yang sebesar nyiru atau tampah]. Siapakah yang bersinar, matahari atau bulan. Beberapa ayat dalam al-Qur’an secara gamblang menjelaskan tentang fenomena alam tersebut, siapa yang bersinar dan siapa yang bercahaya, dan juga mengenai ketepatan waktu edarnya. Silahkan simak ayat-ayat berikut

 

Yunus, 5 Al-Ra’d, 2 Ibrahim, 33
Al-Furqan, 45 Luqman, 29 Faathir, 13
Yaa Siin, 40 Al-Zumar, 5 Al-Rahmaan, 5

 

Dari clues atau petunjuk dan pernyataan dalam al-Qur’an itulah, para cendekiawan muslim pada zaman sesudah Rasulullah, mengkaji dan mempelajari fenomena alam, khususnya mengenai peredaran benda langit. Mereka tahu dan yakin, bahwa itu sangat menentukan serta bermanfaat dalam memudahkan mereka dalam beribadah. Maka berkembanglah ilmu astronomi, dan untuk mendukung perhitungan-perhitungan yang rumit berkembang pulalah ilmu aljabar, geometri, goniometri atau trigonometri, algoritma [logaritma] dan lain-lain. Ilmu-ilmu itu ternyata bermanfaat juga bagi pelayaran dan perjalanan yang mereka lakukan, baik mengarungi lautan air maupun lautan pasir. Sextant, quadrant adalah salah satu dari sekian peralatan yang yang dibuat berdasarkan prinsip-prinsip seperti itu.

Sampailah mereka pada suatu titik pengetahuan, bahwa perjalanan benda-benda langit tersebut bersifat teratur dan bisa diprediksi atau diperhitungkan dengan teliti. Dan aturan-aturan [atau konstanta-konstanta] yang digunakannya bersifat tetap. Juga kemudian diketahui, siapa yang mengitari siapa. Bukankah semula dianggap bumi ini datar, dan matahari mengitari bumi [sebagaimana yang kita lihat setiap hari]. Ternyata kemudian bahwa bumilah yang mengitari matahari dan bulan mengitari bumi [bersama bumi mengitari matahari pula].

Pada setiap periode, akan terjadi posisi bumi – bulan – matahari dalam satu bidang dilihat dari suatu tempat di bumi [atau dari titik pusat bumi]. Inilah yang disebut sebagai ijtima’ atau conjunction itu. Ini terjadi selalu dan hanya sesaat, serta berlaku untuk seluruh penduduk bumi. Jadi waktu ijtima’ itu akan sama, baik untuk Merauke di timur maupun Maroko di wilayah maghribi [tempatnya ghurub alias matahari terbenam].

Hal ini terjadi karena, jika kita menganggap [seakan-akan relatif terhadap bumi dimana kita berada] matahari mengitari kita dengan suatu kecepatan sudut tertentu [ωm] yang sedikit lebih besar dibanding kecepatan sudut bulan mengitari bumi [ωb]. Ijtima’ ini bisa terjadi di kala siang hari atau malam hari [di tempat kita] atau malam hari / siang hari [di tempat orang lain yang diametral dengan kita]. Tidak menunggu malam atau siang.

Bayangkan jarum pendek dan jarum panjang jam yang berputar. Pada suatu saat berimpitan. Lalu jarum panjang akan meninggalkan jarum pendek, dan kemudian akan berimpitan lagi. Waktunya tentunya 65 menit lebih sedikit. Itu karena kecepatan sudut si jarum panjang adalah 12 kali kecepatan sudut di jarum pendek. Lha, seandainya beda kecepatannya hanya sedikit, maka akan sampai berimpitan lagi tentu akan lebih lama. Waktu antara bulan dan matahari kembali sebidang dilihat dari bumi, itu berkisar antara 29,5….. hari. Karena beda kecepatan sudut yang besar [yang satu 30o per jam dan yang satunya 360o per jam atau 12 kali] maka bisa teramati dengan mudah.

Para cendekia muslim berabad silam, telah mampu memperhitungkan saat-saat ijtima’ tersebut dengan baik, dan juga saat-saat terjadinya gerhana matahari [dan tentunya juga gerhana bulan]. Dengan hanya menggunakan peralatan perhitungan yang sederhana, dan konstanta yang digunakan masih terbatas dan hanya beberapa desimal saja, tentunya terjadi banyak sekali pembulatan [dalam perhitungan]. Pembulatan tersebut, tentu akan berakibat adanya ‘pergeseran’ waktu dari kenyataan dengan perhitungan. Dan tentu saja koreksi akan hal itu walau sulit tetapi perlu untuk dilakukan.

Maha Suci Allah swt. Karena pada saat-saat tertentu, yaitu keadaan ijtima’ yang istimewa, bumi – bulan – matahari bukan saja sebidang, tetapi segaris. Dan di saat itulah terjadi gerhana matahari. Kalau segarisnya dalam posisi bulan – bumi – matahari yang terjadi adalah gerhana bulan [posisi jam 6, jarum pendek di angka 6 dan jarum panjang di angka 12]. Dan di saat gerhana matahari itulah, para ahli hisab [ingat dengan “b” bukan “p”] dapat melakukan kalibrasi atas perhitungannya. Sehingga perbedaan antara hasil perhitungan dengan pengamatan tidak akan terus berlanjut. Sehingga ketelitian hasil perhitungannya bisa tetap terjaga.

Beberapa tahun yang lalu, terjadi di keraton Jogja, hari raya ditetapkan bukan saja tidak sama dengan hasil rukyat [yang dianut oleh pemerintah kita], bahkan juga mendahului hasil hisab [yang dilakukan oleh para ahli hisab]. Bingung kan? Tidak usah bingung, karena ternyata mereka menetapkan hari raya berdasarkan primbon keraton [yang tentunya hasil pengamatan dan juga perhitungan beberapa waktu silam] yang kami yakin tidak dikalibrasi ulang dengan mencocokkan pengamatan pada saat terjadi gerhana matahari.

Dengan berkembangnya peralatan perhitungan dan peralatan pengamatan, serta peningkatan presisi perhitungan yang bisa sampai puluhan angka di belakang koma, maka persoalan menghitung kapan terjadi ijtima’ bukanlah suatu soal yang sulit. Para ahli sudah bisa mempehitungkannya dengan ketepatan [accuracy] yang tinggi hingga beberapa tahun ke depan. Jika saat ijtima’ yang dijadikan patokan terjadinya bulan baru, maka bereslah semua permasalahan. Hanya saja masih ada beda pendapat.

Yang wajib adalah puasa dan wukuf di Arafah. Tarawih dan shalat ied itu sunnah. Yang satu kegiatannya dimulai pada saat menjelang subuh dan yang satunya justru pada saat tergelincirnya matahari. Maka [secara logika sederhana dan pada dasarnya] jika ijtima’ terjadi sebelum waktu shubuh, maka itu sudah bulan baru atau tanggal satu [Ramadhan] untuk mulai puasa atau berhenti puasa [Syawwal] dan beried fitri, atau sembilan hari kemudian [pada bulan Dzul Hijjah] untuk wukuf di Arafah.

Sehingga “bila terjadi ijtima pada saat kita belum mencapai waktu shubuh” [tergantung dimana kita tinggal], maka itu adalah bulan baru. Jelasnya, misalnya waktu subuh di kota A adalah 04:15 sedangkan ijtima’ [yang seluruh dunia sama] adalah 04:14, maka kita yang tinggal di kota A sudah harus berpuasas. Tetapi yang tinggal di kota B [sebelah timur kota A] yang waktu subuhnya 04:00 ya belum wajib puasa. Jadi bisa saja, yang di Jakarta sudah puasa, yang di Cirebon [apalagi Surabaya dan Merauke] ya masih belum. Pendapat ini tentu tidak bisa diterima oleh yang menganut harus melihat hilal dengan mata [rukyat].

Hanya saja sampai saat ini kita “terikat” oleh berbagai ketentuan yang dibuat oleh manusia [Rasulullah, bagaimanapun juga manusia bukan].

Zaman telah berubah. Kita bisa menyaksikan berbagai kejadian secara langsung pada ‘saat yang bersamaan’ [ada sih delay, tetapi hitungannya hanya detik atau sepersekian detik saja]. Juga kejadian dilihatnya hilal oleh yang masih menganut penentuan bulan baru berdasarkan rukyat, akan dapat disiarkan dengan cepat ke seluruh penjuru dunia dimana muslimin berada.

Menurut yang saya dengar [dari uraian Bapak Qurais Shihab], konon ada keputusan dari Organisasi Konferensi Islam – OKI [yang masih akan kami cari dokumen autentiknya – mungkin berbahasa Arab kali] yang menyatakan, bahwa bila di suatu komunitas muslim telah melihat bulan [rukyat] maka hal itu berlaku untuk muslimin yang disebelah timurnya, yang masih malam hari [belum shubuh]. Tetapi keputusan ini, sayangnya tidak disosialisasikan dengan baik di negera kita.

Lha, kalau yang terakhir ini diterapkan, maka jangkauan 10 jam [katakan] antara maghrib di Dakar dan shubuh di Tokyo atau Korea, maka bila ada muslim di Dakar atau di lautan Atlantik yang pertama melihat hilal [bagi yang ikut aliran rukyat bil fi’li] maka muslimin di Tokyo atau yang New Zealand [barangkali] sudah bisa ikut bulan baru. Walau tadinya yang ditimur [Indonesia dan timuran dikit] masih belum bisa melihat hilal karena masih di bawah ufuk, atau masih sedikit sekali di atas ufuk dan tidak terlihat. Juga yang di Saudi dan lain-lain.

Kita kembali ke ayat al-Baqarah QS 2:185, dengan bertitik tolak pada kalimat tersebut, maka kata “diantara kamu” ini bisa diartikan dalam lingkup mana, apakah kelurahan, kecamatan, kabupaten, propinsi, negara, yang kesemuanya belum ada pada waktu Rasulullah masih hidup. Jadi lingkupnya ya global, dunia ini. Jadi tidak ada batas negara, atau kumpulan negara sekalipun. Bukankah hal ini juga berkaitan sangat erat dengan kenyataan bahwa ijtima; atau conjunction itu adanya di dunia ya hanya sesaat itu, dan berlaku untuk seluruh penduduk di dunia ini, termasuk mereka yang sedang melayang-layang diangkasa mengikuti orbit satelit atau stasiun luar angkasa [kan sudah ada muslim yang jadi astronot].

Kiranya, dengan kemampuan manusia menghitung menggunakan berbagai peralatan yang memiliki kemampuan menghitung dengan presisi tinggi, serta teknologi komunikasi yang sudah mendunia seperti sekarang ini, sudah tidak waktunya lagi ummat Islam harus masih berselisih tentang kapan memulai puasa, kapan berhari raya. Saya tidak tahu pasti akan larangan berpuasa pada hari iedul fitri itu dengan tingkatan hukum “haram” itu nash-nya apa. Apa dari Qur’an, hadis atau kesepakatan para ulama. Disitu yang paling penting, jangan sampai kita berpuasa di hari iedul fitri, hanya karena kita tidak memahami dengan baik persoalannya.

Kata-kata dari sebagian ummat muslimin [khususnya di Indonesia ini] yang dengan semudahnya mengakatan “Ikut pemerintah saja lah”, “Ikut kiyai saya sajalah”, dan lebih parah lagi “Ikut yang duluan lebaran sajalah” atau “Ikut yang belakangan puasanya sajalah”, tentunya memiliki konsekwensi bagi dirinya sendiri. Sebagai orang yang mampu baca-tulis, kiranya sudah tidak pantas bila hanya ‘mengekor’ saja. Kalaupun ikutan, ya harus secara jelas mengerti dasar-dasarnya.

Bagi saya, mengikuti keputusan Organisasi Konferensi islam [OKI] sangatlah baik dalam memperoleh kebenaran dan mempersatukan ummat. Dan lebih jauh lagi – bagi yang tak perlu melihat hilal dahulu – tetapi cukup dari hasil hisab tentang kapan terjadinya ijtima’ atau conjunction, maka akan lebih mudah dan pasti. Insya Allah. Selama ijtima’ atau conjunction terjadi sebelum waktu subuh di tempat kita berada, maka pagi hari sesudah subuh adalah tanggal 1 bulan Hijriah atau bulan baru, karena hilal telah ‘wujud’ walau tak terlihat oleh kita.

Perhitungan kapan ijtima’ atau conjunction akan terjadi, bisa kita peroleh jauh-jauh hari. Para ahli hisab klasikpun mampu menghitungnya. Program komputer guna menetapkan saat tersebut, boleh dikata sudah banyak pula tersedia. Tinggal pilih saja.

Hari ini, 31 Desember 2006 G. Tetapi ada yang menyebutnya 10 dan adapula yang menyebutnya 11 Dzul Hijjah 1427 H. Kapan kita bisa menikmati hal seperti ini tidak terjadi lagi di waktu mendatang?. Semoga Allah mengampuni dan memaafkan kita semua. Amien.

Jangan dikira penganut aliran rukyat, itu tidak melakukan hisab. Tanpa melakukan perhitungan, sangat sulit bagi mereka untuk memperkirakan kapan dan dimana tepatnya [arah barat sebelah mana] hilal itu akan tampak atau diharapkan tampak.

Jika kita memperhatikan perjalanan hidup bulan dalam sebulan, kita akan bisa mengetahui pertumbuhannya sampai purnama, kemudian perlahan-lahan menyusut sampai hilang [bulan mati]. Dan esoknya sorenya, muncullah yang disebut hilal. Bulan sabit baru. Yang mungkin hanya terlihat beberapa saat saja setelah matahari tenggelam [tergantung berapa jam hal itu terjadi setelah berlangsungnya ijtima’ atau conjunction tersebut]. Kita paling lama melihat bulan di langit malam, adalah ketika bulan itu mencapai purnama.

Mulai dari penampakan yang hanya sebentar pada bulan baru, lalu menjadi semakin lama tampak, dan dalam 14-15 hari akan tampak selama hampir 12 jam [kasarnya begitu]. Jadi penampakannya kira-kira bertambah 12/15 atau hampir sekitar 50 menit per harinya. Kalau hari pertama hanya tampak 4 menit, maka hari kedua 54 menit, hari ketiga 104 menit dan seterusnya. Hal itu tercapai, dengan posisi awal munculnya semakin tinggi dari horison. Kemudian pada usia sekitar 7 hari, munculnya bulan selepas maghrib akan berada di puncak langit. Dan pada purnama, munculnya hamir seperti matahari malam, di timur sesudah maghrib tapinya – dan tenggelam waktu subuh.

Kemudian sang bulan seakan terlambat terbit. Isya’ baru terlihat. Kemudian semakin malam lagi, dan ketika menjelang shubuh dia masih berada di puncak langit, dengan luasan sinar yang tidak lagi sebulat nyiru. Ekstreemnya, seakan bulan hanya akan terbit sebentar menjelang shubuh dan kemudian hilang ditelan cahaya sang surya. Itulah bulan tua, atau bulan mati.

Sesudah itulah kemudian terjadi ijtima’ atau conjunction tadi. Seakan sang bulan sudah menunggu untuk disalip [didahului] oleh sang surya. Tergantung kapan saat menyalipnya. [mendahuluinya]. Kalau menyalipnya itu pagi hari atau malam hari sebelumnya, maka no problem. Insya Allah si hilal akan terlihat pada saat matahari terbenam sore nanti. Karena umurnya sudah agak panjang. Tetapi kalau saat menyalipnya mendekati waktu ashar atau mepet ke maghrib, disitulah permasalahannya muncul. Yang menganut hisab, akan mengatakan hilal sudah wujud. Tetapi yang menganut rukyat, akan mengakatan hilal belum terlihat.

Uniknya lagi, barangkali [sekali lagi barangkali] periode bulan mengelilingi bumi itu merupakan bilangan irasional [begitukah istilahnya untuk bilangan yang desimalnya akan terus masih ada sampai jutaan bahkan milyaran dan trilyunan angka dibelakang koma, seperti halnya nilai bilangan Pi, Phi dan e]. Sehingga tak akan ada kejadian ijtima’ yang sama [jamnya] seumur jagad ini.

 

Wa Allahu a’lam.

Saifuddien Sjaaf Maskoen

31 Desember 2006

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: